Skip to main content

Petualangan Di Sirkus Asing karya Enid Blyton

Petualangan Di Sirkus Asing karya Enid Blyton




The circus of adventure



Ini adalah buku ketujuh dari serial Petualangan keempat anak Jack, Phill, Dinah dan Lucy-Ann beserta Kiki si burung Kakatua. Dalam serial ini, Enid menyematkan kata pengantar terkait permintaan para pembaca setianya untuk melanjutkan kisah petualangan mereka berempat. Sesuai dengan tema besar dari serial ini, yaitu PETUALANGAN dimana dari buku pertama memang berisi kisah yang sangat menarik lagi mendebarkan.

Dalam bahasa Inggris buku ini berjudul The Circus of Adventure. Sudah kebayang bukan? Petualangan kali ini mengikutsertakan rombongan sirkus yang tidak asing lagi ditelinga. Teringat kembali hal-hal yang membuat saya kagum ketika pertama kali menonton sirkus di sekitar tahun 90-an. 

Berisi orang-orang yang memiliki keahlian yang luar biasa. Ada anak kecil perempuan yang tubuhnya sangat lentur hingga bisa melekukkan tubuhnya sembilan puluh derajat sambil berpose di atas susunan gelas kaca. Kemudian ada orang yang menjulang sangat tinggi, pandai sekali dia dengan kaki tambahannya itu. Sementara saya menggunakan egrang saja tidak bisa, hehehe.

Kemudian ada lagi para perempuan yang tanpa takut berloncatan dari satu ayunan tali ke ayunan tali berikutnya di atas ketinggian yang membuat kepala penonton mendongak. Sampai pawang binatang buas yang mengajak mereka bermain tanpa takut diterkam atau dikoyak tubuhnya. Semua tim dari pemain sirkus memang membuat masa kecil saya sangat bahagia.






Kartu Tanda Buku


Judul : Petualangan Di Sirkus Asing || Penulis : Enid Blyton || Halaman : 309 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia || Rating : 4/5 || ISBN : 9789792275797




Petualangan Di Sirkus Asing


Jika kalian termasuk pembaca yang seperti saya, membaca serial ini tanpa mengikuti urutan buku, tentunya kalian harus mengetahui bahwasannya Bu Mannering dan Bill si detektif sudah menikah dan menjadi sepasang suami istri. Sehingga Bu Mannering pun mengganti namanya menjadi Bu Cunningham.

Kedekatan keempat anak ini dengan Bill memang tidak diragukan lagi, karena lebih sering mereka masuk ke dalam petualangan setelah mengikuti beberapa hal yang dikerjakan atau dilakukan oleh Bill. Kali ini terkait seorang bocah bernama Guss yang teramat angkuh lagi menyebalkan.

Anak-anak dalam kisah ini baru saja kembali dari sekolah asrama mereka. Dua bocah lelaki yang sudah agak besar ini, merindukan masakan Ibu mereka. Sementara kedua anak lainnya tak sabar ingin segera pergi berlibur bersama Bill.

Tidak perlu ditanyakan lagi mengapa mereka tidak begitu menyukai Guss, bocah lelaki berambut panjang yang memiliki tingkah sombong, angkuh, aksen bicara yang aneh sampai kebiasaan yang membuat mereka menggelengkan kepala.

Guss dan Kiki bagaikan musuh yang dipertemukan. Karena keisengan Kiki sering membuat Guss resah sampai berteriak meminta burung itu dikandangi saja. Bagi anak-anak lainnya, itu merupakan perintah yang konyol. Karena bagaimana pun keisengan Kiki semua berawal dari meniru orang yang dilihat dan didengarnya.





Liburan kali itu mereka menghabiskan waktu di Pondok Batu, tempat yang terpencil namun sangat menarik bagi dua anak yang gemar sekali menghabiskan waktu di alam terbuka demi mengamati binatang-binatang. Namun, liburan mereka sebenarnya bukan sekadar liburan, tapi untuk melindungi seseorang dari komplotan dan sebuah misi penggulingan kekuasaan.



"Itu pula sebabnya rambutnya panjang. Para pangeran di Tauri-Hessia, memang kebiasaannya berambut panjang. Itu merepotkan bagi Gus, karena di sekolah ia sering ditertawakan teman-temannya. Tapi, mereka tahu siapa dia. Karena itu mereka tidak sampai keterlaluan mengganggunya." ~ Hal 79


Memang benar, Gus-lah yang merupakan sosok yang harus dilindungi oleh Bill. Karena itulah menurut Bill mungkin Gus akan tampak 'normal' jika berkumpul dengan keempat anak lainnya. Agar tidak membuat curiga orang-orang yang mengincarnya. Mengapa? Ada issue penggulingan kekuasaan pamannya, sehingga Gus dilarikan ke negara lain untuk dilindungi.

Nah, apa kaitannya dengan sirkus? Tentunya ini berhubungan dengan misi selanjutnya yang mendebarkan. Apalagi petualangan kali ini berlanjut ke negeri Tauri-Hessia. Seperti apa, kalian bisa mengikuti petualangannya pada kisah kali ini. Tak akan menyesal, kok.






***


Kali ini, penggambaran karakter para tokoh seperti Guss ini yang membuat saya menggelengkan kepala karena kagum. Dengan detilnya, Enid berhasil menampilkan sosok yang menyebalkan namun di sisi lain sebenarnya dia anak yang baik serta patut dikasihani karena keselamatannya terancam.





Seperti buku sebelumnya dimana tokoh Kiki si burung Kakatua-lah yang membuat saya jengkel bukan main. Sementara dalam kisah ini, Enid berhasil menggiring saya ikut menilai Guss itu menyebalkan. Sungguh kesuksesannya ini tidak diragukan lagi. Saya yang bukan anak-anak lagi pun masih bisa digiring dengan mulus oleh Enid melalui cerita ini. [Ipeh Alena]

Comments

Popular posts from this blog

Novel Infinity Karya Mayang Aeni : Konflik Rumit Keluarga Hingga Luka Yang Terpendam

Novel Infinity Karya Mayang Aeni : Konflik Rumit Keluarga Hingga Luka Yang Terpendam


"Petra punya nyokapnya buat ngobatin luka." ~ (Pg 133 - Infinity)

Cerita dalam novel Infinity yang baru saja saya selesaikan ini, sebenarnya memiliki alur pertemuan dua remaja yang sudah terlalu sangat umum. Dari model bad boy kemudian berubah menjadi good boy karena cewek. Dimana pada awalnya si cewek ini sosok utama bullying si cowok dan gengnya.

Seperti pernah teringat cerita serupa dari film-film yang beredar? Sama! Sebab itu saya sempat mencibir kalau novel ini sepertinya tidak ada yang bisa saya bahas dan ada kemungkinan tidak mungkin saya tulis dalam satu tulisan utuh. Eh, tapi ternyata, ketika saya baca kembali dengan seksama dengan mengesampingkan hubungan si cowok dan cewek, ada sesuatu loh yang lumayan membekas.

Sesuai dengan kutipan di atas, merupakan dialog Bani seorang lelaki yang menjadi anggota geng The Fabs. Cowok inilah yang menjadikan Dinda sebagai objek bullying, itu karen…

Zone by Jack Lance | Book Review

Sewaktu Jack Lance datang ke Indonesia atas undangan Bhuana Tim. Promosi yang disebarkan secara besar-besaran itu menyebutkan sesuatu. Kalau Jack Lance ini, ibaratnya sosok Stephen King dari Belanda. Terbukti dari banyaknya buku beliau yang sudah dialih-bahasakan. Selain itu, buku-bukunya juga sudah banyak diadaptasi ke dalam film.

Kehadirannya juga dirayakan sebagai bagian kerjasama Bhuana dengan beliau. Karena, novelnya berjudul Zone ini diluncurkan dalam Bahasa Indonesia. Mengundang beberapa anggota dari banyak komunitas. Membuat acaranya tentu meriah. Apalagi, konon ada iming-iming mendapat novel dari penerbit. Siapa yang menolak?

Nah, berhubung momen tersebut sudah berlalu cukup lama. Saya akhirnya bias mencicipi karyanya. Sambal mencari tahu, apakah benar beliau setara dengan Stephen King. Kali ini, bukunya berjudul Zone yang saya baca. Jadi, apakah ada perbedaan atau persamaan, akan saya bahas sebentar lagi.

Saya ingin menyeritakan sedikit apa yang tertulis di bagian belakang …

The Ghost Bride (Pengantin Arwah)

The Ghost Bride - "Pada suatu malam, ayahku bertanya apakah aku mau menjadi pengantin arwah..."

Li Lan, putri tunggal sebuah keluarga yang bangkrut, mendapat lamaran dari keluarga Lim yang kaya raya dan berkuasa. Namun, calon suaminya adalah lelaki yang telah meninggal secara misterius, dan pernikahan ini dilakukan untuk menenangkan arwah penasarannya. Mengerikan memang, tapi tidak ada jalan lain untuk menjamin masa depan Li Lan.

Setelah kunjungannya ke mansion keluarga Lim, Li Lan mulai dihantui oleh calon suaminya dan dia tidak bisa lagi tidur tenang. Sedikit demi sedikit, Li Lan tertarik ke dunia arwah yang tidak hanya dihuni oleh para hantu lapar dan arwah pendendam, tapi juga para iblis penjaga berwujud banteng. Li Lan harus mengungkap rahasia kelam tentang keluarga Lim dan keluarganya sendiri, jika dia tidak mau terjebak di dunia arwah selamanya.



Detil Buku
Judul : The Ghost Bride (Pengantin Arwah) || Penulis : Yangsze Choo || Bahasa : Indonesia || Terbitan : Oktober 2014