Menyelesaikan novel Nyaliku Kecil Seperti Tikus karya Yu Hua sudah beberapa hari yang lalu. Tapi, keinginan untuk menuliskan ulasannya rasanya besar namun diselimuti kebingungan untuk memulai.
Alasannya, karena kumpulan tiga cerita ini cukup banyak berisi simbol-simbol yang menyiratkan pesan tersembunyi. Tidak begitu sulit sebenarnya namun cerita - cerita dalam buku ini menimbulkan banyak pikiran bagiku.
Tiga cerita di dalam buku ini memiliki tema cerita yang berbeda tapi unsur pesan moral kehidupan yang sama. Dan seperti karya Yu Hua lainnya, yang sarat akan budaya di Cina dalam kehidupannya. Dimana budaya ini juga banyak memengaruhi keputusan para tokohnya.
Tiga Cerita Dalam Satu Buku Tentang Hidup Karya Yu Hua
Judul dari ketiga cerita pendek di buku ini adalah Nyaliku Kecil Seperti Tikus, Sebuah Kenyataan dan Suatu Kebetulan.
Di ulasan ini sepertinya saya memilih untuk menuliskan kesan-kesan saya selama membacanya. Pesan apa yang saya tangkap dari cerita. Bisa saja berbeda dengan kajian ilmiah terkait cerita ini.
Nyaliku Kecil Seperti Tikus
“Anakku, Yang Gao, adalah anak yang paling jujur dan lembut. Dia patuh dan rajin, akan melakukan apapun yang diminta dan dia tidak pernah membuat masalah. Tidak pernah berkelahi dengan orang lain, bahkan aku belum pernah dengar dia memaki seseorang.” - Hal 8
Dari cerita ini, salah satu poin yang terlintas dalam pikiran dan juga menurut pendapatku berkaitan dengan kehidupan di dunia nyata. Bahwa, menjadi baik, rajin dan tidak membuat masalah saja tidak cukup untuk dianggap baik oleh lingkungan sekitar.
Begitu pula cara Yu Hua menunjukkannya melalui cerita Yang Gao. Cerita dimulai dari pernyataan Yang Gao yang selalu berkata jujur dan bertindak yang sesuai dengan peraturan dan norma yang ada. Namun, dia adalah anak yang tidak berani berenang karena takut tenggelam. Tidak berani memanjat pohon karena takut jatuh. Hingga tidak berani dengan beberapa binatang karena takut binatang tersebut menyakitinya.
Sederhananya, semua keputusannya berasal dari rasa patuhnya pada nasihat orangtuanya. Ayahnya terutama yang banyak membuat Yang Gao menjalani kehidupan yang sesuai. Sang Ayahnya sendiri memang orang yang berupaya untuk selalu jujur. Namun, sering juga dijadikan bahan ‘julid’ orang sekitar bahwa sosok Ayahnya merupakan lelaki yang penakut.
Hingga suatu ketika, ia harus menyaksikan kejadian yang menyakitkan dan menyedihkan ketika ia menghabiskan waktu bersama sang Ayah. Kepergian Ayahnya tidak mengubah Yang Gao menjadi pemberontak, dia masih tetap menjalani kehidupan yang jujur dan apa adanya.
Meski beberapa hal agak berlebihan seperti saat temannya yang bernama Lu Qianjin memintanya bertukar profesi hingga Yang Gao akhirnya menjadi petuga kebersihan. Tampaknya tidak sesuai karena jadi terkesan terlampau pasrah. Namun, Yang Gao sama sekali tidak terganggu dengan keputusannya sebab yang ia butuhkan sudah mencukupi kehidupannya.
Mengingatkanku pada buku Anak Kantoran karya Samuel Ray. Terkait istilah “Isi perut seseorang akan tampak saat menjalani kehidupan di kantor. Ada yang cenderung ambisius dan ada juga yang santai karena disesuaikan dengan tujuan mereka bekerja”.
Namun, pesan yang cukup mendalam dari sudut pandang kehidupan Yang Gao yaitu kejujuran itu terkadang tak cukup untuk menjadikan seseorang tampak baik. Terkadang kecemerlangan seseorang bisa saja dilalui dengan cara yang kotor. Ditunjukkan pada cara teman-teman Yang Gao saat di dunia kerja.
Kejujuran Yang Gao ini juga menampakkan sisi lain dari orang yang ada di sekitarnya. Lucunya pada bagian akhir, yaitu ketidakjujuran pernyataan seseorang menjadikan akhir cerita seperti komedi satir.
Sebuah Kenyataan
“Hujan ini seperti sudah turun selama 100 tahun.” - hal 48
Latar cerita dimana hujan menjadi pendukung dalam cerita sehingga membangun nuansa lembab, gelap dan sendu dalam cerita. Sebab, kisah di sini memang kesannya cukup gelap dibanding dua cerita lain di novela ini.
Tiga keluarga tinggal di satu atap. Sang Ibu yang sudah tua dan dua anak lelakinya yang sudah berkeluarga dan masing-masing memiliki anak. Ditambah, semua anak dan menantunya bekerja sehingga cucu-cucunya ditinggal di rumah.
Sang Ibu selalu mengeluhkan tubuhnya yang sakit, terasa ada bunyi patahan pada tulangnya serta aroma busuk yang sering dikeluhkan oleh Ibunya ini. Sosoknya yang sudah tua namun masih harus tetap dipaksa untuk menjalankan peran tambahan sebagai pengawas cucu-cucunya, menjadi bagian yang cukup erat dengan dunia nyata.
Rasa lelah dan sakit ketika seorang wanita memasuki usia menua merupakan hal yang valid. Menurunnya kadar estrogen dalam tubuhnya hingga mengakibatkan kadar kalsium berkurang drastis dan bayang-bayang osteoporosis lebih dominan. Membuat perempuan yang menua memiliki banyak keluhan dan cenderung kurang semangat ketika harus mengawasi cucu-cucunya.
Demikian dengan sosok sang Ibu ketika anak dan menantunya berangkat kerja. Ia memasuki kamarnya sambil merasakan setiap ujung tubuhnya nyeri dan merasa ketidakmampuan yang sangat besar sehingga tampak seperti depresi. Energi yang tersisa hanya bisa digunakan untuk menjalani kegiatan menopang kehidupan seperti makan, mandi dan bernapas.
Kurangnya kemampuan sang Ibu mengawasi cucu-cucunya membuat Pippi sang cucu pertama melakukan sesuatu yang ia contoh dari perilaku Ayahnya. Kekerasan yang sering ia lihat terjadi pada Ibunya Pippi yang dilakukan Ayahnya Pippi, membuatnya mencontoh dan memenuhi rasa penasarannya pada sepupunya. Hingga kejadian memilukan dan menyeramkan terjadi. Dan hujan menjadi simbol yang menguatkan cerita dengan mengaburkan sedikit jejak.
Kematian terjadi membuat kematian berikutnya juga terjadi akibat dendam. Pertikaian antar anak membuat masing-masing memenuhi dendam yang mengikuti kematian lainnya. Sementara sosok sang Ibu yang sudah semakin tidak berenergi tidak lagi mampu baik untuk menengahi pertikaian apalagi ikut menenangkan salah satunya. Bahkan, kematiannya datang sesunyi rumahnya ketika semua sudah benar-benar selesai.
Namun, kematian sang Ibu belum menjadi penyelesaian. Sebab, yang tersisa benar-benar hanya menantunya saja. Dan kisah selesai dengan narasi mutilasi di dunia medis untuk menjadikan organ tubuh seorang terdakwa untuk donor pasien lain.
Sisipan kisah yang buatku juga sama seperti komedi satir tersisa pada donor testis yang membuat terdakwa memiliki kemampuan regenerasi keturunan.
Suatu Kebetulan
Cerita ketiga ini buat saya pribadi cukup absurd, harus membaca dua kali untuk menyadari bahwa ada dua peristiwa yang terjadi. Dan peristiwa ini sebenarnya tidak berkaitan tapi seolah memiliki keterikatan akibat percakapan panjang lebar melalui surat.
Di dalam surat tersebut, pembahasan yang terjadi membangun narasi bahwa alasan Cheng He di suratnya merupakan sudut pandang yang pasti dari sebuah peristiwa. Sementara Jiang Piao memegang peranan untuk menyeimbangkan pikiran berlebihan dari Cheng He.
Awal mulanya adalah terjadinya satu peristiwa yang membuat Cheng He dan Jiang Piao tidak sengaja tertukar KTPnya. Dan Cheng He menghubungi Jiang Piao untuk mengembalikan KTP melalui sebuah surat.
Dalam lika-liku pertukaran surat ini sekaligus informasi pemikiran, ada banyak aktivitas direkam baik dari sudut pandang Jiang Piao maupun Cheng He. Aktivitas ini banyak mengeksplorasi perempuan sebagai objeknya.
Namun, yang cukup menggelitik adalah sosok Cheng He yang overthinking menghabiskan banyak harinya untuk memikirkan alasan-alasan terkait satu peristiwa. Bahkan, membuatnya hanya fokus pada hal tersebut sementara Jiang Piao lebih fokus pada kehidupan di dunia nyatanya seperti hubungannya dengan wanita.
Pada proses ini mengingatkanku pada novel Strange Houses karya Uketsu dimana momen analisa atau opini pribadi merupakan kegiatan menonjol dari ceritanya. Namun, secara tense atau ketegangan memang Strange Houses yang paling sesuai buatku. Sementara dalam cerita ini, ketegangan tidak ada tapi rasa bosan yang cukup besar justru tumbuh akibat jalinan opini yang menyelesaikan kisah dengan akhir yang menjadi peristiwa baru.
Dan di cerita ini, klasifikasi usia pembaca menjadi untuk usia 21 tahun ke atas. Sementara dua cerita sebelumnya, tidak memuat bagian adegan dewasa namun memuat kekerasan.
Kartu Tanda Buku
Judul : Nyaliku Kecil Seperti Tikus
Penulis : Yu Hua
Tebal : 178 hal
Bahasa : Indonesia Terjemah
Format : Buku Fisik
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 9786022919148
Setelah Membaca Novela Nyaliku Kecil Seperti Tikus Karya Yu Hua
Perasaan setelah membaca novel ini? Cukup terganggu akibat simbol-simbol yang sempat saya terjemahkan kemana-mana. Hingga harus mengobrol dengan AI demi bisa mendapat kesadaran bahwa terkadang menelaah kisah fiksi ini boleh juga memercayai apa kata hati seperti apa adanya.
Seperti ketika membaca kisah pertama berjudul Nyaliku Kecil Seperti Tikus, sempat tertarik mencari tahu apakah memang terjadi kejahatan pada kawannya pada malam itu? Tapi, kata hati mengatakan bahwa ini berkaitan dengan kejujuran. Dan, ya memang kata AI hanya itu dan tidak ada hal terjadi pada malam seperti dikatakan.
Overall, yang paling membahagiakan adalah justru saya berhasil menuliskan ulasan dari novela ini. Sebab, proses membaca buku ini cukup normal, tapi proses merangkai kalimat untuk ini butuh waktu yang ternyata cukup lama.
Semoga saja artikel ini tetap menyisipkan informasi bermanfaat. Saya memang menyukai karya Yu Hua sejak novel Chronicle of a Blood Merchant. Ada beberapa buku karyanya di rumah yang mungkin next time akan saya baca. Suka juga dengan tulisan Yu Hua?
