Skip to main content

Menikmati Bacaan Di Tempat Yang Nyaman Bisa Bikin Lupa Waktu

Menikmati Bacaan Di Tempat Yang Nyaman Bisa Bikin Lupa Waktu





Mau bekerja, membaca atau belajar. Pasti akan terasa beda jika dilakukan di tempat yang membuat nyaman. Entah itu suasananya, arsitektur tempatnya atau bahkan kondisi lain yang menjadikan tempat tersebut membantu kita tetap fokus pada aktivitas yang kita jalani saat itu.

Sama halnya seperti tempat yang sering saya jadikan tempat membaca favorit. Yaitu di atas kasur, kamar tidur. Beberapa orang berkomentar kalau tempat ini justru bukan tempat untuk membaca, tapi untuk tidur. Sayangnya tidak demikian dengan saya. Tempat tidur menjadi tempat ternyaman yang bisa membuat saya lupa waktu dan lupa diri setiap kali membaca.

Apalagi kalau bacaan yang saya baca itu termasuk yang bisa membuat saya mudah terbawa ceritanya. Pastinya bisa membuat saya lupa sudah berapa jam saya menghabiskan waktu untuk membaca. Seperti pengalaman saya ketika membaca buku Illuminae, Mata Malam sampai Raden Mandasia. Niatnya ingin membaca sebentar saja, tapi ternyata saya membaca sampai tuntas dan pagi menjelang tanpa bisa saya kendalikan.


Tapi, meski saya merasa teramat nyaman membaca di atas tempat tidur. Namun, tidak menutup kemungkinan juga saya akan membaca di tempat-tempat umum. Seperti di KRL, misalnya. Daripada saya membaca status di kanal sosial, toh lebih baik saya membaca buku elektronik. Atau saat saya pergi ke luar kota dengan menggunakan Kereta Api. Pun saya habiskan dengan membaca.

Biasanya, jika saya menghabiskan waktu untuk membaca selama perjalanan. Akan lebih cepat selesainya. Itulah mengapa saya sering tertolong dengan keberadaan buku elektronik. Karena lebih mudah di bawa dan tidak menghabiskan banyak tempat.


***

Jika tadi saya bercerita tentang tempat favorit. Saya juga ingin menuliskan beberapa kondisi yang sangat-sangat saya hindari untuk membaca. Apa saja? Silakan disimak.


1.Membaca Di Atas Mobil


Entah kenapa saya kurang begitu cocok menghabiskan waktu di atas mobil dengan membaca. Biasanya justru membuat saya pusing dan vertigo saya kambuh. Saya lebih nyaman menghabiskan waktu selama perjalanan dengan mendengarkan musik atau mengobrol.


2. Membaca Buku Di Atas Motor


Kalau tadi membaca buku selama perjalanan dengan mobil membuat saya pusing. Nah, untuk membaca buku saat menjadi penumpang sepeda motor, sangat saya hindari juga. Karena bisa menyebabkan kita kurang waspada. Apalagi kalau sedang naik Ojek Online. Bisa-bisa menimbulkan tindak kejahatan yang tidak diinginkan.


3. Membaca Buku Saat Berkumpul Dengan Keluarga



Setiap kali saya sedang diajak berbincang atau mengobrol dengan orangtua, adik, kakak atau keluarga besar. Saya mengusahakan untuk tidak melakukan aktivitas lain, kecuali darurat. Apalagi membaca buku. Rasanya kurang sopan dan kurang baik. Meski buku adalah sahabat saya yang setia. Tapi, menikmati waktu bersama keluarga, meski terkadang terasa membosankan, tetaplah harus dijadikan hal yang istimewa dan kita hargai. Ingat, semembosankan apapun rasanya, keluarga tetaplah orang yang akan membantu kita dan mendoakan kita dengan tulus.


4. Membaca Buku Saat Makan



Ini baru saja saya hindari setelah sebelumnya, saya sangat menikmati kegiatan membaca buku sambil makan. Rasanya, saya bisa merasakan segala hal yang berfaedah. Tapi, ternyata, setelah saya membaca buku Sejenak Hening karya mas Adjie. Saya baru paham. Bahwa, menikmati apa yang tengah kita lakukan, fokus pada kegiatan kita saat itu, adalah sebuah bentuk kehadiran secara penuh.

Multitasking memang tampak keren dan hebat. Tapi, rupanya, hal ini bisa membawa dampak yang tidak baik bagi kesehatan mental kita. Jadi, sejak saat itulah, saya berusaha menikmati apa yang tengah saya makan dan rasakan, sambil bersyukur sesuap demi sesuap, satu kecapan demi kecapan. Berharap makanan tersebut mendatangkan keberkahan untuk saya.



