Book review



Alasan kenapa memilih baca buku ini adalah saya lagi daftar kelas menulis cerita pendek remaja. Dimana kelas tersebut diajar oleh sang penulis buku ini. Kalau enggak, rasanya saya agak berpikir ulang untuk baca buku ini. Bukan, saya tidak sedang mengintimidasi sesuatu. Bukan, kok. Hanya, untuk judulnya saja, saya agak sedikit kurang berminat.

Di pikiran saya, sudah tentu akan menemukan fakta kalau si gadis bertubuh tambun dalam novel ini akan begini dan begitu. Siapa sih, yang enggak berusaha memperjuangkan apa yang dicintainya. Itu memang hal yang wajar. Ada pula, bahkan, yang menjadikan momen jatuh cintanya sebagai usaha. Agar mampu mengubah sesuatu yang baginya kurang menjadi kelebihan.

Misalnya, sedang jatuh cinta sama seseorang. Kemudian, jadi lebih rajin bangun pagi. Atau, lebih rajin belajar dan mengerjakan PR. Itu semua wajar dilakukan. Dan, enggak hanya terjadi pada remaja. Orang dewasa juga banyak kok yang melakukannya.

Sebelum saya mulai, mari kita cek dulu informasi mengenai buku ini.


Kartu Tanda Buku


Judul : The XXL Girl in love || Penulis : Piet Genta || Halaman : 164 || Format : Ebook Gramedia Digital || Bahasa : Indonesia || Diterbitkan oleh Bhuana Sastra 



The XXL Girl In Love



Sebuah cerita yang cukup ringan. Mengangkat kisah gadis bernama Rinai yang naksir cowok. Dia adalah Aksa, yang merupakan kakak kelasnya. Dimana ia adalah ketua osis yang banyak digemari. Soalnya Aksa ini ganteng, suka olahraga dan pintar. Rumahnya Aksa ini termasuk seperti yang ada di drama korea. Super duper gede, kaya raya dan punya Ibu yang cantik nan baik hati.

Sementara kehidupan Rinai di Jakarta ini dia tinggal bersama neneknya. Yang keturunan orang Belanda, sehingga dipanggil Nek Londo. Yang nama asisten rumah tangganya adalah Mpok Ipeh. Dimana, beberapa kali saya merasa terpanggil, uhuk! Rumah neneknya Rinai tidak digambarkan seperti apa. Tapi, saya menebak, sepertinya tinggal di kawasan yang biasa. Karena, ada tukang bubur bernama Kang Eman yang setia lewat depan rumah.

Rinai merupakan murid pindahan dari Bandung. Tubuhnya yang tambun, menjadi awal mula teman-temannya mengejeknya. Yah, melihat orang bertubuh gemuk memang masih menjadi momok bagi orang Indonesia pada umumnya. Gatel gitu, kalau enggak menghina dan mencaci. Jadi, mari kita skip bagian ini.

Lanjut ke saat dimana Rinai jatuh cinta sama Aksa. Kemudian, berusaha untuk mengikuti kegiatan Aksa. Dari mulai joging, berenang sampai les karate. Semua diikutin sama Rinai. Sampai-sampai, setiap istirahat langsung lari ke Perpustakaan pun dilakukan olehnya. Semua demi rasa sukanya pada Aksa.

Sementara, Nata. Yang katanya sahabatan sama Rinai. Mulai mencoba membantu gadis itu. Dari mulai membuat daftar apa saja kegiatan Aksa. Sampai memberi nasihat dan menolongnya mencari baju renang. Terus, menolong Rinai daftar les renang. Semua dilakukan oleh Nata demi membantu Rinai. Baiklah, saya jadi kebayang salah satu adegan di drama korea.


Catatan Saat Membaca Buku Ini



Saya suka membaca buku dengan tema ringan namun mengangkat sesuatu yang berbobot. Tidak mudah pasti mengemas sesuatu yang berat menjadi cukup ringan. Yang saya tahu, terbitan dari GPU ini punya satu penerbit bernama YARN yang sering menerbitkan buku seperti yang saya gambarkan. Sayangnya, saya belum pernah mencicipi satu karya dari YARN ini.

Kaitannya dengan novel yang sudah saya baca ini. Sosok Rinai merupakan korban perundungan. Yang mengalami penindasan dan ditolong oleh Aksa. Di balik penindasan tersebut, tidak ada emosi yang bisa membuat saya memberikan simpati pada sang tokoh. Begitu pula saat banyak teman-temannya melakukan body shamming.

Saya memang bukan aktivis apalagi SJW yang paham dengan body shamming dan segala macamnya. Tapi, perihal body shamming yang dilakukan teman-temannya Riniai ini seolah sesuatu yang biasa. Bisa dianggap remeh dan tidak ada solusi yang dilakukan Rinai. Entah dia berusaha untuk stand up for herself atau apapun itu.

Maksud saya, tidak ada salahnya juga menyematkan satu saja aksi dari Rinai. Yang mencoba untuk mengatakan bahwa apa yang dilakukan kawan-kawannya itu adalah sesuatu yang tidak baik. Memberi label pada seseorang karena bentuk tubuhnya. Dimana tentu itu sesuatu yang tidak pantas. Menjadikan remaja masa kini akan semakin tidak paham. Bagaimana pemberian label yang sembarangan pada orang lain itu bisa mengakibatkan hal buruk.

Okelah, mungkin penulis ingin menunjukkan bahwa Rinai baik-baik saja. Tapi, bukan berarti ketika seorang gadis merasa tidak baik-baik saja. Atau justru menjadi sedikit minder dengan panggilan tersebut. Bukan berarti mereka lemah dan tidak sekuat Rinai. Ini yang sedikit mengganggu.

Karena, bagaimana pun, harus ada usaha dari penulis di Indonesia untuk mengedukasi. Meski sedikit. Mengenai apa saja yang sedang ingin diubah secara perlahan oleh banyak orang. Setidaknya, bisa membantu memberikan sesuatu yang bisa membuat mereka mempertimbangkan apa yang terjadi di sekitar mereka.

Selain itu, dialognya yang sedikit kaku buat saya. Agak sedikit tidak nyambung dan enggak ngalir. Semua ini karena selera saya. Mungkin, beberapa pembaca tidak akan mempermasalahkan hal seperti ini. Karena, kalau saya sendiri, ketika sudah memutuskan menggunakan bahasa gaul. Setidaknya, diperbolehkan menggunakan bahasa tersebut sepenuhnya di dialog. Itu yang pernah saya pelajari.


Kesimpulan


Bagaimana pun, komentar saya mengenai novel ini. Merupakan sesuatu yang murni pendapat pribadi mengenai karya. Bukan karena menganggap remeh sebuah karya. Tapi, berharap akan ada karya lainnya yang bisa ikut serta menyuarakan sesuatu untuk bisa lebih baik. Selebihnya, tentu selera berperan serta sebagai tokoh utama dalam proses membaca. Saya soalnya tipe pembaca yang kalau sudah tidak berselera, kadang bisa memengaruhi banyak hal.

Bagi kalian yang butuh cerita yang ringan sekali. Silakan mencoba membaca buku ini.

Oiya, saya juga sematkan, bagi kalian yang ingin ikutan di kelas menulis yang dimentori oleh Piet Senja. Ini informasinya.


Joeragan Artikel
Daftar? Kunjungi Facebook : Joeragan Artikel

0 Comments