why secretary kim


Yang mau saya bahas di sini, dua buku Why Secretary Kim. Setelah kemarin malam mencoba baca buku pertamanya. Kemudian selesai dan penasaran buku keduanya, hingga menamatkannya tanpa ingat waktu. Tau-tau udah jam setengah tiga pagi.

Ini lebih baik daripada saya harus maraton nongkrongin episode demi episode dramanya. Karena, setidaknya saya hanya merasakan kantuk sehari, bukan berhari-hari.

Sebelumnya, saya mau kasih peringatan : kedua buku ini ada adegan dewasanya. Bagi yang belum berusia 17 tahun lebih, lebih baik menunggu. Toh, tidak ada salahnya menunggu. Sampai benar-benar siap.


Kartu Tanda Buku


Judul : Why Secretary Kim #1
Penulis : Jeong Gyeong Yun
Halaman : 464
Format : Ebook Gramedia Digital
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Hyacinta Louisa
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
ISBN : 9786025186097

***

Judul : Why Secretary Kim #2
Penulis : Jeong Gyeong Yun
Halaman : 394
Format : Ebook Gramedia Digital
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Hyacinta Louisa
Diterbitkan oleh Penerbit Haru
ISBN : 9786025186028


Why Secretary Kim?


Seperti yang udah bisa ketebak. Cerita tentang Bos Muda pemilik perusahaan ternama yang merupakan paket komplit dari Tuhan. Bayangin aja, cowok tinggi, ganteng, genius, kaya raya dan enggak suka main cewek. SIAPA YANG NOLAK COBA!!

Youngjun ini punya sekretaris bernama Kim Miso. Yang kalau dilihat, mereka tuh kaya kaki kanan dan kaki kiri yang selalu seirama saat bergerak. Miso sudah paham betul, apa yang disuka dan tidak disuka. Jawaban apa yang dibutuhkan oleh Bosnya ini. Dan semua hal yang bikin merasa "mereka berdua terlahir untuk bersama".

Nah, di antara kehidupan pekerjaan, suatu hari Youngjun bertanya sama dirinya sendiri, "Kenapa Sekretaris Kim?" Dari pertanyaan inilah saya tahu, asal judul ini dipilih. Pun, ketika endingnya juga bisa dapat info masalah judul ini.

Masa kecil Miso ini bagian yang bikin saya penasaran. Karena, dia mengingat sesuatu yang cukup samar karena waktu itu Miso masih kecil. Ada trauma yang membuatnya sangat takut dengan laba-laba. Di satu sisi, Youngjun sendiri pun punya trauma yang membuatnya sering bermimpi buruk. Hingga mendatangkan rasa trauma pada pengikat kabel. Keduanya berbagi rasa trauma yang dialami ketika kecil dengan cara yang berbeda.


Sebelum Baca Ini...


Ada hal-hal yang bisa saja menggoda dan menjadi godaan yang teramat berat. Karena, tokoh pria di sini cukup bisa membuat para perempuan muda kesemsem karenanya.

Mungkin ada yang pernah mempertanyakan perihal keberuntungan seseorang seperti Miso. Dia ditolong oleh seorang Oppa saat masih kecil. Kemudian, bertemu kembali ketika dia bekerja sebagai sekretaris berbekal ijazah SMA. Sementara banyak orang yang bekal ijazah S1 saja masih cukup keras perjuangannya.

Lalu, bertemu dengan Bos kaya raya, tampan, tidak neko-neko dengan perempuan. Dan jatuh cinta padanya. Apakah ada yang pernah bertanya, "itu waktu hidupnya Miso gimana sih bisa beruntung seperti itu?" Oh, ayolah, meski sebersit saja pertanyaan itu pernah hadir. Toh, tetap membawa rasa penasaran, kan?

Padahal, kalau dilihat-lihat lagi, tampak kalau kehidupan yang tengah dijalani lebih sulit ketimbang apa yang dihadapi Miso. Dari mulai, dia mengalah bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya dan membayar hutang Bapaknya. Dia berjuang keras belajar Bahasa Asing demi menaikkan level kemampuannya. Dia berusaha berdandan agar tampak lebih baik penampilannya.

Sementara, bisa jadi ada perempuan lain yang lebih keras hidupnya, bahkan sepertinya tidak ada waktu menarik napas dalam-dalam. Masih saja dapat pasangan yang terkadang justru menjadi malapetaka untuknya. Nah, ini yang saya khawatirkan.

Takutnya, kalau banyak yang memiliki pengharapan serupa kehidupan Miso, namun kehidupan menyajikan sesuatu yang berbeda. Maka, bisa saja dia kecewa bukan main akan hal itu.

Itulah sebabnya, buat saya, jika kalian bisa menata hati usai membaca sesuatu yang berbau romantis. Pastikan membaca buku ini, ya. Tapi, kalau tidak bisa menata hati, lebih baik berlatih terlebih dahulu agar tidak kadung mupeng dengan sosok Youngjun di sini.

Yang pasti, saya suka dengan kedua buku ini. Meski termasuk receh banget romancenya, tapi ringan dan bisa membantu mood baca saya lumayan membaik.

0 Comments