Warga Desa Nusantara Ogan Ilir Sukses Panen Raya

Desa nusantara


Ada berapa banyak hasil alam di Indonesia yang bernilai tinggi? Ada banyak. Banyak sekali. Salah satunya beras yang merupakan hasil alam yang notabennya sudah mulai bergeser. 

Dahulu, Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Negara penghasil beras dengan komoditi yang cukup tinggi. Menjadikan negara ini bisa mensupply beras bahkan ke luar negeri. Tapi, pergeseran hasil pertanian membuat Indonesia tak lagi dikenal sebagai negara agraris. 

Sebenarnya, pada peraturan daerah, tiap-tiap wilayah harus memaksimalkan hasil pertanian agar bisa bersaing dengan hasil bumi lainnya. Dengan memanfaatkan lahan yang tersisa, setiap daerah diupayakan bisa memberikan hasil panen maksimal. 

Sayangnya, perda yang sudah mencantumkan mengenai perlindungan tanaman dan sektor pertanian ini. Masih belum diterapkan dengan optimal pada kenyataannya. Salah satunya dengan melakukan generalisasi produksi tanaman yang dipandang bernilai tinggi. Sehingga, menggeser hasil alam lain yang merupakan produk asli dari tempat tersebut. 


Hasil Pertanian Disesuaikan Dengan Ekologi Masyarakat Setempat

Ekologi yang diambil dari bahasa Yunani secara singkat merupakan cara pengendalian sistem produksi pertanian yang sesuai dengan lingkungan setempat. Pengendalian ini tentunya ditujukan bukan hanya untuk hasil panen berlimpah tapi juga untuk keseimbangan alam dengan tidak merusak mikroorganisme maupun lingkungan sekitar.

Seperti di Desa Nusantara, Ogan Ilir. Sebuah desa yang dihuni para transmigran di atas lahan gambut. Awal mulanya para transmigran ini belum mengetahui tanaman apa saja yang bisa dimaksimalkan potensinya di atas lahan gambut. Seiring berjalannya waktu, masyarakat transmigran ini akhirnya bisa menjadikan lahan tersebut ditanami padi. 

Meski perjuangan mereka sempat terkendala dengan gagal panen akibat krisis air. Namun, tahun 2021 ketika pandemi melanda justru Desa Nusantara ini berhasil panen raya. Total terdapat 28 gudang beras yang secara keseluruhan dipenuhi oleh stok hasil panen.

Dengan keberhasilan panen ini, membuat masyarakat Desa Nusantara bahkan dinilai mampu memenuhi kebutuhan pangan berupa beras, untuk masyarakat sekitar. Sehingga, impor beras tentu bisa berkurang. 

Hasil panen ini juga sebagai pembuktian bahwa hasil pertanian di atas lahan gambut bisa berupa apa saja. Bahkan, hasil buah-buahan di Desa Nusantara juga berlimpah. Ini bisa dijadikan contoh untuk wilayah lain dengan lahan terbatas. Tanpa membebani alam dengan pengrusakan akibat pembebasan lahan.

Seperti di Desa Nusantara yang justru tidak merusak lahan gambut yang ada. Namun, mereka menggunakan lahan tersebut untuk pertanian. Tentu bukan hal yang mudah namun masyarakat Desa Nusantara terbukti mampu mengoptimalkannya.

Lahan gambut memiliki banyak manfaat. Bahkan, bisa menyimpan cadangan air yang nantinya akan dilepas saat musim kemarau. Juga, bisa menyerap banyak karbon dan melepaskan oksigen dalam jumlah yang sangat berlimpah. Semua manfaat ini masih bisa dirasakan berkat masyarakat sekitar yang masih peduli dengan lingkungan.


Bayang-bayang Hasil Tani Demi Keuntungan Pihak Swasta Semata

Sayangnya, konflik antara masyarakat dengan pihak swasta terus membayangi. Pihak swasta ingin menggunakan lahan tersebut demi penanaman sawit. Untuk kepentingan pihak mereka yang notabennya tidak memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar dan lingkungan.

Efek dari konflik ini, masyarakat Desa Nusantara tentu menjadi resah. Sebab, seperti pada umumnya, pihak swasta PT SLM ini, memiliki dana yang besar untuk membayar pengacara dan bantuan hukum. Sementara bagi warga Desa Nusantara hal ini tidak memungkinkan mereka. Jadi, seperti berperang dengan tangan kosong. 

Beruntung masih ada lembaga masyarakat seperti WALHI yang bisa mendukung dan membantu warga Desa Nusantara. Pihak WALHI dengan Dana Nusantara mendampingi warga yang saat ini harus berada di bawah bayang-bayang perusahaan sawit.

Dana Nusantara ini juga banyak membantu warga dan petani yang diwajibkan membayar bahan mentah pertanian dengan nilai yang cukup tinggi. Sementara dari hasil tani, mereka tidak mendapat keuntungan yang besar.

Pendanaan yang digunakan untuk membantu banyak wilayah, terutama masyarakat lokal yang ikut menjaga kelestarian alam seperti Dana Nusantara ini sangat bermanfaat. Meski nominalnya tidaklah besar. Tapi, bisa membantu mereka memaksimalkan lahan serta membantu warga dalam menjaga lahan yang memang sejak dulu sudah dikelola secara turun temurun.

Harapan jangka panjang, yaitu pemerintah bisa mendorong hasil pertanian yang disesuaikan dengan ekologi masyarakat setempat. Jadi, tidak ada lagi pemaksaan lahan pertanian untuk sawit semata. Karena, hasil tani bukan cuma sawit. Apalagi di Indonesia ada banyak tanaman berupa sayur dan buah yang masih bisa dimaksimalkan. 


Postingan Terkait