Book Review : Alex Approximately karya Jenn Bennet

Alex approximately
Bailey Rydell dan Alex bertemu melalui forum khusus pencinta film di dunia maya. Keduanya cukup dekat dan sering menghabiskan waktu berdua, berbincang tentang banyak hal sampai menonton film tertentu bersama. Namun, kebersamaan mereka hanya sebatas bersama di dunia maya.

Pertemuan dua insan melalui dunia maya bukan lagi sesuatu yang aneh. Sejak kemunculan internet dan forum-forum online. Sudah banyak yang membuktikan bahwa internet pun bisa menjadi tali penyambung bagi dua insan yang terpisah jarak. Meski, tak perlu dibahas lagi seberapa banyak hal negatif yang juga ada di internet.

Kartu Tanda Buku

Judul : Alex Approximately || Penulis : Jenn Bennet || 360 halaman || Diterbitkan 6 April 2017 || Diterbitkan oleh Simon & Schuster UK || Format : Ebook || Bahasa : Inggris || Baca melalui Scribd

***

Di usianya yang masuk 17 tahun. Alex akhirnya harus menjalani kehidupan bersama sang Ayah di California. Ajaibnya, Alex pun tinggal di tempat yang sama dengan Ayahnya. Dan Alex sendiri sudah beberapa kali mengundang Bailey untuk mengunjungi California dan berencana untuk mengajaknya menonton festival film yang sering diadakan di dekat pantai. Namun, sering pula Bailey menolaknya.

Berada di tempat baru, berarti adaptasi baru tentang banyak hal. Apalagi, Ayahnya sudah mendaftarkan Bailey untuk bekerja di The Cavern Palace dekat rumah mereka. Di Cave tersebut, Bailey bertemu dengan teman-teman baru dan lingkungan yang baru.

Ada Grace yang punya aksen inggris yang khas. Mr. Cavadini yang merupakan bos di tempat tersebut. Jerry Pangborn, seorang keamanan senior yang cukup ramah pada karyawan lainnya. Dia cukup sering lupa pada beberapa hal di tempat kerja, namun ada satu asistennya yang cukup tampan dan menarik dimana sering membantu pekerjaannya. Namanya Porter Roth.

Kakeknya Porter adalah seorang atlet surfer legendaris. Begitu pula dengan keluarga mereka, Ayah dan adiknya pun seorang surfer. Dia bekerja sebagai penjaga keamanan di Cave. Sering mengingatkan dua penjaga tiket yaitu Bailey dan Grace untuk tidak lupa mengerjakan hal ini dan itu. Oiya, Grace dan Porter sudah lama kenal, sehingga keduanya tampak akrab.

Kepindahan Bailey ke California sebenarnya tidak diketahui Alex. Bailey hanya ingin memberi kejutan pada cowok yang hanya bisa ditemuinya melalui percakapan forum. Baik Bailey maupun Alex, tidak pernah membagikan foto diri mereka sehingga tidak ada dari mereka yang tahu seperti apa penampilan masing-masing.

Niat Bailey sudah kuat. Dia mencoba mencari jejak Alex melalui tempat-tempat yang sering diceritakan olehnya. Meski Bailey pribadi tidak tahu bagaimana rupa Alex, tapi dia mencoba untuk menebaknya melalui obrolan yang mungkin akan membuatnya yakin kalau orang itu adalah Alex.

Pertemuannya dengan seorang cowok suatu hari di pantai, membuatnya berdebar kencang. Mungkinkah itu Alex? Saat pertama kali Bailey bertemu dengannya, dia merasakan obrolan tentang film adalah sesuatu yang bisa meyakinkan dirinya. Terlebih, Alex sangat tahu apa yang tidak dan dia sukai. Namun, sosok yang diduga sebagai Alex melontarkan komentar yang membuat Bailey bingung. Lantas, apakah dia benar-benar Alex?

Di lain pihak, Porter dan Bailey semakin dekat. Keduanya seolah memiliki sesuatu yang tidak bisa digambarkan secara langsung. Trauma di masa lalu membuat mereka berdua tampak bisa saling mengisi. Tidak perlu berlama-lama hingga akhirnya Bailey dan Porter berkencan. Namun, Bailey masih sering bertanya-tanya, bagaimana dengan Alex?

Demi menjaga perasaan cowok yang selama ini menemaninya, Bailey memberitahu Alex bahwa mereka cukup hanya berteman. Dan Bailey sudah memiliki pacar. Alex sebenarnya ingin tahu siapa pacar Bailey, tapi dia mencoba untuk menahannya.

Hubungan Porter dan Bailey baik-baik saja sampai suatu ketika, saat Bailey, Porter, Ayahnya Bailey dan teman kencan wanitanya menghabiskan waktu bermain usai makan malam. Di situlah sesuatu mengusik Porter yang membuat Bailey kembali merindukan Alex.

Cerita dalam novel ini cukup menyenangkan. Terutama penggambaran pekerjaan si tokoh dan kehidupannya yang cukup detil bagi saya. Meski tampak seperti novel ringan, namun kasus trauma yang diangkat di sini cukup menegangkan juga kalau sampai kita menyaksikannya di dunia nyata. Selain itu, gaya cerita Jenn Bennet, cukup menyenangkan sehingga plot cerita mengalir dengan cantiknya.

Setiap perasaan, ambisi dan pemikiran tokoh benar-benar kuat dan mampu mengobrak-abrik saya sebagai pembaca. Sehingga keterikatan antara pembaca dan buku yang dibaca tercipta dengan cukup sederhana namun mengesankan. Meski demikian, saya masih takut untuk membaca karya Bennet yang lain. Takut, kalau nanti bukunya bukanlah kisah terbaik darinya.

Postingan Terkait