-->

Himne Bunga-bunga di Ladang Kumpulan Cerpen

Himne bung di ladang



Review Buku Himne Bunga-bunga di Ladang. ertama memilih buku karya Clara Ng ini. Selain karena kusuka karyanya. Daku juga suka dengan sampulnya. Tampak seperti menyenangkan. Sehingga awalnya, daku menganggap ini adalah kumpulan cerita yang isinya bahagia. 

Ternyata, saat membaca cerita pendek pertama. Yang judulnya sama dengan buku ini. Membungkam perkiraanku sebelumnya. Ini kisah yang tema ceritanya didominasi dengan sesuatu yang Dark. Gelap. Pekat. Terkadang mengerikan. Meski ada pula yang membuat hati meringis. 

Sebelum membaca, pastikan usiamu sudah mencapai 21 tahun, ya. Karena, bacaan di dalamnya membutuhkan pemahaman yang cukup


Kartu Tanda Buku


Judul : Himne bunga-bunga di ladang dan cerita-cerita lainnya

Penulis : Clara Ng

Halaman : 153

Bahasa : Indonesia

Baca di : Gramedia Digital

Diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786020375786


Himne Bunga-bunga di Ladang

Bagaimana rasanya, saat membaca cerita. Tapi, spoilernya diletakkan di awal. Sebelum kisah dimulai? 

Marah? Kesal? Enggak akan lanjut membaca?

Sayangnya, saat membaca cerpen ini. Aku sama sekali enggak menyadari bahwa kisah itu adalah spoiler. Bahkan, kuanggap hanya sebuah momen pengantar yang nantinya akan penting untukku. 

Nyatanya, memang sebuah pengantar yang membuatku akhirnya tertawa terbahak-bahak saat menyadari, percakapan itu penting. Saking pentingnya sampai memuat plot keseluruhan dan tak kusadari sama sekali. 

Alhasil, cerita pendek ini. Entah kenapa mampu merenggut semua perhatianku. Membawa rasa penasaran yang demikian dalam. 

Cerita dibuka dengan pernyataan Rei mengenai perasaannya terhadap Kamila. Sosok gadis yang pernah ditemuinya di tahun 1945. Jika kau berpikir ada yang janggal, maka teruskanlah. Simpan sejenak untuk kau telusuri lagi. Bagian mana yang merupakan jawaban akan kejanggalan ini. 

Obrolan dua remaja yang tampak tak berarti. Seperti hanya mengganggu lamunan Rei saja. Hingga kemudian, ia sampai di Blitar.

Sesaat, imajiku membangun sosok Rei sebagai lelaki tua. Dengan cara berjalan terseok-seok.

Di sebelahnya, saat mencapai pemakaman. Rei diikuti oleh seorang anak. Yang berbicara melalui matanya. Entah kapan si anak ini mengikuti Rei. Apakah sejak di perjalanan? Atau ketika di makam? 

Kupikir, anak itu adalah hantu penasaran. Sebab, pemakaman dan kejanggalan membuat semua tampak seperti misteri. Ditambah, pernyataan penjaga makam yang mengatakan, "Kuburan ini kosong." 

Maksudnya? Tak ada mayat di dalam kuburan yang ditunjuk Rei. Konon, jasadnya hilang saat bulan Juli tahun 1945. Sebuah jawaban yang kembali membuat penasaran. 

Hingga kemudian, kisah di cerita ini pindah ke bingkai lain. Tentang seorang Pastor yang membuat bunga-bunga di ladang tumbuh kembali. Menjadikannya cantik dan mekar lebih lama. 

Dan kembali ke cerita tentang masa lalu Kamila. Siapa Kamila dan bagaimana ia bertemu dengan Rei? Serta, sebuah kisah pertemuannya dengan anak bernama Buyung. Juga sosok lelaki bernama Hadi. 

Di masa saat Rei mengunjungi makam kosong tersebut. Hadi merupakan lelaki tua yang sangat disegani di kampung tersebut. Penjaga pemakaman menunjuk rumah Hadi sebagai tempat untuk Rei mencari jawaban mengenai makam kosong tersebut. 

Rei tau mengenai Hadi. Keduanya saling mengenal dan saling terkait pada satu gadis. Dialah Kamila. Yang membuat kisah cinta dalam cerita ini menjadi bentuk segitiga. 


Misteri Terus Berlanjut


Masalah cinta ini, memang enggak rumit. Masalahnya, kerumitan muncul ketika salah satunya memaksa untuk memiliki. Tak ada kesempatan untuk memilih bertahan. Kecuali, mati. 

Kematian yang membuat seseorang mampu berubah. Karena, justru saat kematian itulah awal dari kehidupan. Meski kehidupannya berisikan masa-masa senja dan kegelapan yang penuh penyiksaan. 

Sebuah desa habis penghuninya. Akibat dikuliti tanpa ampun. Ketika hari berlanjut, pelakunya tak mengingat apapun. Ia hanya berdiri, seolah menunggu sesuatu. Tapi, ia sendiri tak yakin. Untuk apa ia ada di sana? 

Hingga hari demi hari, ia menunggu. Menunggu sesuatu. Meski suatu hari, ia kembali mengingatnya ketika melihat pancaran mata anak bernama Buyung. 

Kisah berakhir dengan aksi yang seolah menjadi pernyataan. Bahwa benar, kiranya, rasa yang terpendam dan diyakini di awal cerita. Kembali terjadi. Bagai sebuah pengulangan. 


11 Cerita Pendek Lainnya Menemani Himne Bunga-bunga di Ladang


Kesebelas cerita ini ada kisah tentang keponakan yang diundang ulang tahun pamannya. Membawa keduanya pada kenangan silam saat keponakannya berusia 20 tahun. 

Ada pula kisah seorang yang mencari pria idamannya. Di antara kerumunan festival di Portugal. Riuhnya membawa kenangan eksotis dengan pacarnya. Meski kemudian, ia dikerumuni banyak orang dan mengadakan pesta sendiri. 

Juga kisah dua orang kakak adik. Yang keduanya saling melihat sesuatu yang tak dilihat oleh kedua orangtuanya. Membuat masing-masing terjerembab dalam kubang rasa iri yang mematikan. Hingga menghantui rumah dari masa ke masa. 

Berikutnya kisah dua orang Saleh. Keduanya bekerja sebagai penjaga dan petugas kebersihan di gereja. Pasangan suami istri ini, merawat genta atau lonceng dengan sepenuh hati. Saking cintanya, mereka menganggap lonceng adalah anak mereka. Hingga suatu ketika, lonceng itu menghilang. 

Cerita pendek berjudul Semua Perempuan Berselingkuh. Menyajikan tradisi ala perempuan keturunan Cina. Ketika semua berkumpul dan saling bercerita. Dihidangkan ragam makanan sebagai tradisi yang unik. 

Ada pula kisah tentang seorang lelaki. Mantan guru yang menyulap gerbang sekolah menjadi tempatnya menyajikan dongeng bagi anak-anak SD. Suatu ketika, ia dihadapkan pada kondisi buntu ide. Membuatnya membongkar banyak hal tentang hidup. 

Lucu. Ironis. Sarkas? Entahlah. Yang pasti sindiran di cerita pendek tentang seorang anak yang memuja Ibunya. Hingga mewajibkan semua orang untuk patuh pada ibu mereka. Menampilkan barisan masyarakat ekstrim. Yang rela melakukan tindakan anarkis demi membela kepercayaan mereka. 

Ada banyak kisah-kisah lainnya yang tersimpan dalam buku dengan sampul yang manis ini. Meski ternyata, kemanisannya menyimpan misteri tak terduga. 

Cerita-cerita ini pun sudah banyak yang terbit di media lain. Sehingga, bagi yang sudah sering membaca karya Clara Ng di tempat lain. Mungkin, buku ini bisa menjadi alat untuk memanggil ulang memori yang pernah tersimpan saat membacanya pertama kali. 


Penutup

Melihat dari deskripsi pada sampul belakang. Isi secara keseluruhan dalam buku ini sudah terwakili. 

Tinggal pembaca mengobrak-abrik sendiri. Bagaimana cara Clara meracik ramuannya menjadi cerita yang Fresh. 

Menikmati cerita pendek, memang benar bisa membuat mood yang tadinya menurun. Mulai kembali ke jalurnya. 

Seenggaknya ini berlaku untukku. Siapa tau juga, ada pembaca yang juga merasakannya saat membaca buku kumpulan cerpen. 

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter