Model-model Kepribadian Sehat Karya Duane Schultz

February 23, 2018

Model-model Kepribadian Sehat Karya Duane Schultz


Growth psychology



Bacaanipeh.web.id - Jika pada umumnya kita selalu mampu menemukan buku-buku terkait psikologi yang mempelajari kondisi manusia dalam kondisi sakit - dalam hal ini buku tersebut berisi bagaimana cara menangani sympton tertentu pada pasien - maka merupakan hal yang cukup unik ketika Duane Schlutz merangkum beberapa model Kepribadian Sehat dan seperti apa cirinya berdasarkan pandangan-pandangan para psikolog ternama.

Seperti apa sebenarnya Kepribadian yang sehat itu? Tentunya di dalam buku ini dijelaskan melalui sudut pandang para tokoh yang berbeda dengan metode penelitian yang juga berbeda. Ada yang memulainya dengan teori yang dipelajarinya ada pula yang mengkajinya berdasarkan pengalaman pribadi. Ini mengingatkan saya pada buku Filsafat Ilmu, bagaimana awal mula Ilmu itu ditemukan. Salah satunya melalui penalaran manusia berdasarkan hipotesa yang mampu dibuktikan serta melalui pengalaman yang bisa dikaji lebih dalam sehingga ditemukan relevansi antar ilmu yang dikaji dengan fakta yang terjadi dari pengalaman tersebut.


"Mereka tidak percaya bahwa manusia merupakan korban yang tak dapat berubah..." ~ Hal 13



Duane sepakat dengan para pemikir yang tulisannya dimuat dalam buku ini. Bahwasannya adalah hal yang perlu dalam menggali lagi seperti apa sebenarnya kondisi "Kepribadian yang Sehat" ini? Kalau kita berbicara masalah tubuh yang sehat, tentu mampu kita deskripsikan dengan baik berdasarkan apa yang kita lihat dari fisik. Namun, jika mengacu pada kepribadian, tentunya ini juga berhubungan dengan kondisi jiwa yang terkait pada emosional dan perasaan individu tersebut, dimana ini merupakan hal yang tidak bisa langsung dilihat oleh mata.

Itulah pentingnya mempelajari seperti apa sebenarnya pemahaman dan arti serta kondisi pribadi yang sehat itu. Dengan begitu, sebagai individu yang menjalani kehidupan, kita memungkinkan untuk memahami dan belajar mengenal diri kita secara sepenuhnya. Apakah sebagai individu kita membutuhkan pertolongan orang lain, dalam hal merasa ada yang tidak beres dan membutuhkan tenaga terapis seperti Psikolog atau Psikiater. Atau justru tengah berada di ambang keraguan, apakah kita termasuk individu yang sehat atau tidak saat bertindak seperti ini dan itu.

Uniknya, ini merupakan buku kedua yang saya baca dimana ulasan atau pendapat pribadi sang penulis disematkan di dalamnya. Cukup membantu terutama sebagai bahan pertimbangan dari studi kasus yang ditulis oleh pakar Psikologi Pertumbuhan ini. Dengan adanya ulasan tersebut, kita mampu memahami dengan jelas beberapa bagian yang mungkin saat membacanya membutuhkan waktu yang lama untuk mengerti dan memahami.


***

Model pertama yaitu Allport, yang ketika masih muda dirinya pernah bertatap muka dan berbincang dengan Sigmund Freud namun menemukan sesuatu yang membuatnya berpikir secara berlawanan. Allport meyakini bahwasannya manusia bisa menjalani kehidupan yang terlepas dari masa lalu atau terlepas dari pengalaman masa kanak-kanak. Dengan memisahkan antara individu neurotis dan individu yang sehat.

Baginya, asalkan individu tersebut memiliki tujuan dalam kehidupan untuk dicapai, meskipun dalam prosesnya tujuan tersebut bisa berubah usai meraih tujuan awal, tentunya ini merupakan proses yang terus berkelindan dalam kehidupan yang menjadikan individu tersebut terus berkeinginan dan terus memiliki satu hal : TUJUAN.

Saya jadi teringat dengan buku Young on Top karya Billy Boen, dia menuliskan : Kita tidak akan kemana-mana kalau tidak tahu ingin kemana. Artinya, bahan bakar manusia itu adalah tujuan, mimpi, keinginan, yang terus menerus menjadi bara untuk semangat menjalani kehidupan. Tentunya tujuan tersebut disertai dengan usaha untuk mencapai atau mewujudkannya.

Menurut Allport : Individu sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan dan visi itu mempersatukan kepribadian dan membawa orang itu kepada tingkat tegang yang bertambah (23). Bahkan, dirinya melanjutkan bahwsannya individu yang sehat itu bukan berarti individu yang selalu berada dalam kondisi senang dan tertawa apalagi bahagia. Tapi individu yang menerima kondisi di masa saat itu, seperti dikutip "saya" "sekarang".

Pertanyaannya yang masih terus terpatri dalam otak saya, meski saya mendapatkan jawabannya walau sedikit, yaitu Apakah orang-orang yang memiliki trauma, orang-orang yang tengah berada dalam masa kegelapan atau sedang mengalami titik terendah dalam kehidupan mereka atau bisa saja memang menyandang kondisi jiwa yang spesial sejak lahir, mampu menjadi individu yang sehat?

Tentunya, menurut pandangan saya, itu kalau individu tersebut sadar bahwa dirinya sedang tidak enak kondisinya (dalam hal ini yang masih memungkinkan untuk ditangani dan levelnya ringan). Mungkin dia akan mencari pertolongan entah itu dari terapis atau dari sumber terpercaya lainnya. Hanya saja, meski Allport tidak menyangkal bahwasannya kita termasuk individu yang memungkinkan menjadi apa kita sekarang berdasarkan pengalaman masa lalu, Allport tetap tidak menjelaskan kemungkinan dan bagaimana hal tersebut menjadi mungkin bagi individu neurotis.


***

Selanjutnya yaitu Model Rogers yang diberi judul : Orang yang berfungsi sepenuhnya. Dirinya meyakini bahwasannya individu yang sehat mengharuskan mereka menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Mungkin beberapa dari Anda pernah mengikuti artikel atau gerakan untuk Hadir Secara Utuh. Dalam hal ini, yang saya lihat secara garis besar, Rogers mengajak kita sebagai individu benar-benar harus mampu bersandar menyadari apa yang terjadi pada diri kita sekarang, saat ini.

Studinya ini berdasarkan pengalamannya usai mengalami hal-hal yang cukup berat dalam kehidupannya. Meski bagi keluarganya, Rogers tampak seperti keluar dari kesalehannya. Dia percaya bahwa realitas itu tergantung pada pengalaman seseorang. Dari pengalaman inilah dirinya menemukan beberapa motivasi yang mendasari seseorang individu memiliki kepribadian yang sehat.

Rogers menyadari bahwa aktualisasi diri seorang individu itu penting karena merupakan proses menjadi diri sendiri yang mampu mengembangkan sifat-sifat serta potensi psikologinya yang unik (46). Sejauh ini saya setuju dengan pendapat Rogers mengenai aktualisasi diri, bahwasannya ini merupakan proses yang sukar dan kadang menyakitkan karena individu harus meluncur sepenuhnya ke dalam arus kehidupan.

Tentunya ini merupakan pandangan agar kita menyadari hal-hal yang sering kita lupakan yaitu rasa sakit atau rasa tidak menyenangkan dalam proses menjalani kehidupan. Sehingga sering membawa diri kita pergi menuju dunia yang tak terjamah. Padahal, untuk menjadi individu yang sehat, tentunya kita harus tetap memberi diri kita kesempatan untuk mencoba dan berusaha terbuka dengan kesempatan yang ada.

Pastinya, hal ini tidaklah mudah bagi sebagian orang. Karena itu, perlu ditambah lagi pembelajaran-pembelajaran terkait mengenal diri sendiri sebagai produk kehidupan dan eksistensi individu di dunia. Dengan begitu tentunya akan menolong individu ini terlepas dari konformitas kala mencoba terjun sepenuhnya dalam kehidupan. 

Namun, dalam model yang Rogers ajukan ini, tidak ditemukannya batasan-batasan kebebasan pada individu dalam menjalani kehidupannya. Tentunya tanpa harus meninggalkan agama, sebenarnya kita bisa menjalani kehidupan dengan berpedoman pada apa yang sudah ditetapkan. Teringat kembali pada penjelasan Junjun di bukunya Filsafat Ilmu, beliau menjelaskan meski Ilmu hanya menjangkau pada pengalaman manusia dan terbatas pada pengalaman manusia, dan agama-lah yang menjangkau hingga bagian transdental, tentunya kedua hal ini tetap saling diperlukan dalam menentukan batasan kebebasan individu.

Jika tidak, maka individu akan cenderung terlalu egois, seperti yang ditulis pada ulasan Duane terkait egoistis yang akan muncul jika kebebasan untuk menjadi diri sendiri dan berprilaku sesuai kehendak sampai menjalankan kehendak yang sesuai dengan diri sendiri tanpa mempertimbangkan orang-orang di sekitarnya, tentu ini akan menjadikan ketidak-seimbangan dalam kehidupan. 

***

Pertanyaan saya yang sempat ditujukan pada Allport akhirnya nampak jelas dijawab oleh Viktor Frankl. Dirinya pernah mengalami masa-masa menakutkan dan mengerikan dalam hidupnya, yaitu ketika dia dikirim ke sebuah tempat bersama kawan-kawannya yang seorang Yahudi. Betul, Frankl salah satu dari para Yahudi yang mengalami penyiksaan selama Perang Dunia.

Masa kelamnya ini sempat membuatnya bertanya-tanya, terutama di pengasingan tersebut banyak dari kawan-kawannya yang tak lagi kuat menahan dera siksaan. Dari sinilah dalam bukunya berjudul Man's Search for Meaning, seorang Allport menuliskan dalam kata pengantar, "Bagaimana ia dapat menemukan kehidupan tetap bernilai? Seorang psikiater yang secara pribadi telah menghadapi keadaan ekstrem serupa itu adalah seorang psikiater yang pantas didengar." (146).

Frankl menceritakan dengan detil bagaimana pengalamannya dan kawan lainnya yang menderita dan depresi, belum lagi fakta bahwa mereka mengetahui banyak dari kawan mereka yang dibunuh sebelum tengah hari. Genosida kaum Yahudi pada waktu itu pun pernah dituliskan dari sudut pandang seorang Gadis Perempuan dalam Buku Harian Anne Frank. Dengan jelas, Anne menuliskan betapa menegangkannya kondisi saat itu dan betapa tersiksanya mereka berada di kamp pengungsian.

Bagi Frankl, selama masa pengungsiannya dan penderitaanya itu, dia mengalami beragam pemikiran terkait dirinya. Dia belajar tentang dirinya melalui tragedi yang dirasakan olehnya dan kawan-kawannya. Apa yang berarti dalam eksistensi manusia, bukan semata-mata nasib yang menantikan kita, tetapi cara bagaimana kita menerima nasib itu. Dan Frankl percaya bahwa arti dapat ditemukan dalam semua situasi termasuk penderitaan dan kematian. Dia menulism hidup adalah menderita, tetapi untuk menemukan suatu arti dalam penderitaan seseorang ialah tetap hidup (149).


Kalau Frankl tidak berusaha untuk berpikir dan merenung serta mencari tahu tentang eksistensi manusia, mungkin kita tidak akan berkenalan dengan Logotherapy. Alasan ini jugalah kawan saya, Iyas, merekomendasikan buku ini agar saya baca. 

Logotherapy merupakan sistem yang berisi tentang arti dan eksistensi manusia serta kebtuhan manusia akan arti dan juga teknik terapeutis khusus untuk menemukan arti dalam kehidupan. Teori ini sejalan dengan kodrat manusia, yang memiliki tiga fondasi utama yaitu : Kebebasan kemauan, Kemauan akan arti dan Arti kehidupan.

Menurut Frankl, manusia memiliki kebutuhan untuk terus-menerus mencari sesuatu yang bukan sekadar diri kita saja, melainkan suatu arti untuk memberi suatu maksud bagi eksistensi kita. Semakin manusia mampu mengatasi diri mereka sendiri, semakin mereka menjadi manusia sepenuhnya. Dengan begitu mereka mampu mengungkapkan dengan jelas arti yang bisa diperoleh dalam kehidupannya.

Lantas, bagaimana sistem Frankl ini membantu dalam mencari arti kehidupan? Ada tiga cara yang dikemukakan dalam Logotherapy untuk memberikan arti kehidupan yaitu :

  1. Dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan.
  2. Dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman.
  3. Dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan.

***



Dari perwakilan tiga contoh model tentang Growth Psychology, ada beberapa kesamaan yang dapat saya tangkap. Meski masing-masing dari model memiliki kondisi kelebihan dan kekurangan masing-masing yang berbeda, tapi maksud yang ingin mereka sampaikan sebanarnya sama. Inilah beberapa hal yang saya temui merupakan kesamaan dari model-model yang ada dalam buku ini.

  • Kenikmatan dan kebahagiaan bukanlah tujuan hidup, dua hal ini merupakan imbas atau bisa dikatakan hal yang timbul secara spontan dari proses manusia mencapai tujuan dalam hidupnya. Begitupula dengan perasaan sedih dan kecewa, dua hal ini juga sama merupakan hal yang spontan timbul sebagai bagian dari proses manusia mencapai tujuan dalam hidupnya.
  • Mampu memberikan kontrol secara penuh terhadap diri kita sendiri, orang yang sehat memiliki kemampuan mengendalikan diri mereka sendiri tanpa campur tangan orang lain. 
  • Dapat mengaktualisasikan diri kita secara penuh dalam arus kehidupan. Aktualisasi diri merupakan suatu proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan. Namun hal ini merupakan sebuah cerminan akan keberanian seorang manusia dalam hidup serta mampu terbuka dan belajar dari pengalaman orang lain.
  • Fokus pada apa yang terjadi pada saat ini, pada diri saat ini dan pada waktu saat ini. Konsep ini yang dikenalkan oleh Adjie Silarus dalam tajuk Hadir Secara Utuh, sebuah gerakan agar manusia menjalani kehidupan mereka saat ini, detik ini juga.


Orang-orang yang sehat secara psikologis tidak hidup dalam masa lampau ~ Duane Schultz. 




Kartu Tanda Buku


Judul : Psikologi Pertumbuhan 
Judul Asli : Growth Psychology : Models of the Healthy Personality
Penulis : Duane Schultz
Halaman : 205
Penerbit : Kanisius Media
Rating : 5/5
ISBN : 9789794135433
Goodreads : https://www.goodreads.com/book/show/55954.Growth_Psychology

No comments:

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.

Powered by Blogger.