We own the night


Ini adalah buku kedua karya Ashley Poston yang saya baca. Kalau masih sedikit asing dengan nama Ashley Poston, coba berkenalan dengan bukunya berjudul Geekerella yang sudah diterjemahkan oleh Penerbit Spring. Di Geekerella, hubungan kekeluargaan diangkat melalui sudut pandang Ella yang notabennya adalah seorang yatim piatu yang tinggal bersama ibu tirinya.

Baiklah, pernah mendengar kisah ini kan? Betul, buku tersebut merupakan Re-telling version dari Cinderella. Sementara di buku We Own The Night, kita akan berkenalan dengan Ingrid North seorang gadis yang tidak percaya diri, merasa terasing di kehidupannya, senantiasa sibuk mengurus neneknya karena hanya beliau yang dimiliki olehnya. Begini, North tidak pernah tahu siapa Ayahnya. Dan, hanya beberapa kali mendengar kabar dari Ibunya yang menelpon karena membutuhkan uang. Terakhir kali Ibunya pulang, saat dia masih remaja tanggung.

Kartu Tanda Buku 


Judul : We Own The Night || Penulis : Ashley Poston || Halaman : 290 || Rilis Tanggal : 28 Juni 2016 || Diterbitkan oleh Bloomsbury Publishing || ISBN : 9781619637849


Kini, saat cerita ini dimulai, North sudah beranjak dewasa. Dia akan segera mengikuti pesta kelulusan yang akan diadakan keesokan harinya. Malam sebelumnya, dia menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya sebelum salah satunya pergi untuk kuliah ke luar negeri. Malam itu, mereka berusaha untuk merajut kisah masa kecil yang kemudian menjadi bencana. Billie dan LD bertengkar dengan Mike, yang memang tukang cari masalah. Saat hendak meminta bantuan pada Micha, dirinya melihat sahabatnya itu tengah memadu kasih dengan Heather. Cewek yang tidak disukai olehnya. Karena, North naksir Micha. Dia sangat mencintai sahabatnya itu. Setelah menyaksikan kejadian itu akhirnya North yang melerai Billie dan Mike.

Penyiar Radio Niteowl 


North secara sukarela menghabiskan waktunya setiap malam minggu dengan mengisi acara di sebuah radio. Dia menjadi penyiar di tempat tersebut. Memandu acara yang ternyata banyak diminati oleh para pendengarnya.

North yang dikenal sebagai Niteowl ini, tanpa sadar memiliki banyak penggemar. Karena, pendengar radio KOTN merasa terhibur setiap malamnya. Malam minggu terasa tak lagi menjemukan setiap kali Niteowl mengudara. Hingga kemudian, dia mendapat pendengar tetap yang membuat acara tersebut semakin seru. Dia memberi julukan pada si penelpon dengan sebutan Dark And Brooding. Lelaki itu menyukai sebutan yang diberikan padanya. Dan, setelah itu, Niteowl merasakan rindu jika dia tidak sedang mengudara. Dia merasa rindu jika Dark and Brooding tidak menelponnya.

Siapakah Dark And Brooding? 


Semakin sering mereka berkomunikasi melalui malam-malam panjang. Niteowl merasakan kedekatan yang janggal dengan lelaki penelpon misterius itu. Dia merasa dekat tapi juga asing dengannya. Hal yang paling mengejutkan adalah munculnya fanart khusus untuk Niteowl di tumblr. Dan, tanpa disadari oleh North, acaranya menjadi sangat terkenal bahkan lintas negara.

Ada satu percakapan yang cukup mencurigakan bagi pembaca. Yaitu ketika Dark and Brooding ini menyebut neneknya North dengan sebutan Grams. Dan, sebutan ini hanya diketahui oleh orang terdekatnya North saja. Jadi, siapakah lelaki yang bahkan mengajak taruhan Niteowl untuk menyatakan perasaan pada sahabatnya?

Oiya, bahkan di awal cerita pun kita sudah disuguhkan dengan pertanyaan tersebut.

Penutup 


Menurut saya, menghadapi tokoh perempuan yang cukup canggung, enggak percaya diri sampai pesimis dalam hidup itu melelahkan. Ini saya buktikan sepanjang menikmati cerita bagian North dan isi kepalanya yang gelap. Saya merasa lelah dan kurang bersemangat jadinya. Tapi, karena kisahnya ringan dan romancenya ini cukup manis.

Saya bisa bertahan pada akhirnya. Saya tidak bilang bahwa saya tidak menyukai buku ini. Saya tetap menyukainya. Bahkan bisa dikatakan cukup senang membaca ini karena kita dibawa berkunjung ke Nebraska. Penggambaran North tentang langit Nebraska yang cukup mampu membuat penduduk di sana menikmati bintang malam hari. Berhasil menjadikan saya pembaca yang sabar dan menikmati hingga akhir cerita.

Sejauh ini, gaya bahasa Ashley Poston cukup menyenangkan karena tidak bertele-tele. Bisa dinikmati bahkan ketika sedang menghadapi Reading Slump sekalipun. Tapi, pastinya akan terasa melelahkan. Karena, berat rasanya mengikuti kehidupan tokoh yang pesimis dalam hidup.

0 Comments