Book Review : On the Fence Karya Kasie West

Book Review : On the Fence Karya Kasie West


On the fence


Kali ini tema cerita yang diangkat, cukup menyedihkan. Bagian romansanya pun tidak begitu banyak. Namun, permasalahan keluarga dan bagaimana progres si tokoh utamanya dalam pencarian jati diri serta penerimaan akan masa lalu sangat ditekankan di sini. Bisa dikatakan, permasalahan yang diangkat di sini lebih berat timbangannya dibanding tiga novel Kasie West lainnya yang sudah saya baca.

Keberuntungan tokoh utama dalam novel On The Fence ini adalah dia memiliki tiga kakak lelaki yang sangat menyayanginya dan memiliki tetangga lelaki yang juga menjaganya. Gadis yang menjadi tokoh utama di novel ini bernama Charles. Namun, keluarganya dan banyak teman-temannya memanggil Charlie.

Kartu Tanda Buku 


Judul : On the Fence || Penulis : Kasie West || Halaman : 304 || Format : Ebook Scribd || Bahasa : English || Terbit : 9 Januari 2001 || Diterbitkan oleh HarperTeen


Bagaimana Jika Kamu Adalah Seorang Perempuan Yang Bahkan Tidak Tahu Caranya Menjadi Perempuan?


Ini bukan kisah tentang seseorang yang ingin berganti gender atau seseorang yang bingung gender. Tapi, karena kehidupan Charlie ini dikelilingi oleh banyak lelaki, membuat dirinya bahkan tidak tahu apa yang biasa dilakukan oleh para gadis lain seusianya. Dia tidak tahu apa minyak wangi yang sedang tren, tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta bahkan tidak tahu pakaian apa yang dapat menonjolkan kecantikan yang ada dalam dirinya.

Charlie masih mengingatnya, bahkan selalu terngiang dalam mimpinya momen ketika kecelakaan mobil yang dialami oleh Ibunya terjadi. Bagaimana rasa takut menghantuinya hingga dia berusia 16 tahun. Mimpi tentang kecelakaan yang terjadi pada Ibunya, sering membuat Charlie merasakan sesak. Itulah sebabnya dia rutin berolahraga lari sebelum tidur. Namun, Ayahnya akan memarahinya jika dia lari pada malam hari tanpa ditemani kakak-kakaknya atau ditemani Braden.

Kehidupan tanpa seorang Ibu yang menemani di sisinya, membuat Charlie hidup seperti laki-laki. Meski sang Ayah berusaha untuk mengikuti petunjuk dari buku tentang membesarkan anak Gadis, tetap saja banyak hal yang terlewatkan. Seperti, ketika dia pertama kali merasakan ada ketertarikan pada lawan jenis. Atau ketika dia merasa ingin berteman dengan gadis-gadis di luar sana selain teman-teman lelaki kakaknya. Juga ketika Charlie berusaha untuk menjadi seperti para gadis lain seumurannya.

Pencarian jati diri di sini, cukup unik, mengangkat bagaimana kebiasaan seseorang bisa membuatnya tampak berbeda dengan orang lain pada umumnya. Keunikan, ini yang mungkin ingin Kasie bahas dan tekankan bahwa setiap orang tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang memiliki keunikan. Jadi, tidak ada salahnya tetap unik dan bangga dengan keunikan diri sendiri.

Namun, Kasie tidaklah menjelaskan hal itu secara gamblang. Dia mengemasnya ke dalam kehidupan remaja yang beranjak dewasa. Yang tengah mencari posisi seperti apa dan bagaimana sebenarnya dirinya pada lingkungan masyarakat. Juga pada pertemanan. Dan seperti apa rasanya jatuh cinta itu. Kasie juga memunculkan hal-hal yang memang kerap terjadi pada remaja yang sedang mencoba untuk mencari tahu tentang keunikan dalam dirinya. Hal inilah yang membuat saya jatuh cinta pada karya-karya Kasie West.



Bagaimana Jika Kita Dihadapi Pada Kenyataan Yang Cenderung Pahit?


Kejujuran, Fakta, Kenyataan adalah hal yang tidak jarang mendatangkan rasa sakit. Tidak sedikit pula orang-orang yang berusaha menutupi kebenaran dengan gambaran yang fana dalam pikirannya. Itu demi menutupi rasa sakit akibat fakta yang ada. Dan Kasie hendak membisikkan fakta ini, bahwa manusia sering denial terhadap kebenaran yang ada, pada mereka-mereka yang masih remaja dan beranjak dewasa.

Melalui kehidupan Charlie, kita diajak untuk mensimulasi sensor kita ketika dihadapi pilihan sulit dalam kehidupan. Salah satunya, ketika Charlie terus memikirkan kenapa dirinya tidak memiliki satu pun ingatan tentang sosok sang Ibu? Kenapa, bahkan Braden, mengingat beberapa hal yang terjadi pada Ibunya?

Seperti ketika mereka berbincang malam itu, saat Braden mengatakan pernah melihat Ibunya Charlie menangis di rumah Braden, kemudian Ibunya Braden menenangkannya. Ingatan seperti itu mengganggu Charlie karena dia sama sekali tidak mengingat apa-apa selain ingatan ketika kecelakaan mobil itu terjadi.

Bahkan, Braden masih mengingat ketika Charlie yang berusia 4 tahun sudah bisa mengendarai sepeda roda dua. Sementara Braden masih belum bisa mengendarai sepeda roda dua, padahal Braden lebih tua satu tahun dari Charlie. Dari ingatan tentang masa lalu itulah, membuat Charlie terkejut karena dia tidak mengingat momen-momen seperti itu.

Saat kesempatan itu ada, kesempatan yang berbentuk fakta-fakta mengenai sang Ibu, Charlie masih menunda untuk mengetahuinya. Dia melarikan diri dan berusaha untuk bersembunyi dari kenyataan. Senantiasa memupuk apa-apa yang masih dia ingat tentang Ibunya, meski pun hanya sedikit. Dan itu bersumber dari foto-foto yang terletak di kotak yang berada di dapur.


Karena Saya Suka Ceritanya Inilah Beberapa Alasan Kenapa Saya Rekomendasikan Buku Ini Ke Kamu


  • Genre Young Adult ini sedang banyak digemari karena dikemas dengan cerita tentang kehidupan sehari-hari tokohnya.
  • Ceritanya juga ringan, mengulas keseharian Charlie, persahabatannya, gambaran betapa menyenangkannya kakak-kakaknya Charlie.
  • Seperti komentar saya terhadap bukunya Kasie West lainnya, di sini tokoh utamanya memiliki pendirian dan karakter yang kuat. Dia punya tujuan dalam hidupnya, dalam hal ini berkaitan dengan olahraga.
  • Pesan moral yang disampaikan Kasie tidak melalui nasihat-nasihat yang membosankan. Namun, disalurkan dalam setiap keputusan-keputusan dan masalah-masalah yang dihadapi tokohnya. Sehingga, pembaca bisa langsung bereksperimen dengan perasaan mereka melalui hal-hal yang dirasakan oleh para tokohnya.
  • Romansa yang ditawarkan Kasie West, selalu berbentuk sesuatu yang sederhana dan manis. Lebih sering, Kasie mengangkat Cinta Datang Karena Terbiasa. 


Kutipan Favorit Saya Dari Novel On The Fence 


"Sometimes we expect more than people are capable of giving at that moment." 
"We can't let boys define how we feel about ourselves." 
"You have to know who you are before you should let any boy worth anything in." 
"Breaks are good. Maybe the time away will help clarify things."

***


Selama membaca On the Fence ini, saya memikirkan apa sih yang membuat Kasie menjadikannya sebagai judul? Meskipun memang tidak banyak momen di Fence aka di Pager ini. Karena, lebih banyak momen ketika Charlie berada di lapangan tempat olahraga. Tapi, cukup masuk akal ketika menamatkan bacaan ini, dimana Fence menjadi tempat dua orang manusia saling mengutarakan hal-hal yang tidak bisa diutarakan pada orang lain.



Ini buku Kasie West ke-empat yang saya baca. Sepertinya, saya sudah bisa memasukkan nama Kasie West ke dalam kategori penulis yang karyanya membuat saya penasaran. Apalagi buat kalian yang butuh bacaan ringan dan tidak memakan waktu lama saat membacanya. [Ipeh Alena]

Post a Comment

0 Comments