Book Review : A Torch Against The Night by Sabaa Tahir

July 09, 2018

Book Review : A Torch Against The Night by Sabaa Tahir



"Terima kasih sudah memberikan hidupmu, supaya aku bisa meneruskan hidupku." ~ A Torch Against The Night

A Torch Against The Night


Saya memuji Sabaa Tahir yang menciptakan pertempuran, kekerasan hingga penghasutan yang tampak nyata bagi saya sebagai pembacanya. Membaca buku ini membuat saya terengah-engah karena kelelahan. Perjalanan panjang di gurun pasir, rasa dingin yang menusuk tulang hingga keadaan terdesak akibat prajurit Mask mengejar dua tokoh yang melarikan diri dari Imperium. Semua itu membuat saya benar-benar kelelahan. Sabaa berhasil membuat saya seolah ikut serta, seperti bayangan salah satu tokohnya, dalam usaha mereka membebaskan diri dari segala kekangan akan kehidupan yang kejam.

Di buku ini, akhirnya saya mengerti apa maksud dari para Augur di buku pertama. Tentang nasib Elias bahwa dia akan mendapatkan kebebasan secara Jiwa dan Raga. Bukan dengan kematian, meski dia memang beberapa kali hampir dibunuh. Bukan dengan sesuatu yang sebelumnya saya tebak. Bahkan, buku ini tidak membiarkan saya menebak-nebak apa yang terjadi di bab selanjutnya. Alih-alih, justru membuat saya mengikuti perjalanan tanpa tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Bahkan saya tidak memiliki antisipasi sama sekali ketika saya terheran-heran mengapa mereka hanya penasaran dengan "Siapa Laia" bukan penasaran dengan hal penting yang mereka pikirkan.



Kartu Tanda Buku


Judul : A Torch Against The Night || Penulis : Sabaa Tahir || Halaman : 524 || Penerjemah : Yudith Listiandri || Bahasa : Indonesia || Versi : Buku Cetak || Cetakan pertama, November 2017 || Diterbitkan oleh Penerbit Spring (IG @penerbitspring) || ISBN : 9786026682116








Pelarian Elias Dan Laia Sebuah Perjalanan Yang Panjang Dan Melelahkan



Kalau Sabaa tidak menciptakan Elias dengan instingnya sebagai prajurit, mungkin saya tidak akan pernah merasa curiga dengan tokoh-tokoh lainnya. Mungkin saya akan tetap membiarkan saja, bertindak sebodoh Laia karena menganggap ini semua bukan sesuatu yang telah direncanakan. Saya sempat berpikir, apakah kebodohan Laia menular? Sehingga saya ikut menjadi bodoh dan tidak cepat tanggap.

Saya pikir, tak mengapa kalau saya menyalahkan Laia tentang hal ini. Karena, karakter yang dibangun oleh Sabaa ini begitu hidup, membuat saya merasa kalau Laia ini tampak nyata dan memiliki gerak-gerik sampai sifat dan motivasi yang hampir mirip dengan manusia pada umumnya, secara khusus gadis muda. Karena itu, rasa kesal saya benar-benar nyata terhadap sosok ini. Meski seharusnya saya lebih membenci Komandan, tapi sayangnya, di buku ini, sosoknya tidak banyak memegang peranan. Hanya perintah-perintahnya saja.

Saya mendapati diri saya kelelahan di atas kuda bersama dengan Elias dan Laia. Merasa khawatir dengan kondisi Elias yang terluka. Berdebar sambil berpikir akankah perjalanan ini akan berhasil atau tidak. Meski Elias selalu berusaha memberikan semangat pada Laia, tapi dia tidak memberi semangat itu pada saya. Sementara itu saya sehalus bayang-bayang yang bahkan lebih halus dari debu itu sendiri. Sedang kelelahan karena seolah saya menyelinap masuk ke kawasan yang dipenuhi dengan para Prajurit Mask, pedagang, penipu, penjahat sampai pembunuh.

Juga merasa khawatir ketika harus berdekatan dengan seorang Pencabut Nyawa. Meski perbincangan keduanya ini tidak begitu panjang, hanya sebentar dan sedikit. Tapi, sudah membuat saya kalang kabut. Galau. Mempertimbangkan banyak hal. Bagaimana kalau semua ini berhenti di sini? Bagaimana kalau ada lagi yang mati? Apakah Sabaa akan tega mengambil nyawa seseorang yang penting di sini? Apakah semua akan berjalan lancar? Sempatkah Darin diselamatkan?

Sepertinya jiwa saya masih tertinggal di Kauf, masih berusaha melepaskan diri. Mungkin seharusnya saya ikut ke Adisa.



Musuh Mereka Tak Hanya Manusia Tapi Juga Makhluk Ghaib



Terkejut rasanya mengetahui bahwa terdapat banyak makhluk gaib di dalam buku ini. Mereka serupa dunia ini, seperti pengganggu yang sering mengecoh kesadaran. Makhluk ini sempat muncul ketika Elias tengah berada dalam masa Ujian. Mengambil bentuk orang-orang yang telah mati. Meneriakkan sesuatu serupa pikiran yang disembunyikan. Seolah-olah mereka bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang ada dalam kepala kita.

Persis seperti dunia nyata. Sabaa tampaknya benar-benar memindahkan dunia nyata ke dunia tempat Laia, Helen dan Elias berada. Kali ini, di buku ini, sudut pandang Helen mengusikku. Terutama kehadiran seorang Letnan yang menjadi asisten Helena. Apalagi, sejak dia menjadi tangan kanan kaisar dan kehidupannya semakin berat akibat kaburnya Elias dari Imperium. Gadis ini tangguh, dia sangat memikirkan masak-masak apa yang harus dia lakukan. Dia pandai dan kuat, sangat berlawanan dengan Laia. Sepertinya memang dunia ini butuh penyeimbang.

Gadis yang satu tampak lemah dan bodoh, namun dia memegang kunci dari cerita. Memiliki paras yang cantik dan menggoda. Sementara gadis yang satunya lagi, tulus, tetap cantik namun seorang ksatria sejati. Siapapun tak ingin bertindak semena-mena padanya, kalau tidak Scim miliknya akan menebas lehermu. Gadis yang pandai dan juga mempertimbangkan segalanya secara serius tanpa tergesa-gesa. Dia selalu tahu apa yang akan dituju dan apa yang harus dilakukan.

Tapi, fakta yang menyedihkan juga ditawarkan oleh Sabaa. Ketika kita harus menyerahkan persahabatan kita demi kesetiaan pada Negara. Atau ketika kita melihat banyak orang-orang yang kita kasihi dan sayangi meninggal dunia, seperti yang dialami oleh Laia saat melihat Nan dan Pop dibunuh. Judul di buku ini, seolah menegaskan bahwa akan selalu ada cahaya meski gelap pekat menyelimuti malam hari. Seolah ingin memberikan kata-kata penyejuk, bahwa meski kelamnya malam membuatmu takut, tidak seharusnya kamu berhenti dan membiarkan ketakutanmu mendominasi.

Makhluk-makhluk goib ini memang hadir di Gunung, Goa sampai gurun. Saat mereka masih berlari-lari di lorong gelap bawah tanah. Makhluk itu sudah menyapa dalam bentuk anak kecil yang meminta sesuatu dari Laia. Pegang itu sebagai kata kunci, pegang terus hingga akhir cerita. Mengapa anak itu meminta sesuatu yang tampaknya tidak masuk akal. Makhluk yang ditebas oleh Elias menggunakan Scim hasil tempaan Teluman.

Ohiya, di buku pertama, kalian tentu sudah berkenalan dengan Teluman. Seharusnya begitu, karena dia salah satu orang yang berpengaruh juga dalam menciptakan senjata yang mampu menebas makhluk-makhluk yang tidak semua orang bisa melihatnya. Awalnya, Elias tidak bisa melihatnya, namun saat ujian dia ternyata bisa melihatnya juga. Dan Scim Teluman ternyata senjata yang mematikan dalam sekali tebas.

Kali ini bukan hanya Komandan yang harusnya kalian takuti dalam perjalanan menuju Kauf. Kalian harus takut pada banyak hal untuk menjadi pembatas agar tidak mudah memberikan kepercayaan yang kita miliki.



Twist Yang Menarik Dan Juga Tidak Tertebak



Berbeda dengan pengalaman kala saya membaca Into The Water karya Paula Hawkins. Dimana saya terus menerus sepanjang halaman pertama hingga terakhir, mencurigai setiap tokoh yang ada. Ini, sama sekali saya tak curiga pada siapapun, tidak sejelas orang-orang yang ada di buku pertama. Di buku ini, saya justru mengantisipasi tentang nasib Darian.

Sayangnya saya tidak mengantisipasi plot twist dan kejutan menarik yang disuguhkan di buku ini. Meski kalian mencuri informasi dengan membaca bagian akhirnya, tampaknya tak akan memberikan banyak hal yang bisa kalian dapat. Serius. Karena jawaban demi jawaban terselip di sela-sela perjalanan menuju Kauf. Jadi, jangan harap kalian akan mendapatkannya dalam sekali waktu.

Beruntungnya, saya bisa bertemu lagi dengan si Koki. Wanita tua yang membuat saya penasaran sejak buku pertama. Meski sosoknya belum terbongkar secara penuh. Tapi, apa yang dia lakukan demi banyak hal, ternyata bisa membuat saya terharu juga. Walaupun saya cukup terkejut dengan sikap dan strategi Marcus. Siapa yang sangka?

Ah, membaca buku ini memang menguras jiwa dan energi saya. Seolah tersedot ke dalam buku ini layaknya cerita Inkheart. Tapi, saya jadi mengerti dan paham, mengapa kawan saya menasihati agar saya tidak terburu-buru langsung masuk ke buku ketiga. Agar saya bisa menata hati kembali. Mengembalikan jiwa-jiwa saya yang masih mengelana di padang pasir, di Kauf dan di sudut-sudut negeri yang dibangun oleh Sabaa. Saya harus mengistirahatkan sejenak hati dan pikiran saya dengan hal lain. Setelah energi saya terkuras, sebaiknya memang saya harus sabar menanti.

Setidaknya, saya tidak menyesal membaca terjemahan buku ini. Sebaiknya kalian ikut juga mengikuti perjalanan panjang dengan membaca buku ini. Salam. [Ipeh Alena]

No comments:

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.

Powered by Blogger.