Book Review : Man's Search For Meaning by Viktor E. Frankl

Book Review : Man's Search For Meaning by Viktor E. Frankl



Mans Search For Meaning



Ada yang pernah mendengar ungkapan dari bahasa Arab yang berbunyi, "Man 'arofa nafsahu 'arofa Robbahu"? Artinya dalam bahasa Indonesia adalah Siapa yang mengenal dirinya,Maka akan mengenal Tuhan-nya. Kalimat ini pernah ditanyakan oleh seorang lelaki tua yang saya jumpai secara tidak sengaja di perjalanan hendak menuju rumah. Percayakah kalian dengan kebetulan? Saya tidak. Sejak saya menginjakkan kaki saya di SMP, saya tidak pernah lagi percaya dengan 'kebetulan'. Saya selalu bertanya-tanya, kenapa Tuhan melakukan hal ini atau hal itu pada saya? Kenapa saya harus merasakan ini dan itu?

Dari pertanyaan inilah, saya selalu mencari tahu dan menanti dengan sabar, terkadang tidak sabar. Meski dengan pertanyaan yang paling menyakitkan atas kejadian yang juga sama menyakitkannya, "kenapa Allah menciptakan penderitaan?" Hari demi hari bergulir, waktu berlalu hingga bertahun-tahun kemudian saya baru mengenal buku yang baru saja saya tuntaskan ini. Sebuah buku yang memercayai tentang makna dalam hidup.

Saya masih mengingat ketika masih kecil, menghabiskan waktu di tempat mengaji setiap petang. Sang guru akan mengatakan, "bahwa segalanya selalu ada hikmah". Saat itu saya tidak paham, apa itu hikmah? Sebesar apa pengaruhnya pada hidup saya? Sayangnya, dalam hidup, saya terkadang memercayai hikmah namun terkadang mengabaikannya. Baru tersadar ketika suatu ketika saya tersadar, bahwa saya pernah merasakan atau mengalami ini dan itu.

Man's Search For Meaning, sangat mirip dengan kehidupan yang saya jalani. Ketika saya memasuki masa saat bertanya-tanya, untuk apa saya hidup? Ketika saya kembali bertanya, kenapa saya yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan seperti ini? Dan ketika saya selalu mempertanyakan, apa yang harus saya lakukan dalam hidup ini? Meski saya sudah mengetahui jawabannya sedikit, sebelum membaca buku ini, tapi saya melihat ada banyak hal yang ternyata sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Frankl dalam kehidupannya.

Dia memang seorang Yahudi, tapi saya memandangnya bukan dari apa agamanya. Tapi memandang dia sebagai seseorang yang memercayai Tuhan dan keagunganNya. Karena dalam buku ini, dia selalu menekankan tentang hidup dan tentang membangkitkan sisi spiritualisme dalam diri setiap orang yang dibantu olehnya agar tetap bertahan hidup. Demikian pula dengan saya, kalau tidak memercayai Allah, mungkin saya tidak akan berada di sini. Buku ini, benar-benar menguak sisi kelam yang pernah saya lewati, namun mengajak saya berbincang selaiknya seorang teman.




Kartu Tanda Buku

Judul : Man's Search For Meaning || Penulis : Viktor E. Frankl || Halaman : 233 || Penerjemah : Haris Priyatna || Cetakan ke-1, Desember 2017 || Versi : Buku Fisik || Bahasa : Indonesia || Diterbitkan oleh Noura Books || ISBN : 9786023854165



Apa Itu Logoterapi?


Kata logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti "makna". Logoterapi memusatkan perhatian pada makna hidup dan pada upaya manusia untuk mencari makna hidup tersebut.  Meski banyak yang mengatakan bahwa Logoterapi merupakan bagian dari Psikoanalisis, namun sejatinya kedua hal ini bersebrangan dimana metode yang digunakan tidak terlalu retrospektif dan tidak terlalu introspektif. Fokus utamanya yaitu pada masa depan, upaya manusia dalam mencari makna hidup.

Metode ini juga tidak mengesampingkan penderitaan yang mungkin dialami oleh orang tersebut dalam mencari makna hidup. Justru, menurut Viktor, penderitaan yang datang bisa saja sebagai sebuah keberhasilan dalam pencarian makna hidup. Karena, manusia memiliki tujuan utama yaitu memenuhi suatu makna alih-alih sekadar menikmati dan memuaskan keinginannya.

Pernah mendengar kata, bahwa kebahagiaan atau kesenangan itu merupakan sebuah efek dari sebuah pencapaian? Inilah yang dimaksud dari pencapaian itu, yaitu penemuan makna hidup yang membuat orang tersebut merasa bertanggungjawab terhadap kehidupannya sehingga berupaya untuk terus meneruskan kehidupan meski penderitaan menghimpitnya dan membuatnya kesakitan. Karena pencapaian itulah yang menjadi tujuannya, pencapaian dari makna hidup.

Karena Logoterapi dinyatakan berbeda oleh Viktor sendiri, dimana perbedaannya adalah setiap penderitaan, kehampaan sampai ketidak-seimbangan yang dihadapi justru bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Namun, dijadikan sebuah pemicu secara sadar yang harus diyakini segala hal tersebut memang harus dihadapi. Saya kutip dalam buku ini di halaman 151.

"Upaya manusia untuk mencari makna hidup bisa menimbulkan ketegangan batin. Bukan keseimbangan batin. Tetapi, ketegangan seperti itu justru merupakan prasyarat yang sangat dibutuhkan bagi tercapainya kesehatan mental." ~ Man's Search For Meaning

Nah, karena inilah saya merasa bahwa metode ini memang sangat baik untuk diterapkan bagi siapa saja di masa sekarang. Bahwasannya, kesehatan mental itu pun dicapai dengan melalui beragam rasa sakit dan ketegangan batin. Karena merupakan prasyarat yang ternyata dibutuhkan untuk tercapainya kesehatan mental yang diinginkan.

Menariknya, di sini juga dijelaskan mengenai kehampaan eksistensial. Dimana fenomena ini mulai mewabah sejak memasuki abad ke-20. Tidak heran jika Fuad Hassan menuliskan dalam bukunya berjudul Pentas Kota Raya yang berisi kumpulan essai, dimana beliau juga menyatakan bahwa kebutuhan masyarakat Kota akan psikolog mulai meningkat. Pemandangan ini rupanya sudah terlihat oleh Viktor. Fenomena kehampaan eksistensial yang ternyata menjadi pemicu dari banyaknya kasus bunuh diri. Meski bukan pemicu utama.

Jadi, apa itu kehampaan eksistensial? Bentuk kehampaan ini tercermin dari munculnya rasa bosan dan ketegangan. Dikutip dari Schopenhauer, "manusia ditakdirkan untuk selalu terombang-ambing di antara dua kutub ekstrem ketegangan dan kebosanan". Hal ini memungkinkan adanya hambatan seseorang dalam pencarian makna hidup, karena fokus seseorang bisa berubah menjadi keinginan untuk mencari kesenangan.

Lantas, bagaimana caranya mengetahui makna hidup yang sebenarnya berbeda pada setiap orang? Terutama ketika orang tersebut tampak tak bisa menemukan makna atau masa depan yang dia inginkan. Saya akan kutipkan apa yang ada di buku ini, sesuatu yang cukup sangat membantu dan bisa dilakukan banyak orang untuk membantu orang yang berada di dekat mereka.

"Yang penting bukan makna hidup secara umum. Melainkan makna spesifik dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu." ~ Hal 157

Pernah mendengar seseorang yang ketika ditanya, "cita-citanya apa?" kemudian dijawab dengan pelan namun jawabannya sederhana, "saya mah bisa makan saja cukup." Ini adalah bentuk dari makna hidup dalam keadaan spesifik pada seseorang. Tidak bisa disama-ratakan antara makna hidup seseorang dengan orang lainnya terutama ketika kondisi spesifik yang mereka alami juga berbeda. Bahkan, pada kondisi yang tampak sama sekalipun, makna hidup mereka akan tetap berbeda.



Kisah Nyata Yang Dialami Oleh Viktor E. Frankl



Jika Anda pernah membaca The Diary of Anne Frank. Anda akan menemukan kondisi yang rumit dan desakan yang begitu menegangkan bagi orang-orang Yahudi pada masa itu untuk menemukan tempat yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi. Semua cara dilakukan, mulai berpindah ke negara lain, meminta perlindungan dari negara lain sampai bersembunyi di loteng sebuah gedung. Menjalani kehidupan tertutup, terisolasi dari dunia luar, sampai harus mengatur jadual kapan bisa ke kamar mandi dan kapan harus menghentikan aktivitas.

Ketegangan ini mungkin sudah membuat Anda merasakan betapa kalut dan sedihnya pada masa itu. Namun, jika membaca dari sudut pandang Viktor, yang menuliskan pengalamannya berada di kamp tersebut yang cukup mengerikan, tentunya pandangan Anda akan berubah lagi. Di sini, Viktor menyeritakan bahwa manusia bisa tidak memiliki apapun di dunia ini jika harapan hidupnya sudah menguap. Terutama, ketika hari demi hari mereka tak mampu mengetahui kapan mereka bisa merasakan kehidupan seperti biasanya.

Kekejian dan perlakuan yang semena-mena, hingga kelaparan sampai ketidak-sanggupan untuk terus bertahan hidup, membuat para penghuni kamp terus berguguran. Mereka bahkan dilarang untuk mencegah tindakan bunuh diri yang akan dilakukan oleh orang lain. Hukumannya akan sangat kejam. Dan lebih menyiksanya adalah mereka tak boleh menolong apalagi mencegah mereka. Sementara itu, hari demi hari banyak juga korban berjatuhan karena semangat hidupnya menghilang, mereka gugur bukan karena bunuh diri. Tapi, karena penyakit yang kemudian membuat mereka harus menyerah.

Menurut Viktor, rendahnya semangat untuk hidup, bisa menjadikan seseorang rentan terhadap penyakit. Di sini digambarkan bagaimana dia berpindah dari satu kamp ke kamp lain. Dari berharap tinggi kemudian lenyap sudah harapannya. Hingga menyaksikan rasa empati dan simpati itu mulai mengikis di semua penghuni kamp pada setiap tindak kejahatan yang terjadi.

***


Masih banyak hal-hal yang menarik dalam buku ini.

- Tentang bagaimana Viktor bertahan dan berusaha bangkit.
- Apa yang dia lakukan ketika lapar melanda.
- Apa yang terjadi pada penghuni kamp lain saat mereka merasa tidak berdaya.
- Apa saja urutan yang paling tampak ketika seseorang kehilangan makna dalam hidupnya.
- Cara apa yang dilakukan oleh Viktor saat membantu teman-teman lainnya di dalam kamp.

Dan masih banyak lagi yang tidak saya tuliskan di sini. Dimana saya merasa tidak menyesal mengenal buku ini dan membacanya. [Ipeh Alena]

Post a Comment

0 Comments