-->

#BookReview Vertikalitas Otak dan Tingkat Humanitas Manusia

18 komentar



Vertikalitas Otak dan Tingkat Humanitas Manusia membahas mengenai dasar pemikiran manusia. Bagaimana manusia berpikir serta eksistensinya dalam kehidupan. 


Dimulai dari pertanyaan paling mendasar yang sering dijadikan pembahasan dasar pengenalan manusia dalam ilmu filsafat. Siapakah diri kita ini? Dibahas oleh pak Porat Antonius melalui aspek cara manusia berpikir. 


Cogito ergo sum, yang sangat terkenal dan diutarakan oleh seorang fisuf ternama bernama Descartes. Mengawali pembahasan dalam buku ini. 


Di blog kang Sepwal juga dibahas mengenai Perbedaan Cara Kerja Otak Manusia yang dibagi menjadi otak kanan dan otak kiri. Pada buku ini, juga dibahas mengenai pengelompokan kecerdasan berdasarkan dominasi kinerja aktif otak. 



Kartu Tanda Buku



Judul : Vertikalitas Otak dan Tingkat Humanitas Manusia

Penulis : Porat Antonius

Halaman : 277

Bahasa : Indonesia

Format : Ebook Gramedia Digital

Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 9786020618111




Manusia Dan Otaknya



Manusia digenapi otak yang cerdas untuk menggenapi kekurangannya ~ hal 12



Buku ini membahas mengenai apa dan siapa diri kita melalui pengenalan cara kerja otak. Dari mana kecerdasan manusia itu muncul. Sampai bagaimana proses manusia berpikir. 


Porat tidak menyampaikan penjelasan mengenai proses manusia berpikir secara ilmiah dengan menggunakan bahasa yang sulit. Dia menyampaikannya dengan pemilihan bahasa sederhana. 


Bahkan, dalam pembahasan kecerdasan, Porat menyediakan semua tipe - tipe kecerdasan yang sering dilemparkan di ruang publik. Akan dibahas nanti dalam ulasan ini. 


Pembahasan pada buku ini meliputi pengenalan manusia berdasarkan Struktur otak, Peringkat humanitas manusia, Kecerdasan manusia dan Hakikat manusia secara umum. 


Di sini, Porat banyak menyinggung mengenai atribut manusia sebagai Homo Deus. Jika ingin menggali lebih dalam, bisa membaca buku karya Yuval Noah Harari. 


Homo Deus sendiri merupakan kemampuan manusia untuk mencipta. Sehingga mereka hampir menyerupai pencipta mereka. Dalam buku ini, tidak begitu dijelaskan dengan detil mengenai panggilan manusia ini. 


Dalam buku karya Yuval, dia memandang ke masa depan yang sudah diawali dari masa kini. Mengenai temuan teknologi yang dibuat manusia menyerupai manusia juga. Sebut saja robot seperti manusia. Dari sinilah posisi manusia ini disebut ingin menyerupai sang pencipta. 


Posisi manusia yang ingin menyerupai sang penciptanya ini termasuk dalam posisi humanitas dalam kehidupan.




Hakikat Manusia Berdasarkan Atributnya



Pada bab ini dibahas mengenai manusia ini apa dan siapa berdasarkan julukan yang ditujukan padanya. 


Apa saja atribut atau julukan tersebut? 


Homo Sapiens : makhluk yang memiliki kecerdasan


Homo Socius : makhluk yang membutuhkan makhluk lain atau sosial


Homo Religius : makhluk yang percaya pada keberadaan Zat lain di alam ini


Homo Faber : makhluk yang berkarya atau memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu


Homo Economicus : makhluk yang memiliki kemampuan mengatur atau mengendalikan lingkungannya


Homo Narrans : makhluk pencerita


Homo Homini Lupus : makhluk yang bisa menjadi serigala atau mampu menyerang atau mengalahkan sesamanya. Dalam hal ini seperti kompetisi, lomba, dll. 


Homo Deus : makhluk yang meniru sifat Tuhan sebagai pencipta


Dari julukan inilah, kita belajar mengenal siapa diri kita. Apa dan bagaimana sifat dasar manusia berdasarkan ciri atributnya. 


Namun, yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya ini bersumber pada kemampuan manusia berpikir. Atau kecerdasan dari manusia itu sendiri. 



Otak Adalah Medan Fisiologis Kecerdasan



Kecerdasan merupakan hasil reaksi kimia biologis yang terjadi pada otak manusia. Susunan kompleks yang ada pada otak manusia menjadikan manusia mampu memiliki beragam kecerdasan. 


Kecerdasan Rasional yang berasal dari neurokortex. Bagian inilah yang menjadi pembeda antara otak manusia dengan makhluk lain. Karena, pada bagian ini manusia mampu berpikir, menganalisa dan menafsirkan sesuatu (penjelasan hal 14).


Kecerdasan Ganda terdiri dari kemampuan manusia dalam verbal, mathematical logic, visual spatial, musical rhythm, body kinestetic, interpersonal dan intrapersonal. 


Sementara Kecerdasan Emosional terbentuk dari self awareness, social awareness dan social management. 


Berbeda dengan kecerdasan emosional, Kecerdasan Sosial ini meliputi empati, mendengarkan tanpa menilai, ketepatan berempati, serta pemahaman sosial. 


Ada dua kecerdasan yang dalam pemahaman saya tidak berbeda. Yaitu Kecerdasan Spiritual yang menunjukan kemampuan manusia dalam berhubungan dengan penciptanya. Serta Kecerdasan Beriman yang masih baru bisa dikembangkan secara personal atau kelompok terbatas. 


Kalau boleh mengira, mungkin Kecerdasan Spiritual ini kemampuan manusia dalam menjalankan kehidupan yang relijius. Sementara Kecerdasan Beriman ini lebih mendalam lagi, seperti kemampuan manusia menjalankan cinta platonic pada Tuhannya. 


Itu hanya interpretasi saya yang masih sangat minim sekali. 


Ada 7 bagian otak yang aktif berfungsi pada Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Beriman. Meliputi :


  1. Occipital Parietal Circuits
  2. Parietal Frontal Circuits
  3. Frontal Lobe
  4. Thalamus
  5. Amygdala
  6. Striatum
  7. Anterior Cingulate


Untuk penjelasan mengenai lokasi bagian sampai fungsi dan detil lainnya. Bisa dicek melalui mesin pencarian. 



Kesimpulan Pembahasan



Otak manusia merupakan aspek fisiologis kecerdasan manusia. Sesuai fungsinya, manusia bisa cerdas secara utuh apabila memaksimalkan fungsi otaknya secara menyeluruh. 


Secara vertikal, otak manusia terbagi atas empat sentra dengan fungsi yang mendukung kecerdasan yang berbeda. 


Namun, selain terdiri dari otak, manusia juga dianugerahi jiwa yang unik dan spesial. Keberadaan jiwa ini semestinya manusia mampu menyadari akan peran otak dan cara hidupnya yang berhubungan dengan kebaikan. 


Tapi, dari sudut fisiologis, manusia juga tak dapat leluasa mengembangkan kemampuannya di luar dari potensi maksimal fungsi otak dan konstruksinya. Maksudnya begini, otak manusia yang tidak dirancang cerdas dalam bidang matematika tidak bisa dipaksakan seperti otak manusia yang cerdas dalam bidang tersebut. 


Dari sinilah kita bisa memahami, mengapa ada perbedaan kecerdasan manusia dalam bidang yang berbeda. 



Penutup


Membaca buku ini membutuhkan buku dan pulpen untuk mencatat penjelasan mengenai otak dan kecerdasan manusia. 


Ada beberapa kalimat penekanan yang diulang mengenai hubungan otak dengan kecerdasan manusia. 


Dari buku ini pula kita juga paham, bahwa ketika manusia tidak memaksimalkan fungsi otaknya, maka kecerdasan yang mampu ia miliki akan tumpul dan terbengkalai. 


Buat yang ingin menambah pemahaman mengenai kinerja dan bagian otak, silakan membaca buku ini. Meski, tentunya perlu disaring kembali mengenai hal-hal yang dipaparkan di sini. Untuk didiskusikan atau dicari kembali penjelasan lainnya yang lebih ilmiah. 



Q : kalau pembaca, kira-kira lebih dominan otak kiri atau otak kanan? 



Related Posts

18 komentar

  1. Saya hampir seimbang sih kak Ipeh. Namun lebih dominan sedikit saja otak kanan. Makanya suka seni,teater, puisi, mengarang, dan kawannya.. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sama kalo gitu, kak. Ipeh juga agak dominasi kanan. Tosss

      Hapus
  2. wah bener kak berarti sy tmsk yg dominan otak kanan krna suka denger musik sama nulis dan baca buku...hehe..btw klo yg pernah sy baca spiritual itu justru tingkatan tertinggi sesudah iman..krna spiritual menyangkut hub.individu dng Tuhan tanpa suara dan tulisan sedangkan iman itu hub.manusia dng Tuhan melalui aturan ritual agama yg masih ada tulisan dan suara.. ktnya sih begitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, justru bang Porat menuliskannya kebalikannya, kak. Kecerdasan Iman yang lebih tinggi karena sejalan sama sifat Homo Deus. Gitu. Cuma daku masih belum bisa melihat perbedaan yang cukup antara kecerdasan spiritual sama kecerdasan iman ini.

      Mamaci ya, kak. Udah mampir

      Hapus
  3. kayaknya antara otak kana dan kiri itu lebih dominan ke otak kanan hehehe

    BalasHapus
  4. saya pernah ikut kuuis di FB, yaaa buat seru seruan aja kali ya. Hasilnya adalah otak kanan saya lebih dominan. Jujur aku sendiri tidak pintar dalam pelajaran eksak malah cenderung aku hindari

    BalasHapus
  5. belajar anatomi otak manusia ditambah psikologi nya ya...otak kanan jadi inget ippo santosa, kalau kiri kan dominan logika ya biasanya laki-laki ya?

    BalasHapus
  6. Beberapa kali ada pembahasan ini di televisi,dari sekian pertanyakan yang diajukan sebenarnya lebih dominan ke otak kanan,kak.
    Tentu masing masing orang pasti berbeda ya

    BalasHapus
  7. Banyak istilah-istilah baru terdengar yang bisa dicatat dari buku ini ya kak, Btw kata-katanya sangat mengingatkan untuk percaya diri ya. Manusia digenapi otak yang cerdas untuk menggenapi kekurangannya.

    BalasHapus
  8. Jadi penasaran sama buku ini dan tertarik mba dan memahami lebih lanjut mengenai brain. Apalagi jika punya anak jadi biar bisa diasah seimbang otak kanan dan kiri

    BalasHapus
  9. Wah buku yang bagus sekali nih kak ipeh, sarat dengan ilmu keren gini ya. Meski baca sekilas akan terasa berat banget bahasannya hehehe

    BalasHapus
  10. Menarik sekali pembahasannya ini Kak, saya jadi pengen membaca bukunya langsung. Saya suka membeca dan menulis, tetapi gak suka musik

    BalasHapus
  11. aku bingung jawabnya kak, pakai otak kiri apa kanan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai mana ya dominan kak..kalau bisa kedua duanya juga dipakai ga masalah ..ya kan...

      Hapus
  12. Wah keren amat buku yang dibaca mbak. Jadi inget punya beberapa buku yang udah kadung beli tapi belum dibaca. Hhuuhu

    BalasHapus
  13. Pernah ngikutin tes yg ada di fesbuk, katanya sih seimbang, tapi kurang tahu juga tes itu valid enggaknya, hehehe

    BalasHapus
  14. kalo saya tuh kadang seimbang kanan dan kiri, kadang kiri wkwkwk. seru juga ya bahas otak manusia, jadi kepo lebih lanjut nih. makasih sharingnya.

    BalasHapus
  15. Kebetulan saya lebih dominan otak kanan ketimbang kiri...btw ngomongin filsafat yang nudah dicerna... filosofi teras juga bagus tuch kak..udah baca belum?

    BalasHapus

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter