26 April 2018

Book Review Not If I See You First : Tentang Mendobrak Keterbatasan Dengan Menjadi Pribadi Yang Kuat


Not If I See You First



Pikiran kita adalah hal yang paling menakjubkan di dunia ini. Seorang yang didiagnosa menderita keterbelakangan mental, mampu menjadi seorang atlet. Atau seorang veteran perang yang lumpuh karena kakinya diamputasi, bisa berlari kembali meski mengenakan kaki palsu. Semua keterbatasan itu hanya mampu didobrak melalui pikiran. Demikian pula dengan seorang gadis bernama Parker Grant yang merupakan seorang gadis buta, namun menyukai olahraga lari meski tanpa bantuan tongkat. Bagaimana ceritanya?

Awal mula menginginkan untuk membaca buku berjudul Not If I See You First ini, karena ditayangkan di akun Penerbit Spring. Belakangan, saya mengacungi jempol beberapa karya yang mereka terjemahkan tidak main-main. Meski genre Young-Adult ini tidak seberat dan berbobot seperti sastra yang banyak orang katakan. Tapi, beberapa buku dari genre ini, selalu menyematkan informasi yang lebih bermanfaat dan berguna dalam kehidupan sehari-hari. Melalui penggambaran harian tokoh-tokohnya yang sudah bukan lagi remaja tapi juga belum memasuki usia dewasa.

Not If I See You First


Saya berpikir, kalau buku ini akan menyeritakan seorang yang buta kemudian mendapatkan penglihatannya akibat pengorbanan dari sang pacar yang mendonorkan matanya untuk gadis tersebut. Tapi, itu cerita dalam film Unguviolet. Bukan dalam novel yang ditulis oleh Eric L. ini. Bukan. Intinya, berkisah tentang kehidupan Parker Grant yang buta, kehidupan sehari-harinya, bersama sahabatnya dan bagaimana dia memaafkan kesalahan sahabat masa kecilnya yang juga seorang yang sangat dia cintai. Saya tahu, terlalu kekanak-kanakan mungkin, tapi sayangnya, hal ini masih sering terjadi di sekitar saya, jadi saya bisa apa?


Kartu Tanda Buku


Judul : Not If I See You First
Penulis : Eric Lindstrom
Halaman : 310
Terbitan : Desember 2015
Versi : Kindle Ebook
Bahasa : Inggris
Penerbit : Poppy Publisher
ISBN : 9780316259811
Rating : 4/5
Goodreads : https://www.goodreads.com/review/show/2373303984



*Telah tersedia dalam versi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Spring*


Not If I See You First


Parker Grant The Blind Girl



Dia seorang gadis yang bersekolah di Adam High School. Setelah kematian ayahnya tiga bulan yang lalu, Bibinya beserta keluarganya pindah ke rumahnya. Alasannya sebenarnya karena mereka tidak ingin, Parker harus beradaptasi dari awal mengenai sudut-sudut dan berkenalan dengan lingkungan di sekitarnya. Bagi anak-remaja yang sehat tanpa kekurangan satu apapun sudah cukup sulit, apalagi bagi Parker yang memang seorang gadis buta.

Tidak ada yang mengetahui kebiasaannya sebelum berangkat ke sekolah. Dia akan melakukan olahraga lari setiap pagi. Saat dimana tidak banyak orang yang berlalu-lalang sehingga memudahkannya untuk menikmati udara pagi sambil olahraga. Apalagi, dia sudah cukup mengenal lingkungan tersebut yang memang orang di sekitarnya sudah berusaha untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya agar Parker tidak terkena bahaya akibat salah meletakkan posisi mobil atau benda apa saja yang bisa menghalangi jalan.

Biasanya, Parker dan Ayahnya akan berjalan kaki pada malam hari. Dimana ini dilakukan agar sang Ayah bisa memastikan bahwa lintas lari anaknya besok pagi, dalam keadaan seperti biasa. Tidak ada perubahan yang bisa membuat Parker celaka. Kebiasaan ini berakhir setelah sang Ayah meninggal sementara itu polisi menganggap bahwa Ayahnya bunuh diri akibat ketergantungan obat penenang.

Dugaan tersebut muncul ketika polisi menemukan sejumlah obat tersimpan di kotak yang jarang disentuh oleh Parker. Sementara itu dirinya yang baru mengetahui keberadaan obat tersebut merasa sedih dan teramat sedih. Bahkan menutup diri dari kesedihan yang tengah dialaminya. Dia menyimpan kesedihan itu sambil berusaha untuk tetap menjadi pribadi yang ceria tanpa ada yang berubah sama sekali. Dan ketika dia harus menempati kamar dan ruangan kerja ayahnya, semua ingatan itu terus bermunculan.


Not If I See You First


Kehidupan Dan Masalah Dalam Hidup



Manusia mana sih yang ingin memiliki masalah? Tentunya, semua akan memilih agar terhindar dari masalah. Tidak terkecuali Parker. Meski dia dan Sarah - sahabat masa kecilnya - memiliki rutinitas pagi dengan mendengarkan keluh kesah orang lain. Dirinya tidak terlepas dari masalah yang terus membebaninya. Terutama semenjak kepergian sang Ayah yang menjadikan semuanya terasa berat baginya. Tapi, Parker menolak untuk membicarakan hal tersebut.

Tidak lama kemudian, masalah lain bermunculan ketika dia merasa jatuh hati pada Jason, keduanya kemudian menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari. Dan Parker akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut, alih-alih menawari Jason menjadi temannya. Padahal, Jason termasuk lelaki yang benar-benar tahu apa yang harus dilakukan dengan seorang gadis buta sepertinya.

Kemudian masalah hadir lagi ketika Sarah dan Rich putus. Dimana saat itu Parker menganggap bahwa ada banyak hal yang tidak dia ketahui. Dia sadar, bahwa dirinya tak bisa melihat sehingga ini membuatnya tidak tahu bagaimana ekspresi orang-orang yang ada di dekatnya. Apalagi, ketika dia harus bertengkar dengan Sheila, sepupunya, di hari yang sangat spesial baginya. Semuanya seperti bom waktu yang kemudian meledak. Membuatnya menangis meraung-raung di suatu pagi saat rutinitas Parker dan Sarah baru saja dimulai.


Not If I See You First


Kesimpulan


Saat awal membuka lembaran demi lembaran buku ini ada beberapa hal yang membuat saya sangat teramat penasaran :

- Kenapa dalam mimpi Parker, sang Ayah mengatakan bahwa semua orang adalah sebuah rahasia? Apa alasannya?

- Parker sangat membenci Scott, tentunya ada sesuatu yang terjadi, tapi apa yang terjadi? Sampai-sampai dia membencinya hingga rasanya dia bisa saja membunuh semua orang karena kebenciannya itu.

- Bagaimana kelanjutan Parker dengan Jason? 

- Seperti apa sih, sosok Molly sebenarnya? Apakah dia benar-benar tulus menjadi pendamping Parker?

- Dan siapa sosok D.B sebenarnya? Jangan-jangan, seseorang yang sangat dibenci Parker, apalagi dia sedikit mengingat nada suaranya. 


Not If I See You First


Membaca genre Young Adult memang masih terbilang baru bagi saya. Itulah kenapa, ketika pertama kali saya menemukan sesuatu yang manis tapi juga bisa saya ambil sebagai hal yang penting, membuat saya seperti orang yang begitu norak hingga mampu menembus batas kegengsian yang saya bangun sejak dulu. Apapun itu, saya menghargai setiap orang yang hanya ingin membaca beberapa buku tertentu. Silakan saja, karena memang saya sendiri lebih senang dengan mereka yang mau menghabiskan waktunya untuk membaca, ketimbang menghabiskan waktu untuk bertikai tentang hal-hal yang tidak berguna.



Selamat membaca!



Not If I See You First

22 April 2018



Membaca buku memang sebaiknya dijadikan rutinitas harian pelepas lelah. Itu bagi saya pribadi. Tidak mesti harus buku-buku sastra, dongeng atau fiksi saja. Bisa membaca buku non fiksi semacam biografi, buku self-help hingga psikologi populer atau buku yang berkaitan dengan karir pun bisa dipilih.

Sebenarnya, membaca itu sudah menjadi kemampuan dasar yang wajib bagi banyak orang. Kita lihat saja, saat ini untuk bisa masuk ke Sekolah Dasar saja, ada syarat umum agar anak-anak mampu membaca. Meski hal ini menuai pro dan kontra, tapi dilihat dari pandangan umum. Membaca merupakan kemampuan dasar.

Mari kita lihat kembali dengan persyaratan setiap orang yang ingin melamar pekerjaan. Meskit pada spesifikasi pelamar tidak menuliskan : PELAMAR MAMPU MEMBACA. Alih-alih pelamar memiliki ijazah minimal SMA atau perguruan tinggi. Ini membuktikan bahwa untuk mendapat pekerjaan pun setiap pelamar memang sudah diwajibkan memiliki kemampuan membaca.

Karena tidak mungkin melalui setiap jenjang pendidikan tanpa bisa membaca. Karena itulah membaca menjadi kemampuan dasar yang dimiliki oleh setiap orang.


***

Membaca tidak selalu disertai dengan memahami. Ada orang yang membaca tapi tidak paham. Dan banyak juga orang yang asal membaca sehingga semakin tidak paham. Fenomena ini jelas terlihat pada kebanyakan masyarakat Indonesia.

Tampak pada aktivitas para warganet yang terkadang menanyakan apa yang sudah tertera pada tulisan. Atau mengabaikan tulisan karena malas membaca pun banyak. Itulah mengapa, sebaiknya diajarkan pula bagaimana cara memahami bacaan bagi setiap orang. Agar membaca sekaligus memahami menjadi satu paket yang tidak dapat dipisahkan.


***


Bagaimana caranya menjadi pembaca buku? Tunggu, pertanyaan ini sekilas tampak mengherankan, ya. Tapi, ada banyak orang yang menanyakan hal tersebut pada banyak pembaca buku yang saya temui. Beberapa meminta rekomendasi, Buku apa yang bagus untuk dibaca bagi pembaca buku pemula?


  1. Mulailah dengan membaca buku yang menyediakan gambar dan tulisan didalamnya. Ini agar memberikan kemudahan bagi para pembaca pemula agar menemukan ‘rasa’ asyik dalam membaca.
  2. Buat target tahunan atau bulanan. Semisalnya ingin mencoba membaca buku lima buku dalam sebulan. Atau membaca 12 buku dalam setahun. Bisa juga mendaftar di goodreads.com tempat yang asyik untuk membantu memantau progress bacaan sambil melihat-lihat rekomendasi bacaan lain.
  3. Mulailah secara bertahap, jika masih belum bisa menamatkan satu buku dalam sehari. Bisa dicoba dengan membaca satu lembar buku setiap hari.
  4. Jika satu lembar dirasakan sedikit. Bisa juga dengan menargetkan membaca buku satu bab per hari.
  5. Bisa juga dengan memilih bacaan yang sedang banyak dibicarakan. Seperti buku yang sedang populer. Atau buku yang akan diangkat ke layar lebar.

Kelima cara di atas, saya tujukan bagi mereka yang ingin memulai menjadi pembaca buku. Bagus juga untuk mereka yang sedang mengalami kemalasan tingkat tinggi untuk membaca. Agar semangat membacanya bisa kembali lagi.


***


Bagi Anda yang ingin bertambah semangatnya dalam membaca. Bisa juga dengan bergabung ke komunitas Pembaca Buku. Atau membiasakan diri usai membaca kemudian menuliskan ulasan tentang buku tersebut. Biasanya, semangat kita akan terpacu setelah melihat banyak kawan lainnya yang rajin membaca dan menuliskan ulasannya.

Nama komunitas ini Gerakan One Week One Book. Sebuah gerakan yang terbentuk karena keprihatinan para pendirinya akan rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Gerakan ini aktif di kanal sosial Instagram. Bisa dilihat dari pertumbuhan para pengikut yang juga berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Bagi Anda yang ingin juga berkumpul dengan teman-teman lainnya dalam gerakan ini. Agar memacu diri sendiri menjadikan membaca sebagai rutinitas yang menyenangkan. Bisa cek langsung di akun Instagram @gerakan_1week1book .

Memang, aktivitas mereka yang terbilang baru ini masih belum merambah kanal sosial lain. Sehingga bagi Anda yang belum memiliki akun Instagram, terpaksa harus memilikinya terlebih dahulu jika ingin bergabung dalam gerakan ini.


***


Membaca dari yang saya alami, mendatangkan banyak manfaat. Salah satunya saya jadi bisa belajar berempati dengan setiap hal yang terjadi di lingkungan sekitar saya. Walaupun tidak menjamin, bahwa setiap pembaca buku akan menjadi orang yang mampu berempati dengan baik. Tapi, setidaknya dari apa yang ingin disampaikan oleh penulis, bisa menjadi hal bermanfaat bagi kita.


Selamat menikmati bacaanmu :)!

11 April 2018

Book Review : A List of Cages





Membaca berita mengenai kekerasan pada anak-anak hingga penganiayaan anak-remaja saja sudah membuat saya cukup meringis karena takut dan sedih. Apalagi harus membaca dan membayangkan dengan imajinasi saya setiap detil narasi dari sudut pandang si korban. Ini memang bukan novel bergenre Thriller seperti pembunuhan. Bukan. Bukan pula novel tentang detektif dan hal lainnya.

Ini novel tentang dua orang remaja yang memiliki keistimewaan dimana Adam merupakan seorang remaja dengan ADHD dan Julian yang memiliki kesulitan membaca karena dia seorang Disleksia. Keduanya membagikan cerita kehidupan mereka yang sangat teramat berbeda. Adam yang ceria dan banyak disayang oleh orang di sekitarnya sementara Julian yang pendiam, gemar menyendiri bahkan dianggap aneh oleh banyak orang. Cerita disampaikan melalui sudut pandang Julian dan Adam secara bergantian.

Kalian tidak perlu mengantisipasi apa-apa tentang buku ini, karena memang selain penggalian emosi dari karakternya yang benar-benar maksimal. Meski terdapat gambaran kekerasan pada salah satu tokohnya, tidak dideskripsikan dengan detil. Namun, tetap membuat hati ini terasa ngilu karena eksplorasinya justru pada emosi yang benar-benar membuat perasaan ini menjadi campur aduk meski sudah menamatkannya.



Kartu Tanda Buku


Judul : A List of Cages
Penulis : Robin Roe
Halaman : 320
Terbit : 10 Januari 2017
Versi : Ebook Kindle
Bahasa : Inggris
Penerbit : Disney Hyperion
Goodreads : https://www.goodreads.com/review/show/2351891608




Dua Karakter Anak Dan Cerita Kehidupan Mereka 




Namanya Adam, dia memiliki banyak teman. Pembawaannya yang selalu ceria dan ramah, serta mudah menjalin komunikasi dengan orang di sekitarnya membuatnya banyak dikenal oleh teman-teman satu sekolah. Bahkan, beberapa guru menjadikannya sebagai murid favoritnya. Itu karena dia memang senang menolong dan membantu juga tidak pernah tampak nakal karena baginya jika ada yang berbuat onar dengannya, dia hanya ingin melupakannya segera. Adam seorang remaja yang enggan berbuat keributan.

Remaja lain, seorang lelaki bernama Julian, dia empat tahun lebih muda dari Adam. Berpenampilan lebih kecil, kurus, rambut yang menjuntai menutupi wajahnya serta pendiam. Bukan tanpa alasan jika Julian bersikap menjadi anak pendiam, itu karena dia merasa bingung harus bereaksi seperti apa jika ada orang lain bertanya padanya. Dia lebih sering mengatakan, "I'm sorry" ketimbang menjawab pertanyaan yang diajukan. Kegemarannya untuk menyendiri dan jarang berbicara ini membuat teman-teman yang seumuran dengannya menganggap Julian ini aneh.

Keduanya bertemu saat Adam mendapat tugas untuk mengajar anak-anak yang masih belum bisa membaca. Dan Julian adalah reading buddy-nya. Dari kegiatan inilah akhirnya Adam dan Julian menjadi teman yang cukup dekat. Sampai-sampai Ibunya Adam juga ikut menyayangi Julian dengan sepenuh hati. Setiap kali mereka bersama, Julian akan bercerita bahwa Ibunya sangat pandai bernyanyi dan Ayahnya pandai melukis. Dan setelahnya dia akan bernyanyi.


"Julian's little face got serious, and then he burst into song. His powerful voice grabbed the attention of the entire room, and even Charlie stopped crying for a minute." ~ A List of Cages by Robin Roe


Robin menggambarkan bagaimana Adam dengan sangat detil meski tidak dalam satu bingkai. Penjelasan tentang ADHD ini disematkan melalui kegiatan dan aktivitas rutin yang tampak benar-benar natural. Hingga tidak ada kesan dipaksakan bahwa tokoh ini seorang ADHD. Hal yang menguntungkan bagi penulis adalah mengeksplorasi setiap adegan dan detilnya melalui sudut pandang setiap tokoh, ini kenapa saya merasa puas dengan bab demi bab yang dibagi secara terpisah antara Adam dan Julian melalui sudut pandang mereka masing-masing.

Begitu pula dengan Julian yang mendapat porsi yang setara dengan Adam, penggambaran sosok remaja tanggung yang kesulitan membaca karena Disleksia juga digambarkan dengan sangat jelas dan natural. Pembaca mungkin akan memaklumi ketika melihat secara keseluruhan kenapa Julian menjadi anak yang tidak mudah bergaul, tidak mudah mengatakan apa yang ada dipikirannya bahkan tidak mampu berbicara ketika ditanya. Dia bahkan tampak linglung dan tidak tahu apa yang disuka dan apa yang tidak disuka. Meski saya sempat merasa gregetan karena Julian menjadi sosok yang teramat bergantung pada Adam hingga tampak Adam seperti Ayah baginya. Tapi, jika kembali melihat dari sudut pandang berbeda, ketakutan terbesarnya terhadap sosok lain ini yang menjadi penyebabnya tampak bergantung pada Adam.



Kisah Di Sekolah Dan Masa-masa Remaja



Beruntunglah kalau Anda melewati masa remaja dengan teman-teman yang mengelilingi tanpa perlu bersusah payah menjadi orang lain. Kedua tokoh utama dalam novel ini, masing-masing tetap menjadi diri mereka sendiri. Konsistensi karakter mereka dan perkembangan salah satu tokoh dari traumanya yang sempat naik-turun bagai roller coaster, cukup menyita perhatian dan menguras emosi. Namun, tidak kalah menarik adalah kisah kehidupan remaja ini di sekolah.

Setiap saat, pembaca akan diajak mengikuti Julian untuk bertemu dengan Dr. Whitlock. Di sini peran Adam adalah sebagai asisten Dr. Whitlock yang harus membantunya agar Julian mau menemuinya tanpa ada paksaan. Adam mematuhi hal ini tanpa membantah karena baginya itu bukan hal yang sulit. Apalagi mengingat keduanya pernah sangat dekat hingga sebuah insiden membuat keduanya terpisah tanpa pernah bertukar kabar lagi.

Di ruangan Dr. Whitlock kita akan mendengarkan dengan seksama dan melihat betapa kerasnya beliau berusaha untuk mengetahui isi hati Julian dan mendengarkan dirinya bercerita. Entah itu mengajaknya bermain sebuah permainan sambil berbincang atau ikut serta mengajak Adam dalam sesi konselingnya agar Julian tetap merasa betah.

Adam memang tipikal seorang remaja yang gampang membuat orang yang ada di sekitarnya merasa nyaman. Tidak heran jika Julian mau bertukar cerita dengannya meski pada awal-awal pertemuan mereka lagi setelah perpisahan cukup sulit. Namun, berkat ketekunan dan kesabaran Adam yang sebenarnya memang sifatnya dia begitu, hingga kita tidak melihat adanya beban yang membuat Adam merasa bosan, membuat Julian bisa berkumpul dengan teman-temannya.

Kisah yang cukup menarik adalah ketika Adam dan teman-temannya berusaha untuk berebut meja di kantin. Dari sudut pandang para tokoh yang menyeritakannya ini bahwa kafetaria tersebut tidaklah cukup untuk menampung semua murid di sekolah tersebut. Apalagi waktu istirahat untuk mereka sangatlah sebentar, bahkan ada beberapa siswa yang hanya mampu menghabiskan waktu istirahatnya untuk mengantri makanan namun tidak juga berhasil memakan sajian di kantin. Sebagai penggambaran yang cukup jelas bahwa kondisi kantin dan waktu istirahat tidak sejalan sehingga banyak orangtua murid yang mengeluh bahwa anak mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan nutrisi dan menyebabkan mereka lemas dan mudah sakit.

Selain itu, kebiasaan Adam yang cukup lucu yaitu dia senang sekali merusak tatanan rambut Emerald. Apalagi dia juga pernah beberapa kali memeluk Emerald tanpa memberitahukan kepadanya dengan alasan, dia membutuhkan hormon yang bisa menenangkannya. Meski begitu, Emerald mengaku sudah memiliki pacar yakni seorang pilot yang keren.

Kehidupan Julian mungkin akan tampak seolah terlalu gelap dan muram, tapi demikianlah kehidupan pada beberapa orang jika kita mengamati lebih dekat agar bisa mengetahui dengan jelas apa yang mereka alami. Bahkan, Julian masih terus bertahan dengan kehidupannya, ini yang membuat saya suka dengan karakter tokoh-tokohnya yang kuat. Hingga saya tidak bisa memilih antara Adam dan Julian karena keduanya bagi saya saling melengkapi.


"Because if they aren't there, you aren't either." ~ A List of Cages by Robin Roe



Buku Ini Membuatku Sulit Move On



Ketika menyelesaikan buku ini pertama kali, yang teringat langsung oleh saya adalah novel Wonder. Saya mendapat perasaan yang sama seperti ketika saya selesai membaca cerita keseharian August Pullman dan kehidupannya di sekolah dengan teman-temannya. Dimana saya merasa tidak sendirian ketika pada satu masa dimana kita mungkin merasa canggun berada di tengah orang-orang yang menganggap kita aneh karena keterbatasan yang kita miliki. Tapi, kita tetap berusaha untuk menjadi diri kita sendiri, rasanya saya ingin memeluk tokoh-tokoh dalam setiap buku yang membuat saya merasa tak lagi sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi anak yatim piatu yang harus tinggal dengan seorang Paman yang justru menjadi toxic people yang membuat kita hancur? Inilah alasan terbesar mengapa Julian seperti orang yang tertekan dan merasa takut sepanjang waktu. Dengan kondisi dirinya yang selalu merindukan kedua orangtuanya, dimana pembaca akan mendapati Julian kerap mengingat kembali percakapan dan kasih sayang yang pernah dia dapatkan pada setiap bagian di dalam cerita. Ini membuat saya merasa terenyuh. Sungguh bukan hal yang mudah pastinya, menjalani kehidupan tanpa orangtua. Apalagi ditambah dengan tinggal bersama seorang lelaki yang sangat pecundang.


Death was nothing to be afraid of. It was just birth to another world and someone would be waiting for us there ~ A List of Cages by Robin Roe



Hal yang paling manis adalah meski Julian menghadapi kehidupan yang teramat keras, terasing dari lingkungan pergaulannya. Dia tetap memiliki rasa empati yang besar, terutama ketika salah seorang gurunya tampak bertingkah aneh dan tidak lama setelahnya sang guru berbagi kesedihan tentang anaknya yang meninggal dunia. Rasa sakit yang sama dan kerinduan yang sama dirasakan juga oleh Julian sehingga dia bisa memosisikan dirinya hingga sang guru mampu menyeritakan apa yang dirasakan sampai-sampai sang guru menangis di kelas.

Dan hal terindah yang membuat saya semakin merasa haru adalah teman-teman Adam juga ikut merangkul dan memperhatikan Julian dengan tulus. Terasa amat manis ketika masuk ke dalam bagian dimana Charlie yang selalu menganggap keberadaan Julain sebagai penghambat keasikan mereka, namun setelahnya justru menjadi orang yang ikut peduli bahkan mampu membuat Julian merasa nyaman. Adegan keduanya sangat manis dan juga mengharukan. Bahwa seseorang bisa berubah jika saja dia mau melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Tidak menyesal rasanya bisa menyempatkan membaca buku yang tengah banyak dibicarakan di linimasa. Apalagi buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ditambah diterbitkan oleh penerbit yang terkenal dengan cover-cover keren dan instagram-abel-nya, yaitu Penerbit Spring. Beberapa buku karya penerbit Spring ini tidak membuat saya kecewa, baik itu cover sampai masalah terjemahannya. Itulah kenapa buku ini layak karena buku ini tidak terlalu berat tapi juga tidak remeh-temeh. Ada sesuatu yang membekas usai membacanya. [Ipeh Alena]







05 April 2018

Book Review : The Hate U Give


The Hate U Give



Belakangan ini dunia perbukuan tengah diguncang dengan kehadiran sebuah buku yang fenomenal. Buku ini akan segera ditayangkan dalam bentuk film namun beberapa orang sempat menyatakan bahwa di tempatnya berada tidak akan menayangkan film ini. Buku ini masuk ke dalam Diversity Book, dimana membahas sesuatu yang paling banyak kita temui, bahkan di Indonesia pun terjadi, RASISME.

Jika merujuk pada negara Amerika Serikat, tentunya kita sudah sangat mengenal betapa terasingnya orang-orang kulit hitam di sana. Label yang melekat pada mereka adalah label yang negatif. Bahkan, meski ketika presiden Barrack Obama menjabat, tindakan rasis seperti hal tersebut masih terjadi meski tidak separah saat sebelum atau sesudah beliau menjabat sebagai presiden.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Hate U Give
Penulis : Angie Thomas
Halaman : 491
Versi : Ebook Gramedia Digital
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Goodreads : https://www.goodreads.com/review/show/2206867624





Ini sebuah fakta yang sempat saya baca setelah membaca buku ini. Tentang seorang remaja berkulit hitam, yang sedang berdiri menggenggam telpon genggam di halaman rumahnya, ditembak sebanyak 20 kali oleh seorang polisi yang menyangkanya membawa senjata. Tajuk para demonstran yang sempat ramai belakangan ini bisa dicek di tagar #StephonClark dimana banyak opini bertebaran tentang hal tersebut.


Mereka Pantas Untuk Mati Karena Mereka Orang Kulit Hitam ~



Tentunya, otak kita akan menyerapnya dengan pertanyaan yang besar. Semurah itukah harga sebuah nyawa hanya karena warna kulit mereka berbeda? Pantaslah banyak artis yang melegenda senantiasa berusaha untuk menyudahi tindak rasisme yang tampak mendarah daging. Masih teringat dengan jelas sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Michael Jackson, "no matter if you're black or white." Mereka selalu menyuarakan dan berusaha agar kehidupan mereka tak lagi dipermasalahkan tentang warna kulit.

Demikian juga di Indonesia yang kerap bertikai tentang masalah Pribumi dan Non Pribumi. Kebanyakan mereka merasa iritasi dengan kehadiran orang-orang ras Cina. Terkenang kembali waktu dimana tragedi amukan massa yang pernah terjadi sekitar akhir tahun 90-an, dimana pada mulanya berawal dari demonstrasi mahasiswa kemudian berakhir menjadi kerusuhan hingga pembakaran lahan usaha dan perampokan besar-besaran bisnis orang-orang Cina.

Saya tidak sedang membela orang Cina atau orang kulit hitam. Saya sedang berpikir tentang bagaimana otak manusia itu bekerja. Kenapa bisa mereka yang notabennya memiliki otak dan dianugerahi kesempurnaan bisa sedemikian bodohnya hingga menganggap kebencian pada satu orang berarti harus membenci ras hingga anak cucu dan semua keturunannya?

Kebencian itu akan selalu tertanam hingga ke anak-cucu dan semua keturunan kita. Itulah kenapa judul ini mewakili cerita yang ada sedikit-banyaknya merupakan pengalaman asli dari Angie Thomas, penulisnya. The Hate U Give, sebuah fenomena dimana kebencian pada ras tertentu memang sudah sejak lama ditanamkan secara sadar atau tidak pada orangtua mereka. Dan ini seperti lingkaran setan yang tak akan bisa terputus kecuali seseorang mencoba untuk melepas diri mereka secara sadar dan berusaha untuk menanamkan hal lain kecuali kebencian pada anak-keturunannya.


T-H-U-G-L-I-F-E. Artinya apa yang diberikan masyarakat kepada kita sebagai generasi muda, bakal berbalik menghajar mereka saat kita jadi kacau. ~ Hal 24



Sebagai seorang anak mantan narapidana dan mantan anggota King yang juga berkulit hitam. Kehidupan Starr sebenarnya tidaklah mudah, dia tinggal di sebuah kawasan yang sangat dikenal sebagai tempat tinggalnya para gembong narkoba, para pengedar narkoba hingga para aktor jahat, yaitu Garden Heights. Meski demikian, sang Ayah - Maverick - senantiasa menanamkan pada anak-anak mereka bahwa meski lingkungan tersebut buruk, mereka bisa membuktikan pada dunia bahwa tidak semua orang yang tinggal di tempat ini jahat.

Starr bersekolah di Williamson, tempat mayoritas kulit putih berada. Meski dia menjadi gadis kulit hitam yang jarang bisa ditemui di tempat ini, Starr merasa tetap nyaman dan senang karena dia mendapat tempat yang sesuai untuknya. Di sini tampak sekilas bahwa Starr sebenarnya merasa bimbang untuk membanggakan dirinya sebagai gadis kulit hitam dan berusaha untuk melebur dengan teman-teman kulit putihnya meski menggadaikan banyak hal tentang dirinya.

Menjadi diri sendiri di antara kaum mayoritas memang tak mudah, pun saya merasakan demikian. Ketidak-mudahan ini seringkali menjadikan pribadi kita seolah takut untuk menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Karena takut dibenci dan takut diasingkan. Kasus ini banyak dirasakan oleh anak-anak yang mengalami bullying baik itu karena perbedaan fisik, agama hingga ras.

Kakaknya Starr, Seven, lahir dari Ibu yang berbeda, dimana Ibunya Seven adalah ibunya Kenya sahabatnya Starr. Rumitnya hubungan keluarga ini berawal dari kegilaan King sang pemimpin gerombolan gangster di wilayah Garden Heights yang gemar meminjamkan istrinya pada anggota lain. Terutama jika dia mendapat posisi yang istimewa bagi King. Demikianlah mengapa akhirnya Seven bisa menjadi kakaknya Starr dan Kenya meski mereka berbeda Ibu.



"Mau kulitnya polkadot pun tak masalah, asalkan dia bukan penjahat dan dia memperlakukanmu dengan baik." ~ Hal 50


Cerita dalam buku ini yang ternyata berisi juga pengalaman Angie sang penulis tentang kehidupannya dan tentang pengalamannya di tempat kuliah, bukan saja sebagai fokus yang utama. Ada beberapa hal yang juga diceritakan sehingga membuat cerita dalam buku ini sangat menarik dan kompleks. Kita akan ditawarkan bagaimana perjuangan Starr menjadi saksi dalam pengadilan penembakan Khalil oleh polisi berkulit putih.

Dimana karena sang polisi adalah seorang mayoritas sehingga berita yang ditampilkan banyak berisi dukungan bagi si penembak alih-alih mempertanyakan kebenaran akan kejadian yang nyata. Apalagi ditambah dengan pernyataan ayahnya sang polisi yang sempat membuat saya mengangguk dan menyetujui bahwa ada sisi gelap dari pemberitaan di televisi dan media lain yang sering tidak akurat.

Kisah cinta Starr yang berpacara dengan Chris, seorang lelaki kulit putih, juga dibahas di sini. Bagaimana pada akhirnya, tampak juga oleh beberapa pembaca yang menyebutkan bahwa ada beberapa kali Starr melakukan standar dan pemikiran yang lumayan rasis pada Chris dimana pendapat lain mengatakan bahwa itu adalah bentuk pertahanan diri Starr akibat banyaknya hal negatif yang terus mengikuti dirinya.


Ada beberapa hal juga yang menarik dari buku ini yang sayang kalau dilewatkan :



  • Hubungan orangtua Starr yang cukup manis. Keduanya digambarkan sebagai pasangan yang saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Romansa keduanya bukan ditampilkan dari banyaknya bunga atau kencang yang dilakukan oleh kedua orangtua Starr, tapi hal-hal yang sering ditunjukkan dalam dialog atau penggambaran naratif saat keduanya memutuskan sesuatu demi masa depan keluarga.
  • Jika dipisah, Ibunya Starr juga cukup lucu, dia mampu membuat saya menertawakan sesuatu yang sering banyak dilakukan oleh Ibu-ibu lain. Selain itu sang Ayah juga demikian, pertanyaan-pertanyaannya yang sering membuat Starr mati kutu, membuat saya terbahak.
  • Kisah persahabatan Starr dengan kedua temannya juga cukup seru, terlebih salah satunya mendominasi yang lain dan ini membuat mereka harus menentukan sendiri keputusan apa yang terbaik bagi mereka.
  • Kehidupan masyarakat di Garden Heights juga disoroti dengan porsi yang cukup sehingga masing-masing tokoh saling menopang hingga cerita ini menjadi sangat bagus. Apalagi banyak juga ulasan positif tentang buku ini sehingga Anda tidak akan menyesal membacanya.
  • Perjuangan Maverick agar lingkungan tempatnya tinggal bisa menjadi lebih baik lagi merupakan usaha yang tidak kecil. Apapun itu dia selalu memiliki cukup keyakinan yang baik demi terwujudnya impian agar anak-anak di lingkungan Garden Heights ini tak lagi menjadi momok penjahat seperti yang dikenal banyak orang.
  • Membaca buku ini mengenalkan kita pada satu daerah di Missisipi yang ternyata memang banyak dihuni oleh orang-orang kulit putih. Seperti halnya China Town yang sering kita dengar di film-film Hollywood. Jadi, kisah ini ada banyaknya menguak bagaimana kehidupan sehari-hari dan rasisme yang sering terjadi.


Kesan Bacaanipeh Setelah Membaca Buku The Hate U Give



Selama membaca buku ini, saya merasa terlalu sensitif terutama beberapa bagian sangat mirip dengan kondisi di sini. Hingga membuat saya tak sanggup menahan tetes air mata haru dan juga sedih karena miris bahwasannya banyak orang yang demikian tega hingga menggap remeh satu nyawa demi menuntaskan dahaga mereka akan kebencian. Usai menyelesaikan bacaan ini, saya bahkan masih belum sanggup untuk memilih bacaan lain, terutama karena buku yang ada berbeda genrenya. Hingga membuat saya harus memberikan banyak waktu bagi diri saya sendiri untuk memulai membaca kembali. Buku ini saya rekomendasikan agar dibaca karena isinya benar-benar berbobot namun dikemas dengan sangat apik dan ringan. [Ipeh Alena]

29 March 2018

Book Review : Lose Me by M.C Frank




Lose Me


Bagaimana rasanya akun bookstagrammu di-follow sama seorang penulis? Pastinya ada rasa bangga dong, ya. Demikian juga saya, tapi tidak sebangga ketika saya sudah mengenal tulisannya. Pertama kali M.C Frank mengikuti akun instagram saya, saat itu saya masih belum tahu apa-apa tentang dia. Apalagi ketika melihat statusnya tertera tulisan Author yang mengindikasikan dia ada lah seorang penulis (yaiyalah!). Namun, karena saya belum pernah membaca bukunya, otomatis saya tidak begitu menaruh perhatian.

Tidak beberapa lama kemudian, dirinya membuat sebuah wadah atau media yang mempertemukan penulis dan pembaca dalam satu tempat. Namanya The Book Robinhoods, jika kalian ingin mendapat kesempatan membaca karya dari penulis-penulis debut, silakan bergabung. Caranya? Pantengin terus akun M.C Frank di ignya, karena biasanya beliau akan terus memberikan informasi terbaru terkait pencarian reviewer.

Setelah saya bergabung dengan grup tersebut, meski saya masih belum juga membaca bukunya, saya mendapat beberapa kali kesempatan membaca buku-buku dari penulis debut. Terkadang, saya beruntung mendapatkan karya yang memiliki gaya penulisan yang renyah dan enak dibaca hingga membuat betah untuk terus mengetahui isi ceritanya. Kadang, saya juga beberapa kali menemukan buku yang saya baca membosankan hingga terasa tak sanggup untuk menuntaskannya.

Kewajiban reviewer di komunitas The Book Robinhoods itu selain menulis ulasan di Goodreads, juga membagikan ulasannya di Instagram. Tentunya ini untuk membantu agar karya mereka dikenal oleh orang lain. Kalau mendapat buku yang enak dibaca, tentunya akan membuat saya semangat menuliskan ulasannya, tapi kalau bosenin? Sesungguhnya itu adalah hal paling sulit untuk saya lakukan. Tapi, gaya penulisan seorang penulis itu enak atau enggaknya memang tergantung selera pembaca, ya. Jadi, penilaian ini bukan hal utama yang membuat saya memutuskan ingin membaca buku tersebut atau enggak.

***

Beberapa hari yang lalu, M.C Frank memberikan informasi bahwa dia mencari seorang reviewer untuk membaca bukunya dan menuliskan ulasannya di Amazon. Sayangnya, saya masih belum mendapat izin dari Amazon untuk menulis ulasan di sana, karena masih belum memenuhi standar pembelian untuk membuka izin layanan penulisan ulasan ini. Alhasil, saya mundur saat ingin mengajukan diri menjadi reviewer bukunya.

Tapi, hal yang membuat saya beruntung dan allhamdulillah banget adalah bukunya M.C Frank tersedia gratis bagi pengguna Kindle Unlimited! Jadilah saya tinggal mengunduh ebooknya dari aplikasi Kindle di gawai saya. Meski butuh waktu juga bagi saya untuk memulai membacanya. Karena, saya takut setelah membaca ceritanya membuat saya terkena Reading Slump. Persis seperti ketika saya usai membaca buku yang membuat saya bosan setengah hidup.

Namun, beberapa hal tak terduga membuat saya akhirnya jatuh hati dengan cerita yang ditulis olehnya....

***

Berkisah tentang seorang Stunt Girl yang terlibat dalam sebuah shooting film yang diperankan oleh bintang Hollywood ternama, Weston Spencer. Dia sangat terkenal, terlebih banyak membintangi film-film yang lumayan laris. Disertai gosip tentang dirinya dan para gadis yang dekat dengannya. 

Ariadne adalah nama sang Stunt Girl tersebut, dia tahu bahwa kesempatan itu tidak datang secara tiba-tiba. Ini semua sudah diatur sesuai dengan kabar dari sebuah surat yang datang kepadanya dari seorang Ibu yang bahkan belum pernah dia temui setelah dirinya berusia satu tahun. Ibu yang memutuskan untuk memberinya kesempatan serta memintanya untuk berlatih agar memiliki ketrampilan yang sesuai sebagai seorang Stunt Girl.

Pertemuan antara Wes dan Ari persis seperti pertemuan Mr. Darcy dan Elizabeth Benneth dalam buku Pride and Prejudice. Dimana Wes tampak seperti seorang lelaki yang angkuh, sombong dan tidak peduli dengan lingkungannya. Bagi Ari, meski Wes bertampang sangat keren, tapi dia tidak begitu tertarik. Sehingga dirinya berusaha untuk menjauh dari sang aktor. Apalagi di tempat kerjanya ini, dia masih belum begitu mengetahui mengenai jalan cerita dari film yang sedang mereka garap ini.


I'm not a real actress. I am just the stunt girl. My part is anything that is too dangerous, unpleasant or unnecessary for the real actors to do.... kicboxing and climbing and snorkeling and diving and driving around in fast cars.... ~ Lose Me



Uniknya, di cerita ini, meski bergenre Young Adult tapi kita tidak hanya dicecoki kisah cinta saja. Tapi, banyak hal. Semisalnya tentang kegiatan shooting dimana Ari harus mengulang-ngulang adegan hingga berkali-kali. Ketika dia harus menggantikan pemeran utama Elli untuk berenang dan berselancar hingga mencapai titik batas maksimalnya demi mendapatkan adegan yang sangat bagus.

Selain itu, diungkap juga beberapa hal yang terjadi pada kehidupan para artis tersebut. Seperti Wes yang merupakan aktor paling terkenal. Dimana dia adalah alat promosi bagi agensinya sehingga sejak dia masih remaja, dia sudah diatur untuk berkencan dengan beberapa pemain wanita dalam film yang dia bintangi. Ini untuk menaikkan pamor film tersebut dan sebagai alat untuk promosi.

Wes hanya memiliki satu sahabat, bernama Ollie, temannya sesama artis dan mereka berdua pernah membintangi sebuah film bersama. Dan di film terbarunya ini, keduanya bermain lagi bersama. Di balik glamornya kehidupan Wes sang bintang Hollywood ada semacam adiksi yang membuat Wes sebenarnya merasa dirinya sangatlah buruk. Tapi, pertemuannya dengan Ari justru membuatnya ingin berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Ceritanya memang cenderung klasik, apalagi sih cerita yang bisa diangkat dalam kisah romantis? Seringnya sih saya menemukan pola yang hampir sama. Keinginan sang cowok untuk menjadi lebih baik lagi. Tapi, yang membuat berbeda tentunya adegan lain yang membalut inti cerita. Serta gaya penulisan dan bagaimana si penulis membangun emosi pembacanya melalui kata demi kata.

Selain kehidupan para artis juga bagaimana pengalaman Ari sebagai Stunt Girl bekerja. Ada hal lain yang juga tak kalah seru yaitu bagaimana Ari berusaha untuk bertahan dengan sesuatu yang sangat ditakutinya. Inilah yang membuat novel ini bukan sekadar berkisah tentang percintaan tapi juga bagaimana menghadapi rasa takut, bagaimana untuk tetap tegar dan kuat serta optimis dan betapa hangatnya kebersamaan di tengah-tengah keluarga baru meski kehidupanmu rumit.

Betul, hubungan antara saudara, anak dan hal lainnya di dalam novel ini memang rumit. Tapi, kerumitan tersebut melebur bersama tawa dan haru yang terkumpul dalam beberapa adegan kebersamaan mereka. Apalagi disini juga disisipkan budaya dan kebiasaan di tempat lokasi cerita yaitu di Greek. Seperti budaya orang-orang di sana sampai cara serta hidangan makanan yang merupakan hal yang tak biasa bagi sebagian orang.


***

Hal yang mengasyikkan dari membaca Young Adult memang bagian romansanya. Meski saya kurang begitu suka jika romansa yang ditawarkan terlalu banyak sehingga bisa membosankan buat saya. Beruntunglah beberapa novel dengan genre YA yang sudah saya baca banyak yang bagus, meski tidak bisa dibilang ada juga yang membuat dahi saya berkerut kemudian meninggalkannya tanpa sempat menuntaskan ceritanya.

Selain itu saya juga dibuat penasaran dengan lokasi tempat cerita yang mengambil tempat di Greece, tepatnya di Corfu. Shootingnya memang dilakukan di pantai pulau Corfu. Dan setelah saya melihat bagaimana penampakan pulau Corfu, saya ternganga, karena pulau ini memiliki pantai yang sangat biru dan cantik. Ah, membaca novel ini membuat saya seolah jalan-jalan ke tempat yang sangat jauh.

Tentunya, saya enggak asal menilai sebuah buku. Meski buku ini termasuk ringan, tapi saya suka sekali karena emosi yang digali oleh M.C Frank ini membuat saya merasa kesal, sebal, terharu hingga tak tahan lagi untuk mengetahui nasib Ari dan Wes. Karena itu, saya cukup bersemangat untuk menuliskan sedikit pendapat saya pada artikel ini. 

Meski ada beberapa hal yang sangat disayangkan saat membaca novel ini. Yaitu penomoran halamannya sangat kacau. Saya bahkan baru membuka bab pertama dan nomor halamannya sudah mencapai halaman 105. Sementara ebook lain yang saya baca di Kindle memiliki penomoran yang bagus dan sesuai. Sayang sekali, sehingga saya tidak bisa memastikan halaman berapakah kutipan yang saya tulis di bawah ini berada.

***

Ada beberapa kutipan yang saya suka dari novel ini, akan saya bagikan di sini.

"We can't let fear, no matter how justified or real, rule our lives. You can't let it steal your courage, your passion for life." ~ Lose Me


"But I'll still be me. And wes will be Wes. And he'll be there no matter what, because he saw me at my darkest. He loved me at my darkest." ~ Lose Me


"I'm going mad without you, that's the truth. Please save me; you're the only one who can." ~ Lose Me


"...always look out for yourself. No one else will do it for you. Not like I did the other night." ~ Lose Me


***

Kartu Tanda Buku

Judul : Lose Me
Penulis : M.C Frank
Halaman : 387
Versi : Ebook Kindle
Bahasa : Inggris
Penerbit : Amazon Digital Services
ASIN : B01MZD6PIO
Goodreads : Short Opinion

28 March 2018

Book Review : Teach Like Finland by Timothy D. Walker


Teach like Finland


Sudah pernah dengar sistem pendidikan di Finlandia? Saya pertama kali mengetahuinya melalui tayangan Where to Invade Next? Yang merupakan tayangan dokumenter seseorang mengunjungi beberapa negara yang memiliki penerapan dalam beberapa bidang yang unik. Salah satunya adalah sistem pendidikan di Finlandia, yang di kemudian hari menjadi bahan perbincangan bagi banyak orang.

Buku ini hadir di saat yang tepat, kala banyak orang mengeluhkan sistem pendidikan di Indonesia yang kerap mengalami pergantian sesuai dengan pergantian menteri pendidikannya. Tentunya, anak-anak sekolah-lah yang menjadi korban percobaan mereka. Alih-alih mengoptimalkan pendidikan dan penerapan pemahaman siswa dari masa ke masa, justru sekarang cenderung hanya diukur berdasarkan “seberapa lama mereka menghabiskan waktu di sekolah”.


Kartu Tanda Baca


Judul : Teach Like Finland
Penulis : Timothy D. Walker
Halaman : 270
Terbit : Juli 2017
Versi : Ebook Gramedia Digital
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786024520441
Goodreads : Rating dan Review




Mungkin sudah banyak yang pernah membaca pesan yang dikirim melalui Whatsapp di grup atau tulisan yang dibagikan di media sosial, tentang sistem pendidikan di Finlandia yang justru menghabiskan waktu mereka lebih sedikit di sekolah, tidak banyak memiliki PR (pekerjaan rumah), tapi justru mereka mendapat nilai yang sangat bagus dan tinggi.

Dalam buku Teach Like Finland, Timothy D. Walker membagikan pengalamannya mengajar di Finlandia selama dua tahun. Setelah mengalami over-work di Amerika sehingga membuatnya ingin berhenti mengajar. Namun, atas desakan sang Istri, akhirnya mereka pindah ke Finlandia. Di sanalah Walker melihat kenyataan yang pernah didengar dari cerita sang Istri. Apa saja kah hal-hal yang bisa diikuti dalam sistem pengajaran dari Finlandia?



Kesejahteraan Siswa Harus Didahulukan



Dari studi yang dilakukan oleh Pellegrine pada tahun 2005, didapati bahwa istirahat selama lima belas menit usai pelajaran selama empat puluh lima menit, terbukti mampu meningkatkan fokus anak-anak. Bahkan, jika waktu istirahat ditunda, maka fokus anak-anak tersebut akan menurun. ~ Hal 9



Tentunya, dengan fakta yang berasal dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa praktisi pendidikan mengungkapkan bahwasannya HAK seorang anak patut diberikan sebelum meminta mereka untuk menyerap pelajaran selanjutnya. Inilah yang juga diterapkan di Finlandia, dimana waktu belajar yaitu empat puluh lima menit kemudian dilanjut dengan istirahat selama lima belas menit dengan total waktu di sekolah hanya beberapa jam saja.

Bagi sekolah-sekolah di Finlandia, bahwa dengan menerapkan waktu di sekolah yang tidak begitu lama, akan membantu para siswa dan guru memiliki waktu istirahat yang cukup. Tidak hanya itu, mereka juta bisa meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan orang lain. Demikian pula dengan para guru yang bisa meluangkan waktu berkunjung ke rumah para muridnya untuk mengenal lebih dekat.

Konsep memahami siswa yang diajar, mampu memberikan masukan yang bermanfaat tentang bagaimana cara si anak belajar hingga apa saja hal yang dapat membantunya dalam proses belajar. Dengan penerapan inilah yang membuat para guru di Finlandia mampu mengenal murid mereka dengan lebih baik dan bisa mengarahkan proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan namun tetap terfokus.

Waktu istirahat seusai sekolah yang banyak juga bisa dimanfaatkan bagi para guru dan siswa untuk berdekatan dengan alam. Entah itu berjalan-jalan ke hutan atau taman. Dengan melakukan kegiatan ini ternyata mampu mencegah tindak bullying. Karena alam bisa membantu anak-anak memiliki kepercayaan diri yang baik. Apalagi di Finlandia, tidaklah sulit dalam menemukan tempat untuk menjelajah alam.


“Penelitian menegaskan bahwa alam dapat sangat membantu anak belajar membangun kepercayaan diri…” ~ Pg 43




Berlatih Kemandirian Sedini Mungkin



Di Finlandia, anak-anak ini memiliki banyak kesempatan melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan orang lain dan dari kesempatan inilah mereka mampu mengarahkan diri mereka sebagai pelajar. ~ Pg 90



Sebelum mengenalkan tentang apa dan bagaimana kemandirian itu, Walker menjelaskan bahwasannya setiap anak-anak yang diajar olehnya, diberikan kebebasan untuk melakukan sesuatu selama lima menit sebelum memulai pelajaran. Sesuatu ini yang membantu mereka untuk memasuki zona fokus sehingga akan meminimalisir distraksi yang nantinya akan muncul di tengah proses belajar.

Selain membantu mereka untuk fokus, pemberian kebebasan dalam memilih ini juga membantu mereka untuk tetap tenang setelah bergerak secara aktif sebelum masuk ke kelas. Proses lima menit yang berharga ini ternyata juga mampu membuat anak-anak untuk duduk dengan tenang dan hening sehingga kelas bisa segera dimulai. Bagi warga Finlandia, apresiasi terhadap keheningan merupakan hal yang paling utama, terwujud dalam perayaan Hari Kemerdekaan Finlandia dimana berbeda dari negara lainnya.

Perayaan Hari Kemerdekaan Finlandia memang berbeda, karena mereka semua serempak akan menyalakan lilin alih-alih mengadakan pawai atau pesta kembang api. Kemudian merayakannya dengan keheningan selayaknya perayaan Nyepi bagi umat Hindu. Dimana para masyarakat di Finlandia mengheningkan cipta selama satu hari demi mengingat jasa-jasa para pahlawan yang gugur di medan perang.

Dengan belajar untuk hening maka anak-anak ini bisa menguasai diri mereka, ini bisa mneciptakan ruang yang cukup untuk satu hari agar mereka bisa tenang selama proses belajar. Oleh karena itulah, anak-anak di Finlandia mampu mengatur diri mereka, kapan harus berinteraksi, kapan harus duduk tenang dan kapan harus bermain.

Menurut Walker, dengan memberikan mereka kebebasan dan pelatihan dalam menenangkan diri mereka, ini mampu membuat mereka sadar dengan diri mereka dan membantu agar mereka bisa berlatih untuk mandiri melalui program mengatur kesadaran diri ini. Tapi, tidak hanya itu, bagi Walker kebebasan anak-anak yang bersyarat itu pun mampu membatasi ruang gerak mereka, sehingga sudah semestinya keterbatasan dan kebebasan bersayarat ini dihapus. Sehingga menciptakan sebuah ruang bagi kreativitas mereka.

Uniknya, bahwa kemandirian juga bisa dibangun melalui interaksi sosial. Dengan berkumpul dan bersosialisasi, ternyata mampu membuat anak-anak ini berlatih untuk percaya diri serta mampu mengelola hubungan mereka sehingga mereka bisa percaya diri dan bisa membuat mereka melakukan segala hal sendiri tanpa bergantung pada teman atau orang di sekitarnya.


Rasa Kemandirian merupakan bahan kegembiraan. ~ Pg 91




***


Dari penjelasan Walker pada bukunya yang populer ini, saya menangkap banyak hal yang juga tengah diterapkan oleh seorang praktisi pendidikan bernama Bukik Setiawan. Saya pernah menuliskan ulasan tentang bukunya yang berjudul Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir. Melalui kedua buku tersebut saya juga dikenalkan beberapa kutipan dan penerapan pendidikan yang pernah ditulis oleh Ki Hajar Dewantara melalui bukunya yang berjudul pendidikan.

Beberapa inti yang saya tangkap, yaitu :



  • Anak-anak bukan makhluk hidup yang tak memiliki hak untuk memilih, sehingga memberi mereka kebebasan dalam proses belajar merupakan sesuatu yang bukan saja menyenangkan bagi mereka tapi juga membantu mereka memahami segala sesuatunya dengan baik.
  • Mengajar sesuatu sesuai dengan karakter anak-anak. Memang tampaknya sulit terlebih jika anak murid yang diajar sangatlah banyak, itulah mengapa di Finlandia dibuat waktu istirahat di sela jam belajar, untuk membantu guru mengetahui bagaimana gaya belajar anak muridnya.
  • Sekolah selama satu hari penuh, bukan sebuah terobosan agar anak-anak mampu menjadi cerdas dan mendapat pengetahuan yang mumpuni. Tapi, bisa menjadikan mereka lelah dan tak mampu berkonsentrasi secara penuh. Ini justru buruk untuk anak-anak karena mereka tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik.
  • Sudah sepatutnya anak-anak diajari tentang kesadaran diri mereka melalui praktek yang kecil seperti memberi mereka tanggung jawab, memberikan mereka kebebasan untuk memilih, menuntun mereka untuk memilih pilihan sesuai dengan kemampuan mereka serta melakukan segala hal yang mereka mampu sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
  • Semakin rutin dan banyak waktu untuk anak-anak istirahat maka akan semakin baik bagi mereka untuk fokus selama pelajaran.



Tentunya, mengajar bukan hanya membuat anak-anak belajar dan membaca serta berhitung, tapi bagaimana melatih fokus, melatih konsentrasi, melatih kemandirian hingga melatih interaksi sosial mereka sehingga di masa yang akan datang, mereka tak hanya memiliki ilmu dan kemampuan yang cukup dalam pekerjaan tapi juga memiliki mental yang sehat dan kesadaran diri yang tinggi. [Ipeh Alena]

22 March 2018

Book Review : Nordik Mitologi Karya Neil Gaiman





Sudah menonton Thor Ragnarok? Saya sudah dan alasan ini pula-lah kenapa saya memutuskan membeli buku Nordik Mitologi yang disusun oleh Neil Gaiman. Sama seperti buku-buku karya Neil lainnya, yang bagi saya cukup aneh tapi kenapa bisa terngiang terus?

Teringat sebuah novel yang bergambar seorang anak lelaki di sampulnya berjudul Graveyard Book, dimana ternyata bobot horornya melebihi Ghoosebump karya R.L Stine. Bayangkan saja, seorang bayi bisa meloloskan diri dari pembunuhan kemudian ditolong oleh sesosok hantu dan dibesarkan di pemakaman bersama hantu lainnya. Ini terdengar aneh bin ajaib bagi saya.

Baiklah, ketika saya membaca halaman pertama buku ini. Saya temui sebuah pengantar berisi alasan Neil mengapa dirinya merangkum sejarah mitologi yang sudah hampir punah. Disertai penyayangan-penyayangan lain tentang betapa banyak dewa-dewa Nordik yang tidak terekam jejaknya dikarenakan sejarah mitologi yang kita terima hingga saat ini berawal dari kisah turun-temurun.

Jadi, wajar jika banyak para peneliti kurang mengeksplorasi sejarah masa lampau karena mereka tidak bisa mewawancarai atau bahkan mendapatkan sumber yang sesuai. Beruntunglah I La Galigo yang naskahnya masih bisa terselamatkan. Meski konon, bahasa asli yang digunakan penulis di atas kulit lontar, tidak banyak yang mampu menerjemahkannya. Bisa jadi, nasib I La Galigo akan sama seperti nasib mitologi kuno lainnya yang pada akhirnya hanya sedikit yang kita tahu hingga saat ini.



Kartu Tanda Buku


Judul : Nordik Mitologi
Penulis : Neil Gaiman
Halaman : 336
Alih Bahasa : Djokolelono
Versi : Ebook Gramedia Digital
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978.602.03.6778.1
Rating : 3/5



Mitologi Nordik Tentang Kehidupan Para Dewa



Cerita dibuka dari awal terbentuknya dunia dan terpisahnya wilayah dewa aka dunia atas. Dengan membungkus kisah ini menggunakan bahasa selayaknya buku sejarah namun dikombinasi secara khas dengan narasi yang detil mengenai ekspresi dan dialog antar tokohnya. Pada bab-bab awal, saya merasakan kebosanan yang luar biasa. Namun, rasa penasaran membawa saya untuk meneruskan bacaan ini.

Bagian yang lucu, dengan ciri khas guyonan seorang Neil adalah saat Loki berusaha membawa kabur seekor kuda yang di kemudian hari tidak ada yang berani menanyakan mengapa kuda-kuda tersebut tampak sangat gagah dan rupawan. Begini, di sini Loki memang memiliki tampang yang rupawan, tinggi, cerdik, sopan namun licik dan culas. Penggambaran ini seketika membawa saya pada sosok Tom Hiddleston.

Pada mitologi yang ditulis oleh Neil ini bersumber dari sebuah buku yang memang banyak direferensikan untuk keperluan akademis. Jadi, buku ini tidak benar-benar murni fiksi yang berasal dari imajinasi Neil. Karena itulah faktanya, sosok Loki ini merupakan sepupu dari Odin. Berbeda dengan silsilah yang dikembangkan oleh Marvel.


Anehnya, dan sungguh di luar kebiasaannya, Loki tidak hadir saat semua memuji kecerdasannya dalam memancing Svadilfari menjauh. Tak seorang pun tahu kemana ia pergi, walaupun ada di antara para dewa yang berkata melihat seekor kuda betina cokelat di padang rumput di bawah Asgard. Loki menghilang selama hampir setahun. Ketika muncul kembali, ia ditemani anak kuda kelabu. 
Banyak yang mengagumi kuda kelabu tersebut, tetapi hanya seorang pemberani yang berani membicarakan silsilah kuda itu di dekat Loki. Dan tak ada yang berani menyinggung persoalan itu untuk kedua kalinya. ~ Hal 93



Hal lain yang cukup mencengangkan adalah bahwasannya Loki merupakan dewa yang kerap bermain dengan wanita dari bangsa lain. Suatu ketika Odin mendapat penglihatan bahwa anak-anak Loki akan menjadi perusak di masa depan. Benar saja, saat seorang dewa diutus untuk membawa anaknya Loki menemui Odin, mereka bertiga memiliki bentuk yang aneh. Ada yang berbentuk ular, serigala dan gadis cantik namun mematikan.

Yang menarik adalah ketika palunya Thor disembunyikan oleh Thrym seorang penguasa para raksasa. Dia mengaku menyembunyikan palunya dan meminta imbalan dewi Freya yang termasyhur kecantikannya tersebut untuk menjadi isterinya. Spontan saja, Freya mengamuk dan menolak membantu Thor. Sementara itu ide gila Heimdall membuat saya terbahak.



Thor Dan Loki



Bagi Thor, setiap ada sesuatu yang terjadi, biasanya sesuatu yang aneh atau janggal atau bahkan tercium berbau kejahatan, dirinya akan selalu menuduh Loki sebelum mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Itu karena ulah Loki memang sangat banyak sekali, bahkan sekaliber dewa yang terkuat pun mengakui kalau Loki termasuk dewa yang meresahkan.


“Sebab, jika ada kejadian buruk, yang pertama terpikir olehku pastilah itu ulah Loki. Ini menghemat waktuku berpikir.” ~ Hal 52




Seperti suatu ketika dia membawa pesan tentang permintaan seorang raksasa yang ingin menikah dengan Freya. Atau ketika pemimpin raksasa juga ingin menikah dengan Freya, itu karena kecantikan dewi ini sangatlah tidak bisa ditandingi. Bahkan, ketika harus menjejak ke tanah para raksasa beku, Loki menemani Thor yang mau tak mau mengikuti saran dari Heimdall.

Thor pernah bertarung dengan tiga anak Loki dari perempuan lain, bukan kaum dewa apalagi manusia tapi raksasa. Dimana mereka bertiga dibuang oleh Odin karena melalui penglihatannya ketiga anak tersebut akan mendatangkan Ragnarok aka akhir dunia. Anak pertama yang berbentuk ular disembunyikan jauh di dasar bumi. Konon, jika ular ini bergerak maka bumi juga ikut berderak.

Anak kedua tampak cantik, namun dia sangat mematikan, karena dialah rasa sakit, kematian dan kesakitan. Sementara anak ketiga berbentuk serigala yang teramat kuat. Bahkan rantai dalam bentuk apapun tidak mampu mengekangnya. Hingga Odin meminta bantuan para kurcaci untuk menciptakan pengikat yang mampu merekatnya hingga tak bisa melarikan diri. Dan anak ketiganya yang paling hebat inilah yang mampu memorak-porandakan dunia.



Kisah Odin Dan Awal Permulaan Semuanya




Ada sesosok makhluk yang tidak memiliki jenis kelamin yang jelas, dia adalah lelaki dan juga perempuan. Makhluk ini merupakan nenek moyang semua raksasa, namanya Ymir. Tapi, Ymir bukanlah makhluk satu-satunya yang ada di tempat tersebut, ada seekor Sapi yang tak bertanduk dan besarnya jangan sampai dibayangkan karena tidak bisa disetarakan dengan hal lain. Dari sapi itulah, Ymir meminum susu yang membuatnya mampu bertahan hidup.

Nama sapi tersebut adalah Audhumla, dari lidah ajaibnya yang berwarna merah itu dia mampu memunculkan manusia. Dan manusia pertama itu adalah Buri, kakek moyang para dewa. Sementara, Ymir melahirkan para raksasa yang berjenis kelamin lelaki dan perempuan. Kemudian Bari memperistri salah satu raksasa tersebut dan memiliki anak yang dinamakan Bor.

Bor menikah dengan Bestla yang juga merupakan anak dari raksasa, mereka dikaruniai tiga anak yaitu : Odin, Vili dan Ve. Mereka bertiga kemudian membunuh Ymir si raksasa, konon kematian Ymir merupakan awal kemunculan kehidupan. Dan darah Ymir yang menyembur dengan rasa asin membuat sebuah bencana berupa banjir yang membenamkan dan menghanyutkan para raksasa.

Setelah membunuh Ymir, Odin dan kedua saudaranya menciptakan tanah dari daging Ymir, tulang-tulang Ymir ditumpuk dan dijadikan gunung serta tebing. Semua karang, pasir dan kerikil berasal dari gigi dan tulang Ymir yang dihancurkan. Sementara lautan yang mengililingi daratan, itulah darah dan keringat Ymir. Dan di langit, bintang-bintang, planet hingga komet merupakan bagian dalam tengkorak Ymir.

Jika Anda mempertanyakan mengapa mata Odin hilang satu? Di sini dijelaskan bahwa suatu hari Odin menghampiri Sumur Mimir, dimana Odin meminta seteguk air dari Sumur yang merupakan sumber dari semua pengetahuan. Namun, Paman Mimir menolaknya dan meminta sebuah persembahan, yaitu Odin harus mau mengorbankan satu matanya sebagai alat tukar. Dan, tanpa menunggu lagi, Odin langsung mencongkel sebelah matanya dan meninggalkan mata tersebut di dalam air sumur. Sehingga dia bisa menikmati air sumur milik Paman Mimir dan mendapatkan pengetahuan yang juga mampu membuatnya melihat segalanya.


***

Jika Anda menyukai kisah-kisah mitologi kuno atau historical fiction, sepertinya buku ini cocok. Apalagi ditulis dengan runut oleh Gaiman sehingga kita tidak kebingungan saat mengikuti proses penciptaan dunia dan Asgard. Bagaimana kehidupan yang terjadi dan apa saja faktor yang menyebabkan akhir dari dunia aka Ragnarok. [Ipeh Alena]

19 March 2018

Book Review : Control Freakz by Michael Evans


Control Freakz



[Bacaanipeh.web.id] It seems that the story's theme about a leader or president who has an addiction to control everyone in his country to obbey everything that he said, have been increased since the last time I have read Brave New World by Audolus Huxley. Might be it is the sign that readers will have a lot of choices to enjoy the story with the same theme. Indeed, the uniqueness is the important things for each stories.

Besides the unique story line, I always looking forward to read a book which has a good writing style. This is the second important thing, which means authors have to learn a lot to provide not only the great story but good plot and writing style that would makes readers could not put the book down before its finish. I rarely read a book from debut author that has good writing style. Though this book has very fast pace plot line.


I have to die with my life still fractured. I have to die still missing the glue to bring my life back together. I have to die, letting my brain forever rot in the galoons of pain, depression, and anger that have suppurated inside of me over the years. ~ Pg 211


Taking place in United States when President Ash leading everyone to consume the blue pills everyday without any reason. He wants all of the people in United States obbeyed his order without no offense nor asked for the reason. The main character in this story is Natalie, a girl who always curious about the existence of her father. She never know where is her father, why is he gone forever with no trace? Natalie always trying to figure it out, though she still remember that after her father was gone, she faced the hardest day of her life.

She always had a nightmare, screaming out loud with no reason and only that blue pills that helps her to keep her calm. Her mother always check her whether her daughter take that pills or not. As she said, the blue pills is for Nat's own good. This book started off a bit slow, though I don't mind because I was enjoyed the story line. Then, when I reached about two hundreds pages, it was move faster. The tense of their escape plan was really thrilling.

For Natalie, besides the blue pills which helps her a lot, Natalie has the closest friend, his name is Hunter. Everytime she meet Hunter, her day always feel brighter than before. Yes, it might be love or anything. One day, Hunter asked Nat to go to his friend's house, his name is Ethan, he told her that his friend have got something in internet which filled with an information about her father. Nat feels extreamly enthusiastic and followed Hunter to his friend's house.

But, after they were collected the information, the government were after them. They have to run away from their house without any preparation. Nat herself as well, could not tell her mom that she have to go. In the middle of their escape mission, they have been met with other resident. Both of strangers were looking for the savest place for the rest colony.


The don't want to kill us; they want us to surrender. They want to take us to one of the Government Cleansing Facilities, and torture us for the rest of our lives. ~ Pg 141



Government keep bombing each Camp where the three of them spent more time to take a rest. There were a lot of accident and a lot of people have been died because of the government's attacked. Especially because Ethan has got the most important news for them. That the rebellion were initiated by an ex-wife of President Ash. So, here is the question that left in my mind when I reached a hundred and sixty five pages, "Why would she divorce President Ash? Why would she want to lose that?".

The story getting interesting because Evans packed the mystery in each part that would make you left a lot of questions. What is the reason Nat's father were leave his family, what has happened to Hunter's mom and why people have to consume the blue pills everyday. Every parts of the story has a mystery to be solved. That is why readers would find out the answer in each parts randomly.

I have got this book in ebook format in exchange for an honest review. I kept reading this book until the end. Control Freakz is interesting dystopian novel. Once I read the excerpt which Evans includes in his email, I was curious about the whole story and about Protocol 00. If you were contacted by him to read his novel and write the review, you must be very lucky :).



Book's Information


Title : Control Freakz
Author : Michael Evans
Page : 280 
Published October 3rd 2017
Version : Ebook
Language : English
Publisher : Palmetto Publishing Group
ISBN : 9781641110334
Rating : 3/5

09 March 2018

Book Review - A River In Darkness : One Man's Escape From North Korea


A river in darkness : one man's escape from north korea


People's kindness had been ground out of them. They were struggling to survive themselves. ~ Masaji Ishikawa



Bacaanipeh.web.id - Buku ini saya dapati melalui rekomendasi aplikasi Kindle. Hal yang membuat saya tertarik tentunya karena nama sebuah negara tertulis di dalam sampulnya. Sebuah negara yang tertutup dari media sehingga saya sendiri tidak banyak mengetahui tentang negara Korea Utara ini. Pada bagian deskripsi singkatnya, tertera sebuah pernyataan bahwa buku ini memuat kisah seorang lelaki yang rela menyebrangi sungai demi menghirup kebebasan.

Jika mencari lagi di mesin pencarian, tentunya buku serupa bisa banyak ditemui. Seolah Korea Utara adalah sebuah neraka dimana penghuninya berlomba untuk keluar dan bebas dari negaranya tersebut. Saya sendiri sempat berpikir, kenapa banyak yang menulis hal serupa? Apakah yang diisahkan oleh Masaji ini betul-betul kisah nyata, ataukah seperti kisah seorang gadis dari Korea Utara yang kemudian ditemukan oleh media kebohongan yang dikatakan olehnya?

Saya sempat mengalami perdebatan sengit dalam kepala saya. Menerka-nerka apakah kisah ini nyata atau tidak. Karena, sungguh, kisah ini memuat segala hal yang cukup menyakitkan dan menyedihkan hingga akhir tentang perjuangan seorang lelaki yang ingin terbebas dari negaranya dan ingin membebaskan keluarganya. Meski demikian, ketika saya mencari tahu di mesin pencarian, banyak pembaca yang telah membaca buku ini juga bertanya-tanya. Mengapa tidak ada satupun data atau informasi terkait Masaji?

Terlepas dari rasa penasaran yang saya alami. Konflik yang terjadi antar banyak negara dengan Korea Utara memang tidak pernah hilang dari peredaran. Buktinya, setiap saya menonton NHK News World, selalu saja ditayangkan berita tentang Korea Utara, tentunya tidak menggambarkan secara langsung seperti apa, karena semua serba terbatas dan serba rahasia. Bahkan saya tidak tahu ada berapa banyak jumlah perpustakaan di sana dan seperti apa bentuknya? Atau tempat wisata mana saja yang direkomendasikan di Korea Utara? Sungguh minim sekali informasi yang saya dapat dari negeri tersebut.



If I remain in North Korea, I'll die of starvation. ~ Masaji Ishikawa




Anda bisa menemukan kisah singkat tentang Masaji di beberapa website yang menyeritakan hal yang sama, tentang dirinya yang merupakan seorang lelaki setengah Korea Utara dan setengah Jepang. Namun, hatinya terpaut pada Jepang, tempat asal ibunya. Tentunya juga banyak tertulis bahwa dia akhirnya dikirim ke North Korea karena ajakan sang ayah. Dia, Masako - adiknya, dan Ibunya harus menerima keputusan tersebut setelah mendapat dorongan dari komunitas di sana.

Namun, sebelum saya memulai semuanya dari awal, saya ingin bercerita tentang hubungan Masaji dan ayahnya....


Kartu Tanda Buku


Judul : A River in Darkness : One Man's Escape From North Korea
Penulis : Masaji Ishikawa
Halaman : 172
Versi : Kindle
Bahasa : Inggris
Penerbit : Amazon Crossing
Rating : 5/5
ISBN : 9781542047197
Goodreads : https://www.goodreads.com/review/show/2319681461?book_show_action=false&from_review_page=1


Kekerasan Dalam Rumah Tangga Keluarga Masaji Ishikawa



Pada waktu itu, banyak orang-orang dari Korea Utara dikirim ke Jepang untuk dijadikan buruh atau budak. Beberapa dari mereka bahkan dibawa sejak masih sangat kecil sehingga tidak mengenal dengan baik seperti apa Korea Utara itu. Yang mereka tahu, di sanalah tempat mereka dilahirkan dan mungkin, di sana pula mereka akan meninggal. Sama seperti ayahnya Masaji yang merupakan orang Korea Utara.

Bagi penduduk Jepang, orang-orang yang berasal dari Korea Utara adalah orang yang kasar, buruk dan segala macam label penjahat dan kebodohan serta hal buruk lainnya melekat pada diri mereka, tidak terkecuali ayahnya Masaji. Di mata keluarga Ibunya Masaji, sang ayah hanya sosok lelaki yang memalukan dan akan merusak nama baik keluarga. Pernikahan mereka memang tidak disetujui dan sering menjadi penyebab keluarga besar dari Ibunya menolak untuk mengakui orangtua Masaji sebagai kerabat mereka.

Selain label yang melekat pada ayah Masaji, ternyata sosoknya yang dikenal sangat kuat hingga mendapat julukan The Tiger ini, memang menjadi bukti betapa orang Korea Utara itu memiliki perangai buruk. Tidak sekali atau dua kali saja Masaji mendapati ayahnya yang mabuk memukuli habis Ibunya. Bahkan, mabuk atau tidak, dia akan memukuli ibunya saat dia berada di rumah.

Perangai inilah yang terpatri terus di dalam kepala Masaji tentang sosok ayahnya. Tidak bisa disalahkan juga, jikalau dirinya sangat membenci sang ayah. Hingga suatu ketika sang Ibu akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah dan bekerja. Dia memiliki impian untuk membawa serta anaknya dan memiliki tempat tinggal. Untuk itulah dia bekerja sangat keras.

Masa kecil Masaji di Jepang memang bukan tergolong orang berada apalagi kaya raya. Mereka termasuk keluarga miskin. Sang Ayah bekerja apa saja yang mampu dilakukan olehnya, apalagi karena orang Kor-Ut pada masa itu, tidak memiliki izin untuk bisa bekerja apa saja sesuka kehendak mereka. Keterbatasan pekerjaan ini juga menjadi kesulitan bagi ayahnya Masaji. Namun, tetap saja, dia masih bisa bersekolah dengan nyaman.

Belum lagi hilang rasa sedihnya, sang ayah membawa pulang seorang wanita - selingkuhannya - untuk tinggal bersama dengan mereka. Ibu tirinya ini termasuk sosok yang mirip dengan Ibu tiri di lakon Bawang Merah Bawang Putih. Tidak perlu dijelaskan lagi, keinginan Masaji untuk pergi dari rumah sangat besar, dia hanya ingin tinggal bersama ibunya. Tapi, suatu ketika, beberapa orang dari komunitas setempat memaksa ayahnya Masaji untuk rujuk dengan ibunya dan memulangkan perempuan selingkuhannya itu. Siapa sangka, ayahnya justru menuruti apa yang dikatakan oleh orang-orang dari komunitas tersebut.

Singkatnya, setelah mereka rujuk, tidak lama kemudian berita itu datang. Orang-orang dari Korea Utara akan dipulangkan dari Jepang. Pada waktu itu, banyak sekali penduduk Kor-Ut yang tinggal di Jepang dipulangkan dengan menggunakan kapal besar. Masaji dan adik serta ibunya termasuk dalam rombongan tersebut. Dimana rasa khawatir yang sangat besar membuatnya enggan untuk menyetujui bahwa Kor-Ut adalah Surga.



Kehidupan Nyata Di Korea Utara Adalah Contoh Kisah Distopia Yang Nyata




Memasuki kehidupan Masaji di Korea Utara, saya melihat adanya kesamaan yang juga terjadi di Indonesia. Tentang birokrasi pemerintahan, tentang presiden yang tampak baik namun memiliki banyak hal yang disembunyikan dan tidak sesuai dengan kenyataan, tentang oknum-oknum pemerintah dan kepolisian serta militer yang semena-mena. Kehidupan mereka tidak sedang dijajak oleh bangsa lain, namun dijajah oleh bangsa dan kaumnya sendiri. Terutama mereka yang merupakan darah campuran (Jepang - Korea Utara), kehidupan mereka ditempatkan pada kasta terendah.

Sebenarnya ini sama saja, ketika di Jepang, warga Kor-Ut mendapat label atau kasta yang rendah. Demikian juga sebaliknya ketika mereka berada di Kor-Ut, orang Jepang menempati kasta yang paling rendah. Tidak ada yang lebih baik, jika saya menelisik lebih dalam lagi melalui cerita yang disampaikan oleh Masaji di sini.

Saya memiliki semacam ketidak-percayaan pada buku ini. Begini, di era saat ini, dimana banyak sekali beredar berita hoax dan artikel yang berisi propoganda terhadap beberapa hal terkait politik. Saya sempat berpikir, terutama karena minimnya akses informasi pada sosok Masaji Ishikawa ini sendiri. Pasalnya, seorang penulis masa kini, tentunya memiliki profil yang setidaknya dapat diakses oleh para penggemarnya. Namun, saya tidak mendapati informasi sedikit pun terkait Masaji Ishikawa ini. Perkiraan saya, Masaji Ishikawa adalah nama pena.

Selanjutnya, saya masih menyimpan kecurigaan, kalau cerita-cerita tentang orang-orang yang berusaha melepaskan diri dari Korea Utara adalah bentuk propoganda secara halus, demi menekankan pada publik bahwa Korea Utara adalah negeri yang tidak layak dihuni. Terlebih, berita-berita yang beredar tentang negara-negara yang takut akan terjadinya perang dunia karena Korea Utara sudah mengembangkan nuklir. Berita yang sempat saya dapat dari NHK News World, tentang guncangan yang terasa di beberapa negara tersebut, yang kemudian diberitakan bahwa ada kemungkinan Korea Utara tengah menguji coba nuklir buatan mereka.

Dengan kondisi yang demikian rumit ini, jelas banyak orang akan berpikir bahwa Korea Utara adalah Negeri Distopia yang nyata, tapi ketika saya tarik kembali beberapa sejarah yang tercatat di Indonesia. Tahun sekitar 50-an, juga merupakan tahun-tahun yang sulit. Krisis terjadi dimana-mana, bukan hanya di Korea Utara. Dimana dalam tulisan Masaji, beliau menjelaskan bahwa banyak penduduk Korea Utara yang mati karena kelaparan.

Sulitnya mendapat pekerjaan pada masa itu dan sistem mencari pekerjaan yang semua harus melalui pemerintah setempat, membuat Masaji kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi dia adalah returnee, seorang darah campuran, yang tentunya memiliki keterbatasan dalam mencari pekerjaan. Kehidupan yang sulit serta kesewenangan pemerintah dan kepolisian setempat sangat ditonjolkan. Bagaimana kehidupan Masaji yang teramat sulit, sampai-sampai mencuri adalah hal yang wajar dilakukan pada masa itu.


We were taught that Kim Il-Sung was "the king who liberated Korea from colonialism". He'd waged a war against US imperialists and their South Korean lackeys - and had won. It was thoroughly drummed into us that Kim Il-Sung was an invincible general made of steel. I could tell the teachers were proud of his role as the Great Leader of an emerging nation. ~ Masaji Ishikawa



Baiklah, simpan kecurigaan masing-masing, sambil berpikir bisa saja tulisan ini adalah kisah nyata. Namun, demi kepentingan bersama, informasi menyeluruh tentang Masaji Ishikawa disimpan erat-erat. Agar tidak mengalami hal-hal yang mampu mencoreng nama baik kedua negara. Apalagi, perlu diketahui, kisah heroik Masaji demi terbebas dari kekangan negaranya, dia rela untuk mendobrak aturan. Dia pergi dari negaranya dan meminta suaka dari negara Jepang dan bantuan dari mereka.

Perjuangannya untuk bisa kembali ke Jepang pun tidak mudah. Bahkan, kisahnya harus dirahasiakan dari publik, karena menyangkut beberapa orang yang berusaha membantunya. Apalagi ini termasuk dalam pelanggaran peraturan antar-negara. Masih ingat dengan status para pengungsi Rohingya? Sama seperti hal tersebut, bahwasannya memberi kewarga-negaraan bagi mereka adalah perkara rumit yang tidak bisa selesai dalam satu waktu.

Namun, karena Masaji seorang diri, karena itulah dia dibantu oleh banyak orang melalui suap demi suap yang dilakukan beberapa orang agar dirinya bisa tinggal dan menetap di Jepang. Meski begitu, tetap saja sulit bagi Masaji untuk mendapat pekerjaan yang layak. Hingga dirinya merasa tak cukup mumpuni untuk mengirimkan uang kepada anak-anaknya di Korea-Utara.


A totalitarian dictatorship is a "democratic republic". Bondage is known as "Emancipation". ~ Masaji Ishikawa




Sebuah Kisah Perjuangan Menuju Kebebasan Dibalut Kisah Sedih Tentang Kehidupan



Ada beberapa bagian yang membuat saya mengingat terus hingga selesai membaca buku ini. Beberapa bagian yang mengharukan juga menyedihkan. Pertama adalah ketika sang ayah yang kita ketahui sangatlah pemarah dan kasar, tidak segan-segan memukul. Justru saat mereka tiba di Korea Utara, perangainya berubah 180 derajat. Sangat jauh berbeda dari apa yang sebelumnya terlihat. Beliau menjadi lelaki yang berkata dengan lemah lembut, bahkan berbicara sambil berbisik pada Masako yang terus-menerus mengerang meminta untuk pulang ke Jepang.

Bukan hanya itu, selama mereka tinggal di Korea Utara, tepatnya di Dong Cho-ri, beliau tidak pernah sama sekali memukul ibunya. Menjadi lelaki yang bekerja sangat keras, tidak pernah lagi berkata kasar apalagi memukul sang ibu. Justru beliau menjadi kepala rumah tangga yang sangat penyayang dengan keluarganya. Sangat melindungi istri dan anak-anaknya, bahkan rela untuk memberikan apa saja demi keluarganya itu.

Hal kedua adalah ketika Masaji menikah, kemudian berpisah dengan istrinya sementara itu anaknya dititipkan padanya. Dia harus mengurus anak lelakinya tersebut, dengan bantuan adik dan ibunya. Kalau tidak, tentu Masaji tidak bisa bekerja dengan baik. Namun, tidak lama kemudian sang Ibu meninggal dunia. Dan pesan terakhir sang Ibu pada Masaji yang membuat saya merasakan sesak demikian hebatnya.

When you go back to Japan, please take my ashes with you. Take them to your granparents. Put them in their family grave. ~ Masaji's Mom


Ketiga adalah ketika adiknya yang sudah menikah, pulang dalam keadaan hamil besar, menggandeng dua orang anak yang merupakan anak tirinya. Dia diusir oleh mertuanya, karena tidak memiliki uang untuk pulang, akhirnya dia berjalan kaki demi mencapai rumah. Dengan begtu, bertambah lagi jumlah orang yang harus diberi makan oleh Masaji dan Ayahnya, karena keduanyalah yang masih mampu bekerja. Namun, tidak lama berselang, anak yang dilahirkan oleh Masako (adiknya), meninggal dunia.

Peristiwa keempat, kondisi sudah sedemikian sulit. Mereka tidak mendapat jatah makanan yang cukup. Belum lagi sulit untuk mendapat pekerjaan yang bertambah parah. Dan kelahiran anaknya Masaji yang penuh dengan perjuangan. Terutama karena istrinya lemah dan kurang nutrisi, kemudian mengalami pendarahan yang hebat. Dalam kekalutannya inilah, akhirnya tidak lama berselang, Masaji memutuskan untuk kembali ke Jepang dan meminta pertolongan agar keluarganya bisa keluar dari Korea Utara.

Sayangnya, setelah dia berhasil tinggal di Jepang, setahun kemudian dirinya mendapat telegram, berisi berita bahwa Istrinya meninggal dunia karena kelaparan. Sementara Masaji belum mendapatkan cara untuk menolong keluarganya agar bisa bebas dan berkumpul bersamanya. Tidak lama berselang, anaknya mengabarkan bahwa dirinya sudah memiliki dua anak dan tak mampu lagi tinggal lebih lama di Dong Chong-ri. Belum terkumpul uang yang hendak diberikan Masaji kepada anaknya, telegram selanjutnya tiba, mengabarkan bahwa anaknya meninggal dalam keadaan kelaparan.

Saya sempat menyalahkan Masaji, kenapa meninggalkan begitu saja keluarganya? Masa iya tidak sanggup mengumpulkan uang barang sedikit pun untuk dikirim ke keluarganya di Dong Chong-ri? Saya sempat merasa kesal, karena bagi saya ini sangatlah menyedihkan. Mendengarkan kabar anak dan istrinya meninggal, sementara dia masih saja belum menemukan cara untuk menyelamatkan mereka atau bahkan mengirimkan uang untuk mereka. Tapi, di bagian penutup, saya mendapati sebuah kalimat yang berisi penyesalannya. Yang berisi pernyataan yang membuat segala kekesalan saya luruh, bahkan saya tidak berhak untuk menghakiminya, atas keputusan yang diambil.


I often think about what would have become of me if I'd stayed in North Korea. I would probably have starved too. But at least I'd have died in someone's arms with my family gathered around me. We'd have said our goodbyes. ~ Masaji Ishikawa


Kalimat ini bisa ditemukan pada bagian penutup, yang membuat saya tak mampu lagi meredam rasa haru dan sedih yang sudah membuncah sejak halaman pertengahan menjelang akhir.

Masaji sendiri melakukan pelarian pada tahun 1996, kemudian tidak lama berselang sekitar tahun 1998 dia menerima beberapa kali berita dari anaknya. Setelahnya, dia kehilangan jejak dimana anaknya berada. Setiap malam dia tak mampu tidur hanya memikirkan tentang kondisi anaknya, apakah ada dari mereka yang mampu bertahan ataukah semuanya mati karena kelaparan?

Terlepas dari kecurigaan saya sepanjang membaca buku ini. Saya mengakui bahwa ini adalah buku yang tidak pernah saya sesali setelah membacanya. Terlebih, banyak pula klub pembaca yang membahas dan mendiskusikan terkait buku ini. Setidaknya, jika ini adalah kisah nyata, maka ini menjadi memoar yang bukan saja tentang kisah hidup sang penulis. Tapi, juga sebuah sejarah tentang sebuah negeri yang tak mampu diintip bagaimana rupanya. Jika kalian ingin membacanya, bisa melalui aplikasi Kindle, bagi pengguna Kindle Unlimited, bulan Maret ini bisa membaca buku ini secara gratis. [Ipeh Alena]