The Hole : Novel Misteri Yang Mencekam Nominasi Shirley Jackson Award 2017

The Hole : Novel Misteri Yang Mencekam Nominasi Shirley Jackson Award 2017



the hole

Apa yang ada di dalam pikiran kita ketika mendengar kata The Hole atau Lubang? Saya berpikir tentang kondisi yang gelap, pengap dan sesak. Lantas, adakah persamaan antara Lubang dengan Sendiri? Ada, berkaitan dengan usaha 'pertahanan hidup' yang hanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri.






Kartu Tanda Buku

Judul : The Hole || Penulis : Pyun Hye-Young || Halaman : 241 || Cetakan I, Juli 2018 || Versi : Buku Fisik || Bahasa : Indonesia || Penerjemah : Dwita Rizki || Diterbitkan oleh Penerbit Baca || ISBN : 9786026486219




Sejujurnya, novel ini lebih menarik karena seperti potongan puzzle yang rumit. Bagi saya yang gemar membaca novel misteri dan novel crime atau thriller, mengumpulkan clue demi clue dalam setiap bab atau lembar cerita di satu buku merupakan sebuah keasyikan yang hakiki. Namun, otak saya dibuat sembelit mencari-cari potongan teka-teki yang tersembunyi. Jadi, buat kalian yang gemar membaca novel misteri, silakan intip, apa saja yang dibahas dalam buku ini.

Ia melihat kulit yang ditambal untuk menopang otot wajahnya yang rusak dan prostesis yang ditempelkan di dagunya untuk memperkuat otot. ~ Hal 41


RINTIK HUJAN yang turun pada malam itu menjadi saksi bisu akan sebuah tragedi yang menimpa Oh Gi dan istrinya. Mereka mengalami kecelakaan yang sangat parah, namun hanya menyisakan Oh Gi seorang yang harus berjuang untuk hidup. Istrinya meninggal dalam kecelakaan tersebut.

Pada halaman 29, pembaca akan bisa membayangkan bagaimana dan seperti apa saat kecelakaan itu terjadi. Bukan dengan narasi yang membuat kita tinggal duduk dan mendengarkan.

Namun, dengan fakta-fakta dan setiap penjelasan dari kepala Oh Gi yang sering meracau. Saat baru membahas satu hal, dia akan lanjut ke pembahasan lain, yang memang masih berkaitan dengan sosok yang dia ceritakan meski berlawanan dengan tema pembicaraan sebelumnya. Kita - sebagai pembaca - mengetahui sedikit demi sedikit tabir kehidupan yang dijalani Oh Gi melalui racauan dalam kepalanya.

Kecelakaan hebat pada malam hari itu, memang meninggalkan luka yang cukup serius pada diri Oh Gi. Luka yang akan terus membuatnya terbayang-bayangi penyesalan demi penyesalan yang tidak ada habisnya. Sebuah luka yang di kemudian hari membuatnya senantiasa teringat pada istrinya dan segenap kenangan yang pada akhirnya membuat Oh Gi bungkam dalam keheningan dan kesunyian.


..perkataan bahwa pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai, dan tekadnya sangat penting mulai sekarang. ~ Hal 5
Semestinya, saya sudah harus memasang sabuk pengaman saat sampai di kalimat ini. Entah kenapa saya percaya begitu saja, bahwa ini adegan si dokter tengah menasihati Oh Gi. Bukan semacam penanda wasit untuk memulai permainan. Ah, saya terkecoh berkali-kali hingga seperti diobrak-abrik rasanya karena harus mengulang membaca buku ini demi mendapat pencerahan yang hakiki.

Kisah ini bercampur antara keseharian Oh Gi paska perawatan intensif dengan masa lalu yang terjadi dengan dirinya. Mulai dari perkenalan bagaimana orangtua Oh Gi, bagaimana dia memandang istrinya. Seperti apa pekerjaan Oh Gi selama ini. Hingga seperti apa mertuanya. Semua bagian ini terpisah dalam setiap sudut lembar cerita. Potongannya terkadang bisa berbentuk kecil sekali sehingga kamu mungkin tidak menyadarinya.



Suamiku tidak mungkin bisa selingkuh lagi. ~ Hal 168
Di atas merupakan kutipan dialog Ibu Mertuanya Oh Gi. Dari kutipan di atas bisa menegaskan dengan jelas bahwa novel ini berisi hal-hal yang berkaitan erat dengan pernikahan. Bagi saya, novel ini sepertinya cocok sebagai bahan pertimbangan bagi mereka yang hendak menikah muda. Hal apa saja yang terkadang tidak begitu diperhatikan namun saat menimpa dirinya, kemudian merasa bahwa pernikahan itu hubungan yang negatif.

Pyun Hye-Young mengemas konflik-konflik rumah tangga dengan penjabaran yang cukup mengesankan. Tanpa menjabarkan secara gamblang sebab dan akibatnya. Tanpa berupaya menasihati bahwa hal ini akan menjadikan orang seperti itu. Tidak. Tapi, cukup dengan mengemas rasa bersalah tersebut menjadi sebuah penyesalan yang membuat orang tersebut tak berdaya.

Apalagi yang bisa membantu seseorang yang sudah tak berdaya? Bahkan berharap pun rasanya semakin sulit. Hanya bisa menarik jejak kenangan dan memikirkannya kembali, seolah membentuk sebuah pengalaman baru yang nyatanya hanya terjadi di dalam kepalanya. Dan ini adalah hukuman paling mengesalkan yang Pyun Hye-Young sajikan. Kenapa mengesalkan? Karena membuat saya tampak seperti orang bodoh. [Ipeh Alena]

Post a Comment

0 Comments