Book Review : IQ84 Jilid 2 dan 3

Book Review : IQ84 Jilid 2 dan 3


IQ84



Apa yang terjadi selanjutnya dengan Aomame dan Tengo? Jika pada buku pertama saya mengakui bahwa konflik yang ditawarkan sangat banyak hingga membuat saya sakit kepala. Berbeda dengan buku kedua dan ketiga ini. Konflik mulai terlihat menyatu dan mengerucut sehingga antara Aomame dan Tengo, masing-masing mulai berjalan di koridor yang sama. Itulah kenapa saya menggabungkan ulasan kedua buku ini menjadi satu.



Kartu Tanda Buku

Judul : IQ84 || Penulis : Haruki Murakami || Halaman : 1332 || Versi : Ebook Kindle || Bahasa : Inggris || Diterbitkan pada 25 Oktober, 2011 || Diterbitkan oleh Vintage Publisher || ASIN : B004LROUW2



Dunia Paralel Dan Kehidupannya



Ada yang pernah membaca novel Kafka on the Shore? Novel yang juga ditulis oleh Haruki Murakami yang menyeritakan dua tokoh secara terpisah namun kejadian demi kejadian dari kedua tokoh tersebut berkaitan satu sama lain. Di sini, Murakami menawarkan konsep yang sama yaitu Dunia Paralel yang dimasuki oleh salah satu tokohnya terlebih dahulu. Masih ingat kutipan yang pernah saya bagikan di tulisan sebelumnya?

“And after you do something like that, the everyday look of things might seem to change a little. Things may look different to you than they did before.” ~ Haruki Murakami

Nah, ini memegang peranan sebagai kata kunci yang harus kita pegang selama membaca tiga buku IQ84. Agar kita mudah mencerna setiap kejadian demi kejadian yang bersisian antara dua tokoh yang awalnya berbeda dunia. Akan ada clue selanjutnya yang harus kalian pegang, berkaitan dengan bulan. Ini yang harus disadari oleh pembaca juga, kapan dan siapa yang terlebih dahulu melihat bulan.

Kalau dari apa yang saya tangkap, tokoh yang masuk ke Dunia Paralel ini tetap bisa berkomunikasi dengan tokoh lain di dunia yang berbeda. Bahkan kematian demi kematian yang terjadi di dunia yang satunya dengan yang lain, saling berkaitan. Namun, ada yang tidak bisa menembus dunia satu dengan lainnya.

Berbicara masalah dunia paralel, saya ingin berterima kasih kepada Lewis Caroll yang telah menginspirasi banyak orang dengan kisah Alice yang masuk ke lubang kelinci dan berada di dunia lain. Dimana jalan masuknya sama dengan jalan keluar yang sebelumnya dilalui. Pun demikian dengan IQ84 dimana jalur yang terbuka, tersedia di sebuah gedung. Ketika keluar dari dunia tersebut pun kondisi hampir sama dengan kondisi dimana Aomame pernah lewati, yaitu kemacetan.

Keanehan demi keanehan yang terjadi di dunia ini pun memang tampak tidak masuk akal. Banyak yang sangat tidak logis, tapi, itu tadi, Murakami memiliki pembelaan atas dunia para tokohnya melalui penjelasan tentang dunia yang mereka tinggali ini. Pada malam ketika Jepang dilanda badai petir yang sangat menakutkan, sementara awalnya perkiraan cuaca menyebutkan cuaca hari itu cerah. Membuat segalanya tampak aneh. Dan mulailah kejadian yang bertambah aneh lagi.


Bagaimana Cara Saya Mengikuti Dunia Murakami



Pernah nonton anime berjudul Kimi No Nawa? Saat membaca novel IQ84, di otak saya berputar cerita dengan model anime dan tokoh-tokoh Kimi No Nawa. Karena itulah, akhirnya saya merasa lebih mudah dalam menyerap dunia yang dibangun oleh Murakami. Terutama ketika membayangkan Aomame melewati tangga darurat. Semua berputar lengkap dengan tampang-tampang mereka layaknya tokoh anime.

Rasa sesak yang juga saya rasakan adalah ketika Ayumi meninggal dunia. Dia membantu Aomame untuk mencari tahu sedikit tentang Sakigake. Kelompok aliran agama baru yang cenderung ekstrim dan tak tersentuh hukum. Pengikutnya adalah orang-orang kaya yang merupakan penyumbang utama ajaran mereka agar tetap hidup.

Di buku kedua, mungkin kalian akan merasa jijik ketika mendengar penjelasan sang Ketua Sakigake. Tapi, perlu diingat, yang membuat segalanya tampak menjijikan adalah daya olah otak kita dalam mencernanya. Bukan berarti kalau melihat segalanya dengan gambaran utuh berarti otaknya kotor. Bukan. Tapi semua cenderung tergantung penerimaan. Ada yang bahkan tidak begitu memahami maksudnya apa.

Mengingat anime-anime Jepang memang sering membahas hal-hal aneh. Seperti makhluk-makhluk halus di dunia nyata yang tampak nyata. Sampai hubungan antara manusia dengan makhluk seperti Yokai pun dibahas. Di sinilah saya bisa langsung merasakan kegalauan Aomame saat mencari tahu bagaimana bisa bertemu dengan Tengo. Rasanya tuh, hampa dan sedih, hehe.


Bagi Saya Murakami Seorang Penulis Yang Tega



Bagaimana mungkin saya tidak berkata Murakami itu tidak tega? Kalau beberapa tokohnya seketika hilang begitu saja. Hehe, meski memang diberikan jejak terakhir, sih. Tapi, bagi saya, kasihan banget porsinya tidak banyak, gitu. Saya akan bercerita sedikit atau mungkin banyak, tergantung mood saya juga.

Ayumi, ini hubungannya dengan Aomame itu seperti menuntaskan rasa haus yang dialami oleh Aomame paska sahabatnya meninggal dunia. Jadi, pertemuan dengan Ayumi lumayan membekas. Meski mereka berdua bertemu dan mengalami pengalaman seks yang cukup “heh”. Ayumi ini sendiri seorang polisi wanita. Berasal dari keluarga polisi. Dan keberadaannya di buku dua, dia ditemukan meninggal dunia.


Ushikawa, lelaki ini tiba-tiba saja nongol di hadapan Tengo dan menawarkan bantuan. Bantuan dengan sejumlah uang yang sangat besar. Dimana ini menimbulkan pertanyaan yang juga sama besarnya. Siapa sebenarnya Ushikawa? Dan bagaimana Ushikawa menghilang?


Kalian mungkin sudah sedikit mengetahui bahwa Murakami terinspirasi oleh George Orwell dalam membuat buku ini. Meski tidak hanya Orwell saja yang memengaruhi, banyak, ada Kafka dan deretan penulis lainnya. Namun, saya masih bisa melihat adanya sedikit persamaan dengan 1984 yang saya ingat yaitu tentang Polisi Pikiran. Dimana setiap jalan pemikiran yang bertentangan pada novel milik Orwell, akan langsung ketawan oleh tim khusus dari pemerintah dan akan segera dieksekusi.

Kalau di novel IQ84 ini sedikit berbeda. Polisi Pikiran dalam hal ini dalam bentuk sosok Ushikawa yang bahkan tahu siapa dan apa yang ada dalam kepala Tengo. Bahkan hal yang tidak diceritakan olehnya pun bisa diketahui oleh Ushikawa. Ini yang membuat Tengo sempat bingung, bagaimana cara lelaki ini mendapat informasi sebegitu lengkapnya. Karena itulah, kenapa saya mengatakan kalau konflik di buku satu dan dua lebih mengerucut.

Tujuan masing-masing karakter hanya satu, tetap bertahan hidup. Namun juga ada misi juga, sih. Kedua tokoh ini harus ketemu satu sama lain. Ibaratnya udah ada benang merah dari awal, pertemuan keduanya sambil pegangan tangan di usia 10 tahun itu harus tetap berlanjut. Karena keduanya memendam perasaan yang sama sejak saat itu.

Nah, selain Ayumi dan Ushikawa, ada juga karakter yang kalau buat saya porsi dia muncul dengan ‘tampilan’ sendiri tuh baru beberapa jam saja, kalau buat saya. Tapi endingnya langsung dibuat meninggal dunia, pun ada. Padahal dia memegang peranan besar juga. Tapi selama drama IQ84 dimulai, porsi dia selalu muncul dari cerita orang lain. Bukan dia muncul sebagai dirinya sendiri tanpa perantara.

Lucu sih buat saya. Jadinya ada kesan, dunia milik Aomame dan Tengo, yang lain ngontrak, hehe. Karena, itu tadi, ada juga tokoh-tokoh yang bertahan sampai in the end kemudian enggak tahu bagaimana nasibnya. Bisa dikatakan, bagi tokoh utamanya, endingnya jelas, enak. Tapi tidak bagi tokoh pendukungnya, yang ngambang. Kenapa? Karena di Colorless Tsukuru, saya masih terasa kurang endingnya. Saya masih menuntut banyak penjelasan dari Murakami perihal bagaimana selanjutnya kisah Tsukuru ini. Maruk ya saya, hehe.


***

Masuk ke bagian yang tidak penting. Karena berisi curahan hati saya. Begini, pada mulanya saya mengalami kebosanan yang cukup tinggi melihat tumpukan buku dan ebook yang ada. Beberapa kali mencoba memulai membaca, tapi berubah haluan dari satu buku ke buku yang lain. Tampaknya saya tengah membutuhkan sesuatu yang membuat saya nyaman.

Hingga ketika saya mencoba membaca beberapa halaman pertama ebook IQ84 yang awalnya saya baca testernya di Kindle. Saya langsung jatuh hati dan penasaran. Hingga tak berpikir dua kali untuk membeli ebooknya. Karena, entah kenapa, meski alurnya lambat tapi saya tidak menemukan rasa jenuh ketika membacanya. Padahal saya sering membutuhkan waktu untuk membaca buku-buku Murakami. Saat itulah saya berpikir, kalau gejala yang timbul tentunya sebuah tanda bahwa mood saya sedang siap untuk membaca buku Murakami.

Demikianlah curahan hati saya yang mungkin tiada guna ini. Hehe. Maklum, saya juga butuh curhat meski sedikit.


Saran saya, kalau mau membaca buku Murakami, bisa dimulai dari cerita pendeknya. Semacam kumpulan cerita pendek atau novelanya. Ini hanya saran dari saya saja, loh. Kenapa saya tidak langsung menyarankan membaca Norwegian Wood dan IQ84? Karena setiap orang ada yang butuh masuk ke sebuah dunia dengan cara perlahan. Jadi kalau urutan yang saya tawarkan dari yang sudah saya baca.


  • Strange Library : ini bukan horor hanya misterius. Ceritanya ala dongeng buat anak-anak tapi cukup mencekam juga sebenarnya. Ini bisa jadi semacam warm up untuk mengenal ‘keanehan’ seperti apa ciri khas si Murakami ini. Keanehan ini bukan sesuatu yang tiada guna. Tapi sesuatu yang menjadi daya tarik yang senantiasa diingat.
  • Colorless Tsukuru : bagi saya ini lebih ringan jika ingin mengenal tokoh lelaki dengan kehidupan seksnya. Maksud saya, nantinya di buku IQ84 kalian akan diajak untuk mengintip kehidupan seks para tokohnya, sih. Di buku ini bisa kenalan dulu, buat saya. Meski, saya pribadi lebih condong menyarankan buku ini karena di sini Murakami seolah menulis Buku Panduan Untuk Tetap Hidup Meski Kehidupan Tampak Keras Dan Menyesakkan.
  • What I talk About When I talk About Running : sebenarnya saya membaca buku ini pertama kali sebelum baca fiksinya Murakami. Buat yang mau menukar tempat dengan Strange Library kemudian membaca buku nonfiksi ini juga bisa. Semacam pengenalan sosok di balik layar sebelum mencicipi ceritanya. Karena dari sini saya jadi semacam apa ya, muncul rasa penasaran dari apa yang dia pikirkan selama berlari.
  • Desire : ini kumpulan cerpen yang disusun sama penerbit Vintage. Sebenarnya cerita pendeknya dia tersebar ke beberapa buku kumpulan cerpen yang berbeda penerbit. Tapi, dengan membaca kumpulan ceritanya dia ini, kita bisa beradaptasi dengan ending cerita dan selera humornya.
  • Kafka on the Shore : ini bisa dibaca sebelum memasuki dunia IQ84. Latar dunia paralel yang seperti apa yang ditawarkan sama Murakami ini bisa dirasakan di sini. Karena ini dunianya Murakami, tentu bisa berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh kalian.
  • IQ84 : saya rekomendasiin kalau kalian sudah terbiasa membaca buku Haruki Murakami dan tidak masalah membaca buku tebal berjilid-jilid. Kalau enggak, sayang, nantinya kalian justru menjadikan buku ini ke dalam kategori do not finish. Padahal isinya bagi saya, bagus tentunya.




Ini hanya saran dari saya. Saran dari seorang pembaca yang moody-an dalam membaca dan memilih buku. Kenapa saya membuat daftar tersebut? Karena saya memberikan urutan dari kisah yang bagi saya tidak terlalu berat bagi pembaca pemula. Karena saya memang masih dan akan selalu menjadi newbie.


Semoga saja ada manfaatnya tulisan ini. [Ipeh Alena]

Post a Comment

0 Comments