-->

Review Buku Libri Di Luca Karya Mikkel Birkegaard

Review buku


“Membaca adalah kombinasi dari mengenali simbol dan pola, menghubungkannya dengan suara dan mengumpulkannya menjadi suku kata sampai akhirnya kita mampu menginterpretasikan arti sebuah kata. Selain itu, kata itu harus diletakkan sesuai dengan konteks ia ditemukan, untuk menghasilkan arti...” ~ Hal. 60 (Libri di Luca – Mikkel Birkegaard)


Bagaimana jadinya ketika kumpulan pembaca dan pendengar cerita membentuk kelompok yang masing-masing memiliki kemampuan super? Singkirkan sejenak bayangan akan pahlawan super hero seperti tim Avenger. Karena, kemampuan super di sini terkait dengan dunia literasi.

Seperti yang tertera pada kisah di blurbnya. Ini kisah tentang perkumpulan pegiat literasi rahasia yang memiliki misi tersembunyi. Dan, tempat mereka berkumpul adalah di sebuah toko buku milik seorang pembaca buku bernama Luca. Di sebuah ruangan rahasia, banyak rahasia yang mulai terungkap satu per satu.


Membaca Adalah Sebuah Proses Rumit



Ada banyak sekali perbincangan mengenai kegiatan membaca dan mendengarkan cerita yang dibacakan secara lantang atau Read aloud. Karena, proses dalam membaca inilah yang memegang peranan penting dalam cerita.

Kita pasti pernah merasakan terhanyut dalam sebuah pembacaan baik itu puisi atau dongeng. Sebut siapa saja nama pendongeng atau pembaca puisi yang sanggup membawa kita merasakan sesuatu yang tidak sanggup kita sampaikan. Bahkan, beberapa puisi yang dibawakan secara lantang, mampu menggerakkan banyak orang untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Kemampuan memengaruhi seseorang melalui bacaan yang kita dengar. Atau kemampuan sebuah buku yang kita baca. Merupakan kekuatan super yang menjadi daya tarik dari buku ini. Sebagai seorang pembaca, ketika terdapat buku yang berkisah tentang para pembaca. Kemudian, memosisikan pembaca menjadi tokoh yang penting, pasti akan terasa sangat spesial.

Ada dua kubu, satu pemancar dan satu penerima. Dua kemampuan super ini merupakan bawaan lahir yang diturunkan dari nenek moyang mereka.

Pemancar adalah mereka yang menghipnosis pendengarnya melalui bacaan yang mereka baca dengan lantang. Tentunya, tidak asal baca seperti orang berteriak. Tapi, melalui kemampuan dramatisasi yang mampu menyalurkan emosi serta pengaruh melalui intonasi nada saat membaca.

Sementara Penerima adalah kumpulan pembaca buku yang menerima cerita atau menerima bacaan saat mereka mendengarnya. Kemudian, mengambil bagian dalam menciptakan suasana yang begitu kuat. Seorang penerima mampu mengobrak-abrik suasana atau memperkuat imajinasi seorang pemancar atau pembaca buku. Meski bacaan tersebut dibaca dalam hati, para Penerima tetap mampu mendengarnya.

Ada seseorang yang mengatakan bahwa ada kenangan yang terjebak pada setiap lembar buku yang kita baca. Kenangan itu meliputi kenangan seorang penulis saat menuliskan adegannya. Atau kenangan seorang pemilik buku sebelumnya, jika buku itu pernah dibaca oleh orang lain. Bisa berupa kenangan akan masa lalu yang teringat maupun kenangan dalam bentuk pola pikir.

Lector adalah sebutan bagi mereka. Yang senantiasa mengisi buku-buku tertentu menjadi sarat akan kenangan yang bisa senantiasa melekat hingga jangka waktu yang panjang. Saat mencapai bagian ini, saya langsung tersadar seketika. Mengingatkan saya pada buku-buku Haruki Murakami.

Apakah Haruki Murakami, Yasunari Kawabata sampai Natsume Soseki adalah para Lector? Mereka membuat cerita, namun secara ‘sengaja’ menumpahkan perasaan hingga aura yang entah bagaimana caranya mampu mengubah banyak hal bagi kehidupan pembacanya.

Membaca Adalah Memengaruhi Sudut Pandang



Saat membaca buku, pernahkah kita terdiam sejenak karena ada banyak pemikiran yang berkelebat dalam kepala kita? Buku yang mampu membuat kita memahami sesuatu dengan lebih baik lagi. Buku yang membawa kita pada pengetahuan baru yang akhirnya membantu kita menikmati sesuatu yang sebelumnya terasa berat untuk diterima?

Pada halaman 85, momen ketika Iversen, seorang penjaga toko buku yang merupakan asisten Luca, mengatakan pada Jon. Jon adalah anaknya Luca, ia kembali ke toko buku tersebut setelah berpuluh tahun berpisah dari ayahnya. Kedatangannya ke sana setelah ayahnya meninggal dunia.

Baiklah, kembali lagi pada halaman 85 saat Iversen berkata, “Setiap buku memiliki suaranya tersendiri. Seperti berkomunikasi langsung dengan buku itu sendiri – dengan jiwanya.” Mungkin ini terdengar mistis jika disampaikan di akun-akun twitter khusus cerita horor.

Namun, bagi saya yang pernah berkali-kali ‘diselamatkan’ oleh sebuah buku. Merasakan betul, bahwa ketika membaca buku tertentu. Saya seolah bisa merasakan komunikasi yang begitu intens. Komunikasi dalam bentuk pengertian, hiburan hingga rasa nyaman yang muncul dari hubungan tersebut.

Terkadang ada pula rasa takut, kaget hingga rasa lucu yang membuat saya terbahak-bahak. Hingga mungkin orang yang tak tahu kalau saya sedang membaca buku akan berpikir kalau saya ini gila. Yah...inilah yang terjadi ketika saya tenggelam dalam bacaan, yang ternyata adalah bentuk seorang pembaca berkomunikasi dengan ‘suara’ buku tersebut.

Seperti buku What I Talk About When I Talk About Running karya Haruki Murakami. Saat kemunculannya pertama kali, berhasil membuat beberapa pembacanya seketika menjadi atlet. Mereka mulai mencintai olahraga lari seperti Murakami mencintainya. Mereka mulai terbangun di pagi hari, kadang saat mentari belum menampakkan sinarnya. Hanya untuk berlari dan merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh Murakami.

Begitulah, buku memang membawa pengaruh besar bagi pembacanya. Tidak sedikit pula orang-orang hebat seperti Bill Gates yang senantiasa memiliki waktu untuk membaca buku. Mereka besar bersama buku-buku yang pernah dibaca. Mereka memulai proses pendewasaan bersama bacaan yang menuntun mereka untuk terus maju.


Membaca Menyiptakan Pengalaman Tersendiri



Saya masih ingat ketika Okky Madasari mengatakan bahwa, “penulis yang hebat adalah mereka yang mampu menimbulkan multi-interpretasi pada pembacanya setelah membaca buku yang mereka tulis.”

Melalui pemahaman ini, bolehlah kita kaitkan dengan buku Libri di Luca. Di mana buku ini sebenarnya lebih banyak membawa pemahaman kita terhadap kehebatan beberapa orang karena mampu mengubah tulisan menjadi sesuatu yang tidak bisa dibayangkan.

Seperti seorang lelaki tokoh Remer yang merupakan seorang pebisnis handal. Ia menggunakan kemampuannya memengaruhi sidang demi sidang untuk memenangkan bisnisnya yang tampak mencurigakan. Saking hebatnya, beberapa bisnis gelapnya tidak mampu dijangkau para penegak hukum.

Hubungannya dengan kutipan dari Okky Madasari ini adalah tulisan apapun akan mampu mendatangkan sudut pandang serta pengalaman berbeda bagi pembacanya. Remer menyiptakan sebuah bacaan yang digunakan untuk menghipnosis bahkan mencuci otak yang mendengarkannya. Tak hanya itu, buku yang dibaca pun bisa membunuh orang yang diincar.

Pengalaman membaca inilah yang akhirnya mampu memberi nyawa pada buku yang dibaca. Bahkan, tidak sedikit pula bisa mengubah sudut pandang. Juga menambah pengetahuan bagi yang membacanya.

Namun, pengalaman yang didapat dari para pembaca ini bisa berbeda. Ada seseorang yang bahkan tidak merasakan sesuatu saat membaca buku Haruki Murakami dan mengatakan bahwa tulisannya hanya berlebihan. Ada pula yang mengatakan bahwa buku-buku Murakami membantunya berpikir secara serius dan mendalam tentang kehidupan.

Bisa juga diambil contoh dari buku-buku yang dianggap ‘beraliran kiri’ sehingga banyak disita oleh orang yang mengaku penegak hukum. Karena, interpretasi mereka terhadap isi dalam buku tersebut mengatakan demikian. Sementara, ada sebagian pembaca yang bahkan tidak mendapatkan pemahaman tersebut. Justru ia mendapatkan sesuatu yang berbeda dan sangat jauh berbeda dari sudut pandang orang lain.

Kenapa? Karena kemampuan manusia mengolah imajinasi, gambar, pengetahuan, informasi dalam setiap huruf yang merupakan simbol ini. Berbeda prosesnya. Sehingga hasilnya sudah tentu berbeda.



Petualangan Membaca Membuat Kita Kaya



Katanya, membaca buku adalah cara paling sederhana melakukan perjalanan ke berbagai tempat dalam satu waktu. Begitulah ketika membaca buku Libri di Luca. Saya dibawa ke Mesir, tempat Perpustakaan Alexandria yang sedang dibangun kembali usai dirusak beratus tahun sebelumnya.

Perpustakaan Alexandria menjadi simbol pusat pendidikan dan pengetahuan di seluruh dunia. Diperkirakan terdapat 750 ribu buku terdapat di perpustakaan ini. Namun, beberapa ada yang rusak hingga hilang akibat perang.

Dari perjalanan dan pengetahuan singkat mengenai perpustakaan Alexandria. Saya diajak melanglang buana ke Mesir. Padahal, sebelumnya saya berada di Denmark. Tempat perpustakaan milik Luca berada. Tempat Mikkel Birkegaard, sang penulisnya, hidup dan tinggal di sana.



Pengalaman Membaca Libri di Luca



Sebelum masuk ke apa saja yang membuat saya antusias dengan buku ini. Saya ingin mengabarkan kalau buku Libri di Luca termasuk buku yang sangat sulit didapat. Kemunculannya di tahun 2009 banyak disoroti karena terdapat tulisan Terjual 10.000 Eksemplar Dalam Tiga Hari.

Baiklah, sebut itu merupakan kemampuan para tim marketing yang membuat banyak orang penasaran. Tapi, terlepas dari itu, saya bahkan baru bisa mendapatkan buku ini di tahun 2020. Sekarang di hitung, sudah berapa tahun saya harus menanti bisa mendapatkan buku ini?

Buku Libri di Luca yang saya miliki ini pun bukan buku baru. Tapi, buku bekas yang pastinya ada jejak kenangan seseorang yang pernah membaca sebelumnya. Meski beruntunglah, pengalaman membaca pemilik sebelumnya tidak sekuat pengalaman saya saat membacanya.

Karena buku ini menyediakan kalimat serta obrolan tentang pembaca buku. Membuat saya menginterpretasikan sesuatu secara lebih luas lagi. Banyak hal yang lewat dan merasuki pikiran saya. Semua bersumber dari pendapat Mikkel mengenai membaca buku.

Rasanya, tidak menyesal meski harus menanti hingga bertahun-tahun lamanya untuk bisa memiliki buku ini. Apalagi, buku ini akhirnya bisa selesai saya baca. Dan, ketahuilah kalau di setiap halamannya sudah saya tandai sebanyak mungkin beberapa hal yang membuat saya takjub.

Penutup



Buku Libri di Luca ini juga merupakan buku pertama yang saya baca lagi usai bergelut dengan hal lain. Membuat saya sedikit pesimis dengan target bacaan tahunan yang sepertinya tidak akan sesuai dengan tahun sebelumnya. Tapi, setelah menyentuh buku ini. Ada sedikit percikan yang membuat saya kembali ingin menyentuh buku lain yang belum sempat saya sapa.


Adakah buku yang tengah diincar dan sudah bertahun-tahun lamanya belum juga berjodoh denganmu?

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter