16 April 2017



Queen of Dreams


Rakhi seorang seniman dan ibu muda yang tinggal di Berkeley, California, berusaha mempertahankan hubungan dengan keluarganya, serta dengan dunia yang sedang berubah dengan cepatnya. Ibunya adalah peramal mimpi yang terlahir dengan bakat untuk merasakan dan menafsirkan mimpi-mimpi orang lain, serta untuk membimbing mereka menjalani nasib yang telah digariskan.

Rakhi terpesona pada bakat Ibunya ini, namun juga terasa terasing dari masa lalu ibunya di India, serta dunia mimpi yang dihuni sang ibu. Rakhi merasa terperangkap dalam beban rahasia pribadinya sendiri dan penghiburannya datang setelah kematian ibunya, ketika dia menemukan catatan mimpi-mimpi sang ibu yang membukakan pintu menuju masa lalu yang telah lama tertutup.



Kartu Tanda Buku

Judul : Queen of Dreams (Ratu Mimpi) || Penulis : Chitra Banerjee Divakaruni || Halaman : 396 || Alih Bahasa : Gita Yuliani || Cetakan : Agustus 2011 || Penerbit : Gramedia || ISBN : 9789792273953 || LBABI : 1 || Rating : 5/5




Buku Tentang Penafsir Mimpi


Buku ini memang tidak berisi banyak terjemahan atau tafsiran mimpi, karena bukan seperti ensiklopedia mimpi. Atau seperti buku Interpretation of Dreams karya Freud, yang pernah dibaca oleh Rakhi terkait kemampuan atau bakat sang Ibu. Kita mungkin sering mendengar banyak orang diberi indra ke-enam atau segala hal tentang bakat yang berbeda dari orang pada umumnya. Bakat sang Ibu pun didapat setelah masa-masa sulitnya, ketika dia tidur bersama sang bibi.

Queen of Dreams


Para penafsir mimpi ini jumlahnya tidak begitu banyak, mereka belajar di gua-gua yang di belakangnya tumbuh pohon adas. Ada banyak guru yang mengajarkan mereka hal yang berbeda. Mereka belajar setiap hari untuk fokus pada mimpi-mimpi yang mampir di kepala mereka, awalnya mimpi ini datang karena mereka dituntun oleh sang guru untuk melihat dan mempelajari makna yang disampaikan melalui mimpi.

Dan bakat ini membuat Ibunya Rakhi merasa nyaman dan tenang. Serta merasa bahagia dengan segala macam hal yang mereka pelajari dari ragam mimpi. Selain mempelajari makna apa yang disampaikan, mereka juga harus bisa menerjemahkannya dalam bentuk yang sederhana. Hal ini sulit jika mereka bertemu dengan bentuk mimpi transformasi dimana bentuk ini akan mudah berubah dan tidak mudah dipahami. Harus melalui cara-cara dan aturan yang diajarkan oleh guru mereka.

Mereka - para penafsir mimpi - tidak diperkenankan menikah. Karena bakat yang mereka miliki justru bisa jadi membuat orang yang ada di dekatnya terkena bahaya atau bahkan mereka bisa kehilangan bakat menafsir mimpi. Ini juga dialami oleh Ibunya Rakhi ketika dia mulai merasakan bagaimana jatuh cinta. Saat kemudian dia tidur dengan Ayahnya Rakhi, yang kemudian bangun dengan kondisi yang lemah dan tak berdaya.

Queen of Dreams


Namun, ada dorongan kuat yang membuatnya ingin mendobrak aturan para leluhur. Mereka nekat, namun kemudian Ibunya Rakhi akhirnya berada di persimpangan kehidupannya, antara mencintai Ayahnya Rakhi atau mencintai bakatnya. Ini terjadi ketika dia hampir saja kehilangan bakat itu. Dan ternyata, tidak mudah untuk hidup dalam pilihan, dimana pilihan tersebut tidak dapat berjalan beriringan.




Hubungan Ibu - Anak - Suami - Istri


Keluarga Rakhi memang tidak seperti keluarga pada umumnya. Mereka tinggal di benua yang berbeda. Pada awal cerita, dikisahkan bagaimana Rakhi seorang anak yang tidak menuruni bakat Ibunya. Namun, Rakhi demikian terpesona dengan pekerjaan sang Ibu, hingga menganggap dia akan seperti dirinya. Sebuah cinta yang tulu dari seorang anak untuk Ibunya tapi siapa yang bisa menjamin bahwasannya cinta akan selalu ada pada dirinya?

Queen of Dreams


Kenyataannya pemahaman cinta pada diri ibunya Rakhi sangat berbeda dengan pandangan orang pada umumnya terhadap cinta. Inilah yang menjadikan buku ini membuat saya terpesona. Tentang segala hal dalam hidup, tentang cinta dan keluarga, yang dipandang melalui kacamata berbeda. Dimana seseorang begitu candunya dengan bakat yang dimiliki, bahkan ketika bakat itu hampir hilang, dia rela untuk meninggalkan apa yang sudah diperjuangkannya selama ini.

Di sini, kita juga akan diajak untuk tidak meng-interverensi apa yang dipilih oleh Ibunya Rakhi. Karena dia tetap menjadi sosok yang menyayangi keluarganya, selalu ada setiap suaminya membutuhkannya, selalu siap ketika Rakhi membutuhkannya. Bahkan ketika Ibunya meninggal, Rakhi sadar dia belum bisa hidup tanpanya. Figur inilah yang sepertinya ingin disampaikan oleh Divakaruni tentang Ibu yang baik - Istri yang baik yang tidak seperti pemahaman yang sering dipahami orang pada umumnya.

Bahwasannya sang Ibu tetap dirindukan bahkan ketika kehadirannya sudah tak ada. Sosoknya tak pernah sedikit pun melalaikan apa yang harus dikerjakannya. Namun, dia tetap menjalani kehidupannya sebagai penafsir mimpi dan dicintai oleh mereka-mereka yang membutuhkan pertolongannya. Bahkan, tidak sedikit bantuan yang mereka terima setelah ibunya ini pergi dari pemberian para mantan client ibunya.


Queen of Dreams



Menjejak Masa Lalu Melalui Buku Harian


Dalam novel ini kita akan diajak menelisik masa lalu sang penafsir mimpi melalui jurnal mimpi yang ditulis olehnya. Dari bab satu ke bab berikutnya, kita bisa melihat perbedaan sudut pandang dari keterangan di awal bab. Apakah dari sudut pandang sang ibu atau sudut pandang Rakhi.


Queen of Dreams


Selain itu dari jurnal harian inilah, Rakhi belajar mengenal sosok Ibunya dari masa lampau. Bagaimana kehidupannya dan apakah ada hal yang ditulis ibunya mengenai dirinya. Ini seperti memutar kembali film yang berisi kenangan dalam kehidupan seseorang, bagaimana dan dimana dia tumbuh serta seperti apa kehidupannya. Setiap orang selalu ingin mencari tahu seperti apa bentuk masa lalu dari orang yang dikasihinya.

Namun, tetap saja, dalam jurnal tersebut ada beberapa juga yang tidak dapat ditulis oleh ibunya Rakhi. Karena memang dia ingin tetap menyimpannya sendiri, jauh di dasar hatinya. Dia mengatakan bahwa yang tidak ditulisnya merupakan hal yang teramat berat. Sehingga dia tak ingin membahasnya lagi.



Buku Favorit Dengan Ending Yang Kurang Memuaskan


Saya sudah mencicipi buku-buku yang ditulis oleh penulis yang berasal dari India. Dan buku Divakaruni bukan buku hasil karya penulis dari India yang saya baca pertama kali. Dan saya selalu menyukai bagaimana mereka merangkai kata, bagaimana mereka mendongeng. Setiap cerita atau dongeng yang mereka sampaikan selalu menarik saya sehingga saya merasakan seperti turut serta dalam cerita tersebut.

Sebut saja seperti kisah 1001 malam, yang ternyata merupakan dongeng berbingkai yang mungkin akan membingungkan orang yang tak terbiasa membaca cerita berbingkai. Atau seperti dongeng Ramsay yang juga berbingkai, tentang fabel binatang yang juga menyampaikan pesan moral melalui tingkah laku para binatang di hutan.

Juga Salman Rushdie yang banyak dikenal oleh orang-orang di seluruh penjuru dunia. Mereka mendongeng dengan sangat baik dan saya sangat menyukai cerita-cerita yang mereka sampaikan. Alur yang mengalir dengan tenang namun tetap membahayakan dan membawa rasa penasaran. Serta penokohan yang tidak begitu rumit, tampak sederhana dan juga kuat.

Queen of Dreams


Tapi, meski ini merupakan buku favorit saya karena mengangkat sesuatu yang juga banyak terjadi di kalangan masyarakat Indonesia, tapi juga karena menekankan pada bentuk cinta yang berbeda serta bagaimana sulitnya mempertahankan sesuatu yang kita cintai. Dalam hal ini bukan saja tentang cinta dengan seseorang tapi cinta pada pekerjaan, bakat atau impian yang ingin diraih. Saya tetap menemukan sesuatu di sini, yang membuat saya merasakan, 'sepertinya kurang pas'.

Kurang pas ini pada bagian ending yang membuat saya merasa, "Aduh! Kamu membuat ekspektasi saya hancur lebur, Diva!" Dan setelahnya saya justru mudah sekali untuk beranjak, tanpa harus terbuai dalam alur yang lagi dan lagi seolah ingin menarik saya pada pusara kehidupan para tokohnya. Mungkin ini disebut bantuan dari Diva, agar saya tidak perlu berlama-lama merasa terikat dengan buku ini, agar bisa beranjak ke buku lainnya. Tapi, tetap saja! Saya menginginkan Diva untuk memenuhi ekspektasi saya. ahahaha, terdengar memaksa memang, tapi begitulah saya.

Sama seperti bagaimana tokoh di dalam buku ini, "Aku ingin seorang laki-laki yang bersedia bunuh diri demi mendapatkan cintaku." Saya juga ingin, Diva mengakhiri semuanya dengan hal yang sesuai ekspektasi saya, untuk membuat saya berlama-lama menimang buku ini dan memiliki keinginan untuk terus menerus membacanya tanpa perlu beranjak.

Ah, sudahlah, toh pada kenyataannya saya menyelesaikan ini sambil menuliskan beberapa kalimat yang saya rasa bisa menjadi sesuatu yang baik bagi orang lain di akun twitter saya. Bagi Anda yang ingin tahu kalimat-kalimat apa saja yang bagus menurut saya, bisa langsung mencarinya di twitter dengan hashtag #QueenofDreams dari akun @ipehalena.

14 April 2017



Book Review



Sebuah bom tengah dirakit di sebuah laboratorium di Johannesburg. Seorang gadis yang bekerja sebagai Petugas Kebersihan tanpa pernah memahami situasi di sana, membantu tercapainya penciptaan Bom Atom tersebut. Bom yang ledakannya bisa menghancurkan sebuah kota itu, berhasil diurai permasalahannya berkat seorang gadis. Apa yang ia lakukan? Dia hanya menyumbang ide tentang rumus-rumus yang ditulis oleh seorang Insinyur yang membuatnya harus bekerja selama 7 tahun di sebuah laboratorium.

Tak hanya itu, dia bahkan mengetahui berita terbaru yang berkaitan dengan kondisi dunia hanya melalui saluran televisi. Dia sendiri mahir berbahasa Inggris berkat belajar ketika dia masih menjadi petugas kebersihan di Departemen Sanitasi sejak masih kecil. Belum lagi, seorang negro dari lingkungan miskin bisa membaca juga berkat bantuan seseorang yang awalnya berniat buruk padanya.

Nombeko Mayeki, gadis yang senang membaca dan memiliki keinginan untuk berkunjung ke sebuah perpustakaan. Demi melihat langsung tumpukan buku-buku serta membacanya di sana. Dia adalah perempuan yang sangat cerdas. Kecerdasannya bahkan melebihi seorang Insinyur yang lulus dengan predikat terbaik namun tidak mampu memahami apa yang dia kerjakan. Sebuah novel satir yang memuat lelucon tentang segala hal, terlebih kematian.





Kartu Tanda Buku

Judul : The Girl Who Saved The King of Sweden || Penulis : Jonas Jonasson || Halaman : 549 || Cetakan kedua, Juni 2015 || Penerbit : Bentang || ISBN : 9786022910718  || LBABI : 3 || Rating : 4 / 5


Nombeko Mayeki


Bahwa seorang gadis buta huruf kelahiran Soweto pada 1970-an akan tumbuh dan kelak terkurung dalam sebuah truk pengangkut kentang bersama raja dan perdana menteri Swedia adalah kejadian dengan probabilitas statistik 1 berbanding 45.766.212.810.

Menurut perhitungan si gadis buta huruf itu sendiri. ~ Jonas Jonasson



Keistimewaan dari Nombeko adalah dia seorang anak yang tekun. Sebelum bekerja menjadi Petugas Kebersihan, dirinya bekerja sebagai pengangkat tong berisi tinja yang harus dikosongkan di Departemen Sanitasi. Sejak berusia lima tahun, dia sanggup memikul tong tinja sebesar tubuhnya. Dengan mengosongkan tong tinja itu, upahnya tepat sebesar uang yang diperlukan ibunya untuk menyuruh anak perempuan itu membeli sebotol tiner setiap hari.


Sebotol tiner itu digunakan untuk mengusir kepedihan hati sang ibunda yang kerap datang karena dia berpikir tak akan mampu memberi masa depan bagi Nombeko. Ayah Nombeko bahkan tidak pernah mengenalnya, karena pergi entah kemana sejak dia belum diketahui berada di dalam rahim ibunya.

Semakin beranjak besar, dia semakin mampu mengosongkan lebih banyak tong tinja setiap hari. Bahkan dia diangkat sebagai manajer di Departemen Sanitasi. Memimpin banyak para lelaki yang usianya jauh di atasnya, namun kekuatan Nombeko mampu menyeimbangkan kekuatan para lelaki tersebut.


Kemudian Apalagi Yang Menjadi Kelebihan Seorang Nombeko?


1. Dia sangat mahir dalam Matematika dan segala hal yang berkaitan dengan ilmu eksak. Dia memiliki logika yang mumpuni sehingga mampu menyelamatkan tiga gadis Tionghoa yang sempat memiliki rencana untuk mengirim surat ke luar laboratorium.

2. Sangat berani untuk memberikan pendapat. Dia tak takut ketika melihat sang Insinyur tengah mabuk atau kebingungan dia akan mencoba berbicara sesuatu yang ada di dalam kepalanya yang kemudian justru menjadi pemecah masalah.

3. Gemar membaca buku, senang mengetahui banyak hal yang terdapat di dalamnya. Bahkan dia membaca jurnal-jurnal yang ada di laboratorium. Pun ketika masih di Departemen Sanitasi, dirinya selalu menyempatkan diri untuk membaca.

4. Perempuan yang tegar dan sabar. Bukan termasuk terburu-buru dalam mengambil sikap bahkan dia selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Dia sangat tegar meski sang Ibu akhirnya meninggal dunia dan dia tak memiliki sanak saudara sama sekali.


5. Nombeko selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih dia merasa sedih ketika menjalani hukuman, padahal dirinyalah yang ditabrak oleh sebuah mobil, justru ia berpikir bahwa kondisi saat itu sangat beruntung. Dia tak perlu memikirkan tempat tinggal dan juga ada banyak buku di sana.

6. Sosok yang optimis, dia memiliki banyak harapan yang selalu berusaha untuk diwujudkannya. Selain itu semangatnya pun menular pada tokoh lainnya, ini ketika dia berusaha untuk mengalihkan perhatian para tokoh lain dari isi dalam peti. Justru Nombeko berusaha meyakinkan bahwa mereka dapat melakukan banyak hal yang berguna bagi mereka. Atau seperti nasihatnya untuk Holger Satu, agar mencari pekerjaan dan bisa meyakinkannya untuk menjadi seorang pilot.

7. Seorang Fast Learner. Selalu berusaha mempelajari sesuatu hal yang baru. Seperti dia belajar bahasa Mandarin melalui permainan mahyong kemudian berusaha untuk bertukar bahasa dengan tiga gadis Tiongkok.

8. Pantang menyerah, justru sebaliknya dia selalu bisa menemukan jalan keluar setelah menghadapi banyak kesulitan.



Bagian Terlucu Justru Adalah Kematian


Jika pada buku-buku atau kisah lain, kita akan disajikan sebuah berita kematian dengan cara yang menyesakkan, hingga tak urung membuat kita menangis. Jangan berharap kalian akan disajikan hal yang sama di sini. Kelucuan pun muncul dari sebuah tragedi kematian yang membuatmu tak ayal ikut tertawa atau tersenyum.


Seperti ketika Ingmar dan kedua anaknya tengah kebingungan bagaimana mengerek patung yang akan dijualnya ke belakang truk. Kedua anaknya ingin membantu, namun dia mengatakan untuk mereka berdua diam di tempat. Dia langsung mengerek patung itu dan berhasil sampai ke tepi bak truk, seorang diri.



“Sekarang tinggal sisanya,” kata pembenci raja yang puas itu, sepersekian detik sebelum salah satu kabel pengikat patungnya putus. Di sanalah saat itu juga, perjuangan seumur hidup Ingmar Qvist berakhir.

Karena sang raja membungkuk hormat ke arahnya, menatap matanya untuk kali pertama, dan jatuh perlahan tetapi tanpa bisa dicegah tepat di atas pembuatnya. Ingmar tewas seketika tertimpa berat sang raja sedangkan raja sendiri pecah menjadi empat bagian.

Pertandingan itu sepertinya berakhir seri. ~ Hal 193


Jika pembaca membaca dari awal kenapa Ingmar sangat membenci raja dan bagaimana dia memiliki ambisi untuk menggulingkan kekuasaan sang raja serta awal mula ambisinya untuk bertemu raja. Mungkin akan menemukan alasan kenapa ini menjadi bagian menyedihkan, miris sekaligus lucu sebagai bentuk kelucuan yang aneh memang, karena pada akhirnya dia tewas oleh sesuatu yang sangat dibencinya. Dan hal yang memberinya ide untuk menjual patung raja tersebut. Serta pedebatan tentang penamaan patung raja atau Lenin.



Keinginan Sederhana Seorang Gadis dan Kebencian Yang Diturunkan


Selain kehidupan Nombeko dan orang-orang yang ada di sekitarnya yang tanpa disadari olehnya adalah orang yang bagi orang lain sangat hebat. Terkadang dia akan bertemu perdana menteri atau bahkan presiden. Namun, bagi Nombeko bisa mengunjungi perpustakaan adalah hal terhebat yang pernah ada dalam kehidupannya.

Sementara itu kita akan diajak juga berkenalan dengan ayah sang kembar, Ingmar yang sebelumnya sudah saya tuliskan kisahnya sedikit. Dia yang sangat membenci raja setelah mencintainya sepenuh hati. Serta ambisinya terhadap kedua anaknya untuk meneruskan kebencian yang dia tanamkan sejak kecil.

Kebencian itu yang membuat Ingmar berusaha untuk mengajarkan anaknya apa yang menjadi pandangannya terhadap dunia politik. Bahkan dia membekali mereka dengan banyak bacaan. Sampai idenya untuk menukar keduanya di hari-hari tertentu (ini sesuatu yang menarik untuk ditemui dalam buku ini).

Faktanya, keinginan sederhana Nombeko justru mempertemukannya dengan dua agen Israel yang berniat untuk menyelesaikan urusan dengannya. Dia juga berusaha untuk mengirimkan daging antelop yang sangat disukai ke sebuah negara yang kemudian beratnya ternyata melebihi 10 ton.


***

Buku ini sama dengan buku terdahulunya tentang seorang Kakek yang ternyata memiliki keterikatan dengan sejarah di seluruh dunia. Sebuah novel yang membuat kita terkekeh, namun tetap asik untuk dibaca karena tidak hanya berisi sesuatu yang lucu, tapi sesuatu tentang apa yang terjadi di dunia bagian lain. Novel yang berhasil membuat saya semangat untuk membacanya sampai akhir.

13 April 2017




Meski termasuk anggota yang - dibilang lama juga enggak, dibilang baru juga enggak - lebih sering absen aka enggak ikutan acara online, apalagi offline, terus sering silent reader di grup. Sepertinya, sangat keterlaluan kalau saya tidak menyempatkan diri untuk ikut serta dalam event ini. Secara ya, ngikut jadi anggota tapi kok pasif, itu yang bikin saya merasa sedih sama diri saya sendiri.

Akhirnya bulan ini, saya tidak ingin ketinggalan dan memang sejak awal tahun 2017 saya berusaha ikut serta dalam event online baik di grup khusus maupun yang diselenggarakan oleh BBI secara langsung. Dan ternyata, rasanya menyenangkan, meski belum banyak ikut serta tapi saya sudah bahagia. Ahahahaha, receh ya saya gampang dibuat seneng.


Yang pasti, karena hari ini tepat hari ultah-nya BBI yang ke-6 tahun saya berharap semoga :


1. BBI tetap mempertahankan sistem dan struktur Tim khususnya. Apalah sebuah komunitas tanpa para relawan admin yang siap membagi waktunya demi kemajuan komunitas. Kalian keren!

2. BBI tetap memiliki sistem penerimaan anggota baru yang terus diupdate. Karena, dengan syarat minimum ini mau tidak mau semua anggota yang memang niat bergabung di sini, berusaha untuk terus produktif dan aktif dalam menulis tentang buku.

Toh, ini juga bagian dari program BBI untuk menularkan virus membaca kan ya.

3. BBI tetap mengadakan event-event online yang bisa diikuti oleh semua anggota. Kalau event offline, saya memang cenderung sering absennya. Bahkan pertama kali ketemu anggota BBI lainnya itu baru sekali, di acara lain. Karena itu, saya senang kalau ada informasi mengenai event online.


4. BBI tetap menjadi perantara informasi terbaru dari ragam penerbit. Justru sering sekali saya banyak mengetahui penerbit-penerbit baru dari anggota BBI lainnya. Dan banyak tahu mengenai banyak hal terkait dunia buku, perpustakaan sampai penerbitan dari komunitas ini.

5. BBI tetap menjadi wadah bagi para pembaca buku yang ingin mencari teman seperjuangan dalam membaca. JANGAN BUBAR apalagi PECAH. Pliss... Semoga tetap utuh seperti sedia kala dan bertambah sukses.


Dulu, saya mengenal BBI justru dari keberadaan anggota lainnya. Apalagi banyak juga yang saya lihat, menjadi kepercayaan penerbit sejak bergabung di BBI. Plus, saya sampai bela-belain bikin blog baru yang punya tema khusus untuk buku demi bisa bergabung di sini. Dan waktu itu cukup harus bersabar menunggu waktu pendaftaran dibuka.

Jadi, semoga saja BBI semakin sukses dan solid serta timnya sehat semua. Selamat Berbahagia BBI!!












11 April 2017


Book Genre


Saya termasuk pembaca semua jenis buku. Mau itu horor, misteri, thriller sampai romance dan harlequin juga pernah saya baca. Tapi, ada juga nih salah satu tema buku, masuknya sih ke ranah non-fiksi, yang belum pernah saya baca. Itu juga setelah saya mencari tau dari sumber lain yaitu Pinterest. Secara saya ini memang tidak begitu memerhatikan perihal buku ini termasuk genre apa, buku itu termasuk jenis apa.

Baca Juga #BBIHUT6 Hari Pertama

Karena hal ini sungguh melelahkan saya, hehehe. Apalagi sering juga beberapa toko buku yang entah bagaimana sering memiliki pemosisian buku berdasarkan genre yang mereka tentukan sendiri. Kadang saya mendapati buku dengan genre historical fiction nyangkut di romance. Entah darimana penilaiannya, sejak saat itu saya mulai tidak terlalu fokus dengan hal ini.

Eh, karena ini spesial untuk Bebi, jadi saya cari tau lagi dan....ketemu!


Genre Book

Nah salah satu genre yang belum pernah saya baca itu kayanya Realistic Fiction deh, serius pake kata ((kayaknya)) soalnya memang belum yakin juga. Ini tuh genre semacam apa, kok penuh keragu-raguan. Hehehe. Yasudah saya masukin aja, siapa tahu suatu ketika nanti saya paham maksudnya seperti apa dan bagaimana.

Apalagi sejauh ini, genre-genre baru banyak bermunculan seperti Young Adult, Metropop dan beberapa genre lain yang bahkan saya belum terlalu 'ngeh' dimana perbedaannya. Yes, saya ini memang bukan tipe book worm deh, karena banyak sekali hal yang tidak saya pahami untuk sesuatu yang berkaitan dengan buku.

Pokoknya asal bisa baca buku, terus selesai dan bonusnya bisa nulis review aja sudah senang. Belum lagi banyak juga perdebatan tentang Review vs Summary. Resensi VS Ulasan yang terkadang masih sering dibahas tanpa tahu kapan ujungnya. Apalagi bahasan genre dari sebuah buku, saya lebih enjoy menuliskan Fiksi atau NonFiksi saja daripada kebingungan hehe.

Belum lagi, sering juga saya dapati beberapa buku dengan genre historical fiction tapi bobot romancenya lebih banyak ketimbang sejarahnya. Ini yang sering membuat saya bingung, pada akhirnya saya menyerah.

Baca Juga Single Mom's Diary

Tadinya saya mau menulis terkait genre Autobiography yang rasanya belum pernah saya baca deh. Tapi, kemudian saya mikir lagi, sepertinya saya pernah baca buku terkait pengalaman mba Uji di bukunya berjudul Single Mom Diary itu. Dan yang menulis beliau sendiri, jadi saya pikir sepertinya buku tersebut masuk ke ranah autobiography kali ya.

Ahyawes embuh lah, saya gak paham. Sungguh....


10 April 2017




Hari ini adalah hari pertama rangkaian posting marathon dari BBI. Sebenarnya sudah lama bergabung dalam komunitas ini tapi baru-baru ini saja aktif mengikuti event onlinenya. Bukan kenapa-napa, karena biasanya saya selalu ketinggalan informasi terkait acara online. Nah, demi mencegah ketinggalan informasi lagi, saya langsung menyimpan tautan blog BBI di panel Bloglovin.

Untuk hari ini tulisan #BBIHUT6 terkait dengan Author Baru yang bukunya saya baca tahun ini. Ada dua author yang sudah mempublikasikan bukunya namun baru saya ketahui justru ketika mereka meminta tolong kepada saya, yaitu membacanya dengan gratis kemudian menuliskan ulasannya di akun instagram saya. Lumayan penuh tantangan, karena saya benar-benar belum tahu bagaimana kemampuan tulisan dari dua penulis ini.


Selain itu, terkadang saya suka takut untuk memulai membaca tulisan para penulis baru, ketakutan ini saya rasa wajar karena saya tidak ingin memulai ekspektasi meski kemudian tetap saja saya memiliki ekspektasi yang berlebihan. Jadi, sungguh membutuhkan usaha jika saya harus berhadapan dengan penulis yang belum saya ketahui reputasi dan karya-karyanya.

Dua penulis tersebut adalah


1. Errin Stevens

Saya dibagikan buku dengan format ebook, dengan alasan karena saya tinggal di luar USA. Jadi, demi menghemat pengiriman dirinya meminta saya membacanya dalam format electronic. Bukan hanya saya, tapi ada beberapa teman lainnya yang tergabung dalam buddy chat yang membaca buku yang sama. Setelahnya kami diminta mengulas sedikit dan memberi penilaian di goodread.

Beruntungnya penilaian yang kami berikan diminta untuk jujur meski tetap sang penulis berharap agar penilaiannya positif. Untuk kritik dia sangat terbuka, meski lagi dan lagi tidak semudah itu menyampaikannya. Saya membaca karyanya berjudul Updrift yang merupakan buku pertama.


Namun, sayang sekali, dari awal saya membacanya saya bahkan sudah langsung tidak suka dengan gaya penyampaiannya. Atau gaya penulisannya. Kenapa? Membosankan. Saya sampai bertekad ingin segera menyelesaikannya dengan membaca skimming. Serius deh, saya sampai berkali-kali menahan kantuk selama membaca buku ini.

Selain itu, saya tidak merasakan adanya emosi yang membuat saya entah itu bersedih atau haru. Datar.

Ditambah tampaknya Errin seperti sengaja memanjang-manjangkan tulisan, sehingga isinya membuat saya semakin jenuh, penat dan akhirnya menyerah.




2. Brian S. Ference


Nah kalau penulis ini memang lebih dulu meminta saya membaca bukunya. Sebuah buku hasil pengembangan dari novel lawas Dorian Gray. Kisahnya dititik-beratkan pada si serigalanya. Novel yang berbau misteri ini justru disajikan dengan gaya penuturan yang asik. Bukan karena saya senang genre misteri ya, karena Updrift juga sama sih buat saya, ada sedikit misteri yang membumbui ceritanya.

Tapi, Brian lebih lihai membuat saya mudah membangun ikatan dengan tulisannya. Sehingga saat membaca bab demi bab terasa sangat mengalir, penokohannya juga kuat serta penggalian adegan demi adegan sungguh detil jadi saya seolah bisa membayangkannya secara langsung tanpa kebingungan.

Novel ini juga yang membuat saya tidak kapok untuk membaca buku-buku lain dari penulis lain yang cenderung masih baru.



Besok semoga saya sempat untuk menulis tema "Genre Buku Yang Belum Pernah Dibaca". Bagi kalian yang ingin mengetahui terkait acara ini bisa langsung mampir ke Blog Buku Indonesia.

02 April 2017


Raden Mandasia


Pada akhirnya ada kelegaan dan napas panjang usai menamatkan novel ini. Bukan perkara karena novel ini membosankan atau terlampau berat untuk dinikmati. Tapi, karena saya masih terombang-ambing terbawa suasana yang menular dari isi di dalamnya. Raden Mandasia dan Sungu Lembu serta kisah sejarah latar belakang keduanya yang berbeda, justru membuat perjalanan menuju bagian akhir menjadi lebih mantap untuk diikuti.


Kartu Tanda Buku

Judul : Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi || Judul : Yusi Avianto Pareanom || Halaman : 448 || Cetakan Pertama, Maret 2016 || Penerbit : Banana || ISBN : 978.979.1079.52.5 || Rating : ☆☆☆☆☆ || LBABI : 3

***

Novel ini dinarasikan melalui sudut pandang Sungu Lembu, seorang Raden dari Banjaran Waru yang gemar membaca serta menulis. Kisah ini dibuka dengan kebiasaan Raden Mandasia yang gemar mencuri daging sapi. Satu sapi utuh akan dibawa oleh Raden Mandasia, untuk kemudian ia kuliti sendiri daging tersebut. Dan dinikmati bersama Sungu Lembu.

Dengan tujuan yang dimiliki oleh para tokohnya, kisah ini mempertemukan mereka semua pada satu titik yaitu pemimpin Giliwengsi yang kemudian mengajak mereka berkelana ke sebuah negeri yang nun jauh melewati samudra bahkan harus berlayar selama berbulan-bulan.

Jika pembaca merasa takut untuk memulai karena takut tidak bisa mengikuti alur cerita. Saya sebagai pembaca yang membaca secara keseluruhan dan secara mendetail, memberi jaminan bahwa mungkin saja di awal-awal membaca akan mendapati rasa jenuh. Seolah sulit untuk menyatu dengan cerita. Karena memang kisah ini disampaikan dengan sangat mendetail, juga dengan pemilihan huruf yang amboi tak seperti biasa.


Raden Mandasia


Namun, terlepas dari kejenuhan dan jenis huruf yang ada dalam novel ini. Saya menemukan fakta kalau saya bahkan masih belum kunjung move on dari kisah ini. Kisah yang melekat erat dengan diri saya, sehingga sulit untuk saya lepas. Ini saya temukan ketika mencapai Bab Lima. Dimana nantinya ini merupakan pertemuan pertama Sungu Lembu dengan Raden Mandasia.

Belum lagi, didapati beberapa bab berisi kisah yang lumayan panjang. Bisa saja bagi mereka yang terbiasa membaca bab demi bab yang pendek akan mendapati kembali rasa jenuh dan ketidak sanggupan, tapi percayalah kisah panjang ini akan melekat tanpa disadari. Terutama ketika mendapati kedua tokoh seperjalanan akan saling melengkapi satu sama lain hingga membuat kita merasa ikut serta dalam petualangan mereka.

Belum lagi mungkin akan kita jumpai rasa penasaran akan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Dan segala hal yang akan menjadikan otak kita berpikir tentang, "apakah ini sejarah nyata atau sekadar fiksi?"

Menggunakan alur maju dan mundur pada beberapa bagian tapi tidak akan mengecoh pembaca. Karena Yusi tetap memberikan sebuah jeda untuk pembaca bernapas sejenak kemudian melanjutkan perjalanan bersama.

Sebelum membaca novel ini, saya pernah membaca ulasan seorang teman. Kalau Sungu Lembu sering berteriak 'anjing' dan benar adanya. Bahkan di awal pertama dia tertangkap, makian tersebutlah yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, entah rasanya merasa puas.

Selain itu, bagi pembaca yang kurang menyukai bagian-bagian yang tampak 'terlalu dewasa' mungkin akan merasa shock atau jengah. Jadi, sebelum mulai membaca saya akan memberi tahu kalau novel ini memiliki beberapa adegan dewasa.

Jikalau pembaca mengharapkan akan mendapat cerita tentang Raden Mandasia yang gemar mencuri daging sapi secara menyeluruh. Karena, memang kisah si Raden Mandasia yang mencuri daging sapi hanya menempati sekitar 10% saja bagi saya.

Meski memang dinarasikan oleh Sungu Lembu, namun di sinilah pembaca akan mendapati, kenapa justru nama Raden Mandasia yang diperkenalkan bahkan namanya berada di sampul buku. Pembaca akan mendapatinya di novel ini.

Sehingga bisa saya katakan, kalau novel ini cukup menarik dan menyeluruh. Tidak membuat pembaca kecewa seolah kita diminta untuk nrimo tanpa pernah bisa mengelak. Semua diatur dengan sangat baik. Tak heran kalau Yusi mendapatkan penghargaan dari novel ini.

Dan novel ini pula yang membuat saya merasa kasihan dengan tokoh yang menjadi target. Ini novel kedua yang membuat saya seperti ini. Pertama adalah novel Arok Dedes yang ditulis oleh Pramoedya Ananta, dimana saya merasa kasihan dengan Tunggul Ametung meski dia telah membuat banyak orang sengsara. Tapi, kehidupannya justru lebih menyedihkan apalagi dia tak dapat cinta dari siapapun. Semua orang membencinya.

Demikian dengan pemimpin Giliwengsi, meski ada beberapa hal yang berbeda. Bahkan menurut saya masih beruntung Watugunung ketimbang Tunggul Ametung. Tapi, sungguh fakta di balik cinta ini membuat kepala saya berdenyut. Bagi pembaca yang sudah membacanya pasti sudah tahu bagian ini.




"Kalau memang mereka tak menghormatimu, aku akan memutuskan hubungan dengan mereka. Orang yang merasa lebih suci daripada yang lainnya bukanlah temanku." ~ Hal 153


Sekarang saya ajak pembaca mengenal sedikit tentang Nyai Manggis yang sangat terkenal. Dia adalah seorang perempuan yang cantik namun kehidupannya yang keras membuat Nyai Manggis cukup memiliki banyak pengetahuan. Pengalaman memang guru yang terbaik. Dari satu tempat ke tempat lain, dia mengalami hal yang begitu membuat hati ini merasa ngilu.

Namun, Nyai Manggis tetap seorang yang berwatak keras. Dia punya visi dan misi serta tak pandai terpengaruhi oleh orang lain bahkan lelaki sekalipun. Dia menjadi sosok yang justru banyak mengendalikan hal yang ada di balik peristiwa berkaitan dengan Giliwengsi dan Banjaran Waru.

Pembaca tak perlu khawatir, di sini ada bagian khusus yang akan mengajak kita berkenalan dengan Nyai Manggis. Bagaimana kisahnya seperti apa kehidupannya hingga bisa sesukses itu.

Dan masih banyak yang akan dikisahkan oleh tokoh lainnya tentang kehidupan mereka masing-masing. Namun, kisahnya dikemas dengan sederhana tapi juga melekat. Sehingga tak mudah untuk dilupakan dengan cepat.


Raden Mandasia