-->

Ulasan Buku Yaa Allah Izinkan Aku Hamil Perjalanan Panjang Pasutri


Aku ingin hamil

Ingin hamil usai menikah adalah impian setiap pasutri. Walaupun tak sedikit yang memang masih menunda untuk memiliki anak karena alasan yang kuat. Namun, bagaimana kalau sudah beberapa tahun menikah namun belum juga dikaruniai buah hati padahal sudah sangat ingin?

Buku Yaa Allah Izinkan Aku Hamil kupilih karena melihat nama authornya yang juga seorang blogger. Judul buku yang membuatku ingin menyelami pengalaman seseorang demi mengusahakan kehadiran buah hati.

Kartu Tanda Buku

Judul : Yaa Allah Izinkan Aku Hamil

Penulis : Vety Fakhrudin

Halaman : 320

Format : Ebook Gramedia Digital

Bahasa : Indonesia

Diterbitkan oleh Penerbit Quanta

ISBN : 9786020448244

Kapan Dapat Momongan?

Tentu bagi pasutri, pertanyaan ini kerap ditujukan di setiap suasana dan situasi. Mau itu saat pertemuan keluarga, arisan bahkan kumpul bersama teman di acara reuni. Apalagi, kalau status pernikahan sudah mencapai tahunan.

Tak dapat dipungkiri. Dari yang awalnya menjawab dengan seulas senyum. Jika pertanyaan itu diungkapkan ratusan kali. Tentu akan membuat pasutri menjawab dengan wajah yang tak mengenakkan.

Namun, pada kalimat pendahuluan, sudah tertulis kalimat yang sebenarnya harus diketahui oleh semua orang terutama perempuan. Sebab, pertanyaan seperti ini lebih sering dikeluarkan dari mulut perempuan kepada perempuan lainnya.

"Adalah hak prerogatif Allah untuk menentukan mana perempuan yang dititipi anak melalui rahimnya. Mana yang dititipi anak namun tidak dikandungnya dan ada pula perempuan yang tidak dititipi anak namun diberikan amanah lain yang bernilai bagi diri dan agamanya." ~ Bab Sambutan Psikolog

Kesadaran ini sudah semestinya dipupuk di setiap pikiran dan alam bawah sadar wanita. Agar tidak lagi mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah ditetapkan oleh Allah. Apapun itu, meskipun tampak terlihat adanya pasutri yang seolah enggan memiliki anak. Tentu mereka memiliki alasan yang sangat kuat mengenai keputusan tersebut.

Buku ini buatku, memang bacaan untuk semua orang. Terutama wanita yang sedang berjuang memiliki anak.


Perjalanan Panjang Demi Mendapatkan Buah Hati

Kisah awalnya, mbak Vety menuliskan tentang keputusannya menikah. Sampai kehidupan pada awal pernikahan hingga cita-cita dan impian yang ingin dikejar. Semua tertuang di beberapa halaman awal.

Hingga kemudian, saat keinginan untuk hamil tiba. Mulailah pembaca disuguhi perjuangan mbak Vety dan suami dalam mengusahakan kehadiran seorang anak.

Di sela pengalamannya, penulis berkali-kali menyebutkan kondisi dirinya yang sering mengalami haid tidak teratur. Kondisi ini juga yang membuatnya mengira bahwa dirinya tengah hamil setelah menikah. Namun, hasil tes menunjukkan negatif. Dan ia baru menyadari kondisi seringnya haid tidak teratur yang ternyata sudah dialami jauh sebelum beliau menikah.

Usahanya dimulai dari rekomendasi sang Ibu. Melalui terapi pijat, untuk membetulkan peranakan. Proses ini memang lazim direkomendasikan pada banyak perempuan karena katanya terjamin hasilnya. Tapi, saat proses pijat ini ada sesuatu yang memang sering terjadi. 

Proses memijat tak hanya proses membetulkan 'rahim' tapi juga proses penyampaian ghibahan atau bahkan fitnah yang disampaikan oleh terapis atau orang yang memijat. Sungguh, ini bukan sesuatu yang baru. Sebab, tidak sedikit terapis yang menjadikan momen ini sebagai momen untuk mengorek rahasia rumah tangga orang lain untuk dijadikan 'bahan' atau 'konten' menarik yang akan diceritakan ke pelanggan lainnya.

Inilah yang membuat penulis menghentikan proses ikhtiar di terapis. Kemudian, usaha berlanjut ke proses meminum jamu-jamuan. Yang menurut beliau harganya cukup mahal. Namun, tak menyuguhkan hasil yang sesuai.

Selanjutnya, berbarengan dengan mengonsumsi jamu-jamuan yang direbus. Penulis pun ikhtiar dengan rutin minum pil racikan tabib cina. 

Dari Herbal Ke Medis Semua Ikhtiar Dicoba

Ikhtiar tak berhenti sampai di pengobatan herbal atau tradisional saja. Vety Fakhrudin pun mencoba pengobatan medis melalui konsultasi di beberapa dokter.

Ada dokter yang meresepkan obat dimana obat tersebut justru membuatnya diare. Ada pula dokter yang merekomendasikan pengobatan yang biayanya cukup mahal. Hingga kemudian, sang suami pun ikut diperiksa namun hasilnya tetap belum tampak sesuai harapan.

Sampai kemudian, kembali lagi mengusahakan cara melalui terapi herbal. Dengan mengonsumsi seperti serbuk kayu manis, kurma muda, madu hingga jus 3 diva.

Dari ikhtiar kembali ke herbal inilah, penulis mulai menyadari pentingnya menjaga asupan makanan. Bukan berarti melarang diri mengonsumsi makanan ini dan itu. Hanya saja, beliau mulai memahami betapa pentingnya penerapan pola hidup sehat.

Bahkan, ada beberapa tips dan hal sepele yang ternyata penting untuk dipahami para perempuan di bab 6. Bagaimana kita memperlakukan tubuh kita dengan baik dan tidak mengabaikan hal-hal kecil.


Ketahanan Mental Pun Patut Diperhatikan

Melalui perjalanan panjangnya, penulis pun menyisipkan bagaimana batin dan emosionalnya selama menjalani proses. Ikhtiar yang panjang tentu bisa membawa batin perempuan terasa lelah. Apalagi ketika harapan demi harapan yang dipupuk belum juga terwujud.

Ditambah ketika penantian panjang ini masih belum juga tampak ujungnya. Kemudkan, didekatkan dengan banyak orang yang justru mendapatkan apa yang kita inginkan. Di sinilah, rasanya batin ingin meronta dan butuh dukungan yang besar.

Mbak Vety, mengisahkan perjalanannya bergabung bersama komunitas Aku Ingin Hamil yang dibentuk sebagai support system perempuan dalam menjalani kehidupan spesial ini. Pasti berat kalau harus menghadapinya sendiri. Tapi, ketika bergabung dengan teman yang senasib dan sepenanggungan. Akan terasa ringan dan tak lagi merasa sendiri.

Di komunitas ini pula mbak Vety mendapatkan rekomendasi dari banyak orang mengenai tempat untuk ikhtiar sampai terapi herbal apa saja yang bagus untuknya. Rasanya tentu menyenangkan ketika mendapat rezeki berupa tempat untuk saling berbagi.

Review Yaa Allah Izinkan Aku Hamil

Ikhtiar yang dilalui oleh penulis dan pasangannya bukan hanya sebentar. Tak hanya sekadar ke pengobatan ini dan itu. Bahkan, keduanya sampai mengganti mobil demi kenyamanan dan demi ikhtiar juga.

Sampai, beliau pun memutuskan untuk ikhtiar menggunakan dana pribadi bukan dengan dana dari kantor yang memang sudah disediakan. Karena, nasihat dari orangtuanya, semestinya pasangan yang ingin hamil mengerahkan usahanya menggunakan uang hasil keringat sendiri.

Pergolakan emosi dalam diri penulis pun tercatat di bab-bab menjelang akhir. Bagaimana pada akhirnya bohong kalau tidak ada rasa kecewa saat harapan diri sendiri justru terwujud pada orang lain.

Hingga kemudian, perjalanan panjangnya pun menunjukkan hasil. Dari sinilah, rekam jejak kebanyakan perempuan pun tercatat. Mereka yang berjuang dengan usaha besar, biaya yang tak tanggung-tanggung hingga air mata yang sering menetes tanpa diketahui orang lain. Menjadi catatan bahwa tidaklah mudah mengusahakan agar memiliki anak.

Semua tetap kembali pada Allah. Tentu saja. Namun, lebih dari itu dalam tulisan di buku ini, ada banyak tips yang semestinya sudah dijalani oleh perempuan yang masih muda. Mengingat gaya hidup sehat masih belum mendominasi. Tampaknya pemahaman terkait hidup sehat juga harus diketahui sejak dini.

Periksa Kehamilan Itu Penting

Perjalanan panjang penulis sampai bisa hamil memang menguras emosi. Tapi, ketika sang buah hati hadir dalam rahimnya. Ternyata justru membuat rasa waswas semakin tinggi. Pasalnya, pola haid yang tidak teratur membuatnya bingung antara postitif atau negatif.

Usai mendapat informasi bahwa ternyata ada janin dalam rahimnya. Dalam kondisi ini bahkan sang dokter yang mengetahui betapa panjang perjuangan penulis, tak mau memberi harapan yang tinggi. Tapi, rencana Allah berbeda dan beliau dinyatakan positif.

Sepanjang kehamilannya, penulis pun rajin mengontrol kondisi janinnya. Setiap bulannya beliau selalu cek kesehatan janin dan pada awal janin sudah ada di kantungnya. Saat itulah, hitungan kalkulator kehamilan bisa digunakan.

Kalkulator kehamilan dirujuk dari situs Halodoc bukan saja untuk mengetahui HPL saja. Tapi, penting juga untuk mengetahui berat janin. Ukuran janin. Sampai berat tambahan dari ibu.

Sebab, jika pertambahan beratnya kurang, bisa membuat janin mengalami resiko yang tidak baik. Dan perkembangannya terganggu. Demikian pula jika pertambahan berat badan Ibu berlebih. Resiko diabetes dan obesitas semakin tinggi.

Karena itu, saat pertama terlihat tanda kehamilan awal. sebaiknya memang langsung periksa ke dokter. Selain untuk mengetahui status kesehatan janin. Juga bisa mengurangi resiko terjadinya kehamilan kosong yang cukup sering terjadi kasusnya. Jadi, memang baiknya apapun itu diperiksakan langsung ke dokter.

Tapi, kalau ragu ingi  segera ke dokter. Mengingat situasi dan kondisi yang belum memungkinkan. Bisa juga gunanan Aplikasi Chat Dokter seperti HaloDoc. Biar tetap bisa terpantau kondisi ibu dan janinnya.

Penutup

Ada satu kalimat yang membuatku tersadar usai membaca buku ini. Cara bisa diCOPY namun rezeki tidak bisa diPaste. 

Maksudku, banyak wanita yang ingin memiliki anak mengikuti jejak ikhtiar orang lain yang sudah berhasil. Namun, seringnya dalam ikhtiar itu tidak disertai pemahaman bahwa rezeki kita dan orang lain itu berbeda dan tak bisa diPaste. 

Karena itulah, buku ini bisa dibaca bagi perempuan muda untuk memahami apakah pola hidup saat ini sudah benar-benar sehat apa belum?

Juga untuk wanita yang sedang ikhtiar untuk hamil atau ingin memiliki anak kedua atau ketiga. Karena, beberapa informasi mengenai terapi herbal ini cukup bermanfaat. 

