book review norwegian wood


Norwegian Wood - Meski saya menunda beberapa tahun untuk membaca buku ini. Tapi, saya tidak merasa menyesal walaupun tampak terlambat. Sepertinya memang tidak ada kata terlambat. Keputusan ini rasanya tepat, di saat saya tengah menghadapi kemunduran dalam progres membaca. Bayangkan saja, saya baru membaca 47 buku tahun ini. Dan buku ini merupakan buku ke-48 yang saya selesaikan.

Saya membaca Colorless Tsukuru pertama kali sebelum membaca novel ini. Sehingga, saya paham pada komentar yang pernah saya dapat. Bahwa, Colorless Tsukuru ini seperti versi cerita ringan dari Norwegian Wood. Walaupun sebenarnya keduanya sangat berlainan. Dengan permasalahan yang berbeda. Tapi, kesedihan yang dihadapi Tsukuru dan Watanabe hampir sama.

Sosok Tsukuru dan Watanabe juga mirip-mirip. Keduanya sangat mengetahui apa yang diinginkan dalam hidup. Ingin menjadi apa ketika sudah selesai sekolah nanti. Dan, mencangkup segala hal. Seperti selera musik, film dan makanan.

Dari segi kharismatik pun keduanya mirip. Dimana lelaki ini merupakan sosok yang tidak banyak bicara. Namun, selalu membuat nyaman orang yang ada di sekitarnya. Memiliki kesan positif dari orang yang ada di dekat mereka. Walaupun sebenarnya dalam kepala mereka terdapat banyak hal yang dipikirkan.

Karena itu, kali ini saya ingin menuliskan banyak hal yang saya dapat dari buku Norwegian Wood. Saya sarankan bagi Anda yang belum membacanya, untuk berhenti dan tinggalkan laman ini. Sebab, tulisan saya ini mengandung spoiler.


Kartu Tanda Buku

Judul : Norwegian Wood | Penulis : Haruki Murakami | Halaman : 304 | Terbit : 12 September 2000 | Bahasa : Inggris | Diterbitkan oleh Vintage | ISBN : 9780375704024 | Baca melalui Playbook


Memory is a funny thing


Pada paragraf ini, ada sesuatu yang menggelitik dalam dada. Sang narator, menjelaskan bahwa pada saat momen kebersamaannya dengan Naoko 18 tahun silam. Dirinya sama sekali tidak memperhatikan apalagi mengingat apa yang diperbincangkan pada waktu itu.

Fokusnya kerap jatuh pada wanita cantik di sebelahnya, Naoko. Serta pemikiran tentang dirinya sendiri. Tak ada jejak lain yang saat itu direkam. Namun, tanpa sadar memorinya mengulang adegan tersebut dengan sangat detil melalui ingatannya.

Pada saat itu, ia tengah merasakan jatuh cinta. Cinta yang teramat kompleks. Sehingga pemandangan di sekitarnya tak lagi penting.


I went on supplying everyone with new stories


Watanabe sering bercerita tentang Storm Trooper jika sedang bersama dengan Naoko. Kisah kesehariannya bersama teman sekamarnya ini membuat gadis itu tersenyum dan tertawa. Keceriaan yang ditampakkan pada wajah sang gadis membuat Watanabe mulai gencar berbincang dengan teman sekamarnya.

Storm Trooper adalah lelaki gagap dari keluarga sederhana. Dia memilih jurusan Geografi agar bisa membuat sebuah peta. Memiliki rutinitas setiap pagi di jam tertentu untuk olahraga. Melakukan gerakan-gerakan peregangan sambil mendengarkan radio. Yang sering membuat Watanabe kesal bukan main.

Berawal dari pertanyaan Stroom Trooper pada Watanabe mengenai hal apa saja yang dibahas jika bersama perempuan. Kemudian dijawab dengan hal yang bahkan tidak diingat Watanabe. Kemudian, menjadi hal yang berlebihan hingga Stroom Trooper mendapat cemooh dari teman-temannya. Sementara dia tak tahu siapa yang mengawali perbuatan tersebut.

Semua dilakukan Watanabe demi membuat Naoko tersenyum mendengar ceritanya dan tertawa. Hingga mencapai satu titik, Watanabe mengarang cerita tentang Stroom Trooper.


