Book Review : Teach Like Finland by Timothy D. Walker

March 28, 2018

Book Review : Teach Like Finland by Timothy D. Walker


Teach like Finland


Sudah pernah dengar sistem pendidikan di Finlandia? Saya pertama kali mengetahuinya melalui tayangan Where to Invade Next? Yang merupakan tayangan dokumenter seseorang mengunjungi beberapa negara yang memiliki penerapan dalam beberapa bidang yang unik. Salah satunya adalah sistem pendidikan di Finlandia, yang di kemudian hari menjadi bahan perbincangan bagi banyak orang.

Buku ini hadir di saat yang tepat, kala banyak orang mengeluhkan sistem pendidikan di Indonesia yang kerap mengalami pergantian sesuai dengan pergantian menteri pendidikannya. Tentunya, anak-anak sekolah-lah yang menjadi korban percobaan mereka. Alih-alih mengoptimalkan pendidikan dan penerapan pemahaman siswa dari masa ke masa, justru sekarang cenderung hanya diukur berdasarkan “seberapa lama mereka menghabiskan waktu di sekolah”.


Kartu Tanda Baca


Judul : Teach Like Finland
Penulis : Timothy D. Walker
Halaman : 270
Terbit : Juli 2017
Versi : Ebook Gramedia Digital
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786024520441
Goodreads : Rating dan Review




Mungkin sudah banyak yang pernah membaca pesan yang dikirim melalui Whatsapp di grup atau tulisan yang dibagikan di media sosial, tentang sistem pendidikan di Finlandia yang justru menghabiskan waktu mereka lebih sedikit di sekolah, tidak banyak memiliki PR (pekerjaan rumah), tapi justru mereka mendapat nilai yang sangat bagus dan tinggi.

Dalam buku Teach Like Finland, Timothy D. Walker membagikan pengalamannya mengajar di Finlandia selama dua tahun. Setelah mengalami over-work di Amerika sehingga membuatnya ingin berhenti mengajar. Namun, atas desakan sang Istri, akhirnya mereka pindah ke Finlandia. Di sanalah Walker melihat kenyataan yang pernah didengar dari cerita sang Istri. Apa saja kah hal-hal yang bisa diikuti dalam sistem pengajaran dari Finlandia?



Kesejahteraan Siswa Harus Didahulukan



Dari studi yang dilakukan oleh Pellegrine pada tahun 2005, didapati bahwa istirahat selama lima belas menit usai pelajaran selama empat puluh lima menit, terbukti mampu meningkatkan fokus anak-anak. Bahkan, jika waktu istirahat ditunda, maka fokus anak-anak tersebut akan menurun. ~ Hal 9



Tentunya, dengan fakta yang berasal dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa praktisi pendidikan mengungkapkan bahwasannya HAK seorang anak patut diberikan sebelum meminta mereka untuk menyerap pelajaran selanjutnya. Inilah yang juga diterapkan di Finlandia, dimana waktu belajar yaitu empat puluh lima menit kemudian dilanjut dengan istirahat selama lima belas menit dengan total waktu di sekolah hanya beberapa jam saja.

Bagi sekolah-sekolah di Finlandia, bahwa dengan menerapkan waktu di sekolah yang tidak begitu lama, akan membantu para siswa dan guru memiliki waktu istirahat yang cukup. Tidak hanya itu, mereka juta bisa meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan orang lain. Demikian pula dengan para guru yang bisa meluangkan waktu berkunjung ke rumah para muridnya untuk mengenal lebih dekat.

Konsep memahami siswa yang diajar, mampu memberikan masukan yang bermanfaat tentang bagaimana cara si anak belajar hingga apa saja hal yang dapat membantunya dalam proses belajar. Dengan penerapan inilah yang membuat para guru di Finlandia mampu mengenal murid mereka dengan lebih baik dan bisa mengarahkan proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan namun tetap terfokus.

Waktu istirahat seusai sekolah yang banyak juga bisa dimanfaatkan bagi para guru dan siswa untuk berdekatan dengan alam. Entah itu berjalan-jalan ke hutan atau taman. Dengan melakukan kegiatan ini ternyata mampu mencegah tindak bullying. Karena alam bisa membantu anak-anak memiliki kepercayaan diri yang baik. Apalagi di Finlandia, tidaklah sulit dalam menemukan tempat untuk menjelajah alam.


“Penelitian menegaskan bahwa alam dapat sangat membantu anak belajar membangun kepercayaan diri…” ~ Pg 43




Berlatih Kemandirian Sedini Mungkin



Di Finlandia, anak-anak ini memiliki banyak kesempatan melakukan banyak hal sendiri tanpa bantuan orang lain dan dari kesempatan inilah mereka mampu mengarahkan diri mereka sebagai pelajar. ~ Pg 90



Sebelum mengenalkan tentang apa dan bagaimana kemandirian itu, Walker menjelaskan bahwasannya setiap anak-anak yang diajar olehnya, diberikan kebebasan untuk melakukan sesuatu selama lima menit sebelum memulai pelajaran. Sesuatu ini yang membantu mereka untuk memasuki zona fokus sehingga akan meminimalisir distraksi yang nantinya akan muncul di tengah proses belajar.

Selain membantu mereka untuk fokus, pemberian kebebasan dalam memilih ini juga membantu mereka untuk tetap tenang setelah bergerak secara aktif sebelum masuk ke kelas. Proses lima menit yang berharga ini ternyata juga mampu membuat anak-anak untuk duduk dengan tenang dan hening sehingga kelas bisa segera dimulai. Bagi warga Finlandia, apresiasi terhadap keheningan merupakan hal yang paling utama, terwujud dalam perayaan Hari Kemerdekaan Finlandia dimana berbeda dari negara lainnya.

Perayaan Hari Kemerdekaan Finlandia memang berbeda, karena mereka semua serempak akan menyalakan lilin alih-alih mengadakan pawai atau pesta kembang api. Kemudian merayakannya dengan keheningan selayaknya perayaan Nyepi bagi umat Hindu. Dimana para masyarakat di Finlandia mengheningkan cipta selama satu hari demi mengingat jasa-jasa para pahlawan yang gugur di medan perang.

Dengan belajar untuk hening maka anak-anak ini bisa menguasai diri mereka, ini bisa mneciptakan ruang yang cukup untuk satu hari agar mereka bisa tenang selama proses belajar. Oleh karena itulah, anak-anak di Finlandia mampu mengatur diri mereka, kapan harus berinteraksi, kapan harus duduk tenang dan kapan harus bermain.

Menurut Walker, dengan memberikan mereka kebebasan dan pelatihan dalam menenangkan diri mereka, ini mampu membuat mereka sadar dengan diri mereka dan membantu agar mereka bisa berlatih untuk mandiri melalui program mengatur kesadaran diri ini. Tapi, tidak hanya itu, bagi Walker kebebasan anak-anak yang bersyarat itu pun mampu membatasi ruang gerak mereka, sehingga sudah semestinya keterbatasan dan kebebasan bersayarat ini dihapus. Sehingga menciptakan sebuah ruang bagi kreativitas mereka.

Uniknya, bahwa kemandirian juga bisa dibangun melalui interaksi sosial. Dengan berkumpul dan bersosialisasi, ternyata mampu membuat anak-anak ini berlatih untuk percaya diri serta mampu mengelola hubungan mereka sehingga mereka bisa percaya diri dan bisa membuat mereka melakukan segala hal sendiri tanpa bergantung pada teman atau orang di sekitarnya.


Rasa Kemandirian merupakan bahan kegembiraan. ~ Pg 91




***


Dari penjelasan Walker pada bukunya yang populer ini, saya menangkap banyak hal yang juga tengah diterapkan oleh seorang praktisi pendidikan bernama Bukik Setiawan. Saya pernah menuliskan ulasan tentang bukunya yang berjudul Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir. Melalui kedua buku tersebut saya juga dikenalkan beberapa kutipan dan penerapan pendidikan yang pernah ditulis oleh Ki Hajar Dewantara melalui bukunya yang berjudul pendidikan.

Beberapa inti yang saya tangkap, yaitu :



  • Anak-anak bukan makhluk hidup yang tak memiliki hak untuk memilih, sehingga memberi mereka kebebasan dalam proses belajar merupakan sesuatu yang bukan saja menyenangkan bagi mereka tapi juga membantu mereka memahami segala sesuatunya dengan baik.
  • Mengajar sesuatu sesuai dengan karakter anak-anak. Memang tampaknya sulit terlebih jika anak murid yang diajar sangatlah banyak, itulah mengapa di Finlandia dibuat waktu istirahat di sela jam belajar, untuk membantu guru mengetahui bagaimana gaya belajar anak muridnya.
  • Sekolah selama satu hari penuh, bukan sebuah terobosan agar anak-anak mampu menjadi cerdas dan mendapat pengetahuan yang mumpuni. Tapi, bisa menjadikan mereka lelah dan tak mampu berkonsentrasi secara penuh. Ini justru buruk untuk anak-anak karena mereka tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik.
  • Sudah sepatutnya anak-anak diajari tentang kesadaran diri mereka melalui praktek yang kecil seperti memberi mereka tanggung jawab, memberikan mereka kebebasan untuk memilih, menuntun mereka untuk memilih pilihan sesuai dengan kemampuan mereka serta melakukan segala hal yang mereka mampu sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
  • Semakin rutin dan banyak waktu untuk anak-anak istirahat maka akan semakin baik bagi mereka untuk fokus selama pelajaran.



Tentunya, mengajar bukan hanya membuat anak-anak belajar dan membaca serta berhitung, tapi bagaimana melatih fokus, melatih konsentrasi, melatih kemandirian hingga melatih interaksi sosial mereka sehingga di masa yang akan datang, mereka tak hanya memiliki ilmu dan kemampuan yang cukup dalam pekerjaan tapi juga memiliki mental yang sehat dan kesadaran diri yang tinggi. [Ipeh Alena]

1 comment:

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.

Powered by Blogger.