MGJ8NWBaNat6MWtdNWBaNqJ6NCMkyCYhADAsx6J=
Bacaan Ipeh
MASIGNCLEANLITE103

Ulasan Buku Anak Mat Lela Gila


Ulasan anak mat lela gila


Anak Mat Lela Gila merupakan literature dari negeri jiran. Ditulis oleh Ishak Haji Muhammad yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Sako, seorang penulis asli dari Malaysia. Novel ini berisi kritikan sosial masyarakat Melayu paska penjajahan. Ada banyak perubahan komunikasi hingga pergeseran budaya yang saat itu terjadi. Tak hanya itu, kritikan pun tertuju pada pola yang kerap diterapkan tanpa sadar dan menjadi budaya di masyarakat manapun termasuk asia.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, sehingga kita sebagai pembaca bisa mengeksplorasi semua perasaan tokohnya. Menggali lebih dalam kehidupan Bulat, yang diasuh oleh sosok bernama Mat Lela yang dikenal sebagai orang Gila. Dan novel ini sudah dipermak sedemikian rupa sehingga bahasa melayu yang kental di dalamnya masih bisa kita nikmati.

Kartu Tanda Buku

Judul : Anak Mat Lela Gila

Penulis : Ishak Haji Muhammad

Halaman : 174

Format : Ebook Gramedia Digital

Bahasa : Indonesia - Melayu

Diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor

ISBN : 978-602-433-659-2

Tentang Bulat Anak Mat Lela Gila

Pak Ishak memulai kisah dengan pemikirannya mengenai kata Bulat. Kenapa setiap hal yang ada di dunia ini, Bulat, entah itu sebagai bentuk maupun kata istilah, selalu mendapat posisi yang istimewa. Maksudnya?

Begini, seperti bentuk bumi, matahari, bulan, semua bentuknya hampir bulat. Meski tidak bulat sepenuhnya. Atau, bentuk batu kerikil yang berada di pinggiran atau di tengah jalan, bentuknya sedikit bulat. Belum kalau masuk ke dalam istilah, seperti keputusan bulat, ditelan bulat-bulat. Tidak ada istilah ditelan kotak-kotak, tidak ada.

Dari pemikiran inilah akhirnya Bulat, sosok anak bayi mungil yang ditinggalkan di rumah buatan Mat Lela yang disebut Gila, dinamakan demikian. Dan nasibnya bergulir seperti bola yang bentuknya memang bulat. Tapi, sebelum kehidupan Bulat utuh, ada sosok yang mengawali semua perjalanan hidup si Bulat ini, yaitu kisah lelaki bernama Mat Lela.


Mereka Bilang Mat Lela Gila

“Maka ketika semufakat orang banyak di dalam kampung si Bulat mengatakan ia gila, maka gilalah ia pada prasangka dan di mata mereka itu.” - Hal 5

Kondisi masyarakat melayu yang sama majemuknya seperti di Indonesia. Tentu hal demikian menjadi sesuatu yang tampak sama atau malah memang sama penerapannya di masyarakat kita. Saat seseorang mengatakan bahwa si anu itu begini dan begitu, tentu semua orang akan mudah menyetujuinya. Apalagi jika yang mengatakan itu adalah orang yang memang memiliki pengaruh kuat di masyarakat setempat. Sudah pasti pengaruhnya lebih kuat dan besar.

Demikian juga dengan kehidupan Mat Lela yang tampak aneh hingga disebut Gila oleh warga di kampungnya dan sekitarnya. Ia adalah lelaki yang rajin sekali membersihkan rumput hingga mengepel lantai masjid. Tapi, tidak pernah sama sekali melakukan ibadah.

Ia juga dikenal sebagai lelaki aneh yang membangun rumah di dalam hutan. Dengan menggunakan tumpukan batu yang ia dapat di kali dekat hutan. Rumah yang hanya memiliki satu pintu, berbentuk seperti rumah panggung dan pintunya hanya ada di bagian bawah. Tak memiliki jendela apalagi ruangan yang dibagi-bagi.

“Jikalau sudah bulat orang mengatakan ia gila. Maka haruslah tentu Bulat Gila.” - Hal 5

Kalimat ini tentunya sebagai sindiran mengenai pemahaman banyak orang yang kemudian menjadi pembenaran. Meskipun Mat Lela yang dikatakan gila ini tidak merusak apalagi mengganggu banyak orang. Justru dia yang lebih sering diganggu. Namun, jemari telunjuk semua warga tetap menjadi keputusan yang sah bahwa ia adalah orang gila.

Kritikan terkait dominasi masyarakat mengenai orang gila ini berlanjut. Memenuhi bab tersendiri sambil berkenalan dengan sosok Mat Lela. Ada banyak sindiran yang nyatanya memang tak lekang oleh waktu. Masih relevan hingga saat ini. 

“Barangkali makna yang tepat dengan sebutan Gila ialah perbuatan, perilaku dan keadaan yang berbeda dari biasanya.” - Halaman 7

“Akan tetap pada zaman sekarang banyak hal yang luar biasa, banyak perbuatan manusia yang melanggar adat, tetapi mereka itu tidak disebut Gila, hanya dunia saja yang dikatakan gila.” - Halaman 8

Cocok dan sesuai dengan keadaan masa kini. Bahkan, cenderung kekinian juga mengingat banyak yang mengatakan “dunia sedang tidak baik-baik saja.” Sementara yang tak baik-baik saja sebenarnya adalah manusianya. Dan inilah yang menjadi nilai lebih kenapa novel ini dialihbahasakan serta dipublikasikan juga di Indonesia.


Bulat Dan Kehidupannya Yang Bergulir

Seperti namanya, Bulat. Kehidupan bocah yang sudah mulai merangkak ini juga sama seperti bola. Bergulir dengan lancar dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu pelukan ke pelukan lain. Semua berawal dari pasangan suami istri Johari dan Permai yang tanpa sengaja mendengar suara seorang anak dari rumah Mat Lela.

Harapan keduanya untuk segera memiliki momongan pun tampak langsung terkabul. Membuat mereka langsung membawa Bulat dari rumah tersebut. Tanpa memikirkan apakah Mat Lela akan mencarinya atau tidak. Mereka membawanya jauh ke dalam hutan tempat tinggal mereka.

Sebenarnya, dari awal diasuh oleh Mat Lela, Bulat tumbuh menjadi anak yang sama sekali tidak pernah menangis. Dia selalu ceria dan tentunya tidak banyak menyusahkan. Bahkan, ketika dia diasuh oleh Johari dan Permai, kehadiran bocah ini justru membawa rezeki tersendiri untuk mereka.

Hingga suatu ketika, Johari memutuskan untuk pergi meninggalkan Permai yang sedang mengandung anak mereka. Dari kasih sayang Permai yang tulus pada Bulat, lahirlah cabang bayi di dalam rahimnya. Namun, karena suatu hal, membuat Johari memutuskan untuk pergi merantau ke negeri seberang, bersama dengan Bulat.

Di perantauan, Johari memang mulai menekuni ilmu agama. Ia yang tadinya merasa hampa dan sedih. Kini seolah kembali menemukan tujuan hidup. Demikian ketika Bulat dibawanya di perantauan. Bocah itu hanya bersedih sebentar saja. Tak lama ia pun mendapatkan kawan sepermainan yang membuat Bulat kembali riang.

Tapi, hidupnya kembali harus bergulir. Ketika Johari menemukan pasangan baru di perantauan. Perempuan beranak tiga itu, langsung mengusir Bulat dari rumahnya dengan memukulnya. Tak tahu harus kemana, akhirnya Bulat bertemu sepasang suami istri yang konon katanya hendak menuju tempat di dataran tinggi.

Sayangnya, baru saja merasakan kesenangan di rumah tempat kedua pasangan yang bergaya ala orang barat itu. Bulat ditinggalkan di rumah mereka. Dengan alasan bahwa keduanya tak lagi memiliki uang dan jatuh miskin. Kembali lagi kehidupan Bulat bertemu dengan kesulitan yang membuatnya bersedih.


Bulat Menimba Ilmu Di Pedalaman Hutan

Ketika Bulat hendak mencari makan. Ia bermimpi bertemu seorang putri yang menyampaikan pesan padanya, bahwa ia harus menuntut ilmu dari seorang yang pandai. Seorang yang dihormati di daerahnya. Kemudian, Bulat mencari orang tersebut dan ia setuju untuk menerimanya menjadi murid selama tiga tahun.

Namun, syaratnya adalah Bulat harus mengikutinya hidup di belantara hutan. Sungguh, rasanya baru saja Bulat merasakan nyamannya pelukan sosok Ibu dari Permai, nyamannya dikasihi oleh Mat Lela, kemudian ia harus kembali menerima kehidupan dengan berlelah-lelah di dalam hutan. Tapi, justru di hutan inilah ia mendapat banyak pelajaran tentang hidup.

“Orang-orang di zaman akan datang akan gemar sekali berbicara pada hal-hal yang mereka tidak tahu. Merendahkan mutu orang lain, menghina dan mencela dengan tidak periksa terlebih dahulu dan dengan tidak ada sebab apa-apa.” - Halaman 24

Melalui pembelajaran di dalam hutan, Bulat semakin bijaksana dalam menghadapi kehidupan. Bahkan, ia juga diajari menyanyi. Seperti nasihat dari putri yang ia temui di dalam mimpi. Hingga sampailah di penghujung tahun ketiga. Saat Bulat harus mengakhiri masa baktinya sebagai murid di dalam hutan. Sebelum ia pergi dan masuk ke dalam masyarakat sosial, sang guru memberikan nasihat padanya.

“Kamu wajib ingat selama hidupmu, jangan menghina orang-orang miskin, jangan mengejek orang-orang yang tidak cukup sempurna kehidupannya seperti orang buta, orang bisu, orang tuli pekung, kurap, anak yatim dan sebagainya.” - halaman 117

Dari pengabdiannya inilah, kehidupan Bulat berangsur membaik. Namanya banyak dikenal di masyarakat. Bahkan, ia bisa bertemu dengan sosok-sosok yang terkenal seantero negeri. Juga keinginannya yang selama ini terpendam mulai menemukan titik terang. Kehidupan Bulat memang bergulir terus, sama seperti kehidupan kita. Bulat, meski tidak bundar seperti bola, banyak menyiratkan kehidupan yang realistis. Bahwa sebagai manusia, kita diharuskan untuk berusaha.


Review Anak Mat Lela Gila

Jujur, waktu pertama memutuskan membaca novel ini adalah deskripsi buku di Gramedia Digital. Menyeritakan tentang Bulat dan si Mat Lela yang Gila ini. Namun, secara menyeluruh, hanya sedikit sebenarnya kisah tentang Mat Lela. Kebanyakan mengisahkan hidup Bulat.

Tapi, ketika aku menyelesaikan buku ini. Justru karena awal mula dirawat Mat Lela, Bulat bisa banyak menerima hal yang luar biasa dalam hidupnya. Keberadaannya dicari oleh banyak orang. Sampai kebenaran-kebenaran yang selama ini tersimpan rapi, pada akhirnya bisa terbongkar karena Mat Lela yang demikian sayangnya pada Bulat, ikhtiar agar Bulat bertemu dengan orang baik.

Bayangkan saja, akibat kesedihannya karena Bulat menghilang. Membuat Mat Lela kemudian meninggal karena tak mampu menahan rindunya. Meskipun ketika narasi mengatakan bahwa hilangnya Bulat mampu menyelamatkan Mat Lela dari fitnah. Tetap saja, ia yang pertama kali merawat bocah yang tadinya masih bayi itu.

Novel ini memang sudah dialihbahasakan dan dibuat sedemikian rupa agar ciri khas melayunya enggak hilang. Tapi, masih ada beberapa hal yang terkadang harus dibaca ulang agar esensi dari kalimat tersebut dipahami. Enggak sulit, cuma memang membutuhkan ketelitian dan ketenangan selama membaca.

Penutup

Membaca novel Anak Mat Lela Gila ini membawaku pada pengalaman membaca yang menyenangkan. Mengingatkanku pada karya-karya A. A. Navis yang juga kental dalam penulisan novelnya. Dan dalam novel ini banyak sekali sindiran terkait masyarakat sosial yang bisa menjadi pengingat kita.

Meskipun ini ditulis pada masa paska kolonialisme. Namun, aku sendiri belum bisa merasakan perbedaannya di bagian apa. Mungkin karena memang wawasanku terhadap negara Malaysia ini yang masih kurang. Sehingga, aku hanya fokus pada kehidupan Bulat dan bagaimana masyarakat memperlakukannya.

Buat teman-teman yang sedang mencari bacaan yang serius dalam artian butuh konsentrasi yang penuh. Serta dibutuhkan ketenangan yang baik. Novel ini bisa dinikmati selama liburan. Biar bisa menambah karya-karya dari penulis asia yang sudah dibaca.

 

Bacaan Ipeh

Reader who love to read as much as she can. Almost of them are ebooks from legal applications. But, I do love books as well. Because, for me it doesn't matter which formats as long as I could enjoy it. Wheter it is audiobooks, ebooks or the real books.

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis dihapus.
5450633874800632471