Girls would get carried away listening to him, they’d drink too much and end up sleeping with him


Adalah seorang lelaki bernama Nagasawa yang sangat pandai. Berasal dari keluarga kaya. Di sakunya selalu terdapat uang yang lebih dari cukup. Kebersamaan Watanabe dan Nagasawa berawal dari buku The Great Gatsby.

Nagasawa rupanya seorang pecinta karya klasik dimana difokuskan pada karya dari pengarang yang sudah meninggal 30 tahun lalu. Meski penulis The Great Gatsby baru meninggal 28 tahun saat itu, tapi bagi Nagasawa itu adalah pengecualian.

Watanabe membaca buku tersebut baru beberapa kali. Namun, Nagasawa sudah membacanya puluhan kali. Tidak terhitung karena dia sangat menyukai buku itu. Dari sinilah keduanya menjadi dekat.

Selain memiliki wajah yang enak dipandang, pintar dan kaya. Nagasawa juga pandai berbicara. Dia menawari Watanabe untuk ikut serta bersamanya. Berbincang dengan para gadis. Minum bersama. Kemudian, meniduri mereka secara bebas tanpa harus terikat. Kurang lebih, sudah tujuh puluh gadis ditiduri Nagasawa.

Dan, Watanabe mulai ikut meniduri gadis-gadis tersebut.

No place I could take it to or hide it away


Pada ulang tahun yang ke dua puluh. Watanabe menghabiskan waktunya bersama gadis itu. Dia mendengarkan Naoko berbicara terus menerus. Seolah ada sesuatu yang berbeda dari diri gadis itu.

Dari satu cerita ke cerita lain, memang memiliki kaitan tapi seolah tidak logis. Seperti ada yang aneh dalam ceritanya. Inilah yang membuat Watanabe merasakan ada sesuatu yang salah dalam diri Naoko. Namun, dia tak berkomentar dan hanya diam mendengarkan.

Saat malam menjelang dan keduanya hendak pulang. Naoko menangis kencang. Tangisan yang memilukan hingga membuat Watanabe kebingungan.

Usai membawa Naoko ke apartemennya. Keduanya menghabiskan waktu bersama. Di malam itulah, Watanabe baru menyadari kalau Naoko belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun. Bahkan, ketika Watanabe menyebut nama Kaizaki karena kebingungan, Naoko tetap terdiam.

Tak lama sesudah kejadian itu, Naoko dan Watanabe tidak pernah berhubungan lagi. Naoko seolah menghilang. Pindah dari apartemennya. Dan tidak membalas surat panjang yang ditulis Watanabe kepadanya.
Di awal bulan Juli, Watanabe menerima surat balasan dari Naoko. Berisi tentang kehidupannya setelah pertemuan mereka. Naoko memutuskan untuk pindah dan mendapatkan perawatan di sebuah tempat yang nyaman untuknya. Berulang kali perempuan itu menegaskan bahwa apa yang telah terjadi bukan kesalahan siapapun. Wanita itu tidak ingin Watanabe menyalahkan dirinya sendiri. Namun, Naoko sendiri pun belum siap jika harus bertemu dengan Watanabe dalam waktu dekat.

Surat yang tidak begitu panjang itu membuat Watanabe merasa hampa. Meski Naoko menjanjikan pertemuan selanjutnya dan harapan agar keduanya bisa mengenal lebih dalam satu sama lain. Tapi, tetap membuat Watanabe merasa tidak tahu harus berbuat apa.


It's a quiet place, so people talk quietly


Setelah penantian yang cukup panjang. Akhirnya Watanabe berhasil mendapat balasan dari Naoko. Surat tersebut cukup panjang. Menyeritakan kegiatan Naoko di sebuah Hostel. Kegiatannya seperti berkebun dan olahraga.

Dalam surat tersebut, Naoko mengundang Watanabe untuk menjenguknya. Menurutnya, pertemuan mereka akan menjadi pertemuan pertama usai Naoko menjalani perawatan.

Di tempat tersebut, setiap pasien tidak pernah ada yang keluar dari lokasi perawatan. Tidak ada yang mencoba untuk kabur. Bahkan, salah seorang pasien yang kemudian membantu tim penyembuh bernama Reiko, dia sudah berada di tempat tersebut selama 7 tahun.

Tidak ada yang mau pergi dari tempat itu. Bahkan, yang beranjak pergi tidak pernah bisa kembali lagi, meski ingin. Di sana, orang-orang selalu terbuka satu sama lain. Tidak ada rahasia sama sekali. Mereka berbicara dengan pelan. Tak ada yang berusaha menarik perhatian apalagi berusaha untuk menjadi pusat perhatian.

Keseragaman itu membuat Watanabe merasa aneh. Seolah mereka semua seperti sebuah mesin yang bergerak dan bersikap sama. Tidak ada yang berani tampil berbeda. Demikian pula dengan Naoko. Yang berbicara pelan, sama seperti yang lain.

Tempat perawatan tersebut terdiri dari para staf ahli dan dokter. Namun, seperti Reiko, yang sebelumnya adalah seorang pasien. Kini menjadi staf dokter karena membantu pasien lain. Konsep di tempat tersebut menanamkan bahwa setiap orang punya kelebihan. Dan harus mengajarkan kelebihan tersebut kepada orang lain yang belum bisa. Tanpa terkecuali.

Jadi, bisa saja pasien mengajarkan dokter sesuatu. Atau pasien mengajarkan suster. Hal tersebut adalah sesuatu yang biasa. Karena, semua yang ada di sana merupakan satu bagian dan saling memiliki. Demikian pula saat Watanabe berkunjung ke sana. Dia dikenakan peraturan, bahwa dirinya sudah menjadi bagian tempat tersebut.

Contoh peraturannya adalah seorang pengunjung dan pasien dilarang berbincang berdua saja. Harus tetap ada pendamping, dalam hal ini Reiko menjadi pendamping Naoko dan Watanabe. Saat keduanya berbincang, mereka harus tetap jujur dan terbuka.

Aktivitas di tempat terapi tersebut cukup banyak. Ada pekerjaan bercocok tanam, sehingga orang-orang di sana tidak kelaparan. Ada juga pekerjaan mengecat dan menggambar. Setiap pasien dibuat aktif melakukan  banyak hal.


After a certain age you have to start performing for yourself. That’s what music is


Reiko mengawali kehidupannya di Sanatorium menjadi seorang pasien. Dan, selama tujuh tahun berada di tempat tersebut. Ia mulai membantu pasien serta tim lainnya di Sanatorium belajar bermain musik.

Pada kunjungan Toru Watanabe ke tempat tersebut. Di sebuah kesempatan saat membiarkan Naoko menyendiri. Reiko menyeritakan kehidupannya. Dimana sejak masih muda, Reiko sering dirawat di rumah sakit jiwa.

Sebelumnya, ia adalah seorang anak yang berambisi ingin menjadi pemusik profesional. Kemampuannya dalam bermain piano sangat mahir. Namun, pada suatu kali sebelum pentasnya. Reiko mengalami tragedi yang terus membawanya ke dalam kegelapan.

Ia tak bisa menggerakkan jemarinya. Hingga saat kemudian, tibalah ia di posisi tak mampu lagi bermain piano atau alat musik apapun. Dan berusaha menjauh dari semua yang berkaitan dengan musik.

Tak lama setelah itu, ia mengalami kondisi yang mengharuskannya berada di rumah sakit jiwa bertahun-tahun.

Setelah kehidupannya di rumah sakit jiwa. Reiko mencoba memulai kehidupan barunya. Ia menikah dengan seorang lelaki yang membuatnya merasa terlahir kembali. Kemudian memiliki anak hingga masa kegelapannya berada jauh di belakang.

Hingga pada suatu titik. Pertemuannya dengan seorang gadis remaja. Merenggut semua kebahagiaan Reiko. Hingga pada akhirnya dia menghabiskan waktunya di Sanatorium.


The world is full of problems far more urgent and relevant than Greek tragedy


Di kelas Drama dan Sejarah, ada seorang gadis bernama Midori. Dia menemui Toru pertama kali di sebuah kafe. Saat dia bersama dengan teman-temannya. Midori mengajaknya berbincang dengan santai sampai meminjam bukunya. Dengan mengakui bahwa dia banyak tidak mencatat materi selama studi berlangsung. Terakhir, ia berjanji akan mengembalikannya esok hari di kafe yang sama.

Namun, saat waktunya tiba, Midori tidak pernah datang. Rasa penasaran membuat Watanabe kemudian mencari informasi mengenai hal itu. Alamat Midori terletak di sebuah toko buku. Seorang lelaki mengangkat teleponnya dan mengatakan ia berada di rumah sakit. Karena itulah Watanabe berusaha untuk menunggu kehadiran Midori.

Beberapa hari kemudian, Midori muncul. Gadis itu meminta maaf padanya dan berjanji akan menjelaskannya lain waktu. Sambil mengembalikan buku milik Watanabe. Mereka pun kemudian menghabiskan waktu bersama setelahnya. Makan bersama, menikmati pemandangan bersama hingga berjalan-jalan bersama.

Kehadiran Midori, akhirnya mampu membuat Watanabe sedikit melupakan sejenak kesedihannya. Hubungannya dengan Naoko masih terbilang rumit. Mencintai seseorang yang selalu memintanya untuk menunggu sampai waktu yang masih belum ditentukan. Adalah hal yang melelahkan. Waktu yang dihabiskan dengan Midori pun banyak memberikan warna padanya. Terlebih Midori termasuk gadis yang cerewet tapi menghibur. Terbuka pada banyak hal.

Suatu ketika, Midori akhirnya memutuskan hubungannya dengan sang pacar. Kemudian mengakui perasaannya pada Watanabe. Meskipun, Toru masih belum bisa memberikan jawaban dan kepastian padanya. Midori tetap bersikukuh bahwa ia baik-baik saja. Dan, memberikan waktu pada Watanabe untuk memberikan jawaban.

Ada suatu saat, ketika Watanabe baru kembali dari sanatorium menjenguk Naoko. Ia berubah menjadi sosok yang berbeda. Seolah jiwanya tidak berada di sana. Hingga Midori berulang kali mengingatkan padanya bahwa Watanabe tampak berbeda. Pikiran yang melayang membuat hubungan Toru dan Midori akhirnya sempat merenggang. Keputusan ini diambil agar Toru menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya. Melalui surat yang dikirimkan Toru pada Midori, ia meminta maaf.

Selama beberapa minggu, Toru merasakan kesepian. Biasanya hari Sabtu akan ia habiskan bersama Midori. Kini, harus kembali ia habiskan sendiri. Melakukan aktivitas yang sering dilakukan olehnya setiap Sabtu, yaitu mencuci baju. Kemudian hari minggu, menyetrika baju. Tapi, lama-kelamaan perasaan Toru akhirnya mengakui dirinya kesepian tanpa kehadiran Midori. Dalam suratnya, ia meminta maaf kembali dan menantikan waktu pertemuan keduanya lagi.

Ketika keduanya memutuskan untuk berbaikan lagi. Midori dan Toru pun menghabiskan waktu bersama. Berbincang banyak hal sambil mengeluarkan kerinduan-kerinduan yang terpendam. Saat malam tiba, Midori meminta Toru untuk menghabiskan waktu bersamanya. Di sanalah, Midori menyentuh Toru pertama kali. Membuat perasaan Toru kebingungan.

Di satu sisi, ia sudah berjanji pada Naoko untuk terus mengingatnya. Hingga ia bertahan selama beberapa bulan tidak meniduri gadis manapun. Namun, sentuhan Midori padanya, membuat hati Watanabe bergetar. Ia merasa nyaman dan senang bersama Midori. Tapi, kesulitan yang dihadapinya membuat Watanabe berusaha untuk mencari jawabannya.


The thought of what she had lost in the meantime also gave me cause for regret


Pada suatu kesempatan, Naoko akhirnya membuka diri. Dia mau menyeritakan banyak hal pada Toru. Terutama tentang keluarganya yang tidak pernah dia ketahui.

Kizuki adalah orang kedua yang meninggal karena bunuh diri dalam hidup Naoko. Kenyataan tersebut sesungguhnya membuatnya terguncang. Apalagi, ia mengenal Kizuki sejak usianya 3 tahun. Pertemanan yang cukup dekat. Hingga keduanya berpacaran. Selama pacaran, Naoko belajar mengenal banyak hal. Namun, ada sesuatu yang dipendamnya begitu lama. Ia tidak pernah bisa bergairah saat bersama dengan Kizuki. Meski dia sangat mencintainya.

Juga kisah tentang masa kecil Naoko. Dimana ia menjadi orang pertama yang menemukan kakaknya bunuh diri di kamarnya. Sang kakak yang merupakan sosok ceria, riang, pintar dan cekatan. Tidak pernah disangka oleh Naoko menyimpan sesuatu yang membuatnya bunuh diri. Bahkan, sesaat sebelum kakaknya meninggal dunia, Naoko masih bercerita padanya.

Saat itulah, untuk pertama kalinya Naoko mengalami sesuatu. Kehidupannya seolah terputus dari dunia saat melihat jasad kakaknya yang masih menggantung di dalam kamarnya. Hal ini yang di kemudian hari membuat Naoko seolah sulit untuk terus bergerak maju. Ada sesuatu dalam dirinya yang seolah patah dan rusak. Hingga kemudian, kematian Kizuki karena bunuh diri pun pada akhirnya membuat Naoko tak kuasa lagi. Dirinya seolah hancur berkeping-keping.

Meski sebenarnya, bukan hanya Naoko yang merasakan hancur. Demikian pula Toru yang pada saat itu menghabiskan waktu terakhir kalinya bersama Kizuki sebelum ia memutuskan untuk bunuh diri. Pada akhirnya, kematian Kizuki pun membuat Toru merasa terputus dari kehidupan. Tapi, dia masih terus berusaha untuk melanjutkan hidup. Meski trauma itu masih terus menghantuinya setiap malam.


No truth, no sincerity, no strength, no kindness can cure that sorrow


Saat dirawat di sanatorium. Naoko sempat mengalami perubahan. Terkadang kondisinya membaik. Sesekali, muncul lagi kondisi buruk yang membuatnya seolah gamang. Hal yang selalu dipertanyakan pada Toru adalah bagaimana jika dirinya tak pernah bisa mengalami sesuatu yang menyenangkan lagi?

Di suatu waktu, ketika surat-surat Toru justru dibalas oleh Reiko. Dalam penjelasannya, Naoko mengalami kemunduran kondisi. Ia bahkan tak mampu untuk menulis balasan surat pada Toru. Sehingga meminta tolong pada Reiko untuk menuliskannya.

Tak lama berselang, kabar terbaru mengatakan kalau Naoko pindah ke tempat lain. Dimana pengobatannya lebih baik dari tempat Aimi Hostel. Sehingga, Toru harus berserah jika suratnya nanti tidak akan dibalas.

Namun, kabar itu kemudian datang. Melalui suara Reiko pada Toru di suatu hari. Naoko meninggal dunia, menggantung diri di dalam hutan. Hanya ada secarik kertas yang ditinggalkan olehnya, berisi keinginannya untuk menyerahkan bajunya pada Reiko. Sebelum meninggal, Reiko sempat percaya bahwa Naoko akan baik-baik saja. Karena, malam sebelumnya, Naoko bercerita pada Reiko segala hal tentang Toru.

Dan, kematian Naoko membawa dampak yang besar bagi Toru. Ia mengungsikan diri, melakukan perjalanan yang jauh. Meninggalkan Midori tanpa memberinya kabar. Tak mengurus dirinya dan hanya berusaha untuk berjalan sejauh mungkin demi mengusir rasa sesak dalam dadanya.


Tokoh


Toru Watanabe seorang lelaki yang tampak sederhana namun berkarisma. Suka membaca dan menonton film. Mendengarkan musik serta menikmati makan siang sendiri di kafe. Memiliki kemampuan dalam berkata-kata sehingga lawan bicaranya merasa takjub padanya. Tidak begitu banyak berbicara. Pemuda yang sopan dan santun. Serta memiliki tujuan dalam hidupnya yang membuat banyak orang kagum. Ia sangat tekun dalam belajar. Termasuk lelaki yang mampu membahagiakan banyak perempuan yang pernah tidur bersamanya.

Nagasawa merupakan teman Watanabe yang pertemuannya karena membaca buku yang sama. Yaitu buku The Great Gatsby. Ia berasal dari keluarga yang kaya raya. Senang berpesta dan berganti-ganti pasangan tidur. Meski dirinya sudah memiliki pacar bernama Hatsumi. Namun, lelaki ini tidak bisa setia dan tidak mau mengikat hubungan yang serius dengan sang pacar. Bersama Nagasawa, Toru belajar meniduri banyak gadis sampai berganti pasangan saat berhubungan intim.

Stormtrooper adalah kawan satu ruangannya Toru. Lelaki yang canggung dan gagap. Senang melakukan olahraga dengan radio. Dimana saat melakukan gerakan tersebut, dia melakukannya secara otomatis. Mengambil jurusan geografi hanya karena ingin menggambar peta. Lelaki yang sangat suka kerapihan hingga kondisi ruangan Toru selalu bersih. Keberadaannya selalu menjadi cerita lucu yang dikisahkan pada Naoko. Namun, saat Stormtrooper pergi suatu hari tanpa kabar. Toru merasa sedih dan kesepian.

Naoko itu gadis yang dipacari sahabatnya Toru, namanya Kizuki. Selama dia berpacaran, sering keduanya mengajak Toru ikut serta. Sambil menjodohkannya dengan kawan Naoko yang lain. Gadis ini tipe yang tidak banyak berbicara. Namun, jika sudah nyaman berbincang dengan Toru, maka dia akan mengeluarkan banyak hal dalam kepalanya yang unik. Ia termasuk gadis yang cantik dan lucu. Namun, banyak rahasia yang dia simpan untuk dirinya sendiri. Selain itu, Naoko adalah gadis yang manis dimana bisa membuat banyak orang sayang padanya.

Kizuki, sahabatnya Toru yang meninggal karena bunuh diri. Tidak meninggalkan pesan apapun pada keluarganya. Malam sebelum ia melakukan aksinya, ia mengajak Toru untuk bermain. Kondisinya saat itu termasuk sangat berbeda. Karena, biasanya Kizuki menolak untuk terlalu kompetitif. Tapi, saat itu ia justru amat sangat tidak mau kalah dari Toru. Kematian Kizuki membuat Toru seperti terlepas dari dunia yang dijejakinya.

Midori seorang gadis yang ceria, lucu dan gemar bercerita. Ia termasuk gadis yang pemberani. Dibuktikan saat ia mendekati Toru saat makan siang. Pembawaannya yang humoris, sering membuat lawan bicaranya merasa nyaman menghabiskan waktu dengannya. Bersama Midori, Toru mulai menjalani kehidupan yang sedikit berwarna. Hingga bisa belajar mengesampingkan sejenak pikirannya yang melayang-layang. Yang disukai Midori dari Toru adalah pembawaan Toru yang santai dan tampak tidak terlalu mempermasalahkan banyak hal. Selain itu, kehidupan Midori yang tidak begitu ceria justru membuatnya tampak berbeda.

Reiko pernah mengalami kondisi saat dirinya harus dirawat di rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun. Berkeinginan untuk menjadi pianis profesional. Namun, impiannya harus musnah karena tekanan yang demikian kerasnya. Memiliki suami yang bisa membuatnya mengalihkan dunia kelamnya. Hingga memiliki anak yang cantik dan pintar. Wanita ini senang memainkan alat musik di sanatorium dan sering mengajari pasien atau tim kesehatan di sana belajar main musik.

Why Norwegian Wood ?


Siapa yang belum tahu kalau Norwegian Wood merupakan judul lagu yang dinyanyikan oleh The Beatles? Kalau belum tahu, saya pun begitu. Saat membaca novel ini, barulah saya tahu kalau judul buku ini sama dengan judul lagu tersebut. Isi kisah di dalamnya pun sekelam lirik lagu yang dinyanyikan oleh The Beatles. Berkisah tentang seorang lelaki yang memiliki pacar dan menghabiskan waktu dengannya. Namun, saat ia terbangun justru ia sendirian.

Pada lirik terakhir berbunyi, Isn't it good Norwegian wood? Sesuai dengan kondisi Naoko yang meninggal dunia di dalam hutan. Secara keseluruhan lirik di dalam lagu tersebut, benar-benar terasa berkaitan.

Seperti pada lirik pembuka lagu yang membuat saya terenyuh berbunyi, I once had a girl Or should I say she once had me. Di sini, saya kemudian bisa membayangkan langsung kesunyian dan kesepian serta kegalauan Watanabe saat menjaga cintanya untuk Naoko. Betapa ternyata hubungannya tidak semulus yang dibayangkan. Bukan termasuk hubungan yang membiarkannya melepas rindu tanpa harus menanti berbulan-bulan hingga menempuh jarak yang cukup jauh.

Pada bagian di sanatorium, Reiko memainkan lagu ini dengan petikan gitar. Cobalah dengarkan lagunya sambil membacanya. Saya merasakan ada daya magis yang membuat para karakternya seolah hidup dan nyata.


Writing is Healing




Jika memperhatikan sejak awal bab. Tentu akan bertemu satu kalimat. Yang menggambarkan kondisi Toru, dimana ia berusaha untuk menulis kenangannya. Kenangan inilah yang kemudian kita nikmati. Kenangan tentang Naoko, Midori sampai Reiko. Apa yang dilakukan olehnya

Which is why I am writing this book. To think. To understand. It just happens to be the way I’m made. I have to write things down to feel I fully comprehend them. Demikian kalimat yang menegaskan bahwa ini adalah sebuah buku yang berisi memori tentang mereka yang disayangi olehnya. Kalimat itu pula yang sempat dipertanyakan para pembaca Murakami. Mengenai apakah buku Norwegian Wood adalah memoar nyata yang memang terjadi padanya?

Di dalam buku ini pun Watanabe digambarkan sering menuliskan surat pada mereka yang disayangi olehnya. Surat panjang berisi kegiatan setiap harinya. Rasa rindunya. Hingga apa yang ada dalam pikirannya dengan bentuk kalimat yang sederhana namun indah.

Namun, ternyata apa yang ditulis olehnya ternyata merupakan suatu bentuk usaha. Untuk meyakinkan dirinya bahwa dia masih hidup. Karena, dikelilingi dengan orang terkasih yang memilih mengakhiri hidup. Bukan hal yang mudah, bahkan bagi Toru sekalipun. Untuk itulah, menulis merupakan penegasan dalam dirinya. Wake up and think about it. Think about why I’m still here.


This is Our Real World



Kita adalah manusia yang akan menjalani kehidupan baik itu menyenangkan ataupun tidak. Manusia yang bisa merasakan hidup atau meninggal. Manusia yang mengalami kesedihan dan rasa senang. Di sini, Murakami ingin memberikan pemahaman dari pembelajaran filsafat paling dasar. Pengenalan tentang diri kita dan hidup yang kita jalani.

Alih-alih menggambarkan kehidupan yang sulit kemudian datang masa bersenang-senang. Dimana pada setiap manusia, nyatanya kesenangan itu seringnya tidak bisa langsung diingat dan dirasakan. Karena, ingatan tentang rasa sedih justru sering mendominasi. Murakami menyajikan rasa sakit dan kesepian serta kesedihan melalui bentuk yang cukup logis.

Tidak perlu menawarkan tangisan yang berlebihan. Memberikan sang tokohnya rasa sakit yang berlebihan seperti drama picisan. Tapi, rasa sakit yang dirasa justru memiliki alasan yang kuat. Seolah kita disadarkan bahwa manusia memiliki alasan dan trauma yang sering membuatnya terkekang sepanjang hidupnya. Ada yang bisa lolos ada pula yang membutuhkan bantuan untuk meloloskan diri.

Murakami membicarakan kematian. Sebuah kejadian yang tentu akan dialami oleh manusia manapun. Seperti tertulis begini, Death exists, not as the opposite but as a part of life. Dalam kalimat tersebut, bisa digaris-bawahi, kalau Murakami ingin menyadarkan pembaca bahwa inilah kehidupan. Jangan takut mati tapi bukan berarti terlalu berani menantang kematian. Hanya saja, itu tetap bagian dari kehidupan. Bahwa, esok bisa jadi kita yang mengalami kematian itu melalui cara yang memang sudah digariskan oleh Tuhan.

Kenapa saya mengatakan dengan cara yang terlalu religius? Meski Watanabe tidak menjelaskan hal ini secara keagamaan. Tapi, dalam kalimat di bagian menjelang akhir buku ini tertulis, We were alive, she and I. And all we had to think about was continuing to live. Di sinilah titik dimana saya bisa mengatakan kalau buku ini justru mengajarkan agar kita harus mau terus bertahan hidup.

Melanjutkan kehidupan dan merelakan mereka yang meninggal dunia. Tentu rasanya sedih dan sakit, karena itulah digambarkan pula bagaimana kondisi Toru yang sempat merasa depresi usai Naoko meninggal. Bagaimana ia menghabiskan waktunya, namun kemudian membatasi rasa sedihnya untuk memaksa diri melangkah maju.


Every Person Has Their Own Battle



Dalam buku ini juga disematkan bagaimana perjuangan para tokohnya dalam menjalani hidup. Bahwa kehidupan tokoh di dalam buku, tidak selalu menyenangkan dan hura-hura. Betul, Toru merayakan kebebasannya dengan meniduri banyak gadis. Namun, lihatlah apa yang tidak ditampakkan di luar. Dalam dirinya, Toru memiliki pertarungan batin yang selalu membuatnya bertanya-tanya. Dan membuatnya terkadang menjadi dramatis dengan pikirannya.

Demikian pula, seperti apa sosok kakaknya Naoko yang tampak sempurna juga ceria. Tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya. Gemar membantu dan banyak disukai oleh orang. Namun, dia tak menunjukkan perjuangannya untuk tetap bertahan hidup, hingga kemudian ia menyerah.

Pun seperti apa perjuangan Reiko untuk tetap mencintai musik. Meski kemudian dia harus mengalami kejadian buruk yang membuatnya terpisah dari masyarakat serta berpisah dari keluarganya. Tapi, selama proses pemulihan, nyatanya Reiko masih terus berusaha untuk bermain musik. Meski ketika bermain musik kerap membuatnya teringat dengan kenangan buruk.

Semua orang memiliki trauma dan pertarungan dalam dirinya masing-masing. Di sini, pembaca disajikan permasalahan yang sebenarnya juga terjadi dalam hidup. Bagaimana kita belajar untuk tidak menjustifikasi apa yang dialami oleh setiap orang. Hingga pembelajaran sederhana untuk terus bergerak maju.

Bahwa, memiliki pemikiran dan trauma hingga membuat kita merasa aneh dan berbeda. Adalah sesuatu yang wajar saja. Seperti yang dikatakan oleh Reiko, “What makes us most normal, is knowing that we’re not normal.” Dimana sebenarnya tidak ada batasan yang jelas antara normal dengan tidak normal. Kita semua memiliki ketidak-normalan yang sering disembunyikan.

Watanabe, menunjukkan bahwa persona itu ada. Dia menunjukkan sosok berbeda saat bersama Nagasawa, berbeda saat bersama Midori juga bersama Naoko. Namun, bukan berarti itu adalah sesuatu yang aneh. Karena, itu semua merupakan jati diri Watanabe. Hanya dia yang bisa memilih dan memutuskan ingin menunjukkan perasaan dan mengatakan pemikiran apa dan bagaimana pada orang tertentu.


Kesimpulan



Pada akhirnya, kita semua memiliki banyak kisah dan kenangan yang ingin disimpan. Baik dalam ingatan maupun dalam tulisan di buku yang kita sembunyikan dari orang lain. Jika diingat kembali, tentu itu semua merupakan kisah pergulatan yang sama dengan apa yang terjadi pada Watanabe dan tokoh lainnya.

Wajar jika buku ini banyak dibahas dan dijadikan favorit. Karena, konflik dan permasalahan yang ada di dalamnya bersisian dengan permasalahan beberapa orang di kehidupan nyata. Apalagi kutipan di dalamnya berisi banyak hal yang bisa membuat kita mengangguk setuju. Terlebih bagi mereka yang pernah merasakan dan sadar bahwa jalan kehidupannya pun tak selalu mulus.

Sebagai penutup ada dua kutipan dari buku ini yang ingin saya bagikan :


“The dead will always be dead, but we have to go on living.”

“Life is here, death is over there. I am here, not over there.

0 Comments