Ulasan Buku : Balada Becak Karya Y.B. Mangunwijaya

Balada Becak


Kali pertama menikmati buku yang ditulis oleh Romo Mangun, demikian Y.B Mangunwijaya biasa dikenal. Kepiawaiannya menuliskan bait demi bait kata, tampak seperti untaian puisi dan pantun yang dijadikan satu. Menikmatinya bagaikan menyesap lamat-lamat secangkir kopi panas ditemani pemandangan hijau alami membentang. Bagi orang yang belum mengenal siapa Romo Mangun seperti saya, wajar jikalau berpikir nantinya akan merasakan kebosanan yang luar biasa saat mengecap bahasa di dalamnya.

Namun, kukatakan padamu, bahwa sampai berlembar-lembar kemudian, saya tidak mendapati sekalipun merasa malas melanjutkan bacaan ini. Meski beberapa kali saya membacanya dari kalimat awal atau dari bab awal karena ingin menyatukan kembali nyawa dari jejak yang sempat ditinggal sesaat demi kebutuhan lain. Tapi, tetap tidak mengganggu rasa yang akhirnya bisa terbangun dengan sedemikian rupa manisnya dan sederhananya melalui laku para tokohnya.


Kartu Tanda Buku


Judul : Balada Becak
Penulis : Y.B Mangunwijaya
Halaman : 96
Format : Ebook Gramedia Digital
Bahasa : Indonesia
Pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1985
Diterbitkan kembali oleh Penerbit Buku Kompas
ISBN : 9786024121020



Balada Becak


"Tidak miskin petani itu, siapa bilang. Dia kaya. Tetapi kekayaan harap jangan cuma dihitung dengan uang."


Romo Mangun mengisahkan tentang kehidupan di sebuah tempat pinggiran Code. Diawali dari kehidupan pada pagi hari, satu persatu Romo tuliskan seolah kita adalah seorang pengintai dari jarak jauh yang serba tahu. Mengintai tetangga-tetangga dan aktivitas mereka. Mengintai Fifi, kakak iparnya Yusuf. Memperhatikan Riri, anaknya Bu Dullah dan juga berpikir-pikir tentang masa depan Yusuf. Ini hanya permulaan sebelum kemudian memasuki segmen kehidupan para pemuda dan pemudi serta kisah cinta dua muda - mudi yang sederhana.

Pertama, Romo Mangun mengisahkan tentang kondisi antara si kaya dengan si miskin. Tentang bagaimana banyak para pemuda di Yogya, saat itu ketika Romo menuliskannya, yang tidak mau bekerja kasar seperti seorang priyai saja. Tulisan ini kerap menyindir situasi sosial tentang betapa banyaknya orang yang berpikir ingin kaya tapi enggan untuk turun ke sawah apalagi bekerja kasar. Masuklah kemudian berpikir dan menuliskan tentang seorang pemuda baik hati yang akan menjadi tokoh utama dalam kisah ini.

Saya mendapati cara Romo Mangun membangun kedekatan dengan pembacanya, baik yang sudah terbiasa dengan gaya tulisannya maupun yang baru seperti saya, dengan sangat ramah. Seperti tengah berbincang berhadapan di sebuah teras rumah yang asri pada sore hari.

Lingkungan. Lingkunganlah yang salah. Lebih tepat, kita semualah yang salah. ~ 11

Namanya Yusuf, dia merupakan seorang anak yang hanya lulusan SMU. Impiannya tinggi dan sangat banyak sekali. Tidak jarang si Yusuf ini sering menghayal, entah itu ketika sedang menggenjot sepeda maupun saat sedang memetik gitar. Dia akan menghayal menjadi seseorang yang memiliki profesi baik. Bukan saja baik secara pendapatan tapi juga baik ketika dilihat dan didengar oleh orang-orang di kampung itu. Seringnya, Yusuf berandai-andai menjadi seorang komposer. Yusuf sendiri dikenal sebagai Yusuf si drop-out oleh kawan-kawannya.

Romo Mangun mengenalkan Yusuf kepada kita sebagai lelaki yang cara berjalannya saja tidak menunjukkan bahwa dia lelaki yang pantang menyerah. Juga, bagaimana dirinya sering menjadi olok-olok teman lainnya yang bekerja di bengkel las. Mengenai dirinya yang kerap melirik Riri anaknya Bu Dullah. Begitulah anak-anak muda pada masa itu, gemar menggoda rekannya yang tengah merasakan getaran-getaran dalam dadanya.


Ayahnya Yusuf pernah mengatakan padanya, bahwa dirinya meminta maaf karena tidak mampu menyekolahkan Yusuf ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak mampu membayar janji pada Ibunya Yusuf agar dia menjadi seorang ningrat yang alih-alih menjadi melarat. Pada akhirnya sang Ayah berharap dia bisa setidaknya mampu berdiri sendiri dengan usahanya seperti kakaknya, Rahmat. Bahkan, dia berharap Yusuf dapat memiliki istri secantik dan sebaik Fitri.


Yusuf sendiri, tampak enggan bekerja di bengkel las milik kakaknya, Rahmat. Namun, apa mau dikata, tak ada lagi pekerjaan yang bisa dikerjakan olehnya. Nasibnya ditentukan dengan seberapa besar usahanya, itu sudah pasti. Tapi, hari itu, Bu Dullah meminta Yusuf untuk diantar ke pasar, mengangkut gori-gori yang sangat penuh. Bersama Riri, gadis yang disukai Yusuf, membersamai perjalanan mereka. Membuat imajinasi Yusuf kembali melanglang buana.

Diperjalanan, Yusuf berpapasan dengan Lilian. Dia kaget bukan main dan merasa malu. Malu karena Lilian adalah gadis yang juga disukainya. Gadis yang memiliki banyak prestasi dan juga melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kita akan menyaksikan betapa banyaknya episode-episode khayalan Yusuf ini. Hingga sampailah ketika Bu Dullah pun ikut mengenang adegan demi adegan yang diperankan oleh mendiang suaminya, bapaknya Riri.


“Mosok harus berpengalaman dulu. Malahan Ibu dulu kawin lari, mengikuti cinta hati. Sekarang aku tidak boleh. Padahal aku tidak lari.” ~ 62

Malam itu, Riri mendengarkan dendangan lagu yang dinyanyikan Yusuf dari pos ronda. Pemuda-pemuda ini membantu menjaga desa di pos ronda. Dan, di atas ranjang yang sama, Bu Dullah dan Riri membahas mengenai masa depannya. Bu Dullah hanya ingin Riri bisa mendapatkan lelaki yang memiliki pekerjaan yang bagus dan masa depan yang terjamin. Sangat berciri dengan banyak orangtua dari kisah-kisah klasik. Meski, tidak dipungkiri, masa saat ini pun masih banyak yang demikian. Namun, jawaban Riri-lah yang membawa Bu Dullah mengenang mendiang suaminya itu.

Hari-hari berikutnya, banyak kejadian beruntun yang menimpa Yusuf. Dimulai ketika dirinya dimintai tolong oleh seorang pemuda untuk mengirimkan surat ke sebuah rumah nomor 10. Dan menyisipkan surat tersebut di sebuah jendela. Tidak lama berselang, pemuda itu meninggal akibat digasrak oleh dua pemuda pengendara motor. Setelah itu, akibat tidak dapat tidur, Yusuf bekerja hingga dini hari di bengkel milik kakaknya. Dan, bertemu dengan dua orang rampok yang membawa kolt milik pak Haji Tauhid.


Kutipan Balada Becak 



Ada beberapa hal yang bagi saya sangat sesuai dengan keadaan masa kini dan cukup mengena saat membacanya. Akan saya bagikan sedikit kutipannya di sini.

“...cara meronda begini kurang efektif. Tetapi dari segi persaudaraan, apalagi dari segi ungkapan seni, jangan diremehkan.” ~ 66


“Sungguh adat kebiasaan sejak nenek-moyang yang serba mengganggu; jadi berlawanan dengan tujuan perondaan, tapi ya begitulah, begitulah, tidak logis tetapi humoristis. Dan konon seorang arif pernah berkata, bahwa daya humor suatu bangsa adalah daya ketahanan rakyat yang menjatuhkan singgasana raja-raja yang sewenang-wenang.” ~ 67

“Ya begitulah, begitulah jadinya bila orang tidak berjiwa ningrat. Keningratan sejati tidak terletak pada status keturunan, tetapi pada kadar karat sikap. Sikap yang sadar tentang peri kemanusiaan.” ~ 73


Tokoh-tokoh Dalam Cerita



Yusuf : tokoh utama, seorang pemuda yang gemar berimajinasi, mau pagi - siang - malam. Dan juga gemar memetik gitar.

Rahmat : Kakaknya Yusuf, dia seorang lelaki yang menghela napas setiap melihat adiknya.

Fitri : Kakak Iparnya Yusuf, baik hati, cantik dan banyak membuat bengkel milik Rahmat itu ramai karena ingin melihat Fitri. Meski wanita ini tidak bertingkah laku berlebihan.

Pak Haji Tauhid : Seorang haji yang kaya raya, sering membantu usahanya Rahmat.

Bu Dullah : Ibunya Riri, sering meminta antar ke pasar untuk menjual gori-gori.

Lilian : Teman sekolahnya Yusuf, cantik dan pintar.

Riri : Anaknya Bu Dullah, pemalu dan sering memukul beberapa orang penggoda.



Mengapa Balada Becak?


Karena, di buku ini, beberapa tokoh berkaitan dengan becak. Seperti Yusuf yang menjadi pilot becak, begitu Romo Mangun menuliskannya. Atau ketika sepeda kumbang milik Riri rusak akibat bertabrakan dengan becak. Juga, kisah cinta Yusuf dan Riri yang terjalin selama perjalanan di becak, membawa gori bersama Bu Dullah menuju pasar. Dan perjalanan mereka pula selepas menjual Gori di pasar. Ada pula kisah tentang Yusuf yang terlampau nyaman berada di dunia imajinasinya sampai lupa bahwa lampu lalu lintas sudah berganti warna Merah. Kemudian hampir saja ditilang oleh seorang polisi yang mirip Gatut kaca.

Yusuf terselamatkan berkat Bu Dullah, yang ternyata mengenal si polisi tersebut. Rupanya dia adalah saudara jauhnya Riri. Setidaknya ini bisa menyelamatkan mereka. Juga, kisah tentang Yusuf yang membantu seorang pemuda yang baru saja dibantai oleh dua orang pengendara motor. Saat Yusuf tengah menarik becak. Dan, banyak hal yang terjadi dengan Yusuf yang sedang mengendarai becak.



Kesimpulan


Kesan saya setelah menyelesaikan buku ini adalah kalian jangan sampai tidak membaca buku ini. Meski sudah terbilang jarang, siapa tahu di perpustakaan online masih ada. Kenapa? Karena, menurut pembaca buku-bukunya Romo Mangun. Buku ini termasuk dalam kategori ringan, namun tetap menonjolkan ciri khas Romo Mangun dalam segi bahasa dan kritiknya mengenai kehidupan sosial masyarakat. Serta, merupakan buku yang tidak begitu tebal, namun tidak bisa dikatakan tipis untuk diselesaikan secara singkat. Karena, banyak hal dalam buku ini yang begitu melenakan.


Post a Comment

0 Comments