Review Novel The Silence of Bones, Misteri Pembunuhan Kelam di Era Joseon

review novel



Kalau kamu penasaran sama cerita drama korea yang berdasarkan sejarah atau biasa disebut historical fiction. Novel ini jangan sampai dilewatkan. Tapi, kalau hatimu tidak baik-baik saja atau lemah pada cerita fiksi yang berkaitan dengan orang tua - anak juga tentang hubungan antar saudara. Sebaiknya jangan baca novel ini dulu.


Saya menyukai karya June Hur. Jujur saja, saya pikir ini akan sama seperti A Crane Among Wolves dimana masih ada sisi manisnya. Di novel ini, sisi manisnya adalah ingatan kebersamaan di masa kecil Seol bersama keluarganya.




Selama membaca novel ini, tidak ada kecurigaan sedikit pun. Seperti biasa, June Hur selalu mampu mengemas misteri dengan apik. Bahkan, pengemasan drama yang berdasarkan sejarah asli di Korea Selatan ini pun cukup menarik untuk diulik lebih lanjut. Menegangkan dan juga membingungkan, dua hal yang cukup dominan saya rasakan selama membaca novel ini.


Ada juga sih perasaan gregetan dengan sosok Seol. Tapi, dia baru berusia 16 tahun dan seorang sosok Damo penasaran.


Sebelum membaca novel ini, saya sampaikan ada beberapa trigger warning seperti pembunuhan dan deskripsi mayat. Kekerasan fisik dan penyiksaan, gambaran terkait eksekusi mati, trauma kehilangan dan diskriminasi gender juga kelas masyarakat.



The Silence of Bones : Atmosfer Kelam dan Pembukaan Sejarah Sinyu Bakhae


Kisah ini mengangkat sejarah kelam di Korea era Joseon saat terjadi penganiayaan besar-besaran terhadap umat katolik yang terjadi di tahun 1801. Sekitar tiga ratusan umat Katolik dipenggal kepalanya dan ribuan lainnya ditangkap, disiksa dan diasingkan.


Latar dalam cerita ini berada di suasana yang cukup mencekam dimana saat Damo Seol - dalam cerita fiksi ini menjadi tokoh utama - melayani kepolisian. Para Damo wanita yang bertugas di kepolisian diberi tanggung jawab untuk memeriksa mayat yang berjenis kelamin wanita.


Ini pula tugas Damo Seol selain harus melayani semua petugas kepolisian seperti menuangkan minum, menyediakan makanan, memanaskan api di tungku hingga mencuci pakaian serta selimuti. 


Pada masa itu, tentu saja semua pekerjaan tak hanya melihat latar belakang kemampuan baca tulis tapi juga latar belakang keluarga. Hanya keluarga terpandang dan bangsawan yang biasanya dibolehkan untuk melamar menjadi perawat hingga jabatan penting lainnya meski tetap di bawah lelaki. 


Sementara asal usul keluarga yang terasing atau bahkan pelarian seperti keluarga Seol. Harus menerima kenyataan, mereka hanya boleh menjadi pelayan dan pesuruh.


Ada hal yang memang selalu ada dan selalu menjadi tempat persembunyian, juga tempat mendapat informasi dari masa ke masa. Tempat itu adalah lokasi hiburan atau Rumah Gisaeng dimana banyak pejabat, pengembara dan orang tertentu yang bertukar informasi di sini.


Setiap rahasia benar-benar ditutup rapat selama bisa menguntungkan pihak Gisaeng atau bisa membuat mereka aman. Namun, tidak menutup kemungkinan juga kalau setiap pembunuhan bisa  terungkap dengan mencari saksi mata dari pengunjung atau pihak Gisaeng.


Ini asumsi saya karena setiap membaca novel historical fiction atau novel fiksi lain, selalu menyorot tempat hiburan sebagai tempat yang lumrah untuk berbagi rahasia penting. Kayaknya kalau di Konoha tempat ngopi bisa jadi tempat berbagi rahasia juga ya, hehehehehehe apa ya gimana? hehehe. Pis Lov en Gaul. 😎



Misteri Mayat Bangsawan di Tahun 801

Telah ditemukan sosok mayat wanita yang ternyata seorang anak dari keluarga terpandang, Lady O. Kematiannya cukup membuat keributan di pihak kepolisian. Sebab, selain desas-desus mayat wanita ini yang ternyata seorang Katolik. Tragedi ini juga terjadi disaat banyak masyarakat yang mengikuti ajaran baru ini ditemukan tewas. Kebanyakan adalah rakyat biasa, sehingga kasusnya tidak mencuat.


Kematian Lady O ini yang kemudian disusul dengan kematian seorang pengajar keluarga O. Kematian berturut-turut ini membuat Inspektur Han kewalahan. Ditambah posisinya yang banyak diincar untuk dijatuhkan. Membuat atasannya Pak Shim dan Komandan Yi berusaha untuk membantunya.


Pada mulanya, rasa penasaran membuat Damo Seol mencari tahu tentang kebenaran di balik kematian Lady O. Keingintahuannya yang besar ini membuat Seol akhirnya dekat dengan beberapa petinggi di kepolisian terutama Inspektur Han.


Lambat laun, objektivitas Seol berubah menjadi subjektif terkait Inspektur Han. Dia tak hanya fokus pada Lady O tapi juga penasaran dengan masa lalu Inspektur Han. Alasannya cukup masuk akal, sebab ada banyak persamaan pengalaman sang Inspektur dengan seseorang yang sedang dicari di Ibu kota.


Sebenarnya ada persamaan antara kematian Lady O dengan Ahn yang merupakan seorang pengajar keluarga O. Keduanya mati dengan cara mengenaskan, diduga menganut agama Katolik dan hidung mereka dirusak oleh pembunuhnya.


Sedikit demi sedikit, setiap misteri terungkap disertai dengan rasa sedih dan kerinduan yang mendalam.



Worth It Nggak Baca The Silence of Bones?


Sejujurnya saya baru mengetahui kalau masuknya ajaran Barat di era Joseon ini cukup menegangkan. Tujuan utama penolakannya adalah agar warisan leluhur tetap bisa dijaga. Namun, pembunuhan yang terjadi menjadi kisah kelam bagi masyarakat pada era itu. Oiya, pembunuhan ini hanya sebagai awal, sebab setelahnya terjadi genosida besar-besaran terkait pembersihan umat Katolik pada masa itu.


Tidak seperti karya June Hur, karya yang satu ini didominasi dengan drama keluarga. Kerinduan akan keluarga yang terpecah akibat perpisahan yang terpaksa. Juga rasa kehilangan yang mendalam.


Meski akhir dari ceritanya cukup landai dan menenangkan tapi perasaan sedih dan kehilangan masih terasa. Karena itu, sebelum membaca novel ini pastikan dalam keadaan mental yang baik.


Hal yang menarik dan membuatku tidak bosan membaca sampai akhir adalah cara June Hur mengemas misterinya, menjaga tempo tegangannya hingga penggambaran betapa mencekamnya suasana saat itu. Mungkin, karena memang saya sudah menyukai karyanya sejak Red Palace ya, jadi saya betah membaca sampai akhir.



Kutipan Dari Novel The Silence of Bones 


“Anxiety is a potent trigger. It leaves clues all over you. The pattern of your speech, the color of your cheeks, the movement of your hands.” - June Hur (The Silence of Bones)


“Hiding secrets makes an individual flighty.” - June Hur (The Silence of Bones)


“You are free to suspect, but do not jump to conclusions. Do not fixate on only one possibility. Wait until you have thoroughly examined all angles of the case.” - June Hur (The Silence of Bones)







Kartu Tanda Buku


Judul : The Silence of Bones

Penulis : June Hur

Tebal :  343 halaman

Bahasa : Inggris

Format : Ebook Playbook

Penerbit : Macmillan

ISBN : 9781250229557



Overall, novel ini memang patut untuk dijadikan to be read sebab tak hanya menyajikan drama tapi juga wawasan baru terkait sejarah kelam di Korsel. Dalam novel ini, June Hur menurut pendapat saya, memiliki kecondongan terhadap keadilan dalam menganut agama. Walaupun hanya secara implisit. 


Setelah ini saya mungkin akan lanjut membaca The Forest of Stolen Girls dan Behind Five Willows. Sayangnya, saya baru menyadari kalau belum memasukkan ulasan The Red Palace ke sini. Mungkin kapan-kapan, hehe.


Posting Komentar

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis dihapus.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak