Tanah TAbu



Pembahasan mengenai Papua sedang menarik perhatian saya. Dua buah buku yang mengangkat tema Papua selesai saya tuntaskan. Kali ini perkenalan pertama saya dengan buku milik Anindita. Konon, pertama kali ia merencanakan tulisan tersebut dengan tujuan membuat buku untuk anak-anak tentang Papua. Namun, riset pustaka yang dilakukannya selama bertahun-tahun. Justru membawanya pada fakta-fakta sejarah yang sulit untuk diabaikan.

Tentang penambang emas, tentang sistem patriarki, tentang peperangan antar suku hingga prostitusi. Bagi saya pribadi, buku ini menguak dua sisi modernisme atau pembangunan dari sebuah daerah. Mengingatkan saya pada pembangunan listrik di desa Karangsonga tempat Ahmad Tohari mengisahkan Bekisar Merah. Dimana bagi rakyat sok modern seperti saya. Keberadaan listrik adalah sebuah kabar gembira. Namun, bagi Darsa dan masyarakat daerah tersebut. Masuknya listrik ke desa mengakibatkan lahan bekerja mereka ikut dibabat.

Karena kisah ini dirajut melalui sudut pandang tiga tokoh dalam cerita. Dengan gaya bahasa yang mudah dicerna. Tidak sulit sama sekali. Kemudian, menggunakan latar maju dan mundur. Membuat saya kesulitan menyampaikan apa saja yang ada dalam buku ini. Semua kisah sama pentingnya. Semua tokoh punya peran yang sama. Hingga saya kehabisan kata-kata.



Kartu Tanda Buku

Judul : Tanah Tabu
Penulis : Anindita S. Thayf
Halaman : 238
Terbit : 10 Nov 2015
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Bahasa : Indonesia
Format : Ebook Gramedia Digital
ISBN : 978602032294


Papua Dan Para Penambang Emas



Kehadiran orang-orang yang datang dengan tujuan mengoptimalkan kekayaan alam Papua. Nyatanya justru mendatangkan malapetaka untuk mereka. Kekayaan yang didapat hanya untuk mengisi pundi-pundi pemilik perusahaan. Pemilik modal. Dan, ini bukan rahasia lagi. Sayangnya, saya pun menyadari jika berita mengenai eksploitasi bumi Papua sering timbul tenggelam. Terkadang nampak begitu terlihat. Di lain waktu akan seperti kapal selam yang hanya nampak sebagian kepalanya saja.

Melalui sudut pandang Pum dan Kwee, keduanya mengisahkan secara bergantian. Masa sebelum orang-orang berkulit putih membuat kacau tanah ini. Di sini, Anindita menjabarkan mengenai kehadiran mereka justru memperkeruh hubungan antar-suku di Papua. Yang semula memiliki batas-batas wilayah kekuasaan yang nyata. Yang tak boleh dilanggar oleh setiap suku. Namun, justru hilang. Tak hanya batasan wilayah saja, namun seolah Papua kehilangan identitas mereka.

Usai tergusur tempat tinggalnya. Mabel berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Dia adalah seorang wanita tua yang dipandang oleh Pum dan Kwe sebagai wanita yang kuat. Wanita yang menyadari ketika pertama kalinya orang-orang itu datang. Menawarkan jasa untuk mengelola kekayaan alam mereka. Membangun kantor-kantor, yang kemudian hari mendatangkan pembangunan tempat hiburan. Pada mulanya, sempat ditentang oleh banyak suku di Papua.

Pertentangan itu berbentuk pertempuran hingga pembunuhan dan pengayauan orang pendatang. Di mata kita sebagai orang luar, tentu akan berpikir bahwa apa yang dilakukan mereka adalah salah. Menyerang orang-orang yang hanya mengikuti perintah perusahaan. Namun, huru-hara yang terjadi justru semakin menyudutkan para masyarakat di sana. Tak hanya pendatang yang diserang. Masyarakat Papua dari beragam suku yang tinggal dengan mereka pun ikut menjadi korban.

Seperti ketika Mabel menjadi pelindung untuk Ny. Hermine. Ketika Tuan Piet keluar bersama beberapa pemuda. Untuk menuju lokasi tempat pertikaian usai terdengar pengayauan besar-besaran. Dari sudut pandangnya inilah, konflik tersebut membuat resah semua yang tinggal di sana. Baik berkaitan langsung dengan konflik maupun tidak.

Korban-korban yang diserang akan dibunuh. Kemudian, batok kepalanya akan diayau, dikerok hingga lapisan terdalam. Jika membayangkannya saja sudah terasa linu. Bagaimana jika mengambil sudut pandang Mabel yang ternyata tak gentar menghadapi kondisi yang demikian menegangkan. Ia tegak berdiri di usianya yang masih sangat muda. Melindungi seorang wanita Belanda agar tetap terlindung.

Perusahaan penambang emas memang mempekerjakan banyak orang Papua. Memberi mereka gaji. Namun, seolah jodoh yang tak pernah bisa dilepas. Keberadaan proyek tertentu dengan kehadiran tempat hiburan di suatu tempat. Membuat para pekerja menghabiskan waktu mereka di sana. Minum-minuman keras, kemudian menggelontorkan uang untuk menikmati Paha Putih.

Tak terkecuali suami Mama Helda. Wanita ini sudah berharap bahwa suaminya akan berubah ketika suatu hari ia dinasehati Mabel untuk pergi meninggalkan lelaki itu. Mama Helda percaya kalau nanti suaminya akan menjadi baik. Tapi, apa yang ia terima? Pukulan demi pukulan sampai caci maki. Uang pun hanya sedikit yang ia terima. Karena, suaminya lebih memilih menghabiskan waktu di tempat hiburan.



Suara Jeritan Yang Terdengar Pilu



Banyak sudah kajian-kajian feminisme yang diangkat dari buku ini. Bukan sekadar telaah fiksi biasa. Tapi, membedah bagian-bagian kelam para tokohnya. Terutama para wanita. Di sini, diwakilkan oleh sosok Mabel, Mace Lisbeth dan Mama Helda. Ketiganya mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dan, entah bagaimana semua itu terjadi saat kedai hiburan itu mulai hadir di sana.

Meski di mata orang asli Papua, buku ini masih tampak seperti tulisan orang luar Papua. Dalam hal ini berarti Anindita masih dipandang belum mampu mengorek semua tentang pulau ini. Tetap saja menyisakan kegelisahan akan penderitaan para tokohnya.

Bayangkan saja. Mama Helda harus menerima kenyataan janin di dalam kandungannya gugur saat melarikan diri. Bukan karena dia kelelahan, tapi karena perutnya ditendang oleh sang suami. Pelariannya pun diakibatkan sang suami yang meminta dengan paksa uang dari Mama Helda. Untuk digunakan membayar Paha Putih. Istri mana yang tak berang mendengar hal tersebut?

Sistem Patriarki yang memang kental di banyak wilayah di Indonesia. Membuat kasus-kasus penyiksaan terhadap perempuan ini seperti kasus biasa. Bahkan, saking kuatnya sistem ini. Dalam kisah ini, Mabel yang mendengarkan pertengkaran Mama Helda. Tak punya kuasa untuk bertindak apalagi membantu. Mereka takut, karena ketika mengusik apalagi mencoba melerai berarti sudah mengganggu.

Mabel bukan wanita tua yang minim pengalaman. Ia tumbuh bersama keluarga angkat yang berasal dari Belanda. Ia belajar banyak hal. Mulai dari pengetahuan umum sampai bahasa Belanda pun Mabel bisa. Pengalaman inilah yang membuatnya banyak bertemu orang di beragam tempat berbeda. Ia sering ikut berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bertemu orang berbeda.

Pengalaman pertamanya menikah sempat membuatnya merasakan nikmat dunia. Sayangnya, karena ketidak-tahuannya melanggar batas wilayah suku lain. Membuat Mabel diculik dan tercetuslah perang antar suku. Usai perang berakhir, sang suami mengembalikan Mabel ke orang tuanya. Kemudian, meminta kembali maharnya disertai kata-kata yang menyakiti hati orang tua Mabel.

Pernikahan yang kedua pun sama. Berakhir dengan hal-hal yang tak menyenangkan hingga pilihan akhir adalah melarikan diri. Menjadi Janda adalah hal terberat bagi wanita di Papua. Karena itu, kabur merupakan hal yang ia pilih. Bersembunyi dari kejaran sang suami adalah hal tersulit baginya. Sebab itu, ia sudah menikmati banyak pengalaman yang membuka matanya terhadap dunia. Membuatnya menjadi sosok nenek yang bijaksana bagi Leksi.


“Mereka para perempuan bodoh yang tidak mau berusaha mencari jalan menuju kehidupan yang lebih baik, lahir dan batin. Juga laki-laki sombong yang merasa dirinya lebih berkuasa dan tinggi derajatnya dari perempuan.” ~ Hal 136



Pendidikan Bukan Hal Utama



Di kalangan masyarakat Papua. Memiliki anak perempuan dan lelaki itu sebenarnya sama saja. Meski, anak perempuan sedikit dipandang sebelah mata. Namun, bagi mereka anak perempuan bisa dijadikan pertukaran dengan hewan ternak seperti Babi dan alat untuk berburu. Melalui pernikahan di usia mereka yang cukup. Dimana pernikahan itu harus disetujui dulu oleh pengantin lelakinya. Apakah ia berkenan atau tidak.

Karena dianggap bisa mendatangkan pertukaran. Itulah sebabnya, mengenyam pendidikan bukan hal yang utama. Tidak perlu anak-anak sekolah, demikian Mama Helda mendidik Yosi sahabatnya Leksi. Yosi yang pada mulanya sempat ikut bersekolah bersama Leksi. Akhirnya harus menuruti perintah sang Ibu untuk tinggal di rumah dan membantu mengurus adik-adiknya.

Ibunya Yosi, Mama Helda sibuk untuk mencari sagu untuk makanan mereka. Seorang wanita Papua haruslah bisa berladang, memanjat pohon hingga membedakan mana hasil alam yang bisa dijadikan makanan mana yang bukan. Sementara lelaki Papua, pada mulanya mereka memiliki tugas untuk berburu. Pembagian ini kemudian berganti menjadi pekerjaan di penambang emas.

Hanya Mabel, seorang nenek yang memaksa Leksi untuk terus sekolah. Di tempat yang sebenarnya tidak bisa dikatakan sangat layak. Karena, hanya tersisa beberapa murid saja. Mabel tak ingin Leksi tumbuh menjadi anak gadis yang sama seperti kebanyakan wanita di Papua. Mabel punya impian agar Leksi bisa menjadi wanita-wanita berpakaian putih yang pernah datang ke daerah mereka. Wanita tersebut datang untuk memberi penyuluhan tentang penyakit Malaria.


Penutup


Sebenarnya, ada banyak hal yang dibahas di dalam buku ini. Terutama muatan politik yang sungguh memuakkan. Yang juga memilukan. Persis seperti kondisi politik masa kini yang bagai tak berubah barang sedikit. Mungkin, perubahan itu hanya berupa cara penyampaiannya saja.

Selain muatan politik, ada juga informasi sedikit mengenai kesehatan masyarakat Papua yang masih sangat minim. Hal ini patut dikaji lagi lebih dalam mengingat penulisan buku ini sekitar tahun 2012. Jauh sebelum pembangunan lain datang ke tempat tersebut.

Penjelasan mengapa judul buku ini Tanah Tabu, bisa didapat di halaman 74 dari perkataan Mabel. “Tanah kita keramat, Nak. Tabu. Diciptakan Yang Maha Kuasa khusus untuk kita, tahukah kau kenapa? Sebab Dia tahu kita bisa diandalkan untuk menjaganya. Itulah mengapa nenek moyang kita sejak dulu hidup sederhana. Apa adanya. Mengambil seperlunya dari alam dan mengembalikan sisanya lagi pada alam untuk disimpan sebagai warisan anak-cucu.

Anindita murni mengemas buku ini melalui riset pustaka. Tentu mendatangkan pertanyaan dari beberapa orang mengenai keabsahan media yang dijadikan bahan risetnya. Begini, banyak media berita yang tentu membatasi atau hanya fokus pada satu hal saja. Apakah mampu mewakili wajah keseluruhan Papua secara nyata? Untuk itulah pembaca semestinya melakukan studi lanjutan.

Seperti menggali kembali mengenai adat dan kondisi sosial Papua. Untuk adat Papua tentang suku yang memakan daging musuhnya juga dimuat di novel ISinga. Yang juga mengangkat tentang kondisi Papua. Cukup lengkap untuk penggambaran latar dan budayanya. Meski konfliknya tidak sebanyak dan sekomplit di Tanah Tabu. Setidaknya bisa menjadi bahan bacaan tambahan untuk yang tertarik dengan buku-buku sejenis.

Kesulitan yang saya temui saat membaca novel ini, sudah saya sampaikan tadi. Sulit untuk merangkum semua hal yang ada di dalamnya. Seolah sajian datanya banyak sekali. Berkumpul menjadi satu. Namun, memang hanya feminisme dan kisah para wanita ini yang tampak menonjol. Padahal, saya juga mengharapkan mengenai kondisi lain terkait adat dan hubungan dengan suku lain. Apakah modernisasi ini juga masuk ke suku-suku tersebut atau tidak.

1 Comments

  1. Saya rasa soal hubungan dengan suku lain tidak perlu dipertanyakanlah ya, hubungan antar-suku saja sudah begitu. Hehe. Menurut saya kenapa Papua dari dulu ini semacam dianaktirikan oleh negara adalah karena memang dari dulu cara kita mendapatkan Papua untuk dimasukkan jadi bagian dari NKRI adalah dengan cara paksa. Warga Papua kan menolak untuk jadi bagian dari NKRI. Saya mengambil analogi relationship, di mana hal-hal yang didapatkan dengan cara paksa biasanya setelah didapatkan akan kehilangan daya tariknya. Tidak lagi seperti ketika masih diperjuangkan. Dan menurut saya itu yang terjadi dengan Papua.

    Ya, itulah teori sotoy saya. Wkwk

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.