Norwegian Wood



Apakah kalian pernah membaca buku yang membantu kalian menghadapi sesuatu dalam hidup? Saya memilih buku Norwegian Wood di saat menghadapi kebosanan dalam membaca. Belakangan, perkembangan saya membaca buku cukup memprihatinkan. Seolah tidak ada buku yang bisa membuat kembali semangat untuk membaca. Walaupun bisa dikatakan bohong kalau saya tidak membaca sama sekali. Karena, saya masih membaca Manga atau Manhwa.

Namun, keinginan untuk membaca buku fiksi atau nonfiksi. Itu seolah tengah tenggelam dan mengalami masa kritis. Reading Challenge bergerak lambat. Sehingga saya merasa jenuh. Pada akhirnya, saya memaksakan diri memilih bacaan yang sudah bertahun-tahun lamanya belum pernah saya sentuh.

Pada awal kemunculan Norwegian Wood, beberapa teman saya memberikan peringatan. Bahwa, kalau kondisi jiwa saya masih lemah. Saya dilarang untuk membaca buku tersebut. Pun, demikian alasan untuk semua buku Haruki Murakami. Mereka mengatakan, kisah di dalamnya terlalu gelap. Sementara bisa saja jiwa saya yang rentan kurang siap menerima. Ini ketakutan teman-teman saya yang ingin melindungi saya.

Kini, saya mulai merasa kalau saya butuh sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menggebrak saya untuk kembali melakukan rutinitas yang saat ini terasa sangat membosankan. Memilih buku Norwegian Wood, bukanlah sesuatu yang besar bagi banyak orang. Tapi, ini adalah gebrakan bagi diri saya untuk mencoba sesuatu yang sudah lama membuat saya penasaran.

Dan...inilah saya. Bersama dengan Watanabe berusaha menjalani kehidupan beriringan.

Juga ini adalah pengalaman unik saya yang menyukai sebuah lagu usai membaca buku mengenai lagu tersebut.


Haruki Murakami Dan Perasaan Melayang



Apakah kalian pernah membaca buku yang meninggalkan kekosongan atau kehampaan? Walaupun sebenarnya itu bukan kekosongan yang benar-benar kosong. Hanya saja, pikiran kita tengah melanglang buana memasuki dunia yang cukup sulit dijangkau. Dunia yang berisi pemikiran-pemikiran yang jarang memasuki permukaan. Sebuah pemikiran yang seringnya berada di bawah pikiran lain yang mendominasi.

Itulah perasaan yang sering terjadi acap kali saya selesai membaca buku Haruki Murakami. Walaupun kisah ringan seperti Strange Library. Tetap saja membuat saya berpikir ulang, lagi dan lagi. Memikirkan mengenai manusia domba. Memikirkan buku-buku tua yang disimpan di perpustakaan tersebut. Membayangkan seperti apa bentuk terowongan menuju bawah tanah di gedung tersebut.

Begitu pula saat saya membaca buku memoar lari miliknya. Yang merupakan buku pertama karya beliau yang saya baca. Dimana, ketika melakukan aktivitas fisik, Murakami menjadikan hal tersebut sebagai momen untuk membiarkannya fokus pada pikiran-pikirannya. Ini menarik. Karena, saya baru menyadari bahwa saya pun sering melakukan hal demikian. Kala mencuci baju misalnya, saya juga sering tampak terbengong-bengong. Padahal, saat itu saya tengah berada di dunia yang berisi ribuan bahkan jutaan pemikiran yang terkadang saling berkaitan satu sama lain. Atau sekadar pikiran yang menghubungkan dengan pikiran lain meski tidak sejenis.

Dan, hampir semua buku yang saya baca. Karya Murakami. Membuat saya ikut berpikir dan merenung bersamaan dengan membaca pikiran para tokohnya. Merenungi tentang kehidupan hingga ke bagian-bagian paling kecil yang sering diabaikan. Memikirkan kehidupan tanpa mengabaikan perasaan sakit dan kesepian.





Beliau hanya mengajarkan betapa pentingnya rasa sakit dan derita bagi kehidupan. Melalui tempaan demi tempaan yang menyiksa para tokoh lainnya. Namun, menghadirkan kontemplasi yang demikian dalamnya mengenai kehidupan.

Meskipun tentu saja, perasaan yang hinggap usai membaca bukunya. Mungkin dirasakan berbeda oleh pembaca lain.


Mendobrak Kejenuhan Demi Kembali Lebih Hidup



Saat ini, progres membaca saya terbilang cukup memprihatinkan. Bahkan, saya masih on process reading Norwegian Wood saat menuliskan ini. Walaupun tersisa beberapa halaman saja. Juga, berencana untuk membaca ulang demi mendapatkan sesuatu untuk saya tulis selanjutnya.

Namun, yang pasti adalah saya bisa kembali hampir menyelesaikan apa yang saya sukai sejak dulu. Menghadapi kemerosotan saat membaca, cukup membuat saya bersedih dan kebingungan. Bingung menentukan buku yang bisa membangkitkan kembali semangat saya untuk membaca. Bingung menentukan langkah seperti apa dalam hidup.

Dan, Norwegian Wood sudah membantu saya kembali bergerak usai mati suri. Apalagi, saat membaca buku ini, saya juga ikut mendengarkan lagunya. Dimana liriknya, sungguh membuat saya terbengong-bengong cukup lama. Betapa sederhana lirik lagu tersebut, tapi meninggalkan arti yang teramat dalam. Tidak salah, jika Murakami mengatakan dirinya menyukai musik seperti juga menyukai berlari dan menulis.

Cobalah jika penasaran seperti apa sensasinya mendengarkan lagu sambil membaca buku yang tema dan judulnya sama. Saya mendengarkan lagu ini dan mendapati perasaan sunyi dan sepi. Kala membaca pada bagian saat Watanabe mengunjungi Naoko di Aimi Hostel. Tempat banyak orang mendapatkan perawatan yang sesuai. Tempat yang bagi saya seperti Loop World milik Miss Peregrine.


Berbicara Tentang Kematian Dan Bunuh Diri




Ini yang ditakutkan oleh teman-teman saya. Jika membaca buku ini justru bisa membuat saya semakin memasuki dunia kegelapan pada waktu itu. Terima kasih untuk peringatan kalian, wahai kawan.

Tapi, apakah buku ini berisi ajaran untuk bunuh diri? Ini pertanyaan yang sama dengan fenomena saat ini. Ketika sebuah film dikatakan mengajarkan perilaku buruk melalui gambaran mengenai apa yang dibahas di dalamnya. Meski, sebenarnya dikemas untuk memberikan edukasi melalui apa yang terjadi pada tokoh di dalam cerita tersebut.

Begitu pula dengan buku Norwegian Wood yang saya baca ini. Sebuah buku yang memiliki banyak tokoh yang mengakhiri hidup mereka. Ini karena saya belum menemukan buku sejenis yang menyeritakan tokoh-tokohnya meninggal karena bunuh diri. Dan, Murakami tidak mengajak pembaca untuk melakukan hal tersebut. Melalui tokoh utamanya, seorang lelaki bernama Watanabe. Kita mengarungi kehidupan, bahwa kematian itu nyata.

Bahwa, ada banyak orang yang memilih untuk mengundurkan diri dari perjalanan kehidupan mereka. Bahwa, kita masih bisa terus berjalan meski rasanya sakit sekali dan ingin menyerah. Ini tentang menerima. Buku ini menyeritakan bahwa trauma itu nyata. Bisa menjadi sesuatu yang tidak disadari namun imbasnya besar. Sejalan dengan psikoanalisis Sigmund Freud dimana dia pernah mendapat pasien yang mengalami trauma usai kehilangan sosok ayahnya.


Bagaimanapun...kematian tentu memiliki efek pada orang yang masih hidup. Entah itu berupa kesedihan. Kegamangan. Hingga rasa kehilangan yang melanda seseorang. Itu semua nyata dan Murakami hendak mengatakan itu pada kita, yang membaca karyanya.



Menertawakan Lelucon Yang Berbeda



Saya mengacungi jempol selera humor Murakami. Bagi saya cukup berkelas. Tanpa merendahkan orang lain. Tanpa mencaci orang lain. Tapi, berupa keanehan manusia dalam hidup ini yang memang terkadang lucu. Jika boleh meminjam judul sebuah film karya Dedy Mizwar, saya akan berkata “alangkah lucu hidup ini.”

Demikian pula beberapa hal yang membuat saya tertawa saat membaca Norwegian Wood. Yaitu, saat Watanabe jalan dengan Midori kemudian membahas masalah sex. Kemudian Watanabe mengatakan, bahwa hari itu terlalu cerah untuk membicarakan hal seperti itu. Atau saat Midori dan Watanabe justru menonton kebakaran. Cukup aneh memang rasanya, tapi menjadi lucu karena keanehan tersebut.

Juga, ketika Stroom Tropper dan aktivitasnya yang sering membuat Watanabe kesal bukan main. Saat Watanabe melayangkan keluhan pada kawan sekamarnya itu. Namun, disangkal oleh kawannya. Padahal saat itu Watanabe sedang mengantuk dan ingin tidur. Justru, kemudian dia bangun dan mencontoh gerakan yang dia keluhkan dari kawannya. Ini sama saja Watanabe ikut olahraga! Dan ini bagian lucu sekali buat saya.

Benar-benar...alangkah lucu hidup ini.



Seolah Berjalan Ke Dunia Lain



Membaca Norwegian Wood sambil mendengarkan lagunya. Membuat saya seperti berjalan di dunia yang berbeda. Dunia yang berjalan lambat tapi pasti. Memiliki warna yang bercampur aduk. Ada kalanya saya ingin tertawa tapi kemudian terasa ingin menangis. Ada sunyi dan sepi yang sempat menyapa tapi bukan sesuatu yang menyakitkan.

Betapa Murakami mengajarkan bahwa rasa sakit itu memang nyata. Tapi, kita bisa menikmatinya dengan diam tanpa harus berteriak. Bisa menerimanya sebagai bagian dalam kehidupan alih-alih menolak dan menjadi denial terhadap kehidupan.

Ah, pak Murakami. Betapa saya rela menjejakkan kaki di dunia yang kau ciptakan bersama dengan tokoh-tokoh yang membuat saya belajar banyak hal.


Penutup


Jika saja saya bisa menulis surat untuk pak Murakami. Kemudian, surat itu sampai. Isinya tidak akan banyak. Hanya rasa terima kasih saya. Karena mengenalkan saya pada lagu The Beatles. Karena, sudah menemani saya dan menunjukkan bahwa bukan saya saja yang pernah merasakan ini dan itu. Bukan saya saja yang pernah berpikir tentang ini dan itu.

Dan, tulisan ini membuat saya ingin sekali menuliskan banyak hal tentang buku Norwegian Wood.

1 Comments

  1. Haruki memang jagonya bikin kita melayang layang 😄 jadi berasa masuk ke dalam pikiran si tokoh utama

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.