Book Review : My Love For You by Chairun Najmi

July 26, 2018

Book Review : My Love For You by Chairun Najmi


My Love For You Penerbit Koru


Dan ini adalah buku ketiga dari Penerbit Koru yang saya baca. Untuk kali ini saya merekomendasikan kepada kalian, para pembaca, yang ingin atau suka membaca novel dewasa dengan cerita yang ringan ditambah dengan komedi pada kisahnya. Betul, drama komedi. Garis besar dari cerita di novel My Love For You ini tentang dua orang sahabat yang menikah. Namun, pernikahan mereka bukan didasari pada cinta, tapi pada satu fakta bahwa keduanya bisa menjalin simbiosis mutualisme.


"Saat definisi cinta bukan lagi tentang aku dan berubah menjadi tentangnya, di saat itulah kupikir aku tidak pernah salah memilihnya." ~ Hal 116


Novel yang menggunakan gaya bahasa ala terjemahan ini berhasil menarik perhatian saya. Gara-gara di beberapa lembar pertama, saya mendapati kalau ceritanya mungkin akan dibandingkan dengan buku Teman Tapi Nikah yang kemudian diangkat ke layar lebar. Bagaimana suka dukanya menikah dengan seseorang yang sudah mengenalmu selama belasan tahun kemudian harus menghabiskan waktu bersama sepanjang hidup. Di novel ini, tentunya ada banyak perbedaan, tapi yang membuat saya memberi penilaian lebih pada novel ini adalah gaya penulisan yang enak dibaca dan ringan serta penokohan yang kuat dan konsisten. Sampai gurauan-gurauan yang membuat saya tersenyum.


Warning : Novel ini diisi dengan pria tampan dan wanita cantik dimana keduanya beruntung karena sudah menjadi sahabat sejak kecil. Jadi, jangan sampai ini membuatmu terlalu iri dengan Alana.



Kartu Tanda Buku

Judul : My Love For You || Penulis : Chairun Najmi || Halaman : 494 || Cetakan pertama, Juli 2018 || Penata Sampul : @teguhra || Desainer Sampul : Prianka Erlian S. || Versi : Ebook Play Book || Bahasa : Indonesia || Diterbitkan Oleh Penerbit Koru Imprint Haru Media || ISBN : 978602521514




Dua Orang Sahabat Yang Saling Mengerti Satu Sama Lain



Bagaimana ya, rasanya menikah dengan sahabat sendiri? Sahabat, loh. Yang pada mulanya sama sekali enggak ada dalam pikiran kita untuk sekadar naksir sedikit saja sama dia, tapi kemudian harus menikah dengannya karena tuntutan usia. Iya, Colin Sanders tengah menghadapi kebimbangan akibat desakan dari orangtuanya untuk segera menikah. Maklum, semakin ke sini, semakin banyak orangtua yang khawatir jika anaknya sudah memasuki usia 30-an, mereka akan kalang kabut mencarikan jodoh untuk anaknya.


Jadi, pernikahan seperti apa yang terjadi pada dua insan yang saling mengerti satu sama lain, namun rasanya sulit untuk membayangkan jatuh cinta pada satu sama lain? Tentunya pernikahan yang didirikan dengan komitmen penuh terhadap satu sama lain, namun tanpa didasari cinta sepertinya. Tapi, betulkah tidak ada cinta antara keduanya? Hmm...sepertinya kalian sudah bisa menjawab sendiri dalam hati, apa dan bagaimana akhirannya. Tapi, tunggu dulu, meski berharap sudah tahu jawabannya, saya akan bertanya lagi nanti.

Kira-kira apa yang akan kalian lakukan, jika memang dalam hati kalian masih belum ada rasa cinta karena cinta itu masih terpendam untuk cinta pertama kalian yang pergi tanpa meninggalkan kabar? Nah, ini yang ingin saya kasih tahu kepada kalian, kalau novel ini, meski tampak sudah terlalu umum namun menyajikan sesuatu yang bisa dikatakan menarik dengan pengemasan yang cukup menggemaskan.


Baik Colin maupun Alana, keduanya bersahabat entah sejak kapan tepatnya, tapi yang jelas mereka dekat ketika masih sama-sama menginjakkan kaki di sekolah yang sama. Tidak lama berselang, entah bagaimana kesepakatan atau mulanya, sampai kemudian Alana selalu saja menempeli Colin kemanapun dia pergi. Demikian pula dengan Colin yang selalu ada di mana saja Alana berada, kecuali ketika Alana bersama pacar-pacarnya. Begini, Colin ini termasuk cowok yang tampan, kaku tapi karismatik namun sifatnya acuh tak acuh. Cueknya tingkat dewa, tapi kalau Alana sedang kesusahan, dia adalah orang pertama yang akan berdiri membela dan membantunya.

Sementara Alana adalah perempuan cantik dan mudah bergaul. Dia gemar bergonta-ganti pacar, tapi tidak sekaligus memacari banyak lelaki dalam satu waktu. Hanya saja, dia tidak akan bertahan jika harus pacaran selama lebih dari tiga bulan. Ada alasan kenapa dia bersikap begini? Ada dong, tentunya, itulah kenapa saya katakan kalau novel ini cenderung cukup enak dan menarik untuk dibaca. Setiap movitasi tokoh-tokohnya memiliki alasan yang kuat dan membuat kita ikut bisa memahami apa yang menjadi keputusan mereka, meskipun terkadang ada rasa sebal menyelimuti.


Bagaimana sih sebenarnya cerita mereka berdua ini? Baiklah saya akan memulainya dari bagian pembuka ketika Alana datang terlambat ke sebuah pesta.......


Keterlambatan Alana datang ke sebuah pesta bukan tanpa alasan, dia memang seorang pelupa yang parahnya sering membuat sahabat-sahabatnya ini geram pada tingkahnya. Apalagi alasannya kali ini adalah dia baru saja pulang setelah menghabiskan beberapa hari tinggal bersama mantannya di apartemen sebelum si lelaki itu menikah dengan orang lain. WHAT?!!! Bahkan Olivia, sepupunya, sampai kebingungan bagaimana harus bersikap terhadap Alana.

Sementara itu Colin kena batunya, karena dia sama sekali tidak tahu menahu kemana Alana menghabiskan hari-harinya itu. Namun, dia menjadi korban akibat alasan Alana yang mengatakan pada orangtuanya bahwa dia menghabiskan waktu bersama Colin. Tidak heran jika kemudian lelaki kaku ini akhirnya menumpahkan kekesalannya karena Ibunya Alana menelponnya untuk menanyakan kabar anak semata wayangnya itu. Sementara dia tidak tahu menahu kemana Alana, tapi karena dia sudah hapal betul bagaimana sahabatnya itu, akhirnya Colin bisa berbohong dengan lancar meski hatinya dongkol.

Alana memang anak semata wayang dari kedua orangtua yang bahkan bingung ingin menghabiskan uang untuk apa. Sementara keseharian Alana adalah berbelanja dan menghabiskan waktu bersama lelaki-lelaki itu. Satu hal yang harus dipahami, Alana sama sekali tidak berminat dengan kekayaan para lelaki yang tidur dengannya. Dia hanya menginginkan romansa dan kelembutan para lelaki tersebut. Karena toh dia sudah terlalu kaya sampai tak harus bekerja tapi bisa belanja sepuasnya.


"Lain kali, kau harus konfirmasi dulu kepadaku biar aku tidak seperti orang bodoh saat harus berbohong kepada ibumu. Sialan kau!" ~ Colin Sanders Hal 9



Ketika Desakan Itu Muncul Dan Alana Bersiap Membantu



Iya, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, jalinan keduanya ini seperti simbiosis mutualisme. Bagi Colin, dia lebih baik menghabiskan waktu bersama orang yang tidak dicintainya namun dia paham dan mengerti tentang orang itu ketimbang menghabiskan waktu dengan orang yang sama sekali belum dia kenal dan pahami. Inilah kenapa dia kemudian mau bekerjasama dengan Alana agar bisa menjalin pernikahan dengannya.

Tapi, jangan salah, mereka berdua ini berkomitmen penuh, loh sama pernikahan mereka. Bukan tipikal kawin kontrak yang jika sudah selesai akan selesai pula pernikahan mereka. Bukan. Itulah yang membuat saya menyukai, meski di bagian akhir nantinya akan ada kekecewaaan tapi tetap memiliki rasa manis yang tertinggal. Aha, hampir spoiler deh saya.

Ada satu kejadian yang saya ingin bagi kepada kalian tentang Alana yang sangat teramat pelupa. Begini, suatu malam Colin mengeluh pada Alana karena bapak dan ibunya Colin sebentar lagi akan kembali dari luar negeri. Dia resah karena orangtuanya ingin dia harus segera membawa calon pengantin ke hadapan orangtuanya. Kalau tidak, tentunya orangtuanya akan turun tangan dalam mencarikan jodoh untuk anak semata wayangnya ini. Dan saat Colin mengeluarkan keluh kesahnya itu, Alana bersedia membantu, menjadi istri Colin. Toh, keduanya memang sudah saling memahami, bukan?

Nah, ketika malam sebelum kedatangan orangtuanya, Colin sempat kebingungan karena Alana pergi tanpa meninggalkan pesan. Seperti biasa, dia sedang menghabiskan waktu dengan lelaki lain. Ketika sampai di rumah, Ibunya Alana mengatakan kalau Colin sudah menunggunya lebih dari berjam-jam yang lalu. Alana kebingungan, ada apa gerangan hingga Colin menantinya dengan sabar? Ternyata, di kamarnya Colin sudah menanti Alana. Saya akan kutipkan penggalan dialog mereka.

"Alana apakah tawaran itu masih berlaku?" 
"Tawaran?" 
"Iya, tawaranmu kemarin." 
*percakapan sedikit panjang dan Alana mengatakan setuju dengan tawarannya, sehingga Colin merasa sudah bahagia namun....* 

"Kupikir hanya aku saja yang pikun. Ternyata kau juga. Dan lagi, kenapa kau harus terlihat depresi begini hanya karena perayaan ulang tahun? Tenang saja aku pasti akan..." 
"AKU TIDAK SEDANG MEMBICARAKAN ULANG TAHUNKU!" teriak Colin. 
"Lalu apa?"  
"Tawaranmu kemarin, apa kau lupa?" 
"Memangnya apa yang kutawarkan padamu?" 
Colin menggigit bibir bawahnya, terlihat frustasi. "Haruskah di saat diriku hampir gila begini kau harus memperparah keadaan?" [Kutipan dari halaman 32]

Cukup...itu penggalannya. Dan saya tertawa terbahak-bahak akibat Alana yang pelupa parah sampai-sampai membuat Colin yang uwuwuw-able ini marah besar. Itu masih sebagian dari kekonyolan persahabatan mereka. Belum kalau semua sahabat-sahabat aka geng ini berkumpul. Ada banyak lagi kegilaan yang membuat pengalaman membaca saya semakin berwarna. Suka saya tuh sama ebook ini, beruntung sekali bisa membelinya dengan harga murah di Play Book.

Terakhir sebelum kalian bingung ingin memutuskan membaca ebook ini atau enggak. Masih ada kutipan yang akan saya sematkan sebagai penutup. Sebelumnya, sebagai informasi, ebook dari Penerbit Koru ini bisa dibaca juga secara gratis di layanan Premium Gramedia Digital. Silakan dibaca, jangan sampai kalian menunda, terutama yang suka dengan genre Young Adult model komedi romantis seperti ini. Inilah penutup yang saya persembahkan untuk kalian....


Demi seluruh saham yang dimilikinya, Colin belum pernah bersentuhan sedekat ini dengan gadis manapun. ~ Hal 53

Demi sepatu terbarunya dari desainer Stuart Weitzman seharga ratusan dolar, Alana tidak akan membiarkan orang-orang tahu tentang pernikahannya. ~ Hal 73

No comments:

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.

Powered by Blogger.