Ulasan Buku : Panduan Memilih Sekolah Anak Zaman Now karya Bukik Setiawan

June 29, 2018

Ulasan Buku : Panduan Memilih Sekolah Anak Zaman Now



"Bila disodorkan kertas dengan garis setengah lingkaran, kira-kira apa yang akan digambar oleh anak-anak Indonesia pada umumnya? Ya, gambar dua gunung yang mengapit matahari." ~ Memilih Sekolah

panduan memilih sekolah



Akhirnya setelah libur selama beberapa minggu, saya kembali lagi di sini. Kebetulan, setelah saya mengecek di Goodreads, ternyata buku ini terlewat oleh saya, belum sempat diulas di blog ini. Ini adalah buku ketiga dari Mas Bukik yang sudah saya baca. Ada dua karyanya yang lain, tentunya tetap berkaitan dengan anak-anak dan pendidikan, sudah saya baca dan tuliskan di blog ini. Kenapa saya membaca buku ini?

Saya akan sedikit mengajak pembaca untuk mengintip isi buku yang bagi saya merupakan manual book bagi yang sedang mencari sekolah untuk anak-anaknya. Tentu dengan beragam poin yang bisa dijadikan bahan pertimbangan, bukan untuk mengecap sekolah ini buruk atau sekolah ini baik dari penampilan luarnya saja. Tapi, benar-benar dipikirkan secara menyeluruh dari sisi manapun hal yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum mendaftarkan anak ke sekolah.


Buku ini menggunakan 5 hal yang digunakan sebagai pendekatan sebelum menentukan sekolah, yaitu :

1. Belajar mengenal dan memahami anak-anak zaman milenial atau zaman now yang akan sering disebut istilahnya di sini.
2. Memahami cara belajar anak-anak masa kini.
3. Memahami sekolah-sekolah yang tersedia untuk anak zaman now.
4. Memilih sekolah untuk anak.
5. Strategi alternatif dalam memilih sekolah.



Ciri-ciri Anak Milenial Atau Anak Zaman Now



Melalui urutan pendekatan cara untuk memahami anak-anak milenial, Mas Bukik dan kedua temannya Andrie Firdaus dan Imelda Hutapea menjabarkan secara rinci bagaimana sih sebenarnya ciri-ciri anak milenial. Adakah perbedaan dengan anak zaman dahulu atau kita di masa kecil? Tentu, setiap perkembangan zaman, anak-anak juga akan turut serta mengikutinya. Dari mulai adaptasi terhadap lingkungan, jenis permainan sampai pola pikir. Karena itulah, rasanya kurang bijaksana jika anak-anak 'dipaksa' untuk harus sesuai dengan penerapan pendidikan seperti zaman dahulu.

Anak zaman milenial lahir dengan kondisi yang sejahtera dimana orangtua mereka dalam keadaan yang mampu. Tidak seperti anak zaman dahulu, ketika makanan saja sulit untuk didapat, pekerjaan pun masih belum sebanyak sekarang, apalagi pekerjaan dalam industri kreatif, masih belum semarak saat ini. Untuk itulah, kondisi mereka yang sudah mumpuni pada masa kini membuat mereka lebih membutuhkan cara untuk bisa Mengelola Diri mereka. Bukan lagi cara agar tetap bertahan hidup terlepas dari perang atau kelaparan.

Selain itu mereka juga peka terhadap perubahan yang bagi banyak orangtua di zaman milenial ini cenderung terlalu cepat. Perubahan di masa saat ini memang berjalan sangat cepat, sehingga untuk memfokuskan diri pada satu hal itu bukan sebuah keuntungan bagi anak-anak ini, karena mereka membutuhkan beragam cara untuk bisa dengan mudah mengalihkan fokus. Maksudnya bagaimana? Begini, kita tentu mengenal tren-tren yang sedang marak saat ini. Sebut saja tren Es Kepal Milo yang sedang naik daun, jika para pengusaha makanan masih terpaku dan fokus pada satu hal, tentu dia tidak akan bisa menyediakan makanan yang dibutuhkan sesuai tren. Karena itulah, penting untuk anak-anak ini agar mereka siap dengan perubahan dan memantapkan mental mereka ketika mengalihkan fokus.

