Lead or Leave It to Millenials : Dasar-dasar Kepemimpinan

Leadership millenial


Generasi milenial, yang lahir dari tahun 1980 hingga awal 2000. Sedang mendominasi di semua bidang usaha atau produksi. Ini adalah bonus demografi di Indonesia yang sekaligus merupakan tantangan. 


Sebab, bonus demografi berupa dominasi usia produktif bisa enggak seimbang kalau tak diiringi dengan kemampuan produktivitas dan kreativitas yang juga tinggi. 

Bagaimana caranya, membimbing generasi milenial yang rupanya memiliki perbedaan dari mulai sudut pandang, gaya hidup sampai cara berpikir secara umum. Agar bisa menjadi anggota tim yang mumpuni. 

Kalau mencari tips Cara Tepat Menasihati Anak Remaja, bisa mampir ke blognya Blogger Tuban. Tapi, kalau cari tips bagaimana memimpin generasi milenial, silakan baca ulasan ringkas ini sampai habis, ya. 


Kartu Tanda Buku


Judul : Lead or Leave It to Millenials

Penulis : Jazak Yus Afriansyah

Halaman : 162

Format : Ebook Gramedia Digital 

Bahasa : Indonesia

Cetakan 1 : Maret, 2020

Diterbitkan oleh Grasindo

ISBN : 9786020522579


Leadership Itu Seperti Apa? 


Buku ini sebenarnya cocok untuk pelatihan kepemimpinan buat siapa aja. Mau itu generasi X, generasi Y sampai generasi Z. Karena, inti dari buku ini adalah pedoman cara menjadi pemimpin yang mampu bertanggung jawab pada pengembangan orang, organisasi dan bisnis

Leader itu bukan sekadar bos. Bukan sekadar atasan saja. Tapi, sosok yang menentukan apakah tim yang dipimpinnya bisa sukses dalam menjalankan strategi yang disusun. 

Melalui penjabaran pemahaman mengenai siapa dan apa itu leader dalam sebuah tim. Jay, yang merupakan seorang Coach bersertifikat ini, memberikan penjelasan yang gamblang mengenai leadership. 

"Kepemimpinan yang hebat adalah yang mampu meningkatkan pemikiran orang lain tanpa memberitahukan mereka hal yang harus dilakukan."



Tipe Kepemimpinan Dasar


Ada satu pernyataan dari Mas Jay yang cukup mewakili penjelasannya dalam buku ini. "Semua tipe kepemimpinan itu saling melengkapi." 

Pada mulanya, kupikir pasti ada satu dari lima tipe yang menjadi primadona. Sehingga, mampu dijadikan acuan bagi pembaca. Tapi, nyatanya memang setiap tipe ini saling berkaitan. Tak bisa dipecah begitu saja. 

Bahkan, di sini dijelaskan pula beberapa contoh penerapan tipe kepemimpinan yang berhasil juga yang masih dalam proses.

Salah satu dari tipe kepemimpinan yang disebut adalah Tipe Autocratic Leader atau kepemimpinan otoriter. 

Mendengar istilah otoriter, tentu banyak pula yang mengaitkannya pada kepemimpinan yang kejam. Penuh dengan pemaksaan sampai hilangnya kebebasan. Ini yang lewat di kepalaku saat membaca sedikit penjelasan tipe ini. 

Tapi, siapa yang bisa menduga? Kalau tipe kepemimpinan ini bahkan bisa mengubah gaya hidup hingga budaya masyarakat di suatu negara. Dan menjadikan negara tersebut sebagai negara yang sukses, bersih dan rapi. 

Pada mulanya, negara Singapura adalah negara kecil yang kumuh, miskin dan jorok. Bahkan, dituliskan oleh mas Jay, negara ini dahulunya dihuni oleh masyarakat yang gemar meludah dan buang hajat di sembarang tempat. 

Lee Kuan Yew, yang dikenal sebagai Bapak Bangsa Singapura, merasa sedih dengan keterpurukan yang dialami Singapura setelah merdeka. Akhirnya, beliau menerapkan kepemimpinan secara otoriter untuk mengubah pola hidup masyarakatnya. 

Dalam wawancaranya di BBC beliau mengatakan, "Kami disebut negara pengasuh (karena mengurusi perilaku warga). Namun hasilnya adalah saat ini kami berperilaku lebih baik dan kami hidup di tempat yang lebih bisa diterima dibanding 30 tahun lalu." 

Ternyata, pola kepemimpinan yang terdengar cukup menakutkan. Mampu mengubah sebuah negara yang dahulu kumuh menjadi negara yang kebersihan dan kedisiplinannya sangat patut diacungi jempol. 


Selain kepemimpinan otoriter, di bawah ini ada tipe kepemimpinan :


-Inspiring Leader

-Autocratic Leader

-Democratic Leader

-Service Leader

-Situational Leadership


Kalau mau tau maksud dari service leader itu seperti apa? Apakah berarti pemimpinnya menyiapkan kopi untuk karyawan atau bukan? Silakan dibaca buku ini. 



Leadership Skill : Coaching dan Counseling


Menjadi pemimpin, bukan saja harus punya kemampuan memimpin dan menyerahkan tugas aja. Ternyata, ada lagi keahlian pemimpin yang harus dimiliki. 

Coaching atau membimbing anggota tim sangat dibutuhkan. Terutama jika menghadapi situasi seperti anggota tim yang masih kurang ilmu, misalnya. Atau salah satu karyawan membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kinerjanya. 

Seorang pemimpin pun harus bisa menjadi Counselor bagi tim atau karyawannya. Terutama ketika menghadapi anggota tim atau karyawan yang mulai tampak tidak begitu perhatian pada tanggung jawabnya, tampak kinerjanya menurun sampai tidak disiplin. 

Pada kondisi tertentu, seorang pemimpin harus tau apakah anggota tim atau karyawan membutuhkan dukungan atau tidak. Butuh arahan atau tidak. Hingga butuh pembimbingan atau tidak. 

Kalau pemimpin tidak bisa melihat situasi dan kondisi seperti ini. Akan menyulitkan nantinya. Terutama untuk keutuhan anggota tim secara menyeluruh. Nantinya bisa menciptakan situasi yang kurang menyenangkan dan bisa berakibat buruk pada jalannya proses usaha atau produksi. 


Penutup


Menjadi pemimpin memang enggak sekadar memimpin. Apalagi berlagak seperti bos. Karena, menjadi pemimpin berarti harus mau mengamati dengan baik kinerja timnya. 

Jika dikaitkan dengan generasi milenial, di buku ini cukup jelas menyebutkan mengenai karakter dari gen Z. Dan pola kepemimpinan yang sesuai disertai situasi dan prakteknya. 

Meskipun buku ini cukup tipis. Tapi, isinya lengkap untuk yang mau belajar dasar - dasar kepemimpinan. Karena, disajikan juga studi kasus yang membantu kita sebagai pembaca, memahami maksud dari setiap informasi. 



Pembaca termasuk generasi mana nih? Katanya, generasi milenial ini punya karakter yang lebih sering fokus sama pekerjaan yang sesuai sama hobi. Apa pembaca salah satunya? 


Setuju enggak sih, kalau orang yang lahir di tahun-tahun tertentu. Memiliki pola pikir dan gaya hidup yang hampir sama? 


Postingan Terkait