5. Membaca Buku Sambil Buang Air




Gara-gara membaca buku saat buang air, saya pernah membuat banyak orang mengantri ingin menggunakan toilet juga. Waktu itu saya masih cuek. Sampai suatu ketika, sayalah yang menjadi korban mengantri dan menahan keinginan untuk buang air yang sangat menyiksa. Sejak saat itu, baik di toilet umum atau kamar mandi di rumah. Saya menghindari melakukan kegiatan lain seperti membaca. Karena saya berpikir, seharusnya, membaca bisa membuat diri saya bisa lebih berempati dan bersimpati serta peduli dengan sekeliling saya. Itulah mengapa saya menghindari hal ini. Agar tidak menyusahkan orang lain.


***

Membaca di semua tempat memang mengasyikkan. Apalagi buat saya, dimana membaca menjelang tidur adalah sebuah keistimewaan yang masih saya nikmati hingga saat ini. Manfaat yang saya rasakan saat membaca sebelum tidur, saya bisa mengistirahatkan pikiran saya sejenak dari pergulatan pikiran sehari-hari.

Meski efek sampingnya bisa membuat saya bangun kesiangan. Tapi, sayangnya, saya masih belum kapok juga. [Ipeh Alena]

Comments

Popular posts from this blog

Novel Infinity Karya Mayang Aeni : Konflik Rumit Keluarga Hingga Luka Yang Terpendam

Novel Infinity Karya Mayang Aeni : Konflik Rumit Keluarga Hingga Luka Yang Terpendam


"Petra punya nyokapnya buat ngobatin luka." ~ (Pg 133 - Infinity)

Cerita dalam novel Infinity yang baru saja saya selesaikan ini, sebenarnya memiliki alur pertemuan dua remaja yang sudah terlalu sangat umum. Dari model bad boy kemudian berubah menjadi good boy karena cewek. Dimana pada awalnya si cewek ini sosok utama bullying si cowok dan gengnya.

Seperti pernah teringat cerita serupa dari film-film yang beredar? Sama! Sebab itu saya sempat mencibir kalau novel ini sepertinya tidak ada yang bisa saya bahas dan ada kemungkinan tidak mungkin saya tulis dalam satu tulisan utuh. Eh, tapi ternyata, ketika saya baca kembali dengan seksama dengan mengesampingkan hubungan si cowok dan cewek, ada sesuatu loh yang lumayan membekas.

Sesuai dengan kutipan di atas, merupakan dialog Bani seorang lelaki yang menjadi anggota geng The Fabs. Cowok inilah yang menjadikan Dinda sebagai objek bullying, itu karen…

Zone by Jack Lance | Book Review

Sewaktu Jack Lance datang ke Indonesia atas undangan Bhuana Tim. Promosi yang disebarkan secara besar-besaran itu menyebutkan sesuatu. Kalau Jack Lance ini, ibaratnya sosok Stephen King dari Belanda. Terbukti dari banyaknya buku beliau yang sudah dialih-bahasakan. Selain itu, buku-bukunya juga sudah banyak diadaptasi ke dalam film.

Kehadirannya juga dirayakan sebagai bagian kerjasama Bhuana dengan beliau. Karena, novelnya berjudul Zone ini diluncurkan dalam Bahasa Indonesia. Mengundang beberapa anggota dari banyak komunitas. Membuat acaranya tentu meriah. Apalagi, konon ada iming-iming mendapat novel dari penerbit. Siapa yang menolak?

Nah, berhubung momen tersebut sudah berlalu cukup lama. Saya akhirnya bias mencicipi karyanya. Sambal mencari tahu, apakah benar beliau setara dengan Stephen King. Kali ini, bukunya berjudul Zone yang saya baca. Jadi, apakah ada perbedaan atau persamaan, akan saya bahas sebentar lagi.

Saya ingin menyeritakan sedikit apa yang tertulis di bagian belakang …

Manga Ao Haru Ride

Ao haru ride - Siapa yang gemar dengan manga atau anime genre Romantic Comedy? Saya akan tunjuk tangan juga. Manga berjudul Ao Haru Ride ini juga memiliki genre yang sama. Berkisah tentang kehidupan sehari-hari anak sekolahan, berikut juga dengan masalah percintaan dan persahabatan mereka. Namun, Futaba dan Kou memulai kisah mereka di bangku SMU, seperti melanjutkan apa yang dahulu sempat tertunda namun dengan bentuk yang berbeda.


Kartu Tanda Buku


Judul : Ao Haru Ride || Penulis : IO Sakisaka || Vol. : 13 || Chapters : 53 || Terbit : 13 Januari 2011 || Rating : 4/5


***



Futaba dan Kou pernah satu sekolah semasa SMP, namun sudah banyak yang tahu kalau Futaba ini lumayan membenci anak-anak cowok karena mereka ini ribut, menjengkelkan bagi Futaba. Tapi, di antara banyaknya anak cowok yang membuat Futaba kesal, ada satu sosok lelaki yang lebih pendiam, tidak terlalu tinggi dan suaranya berbeda dengan anak cowok lainnya, namanya Tanaka-kun.

Tanpa disadari, ada sesuatu yang tumbuh dalam hati F…