Kebutuhan anak zaman milenial ini bukan hanya persiapan secara mental agar mudah beradaptasi dan mengelola diri saja. Tapi, juga kebutuhan akan teman yang mau dan bersedia meluangkan waktu untuk berbincang dan berkomunikasi. Ini mengingatkan saya pada tulisan Fuad Hassan dalam essaynya yang berkaitan dengan manusia di kota Metropolitan. Dimana pandangannya ini, yang ditulis sekitar tahun 1993, benar-benar relevan dengan kondisi masa kini di banyak tempat.


Orang harus tahu kiatnya mengatasi kejenuhan dan kejemuan, juga kesanggupan untuk menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan. Kalau tidak, dia akan dilanda oleh frustasi berkepanjangan. Mengeluh pun tidak ada gunanya karena tidak gampang menemukan mitra yang sungguh-sungguh mau menampung keluhannya, apalagi memahaminya. ~ Pentas Ibu Kota - Adegan - Fuad Hassan



Dunia Kerja Anak Zaman Now



Pembaca mungkin masih mengingat dengan seorang anak SD yang pernah berdiri sepanggung dengan Pak Presiden Jokowi, kemudian saat ditanya apa cita-citanya, dia menjawab : Ingin Menjadi Youtubers. Tentu ini akan sedikit mengherankan bagi banyak orangtua masa kini yang dahulu setiap ditanya saat masih kecil, pasti menjawab cita-citanya ingin menjadi dokter, abri, polisi, pilot atau astronot.

Betul, pekerjaan yang paling populer pada masa dahulu adalah pekerjaan yang tadi saya sebutkan. Namun, saat ini, banyak pergeseran pekerjaan dan kelahiran pekerjaan baru dimana pada masa dahulu belum terpikirkan keberadaannya. Salah satunya adalah Youtuber, Influencer sampai Content Creator. Jenis pekerjaan ini terlahir di zaman kreatif yang pernah dibahas juga di buku kedua Mas Bukik berjudul Anak Bukan Kertas Kosong. Dimana anak-anak masa kini tidak lagi dituntut untuk lebih unggul dari yang lain tapi harus bisa berkolaborasi dan kerjasama dengan orang lain demi mencapai kesuksesan.

Tidak hanya itu, pergeseran jenis pekerjaan di zaman kreatif saat ini, membuat beberapa jenis pekerjaan yang dahulu memiliki kesan hina atau berada pada level bawah, justru pekerjaan inilah yang membuat banyak para pengangguran memiliki pekerjaan. Sehingga membuka lapangan pekerjaan yang luas. Keberadaan Ojek Online ini membuat para pengendara yang dahulu setiap kita dengar pekerjaan seseorang itu hanya tukang Ojek, kini pekerjaan tersebut memiliki makna yang lebih baik. Lebih modern dan tak lagi menjadi pekerjaan 'hanya' atau jenis pekerjaan yang memalukan.

Makna karir pada generasi masa kini pun mulai mengalami pergeseran. Saya kutip dari halaman 13 buku ini, yang diambil dari buku berjudul Managing Careers : Theory and PRactice, "Pada tahun 1990-an konsep karir baru terasa relevansinya dengan pengalaman kerja sehari-hari. Nama konsepnya adalah karir protean yang menganggap tanggung jawab karir bukan pada organisasi, tapi pada individu yang bersangkutan." Sementara itu anak-anak masa kini, tidak lagi membutuhkan satu saja karir, bisa jadi mereka menjalani karir ganda atau beralih dari karir yang satu ke karir yang lain selama itu bisa mendatangkan sebuah tantangan dan kenyamanan bagi diri mereka. Disebut dalam buku ini bahwa Anak Zaman Now Adalah Penjelajah Karir.




Bagaimana Cara Memilih Sekolah Untuk Generasi Milenial?



Mari dicek dahulu langkah-langkah apa saja yang harus diperhatikan sebelum memilih sekolah untuk anak Anda. Agar mereka merasa nyaman dan bersemangat serta mampu menjadi pribadi yang mudah beradaptasi dan bergaul serta berkolaborasi.

1. Kenali bagaimana anak Anda dan bagaimana kondisi Anda. Seperti apa kebutuhan anak, apakah anak Anda merupakan seorang anak berkebutuhan khusus atau tidak. Sesuaikan dengan sekolah yang Anda cari, apakah mereka menerima anak berkebutuhan khusus atau tidak. Kemudian tanya kembali pada diri pembaca, apa harapan terbesar dalam menyekolahkan anak? Barulah sesuaikan kemampuan baik itu keuangan maupun mental setelah yakin untuk memilih sekolah.

2. Lakukan observasi dan wawancara di sekolah yang pembaca kunjungi. Dengan begitu pembaca bisa melakukan perbandingan dengan sekolah lain atau dengan harapan Anda. Juga bisa mengetahui tentang kriteria sekolah dari orangtua murid lainnya, apakah sudah sesuai kriteria atau belum.

3. Pertimbangkan juga faktor jarak antara rumah dengan sekolah. Jangan sampai terlalu jauh, yang nantinya akan membuat anak mudah lelah dan bosan. Apalagi jika sekolah tersebut harus melalui jalur macet yang bisa membuat anak justru akan mengalami stress dan kemungkinan mereka mogok sekolah juga akan besar.


Dalam buku ini juga disematkan daftar hal-hal yang harus dipertimbangkan lainnya dalam memilih sekolah. Bahkan disertakan juga bagaimana cara pembaca menilai sebuah sekolah melalui hal-hal yang tidak tampak sehingga mencegah pembaca merasakan kekecewaan setelah anak Anda didaftarkan di sekolah tersebut. Untuk itu, pertimbangan dalam memilih sekolah, bukanlah hal yang sepele, jangan sampai justru membuat anak Anda stress dan cenderung tidak mampu mengikuti perkembangan zaman. Selain itu ada beberapa daftar yang disertakan sebagai bahan wawancara secara tidak langsung dengan staf sekolah, sehingga Anda bisa melepas putra dan putri di sekolah tanpa khawatir yang berlebihan.



***


Buku ini sebenarnya cocok untuk dibaca oleh semua kalangan baik itu mereka yang sudah berkeluarga dan sedang mencari sekolah yang sesuai untuk anaknya. Atau mereka yang belum memiliki anak dan belum berkeluarga. Karena, informasi yang ada di dalam buku ini, bisa disebarkan kepada mereka yang membutuhkan. Agar banyak orang bisa merasakan manfaatnya serta bisa mempertimbangkan hal apa saja yang harus diperhatikan sebelum memilih sekolah.

Karena, sayang sekali jika mindset-nya masih terfokus bahwa Sekolah Yang Mahal Itu Pasti Bagus. Padahal, saat ini semua sekolah yang bahkan menawarkan sistem pendidikan menanamkan pun terkadang tidak memiliki kualitas seperti yang ditawarkan. Jadi, buku ini mencegah pembaca menjadi korban iklan atau pemasaran sekolah-sekolah yang tampak menjanjikan padahal tidak seperti itu.



Kartu Tanda Buku


Judul : Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now || Penulis : Bukik Setiawan - Andrie Firdaus - Imelda Hutapea || Halaman : 153 || Cetakan 1, Maret 2018 || Penerbit : Buah Hati || ISBN : 9786027652965 || Goodreads : https://www.goodreads.com/review/show/2401892845





No comments:

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.

Powered by Blogger.