Sayangnya, buku ini belum terdaftar di goodreads. Sehingga belum memuat resensi dari pembaca bukunya ini. Semoga saja penulis mau memasukkan data bukunya di goodreads.

Dan agak lucu, mengenai sampul bukunya. Di mana menunjukkan bangau membawa anak bayi. Ini memang klise dan termasuk mitos tapi jadi bersebrangan dengan judulnya yang menunjukkan kesan Muslimah yang erat dari kalimat Yaa Allah. Sebaiknya penerbit menyajikan sampul yang lebih baik lagi. Karena, buatku ini seperti tidak menyatu, gitu.

Ada sesuatu yang ingin kutanyakan dan semoga ini bisa jadi hal baik untukku dan untuk yang membaca ulasan buku ini.


Menurut Pembaca, kira-kira komentar seperti apa yang baik untuk ditujukan saat mengetahui ada pasutri yang belum punya anak?


Sharing yuk, siapa tau bisa jadi ensiklopedia rujukan buat yang ingin basa-basi tapi enggak menyakiti hati orang lain.

Related Posts

19 komentar

  1. Aku termasuk yang senang mendoakan agar pernikahan siapapun yang kutemui bahagia dan jika muslim akan kudoakan menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah

    BalasHapus
  2. Buku ini nenurutku sangat menarik dan bermanfaat buat pasangan suami istri yang mendambakan hadirnya momongan. Review dari Mbak Ipeh juga keren😊

    BalasHapus
  3. Akan selalu mendoakan pasutri yang belum memiliki momongan agar dimudah, diberikan rejeki oleh Nya. Selalu mensupport agar sabar rejeki Alla selalu ada buat setiap hamba Nya. Ikhtiar, pola hidup sehat benar adanya.
    "Cara bisa diCOPY namun rezeki tidak bisa diPaste" penggalan kalimat ini sangat berkesan bagiku mbak.
    Yakin dan percaya Allah selalu baik.

    BalasHapus
  4. komentar seperti apa yang ditujukan kepada pasutri yang belum punya anak? Kalau menurut saya sebaiknya tidak usah dikomentari atau membahas hal lain selain anak. Beberapa teman saya demikian, dan teman yang lain sengaja tidak menyinggung2. Karena pasti menyakitkan bagi mereka jika selalu masalah anak yang dibicarakan. Kecuali kalau mereka minta saran sih..

    BalasHapus
  5. Cara bisa dicopy namun rezeki tidak bisa di paste....jleb bangets
    Baca kisah Mbak Vety aku jadi ingat kakak kandungku, kini sudah 47 tahun, puluhan tahun menikah belum punya momongan...dan sudah banyak ikhtiarnya.
    Aku jadi balik lagi ke soal anak yang merupakan hak prerogatif Allah, memang di luar kuasa manusia.
    Buku yang menarik dan review yang sungguh baik!

    BalasHapus
  6. Mendoakan pasutri agar cepat mendapat momongan akan lebih baik daripada berkomentar. Buku yang sangat menarik dan bermanfaat untuk yang tengah berjuang mendapat momongan.

    BalasHapus
  7. Memang benar mba, anak itu hak prerogatif Allah. Sang pemilik hidup. Aku juga belajar menahan diri untuk enggak nanya sama temen atau kenalan yang baru ketemu sudah punya anak apa belum. Menurutku itu sangat privasi. Dan kalaupun aku udah kenal dan tau mereka belum punya anak, jg nggak mau nyinggung-nyinggung. Biarlah mereka dan Tuhan saja yang tahu. Btw buku ini pastinya bagus banget buat mereka yang sedang menunggu momongan tuk dapet pencerahan dan penguatan. Bahwa mereka tidak sendiri.

    BalasHapus
  8. Bener banget mbak, hamil itu hak prerogatif Allah. Kami dulu awal nikah, usaha bener pengen cepat hamil tetapi ternyata harus menunggu beberapa bulan. Eh pas ada kedua dan ketiga ini sudah ikhtiar untuk gak hamil, malah Allah kasih rezeki.

    BalasHapus
  9. Mbak Vety ini aku kenal pas di komunitas Aku ingin hamil namun karena aku udah mundur dari komunitasnya maka lama gak kontak

    BalasHapus
  10. Buku yang sangat menyentuhnya, saya ada teman dalam posisi belum dikarunia anak. Tetapi sangat sulit bagi kita untuk walau hanya sekedar memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan. Sebab isteri dengan kondisi seperti ini sangat sensitif.

    BalasHapus
  11. Sebagai pasutri yang pernah mengalami masa-masa jadi pejuang garis dua, tahu banget rasanya penantian panjang seperti ini
    Saya yakin semua orang ingin perjalanan yang mulus. Semoga semua pejuang garis dua diberi kesabaran dalam penantian. Semua akan indah pada waktunya. Teman saya ada lho yang nikah 11 tahun baru bisa hamil.

    BalasHapus
  12. Wah kalau ditanya soal pertanyaan apa kepada Pasurutri yg belum dikaruniai momongan, kayaknya lebih baik nggak tanya sama sekali deh. Hihi... Kecuali mereka yg bahas duluan.

    Ikhtiar yg sangat panjang ya Mba... Setiap usaha pasti ada pahala yg besar. Semoga yg belum dan ingin punya momongan segera terkabul. Amiin...

    BalasHapus
  13. Kalau ada pasutri yang sudah lama menikah dan belum dikaruniai anak, saya memilih untuk tak menyinggung soal anak di depannya mbak. Tidak juga menceritakan tentang anak-anak saya, jadi cari topik pembicaraan lain aja.

    BalasHapus
  14. Senang dan terharu baca komen teman-teman di sini yang justru berusaha menjaga banget perasaan mereka.

    Ini buat bukti nih biar netizen lain paham bahwa pertanyaan selembut apapun tetap bisa menyakiti

    Semoga sehat selalu yaa buat teman-teman yang sudah mampir

    BalasHapus
  15. Sangat bersyukur memiliki kesempatan untuk mendapatkan anak di usia pernikahan yang muda. Meskipun banyak yang menyayangkan karena dirasa menghambat karier. Tapi ini rezeki dari Allah yang pantas disyukuri. Apalagi kalau ingat seperti ini, banyak yang ingin hamil tapi kesempatan tak lekas datang

    BalasHapus
  16. Bagus dan sangat inspiratif mbak. Saya jadi inget sama saudara yang pengen hamil harus bolak-balik program bayi tabung.
    Jadi urusan anak agak sensitif semisal ditanyakan. Karena pure soal anak adalah rezeki dari Allah. Saya merasakan betul betapa judul buku itu sudah sangat menyentuh pembaca mbak

    BalasHapus
  17. Kami termasuk yg blm dapat anak. Beban mental memang.. awalnya santai, lama lama terganggu dengan pertanyaan2. Terutama istri yg mulai baperan hehe

    BalasHapus
  18. kalau baca pengalaman orang yang jungkir balik seperti ini dalam mendapatkan anak jadi auto langsung bersyukur banget, Alhamdulillah Allah mempercayakan saya hamil tanpa harus menunggu lama sejak habis nikah, bahkan anak ketiga jaraknya lumayan rapat dengan anak kedua. Waktu itu sempat galau kenapa hamil sekarang, anak kedua masih kecil, bla bla bla... tapi langsung sadar sendiri karena orang terdekatku pun (Tante) ada yang mengalami susahnya mendapatkan anak bahkan hingga sekarang pun belum (dan mungkin gak diberi kesempatan merasakan hamil, Beliau udah menopouse).

    BalasHapus
  19. Buku ini nenurutku sangat menarik dan bermanfaat buat pasangan suami istri yang mendambakan hadirnya momongan. Review dari Mbak Ipeh juga keren😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter