-->

Convenience Store Woman Sayaka Murata

2 komentar


Convenience store woman

Convenience Store Woman atau Gadis Minimarket mendapat banyak sekali ulasan yang beragam. Kebanyakan adalah ulasan positif, menandakan buku yang ditulis oleh Sayaka Murata ini memang memiliki banyak keterkaitan dengan kehidupan pembacanya.

Waktu pertama kali versi terjemahannya muncul. Banyak yang berbondong-bondong membacanya. Rasa penasaranku muncul dan masih harus dipupuk dengan baik sampai waktunya tiba. Dan hari ini adalah waktu itu. Waktu dimana diriku sudah menyelesaikan buku ini.

Usai menutup lembar terakhir. Yang terbesit dalam diriku adalah rasa kagum. Kagum karena Keiko bisa terus mencintai sesuatu dan semangat melakukan apa yang ia cintai. Dan mengagumi semua orang yang memiliki Passion serta semangat untuk terus mengerjakan aktivitas sesuai passionnya.

Kali ini, dalam tulisan tentang Gadis Minimarket. Daku akan menyeritakan banyak hal yang mampir di linimasaku. Atau yang mampir ke dalam pikiranku. Juga yang mampir di lingkungan terdekatku.

Buat yang tak menyukai spoiler. Sebaiknya kalian mundur dan tutup laman ini. Atau baca tulisanku yang lain juga boleh.


Kartu Tanda Buku

Judul : Gadis Minimarket

Penulis : Sayaka Murata

Halaman : 160

Format : Ebook Gramedia Digital

Bahasa : Indonesia (terjemahan)

Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama


Orang Dengan Kebutuhan Khusus

Walaupun daku enggak paham dengan kondisi seperti apa yang sebenarnya dialami oleh Keiko. Tapi, sekilas kehidupan Keiko ini membuatku teringat dengan orang-orang dengan kebutuhan khusus.

Kebanyakan dari mereka memang selalu memiliki satu aktivitas yang akan dikerjakannya secara rutin setiap hari tanpa lelah. Ada yang bergelut dalam bidang seni. Ada yang fokus dalam bidang olahraga. Sampai ada yang fokus di bidang lainnya.

Kesamaannya dengan Keiko ini yang membuatku mengingat orang yang ada di sekitarku. Mereka, baik yang dewasa maupun anak-anak, adalah yang menemukan kehidupannya pada aktivitas yang dikerjakannya secara rutin. Sementara, bagi orang yang tidak memiliki kebutuhan khusus, aktivitas rutin serasa membosankan dan tak menantang. 

Dari kebiasaan dan rutinitas ODKK ini, yang daku perhatikan bahwa mereka tampak bersemangat mengerjakannya. Seolah itu adalah passion yang membuat mereka terus bergerak. Mengingatkanku pada buku Man's Search for Meaning. Penggerak manusia adalah penemuan Makna dari hidup.

Memang, tampak sekilas bahwa ODKK seperti makhluk yang tak memahami cara memaknai hidup. Kalau standar pemaknaan hidup berupa duduk di teras, minum teh atau kopi sambil merenung. Terus, menuliskan hasil renungannya atau menjadikan perenungannya membuat dia menjadi lebih keren dari sebelumnya dengan penampilan seperti manusia bijaksana. Berarti, pemahaman kita berseberangan.

Buatku pribadi pemaknaan hidup seseorang terutama buat ODKK adalah ketika mereka terus melakukan aktivitas rutin yang tak merugikan orang dan bisa terus membuat mereka bersemangat melakukannya. Itulah arti pemaknaan hidup buatku. 

Karena itu, saat Keiko di beberapa bagian dalam novel ini menyeritakan bahwa tubuhnya seolah dimiliki oleh Minimarket. Membuatku merasa kalau itulah makna hidup yang dimiliki olehnya. Apalagi, ia melakukannya dengan semangat dan tanpa mengeluh.

Allah itu Maha Adil, ya. Seringnya, ODKK itu tak pernah merasa jenuh dengan rutinitas. Memang, ketika ada satu saja hal atau aktivitas lain yang mengganggu rutinitas mereka. Itu bisa mengganggu keseluruhan kehidupan mereka. Tapi, mereka selalu menyambut pagi dengan semangat. Seolah hari esok adalah hari yang ditunggu sehingga bangun dalam keadaan yang sudah siap.

Begitu pula yang dialami Keiko. Dia pernah mengalami kondisi drop saat rutinitasnya terganggu. Walaupun banyak yang berkomentar miring tentang ODKK, buatku mereka tetap makhluk istimewa dengan kemampuan menjalankan hidup yang istimewa juga. 

Etapi, sekali lagi kutekankan. Bukan berarti Keiko termasuk ODKK ini ya. Karena, ini hanya sesuatu yang membuatku melihat keterikatan dalam kehidupanku dari ceritanya. Itu saja.


Mencintai Apa Yang Dikerjakan


Kenapa tiba-tiba terlintas sosok-sosok terdekat yang termasuk orang dengan kebutuhan khusus? 

Sedari awal, ketika Keiko mengisahkan masa kecilnya. Ia sudah menunjukkan kondisi berbeda. Mulai dari tak memahami bahwa memukul orang itu tak baik. Atau menelanjangi guru itu tak boleh. Hingga, ketidakmampuan memahami mengapa orang di sekitarnya marah.

Sedikit dari tindakan dari kisah masa kecil Keiko ini mengingatkanku pada Anak dengan Kebutuhan Khusus yang berada di sekitarku. Cara mereka berperilaku ini banyak mencontoh juga dari lingkungannya. Bahkan termasuk peniru paling ulung. Namun, beberapa ABK ini memang ada yang enggak bisa kontrol emosi. Sehingga kadang menyakiti teman atau diri sendiri.

Tapi, kukatakan lagi kalau Keiko bukan ODKK. Kenapa? Karena memang aku tak memahami kondisi yang dialami Keiko. Hanya sekadar melihat kemiripan saja. 

Dan buatku, Keiko ini pintar dan cerdas, sebab dia bukan sekadar mampu meniru saja. Tapi, juga mampu memutuskan produk mana di etalase toko yang sesuai dengan cuaca saat itu. Walaupun memang itu semua adalah keputusan berdasarkan penjelasan dan contoh yang diberikan oleh manajernya saat dia training. Tapi, ini tetap merupakan keahlian yang bagus. Buktinya ada di halaman 5 : Tubuhku otomatis menanggapi bunyi itu karena biasanya para pelanggan mengambil minuman dingin belakangan sebelum mendatangi kasir.


Kehidupan Auto Pilot

Selain teringat dengan orang dengan kebutuhan khusus. Ketika baru membuka lembar-lembar awal dan menemukan kalimat ini di halaman 6 :  Semua kulakukan nyaris tanpa berpikir karena yang utama adalah kecepatan, dan yang memberiku perintah adalah aturan yang sudah terpatri dalam diriku. Seketika membuatku ingat dengan istilah autopilot life.

Autopilot Life atau kehidupan Autopilot itu kayak robot. Itulah kesan pertamaku ketika baru membaca tentang kehidupan Keiko. Cara dia berpikir, buatku sempat memandang dia seperti robot. Yang melakukan sesuatu saat ada sensor menyala. Sensornya Keiko ini berupa bunyi saat pelanggan datang.

Mengenal istilah Autopilot ini sejak dikenalkan juga istilah Mindfulness, hadir secara utuh. Penjelasan dari kondisi hadir secara utuh ini selalu dikaitkan dengan istilah Autopilot sebagai kondisi seseorang yang menjalani hidup tapi seperti berlalu begitu aja tanpa dia sadar atau ingat dengan apa yang dilalui hari itu.

Jadi, kaya kondisi menjalani hidup tapi enggak sadar. Karena enggak sadar itulah bisa jadi momen seorang autopilot menginjak ekor kucing bisa enggak teringat. Padahal biasanya dia akan selalu ingat karena dia takut kucing, oke itu aku karena aku emang takut kucing hehe.

Ada juga beberapa sedikit ciri dari kehidupan Keiko yang rutin ini yang membuatku kepikiran dengan AP. Salah satunya, usaha untuk selalu memenuhi ekspektasi orang lain bahkan enggak sadar dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Tapi, setelah membaca keseluruhan novelnya. Istilah AP ini pun enggak condong banget pastinya. Karena itulah, sekali lagi kutekankan kalau daku hanya kepikiran dan keingetan saja. Bukan kondisi Keiko yang memang sesuai dengan ilmu yang ada.


Tentang Standardisasi Normal Dalam Masyarakat

Pembahasan tentang standardisasi masyarakat 'normal' inilah yang banyak dibahas dalam setiap ulasan pembaca buku Gadis Minimarket. Soalnya, saat melihat garis lurusnya, apa yang dilakukan Keiko pun banyak terpengaruh dari standar ini.

Apalagi mengenai usaha Keiko agar bisa diterima oleh masyarakat ini pun tertulis secara gamblang dalam setiap laman. Tentang keinginannya yang berharap bisa menjadi normal seperti orang lain.

Pada halaman 14 tertulis kalimat "Berhenti mengambil tindakan sendiri" yang menggambarkan keputusan Keiko untuk tak lagi memutuskan sesuatu karena sering dianggap aneh dan selalu dikatakan harus disembuhkan. Contoh tindakannya, seperti ketika ia menelanjangi seorang guru yang sedang marah. Guru perempuan itu akhirnya berhenti dan menangis kemudian bersembunyi.

Keiko mempelajarinya dari televisi yang menayangkan tayangan serupa. Sehingga ia pikir keputusannya adalah benar. Namun, ia justru bingung karena sang Ibu justru yang meminta maaf pada pihak sekolah. Ini sebenarnya keputusan awal Keiko.

Di halaman 19, Keiko justru memberi tahu tentang usahanya "Bagaimana berekspresi yang normal" ketika berhadapan dengan manusia lain atau menerima tanggapan dari cerita yang orang lain sampaikan. Di sini, dia belajar sebenarnya cara berempati meski disajikan dalam bentuk yang janggal. Janggal maksudnya, kasus yang disajikan termasuk yang terpaksa. Seperti, terpaksa mengikuti ekspresi orang lain demi enggak dianggap aneh.

Begitu pula di halaman 24 tersirat keinginan Keiko untuk menjadi "Sebagai bagian yang normal dari masyarakat" karena terlalu lelah mencari jawaban bagian mana dalam dirinya yang wajib disembuhkan. Dari sini tampak jelas, Keiko banyak belajar tentang menjadi bagian dalam kehidupan dan masyarakat melalui pekerjaannya. Dari tempat yang membuatnya nyaman.

Serta di halaman 32 dan 33 terdapat dua kalimat yang cukup menonjol yaitu "Contoh bagaimana seharusnya seseorang berusia tiga puluhan berdandan" dan "Aku memang meniru". Dua kalimat tersebut menggambarkan tentang cara Keiko untuk bertahan dan tetap disukai meski ia berupaya untuk tidak menjadi dirinya sendiri.

Upaya-upaya ini melahirkan rutinitas yang tak perlu diganggu gugat lagi. Karena, bagi Keiko, makna hidupnya adalah bisa bekerja di minimarket. Ia menyukainya karena bisa melihat banyak orang. Mendengar suara-suara yang rutin ia dengar. Karena itu, ia berusaha keras memaksakan diri mengikuti alur kehidupan masyarakat 'normal'.

Namun, tetap aja. Setiap berusaha mengikuti tentu ada saja harapan orang lain yang didesak-kan pada diri kita. Sama seperti ketika Keiko didesak untuk segera menikah. Atau saat Keiko didesak untuk memiliki pekerjaan tetap.

Dan kemunculan Shiraha pun sempat membuat banyak pembaca tak menyukai sosok itu. Ia banyak berkomentar mengenai masyarakat normal dan bagaimana orang-orang yang tak bisa berguna bagi masyarakat akan dibuang. Dan semua sindiran demi sindiran mengenai dunia sosial selalu dilontarkan olehnya. Tapi, kehadirannya buatku merupakan pelengkap yang membuat kisahnya jadi sempurna. 


Review Convenience Store Woman

Ada banyak ulasan dari pembaca buku tentang buku ini. Kebanyakan menyorot mengenai standardisasi masyarakat normal. Dan betapa seringnya masyarakat dominan memaksakan harapan atau kehendak pada siapa saja yang ditemui. Ibaratnya "yang jalanin hidup kita, yang punya hidup kita. Yang ngomentarin orang lain." Tak tahu menahu siapa yang memulainya. Tapi, memang masyarakat kita sejak jaman dahulu kala seperti ini. 

Tapi, mungkin bagi sebagian besar pembaca menganggap usaha Keiko menjadi normal dan diterima adalah hal yang melelahkan. Karena, berarti Keiko tak bisa menjadi dirinya sendiri. Tak bisa berpendirian dan mempertahankan pendirian. Justru, bagiku usaha Keiko untuk belajar diterima adalah usaha yang pasti melelahkan tapi baik.

Baik dalam artian dia masih memiliki keinginan untuk membaur dalam masyarakat sosial. Alih-alih sekadar mengecam dan meninggalkan kehidupan sosial. Hanya saja, ia belajar dengan cara meniru. Sebab, siapa yang mau mengajarkan dia atau sekolah mana yang mau mengajarkan orang seperti Keiko untuk belajar tentang banyak hal di dunia sosial masyarakat?

Okelah ada kuliah jurusan sosial. Tapi, apakah menjamin lulusannya mampu menjalankan praktik-praktik sosial dalam masyarakat majemuk? Satu-satunya yang kusadari adalah pembelajaran itu banyak berasal dari praktek langsung dalam hidup.

Keiko salah satu yang belajar dari praktek langsung. Ia meniru agar bisa diterima. Mungkin ada juga yang mengatakan Keiko melakukannya untuk cari aman. Ah, tak salah juga buatku. Karena, sudah tampak bahwa yang terpenting adalah tujuan utama Keiko setiap hari tercapai. Apa itu? Bekerja di minimarket.

Untuk endingnya justru buatku puas. Kenapa? Karena sesuai ekspektasi-ku. Ada juga yang enggak puas. Kenapa? Karena enggak sesuai ekspektasinya. Jadi, kata kuncinya sudah semakin menguat. Ekspektasi.

Karena memang ini masyarakat sosial. Yang suka berekspektasi dan senang ketika sesuai dengan ekspektasinya terus akan sedikit merenung ketika tak sesuai dengan ekspektasi. Entahlah..buat seorang bodoh sepertiku. Ini dinamakan hidup.

Intinya… Buatku, Keiko hebat karena masih mau melebur bersama masyarakat. Dengan tetap mengerjakan apa yang ia sukai. Melalui usaha panjang yang cukup melelahkan. 

Related Posts

2 komentar

  1. Waktu aku baca buku ini, aku malah ngerasain bosan saat di tengah-tengah buku, Kak πŸ˜‚. Mungkin karena sebelumnya keseringan baca fantasi, jadi saat terjun ke buku yang membahas isu sosial seperti ini, jatuhnya jadi bosan padahal bukunya sendiri tipis ya πŸ˜‚.

    Tapi, aku setuju dengan poin-poin yang Kakak jabarkan. Sosok Keiko di sini benar-benar perempuan yang hebat karena kuat mentalnya menghadapai kultur dan ucapan masyarakat sekitar yang terlalu mengurusi hidupnya πŸ˜‚. Kejadian yang diangkat benar-benar relate dengan kehidupan nyata ya. Thank you for the review, Kak Ipeh! Detil banget ulasannya 😍 aku suka deh bacanyaaa 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa..aku suka sama Keiko karena tangguh banget. Susah kan yaa hidup di jaman kayak gini. Mana dia ngga ada support system. Huhu makasih yaaa kak

      Hapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter