11 April 2018

Book Review : A List of Cages

Book Review : A List of Cages





Membaca berita mengenai kekerasan pada anak-anak hingga penganiayaan anak-remaja saja sudah membuat saya cukup meringis karena takut dan sedih. Apalagi harus membaca dan membayangkan dengan imajinasi saya setiap detil narasi dari sudut pandang si korban. Ini memang bukan novel bergenre Thriller seperti pembunuhan. Bukan. Bukan pula novel tentang detektif dan hal lainnya.

Ini novel tentang dua orang remaja yang memiliki keistimewaan dimana Adam merupakan seorang remaja dengan ADHD dan Julian yang memiliki kesulitan membaca karena dia seorang Disleksia. Keduanya membagikan cerita kehidupan mereka yang sangat teramat berbeda. Adam yang ceria dan banyak disayang oleh orang di sekitarnya sementara Julian yang pendiam, gemar menyendiri bahkan dianggap aneh oleh banyak orang. Cerita disampaikan melalui sudut pandang Julian dan Adam secara bergantian.

Kalian tidak perlu mengantisipasi apa-apa tentang buku ini, karena memang selain penggalian emosi dari karakternya yang benar-benar maksimal. Meski terdapat gambaran kekerasan pada salah satu tokohnya, tidak dideskripsikan dengan detil. Namun, tetap membuat hati ini terasa ngilu karena eksplorasinya justru pada emosi yang benar-benar membuat perasaan ini menjadi campur aduk meski sudah menamatkannya.



Kartu Tanda Buku


Judul : A List of Cages
Penulis : Robin Roe
Halaman : 320
Terbit : 10 Januari 2017
Versi : Ebook Kindle
Bahasa : Inggris
Penerbit : Disney Hyperion
Goodreads : https://www.goodreads.com/review/show/2351891608




Dua Karakter Anak Dan Cerita Kehidupan Mereka 




Namanya Adam, dia memiliki banyak teman. Pembawaannya yang selalu ceria dan ramah, serta mudah menjalin komunikasi dengan orang di sekitarnya membuatnya banyak dikenal oleh teman-teman satu sekolah. Bahkan, beberapa guru menjadikannya sebagai murid favoritnya. Itu karena dia memang senang menolong dan membantu juga tidak pernah tampak nakal karena baginya jika ada yang berbuat onar dengannya, dia hanya ingin melupakannya segera. Adam seorang remaja yang enggan berbuat keributan.

Remaja lain, seorang lelaki bernama Julian, dia empat tahun lebih muda dari Adam. Berpenampilan lebih kecil, kurus, rambut yang menjuntai menutupi wajahnya serta pendiam. Bukan tanpa alasan jika Julian bersikap menjadi anak pendiam, itu karena dia merasa bingung harus bereaksi seperti apa jika ada orang lain bertanya padanya. Dia lebih sering mengatakan, "I'm sorry" ketimbang menjawab pertanyaan yang diajukan. Kegemarannya untuk menyendiri dan jarang berbicara ini membuat teman-teman yang seumuran dengannya menganggap Julian ini aneh.

Keduanya bertemu saat Adam mendapat tugas untuk mengajar anak-anak yang masih belum bisa membaca. Dan Julian adalah reading buddy-nya. Dari kegiatan inilah akhirnya Adam dan Julian menjadi teman yang cukup dekat. Sampai-sampai Ibunya Adam juga ikut menyayangi Julian dengan sepenuh hati. Setiap kali mereka bersama, Julian akan bercerita bahwa Ibunya sangat pandai bernyanyi dan Ayahnya pandai melukis. Dan setelahnya dia akan bernyanyi.


"Julian's little face got serious, and then he burst into song. His powerful voice grabbed the attention of the entire room, and even Charlie stopped crying for a minute." ~ A List of Cages by Robin Roe


Robin menggambarkan bagaimana Adam dengan sangat detil meski tidak dalam satu bingkai. Penjelasan tentang ADHD ini disematkan melalui kegiatan dan aktivitas rutin yang tampak benar-benar natural. Hingga tidak ada kesan dipaksakan bahwa tokoh ini seorang ADHD. Hal yang menguntungkan bagi penulis adalah mengeksplorasi setiap adegan dan detilnya melalui sudut pandang setiap tokoh, ini kenapa saya merasa puas dengan bab demi bab yang dibagi secara terpisah antara Adam dan Julian melalui sudut pandang mereka masing-masing.

Begitu pula dengan Julian yang mendapat porsi yang setara dengan Adam, penggambaran sosok remaja tanggung yang kesulitan membaca karena Disleksia juga digambarkan dengan sangat jelas dan natural. Pembaca mungkin akan memaklumi ketika melihat secara keseluruhan kenapa Julian menjadi anak yang tidak mudah bergaul, tidak mudah mengatakan apa yang ada dipikirannya bahkan tidak mampu berbicara ketika ditanya. Dia bahkan tampak linglung dan tidak tahu apa yang disuka dan apa yang tidak disuka. Meski saya sempat merasa gregetan karena Julian menjadi sosok yang teramat bergantung pada Adam hingga tampak Adam seperti Ayah baginya. Tapi, jika kembali melihat dari sudut pandang berbeda, ketakutan terbesarnya terhadap sosok lain ini yang menjadi penyebabnya tampak bergantung pada Adam.



Kisah Di Sekolah Dan Masa-masa Remaja



Beruntunglah kalau Anda melewati masa remaja dengan teman-teman yang mengelilingi tanpa perlu bersusah payah menjadi orang lain. Kedua tokoh utama dalam novel ini, masing-masing tetap menjadi diri mereka sendiri. Konsistensi karakter mereka dan perkembangan salah satu tokoh dari traumanya yang sempat naik-turun bagai roller coaster, cukup menyita perhatian dan menguras emosi. Namun, tidak kalah menarik adalah kisah kehidupan remaja ini di sekolah.

Setiap saat, pembaca akan diajak mengikuti Julian untuk bertemu dengan Dr. Whitlock. Di sini peran Adam adalah sebagai asisten Dr. Whitlock yang harus membantunya agar Julian mau menemuinya tanpa ada paksaan. Adam mematuhi hal ini tanpa membantah karena baginya itu bukan hal yang sulit. Apalagi mengingat keduanya pernah sangat dekat hingga sebuah insiden membuat keduanya terpisah tanpa pernah bertukar kabar lagi.

Di ruangan Dr. Whitlock kita akan mendengarkan dengan seksama dan melihat betapa kerasnya beliau berusaha untuk mengetahui isi hati Julian dan mendengarkan dirinya bercerita. Entah itu mengajaknya bermain sebuah permainan sambil berbincang atau ikut serta mengajak Adam dalam sesi konselingnya agar Julian tetap merasa betah.

Adam memang tipikal seorang remaja yang gampang membuat orang yang ada di sekitarnya merasa nyaman. Tidak heran jika Julian mau bertukar cerita dengannya meski pada awal-awal pertemuan mereka lagi setelah perpisahan cukup sulit. Namun, berkat ketekunan dan kesabaran Adam yang sebenarnya memang sifatnya dia begitu, hingga kita tidak melihat adanya beban yang membuat Adam merasa bosan, membuat Julian bisa berkumpul dengan teman-temannya.

Kisah yang cukup menarik adalah ketika Adam dan teman-temannya berusaha untuk berebut meja di kantin. Dari sudut pandang para tokoh yang menyeritakannya ini bahwa kafetaria tersebut tidaklah cukup untuk menampung semua murid di sekolah tersebut. Apalagi waktu istirahat untuk mereka sangatlah sebentar, bahkan ada beberapa siswa yang hanya mampu menghabiskan waktu istirahatnya untuk mengantri makanan namun tidak juga berhasil memakan sajian di kantin. Sebagai penggambaran yang cukup jelas bahwa kondisi kantin dan waktu istirahat tidak sejalan sehingga banyak orangtua murid yang mengeluh bahwa anak mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan nutrisi dan menyebabkan mereka lemas dan mudah sakit.

Selain itu, kebiasaan Adam yang cukup lucu yaitu dia senang sekali merusak tatanan rambut Emerald. Apalagi dia juga pernah beberapa kali memeluk Emerald tanpa memberitahukan kepadanya dengan alasan, dia membutuhkan hormon yang bisa menenangkannya. Meski begitu, Emerald mengaku sudah memiliki pacar yakni seorang pilot yang keren.

Kehidupan Julian mungkin akan tampak seolah terlalu gelap dan muram, tapi demikianlah kehidupan pada beberapa orang jika kita mengamati lebih dekat agar bisa mengetahui dengan jelas apa yang mereka alami. Bahkan, Julian masih terus bertahan dengan kehidupannya, ini yang membuat saya suka dengan karakter tokoh-tokohnya yang kuat. Hingga saya tidak bisa memilih antara Adam dan Julian karena keduanya bagi saya saling melengkapi.


"Because if they aren't there, you aren't either." ~ A List of Cages by Robin Roe



Buku Ini Membuatku Sulit Move On



Ketika menyelesaikan buku ini pertama kali, yang teringat langsung oleh saya adalah novel Wonder. Saya mendapat perasaan yang sama seperti ketika saya selesai membaca cerita keseharian August Pullman dan kehidupannya di sekolah dengan teman-temannya. Dimana saya merasa tidak sendirian ketika pada satu masa dimana kita mungkin merasa canggun berada di tengah orang-orang yang menganggap kita aneh karena keterbatasan yang kita miliki. Tapi, kita tetap berusaha untuk menjadi diri kita sendiri, rasanya saya ingin memeluk tokoh-tokoh dalam setiap buku yang membuat saya merasa tak lagi sendiri.

Bagaimana rasanya menjadi anak yatim piatu yang harus tinggal dengan seorang Paman yang justru menjadi toxic people yang membuat kita hancur? Inilah alasan terbesar mengapa Julian seperti orang yang tertekan dan merasa takut sepanjang waktu. Dengan kondisi dirinya yang selalu merindukan kedua orangtuanya, dimana pembaca akan mendapati Julian kerap mengingat kembali percakapan dan kasih sayang yang pernah dia dapatkan pada setiap bagian di dalam cerita. Ini membuat saya merasa terenyuh. Sungguh bukan hal yang mudah pastinya, menjalani kehidupan tanpa orangtua. Apalagi ditambah dengan tinggal bersama seorang lelaki yang sangat pecundang.


Death was nothing to be afraid of. It was just birth to another world and someone would be waiting for us there ~ A List of Cages by Robin Roe



Hal yang paling manis adalah meski Julian menghadapi kehidupan yang teramat keras, terasing dari lingkungan pergaulannya. Dia tetap memiliki rasa empati yang besar, terutama ketika salah seorang gurunya tampak bertingkah aneh dan tidak lama setelahnya sang guru berbagi kesedihan tentang anaknya yang meninggal dunia. Rasa sakit yang sama dan kerinduan yang sama dirasakan juga oleh Julian sehingga dia bisa memosisikan dirinya hingga sang guru mampu menyeritakan apa yang dirasakan sampai-sampai sang guru menangis di kelas.

Dan hal terindah yang membuat saya semakin merasa haru adalah teman-teman Adam juga ikut merangkul dan memperhatikan Julian dengan tulus. Terasa amat manis ketika masuk ke dalam bagian dimana Charlie yang selalu menganggap keberadaan Julain sebagai penghambat keasikan mereka, namun setelahnya justru menjadi orang yang ikut peduli bahkan mampu membuat Julian merasa nyaman. Adegan keduanya sangat manis dan juga mengharukan. Bahwa seseorang bisa berubah jika saja dia mau melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Tidak menyesal rasanya bisa menyempatkan membaca buku yang tengah banyak dibicarakan di linimasa. Apalagi buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ditambah diterbitkan oleh penerbit yang terkenal dengan cover-cover keren dan instagram-abel-nya, yaitu Penerbit Spring. Beberapa buku karya penerbit Spring ini tidak membuat saya kecewa, baik itu cover sampai masalah terjemahannya. Itulah kenapa buku ini layak karena buku ini tidak terlalu berat tapi juga tidak remeh-temeh. Ada sesuatu yang membekas usai membacanya. [Ipeh Alena]







6 comments:

  1. Ya ampun, aku pengin banget baca kak.. Serius, kayaknya pergulatan batin ketika baca buku ini keren deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener-bener seru banget ini. Menguras emosi pun ceritanya.

      Delete
  2. ya Allah pengin baca via kindle. gimana caranya, mba? beli ebooknya atau gratis ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau yang ALOC ini saya beli Kak Ila. Itu juga nunggu ada diskonan hehe. Tapi, enaknya pakai Kindle Unlimited ada banyak ebook lain yang bisa kita baca gratis. Macem Gradig gitu. Tapi saya suka pakai Kindle karena bisa nyimpen quotes :D

      Delete
  3. Pasti seru nih isi bukunya ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru banget dan bikin termehek-mehek.

      Delete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.