-->

We Are The Weather Ajakan Ikut Gerakan Mitigasi Perubahan Iklim

1 komentar


We are the weather mitigasi iklim


Buku We are the weather yang telah tuntas kubaca ini. Ternyata menelaah dari dasar banget, kenapa sih issue save our planet ini sering enggak begitu long lasting? 

Di beberapa bab awal, Jonathan Safran membeberkan beberapa case study yang menerangkan jawaban dari 'kenapa' ini. Sebelum lanjut, coba deh tanya sama diri kita sendiri, kira-kira udah ada atau belum aktivitas keseharian kita sebagai #MudaMudiBumi yang berkontribusi bagi gerakan mitigasi perubahan iklim?

Kalau ada walaupun seeeediiikiiiit. Berarti kamu cocok buat lanjut baca buku We Are the Weather ini. Apalagi yang udah bener-bener banyak kontribusi secara langsung maupun enggak. Siapa tau buku ini bisa jadi rekomendasi saat mengampanyekan gerakan mitigasi perubahan iklim.

Sebelum lanjut, biar enggak bingung. Siapa tau ada yang masih enggak paham Apa Itu Mitigasi, daku jelasin dikit, ya. Dilansir dari website daerah Kabupaten Purworejo :

Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007, mengatakan bahwa Pengertian Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi adalah kegiatan sebelum bencana terjadi.

Nah, udah kebayang kan? Maksud dari aksi dukungan mitigasi perubahan iklim ini. Bisa dimaksudkan sebagai aksi yang kita lakukan sebelum terjadinya bencana perubahan iklim yang lebih parah. 


Ciri Perubahan Iklim Yang Sudah Terjadi


We are weather mitigasi iklim

"We will need to regard Earth as our only home—not idiomatically, and not intellectually, but viscerally."

Kutipan dari Safran ini cukup mendalam artinya. Tapi, sebelum kita mulai masuk dan memaksa diri kita untuk menghargai Bumi yang kita tempati. 

Sebaiknya kita juga mengetahui dampak perubahan iklim yang sudah terjadi. Sehingga, gerakan mitigasinya bisa tepat sasaran.

1. Iklim kita sudah berubah, sehingga naiknya suhu udara juga memengaruhi kenaikan kelembabannya serta penebalan lapisan atmosfer.

2. Iklim kita sudah berubah, sehingga berubah pula pola curah hujan. Curah hujan bukan lagi sekadar panjang atau pendeknya musim hujan. Tapi, memengaruhi kuantitas atau jumlah debit air atau intensitas hujan yang mulai meningkat / bertambah. 

3. Iklim kita sudah berubah, sehingga semakin meningkat pula anomali iklim. Yang menyebabkan kehadiran badai seperti El Nino sampai La Nina.

4. Iklim kita sudah berubah, sehingga permukaan air laut naik dan cairnya es di kutub utara.


Karena sudah terjadi, berarti gerakan mitigasi perubahan iklim ini, tujuannya untuk mencegah terjadinya anomali yang lebih parah lagi. Apa saja yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?

Sebelum kita lanjut, Safran membahas beberapa alasan, kenapa gerakan cinta bumi, #UntukmuBumiku, sampai gerakan mitigasi perubahan iklim ini sering hanya sebatas wacana atau materi atau diskusi yang seringnya enggak membekas?

Jawabannya sederhana, kita enggak benar-benar meyakini bahwa : "whose disappearance was unimaginable that the planet itself, is gone."


Climate Crisis is Also a Crisis of Belief

Maksud dari Crisis of Belief, Safran menerangkan bahwa perubahan iklim yang ekstrim ini banyak tidak dipercayai sebagai hal yang NYATA. Saking enggak nyatanya, kutipan dari seorang Biologis juga disematkan. Ia mengatakan seperti ini, "Climate is quite possibly the most boring subject the science world has ever had to present to the public."

Kenapa sih kok sampai begitu membosankannya? Jujur, aku sendiri pun tau kampanye save our planet sampai gerakan mengurangi sampah untuk melindungi bumi kita dari kehancuran. Tapi, ternyata kampanye tersebut kok masih belum melekat banget di hatiku, ya?

Disini pula Safran membeberkan fakta mengenai dirinya sendiri. Ia pun mengatakan, jika dibandingkan antara issue perubahan iklim dengan berita tentang permainan baseball. Ia lebih memilih menyimak pertandingan tersebut. Padahal, Safran sendiri mengaku sedang berproses membiasakan diri melakukan gerakan save our planet.

Ternyata urgensi dari gerakan mitigasi perubahan iklim pun belum mencapai titik teratas. Karena itu pula, Safran membeberkan studi kasus yang cukup logis dan bisa kita terima. Terkait tingkat urgensi perubahan iklim ini.

Pada halaman 21 Safran menjelaskan "Although many of climate change’s accompanying calamities—extreme weather events, floods and wildfires, displacement and resource scarcity chief among them—are vivid, personal, and suggestive of a worsening situation, they don’t feel that way in aggregate. They feel abstract, distant, and isolated rather than like beams of an ever-strengthening narrative."

Di sinilah yang dimaksudkan ada krisis kepercayaan saat membahas mengenai perubahan cuaca ekstrim. Meskipun banyak peneliti hingga badan resmi seperti BMKG mengeluarkan peringatan dan data. Bahwa, bumi kita sedang perlahan menuju kerusakan yang nyata. Masih tersimpan ketidakpercayaan pada sebagian besar masyarakat.

Bukan saja karena banyak yang menolak percaya. Bahkan, yang mengetahui pun masih belum bisa bertindak secara sadar dan memercayai dengan lebih dalam. Bahwa perubahan iklim ini sedang berproses menjadi perubahan yang parah.


We are weather mitigasi iklim



Gerakan Mitigasi Perubahan Iklim Harus Disertai Kesadaran Bahwa Krisis Cuaca Ini Nyata

Agar urgensi dari perubahan cuaca ini lebih meningkat. Safran menjelaskan, coba kita telusuri. Kenapa kita sampai mau menolong korban kecelakaan padahal saat menolong mereka situasi di dekat korban masih belum aman?

Atau kenapa orangtua rela bekerja lebih keras demi anaknya? Kenapa? Pasti adanya urgensi yang membuat banyak orang melakukan sesuatu. Dan di balik kegiatan tersebut selalu tercampur dengan ego manusia.

Ego manusia yang menjadikan urgensi seorang manusia menolong korban kecelakaan. Bisa jadi karena dia pernah mengalami sebelumnya. Atau karena dia takut anggota keluarganya mengalami kecelakaan tapi enggak ada yang nolong. Urgensi yang bercampur dengan Ego inilah yang membuat seseorang bergerak secara sadar dan memercayai bahwa menolong orang tersebut akan mendatangkan sesuatu yang baik untuknya. Atau bisa jadi ego ini memercayai bahwa menolong adalah kewajibannya.

Dari kesadaran yang tertanam inilah. Sesuatu bisa meningkat level urgensinya karena berkaitan dengan diri manusia itu sendiri. Sedangkan, ketika berbicara mengenai perubahan cuaca ekstrim. Issue ini justru masih menjadi permasalahan yang diyakini hanya sebagai wacana.

"And when it comes to the planetary crisis, most of us feel lost inside the causes and effects, confused by the ever-changing statistics, frustrated by the rhetoric. We feel powerless, yet inexplicably calm."

Alasan yang cukup masuk akal. Yang menjadi penyebab mengapa kita sering menganggap perubahan cuaca ini sebagai wacana aja. Bahkan, banyak pula yang menanggapinya dengan santai.

Biar gerakan mitigasi perubahan iklim enggak sekadar wacana. Bahkan, enggak sekadar peringatan yang terabaikan. Waktunya kita sebagai bagian dari makhluk bumi dan juga sebagai masyarakat Indonesia buat bergerak aktif. And this is the right #TimeforActionIndonesia. 


We Are The Weather : So We Should Change The Way We Live

"To save the planet, we need the opposite of a selfie." - Hal 35

Melawan keegoisan disini dimaksudkan agar gerakan mitigasi perubahan iklim enggak sekadar dilakukan sendiri. Tapi, bisa dilakukan secara bersama. 

Selain itu, ego yang dilawan pun berkaitan juga dengan hasrat dan kesukaan kita yang sering berlebihan. Di sini Safran ingin agar kita mencari alternatif dari kumpulan keinginan yang berkaitan dengan hasrat ini. Seperti apa? Simak lebih lanjut, ya.


Lawan Ego Dengan Pilih Makanan Ramah Lingkungan

Ini bukan berarti menyuruh untuk menjadi picky eater, ya. Bukan. Tapi, membiasakan diri kita untuk memilih asupan makanan dengan yang ramah lingkungan.

Pada bab 2 bertajuk How To Prevent the Greatest Dying. Mitigasi perubahan iklim ini bisa dilakukan dengan mengubah menu sarapan. Dengan cara :

  • Mengurangi asupan daging merah. Dilansir dari website CNN, "Studi yang dipublikasikan di jurnal Science mendapati pola makan tanpa produk daging dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 49 persen."

  • Perbanyak asupan ikan terutama yang ditangkap dengan cara yang ramah lingkungan.

  • Kurangi sampah makanan dengan makan secukupnya perut kita aja. Jangan sampai ada yang kebuang.


Lawan Ego Ingin Belanja Online Dari Luar Negeri Dengan Memperbanyak Pembelian Produk Lokal

Biar apa? Buat mengurangi emisi dari transportasi yang digunakan untuk mengangkut pesanan. Dengan membeli produk lokal, bisa juga menguatkan perekonomian Indonesia dan UMKM kita bisa bangkit kembali.


Lawan Ego Dengan Pilih Moda Transportasi dan Bahan Bakar yang Ramah Lingkungan

Belakangan ini sudah banyak kok, bahan bakar yang tingkat emisinya rendah. Walaupun lebih mahal, tapi pastinya lebih ramah lingkungan. Atau bisa juga naik kereta yang tingkat emisi karbonnya rendah.


Lawan Ego Dengan Hemat Energi

Kalau Safran bilang, misal kita enggak bisa jalan ke luar negeri. Eksplorasi negeri sendiri pun tetap asik. Hemat energi juga bisa dengan menggunakan produk elektronik secukupnya aja.


Sumpah Pemuda Dan Gerakan Mitigasi Perubahan Iklim

Waktu selesai baca buku ini. Baru sadar kalau dua hari lagi adalah hari Sumpah Pemuda. Sebagai pemudi Indonesia, nih ya. Yang punya kegemaran membaca. Setelah membaca bukunya pak Safran ini. Jadi ingin ikut ambil bagian dalam gerakan mitigasi perubahan iklim.


Gerakan Mitigasi Perubahan Iklim Pembaca Buku


1 Mengurangi Belanja Buku Import Dari Luar Negeri Langsung

Sebagai penyuka bacaan buku dari luar negeri. Saya bersumpah akan beli buku import dari toko buku lokal. Enggak apa-apa deh agak mahal dikit. Yang penting hemat bahan bakar.


2. Menyeimbangkan Baca Buku Fisik Dan Ebook

Karena aku adalah pencinta ebook tapi karena buat sumber daya ebook membutuhkan energi. Jadi, akan menyeimbangkan bacaan antara buku fisik dan buku elektronik.


3. Memesan Buku Dengan Packing Ramah Lingkungan

Saat membeli buku nanti, daku akan minta pengirimannya dengan menggunakan packing kertas. Bisa kertas bekas atau daur ulang. Kalaupun pakai plastik, berharap banget itu plastik daur ulang. Tapi, lebih baik memang no plastic ya. Atau bisa juga dengan membaca atau membeli versi ebooknya (lagi-lagi ebookšŸ¤£).


We are the Weather

Merupakan buku non fiksi yang penjabarannya unik. Menggunakan metode penceritaan pengalamannya dengan kombinasi fakta serta data analisis yang didapat Safran.

Buku ini cocok buat kalian yang udah mikir pengen banget buat jadi manusia ramah lingkungan. Tapi, bingung mau mulai dari mana?

Selain bisa belajar memahami kenapa banyak orang yang masih menganggap issue ini omong kosong. Kita juga jadi paham, apa saja yang kita butuhkan biar bisa menerapkannya secara sadar. 


Kartu Tanda Buku

Judul : We are the weather : Saving the Planet Begins at Breakfast

Penulis : Jonathan Safran Foer

Halaman : 288

Bahasa : Inggris

Format : Ebook PlayBook

Diterbitkan oleh Farrar, Straus and Giroux

ISBN : 9780374280000


Kalau versi kalian, kira-kira bakalan ikut gerakan mitigasi perubahan iklim dengan melakukan apa?

Related Posts

1 komentar

  1. Wah baru tahu ada sebagus ini. Beli ebooknya di mana, kak ipeh?

    Aku paling ikutan nanem taneman di halaman rumah, sama jalan kaki sih. Hehe. Kalo buku lebih suka buku fisik, tapi sesekali baca ebook juga.

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter