07 December 2017

Sebuah Tempat Bernama Whicwood Dan Kisah Laylee Sang Mordeshoor


Whicwood Book Review



Setelah menghabiskan beberapa hari membaca novel Whichwood karya Tahereh Mafi, akhirnya hari ini saya berhasil menyelesaikannya juga. Di tengah kegalauan karena waktu yang hampir sedikit untuk membaca serta keinginan untuk bisa membaca lebih banyak lagi buku-buku, terutama untuk membabat timbunan.

Pada mulanya, novel yang covernya sangat cantik ini, saya pikir berkisah tentang percintaan seperti genre Young-Adult pada umumnya. Tapi, ini berbeda, dari pemilihan tokohnya saja sudah memiliki pekerjaan yang unik. Usia tokoh-tokoh di dalamnya sekitar 13 / 14 tahun. Nuansa dark, sendu dan lumayan sedih menghiasi cerita dalam novel yang ingin saya miliki bentuk hardcovernya.

Saya membaca novel ini melalui Google Play Book, dengan mendapat diskon 70% saat membelinya, membuat saya tidak lagi berpikir dua kali. Dan ketika pertama kali masuk ke dalam Bab Pertama, saya seperti tersedot ke dalam dunia dimana setiap penduduknya memiliki kekuatan magis, tempat yang tengah memasuki musim dingin, bernama Whichwood. Dan orang-orang yang tinggal di sini dikenal sebagai Whichwoodian.


Kartu Tanda Buku

Judul : Whichwood || Penulis : Tahereh Mafi || Halaman : 368 || Terbit : 14 Nov, 2017 || Language : English || Versi : Google Play Book || Penerbit : Penguin || Rating : 5/5 || ISBN : 9781101994818


Sebuah Kisah Tentang Gadis Yang Kesepian Dan Terasing Di Negeri Tempat Tinggalnya



Namanya Laylee, usianya sekitar 14 tahun, dia seorang anak yatim yang tinggal di sebuah kastil yang lumayan jauh dari kota. Di tempatnya berada hanya ada dua rumah yang berdekatan. Meski Laylee memiliki seorang ayah, tapi dia tidak mampu merasakan kasih sayang dari Baba (demikian dirinya menyebut sang ayah). Sejak Maman (ibunya) meninggal dunia, Baba seolah tidak peduli dengan keberadaan anaknya.

Dia seperti seorang yang kehilangan jati dirinya. Tatapan matanya kosong, bahkan sudah berhari-hari dia tidak pulang. Kadang, meskipun sang Baba ada di rumah, tapi karena dia sudah kehilangan semangat hidupnya, membuat keduanya seperti orang asing. Hingga Laylee bisa melewatkan beberapa hari tanpa berbicara sedikitpun, karena tidak tahu siapa yang bisa diajak berbicara, dan kesunyian akhirnya membuat dirinya semakin menutup diri.

Laylee bahkan lupa, kapan terakhir kalinya dirinya pergi ke sekolah. Terkadang, dia merindukan hal tersebut. Ini semua berakhir sejak Maman meninggal. Namun, sebenarnya, Maman tidak benar-benar pergi dari rumah mereka. Rohnya tetap berada di dalam rumah, bergentayangan setiap waktu, mengomel dan mengeluh serta memarahi Laylee setiap saat. Hanya ada satu tempat yang aman dari omelan Maman : Kamar Mandi. Meski sebenarnya Maman bisa menembus ruangan tersebut dengan mudah, tapi sang hantu justru masih memberikan privacy untuk Laylee setiap dia masuk ke kamar mandi. Di situlah dia sering menyendiri untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Sayangnya, hanya Laylee yang mampu melihat hantu. Baba hanya seorang lelaki biasa, yang jatuh cinta pada Maman saat melihatnya di pasar pertama kali. Kecantikan Maman yang menurun pada Laylee memang termasuk tipe cantik yang aneh, seolah tidak biasa, tapi tetap menyedot perhatian Baba. Dan dari keduanya inilah Laylee memiliki kekuatan yang tidak biasa, dia seorang Mordershoor dan bisa melihat serta mampu berbicara dengan hantu.

Karena Baba tidak bisa melihat hantu, akhirnya Laylee harus berpura-pura untuk bersikap biasa. Karena, dia sendiri paham, jika seorang gadis bisa berbicara dengan hantu dan berkomunikasi dengan makhluk halus, niscaya setiap orang akan memandangnya aneh. Bahkan kehidupan keluarga mereka pun tidak pernah dianggap oleh Whichwoodian yang lainnya. Mereka bahkan tidak peduli apakah Laylee sudah makan atau belum, apalagi dengan kabarnya. Sama sekali tidak pernah menanyakannya. Apalagi memedulikannya. Dia terasing di sebuah tempat yang seolah tidak menginginkannya.


She lived in a world where goodness had failed her, where darkness inhaled her, where those she loved had haunted and discarded her. There was no monster, no ghoul, no corpse in a grave that could hurt her the way humans had, and Laylee was afraid that tonight she’d made a most grievous mistake. ~ Pg 27


Membaca novel ini membuat saya ikut merasakan kesedihan dan kesendirian yang dirasakan Laylee. Bagaimana tidak? Hidupnya harus mendengarkan omelan dari Mamannya yang konon dipengaruhi oleh kebimbangan akan dunia yang berbeda dengan dunia sebelumnya. Belum lagi Baba-nya yang bahkan tidak peduli dengan Laylee, karena rasa cinta yang teramat besar untuk sang Maman. Tapi harus tetap bekerja, seorang diri, melanjutkan bisnis keluarga.

Jangan salah, di awal-awal bulan setelah kematian Maman, Laylee bahkan pernah kehabisan makanan karena Babanya pergi entah kemana. Sementara itu, untuk menghalau rasa laparnya, akhirnya Laylee memutuskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Sedih deh, saat narasi Tahereh Mafi menggambarkan tubuh Laylee yang kurus, wajahnya yang pucat digambarkan berwarna silver seperti di cover pada buku ini.

Dan, satu-satunya yang perhatian sama Laylee ini adalah para makhluk halus yang hendak menyebrang ke Otherwhere ini. Coba, bagaimana perasaan kita saat yang perhatian sama kita bukan manusia seperti kita, tapi justru makhluk halus? Sedih banget, deh.



Laylee Seorang Mordeshoor Yang Membantu Banyak Arwah Pergi Ke Otherwhere



Baiklah, apa sih sebenarnya Mordeshoor itu? Dia adalah seorang yang memiliki pekerjaan memandikan jenazah dan mengemas jenazah tersebut untuk dikirim ke Otherwhere. Dan menjadi Mordeshoor ini tidak sembarangan, karena pekerjaan ini hanya bisa diwariskan dari keturunan seorang Mordeshoor asli.

Karena, ada ritual-ritual khusus yang dilakukan seorang Mordeshoor yang membantu para arwah untuk memasuki dunia Otherwhere. Bahkan cara memandikannya juga tidak sembarangan, sementara di negeri ajaib lainnya, pemandian jenazah ini dilakukan oleh sihir yang otomatis tanpa harus menggunakan tenaga manusia.

Sayangnya, bagi Whichwoodian orang-orang terkasih yang telah mati, tidak membuat mereka memberikan perhatian lebih. Setelah dikirim ke Mordeshoor, mereka mengabaikannya seolah tidak pernah menjejak di dunia.


Why do we fear the dead? We are terrified to even visit the graves of our loved ones - why? Because superstition dictates that visiting our dead will only encourage their corpses to come back into our lives. Nonsense! ~ Pg 186



Itulah kenapa, mereka tidak pernah sekalipun berpikir untuk membantu Laylee dalam mengurus setiap jenazah yang datang ke rumahnya. Sama sekali. Bahkan ketika musim dingin tiba, dan dia tetap harus memandikan para jenazah tersebut. Karena kalau tidak akan berakibat buruk nantinya. Itulah kenapa Laylee menahan rasa sakit di tangannya karena air yang dingin, bahkan hampir membekukan jemarinya. Tapi, dengan sabar, dia mengurus para jenazah tersebut.



The ghosts of the freshly dead are always teriffied to cross over - they’d much rather cling to the human life they know. But a spirit can only exist in the human world when it’s wearing human skin. ~ Pg 17


Dalam novel ini, dijelaskan seperti apa ritual khusus para Mordeshoor ketika mengurus jenazah. Bahkan ketika Laylee kedatangan tamu istimewa yang membuat dua orang tersebut terkejut karena pekerjaan yang berat seperti itu harus dikerjakan sendiri. Dan keduanya pun tidak sanggup ketika harus mencabut kuku-kuku para jenazah tersebut untuk dikumpulkan dalam tempat khusus.

Memang cukup mencekam, itulah kenapa saya mengatakan kalau novel ini memiliki tema yang lumayan horor dan dark. Bahkan ada satu bagian tentang proses para hantu tersebut menyedot tubuh manusia di malam perayaan besar di Whicwood. Dan sayangnya, karena akibat inilah Laylee dijatuhi hukuman penjara!

Mengenaskan ya kan? Sudah yatim dan akan segera piatu, sendirian, kelaparan, tidak ada satupun orang yang menyayanginya, hanya berteman dengan para hantu, kemudian harus dipenjara karena sesuatu yang bahkan kalau dirunut kembali bukan kesalahan aslinya. Sedih, buku ini membuat sedih tapi dituturkan dengan cara mendongeng yang ringan. Tidak mendayu-dayu hingga mengorek dan memaksa pembaca untuk menangisi kesedihan dan rasa sakit Laylee.


Buku Pertama Karya Tahereh Mafi Yang Saya Baca



Sejujurnya, saya sendiri tidak begitu ingin memiliki ekspektasi apapun terhadap novel ini. Tahereh Mafi sendiri sudah dikenal oleh kalangan bookstagram melalui karya serialnya : Shatter Me dan Furthermore. Buku ini sebenarnya ada sedikit lanjutan dari kisah beberapa tokoh dari Furthermore tapi ceritanya tetap berdiri sendiri.

Saat kepo dengan sosok Tahereh Mafi melalui akun Instagram @TaherehMafi, akhirnya saya cukup terkejut. Dia adalah istri / pasangan dari penulis yang karyanya juga menjadi favorit saya : Ransom Rig. Yang merupakan penulis Peculiar Children! Ah, saya langsung berpikir, pantas saja keduanya memiliki kegemaran yang sama melalui karya Dark mereka.

Meski bobot horor di sini saya cukup tekankan, bukan berarti horor yang sama dengan Stephen King punya, tapi jika dibaca oleh anak-anak yang masih baru beranjak remaja, mungkin akan lumayan mencekam. Dan novel ini bebas dari adegan-adegan yang biasa didapat di genre YA pada umumnya.

Kalau kalian penasaran, novel ini cukup rekomen kok untuk dibaca, dengan gaya bercerita yang ringan tapi kisah di dalamnya bagus. Saya tidak akan melebih-lebihkan, karena memang novel ini masuk ke dalam daftar  buku favorit saya. [Ipeh Alena]

29 November 2017

A Sweet Mistake Novel Pemenang Gramedia Writing Project


A Sweet Mistake


Novel A Sweet Mistake karya Vevina Aisyahira ini menjadi novel ke-80 yang sudah saya baca. Menghabiskan waktu semalaman untuk menyelesaikannya bukan hal yang sulit, karena memang novel ini termasuk bacaan yang ringan. Juga merupakan novel kedua yang bertemakan pernikahan mendadak karena dianggap melakukan sesuatu yang dilarang, sementara novel pertama ditempati oleh Marry Me, Olivia.

Kalau di novel Marry Me, Olivia! keduanya merupakan sahabat yang tidak sengaja ketahuan tidur berdua, padahal enggak melakukan apa-apa. Sementara novel ini justru mempertemukan dua musuh bebuyutan yang saling membenci sejak mereka kecil sampai kuliah. Kok lucunya, mereka bisa satu kampus bareng, sampai-sampai rasanya sulit untuk tidak saling menyerang saat bertemu.

Rey dan Liona, keduanya bertetangga, rumahnya berdekatan. Kebencian yang tertanam dalam diri masing-masing sangat besar. Rey, yang sejak kecil selalu berusaha untuk membuat Liona menangis, ternyata tidak berhasil. Memang tidak memiliki alasan yang jelas mengapa tidak menyukai Liona. Demikian juga Liona, si gadis cantik berwajah datar, yang juga membenci Rey karena baginya cowok itu hanya menyia-nyiakan waktu selama kuliah.

Mahasiswa abadi, demikian label yang diberikan Liona pada Rey dan kawan-kawannya. Memang benar, keempat cowok yang memberikan label pada Liona sebagai cewek berwajah datar itu merupakan mahasiswa yang masih saja betah di kampus. Namun, saat pertemuan mereka di kantin, Rey memastikan bahwa dia akan bisa lulus bersamaan waktunya dengan Liona.


Kartu Tanda Baca

Judul : A sweet Mistake || Penulis : Vevina Aisyahra || Halaman : 248 || Versi : Paperback || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || Rating : 3/5 || ISBN : 9786020378343


A Sweet Mistake Sebuah Kesalahan Yang Manis


Benci jadi cinta. Sebuah kisah klasik yang memang masih enak untuk dinikmati sampai saat ini. Sepanjang membaca novel ini saya ditemani backsound Lagu I Hate You I Love You feat Olivia. Dengan alur utama tentang dua orang yang saling membenci tapi kemudian saling mencintai. Tapi, siapa sangka, keduanya justru saling menerima saat mereka menghabiskan malam bersama di atap yang sama.

Tapi, jangan keburu berpikir yang lain-lain dulu, karena keduanya masih menolak tidur di kamar yang sama. Jadi, masing-masing menempati kamar yang berbeda. Pernikahan keduanya juga dadakan, karena Rey ketawan terlihat masuk ke kamar Liona dan itu membuatnya harus pasrah menghadapi kenyataan.

Saya tidak bisa meneruskan menyeritakan bagaimana cerita ini berjalan, karena ada beberapa hal yang menggelitik hati saya selama membaca novel ini.


1. Pernikahan Yang Begitu Cepat


Saya sempat berpikir, wah, enak banget ya kalau dinikahinnya cepat seperti itu. Serius! Karena belajar dari pengalaman banyak orang, ketika mereka mempersiapkan pernikahan yang konon lebih cepat pun, tetap saja tidak bisa dikatakan cepat. Pun persiapannya bukan main repotnya. Itulah kenapa banyak penulis yang memilih untuk menjadikan pernikahan para tokohnya lebih cepat.

Sayangnya, saya berharap Vevina bisa eksplorasi masalah persiapan pernikahan, meski keduanya tidak ikut repot. Bisa belajar dari teman-teman sekitar atau justru tetangga di dekat tempat tinggal. Dengan begitu, pembaca bisa merasakan sebuah proses yang dengan gamblang dijelaskan. Atau belajar dari video pernikahan anaknya Pak Jokowi, mungkin. Jadi ada sesuatu yang menarik tentang kebudayaan yang diselipkan di dalamnya.


2. Kakek Yang Kaya Raya Dan Baik Hati

Maulah saya satu, model kakek yang seperti ini. Serius! Meski Rey dan Liona diberikan hadiah untuk menempati rumah terpisah, yaitu rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Kakek dan Nenek Rey, tetap saja saya merasa iri dengan Liona. Kau begitu beruntung, Liona! Karena harga rumah saat ini sangat mahal, terutama di sekitar Bekasi.

Selain itu, yang membuat saya tercengang adalah dengan baiknya sang Kakek menghadiahi cucu-mantu-nya ini mobil Brio. Aduh, saya jadi tambah mupeng, coba gitu Liona bisikin ke kakeknya, untuk kasih saya satu mobilnya. Hehehehe. Motivasi si Kakek memang jelas, dengan background beliau yang merupakan pengusaha properti yang sukses, juga senang memanjakan cucunya, jelas kalau Liona bisa kecipratan kasih sayang yang berlimpah. 


3. Kebencian Seorang Ayah Pada Anak Perempuannya

Meski buat saya sedikit masih terasa aneh, karena kebencian dari Papanya Liona ini alasannya belum begitu masuk ke dalam logika. Tapi, apa sih yang enggak terjadi di dunia ini, ya kan? Semua hal terjadi baik itu hal sepele maupun hal yang sangat tidak masuk akal sekalipun. Karena ini pula saya nanti akan menyisipkan beberapa hal untuk penulisnya.


4. Cowok Badung Terkadang Lebih Memesona

Jadi teringat perbincangan dengan kawan saya, terkait cowok yang tampangnya badung aka nakal. Membawa ingatan saya ke beberapa tahun silam saat saya masih SMA. Dimana kala itu ada beberapa anak lelaki dengan wajah seadanya, tidak tampan buat saya sih, tapi terkenal seantero angkatan karena termasuk Genk Motor. Saya pernah naksir salah satu anggotanya, entah kenapa wajahnya mirip dengan Fadly Padi. Ahahahaha.

Terus, hubungannya apa? Ya, karena di novel ini Rey dan kawan-kawannya juga punya wajah yang badung dan sering menjadi pusat perhatian, sih. Bahkan Silvi, sahabatnya Liona, juga merupakan fans mereka. Dua orang yang disukai Silvi yakni Tommy dan Rey.


5. Masa-masa Kuliah Dan Kenangan

Pasti banyak yang memiliki pengalaman selama di kampus. Entah itu kelelahan akibat tugas yang menumpuk, penelitian yang tak kunjung selesai, sampai revisi yang tak kelar-kelar. Tentunya ini merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk masa depan. Jadi, kalau nanti seketika laporan yang sudah dikerjakan kemudian diminta berbeda oleh Bos, tidak kaget lagi.

Sungguh, harus lembur demi laporan yang kemudian ditolak mentah-mentah kemudian diminta dalam bentuk dan variabel yang berbeda, itu lebih menyebalkan ketimbang revisian yang ditolak apalagi dicoret-coret. Ahahaha, dan bagi Liona yang tergolong mahasiswa teladan, tidak luput dari pengalaman revisian dicoret-coret dosen.


Kelima hal di atas merupakan beberapa topik atau perwakilan yang ada kaitannya dengan novel ini. Tentunya ini demi membuat kalian melihat lebih banyak tentang kisah cinta dua musuh bebuyutan. Seperti apa jadinya, ketika keduanya justru dipaksa menikah tanpa bisa mengelak lagi.



Catatan Untuk Penulis Dari Pembacanya


Harapan saya sih, Vevina enggak akan langsung baper ketika membaca sub-judul di atas. Karena, ketahuilah, bagi pembaca pun sulit untuk menggantungkan beberapa kendala yang tersemat di dalam hati. Jadi, izinkan saya berbagi hal tersebut dengan tujuan, siapa tahu untuk karya selanjutnya justru membuatmu menjadi penulis yang kaya, sehingga bisa berbagi banyak hal pada pembacanya.


Alur / Plot : Saya mengakui untuk bagian jalan cerita yang dipilih oleh Vevina ini sudah cukup mumpuni. Itulah mengapa GWP menjadi ajang yang layak bagi penulis pemula, karena tentunya karya mereka bisa langsung dibedah oleh para editor. Namun, berbicara masalah cerita yang sudah ketawan endingnya, dalam hal ini Benci jadi Cinta, karena temanya yang umum. Saya sebagai pembaca berharap dapat kejutan lainnya. 

Tokoh : Dalam penokohan, cukup lumayan, meski karakter Rey justru yang masih begitu kuat. Dalam artian ego-nya. Sementara Liona juga tidak begitu buruk meski masih kurang dieksplore. Begini, Liona menghadapi kehidupan yang berat, sangat berat malah kalau buat saya pribadi. Karena hubungan antara ayah dan anak, meski pihak Liona menerima. Tentu memiliki reaksi yang berbeda, bukan sekadar menjadikan Liona seorang perempuan yang tampak emotionless saja. Tapi lebih dari itu.

Lebih dari itu dalam hal, misalnya Vevina bisa eksplorasi pikiran Liona terhadap lelaki. Apakah dia menjadi trauma terhadap lelaki? Atau alasan dia menjadi mahasiswi teladan, melalui pemikirannya yang bisa digali terus sehingga pembaca bisa mengenal dengan sangat dekat dan memahami keputusan-keputsan yang diambil oleh Liona sebagai hal yang masuk akal. 

Apalagi klimaks ini sebenarnya hal yang rumit bagi saya, bahkan bagi anak yang memiliki hubungan yang baik dengan orangtuanya saja, memiliki pengalaman yang berbeda dan kebosanan atau kejenuhan yang berbeda. Jika dilihat dari segi pemikiran. Mungkin Vevina bisa eksplorasi dari novel-novel Young-Adult karya penulis luar, bagaimana mereka menyajikan penggalian emosi tokohnya sehingga tidak hanya tampak permukaan saja.

Gaya Penulisan : Sebenarnya ini tidak masalah bagi saya, tapi entah kenapa pada bagian dialog antara Rey dan Liona sering tidak konsisten. Bagi Rey yang memang tampak badung dan egois, cukup membingungkan ketika dia berdialog dengan bahasa yang kaku. Saya pernah membaca dari banyak buku terkait How to Write a Story. Mereka sepakat, bahwa dalam dialog sebaiknya disamakan seperti kita berbicara. Dalam hal ini bukan bahasa teks, tapi benar-benar bahasa yang digunakan orang untuk berkomunikasi.

Mungkin Vevina pernah membaca novel The Adventure of Tom Sawyer? Coba diintip deh, di situ ada adegan Tom berbincang dengan seorang budak negro. Dalam perbincangan tersebut, bahkan penulisnya menuliskan bahasa inggris yang khas ala negro. Yang senang menyingkat kata atau bahkan pengucapan yang kurang bisa dimengerti secara langsung. Dari sinilah, percakapan antar-tokoh akan terbangun dengan perbedaan yang cukup besar. Apalagi baik Rey dan Liona memiliki karakter yang berbeda, justru bisa dipisah dengan cara penyampaian dan bahasa yang digunakan.


***


Overall, saya tidak keberatan mengatakan kalau karya ini cukup lumayan. Jangan sakit hati dengan penilaian saya berdasarkan bintang, ya. Karena memang berdasarkan penjelasan, 1 untuk tidak bagus dan 2 untuk lumayan dan 3 untuk Menyukai. Jadi, karya ini cukup ringan, dan bagi kalian yang ingin flash back ke masa-masa SMA saat bad boy masih digandrungi, novel ini bisa kalian baca sendiri.

Siapa tahu nanti bisa ngingat-ngingat lagi pernah nge-fans sama cowok badung yang seperti apa. Hehehehe.


Salam,

28 November 2017

Eliza And Her Monsters - Monstrous Sea Journey


Eliza And Her Monsters




Membaca Eliza and Her Monsters bukan saja menikmati romansa ala-ala remaja. Karena romansa di dalam novel ini tidak begitu banyak, memang berisi tentang bagaimana tokoh di dalamnya berusaha untuk saling melucuti topeng diri sendiri untuk bisa tampil apa adanya di depan orang yang mencintaimu. Namun, kehidupan dua tokoh yang memiliki persamaan : Memiliki Trauma.

Baik karakter Eliza dan Wallace, keduanya memiliki kehidupan yang unik. Berbeda dari apa yang akan dibayangkan. Young-Adult, demikian genre dari buku ini, merupakan sebuah genre yang berisi tokoh-tokoh yang sudah bukan lagi remaja tanggung tapi belum juga bisa dikatakan sudah dewasa. Ibaratnya meminjam judul lagu dari Britney Spears, Not a girl not yet a woman atau Not a boy not yet a man.

Monster di sini, merupakan karakter rekaan yang diciptakan oleh Eliza. Sebuah maha karya yang dibaca oleh ribuan orang di sebuah forum. Monsterous Sea merupakan webcomics yang dibuat oleh Eliza - Mother of Fandom - yang memang gemar menggambar. Berawal dari sebuah forum berjudul Children of Hypnos, dia berkenalan dengan Max dan Emmy dimana keduanya-lah yang memberikan semangat pada Eliza untuk membuat cerita dalam bentuk komik.

Eliza mengakui, jika dirinya tidak mampu menuliskan sebuah cerita dengan kumpulan kata-kata seperti novel atau cerpen. Namun, dia bisa mewakilinya melalui sebuah gambar. Itulah kenapa kemudian Monstrous Sea menjadi berita hangat kekinian, sesuatu yang dibaca oleh banyak orang melalui sebuah forum online.

***

Kartu Tanda Buku

Judul : Eliza and Her Monsters || Penulis : Fransesca Zappia (@chessiezappia) || Halaman : 385 || Versi : Hardcover || Bahasa : English || Penerbit : Greenwillow Books || Rating : 5/5 || ISBN : 978-0-06-229013-7 

***

Jadi teringat dengan fenomena beberapa waktu lalu di sebuah forum terbesar di Indonesia. Kaskus. Tentu mungkin masih ingat karena cerita tersebut sudah diangkat ke dalam sebuah film yang minggu ini tayang di beberapa bioskop. Siapa yang tak kenal dan masih belum membaca sebuah thread yang berisi cerita tentang seseorang yang kerap diganggu makhluk halus di sebuah rumah besar di kawasan Jogjakarta.

Saya menggunakan ilustrasi dari thread tersebut sebagai perwakilan bagaimana Monstrous Sea menarik perhatian publik. Sebutlah saya seorang fandom atau fans yang terus menantikan jadual tayang cerita setiap minggu. Sementara si penulis thread yang mengalami hal tersebut saya wakilkan sebagai Eliza. Kemudian dua orang kawannya Max dan Emmy bertugas sebagai admin yang membantu dalam menjawab beberapa pertanyaan sekaligus membantu Eliza mengelola forum.

Baiklah, sebagai seorang Creator, Eliza dituntut untuk terus memberikan cerita terbaru tepat pada waktunya. Karena, banyak para fansnya yang bahkan sudah menanti sebelum LadyConstellation muncul. Apalagi bagi Eliza memberikan yang terbaik untuk para fansnya merupakan hal yang wajar karena itulah dirinya tidak pernah membiarkan barang sedetik-pun lepas dari buku sketsanya. Dia senantiasa menghabiskan waktunya dengan menggambar sketsa story-line untuk diterbitkan. Juga selalu siap sedia dengan ponselnya, jika sewaktu-waktu kedua temannya itu menghubungi.

Dunia Eliza adalah dunia yang tak mampu dijangkau oleh kedua adik laki-lakinya dan kedua orangtuanya. Mereka hanya mampu berusaha memahami tanpa bisa bertanya tentang apa yang dilakukannya. Ibu dan Ayahnya Eliza menganggap dirinya hanya mengerjakan sebuah hobi. Sementara bagi Eliza, ini bukan sekadar hobi. Tapi juga sebuah pencapaian yang pernah dilakukan oleh seorang introvert sepertinya.

***

Berbicara masalah introvert, mungkin banyak yang sudah mengerti bagaimana kehidupan para introvert ini. Kalau saya pribadi mungkin ambivert, berada di tengah-tengah. Ketika sendirian menjadi hal yang tidak masalah bagi saya, namun juga tidak masalah jika berada di keramaian. Tapi, bagi remaja seperti Eliza, menjalani kehidupan sekolah saja sudah memusingkan, belum lagi harus berhadapan dengan kondisi sosial yang membuatnya justru muak.

Baginya, orang-orang yang ada di sekitarnya merupakan wujud dari Monster itu sendiri. Dimana ketika Eliza berusaha untuk tidak mengganggu, justru dialah yang diganggu. Ketika dia berusaha untuk sendiri, justru banyak orang menganggapnya aneh. Itulah kesulitan yang memang sering dialami oleh para pelajar baik di Junior School maupun High School. Karena itu juga yang sering disematkan dalam banyak novel, terkait putaran kehidupan yang tak lagi dimengerti bahkan oleh si manusia itu sendiri.

Saking pendiamnya, Eliza memang tidak banyak berbicara di sekolah. Dia hanya senang menyendiri, duduk sambil membuat sketsa. Sudah, itu saja sudah membuatnya bahagia, namun, benarkan itu sebuah kebahagiaan sejati?

***

Sudah hal yang pasti dalam kehidupan remaja dan cerita di dalamnya. Dimana posisi percintaan dan romansa lekat dengan kehidupan mereka. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dimana novel ini tak hanya bercerita tentang romansa, tapi lebih dari itu. Karena memang, bagi saya romansa dalam novel ini hanya sekitar 40% saja. Sisanya? Kehidupan remaja saat ini.

Seperti ketika orang jatuh cinta pada umumnya, dimana kehidupan dan fokusnya bisa teralih dari apa yang biasanya dilakukan. Seperti Eliza yang kehidupannya hanya dua : di Monstrous Sea forum aka online dan kehidupan offlinenya berada di hadapan buku sketsa. Dan ketika pertemuannya dengan Wallace, justru membuat hidupnya menjadi lebih berwarna.

Wallace berhasil menarik Eliza keluar dari tempurung kehidupannya. Mengenalkannya pada dunia yang tak lagi berisi para fans dan Max serta Emmy saja. Tapi berisi banyak orang yang kemudian membuka matanya pada apa yang disebut sebagai Fans atau Fandom. Berusaha mendengar secara langsung apa pendapat mereka dan bagaimana antusias mereka terhadap cerita yang dibuat oleh Eliza dalam bentuk anonim.

Siapa juga yang sanggup untuk mengelak perubahan yang datang secara tiba-tiba? Saat waktu yang Eliza punya untuk membagi dunianya dengan dunia nyata justru membuatnya jungkir-balik. Hingga dia berada dipersimpangan antara nyata dengan tidak nyata. Dia melupakan tanggal hanya demi mengerahkan seluruh energinya pada MS. Sampai dia lupa bahwa hari telah berlalu dan tanpa disadarinya dia menjalani kehidupan auto-pilot.

Dirinya tak berada di tempatnya berada. Dia menjalani kehidupan yang tanpa sadar dia jalani, seolah rutinitas belaka namun tetap tanpa kehadiran secara utuh. Untuk itulah, keluarganya sangat mengkhawatirkan dirinya. Meski bagi Eliza ini semua demi bisa menyelesaikan cerita MS tepat pada waktunya. Dia tak ingin mengecewakan para fansnya terutama karena dia pernah kecewa sebagai seorang fans dari cerita The Children of Hypnos yang tak kunjung selesai.

Mindfulnes demikian istilah untuk kehidupan dimana orang tersebut menjalaninya tanpa kesadaran secara utuh. Istilah ini belakangan semakin ramai, karena sepertinya banyak yang mengalami hal tersebut. Akibat pengalaman ini, serta beberapa hal besar yang dialaminya, kemudian Eliza mengalami apa yang disebut sebagai Panic Attack. Dimana dia ditemukan pingsan dengan darah yang mengalir deras di kepalanya.


We ascribe value to the things we care most about, but sometimes we don't stop long enough to take a look at the bigger picture . ~ 



***

Hal lain yang membuat novel ini unik, yakni kondisi kedua remaja yang tengah jatuh cinta ini, mereka tetap fokus dengan apa yang menjadi impian keduanya. Saling mendukung satu sama lain, hingga memberikan apresiasi yang membuat mereka kembali bersemangat. Jadi, bukan semacam pasangan yang rela menggadaikan impian mereka demi cinta.

Tidak hanya itu, di sini, hubungan keluarga juga ditonjolkan dalam bentuk yang lebih sederhana. Betapa keluarga merupakan pendukung nomor satu bagi beban kehidupan yang berat. Eliza terutama, yang merasa bahwa dia tak membutuhkan keluarganya dan ini dituliskan tidak secara gamblang. Kita hanya bisa melihatnya berdasarkan karya yang dibuat olehnya. Dimana para tokoh tak memiliki orangtua yang berada di dekat mereka. Beberapa fansnya sempat mempertanyakan hal ini, namun sedikit demi sedikit Eliza kemudian menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Sementara di sisi lain, Wallace mulai membuka dirinya, bercerita pada Eliza tentang masa lalunya dengan sebuah email. Dia tak berani dan tak ingin membahasnya, bahkan ketika mengetik surat tersebut, Wallace merasakan tubuhnya menggigil dan hampir pingsan. Di sini inilah, terbukti bahwa peristiwa tersebut membuat Trauma yang mendalam pada Wallace.

Apa yang dilakukan keduanya dengan trauma yang mereka alami? Tentunya, baik Eliza dan Wallace mengambil keputusan yang tepat. Mereka akhirnya datang ke psikiater dan mendapatkan beberapa terapi yang membuat keduanya akhirnya merasa lebih baik dan tampak berbeda. Mereka kembali melihat dunia dengan warna-warni yang berbeda.

***

Berbicara masalah ketenaran, Eliza dan Wallace keduanya juga termasuk tenar. Tapi Eliza memang lebih tenar lagi, karyanya dibaca banyak orang. Bahkan merchandise yang baru saja diunggah ke website sudah mampu menyedot pembeli yang kemudian menjadi penghasilan terbesar bagi Eliza. Bahkan dia sudah sanggup untuk membayar biaya kuliahnya sendiri.

Namun, di balik dunia online dan ketenaran. Tentu akan menghadapi banyak hal terutama haters. Meskipun jumlah fans yang mendukung lebih banyak dari haters, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa keberadaan mereka bisa menjatuhkan semangat yang pernah ada sampai-sampai tak menemukan motivasi untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai.

Dalam surat yang ditulis oleh penulis The Children of Hypnos, beliau mengatakan, "If you want the motivation back, you must feed it. Feed it everything. Books, television, movies, paintings, stage plays, real-life experience. Sometimes feeding simply means working, working through nonmotivation, working even when you hate it."

Kalimat inilah yang kemudian menjadikan Eliza mau maju untuk menyelesaikan Monstrous Sea meski saat itu dia sudah terlalu lelah. Bahkan untuk menggenggam pensil. Dunia online yang gemerlap karena ketenaran memang tampak menjanjikan, tapi kelelahan akibat tidak dapat memenuhi ekspektasi orang lain, merupakan hal yang mampu menyedot diri kita dari kehidupan.

Creating art is a lonely task, which is why we introverts revel in it, but when we have fans looming over us, it becomes loneliness of a different sort. We become caged animals watches by zoo-goers, expected to perfom lest the crowd grow bored or angry. It's not always bad. Sometimes we do well, and the cage feels more like a pedestal. ~ Pg 358


***

Membaca Eliza and Her Monsters tidak hanya menyelami kata demi kata dari Fransesca Zappia. Tapi juga mengenal dunia 'kekinian' dimana ternyata kondisi sosial yang ada, hampir sama dengan yang terjadi di sini. Selain itu, juga mengenal, bagaimana proses kreatif sebuah karya yang menjadi sorotan publik.

Tentunya, dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, membuat saya tidak sabar untuk terus melanjutkan bab demi bab hingga akhirnya menyelesaikan novel ini. Kesan saya? Saya ingin membaca karya Zappia yang lain seperti The Children of Hypnos dan Made You Up.

Faktanya nove ini dipublikasi setelah tayang di Wattpad, sebuah media perantara bagi para penulis yang ingin mengetahui apakah karyanya layak dicetak atau tidak. Dan saat ini, buku-buku yang cukup populer di wattpad banyak diterbitkan dalam bentuk cetak. Bagi saya yang tidak pernah tertarik membaca di Wattpad memang cukup tertarik, karena setidaknya karya tersebut sudah dibahas tuntas sebelum naik cetak.

22 November 2017

Toto-Chan Sebuah Kisah Keberhasilan Seorang Pendidik Yang Mengubah Kehidupan Para Muridnya



Toto-Chan The Little Girl At The Window



Toto-Chan bukanlah sebuah buku berisi kisah fiksi, namun merupakan buku yang berisi kenangan dan pengalaman masa kecil dari penulisnya : Tetsuko Kuroyanagi. Setiap kisah dalam buku ini, berasal dari ingatannya semasa kecil serta dari penuturan kisah yang diceritakan juga oleh Ibunya dan juga beberapa teman-temannya yang menyumbangkan ingatan demi selesainya buku ini.

Semasa kecil, Toto-Chan memang termasuk anak yang cerewet. Dia senang menyeritakan banyak hal, dari mulai cerita pengalamannya ketika di sekolah hingga cerita apa saja. Inilah momen yang menjadi jalan pembuka dari pengalaman pendidikan di sekolah Tomoe Gakuen. Yang dimiliki oleh seorang Kepala Sekolah bernama Sosaku Kobayashi, dimana buku ini merupakan persembahan Toto-Chan untuk memenuhi janjinya pada sang Kepala Sekolah.

Pernahkah kita menyadari, bahwa keberhasilan seorang pendidik dalam membimbing anak muridnya bisa menjadi titik terang bagi keberhasilan anak didiknya kelak? Mungkin video ini bisa mewakili penjelasan tentang keberhasilan para pendidik dalam membimbing anak didik mereka menggali potensi serta menjalani kehidupan sehingga mencapai kesuksesan.


 


Video di atas memang sangat mengharukan, terlebih kita bisa melihat bagaimana ekspresi yang muncul dari sosok pengajar di video ini. Walaupun saya paham, kesuksesan itu tak hanya berbentuk uang dan jabatan, tapi dalam bentuk apa saja. Dan para mantan murid ini merupakan segelintir dari mereka yang terbantu dengan motivasi yang diberikan oleh si pendidik.

Sekarang, apa kaitannya dengan buku Toto-Chan yang justru isinya mungkin akan disangka sebagai karya fiksi tentang gadis kecil di Jepang yang gemar melihat ke luar jendela? Di luar dugaan, buku ini juga berisi memoar pendidikan yang diterapkan di sekolah Tomoe Gakuen, yang telah menelurkan siswa dan siswi yang berprestasi sampai salah satunya, yaitu Toto-Chan menjadi aktris perempuan yang juga tertarik dengan dunia pendidikan.


Kutipan Buku Toto-Chan Paling Favorit



Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah. (Hal 106)


"Kalian boleh berbicara tentang apa saja. Kalian boleh berbicara tentang apa yang ingin kalian lakukan. Apa saja. Tapi yang penting, mari kita coba dulu." (Hal 122)


"Kau benar-benar anak baik, kau tahu itu, kan?" (Hal 187)




Kartu Tanda Buku


Judul : Toto-Chan : Gadis Cilik Di Jendela || Penulis : Tetsuko Kuroyanagi || Halaman : 272 || Cetakan kedua puluh empat : Agustus 2017 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || ISBN : 978979236552 || Rating : 5/5



Bagaimana Seorang Pendidik Mampu Mengubah Kehidupan Anak Didiknya


Percaya atau tidak, bahwasannya seorang pendidik bisa mampu mengubah kehidupan anak didiknya menjadi lebih baik atau justru lebih buruk. Tidak sedikit murid yang mengambil keputusan terbesar dalam karirnya karena pengaruh dari sang pendidik. Pun juga tidak sedikit yang akhirnya hancur hidupnya karena pola didik yang salah.

Itulah kenapa, ketika saya membaca kembali buku terkait pendidikan karya Mas Bukik berjudul Anak Bukan Kertas Kosong banyak hal yang kemudian saya dapati terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya, bagaimana seorang pendidik bisa merusak masa depan mereka dengan perilaku kasar, semena-mena, bullying bahkan pelecehan seksual.

Dalam beberapa statusnya, sebagai penggiat dunia pendidikan, Mas Bukik juga pernah bercerita tentang buku yang sudah dibacanya, ditulis oleh Ki Hajar Dewantara seorang bapak pendidikan di Indonesia. Beliau merangkum sedikit tentang sikap seorang pengajar melalui kutipan yang disematkan dalam tulisannya. 



"Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup tumbuh menurut kodratnya sendiri." ~ Ki Hajar Dewantara (Pendidikan, Halaman 21) - Sumber Anak Bukan Kertas Kosong.



Dari sinilah, saya melihat visi dan misi yang sama antara Ki Hajar Dewantara dengan Sosaku Kobayashi dalam dunia pendidikan. Melalui testimoni Toto-Chan yang pada mulanya, di sekolah sebelumnya, dia dikeluarkan karena memanggil pemusik jalanan saat jam belajar. Bahkan, konon salah satu guru yang mengajar di kelas sebelahnya mengakui, bahwa Toto-Chan selalu dihukum di luar kelas dan sering bertanya : apa kesalahannya?

Baik, saya juga ingin sedikit menyeritakan contoh kasus seorang kawan terkait razia yang diadakan di sekolah anaknya. Dimana kerap kali diadakan razia rambut, si anak ini selalu menjadi sasaran empuk meski saat dicek kembali, ternyata tidak ada kesalahan dari anak ini. Rambutnya masih sesuai dengan peraturan yang tertulis. Hingga kemudian, si anak bercerita pada orang tuanya, justru diomeli karena dianggap mengadu. Hingga anak ini kehilangan semangat untuk berangkat sekolah. Lantas dimana letak kesalahannya?

Saya perjelas kembali, alasan Toto-Chan dikeluarkan dari sekolah, bukan saja karena dia memanggil pemusik jalanan untuk bermain di luar jendela sekolah. Tapi, saat itu sang guru mengatakan bahwasannya saat di kelas Toto-Chan berkali-kali menutup dan membuka lemari meja dengan alasan yang sebenarnya tidak bisa disalahkan. Namun, tidak dijelaskan juga dimana letak kesalahannya.

Kalau tidak diketahui dimana letak kesalahannya, kemudian darimana para anak didik ini mengetahui alasan mereka dihukum? Di sinilah sosok Sosaku Kobayashi yang menerapkan pendidikan ala Eropa, menjadi titik balik bagi para anak muridnya dalam menjalani kehidupan. Mengedepankan prinsip Kebebasan Dalam Belajar, justru yang membuat anak-anak ini belajar berkomitmen serta disiplin dengan peraturan yang ada. Apalagi prinsip ini berlaku untuk semua pelaku pendidik di sekolah Tomoe Gakuen.



Anak Yang Kritis Sering Dianggap Nakal



Seperti Toto-Chan yang sering melemparkan pertanyaan yang sesungguhnya memang tidak dimengerti olehnya. Namun, saking seringnya dia bertanya, beberapa guru di sekolah lamanya menganggap dia anak yang nakal. Belum lagi kegemaran Toto-Chan bercerita tentang banyak hal, itu juga dianggap mengganggu oleh para pendidik di sekolah yang lama.

Namun, sebuah perbedaan besar yang dilakukan oleh Kobayashi berhasil membuat Toto-Chan mencintai sekolah. Ketika pertama kali masuk ke sekolah Tomoe Gakuen, Kobayashi duduk di hadapan Toto-Chan kemudian mendengarkan semua cerita yang dikisahkan olehnya. Bahkan sampai Toto-Chan kehabisan ide untuk bercerita!

Setiap anak tentu memiliki kondisi dan kapasitas serta selera yang berbeda. Ada anak-anak yang jarang bertanya pada gurunya, karena di rumah mereka sudah banyak bertanya pada orangtuanya. Ada juga beberapa orangtua yang merasa angkat tangan dengan pertanyaan dari anak mereka, kemudian meminta mereka untuk bertanya langsung pada guru mereka di sekolah. Jika beruntung, sang anak akan mendapatkan penjelasan yang sesuai dan baik. Namun, jika tidak, si anak ini akan diberikan label anak nakal atau justru dinasihati untuk tidak bertanya.

Padahal, keingin-tahuan seorang anak itu sebuah bukti bahwa mereka memiliki ketertarikan pada hal-hal tertentu. Dari rasa ingintahu inilah banyak muncul ilmuwan-ilmuwan yang menciptakan penemuan yang tetap bisa dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Melalui rasa ingin tahu pula-lah, setiap cendikiawan memperoleh jawabannya dari setiap penelitian. Lantas, apa yang harus dilakukan setiap anak jika mereka dibungkam dari rasa ingin tahunya? Bagaimana Kobayashi menghadapi Toto-Chan yang gemar bercerita setelah berjam-jam mendengar anak itu bercerita banyak hal?

Setelah Toto-Chan berhenti bercerita, barulah Kobayashi mengatakan dengan senyum yang khas, bahwa Toto-Chan diterima di sekolah tersebut. Dan tanpa disadari, keesokan harinya Toto-Chan sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Bahkan tanpa harus disuruh untuk bersiap lagi. Di sekolah juga seperti itu, ada banyak anak-anak yang memiliki kekurangan berkumpul menjadi satu dalam satu ruang kelas. Menurut Kobayashi, ini agar anak-anak terbiasa bergaul dengan anak lainnya yang memiliki kekurangan dalam bentuk fisik.

Beberapa teman Toto-Chan ada yang tubuhnya kecil dan tidak bisa tumbuh lagi, ada juga yang terkena polio sehingga struktur kakinya berbeda dan tangan serta kakinya juga lemah. Mereka berada di kelas yang sama. Di sinilah, kebaikan khas anak-anak dalam diri Toto-Chan semakin terasah. Dia merupakan anak yang selalu berusaha membela teman-temannya ketika mereka kesulitan.



Kalimat Sugesti Bagi Setiap Anak Didik



Mungkin kita sering mendengar, betapa bahayanya ketika melabeli seorang anak dengan kata 'NAKAL'. Saking bahayanya, beberapa penggiat parenting berusaha menghindari kata tersebut agar tidak menjadi sugesti dalam alam bawah sadar si anak yang akan berpengaruh hingga mereka besar nanti.

Demikian juga dengan Kobayashi, yang sering melontarkan perkataan "Toto-Chan kamu itu anak yang baik, kamu tahu kan?" Di setiap waktu saat Toto-Chan bermain atau bersinggungan dengan teman-temannya, sang kepala sekolah pasti mengingatkan Toto-Chan dengan kalimat tersebut. Yang kemudian tanpa sadar justru menjadi kalimat sugesti yang berimbas positif baginya.

Bahkan ketika Toto-Chan sudah dewasa pun, ketika dia mengingat perkataan tersebut, dirinya merasa sangat berterima kasih pada sang kepala sekolah. Karenanya itulah dia benar-benar menjadi anak yang dikenal baik dan kreatif serta berani. Kesadaran bahwa dirinya merupakan anak yang baik sudah dipupuk sejak awal.

Juga, kalimat sugesti positif yang ditanamkan pada Akira Takahashi yang menderita penyakit kompleks, dimana tubuhnya tak lagi bisa bertumbuh. Saat itu pak Kobayashi berkali-kali meyakinkannya bahwa dia pasti bisa mengikuti lomba olahraga tersebut. Dan dari kalimat itulah yang membuat Akira bertambah kepercayaan-dirinya, sehingga dia berhasil memenangkan perlombaan olahraga itu meski memiliki keterbatasan.

Tidak hanya itu, ketika dewasa, saat Tetsuko menemuinya, kini Akira sudah menjadi seorang pegawai yang bekerja menjadi Manajer Personalia di perusahaan elektronik yang cukup besar! Akira sendiri mengatakan, kalau bukan karena kepercayaan yang ditanamkan padanya oleh Kobayashi, mungkin dia tidak akan pernah berani melamar pekerjaan apalagi menikah.



Sistem Belajar Di Tomoe Gakuen



Pada bab penutup, Tetsuko menyematkan fakta bahwa ada beberapa orang yang ternyata tertarik ingin membuat penelitian terkait sistem belajar di sekolah tersebut. Sekolah yang hancur saat perang dunia meletus. Yang anak-anak muridnya tumbuh menjadi orang-orang sukses, saya akan menceritakan nanti satu anak yang menjadi ilmuwan hebat.

Fakta bahwa sistem belajar di Tomoe Gakuen ini unik, memang menjadi banyak perbincangan setelah buku ini terbit. Apalagi dulu, saat penerapan belajar yang masih umum, sistem belajar di Tomoe Gakuen ini terbilang berbeda dan bahkan harus disembunyikan keberadaannya oleh Kobayashi agar tidak menarik perdebatan.

Melalui cerita Toto-Chan, diketahui bahwa ruang kelas sekolah mereka ini menggunakan gerbong kereta yang didesain agar mirip seperti aslinya dengan modifikasi penambahan kursi dan bangku pada setiap kelasnya. Ada banyak gerbong di sekolah ini, yang memang digunakan untuk ruang kelas juga perpustakaan.

Setiap hari, anak-anak akan diberikan informasi pelajaran apa saja yang akan diajarkan pada hari itu. Kemudian setiap anak dibebaskan memilih ingin belajar apa dulu, dimana setiap anak memiliki pilihan yang berbeda. Namun, mereka melaksanakan kewajiban belajar mereka tanpa terbebani, justru semangat dalam prosesnya.

Guru di dalam kelas sebagai media yang dibutuhkan, jika beberapa anak ada yang kurang jelas dengan satu pelajaran, mereka harus berani maju untuk bertanya, kemudian akan langsung dijelaskan. Demikian proses belajar, hingga tengah hari tiba. Setelah makan siang, barulah mata pelajaran yang mereka dapat ini berbeda, yaitu belajar tentang alam dan pengetahuan apa saja yang mereka lihat di sekitar.

Seperti terkadang mereka akan mengunjungi sebuah kuil untuk belajar tentang sejarah. Kemudian berkunjung ke sebuah ladang untuk belajar menanam. Atau jalan-jalan ke dekat danau untuk belajar apa saja mengenai lingkungan dan ekosistem. Di sinilah, anak-anak menjadi semakin bertambah pengetahuannya melalui gaya belajar yang berbeda.

Jika waktu itu sistem belajar di Tomoe Gakuen dipandang unik dan berbeda, sekarang pola belajar ala Finlandia juga menjadi sorot perhatian. Yang menjadi keunikan itu sebenarnya adalah penerapan sistem belajar yang tidak memberatkan murid tapi justru bisa mendatangkan kesenangan tersendiri pada proses belajar-mengajarnya. Dan inilah yang menjadi sorotan bagi saya juga, bagaimana membangun proses belajar-mengajar yang bermanfaat namun tidak memberatkan.




Apa Saja Yang Diterapkan Oleh Sosaku Kobayashi Di Sekolah Tomoe Gakuen




1. Beliau sangat menghargai setiap perbedaan, untuk itulah dirinya menggabungkan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dengan anak yang biasa dalam satu kelas. Dengan demikian mereka belajar juga menerima perbedaan yang ada di sekolah mereka. Sehingga mereka tidak lagi merasa asing dengan keberadaan orang-orang yang tampak berebeda dengan mereka.


2. Sesuatu Dari Laut Dan Sesuatu Dari Gunung, adalah kalimat ajakan agar anak-anak mau makan apa saja yang dimasak dari rumah sambil belajar mengetahui sumber makanan yang bisa didapat dari kedua tempat tersebut. Makanan tersebut juga ajakan agar anak-anak mau memakan makanan yang sehat terutama sayur. Apalagi, dari hal ini jugalah, Kobayashi mengajarkan anak-anak agar bersyukur melalui lagu yang dinyanyikan sebelum makan.


3. Setiap anak yang mengadu pada Kobayashi akibat ulah anak lainnya akan diajak menyelesaikan masalah bersama. Seperti ketika rambut Toto-Chan dijadikan bualan anak lelaki sampai dia menangis, kemudian pak Kobayashi menasihati anak tersebut dengan menyampaikan bahwa "Anak laki-laki harus bersikap sopan kepada anak-anak perempuan dan menjaga mereka." (Hal 159).

4. Saat makan siang, Kobayashi akan meminta satu anak untuk bercerita di depan aula. Setiap anak akan mendapatkan gilirannya. Tidak terkecuali dengan anak yang sangat pemalu. Saat itu dia hanya diam saja di kelas, namun dengan bantuan pak Kobayashi si anak tersebut akhirnya mampu berbicara di depan umum, dimana ini adalah hal yang membuatnya bangga.

5. Kobayashi juga menerapkan kebebasan berpendapat, dirinya mampu mendengarkan anak-anak seperti Toto-Chan yang selalu berusaha mempertahankan pendapat mereka. Beliau akan mendegarkan kemudian berusaha mencari jalan keluar yang terbaik. Bahkan dengan kalimat yang disampaikannya dengan sangat santun. Seperti pada halaman 197, dimana dengan cara yang sangat baik Kobayashi mampu membuat Toto-Chan mengambil keputusan.

6. Sebagai Kepala Sekolah, dirinya juga tidak berhenti mengamati bagaimana para pendidik mengajar di kelas. Ada satu peristiwa pada Bab Ekor yang mengisahkan betapa marahnya Pak Kobayashi pada salah satu guru karena dianggap membuat salah seorang muridnya yang memiliki kekurangan secara fisik, menjadi tidak nyaman. Ini menunjukkan sebagai Kepala Sekolah dia juga peduli dengan perkembangan dan kenyamanan anak-anak selama di sekolah. Bukan hanya sekadar menjadi pemimpin tanpa mengetahui dengan pasti apa yang terjadi selama proses belajar-mengajar.



***

Membaca buku ini, membuat mata saya beberapa kali berkaca-kaca. Bukan saja ketika Toto-Chan harus menghadiri pemakaman salah seorang temannya. Tapi, juga saat membayangkan betapa bahagianya Toto-Chan dan teman-temannya memiliki pendidik yang mampu membuat mereka selalu terkenang dengan banyak hal yang baik saat itu.

Salah satu murid yang saya menjadi seorang ahli fisika dari Jepang yang tinggal di Amerika adalah Taiji Yamanouchi. Saat saya mencari profilenya di google, saya terkesiap karena memang beliau adalah sosok yang ahli fisika yang sangat berbakat. Dirinya berhasil meraih gelar master dan berangkat ke Amerika dengan beasiswa dari Fulbright dan meraih gelar doktornya di University of Rochester. Dia juga bekerja di laboratorium yang mempekerjakan 145 ahli fisika dan 1400 staf.

Keberhasilan dan kesuksesan anak-anak ini juga memiliki pengaruh dari sosok Kobayashi. Anda akan mengetahui dengan membaca buku ini, bagaimana cara beliau bersikap untuk memastikan bahwa anak-anak itu memiliki bakat yang tidak akan terlihat jika mereka tidak berusaha. Namun, dengan cara yang bisa diterima oleh mereka tanpa paksaan. [Ipeh Alena]


02 November 2017

Kappa : Sebuah Cerminan Masyarakat Modern Di Jepang



Kappa Ryunosuke Akutagawa



Kappa yang ternyata merupakan sosok youkai ini baru saya sadari pernah saya lihat beberapa kali dalam tayangan anime. Namun, saya benar-benar mengerti namanya setelah membaca novel karya Ryunosuke Akutagawa yang berjudul sama, Kappa. Sebuah novel yang konon merefleksikan kehidupan masyarakat modern di Jepang. Sebuah karya satir tentang kehidupan yang sudah semakin aneh dari sudut pandang Akutagawa.

Membaca Kappa membuat dahi saya mengernyit, novel yang tipis, hanya berisi sekitar 80-an halaman saja, sukses membuat saya harus mengulang-ngulang kalimat yang saya baca. Itulah kenapa saya harus terus menjaga ingatan terkait perkataan, pikiran dan dialog apa yang sudah terjadi di bab-bab sebelumnya. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan menemukan 'sesuatu' yang berguna.

Dibanding dengan buku terdahulunya yang berjudul "Lukisan Neraka", dimana ceritanya yang kelam dan berunsur magis menjadi daya tarik tersendiri. Tapi, bukan berarti Kappa ini tidak menarik, hanya saja cerita yang dikemasnya ini berbeda, berisi pengalaman seorang pasien di rumah sakit di sebuah desa. Narasi yang dibawakan oleh sang pasien ketika mengalami kehidupan di dunia Kappa menjadi semakin aneh karena kehidupan para Kappa ini sedikit berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat Jepang.

Seolah dunia Kappa memiliki sistem pemerintahan dan kehidupan sendiri hingga filosofi mereka yang ternyata sangat memuja kehidupan. Sosok youkai ini mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat mereka berpijak. Seolah mereka memiliki sistem tubuh yang hampir sama dengan bunglon, sehingga banyak orang yang setelah melihat sosok Kappa kemudian seperti menghilang begitu saja. Dengan kemampuan ini juga mereka mampu bersembunyi dengan baik tanpa bisa tertangkap apalagi disimpan dalam museum.

Sejujurnya, saya bingung ingin menulis apa tentang buku ini. Terlebih pemahaman saya sangat sedikit, saya hanya mampu mengaitkan sedikit saja hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar. Apalagi menulis kritikan, saran atau semacam menyematkan ilmu yang berhubungan dengan novel ini. Di luar dari jangkauan saya. Jadi, sepertinya saya hanya menceritakan isi dari buku ini, kemudian sedikit memberikan pendapat, setelah itu mungkin saya akan kembali membolak-balik lembaran novel ini sekali lagi untuk memastikan bahwa saya tidak salah langkah.


Kartu Tanda Baca

Judul : Kappa || Penulis : Ryunosuke Akutagawa || Halaman : 83 || Cetakan Pertama, Juni 2016 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia || Rating 5/5 || ISBN : 9786024240950



Bagaimana Kappa Memiliki Keturunan Dan Berkeluarga


Ini bagian aneh tapi nyata menurut saya, bagaimana seekora Kappa lahir ke dunia. Dalam kehidupan Kappa, anak-anak yang akan lahir ke dunia akan mereka minta persetujuan terlebih dahulu sebelum mereka lahir. Itu pun jika sudah cukup umur berada dalam kandungan Kappa betina. Sang ayah-lah yang nantinya akan bertanya, disaksikan seekor Kappa dokter, apakah dia mau menjadi anak mereka dan lahir ke dunia?

Jika menolak? Maka sang dokter akan dengan sigap menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Kappa betina, seketika itu juga calon Kappa menghilang tanpa jejak. Seolah tidak pernah ada di dalam perut Kappa betina. Seperti sulap, cara menghilangkan anak dalam kandungan. Atau seperti terkena guna-guna, ketika calon bayi di dalam rahim menghilang dengan tiba-tiba.

Menurut mereka, ini sebagai langkah yang adil bagi kehidupan Kappa. Seketika saya teringat dengan pemikiran banyak orang yang sering menanyakan, "Mengapa saya terlahir ke dunia?". Saya justru melihat secara luas, banyak orang - katakan saja sebagian manusia yang ada di dunia ini - pernah mempertanyakan hal ini dalam kehidupannya.

Karena, bahkan lagu favorit saya yang dinyanyikan oleh Dewa 19 berjudul Kirana, di situ jelas tertulis lirik "Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa, mengapa kau tiupkan napasku ke dunia?". Dari kisah kelahiran Kappa ini juga, beberapa sumber menyatakan karya ini juga sebuah refleksi kondisi kesehatan mental Akutagawa.



"Beberapa di antara anak laki-laki dari keluargamu, jatuh cinta dengan babu-babu mereka, sejumlah anak perempuan kawin dengan supir mereka." ~ Hal 18


Jelas, ini memang sebuah sindiran perubahan level sosial akibat dari pernikahan antar keluarga dari tingkat sosial berbeda. Dimana biasanya dalam kehidupan masyarakat Jepang yang saya tahu dari karya-karya sastra mereka, anak-anak perempuan akan tetap menikah dengan yang sederajat dengan mereka. Seperti kehidupan Oda Nobunaga yang mempersunting istri dari keluarga samurai demi menjalin perdamaian antar klan.

Meski, tidak bisa dipungkiri, perempuan simpanan mereka dipilih dari banyak lapisan sosial. Hanya istri sah mereka yang utama saja yang diwajibkan memiliki garis keturunan yang sederajat. Ini berlaku bagi lelaki. Berbeda dengan perempuan yang justru tidak memiliki pilihan karena jodoh mereka ditentukan oleh sang Ayah. Mereka hanya boleh mengikuti peraturan yang ada, tanpa bisa menolak apalagi meminta menikah dengan lelaki yang mereka sukai (terutama kalau tidak sederajat).



Di dunia Kappa, bahkan keputusan hubungan pernikahan atau kencan diputuskan dari seekor Kappa Betina. Merekalah yang memang ditakdirkan untuk mengejar para Kappa jantan. Dalam hal ini, benar-benar dikejar, meski terkadang Kappa betina juga menggoda Kappa jantan agar mengejar mereka namun dengan rangsangan-rangsangan yang membuat Kappa jantan tak mampu menolak.

"Adalah wajar bahwa kau tidak tahu bagaimana perasaan kami karena kau bukan Kappa. Tetapi sekali-sekali aku ingin Kappa-kappa betina yang konyol itu mengejar-ngejarku." ~ Hal 26

Dalam pernyataan sang filsuf bernama Mag, saya seketika mengaitkan satu hal dari novel 3 Cinta 1 Pria yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Kisah seorang seniman yang digemari banyak perempuan. Mungkin saya berlebihan menganggap kondisi ini sama seperti kehidupan Kappa, dimana para perempuan ini mati-matian mengejar sosok lelaki.

Walaupun sebenarnya saya pun sudah mendapati beberapa kasus yang sama seperti para Kappa ini, dimana perempuan-perempuan banyak yang dengan bersungguh-sungguh mengejar lelaki. Pun saya akan mengatakan wajar ketika Akutagawa menyindir kondisi demikian melalui kehidupan Kappa, atau justru setuju dengan kehidupan para Kappa ini? Karena pada mulanya budaya yang masih berakar yaitu lelaki-lah yang harus mengejar perempuan. Sehingga perumpamaan dalam kehidupan Kappa ini dipandang sebagai cerminan kehidupan modern.


Source : Google Image



Kappa Juga Memiliki Pabrik Buku Dan Agama


Di halaman 32, diceritakan dengan jelas bagaimana produksi buku-buku di negeri Kappa yang sangat banyak dan pembuatannya pun tidak perlu menunggu waktu yang lama dan panjang. Karena cukup membubuhkan bubuk ajaib yang bisa memproduksi sendiri kata-kata yang ada di dalamnya. Kali ini otak keledai-lah yang menjadi perumpamaan akan kualitas buku-buku yang diproduksi secara massal itu.

Seperti contoh salah satu buku yang diterbitkan berjudul Kata-kata si Tolol yang ditulis oleh Filsuf Mag. Saya hanya mampu mengutip kalimat-kalimat dari isi buku tersebut, tanpa mampu berkata apalagi berpendapat apa-apa. Terdapat pada bab XI di halaman 48 - 50.

"Menurut yang tolol semua adalah tolol, kecuali dia sendiri."

"Apa yang paling ingin kita banggakan ialah yang tidak ada pada kita."

"Biasanya apa yang khas tentang diri kita terdapat di luar kesadaran kita."

"Membela diri sendiri lebih sulit daripada membela orang lain. Bagi yang ragu-ragu tentang hal ini, biar ia melihat bagaimana mudahnya pengacara membela perkara pihak lain."

"Mengurangi kebutuhan kebendaan tidak selalu membawa ketentraman pikiran. Agar dapat hidup dengan tenteram, keinginan-keinginan kebatinan perlu dikurangi."


Pada kutipan terakhir, ingatan saya membawa saya kembali pada beberapa tahun silam, sebuah berita tentang seorang lelaki yang sanggup hidup hanya dengan beberapa helai pakaian, rumahnya kosong melompong tidak banyak dipenuhi perabotan. Hanya beberapa barang dan perkakas yang memang sangat dibutuhkan seperti tatami, satu meja, satu kursi, bahkan piring dan gelasnya pun terbatas.

Menurut pengakuan sang lelaki berambut gondrong tersebut, dirinya tengah mempraktekkan gaya hidup ajaran Zen. Dimana ini merupakan ajaran yang pernah dibawa oleh Buddha, tentang kesederhanaan dalam hidup yang akan membawa manusia pada kebahagiaan. Sejalan dengan kutipan yang tulis oleh si filsuf Mag.

Saya juga menemukan beberapa bagian dari ajaran Zen dari kehidupan para Kappa ini. Dimana dalam Zen, pertanyaan akan jawaban dalam kehidupan itu bukan sesuatu yang penting, bukan pula bagaimana hubungan dengan Tuhan apalagi tentang kematian. Tapi, sesuatu yang dijalani hari ini, saat ini, itulah bagian terpenting dari ajaran Zen.

"Sudilah diingat bahwa agama kami memuja hidup. Hayatilah hidup dengan sepenuhnya. Itulah ajaran yang diberikan dewa kami. Pohon kehidupan." ~ Hal 65 


Tapi pada halaman 66, kita akan dihadapi kenyataan bahwa seorang pendeta penganut ajaran Memuja Kehidupan pun tidak memiliki ke-optimis-an terhadap apa yang dia ketahui. Dirinya justru tak mempercayai dewa dan eksistensinya. Kembali lagi saya menarik ingatan pada isi pidato Yasunari Kawabata yang disematkan dalam buku berjudul Daun-daun Bambu.

Sahabatnya, pendeta Ikkyu telah dua kali melakukan kontemplasi bunuh diri. Meski beliau merupakan orang yang paling menyenangkan bagi anak-anak kecil. Kenyataan bahwa Ikkyu adalah Pendeta Zen yang paling keras dan penuh renungan, serta merupakan putra Sang Kaisar yang memasuki kuil pada usia enam tahun. Namun, saat itu pula ia bermasalah dengan keraguan terdalam tentang agama dan kehidupan (11). ~ Daun-daun Bambu - Yasunari Kawabata


Saya menggaris bawahi kondisi yang sama dengan pendeta kappa dengan pendeta Ikkyu yang memiliki keraguan akan agama dan kehidupan. Dimana kasus bunuh diri terjadi juga pada seniman kappa bernama Tock. Dia merupakan teman dekat narator, sebelum kematiannya dia menuliskan sebuah sajak, terkait perenungan dalam kehidupannya.

Sejenak pernyataan Mag kemudian bergelayut ketika dia mengatakan di halaman 59, "Betapapun, kalau kami kappa ingin hidup bahagia, kami harus... Menurut hematku, kami harus percaya akan sesuatu yang lebih besar dari kappa." Menurut ajaran Zen, kepercayaan itu seperti lukisan yang kita pajang di dinding. Kemudian berusaha meyakini bahwa itu adalah lukisan yang indah. Dan ketika menyadari bahwa keyakinan itu sepenuhnya hadir, kesan itu sepenuhnya terasa nikmat. Jadi, tidak ada paksaan akan apa yang harus dipercaya, menjalani kehidupan tanpa bertanya itu merupakan kebahagiaan yang sejati.

Namun, Mag sendiri, berusaha untuk mencari tahu seperti apa rasanya bergantung pada - sesuatu yang lebih besar dari kappa, itu sendiri. Sesuatu yang bahkan memunculkan keraguan, sesuatu yang mereka percaya sebagai dewa dari Pohon Kehidupan, namun sejatinya masih banyak yang masih belum memahami apakah ini diperlukan atau tidak dalam menjalani kehidupan para Kappa.

Yang kemudian menjadi pertanyaan mengganjal dalam diri saya adalah apakah ini yang menjadi salah satu alasan, dari banyaknya alasan, sebagian orang di Jepang memilih untuk bunuh diri? Menurut Emile Durkheim, Bunuh diri adalah fakta sosial, yaitu produk dari tujuan, harapan dan pengaturan sosial yang berkembang dari hasil interaksi seseorang dengan yang lainnya.

Artinya lingkungan juga berpengaruh terhadap alasan-alasan yang membuat seseorang komitmen untuk bunuh diri. Namun, alasan-alasan yang hanya sedikit ini tanpa analisa lebih lanjut tidak bisa dijadikan patokan apalagi tolak ukur sebagai penyebab terjadinya bunuh diri massal yang dilakukan oleh sebagian orang Jepang. Saya pribadi akhirnya hanya bisa terdiam dan menyimpan alasan-alasan ini, meski tidak bisa memastikan dengan yakin apa penyebab dari fenomena itu semua.

***

Tentunya ini juga sebagai cerminan kehidupan Akutagawa yang saat menulis novel ini sudah mengalami masa-masa alienasi yang penuh dengan ketakutan. Semua pertanyaan dalam kehidupannya diwakili melalui dialog-dialog para tokohnya dalam buku ini. Pertanyaan akan kehidupan merupakan hal yang menonjol dalam cerita ini. Apalagi, karya Kappa termasuk dalam karya-karya terakhir sebelum dirinya kemudian bunuh diri.

Anda mungkin bisa mencari tahu terkait kehidupan Akutagawa ini, namun memang banyak sumber sudah menuliskan. Bahwasannya Ibunya mewarisi mental disorder pada Akutagawa, sehingga kehidupannya penuh dengan perjuangan melawan halusinasi dan ketakutan hingga kemudian memutuskan untuk bunuh diri. Namun, perjuangannya inilah serta karya-karyanya yang luar biasa, yang menjadi alasan nama Akutagawa menjadi nama salah satu penghargaan dalam bidang literasi.


***

Beberapa teman saya berpendapat, bahwa karya ini sulit dicerna olehnya. Bagi kalian yang berminat untuk membaca dan mencari tahu kehidupan dunia Kappa dari buku ini, saya sarankan untuk membacanya kata demi kata. Jangan memaksakan otak kalian untuk langsung mengerti dan memahami. Teruslah membacanya meski dahi kalian berkerut, atau otak kalian menjerit karena tidak dapat mencernanya.

Bahkan ketika harus kembali mengulang lembar demi lembar yang sudah dilewati demi bisa mengambil garis lurus tentang apa sebenarnya novel ini, berbanggalah. Karena dengan begitu kalian mengalami perputaran waktu yang akan membawamu terus menggali lagi dan lagi kehidupan para Kappa ini. Jangan khawatir, karena sebenarnya kita hanya perlu membacanya tanpa berkespektasi apa-apa. Cukup membacanya saja, kisah kehidupan para Kappa.



Selamat Membaca,


Salam Literasi

31 October 2017

Dear Kitty Sebuah Kenangan Dari Anne Frank Dan Jejak Sejarah Yang Tak Terlupakan



Dear Kitty Anne Frank



Saya akan menuliskan ulang kata pengantar yang ditulis oleh penerbit Atria dari buku Dear Kitty karya Anne Frank ini. Buku catatan harian ini pertama kali diterbitkan pada 1947 di Belanda oleh penerbit Contact, Amsterdam, dengan judul Het Achterhuis.

Het Achterhuis, judul bahasa Belanda buku ini, mengacu ke bagian gedung yang dipakai sebagai tempat persembunyian kedua keluarga yang menghuninya antara tahun 1942 hingga 1944. Achter berarti "di belakang" atau "di bagian belakang dari" dan huis bermakna "rumah". Di bangunan-bangunan tua di Amsterdam, ruangan yang menghadap taman atau pekarangan mungkin terpisah dari ruangan yang menghadap jalan. Oleh karena itu, ada dua ruangan yang terpisah di dalam tempat tinggal yang sama. Het Achterhuis atau "rumah di belakang" terletak di atas Prinsengracht, salah satu kanal kota.

Anne menulis catatan hariannya sejak 12 Juni 1942 hingga 1 Agustus 1944. Saya akan sedikit bercerita tentang buku ini, sebuah memoar yang tentunya sudah banyak dibahas dan dijadikan penelitian di beragam bidang. Karena buku ini merupakan bukti nyata genosida besar-besaran yang pernah terjadi.


Kartu Tanda Buku

Judul : Dear Kitty || Penulis : Anne Frank || Halaman : 411 || Cetakan I : Mei 2013 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Penerbit Atria || Rating : 5/5 || ISBN : 9789790243989



Kertas Lebih Sabar Daripada Orang ~ Anne Frank (Hal 9)



The Diary of Anne Frank


Buku harian yang dimulai pada tanggal 12 Juni 1942 hari Jumat hanya berisi beberapa kalimat. Dimana di sini dibuktikan bahwa pada mulanya, Anne ingin menjadikan buku catatan hariannya ini sebagai tempat untuk mencurahkan segala macam hal yang meresahkannya. Semacam tempat yang menjadi sumber penghiburan dimana dia bisa berbagi cerita.

Masuk ke lembar berikutnya tanggal 20 Juni 1942 hari Sabtu, Anne menuliskan terkait kisahnya yang harus pindah ke Belanda pada tahun 1933 karena mereka keluarga Yahudi. Dirinya mengisahkan bahwa keluarganya banyak yang terkena dampak penuh peraturan anti-Yahudi yang dijalankan oleh Hitler. Hingga kemudian pada tahun 1938 setelah terjadi serangan biadab terhadap kaum Yahudi, kedua pamannya kabur ke Amerika Serikat.

Lambat laun setelah Mei 1940, dampak anti-Yahudi tersebut menyebar bukan hanya di wilayah Jerman. Tapi, di seluruh tempat yang menjadi pilihan untuk berlindung diri para orang Yahudi, hingga kemudian mereka diwajibkan mengenakan bintang kuning. Pemerintahan Jerman di Belanda juga memerintahkan semua orang Yahudi mengenakan bintang kuning bersudut enam di pakaian mereka yang harus terlihat jelas sebagai pembeda dengan warga lainnya.

Dampak ini meluas, tidak hanya mereka diharuskan mengenakan bintang kuning, tapi anak-anak Yahudi hanya dibolehkan bersekolah di sekolah khusus orang Yahudi. Kemudian hanya boleh belanja di toko-toko tertentu khusus orang Yahudi. Hingga dikenakan peraturan jam malam bagi orang Yahudi. Siapa yang nekat akan terkena akibatnya. Inilah awal dari pembatasan ruang gerak kaum Yahudi di beberapa tempat.

Bukan salah orang Belanda kami begitu menderita, kata ini tertulis pada halaman 17, yang menjadikan saya berpikir bahwa di usianya, Anne sudah mampu melihat permasalahan dengan sangat jelas. Alih-alih menyalahkan semua orang yang berada di sekitarnya dan yang memperlakukan dirinya serta keluarganya sedemikian rupa, dirinya justru bisa memberikan sudut pandang yang lebih positif terhadap gerakan anti-Yahudi ini.

Bukan hanya ruang gerak yang dibatasi, tapi kepemilikan juga mulai dibatasi. Dimana orang Yahudi dilarang memiliki sepeda. Sementara itu mereka juga hanya diizinkan naik feri dan hanya satu feri yang dibolehkan. Bahkan untuk pergi ke dokter, mereka juga tidak boleh sembarangan meminta pertolongan terhadap penyakit pada sembarangan dokter. Karena hanya tersedia di beberapa tempat saja yang khusus untuk orang Yahudi.

Sekitar bulan Juli 1942, Anne menuliskan kondisi sang Ayah yang sudah mulai banyak menghabiskan waktu di rumah. Kawan baiknyalah yang mengambil alih posisinya. Ini berkaitan dengan semakin gencarnya gerakan anti-Yahudi dimana banyak dari mereka yang harus masuk ke kamp pengasingan atau diasapi. Beberapa kali sang Ayah juga berbicara pada Anne membahas terkait persembunyian.

Jangan mengkhawatirkannya, kita akan mengatur semuanya. Manfaatkanlah kehidupan masa mudamu yang bebas selagi masih bisa. ~ Otto Frank (Hal 23)



Masih di bulan dan tahun yang sama, Anne menuliskan tentang kondisi yang menegangkan dimana mereka diminta untuk masuk ke kamar sementara kedua orangtua mereka tengah berbicara dengan Van Daan terkait persembunyian. Tidak lama kemudian, semua terjadi begitu cepat, Anne diminta untuk memasukkan barang-barang yang paling penting ke dalam kopernya. Kemudian keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka diharuskan untuk keluar dari rumah menuju tempat persembunyian mereka.

Kepergian Anne Frank dan keluarganya lebih cepat dari perkiraan, merupakan keputusan yang tepat. Beberapa orang mengatakan ada orang pemerintah yang mengunjungi rumah mereka, apalagi surat khusus tersebut merupakan sebuah peringatan. Karena perencanaan yang baik dan bagus, serta kerjasama dengan sahabat baiknya Otto Frank, akhirnya keluarga mereka memiliki cukup barang yang bisa digunakan selama mereka bersembunyi.

Bahkan di kamar milik Anne, Otto menempelkan koleksi gambar miliknya agar tempat tersebut memiliki kesan lebih hidup. Di buku hariannya ini Anne pun menuliskannya pada halaman 35, Tidak bisa kuceritakan kepadamu betapa beratnya tidak pernah bisa keluar, di samping itu aku juga sangat takut kami ketahuan dan ditembak. Prospek itu sama sekali tidak menyenangkan. Kami harus berbisik dan berjalan dengan sangat pelan sepanjang hari, kalau tidak orang di gudang mungkin akan mendengar kami.


Saya akan mempercepat ke beberapa lembar berikutnya yaitu pada hari Jumat, 9 Oktober 1942. Anne menceritakan bahwa banyak teman-temannya sesama Yahudi telah ditangkap. Oleh Gestapo, mereka diperlakukan secara tidak manusiawi, diangkut dengan truk ternak, dikirim ke Westerbork, kamp besar Yahudi di Drente. Dimana hanya terdapat satu bilik untuk seratus orang dan jumlah kakus yang tidak memadai. Antara tempat tidur lelaki, perempuan dan anak-anak tidak dipisah. Bahkan gadis-gadis yang tinggal di sana selama beberapa waktu mulai mengandung. Dimana sangat mustahil untuk melarikan diri.


Beringsut maju ke halaman berikutnya pada hari Rabu tanggal 13 Januari 1943, Anne menceritakan kondisi di sekitarnya yang dapat dia intip dari balik jendela yang harus selalu tertutup tirainya agar tidak tampak terlihat dari luar. Banyak orang yang mulai diseret pergi tanpa membawa apa-apa. Keluarga mereka tercerai-berai, beberapa anak ada yang pulang dan mendapati kedua orangtua mereka tak ada lagi dirumah.

Orang Belanda juga sama gelisahnya, putra-putra mereka dikirim ke Jerman. Semua orang didera ketakutan yang mencekam. Setiap malamnya ratusan pesawat terbang di atas Belanda dan pergi ke kota-kota di Jerman. Banyak orang terbunuh, terlantar di jalan terkena bom. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka, selain menunggu hingga perang usai.


***


Kekayaan bisa hilang, tapi kebahagiaan di dalam hatimu bisa tertutupi cadar dan masih bisa memberikan kebahagiaan selama kau hidup. Selama kau bisa menatap langit tanpa rasa takut, selama kau tahu bahwa jiwamu murni, kau akan selalu bisa menemukan kebahagiaan. ~ Anne Frank (Hal 227)



Dalam buku hariannya ini, tampak jelas bahwa Anne selalu berusaha untuk memiliki harapan, bahwa ketika Perang Usai, keluarganya akan baik-baik saja dan dia akan segera melihat dunia dengan tampilan yang berbeda. Selain itu, dia memiliki mimpi-mimpi untuk berkumpul kembali dengan teman-temannya. Anne juga sosok gadis yang kritis, dia memiliki pemikiran yang berbeda jika dibandingkan dengan anak seusianya pada masa saat ini.

Kebiasaan yang membuat saya berdecak kagum adalah dirinya sudah terbiasa membaca buku yang tebalnya minta ampun sejak masih gadis. Entah itu membaca buku-bukunya Goethe atau buku-buku lain yang termasuk dalam karya sastra klasik. Selain itu, meski dalam pengasingan, Anne tetap belajar baik matematika maupun belajar bahasa dan juga Steno.

Setiap hasil belajarnya dinilai oleh seorang guru yang hanya tahu bahwa itu adalah hasil kerja dari orang lain. Mereka harus bersembunyi di balik bayang orang lain demi keselamatan mereka. Tapi, jangan ditanya, karena kemampuan Anne pada bahasa dan Steno sangat baik, kecuali matematika, dirinya mengatakan tidak menyukai matematika.

***

Meski hanya dua tahun, buku harian ini berisi banyak hal. Mulai dari keseharian keluarga Frank dan Van Daan. Sampai bagaimana pertengkaran antara Ibu-Anak dan Kakak-Adik sering terjadi. Anne sendiri, memang dikenal sebagai gadis yang cerewet, meski sebenarnya dia tak hanya sekadar cerewet tapi juga kritis. Dia sering menyampaikan pemikiran-pemikirannya yang kritis namun justru membuat banyak orang dewasa memberikannya label sebagai Anak Tak Tahu Diri dan Anak Nakal.

Banyak sekali curahan hatinya terkait rasa sakit dan sedihnya ketika bertengkar dengan sang Ibu. Selain itu, juga berisi perkembangannya dari gadis kecil kemudian beranjak dewasa. Mulai dari kesiapannya menghadapi menstruasi sampai bercerita ciuman pertamanya.

Dalam buku hariannya juga, kita sebagai pembaca bisa mengetahui, pada masanya terdapat buku-buku yang dilarang untuk dibaca sebelum para gadis memasuki usia tertentu. Bahkan ada juga beberapa buku yang tidak mengizinkan anak lelaki membacanya. Karena berisi cerita terkait sistem organ manusia sampai kisah romansa, yang membuat banyak orangtua khawatir anak mereka akan dewasa sebelum waktunya.

Alih-alih Anne menjadi anak yang terlalu cepat dewasa dan membuat orangtuanya kecewa. Justru karena telah membaca karya tersebut di usianya yang belum mencapai 17 tahun, dirinya sudah siap secara mental tentang apa yang akan dihadapinya nanti. Bahkan dia selalu menyelami pemikirannya sambil berbagi dalam buku hariannya yang dipanggil Kitty ini.

Perubahan demi perubahan beranjak gadis tampak jelas dalam tulisan Anne. Beberapa peneliti mengatakan adanya perubahan bentuk tulisan saat Anne masih gadis kecil dengan Anne yang beranjak remaja. Namun, tidak hanya itu, tapi isi dalam buku hariannya juga sejalan perkembangannya sebagai perempuan. Seperti yang saya kutip dari halaman 184, Walaupun aku tidak mudah tersipu-sipu, hal-hal lain dalam tulisan itu cocok sekali untukku. Secara garis besar, tulisannya seperti ini - seorang gadis pada masa puber berubah menjadi pendiam di dalam hati dan mulai memikirkan tentang keajaiban yang terjadi di dalam tubuhnya. Kurasa yang terjadi padaku ini luar biasa, dan bukan hanya dari apa yang tampak pada tubuhku, tapi semuanya terjadi di dalam.


***


Di tahun 1944, buku harian Anne berisi lebih banyak lagi berita tentang politik yang didapat dari mendengar radio bersama para 'sesepuh'. Selain itu, memang cerita tentangnya dan Peter masih beberapa kali mewarnai kisah hidupnya. Namun, tulisannya sekarang lebih panjang dan rinci, sehingga pembaca bisa mendapatkan detil yang bisa memberikan gambaran terkait masa mencekam saat itu.

Beberapa kali kehidupan mereka terasa menegangkan akibat baku tembak yang terjadi di sekitar tempat tinggal mereka. Atau ketika momen-momen menakutkan saat terdengar suara dobrakan dari bawah. Mereka sempat berpikir kalau itu adalah tentara yang akan menyeret mereka keluar dari persembunyian.

Namun, dari itu semua, isi buku harian yang membuat Anne memiliki keinginan untuk menerbitkan buku hariannya terdapat pada halaman 272 di hari Rabu tanggal 29 Maret 1944. Bertuliskan, Bolkstein, seorang Anggota parlemen, sedang berbicara di Dutch News di London dan katanya mereka harus mengumpulkan buku harian dan surat-surat setelah perang. Tentu saja, mereka semua langsung teringat buku harianku. Bayangkan, betapa menariknya kalau aku menerbitkan kisah asmara di "Het Achterhuis". Judulnya saja sudah cukup buruk membuat orang-orang menyangka itu kisah detektif.


Pada bulan April 1944, kalian akan memasuki bagian yang menegangkan lainnya. Anne menceritakannya dengan sangat detail hingga tanpa terasa saya membacanya dengan kondisi ikut berdebar. Betapa keadaan saat itu sangat menakutkan sekaligus menegangkan yang memang terbukti bisa membuat perut meliuk-liuk dan perasaan mulas datang. Namun, hipotesa dari Anne berdasarkan laporan bahwa itu merupakan kelompok pencuri.


***

Pada Agustus 1944, buku harian Anne Frank berakhir. Pada pagi hari 4 Agustus 1944, setelah bersembunyi selama 25 bulan, berdasarkan informasi yang diberikan oleh informan Belanda, Gestapo menggerebek tempat persembunyian keluarga Frank di Prinsengracht 263. Mereka antara lain seorang sersan SS berseragam lengkap dan tak kurang dari tiga orang polisi Belanda yang bersenjata, tapi berpakaian sipil.

Keluarga Frank dan Van Daan serta Pak Dussel dikirim ke kamp di Westerbork. Pada Oktober 1944, Anne, Margot dan Bu Van Daan termasuk ke dalam sekelompok perempuan paling muda dan kuat yang dipilih untuk dipindahkan ke kamp Bergen-Belsen di dekat Hannover, Jerman. Bu Frank di tinggal sendirian, tidak mau makan dan meninggal di barak rumah sakit Auschwitz pada 6 Januari 1945.

Otto Frank sendiri yang terpisah dari keluarganya bersama Van Daan dan Peter, tinggal di kamp khusus laki-laki. Dia melihat Pak VanDaan di bawa ke kamar gas. Sementara Peter dibawa pada 16 Januari 1945 saat musim dingin untuk melakukan "perjalanan maut" ke barat. Pemuda itu meninggal dunia pada 5 Mei 1945. Bagi yang ingin tahu siapa sosok Peter, dia merupakan anggota keluarga yang bersembunyi bersama keluarga Frank.

Pada akhir bulan Februari atau awal Maret 1945, Anne sudah sakit saat itu, berdasarkan pernyataan seorang penyintas. Namun Margot lebih dahulu meninggal dunia akibat tifus. Dan tak lama setelah itu dia pun meninggal dunia dengan damai, saat itu usia Anne belum genap 16 tahun.

Dan hanya Otto Franklah yang selamat, kumpulan tulisan Anne diserahkan kepadanya dari pemerintah Belanda. Dan beberapa orang mendesaknya untuk menerbitkan tulisan milik anaknya itu. Pada mulanya, Otto sempat mengubah beberapa bagian agar tampak tidak terlalu menonjol. Hingga beberapa kali mengalami perubahan saat terbit. Namun, keputusan untuk mengembalikan isi asli dari buku harian Anne-lah yang membuka mata dunia terhadap genosida terbesar dalam sejarah umat manusia.

***


Apa yang saya rasakan setelah membaca buku ini? Tentunya, saya sering mengatakan kalau sampai saat ini saya masih menulis di buku harian. Meski tidak rutin seperti ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Namun, membaca buku harian Anne membuat saya semakin semangat untuk terus menulis, karena ini merupakan sebuah usaha untuk menolak lupa. 

Kalau pernah menonton film Inside Out, pasti mengetahui cara bekerja pikiran dalam menyimpan memori. Ada satu bagian dalam kinerja pikiran yang merupakan tempat sampah, dimana jika sudah masuk ke dalam tempat tersebut maka akan menghilang selamanya. Untuk itulah, agar saya bisa menjaga agar ingatan itu masih bisa saya nikmati meski telah hilang, saat itu saya memulai menulis buku harian.

Tentunya, setelah membaca karya Anne, saya semakin semangat untuk menulis apa saja kondisi dan situasi yang terjadi di sekitar saya. Berita terbaru tentang apa, karena bisa saja ini menjadi jejak sejarah yang saya catat, semacam catatan dalam buku sejarah.

Dibalik semangat saya untuk terus menulis, saya pun mendapat banyak hal setelah membaca buku harian Anne. Dia seorang gadis yang penuh dengan harapan, meski kondisinya terbatas. Saya kemudian teringat juga dengan R.A Kartini yang tetap menulis dalam keterbatasan. Atau Pramoedya Ananta yang juga menulis meski mengalami keterbatasan. Hingga L.M Montgomery, yang juga menulis kisah Garland for Girls saat dirinya berada di pengasingan, dimana ini merupakan keterbatasan dalam ruang geraknya.

Dari mereka semua, saya belajar banyak, terutama untuk terus menulis dan membaca, karena dengan begitu tulisan kita bisa bermanfaat untuk masa depan. Apalagi banyak juga naskah-naskah penulis legendaris yang ditemukan dalam bentuk tulisan tangan, bahkan masih terus bisa kita nikmati hingga saat ini.

Saya menyematkan juga tayangan dari National Geographic berjudul Last Day of Anne Frank. Sebuah kisah penggerebekan keluarga Frank. Memoar perang dari orang-orang yang berada di pengasingan.




30 October 2017

Menggapai Mentari Sebuah Kumpulan Kisah Karya Anak Bangsa





Menggapai Mentari merupakan kumpulan kisah pendek yang ditulis oleh anak-anak yang bersekolah di Intercultural School Jakarta. Senangnya, saya mendapat kesempatan membaca buku ini karena isinya bagus! Untuk kelompok anak yang masih sekolah , tentu banyak yang menganggap mereka tidak akan mampu berpikiran kritis terhadap kondisi masyarakat masa kini.

Tapi, di dalam buku ini, semua tanggapan miring tentang ketidak-kritisan anak-anak mampu dipatahkan. Tentunya, pemikiran mereka yang sederhana, mampu membawa orang-orang dewasa untuk ikut berpikir. Sudah seberapa banyak teladan yang dijadikan contoh untuk anak-anak? Apakah sudah layak setiap perilaku kita dan sikap kita pada konflik yang sering terjadi saat ini?


Kartu Tanda Buku

Judul : Menggapai Mentari || Penulis : Murid Mentari Intercultural School Jakarta || Halaman : 167 || Cetakan Pertama 2017 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama - M&C || Rating : 4/5 || ISBN : 9786024286552


Menggapai Mentari Sebuah Kumpulan Kisah Karya Anak Bangsa


Buku yang berisi 18 cerita pendek karya anak-anak yang bersekolah di Mentari Intercultural School ini bukan karya yang sembarangan. Mereka mengangkat konflik yang tengah banyak terjadi di masyarakat, beserta solusi yang mereka tawarkan sesuai kapasitas pengetahuan yang mereka miliki. Selain itu, kita juga akan diajak memahami apa itu arti toleransi dan pancasila melalui sudut pandang yang sederhana dari anak-anak ini.


Saya akan sedikit bercerita dan memilih beberapa karya sebagai perwakilan.


Simbiosis Mutualisme, dikenalkan dalam cerpen pertama berjudul Soto Anak Bangsa. Dimana dalam kisah ini kita akan diajak berkenalan dengan tokoh utamanya yang bernama Soto. Dirinya merupakan sosok miliuner dan sangat kaya raya. Sehari-harinya Soto senantiasa memiliki pikiran yang positif karena itulah dirinya menjadi pribadi yang tampak senantiasa bahagia. Ada gebrakan yang dibuat oleh sang tokoh utama, yaitu dirinya ingin membangun Pabrik Pengolahan Beras secara GRATIS. Ini merupakan sebuah ide yang terlintas dalam pikiran Soto melihat adanya penduduk yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.


Melawan Bullying, pada kisah berjudul Mencari Teman, konflik yang diangkat merupakan hal yang sering terjadi di sekolah. Yaitu Bullying, dimana keberadaan superior di sini sering mengabaikan kawannya yang beragam berbeda dengannya. Tokoh utama dalam cerita ini bernama Sally yang berusia 10 tahun. Dia memiliki cara bagaimana agar tetap mampu menghadapi tindakan bully tanpa harus membalas perbuatan mereka. Kisah ini bagus, diceritakan dengan cara yang sederhana dimana ini mampu menjadi basic knowledge buat anak-anak yang menghadapi kasus serupa.


Menggapai Impian, sebenarnya ini bukan judul cerita, tapi ide yang saya tangkap dari kisah berjudul Keputusan Sendiri. Dimana tokoh utamanya seorang anak perempuan yang jago bermain sepak bola. Namun, karena kemahirannya ini justru dia dijauhi oleh teman-teman perempuannya yang sekelas. Setiap kali dirinya hendak berlatih sepak bola pasti sudah dicerca oleh temannya itu. Sampai suatu ketika dirinya akan dikirim untuk mewakili sekolaha dalam acara pertandingan sepak bola. Dimana kawannya sempat menertawakannya namun dia terus yakin bahwa impiannya itu bukan hal yang salah. Itulah kenapa saya melihatnya sebagai perjuangan seorang anak untuk terus menggapai impian meski dianggap aneh.


***

Dari contoh 3 cerita pendek yang saya pilih sebagai perwakilan, tentunya dapat dilihat bahwasannya cerita yang ditulis memiliki bobot konflik yang lumayan, disertai motivasi tokoh utamanya untuk terus menyelesaikan masalah yang dihadapi. Meski tampak sederhana, tapi dari sudut pandang mereka-lah tampak impian dan harapan bahwasannya mereka masih percaya kondisi masyarakat Indonesia akan terus membaik setiap waktu.

Uniknya, tidak ada dari cerita ini yang justru mencari kedamaian dengan menjauhkan diri dari masyarakat luas. Alih-alih mereka terus menggaungkan tentang penerimaan akan perbedaan dan bagaimana berusaha menjaga kerukunan itu memang tidak mudah namun bukan hal yang tidak dapat dilakukan.

Buku ini bisa DIBACA untuk SEMUA UMUR, karena permasalahan yang diangkat pun sebenarnya masih terjadi pada lingkungan orang dewasa. Dengan membaca karya mereka, diharapkan agar para orang dewasa mampu melihat dari sudut pandang anak-anak, seperti apa mimpi dan harapan mereka.


***




Sekarang Waktunya Giveaway Buku Menggapai Mentari. Bagi pembaca, tersedia 2 Eksemplar sebagai hadiah. Bagi yang ingin ikutan Giveaway ini, silakan baca ketentuannya dengan seksama ya.


Peraturan Giveaway :


1. Wajib memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2.  Follow Fanpage Penerbit M&C : https://www.facebook.com/funtasticmnc {optional }.

3. Share informasi Giveaway ini di Facebook dan Twitter dengan Hashtag #BukuMenggapaiMentari mention facebook https://facebook.com/ipehalenacom atau twitter @ipehalena (jangan lupa untuk sematkan tautan tulisan ini).

4. Jawab pertanyaan berikut dengan format : 

Nama :
Email :
Domisili :
Jawaban :


Pertanyaannya : "Bagaimana pendapat kalian terhadap kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini?"


5. Giveaway ini berlangsung dari tanggal 30 Oktober - 6 November 2017.

6. Pengumuman pemenang akan diinfokan dalam tulisan ini. Pastikan untuk terus up to date siapa tahu kamu pemenangnya. 

7. Konfirmasi pemenang paling lambat 3 hari setelah pengumuman. Jika dalam batas waktu tersebut tidak ada konfirmasi, maka akan diganti dengan peserta lainnya.


Semoga beruntung, ganbatte!



***


PENGUMUMAN PEMENANG


SELAMAT UNTUK 




Akan segera dihubungi via surel ya. Terima kasih juga bagi semua yang ikut partisipasi Giveaway ini. Meski, sadly, hanya beberapa saja yang berminat. Padahal bukunya bagus, loh.