-->

Ulasan Steppenwolf Karya Herman Hesse

1 komentar
ulasan Steppenwolf


Steppenwolf merupakan buku yang bikin mikir sekaligus memiliki bobot informasi tentang manusia yang cukup mendalam. Menggunakan metode penggambaran secara fiksi mengenai ilmu psikoanalisis Carl Jung.

Buat Army aka fansnya BTS. Teori Carl Jung ini sudah diobrak-abrik sejak album Love Yourself. Jadi, ketika ada intro Persona, banyak dari Army yang berbondong-bondong membaca buku terkait Carl Jung.

Tapi, buku ini bukan tentang Army, ya. Tapi, tentang seorang lelaki bernama Harry dan tentang hidupnya yang terasa seperti memiliki dua kehidupan. Bagaimana dan apa isi di dalamnya? Banyak bertebaran teori Carl Jung yang berkaitan dengan ilmunya tentang kesadaran diri.

Kartu Tanda Buku

Judul : Steppenwolf

Penulis : Herman Hesse

Halaman : 319

Bahasa : Indonesia

Format : Buku Cetak

Diterbitkan oleh Penerbit Immortal

ISBN : 9786026657893


Herman Hesse

Merupakan penulis yang berasal dari Jerman. Ia pernah memenangkan penghargaan sekelas Nobel Award di tahun 1946 dalam bidang literasi. Ia juga seorang pelukis dan penulis puisi. Buku pertama yang ia terbitkan adalah buku kumpulan puisi.

Hesse sudah tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan spiritual dan eksistensi manusia. Karena itu, tak heran jika dalam karya-karyanya ia banyak memuat segala hal tentang hal ini. 

Ia juga banyak mempelajari filsafat dan banyak terpengaruh oleh ilmu dari Plato, Spinoza, Schopenhauer, and Nietzsche. Tapi, yang paling kuat memengaruhi karya-karyanya adalah filosofi dari negeri India dan Cina. 


SteppenWolf Tentang Dualisme Manusia?

Sebelum menyeritakan mengenai teori Jung yang mungkin enggak akan daku jelaskan secara rinci. Daku hanya akan menjelaskan sedikit, karena yang kupahami pun masih sedikit.

Cerita tentang Steppenwolf ini dibuka oleh prakata dari anonim yang merupakan keponakan pemilik rumah yang kamarnya disewa oleh Harry. Ia menemukan berkas naskah yang ditulis oleh Harry usai lelaki tua itu meninggal dunia. Dalam bab pembuka tersebut, digambarkan bahwa naskah tersebut sebenarnya membuat merasa jijik. Tapi, ia menemukan banyak hal yang terasa harus disampaikan kepada masyarakat.

Faktanya, ini memang gaya menulis Hesse ya, teman. Awalnya kupikir pun naskah ini seperti naskah penulis yang terbengkalai dan Hesse yang mengalami. Tapi, enggak dan bukan. Ini cara Hesse menyeritakan kisah fiksinya yang ia balut dengan ilmu tentang psikoanalisis dari Jung.

Kisah berawal dari sosok Harry yang merupakan sosok lelaki berusia paruh baya. Ia menghabiskan waktunya dengan bekerja dan sepulangnya dari tempat kerja, ia akan menghabiskan waktunya dengan minum di bar. Ia mengeluhkan kondisi tuanya ini yang sering mengalami sakit punggung. Merasa terkadang sendiri dan sering malas untuk naik ke kamarnya yang baginya terasa sepi.

Walaupun ia sering mengatakan bahwa ia senang karena yang menyambutnya adalah deretan buku-buku yang ada di kamarnya. Tapi, ia mengakui bahwa hidupnya terasa tak menarik karena kesunyian yang ia rasakan.

Singkat cerita, suatu hari ia melihat ada pengumuman tentang sirkus yang hanya dikhususkan bagi orang-orang gila. Ia tertarik karena ia ingin melihat sirkus tersebut. Pada saat itulah ia menemukan sebuah naskah drama sirkus yang anehnya merupakan kisah yang bukan saja mirip dengan kehidupan harry tapi tampak seperti cerita itu adalah kisah nyata yang ia alami.

Dalam kehidupannya, Harry merasa benci dengan kemapanan orang lain. Bahkan, ia menggambarkan pemilik tempat tinggal yang ia sewa sebagai sosok yang akan ia benci karena terlalu rapi. Bagaimana pemilik tempat sewa menata kebunnya pun tampak memuakkan bagi Harry. Dan ia kehilangan minat pada banyak hal dalam hidupnya.

Ia seolah memiliki dua dunia atau dua tubuh. Satu sebagai Harry si tua yang suka mengeluh karena sakit pinggang. Satunya lagi adalah Serigala yang sering membenci banyak hal terutama gaya hidup orang yang ada di sekitarnya.

Harry selalu memandang rendah dunia dan sosok yang idealis terhadap prinsip dan hidupnya. Namun, ia tak ubahnya sebagai sosok pertapa melankolis yang digerogoti amarah (192). 

Lelaki ini sempat berpikir untuk bunuh diri. Dan mengalami sesuatu entah itu mimpi atau dunia nyata. Ia bertemu dan berbincang dengan Goethoe. Bertemu dan berdansa dengan Hermine. Merasa cemburu dengan wanita itu. Dan banyak melakukan perbincangan tentang hidup dan dunia yang sering ia anggap rendah.

Tapi, yang paling nyata tampaknya adalah keberadaan Maria. Dalam bab pembuka sempat tertuliskan sedikit mengenai Harry yang sempat menjalin hubungan aneh dengan wanita. Dimana ia berpikir kalau Harry merupakan sosok aneh nan membosankan yang sepertinya tak mungkin menyukai wanita.

Kemudian, ia juga mengalami sebuah pengalaman yang menganehkan. Ia berada di sebuah tempat dengan banyak pintu. Di setiap pintu, ketika terbuka terdapat kejadian aneh dan mengerikan. Di atas pintu tersebut memiliki tulisan. Seperti :


Mutabor

Transformasi Menjadi Hewan atau Tanaman

Silakan


Kamasutra

Petunjuk Dalam Seni Bercinta India

Latihan Bagi Pemula. Empat Puluh Dua Perbedaan

Metode Dan Latihan


Semua tulisan tersebut berada di atas pintu dan tak berujung. Beberapa pintu sudah dimasuki oleh Harry dan berakhir tak mengenakkan. Namun, dari banyaknya pintu tersebutlah Harry mendapatkan banyak pembelajaran mengenai kehidupannya.

Teori Psikoanalisis Carl Jung

Yang dipakai dalam teori ini bisa dicari lebih mendalam. Termasuk dalam peta jiwa berdasarkan tingkat kesadaran. Sebenarnya enggak semuanya pure teori Psikoanalisis Jung. Karena, ada juga pendekatan mengenai Yin dan Yang dalan konsep pemikiran Cina.

Eksplorasi Harry juga sosok Steppenwolf yang berada dalam diri si tokoh ini. Merujuk pada bagian Persona. Ini adalah sisi kepribadian yang ingin ditunjukkan pada banyak orang. Persona inilah yang digambarkan sebagai sosok Harry. Yang ingin diterima di lingkungannya.

Sementara sosok Steppenwolf inilah yang merupakan Shadow yang merupakan sisi dalam diri yang ingin disembunyikan dari banyak orang. Arketipe ini adalah bentuk titik balik manusia yang mana membutuhkan keberanian besar dalam pencarian jati diri.


Review Steppenwolf Karya Herman Hesse

Jadi, secara garis besar buku ini memang bisa dikatakan tentang pencarian jati diri seseorang. Walaupun enggak sesederhana itu sih. Karena, isi di dalamnya mungkin membuat pembaca pusing karena tampak rumit. Dan semoga ulasanku ini enggak bikin tambah rumit.

Buat yang ingin membaca buku ini kemudian merasa aneh dan enggak nyambung. Pembaca perlu juga untuk mencari analisa atau rangkuman mengenai kisah Steppenwolf sebagai panduan biar mudah dalam menyelami cerita di dalamnya.

Daku enggak melabeli buku ini sebagai bacaan berat. Enggak. Cuma, kalau ekspektasinya kita akan mudah memvisualisasikan dalam otak kita menjadi imajinasi berbentuk seperti film yang mengalir. Tampaknya buku ini enggak akan memenuhi ekspektasimu.

Buku fiksi ini hanya bisa dinikmati dengan apa adanya. Walaupun semisalnya otak kita enggak mampu menerimanya karena terlalu banyak paksaan ingin memahami sesegera mungkin. Itu berarti sudah saatnya menghardik otak kita untuk jangan dulu berpikir sampai kita menemukan pemahaman mengenai apa yang sebenarnya ingin disampaikan sama Harry.

Naskah drama dalam novel inilah yang buatku pribadi justru menjadi panduan yang membuatku bisa mengikuti kehidupan Harry. Si lelaki tua yang menganggap hidupnya tak menyenangkan. Padahal ia juga menginginkan penerimaan dari lingkungannya.

Dalam buku ini tersimpan banyak sekali kutipan yang membuatku terngiang. Beberapa sudah kutulis dan kusertakan di sini. Karena, memang bagus dan mengajarkan untuk apa adanya jadi orang tuh. Namanya hidup, ya pasti lah kita kudu memaksimalkan peran kita biar diterima di lingkungan. Enggak apa-apa.

Sama seperti perjuangan si Gadis Minimarket. Yang bahkan berjuang keras agar diterima oleh lingkungan dan masyarakatnya. Meskipun ia harus menyembunyikan banyak sisi dalam hidupnya.


Kutipan Buku Steppenwolf

Namun, dalam keabadian tak ada waktu, kautahu. Keabadian semata-mata adalah momen yang cukup panjang untuk sebuah lelucon. - 147

Kau punya pandangan bagus tentang hidup. Kau selalu melakukan hal-hal yang sulit dan rumit, tapi hal yang sederhana justru tidak kau pelajari. Tak ada waktu, tentu saja. Lebih menarik mengerjakan hal lain. Untung aku bukan ibumu. Namun, melakukan hal yang harus kaulakukan dan bilang kalau kehidupanmu berat dan kau tidak mendapatkan apa-apa dalam hidup, itu sungguh berlebihan. - 134

Lihatlah binatang atau bunga. Mereka tidak pernah malu. Mereka selalu tahu apa yang mesti dilakukan dan bagaimana bersikap. Mereka tidak memuji siapapun dan tidak mengganggu. Mereka tidak berpura-pura. Mereka tampil apa adanya, seperti batu atau bunga atau bintang di langit. - 170

Akan selalu ada beberapa orang semacam itu yang menginginkan sisi terluar hidup, tapi tidak bisa menerima kebodohan dan kekasarannya. - 186

Setiap manusia, katanya, terdiri dari sepuluh atau ratusan atau ribuan jiwa. - 188

Kesalahan dan ketidakbahagiaan adalah pertanda bahwa manusia merupakan kesatuan yang mampu bertahan hidup. - 281

Ini adalah seni kehidupan. Kau bisa menjadikan dirimu seniman yang mengembangkan permainan dalam hidupmu dan menjiwainya. Kau bisa menjadikannya rumit dan semarak sesuka hatimu. - 283

Penutup

Steppenwolf yang diterbitkan oleh penerbit immortal memiliki daya tarik yang unik. Ia mendesain sampulnya menjadi sesuatu yang menarik tapi juga mendatangkan rasa penasaran. Sehingga, buku yang berbobot ini jadi tampak enggak membosankan karena sampulnya.

Seharusnya memang seperti ini buku-buku klasik dikemas. Agar calon pembaca enggak menganggap bahwa buku klasik adalah buku berat yang membuat otak bisa lari ke luar dari tempatnya.

Related Posts

1 komentar

  1. Dari penulis ini baru pernah baca buku Demian & langsung pusing sendiri sebenarnya hehehe. Tipe buku yang beliau tulis memang berat di filosofi sepertinya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter