journal of terror



Ini buku karya Sweta Kartika pertama yang saya baca. Tak menyangka kalau beliau juga seorang illustrator. Barulah saya mengenalnya melalui akun Instagram dengan nama yang sama, Sweta Kartika. Melihat karya-karya beliau, rasanya tidak aneh dengan ketertarikannya pada dunia hantu.

Dalam novel ini, ada beberapa mitos yang baru saya ketahui. Mengenai posisi jendela yang sejajar dengan pintu dan cermin. Dimana bisa membuka gerbang dunia lain.

Jika kalian penasaran dan suka dengan kisah horror dalam negeri. Jangan sampai terlewat dengan cerita ini. Untuk tema yang diangkat termasuk ringan, namun gaya penyampaiannya yang bisa membuat saya menggigil. Apalagi disematkan pula ilustrasi di dalamnya, sehingga membuat imajinasi saya melanglang buana.

Kartu Tanda Buku 


Judul : Journal of Terror – Kembar | Penulis : Sweta Kartika | Halaman : 339 | Cetakan Pertama, 2019 | Format : Ebook Gramedia Digital | Bahasa : Indonesia | Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama - M&C!


Nama Lelaki Itu Prana 


Dia seorang anak yang dilahirkan ke dunia bersama kembarannya. Tapi, sangat disayangkan karena sang kembaran meninggal sebelum mengecap dunia. Rasa sedih membuat keluarganya sangat memperhatikan Prana.

Di ulang tahunnya yang ke-lima. Prana mengalami kejadian mistis pertama kalinya. Ia tiba-tiba pingsan saat pesta ulang tahun. Dan, terbangun sambal melihat dengan buram ke seluruh ruangan. Ada lelaki lain yang tak dikenalnya. Namun, karena kacamatanya tak berada di dekatnya. Prana kecil berpikir kalau sosok itu adalah seorang dokter.

Usai kembali tidur. Prana kecil terbangun di tengah malam. Kemudian, berlari ke kamar mandi untuk buang air kecil. Namun, ada sesuatu yang berbisik di dekatnya. Rambut sosok itu mencuat dan memantul di cermin. Meski tak terlihat langsung oleh Prana.

Saat membalikkan tubuhnya, Prana melihat banyak sekali makhluk berwajah pucat dengan atmosfer dingin di sekitar. Berdiri mematung. Mereka membuat Prana ketakutan hingga membeku sudah tubuhnya. Tak mampu ia teriak apalagi berlari.

Usai kejadian itu, Prana menjadi anak yang aneh. Dia meminta semua cermin di rumah itu disingkirkan. Tak hanya itu, terkadang Prana menangis tanpa sebab. Atau justru tak mampu membedakan mana manusia dan mana makhluk lain. Hanya satu anggota keluarga di rumahnya yang memahaminya. Yaitu sang Nenek.

Sosok Nenek yang sangat amat sayang dengan cucunya ini. Bisa memahami apa yang dialami oleh Prana. Karena, beliau juga bisa melihat keberadaan mereka – para makhluk dari dunia lain. Dari penjelasan sang Nenek, akhirnya Prana bisa belajar menerima kemampuannya. Serta, terjalinlah ikatan yang erat antara cucu dan nenek. Ikatan yang bukan sekadar saling mengetahui mengenai dunia lain. Tapi, seperti ikatan antara orangtua dan anaknya, bahkan lebih erat.

Tahun Ke-Enam Belas Dan Masa Remaja 


Di usianya ini, Prana mengalami kesedihan. Pasalnya, sang Nenek meninggal dunia. Namun, beberapa minggu sesudah wafat, pintu kamar Prana diketuk saat ia sedang tidur. Ketika membukanya, ia melihat sang nenek meminta selimut karena kedinginan. Otaknya saat itu belum mencerna apa yang tengah terjadi. Seketika saja Prana menyodorkan selimutnya kepada sang Nenek.

Keesokan harinya, ia terbangun dalam kondisi kedinginan. Kemudian, teringat kejadian semalam. Sambil memastikan apakah sosok sang nenek itu nyata atau hanya mimpi semata. Saat berada di kamar sang nenek, ia bisa melihat selimut yang diberikan olehnya.

Masa remaja Prana terbilang cukup membosankan. Ia mempunyai rutinitas yang itu-itu saja. Apalagi ditambah dengan sosoknya yang lebih nyaman sendirian. Tidak begitu suka berkumpul dengan teman lainnya. Bahkan, cenderung tidak memiliki teman dekat. Entah kenapa orang yang bisa melihat makhluk khusus ini selalu digambarkan demikian.

Meski tebakan saya adalah agar Prana tidak ketukar antara manusia dengan makhluk lain. Suatu ketika, ia harus pulang mengenakan angkutan umum, yaitu bus Cakra Jaya. Sore itu Prana segera memilih bus tersebut agar segera sampai di rumah. Sang pengendara, seorang lelaki setengah baya, terlihat mendekati bus untuk berangkat. Di perjalanan, saat hendak sampai di tempat tujuannya. Yaitu lapangan kecamatan. Mata Prana melihat sosok gadis remaja berseragam SMA tengah duduk di kursi belakang.

Gadis itu seperti asyik menatap pemandangan di luar yang mulai gelap. Tanpa menghiraukan situasi di dalam bus yang sudah sepi. Hanya tinggal Prana dan beberapa orang yang ada di dalamnya. Sang supir melirik Prana melalui kaca spion. Kemudian menerima bayarannya.

Di hari lain, Prana kembali melihat sosok gadis itu. Dan, hari itu pula dia mendapat senyuman pertama dari sang gadis. Namun, tanpa disadari, sang supir bus justru memperhatikannya agak lama sebelum menerima bayaran dan turun di lapangan kecamatan. Rasa penasaran Prana semakin bertambah dari hari ke hari. Bayangkan saja, ini kali pertama baginya merasakan jatuh hati.

Tibalah saat dirinya berusaha nekat untuk berkenalan dengan sang gadis. Namun, sempat terhenti karena pertanyaan sang supir bus yang menemuinya sebelum ia berbincang dengan gadis itu. Dari pertanyaan itulah akhirnya kehidupan Prana merasa terombang-ambing. Ia kemudian merasakan patah hati justru sebelum bisa menyatakan cintanya.

Dan setelah itu, rutinitas Prana berubah. Ia harus menolong sang gadis bertemu dengan mantan pacarnya dan menyelesaikan apa yang sempat tertunda.


Ini Kisah Drama Atau Horor? Sisi Menakutkannya Dimana? 



Seperti yang saya sebutkan di atas. Ini kisah yang termasuk ringan. Tentang seorang anak yang bisa melihat makhluk halus. Kemudian, dihadapkan pada sosok-sosok yang menyeramkan melalui narasi detilnya. Sampai kemudian, kita akan tahu bahwa mereka adalah makhluk yang kebingungan. Mereka terjebak antara dunia yang fana ini dengan alam tempat mereka seharusnya berada.

Ada juga, yang terjebak akibat masih ada tanggungan di dunia yang belum diselesaikan. Bagian horor tentu pada sosok makhluk halusnya. Beberapa justru mendatangi Prana dengan penampakan yang menakutkan. Seperti gadis di rumah tua yang kepalanya copot. Atau sosok paman yang datang dengan wajah berdarah-darah disertai bau amis yang bukan main. Hingga sosok seorang kakek tua yang duduk di pojok ruangan gelap. Sambil merokok dan minum kopi.

Masalahnya, Prana ini tidak bisa membedakan mana makhluk halus mana manusia. Itulah sebabnya, saya mengatakan terkadang ada rasa menggigil dalam diri saya saat membacanya. Takut-takut kalau Prana akan salah tebak seperti kasus pertamanya. Karena, hingga mencapai terakhir pun dia masih kaget karena belum mampu membedakan sosok tersebut.

Kesimpulan 


Sebenarnya, saat Prana hendak berbicara dengan sosok gadis berseragam SMU kemudian mendapat tatapan aneh dari supir bus. Saya sudah bisa mengira akan dibawa kemana cerita ini. Benar memang. Tapi, yang membuat penasaran adalah alasan di balik itu. Serta penyelesaiannya.

Meski di beberapa bagian, saya masih melihat ada banyak hal yang belum memuaskan saya. Seperti, kenapa saudara kembarnya hanya muncul beberapa kali. Tapi, itu pun tidak menyelesaikan sesuatu apalagi mendapat jawaban.

Sampai, kenapa sosok bapak tua itu tidak dijelaskan apa dan bagaimana kasus yang menimpanya. Saat mencapai akhir, saya menebak kalau buku ini akan berlanjut. Eh, benar saja. Usai membaca ulasan bookstagram lain. Dia mengatakan akan menunggu buku selanjutnya.

Dari situlah saya bisa memahami, terkadang feeling saya tidak butut-butut amat, ehe ehe ehe. Jadi, saya cukup duduk saja untuk menanti kisah selanjutnya. Akan dibawa kemana Prana dengan Sukma, yang tidak saya ceritakan di sini. Apalagi yang akan mereka temui nanti?

Semoga saja tidak terlalu over kisahnya nanti. Karena, saya akan malas kalau tiba-tiba si Prana menjadi ksatria piningit dadakan bersama kerisnya itu.

Kalau ditanya, kenapa saya suka buku ini? Jawabannya, karena gaya berceritanya apik dan mengingatkan saya pada utasan seorang selebtwit spesialis cerita horor. Namanya Brii. Kalau suka nongkrongin Memetwit setiap malam Jumat, pasti tahu siapa dia.


Saya jadi ingin bertanya, semisalnya punya teman bisa melihat hantu. Apa yang akan kalian lakukan saat dia mengatakan ada sosok yang duduk di dekatmu? 



0 Comments