02 February 2018

Ingin Menjadi Bookstagram? Simak Dulu Cerita Pengalaman Saya


How to be bookstagram



Kali ini saya ingin menuliskan sesuatu yang benar-benar curahan hati saya selama masuk dalam komunitas Bookstagram. Jadi, masih ada menyerempet-nyerempet sedikit dengan dunia buku. Sebenarnya saya sudah ingin menuliskannya sejak tahun lalu, tapi saya simpan dulu sehingga saya yakin, apakah tulisan ini benar-benar memiliki manfaat atau tidak.

Komunitas Bookstagram yang saya maksud ini bukan seperti komunitas yang memiliki akun tersendiri sebagai basecampnya. Bukan. Tapi Bookstagram ini adalah kumpulan akun-akun Instagram personal maupun komunitas yang berisi segala hal tentang buku (di luar penjual buku). Tentunya mereka terkumpul dari mancanegara dan saling berkenalan melalui hashtag yang mereka sematkan. Sehingga bisa menemukan akun satu dengan yang lainnya dan saling berkomunikasi.

Tahun 2016, saya memutuskan membuat akun yang isinya adalah buku-buku yang sudah saya baca. Selain sebagai keinginan untuk menyimpan buku apa saja yang sudah saya baca, ini juga sebagai tempat saya ingin belajar sesuatu, yaitu Bahasa Inggris. Sejak saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan utama, sejak itu pula saya mulai jarang menggunakan Bahasa Inggris, hingga hari demi hari akhirnya kemampuan saya menurun dengan drastis.

Saya seperti seorang yang tidak pernah berkenalan apalagi bersentuhan dengan Bahasa Inggris. Sampai rasanya saya terkejut dengan kemerosotan ini. Pada akhirnya, saya mencoba untuk menuliskan keterangan di foto-foto yang saya unggah dengan bahasa Inggris, meski benar-benar buruk sekali. Selain itu, saya juga tengah memiliki keinginan untuk belajar bagaimana memotret buku agar tampak cantik seperti yang sering saya lihat di Instagram dan Pinterest.

Dari dua alasan itulah akhirnya saya membuat akun @Blogger.reads yang tidak saya publikasikan dimana-mana saat kemunculannya itu. Saya hanya ingin belajar tanpa harus mendapat tanggapan negatif dari orang yang memang sudah membenci saya. Juga sebagai upaya apakah saya mampu membangun sebuah komunikasi melalui akun ini dengan para pembaca buku lainnya.



Berlatih Bahasa Sambil Praktek Secara Langsung



Di blog personal yang saya miliki, saya sudah pernah menuliskan, bahwasannya saya bergabung dengan kursus bahasa inggris online bernama BEC. Di kursus tersebut, saya mendapat mentor bernama Cut Meutia, beliau pernah bersekolah di Dhoha dan memiliki nilai toefl yang tinggi. Dilatih dan diajarkan oleh Meutia yang memiliki cara tersendiri dalam mengajar bahasa Inggris, membuat saya sedikit demi sedikit mulai percaya diri.

Bersama dengan seseorang yang peduli, dimana beliau benar-benar memberikan dukungan penuh agar saya mampu menulis dalam bahasa inggris dengan totalitas tanpa takut salah. Pada mulanya, saya seperti orang yang benar-benar kehabisan ide, tidak tahu harus menulis apa, ini disebabkan rasa takut saya nantinya akan ditertawai dan dicaci. Tapi, ternyata, cara Meutia mengajar saya dengan sabar dan telaten, justru membuat saya berlatih untuk menuliskan apa saja yang sesuai dengan yang terlintas dalam otak saya.

Terlebih, kemampuan berbahasa Inggris saya yang kacau, karena lebih sering berbincang dengan bahasa inggris - asal tau sama tau - sewaktu di kantor dengan mengabaikan peraturan seperti grammar dan sebagainya, alhasil membuat saya merasa malu. Dan, saat beliau meminta saya untuk menuliskan perasaan saya dengan bahasa inggris di Instagram sebagai tugas, ketika itulah saya mendapat pecutan yang benar-benar positif.

Belajar bahasa inggris itu akan mudah kalau kita mempraktekkannya. Tentunya, pada mulanya saya menuliskan dulu bahasa Indonesianya, kemudian berusaha semampu saya untuk mengalihkannya ke bahasa Inggris. Terkadang saya bertanya pada Meutia, kira-kira kalau mau ngomong seperti ini apa ya bahasa inggrisnya? Dan dijawab dengan baik olehnya.

Teknik belajar yang diterapkan oleh Meutia yaitu "Everytime you want to say ..... " Jadi, saya diajarkan untuk mengingat satu kalimat utuh, alih-alih mengingat kata per kata. Karena ternyata ini lebih mudah bagi saya, jadi setiap saya ingin menulis kalimat "Buku apa yang sedang kalian baca?" saya sudah tahu dan bisa langsung mengetiknya tanpa kesulitan "What is your current read?".

Saran dari Meutia pun masih saya terapkan hingga saat ini, dengan menuliskan kalimat yang saya baca dari caption para bookstagram luar negeri. Dengan begitu saya akan terus mampu menuliskannya tanpa kesulitan, kalau pun kesulitan sedikit, saya bisa membuka kembali catatan-catatan saya.

Ketika pertama kali saya mencoba membuka diri dan berkenalan langsung dengan para Bookstagrammer luar negeri ini, saya merasa sangat kikuk. Padahal tidak bertemu secara langsung, ya! Tapi, begitulah yang terjadi, saya ingin menangis rasanya karena merasa bahwa ini semua tidak akan berjalan lancar. Namun, ketika satu demi satu para bookstagrammer tersebut menyapa dan berbincang bahkan tidak mempermasalahkan bahasa Inggris saya yang kacau, saat itulah keinginan untuk terus belajar semakin berkobar.

Dari keinginan untuk menulis caption singkat di Instagram dalam bahasa Inggris, mulailah saya menginginkan untuk menulis ulasan dalam bahasa Inggris. Meski sampai sekarang yang sering terjadi saya malas untuk menulis panjang, hehehe. Tapi, di Instagram, saya sudah mulai percaya diri dan tidak lekas patah semangat sampai-sampai saya sering membuat ulasan di Instagram dengan bahasa Inggris.

Tentunya, ketika perkembangan saya perlahan tampak terlihat kemajuannya, saya rasanya ingin menangis. Selalu saya berusaha untuk mendoakan mentor saya ini Cut Meutia, yang sangat baik dan telaten dalam mengajarkan saya. Apalagi saya baru tiga kali mengikuti pelatihan di BEC. Tapi, saya percaya, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya berusaha tanpa melihat progressnya, karena itulah saya selalu berusaha mengingat ilmunya dan juga semangat yang sudah diberikan padanya.

Tentunya saya jadi teringat sebuah kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib berbunyi :

Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu. Orang yang membencimu tak percaya itu. Orang yang menyayangimu tak butuh itu.



Akhirnya Mulai Mampu Menghasilkan Foto Yang Lumayan 



Selain sebagai sarana berlatih bahasa Inggris, saya juga tengah berlatih memotret buku agar tampak cantik. Dari belajar ATM foto-foto di Pinterest, sampai akhirnya mencoba gaya begini dan begitu dan akhirnya sedang gandrung dengan petals dan fake flowers. Itu semua berdasarkan latihan yang tidak sebentar. Bayangkan saja, saya bahkan sampai saat ini masih belum puas dengan hasilnya. Karena menurut saya masih kurang bercerita, tapi setidaknya saya sudah bahagia dengan pencapaian yang tampak perubahannya dari sebelum-sebelumnya.

Memotret itu sama seperti berbahasa, harus diasah terus dan terus, kalau tidak maka seperti hendak mengisi bensin, "Dimulai dari nol, ya!" Ini berdasarkan pengalaman saya. Itulah kenapa akhirnya saya terus menjaga agar foto-foto saya tetap bagus dan ciamik sampai belajar cara optimasi Instagram. Semua ilmu ini memang berkaitan juga dengan profesi saya sebagai blogger yang dituntut untuk bisa memonetize setiap kanal sosial dan blog yang dimiliki.

Dari ilmu-ilmu yang saya pungut satu demi satu, ada yang dari online, ada yang saya harus bayar dan meluangkan waktu seharian demi mengikuti workshop tersebut. Dan dari keseluruhannya, saya mendapatkan banyak sekali hal yang membuat saya selalu merasa lapar, saya ingin lagi dan lagi sehingga saya bisa melihat bahwa : Kini saya lebih baik dari kemarin.



Pencapaian Pertama Berupa Kepercayaan



Saat akun saya ini masih belum banyak memiliki follower, seseorang menyapa saya melalui DM Instagram. Beliau adalah penulis yang menawarkan saya untuk membaca novelnya!!! Tunggu, ada yang salah? Saat itu saya berpikir demikian. Karena rasa percaya diri saya belum sebaik sekarang - meski saat ini juga belum begitu bagi masih sering kurang pede. Ketika saya bertanya apakah dia yakin meminta saya untuk membaca dan mengulasnya? Dia mengatakan YAKIN!

Namanya Brian S. Ference, dia menulis sebuah fan fiction yang berasal dari novel si Dorian Gray. Saya suka sekali dengan gaya berceritanya. Oiya, sebenarnya saya sudah terbiasa membaca novel berbahasa inggris, allhamdulillah saya mengerti dan paham sekali. Tapi, karena saya jarang sekali mengetik apalagi berbincang dengan bahasa inggris (tidak pernah malah sejak resign) alhasil kemampuan itu menguap dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seperti saya tidak pernah bersentuhan dengan bahasa ini.

Usai bekerja sama dengan Brian, kemudian saya mendapat kepercayaan lagi dari penerbit mayor, PENERBIT INARI!! Allhamdulillah, terima kasih sebelumnya untuk Penerbit Inari. Jujur, saat mendapat kepercayaan seperti itu, apalagi saya diminta untuk menjadi host giveaway berhadiah buku di Instagram saya. Saat itu saya cuma bilang, "Yaa Allah apakah saya benar-benar patut mendapat ini?" *apus air mata*.

Betul, siapa pula yang mampu menyangka bahwa saya diberi kepercayaan yang bahkan saat itu saya masih cupu sekali. Masih jauh dari bookstagrammer lainnya di Indonesia yang sudah sering diminta untuk mereview buku. Tapi, ini langkah besar yang mengawal saya hingga di titik ini. Saat itu saya bertekad untuk kembali belajar apa saja yang harus saya lakukan agar saat diminta mereview buku, saya tidak asal-asalan. Saya tetap harus berusaha optimal.

Beberapa hal yang saya pelajari adalah : Engagement - dimana saya harus mendapatkan beberapa like, komentar dari follower saya. Ini cukup sulit, mengingat orang-orang yang saya follow dan follow saya itu adalah orang bule semua - saat itu. Akhirnya, saya mencoba untuk meminta bantuan dari beberapa teman saya untuk berkomentar di foto-foto yang saya unggah. Kemudian saya juga harus memperbaiki foto yang saya unggah, dari yang ingin tampil minimalis sampai akhirnya harus meninggalkan idealisme sesaat demi mencapai foto yang ramai, menarik dan unik.


Setelah bekerjasama dengan Penerbit Inari, saya juga menjalin kerjasama dengan Haru Media sebagai poros penerbit haru, spring dan inari. Dengan pengadaan giveaway, sekadar mengulas sampai blogtour terus mengisi keseharian saya di tahun 2017 sampai 2018 awal. Bahkan setelahnya, saya mendapat kesempatan lagi untuk membaca karya-karya para penulis debut dari Luar Negeri yang bela-belain mengirim bukunya dari Amazon. Dia mengirimkannya bulan Desember tahun lalu, tapi baru sampai bulan Februari ini.

Dari kepercayaan mereka inilah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak malu lagi dalam berkarya. Saya berusaha menutup telinga dari mereka yang membenci atau tidak menyukai saya. Tentunya, saya masih punya keinginan yang besar untuk mendapat sertifikat menulis bahasa inggris dari beberapa lembaga kursus. Namun, sayangnya masih belum kesampaian karena biayanya yang lumayan besar.

Tapi, sejauh ini saya benar-benar merasakan energi yang besar terutama setelah saya membuat akun baru @alenaslibrary usai akun @blogger.reads sering eror dan sering tanpa sebab terproteksi sendiri. Saya kembali memulai dari nol, tapi dengan semangat yang tidak surut. Allhamdulillah, sudah mencapai angka 100.

Jika kalian mampir di tulisan saya, kemudian tengah memiliki keinginan untuk memiliki akun bookstagram, silakan follow akun saya. Kalau berisi ulasan buku, biasanya akan saya follow back.



Mengusahakan Yang Terbaik Alih-alih Sekedar Nyindir



Begini, saya sering mendapati komentar dari mereka-mereka yang iri dengan bookstagram lainnya dimana mereka mendapat kesempatan emas untuk menerima endorse ini dan itu. Belum lagi sempat tertangkap oleh saya ada yang berkomentar, "kenapa sih yang dipilih bookstagram yang foto-fotonya bagus?" 

Saat itu saya justru berpikir, kenapa orang tersebut tidak berusaha saja semampunya. Tapi tetap totalitas. Alih-alih merasa iri dengan rejeki orang lain. Oiya, saya mendapati hal ini justru saat saya belum ada apa-apanya seperti sekarang, masih cupu. Tapi, saya punya keyakinan, kalau saya memulai sesuatu sambil berpikir : Dia bisa saya juga pasti bisa dengan cara saya sendiri.

Apalagi ada juga yang mengeluh di kolom komentar penerbit kalau mereka jarang dimenangkan dalam giveaway. Setelah saya cek akunnya, isinya jarang ada ulasan buku. Saat itu saya hanya ingin tertawa. Kenapa? Begini, ketika sebuah penerbit memenangkan seorang bookstagram, tentunya dilihat dari pertimbangan bahwa mereka nantinya akan mengulas buku tersebut di akun mereka. Ini hal yang paaaaaliiiing mendasar.

Jadi, kalau ingin menang, coba perbanyak baca dan mengulas buku. Jangan manja dengan mengatakan tidak punya uang untuk beli buku! Coba kalian unduh aplikasi seperti IPusnas sampai I-Jak yang menyajikan ebook-ebook gratis. Sungguh, zaman milenial ini sudah disediakan kemudahan yang tidak saya dapat pada masa saya saat SMP dan SMA. Jadi, pergunakan dengan maksimal!

Kalau kalian sudah berusaha, terus usahakan agar lebih maksimal. Niatkan itu sebagai pembelajaran dan proses diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dari Instagram ini saya banyak belajar akan banyak hal. Terutama belajar bagaimana membuat follower mau membangun komunikasi dengan kita meski tidak kenal dekat. Dan banyak hal yang saya pelajari dari mereka semua. Intinya, bukalah mata kita untuk belajar bukan untuk menyindir apalagi iri.



Yuk, belajar untuk terus menjadi pribadi positive dan latih diri untuk terus bermanfaat!

25 January 2018

Rahasia Hati Natsume Soseki Dan Perenungan Tentang Hidup Di Usia Senja


Rahasia Hati Kokoro Natsume Soseki



Rahasia Hati karya Natsume Soseki merupakan karya terjemahan sastra Jepang yang berjudul Kokoro. Novel yang saya miliki ini merupakan seri sastra klasik dunia yang diterbitkan khusus oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Tidak perlu heran jika didapati beberapa buku memiliki bahasa terjemahan yang terlampau lawas, ini karena memang buku ini hasil terjemahan dari Dunia Pustaka Jaya.

Sampul novel Rahasia Hati memang cukup mendatangkan banyak persepsi. Kombinasi antara tiang, tali yang melingkar, hingga sosok lelaki dengan sastra Jepang seolah menjadi sebuah momok yang cukup membuat banyak orang berpikir bahwa : Ini buku tentang orang yang bunuh diri. Apakah saya terlalu menuduh? Jika ya, mungkin pemikiran saya yang sempit. Tapi, sesuatu yang terikat pada kaki lelaki yang berada dalam sampul inilah yang menjadi pemberatnya melakukan hal tersebut.

Baiklah, jika baru membaca kalimat pembuka saya yang terlampau menuduh, membuat Anda ingin segera pergi dari blog ini, sepertinya itu keputusan yang baik. Tapi, jika Anda berkenan untuk tinggal sesaat dan membaca hingga habis, saya sangat berterima kasih. Pasalnya, saya memang ingin memberitahu kepada Anda tentang buku ini. Meski sebelumnya saya juga akan berkisah dan sedikit memberikan garis besar persamaan antara buku ini dengan Rumah Perawan karya Yasunari Kawabata.

Keduanya merupakan sastrawan dari Jepang. Kedua novel mereka juga diterbitkan dalam versi seri sastra klasik KPG. Dan kedua buku tersebut menghadirkan sosok orang yang sudah tua dengan pemikiran-pemikiran mereka terkait dunia modern. Dunia yang bagi banyak orang yang sudah tua, sudah tak mampu lagi mereka ikuti karena terlalu cepat, terlalu ringkas, terlalu ingin terburu-buru. Sementara ciri khas orang yang sudah tua, mereka menginginkan sesuatu yang mampu membuat mereka duduk barang sejenak untuk merenung.


Kartu Tanda Buku

Judul : Rahasia Hati (Kokoro)
Penulis : Natsume Soseki
Halaman : 265
Cetakan Pertama, Mei 2016
Sebelumnya diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya
Penerjemah : Hartojo Andangdjaja
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 5/5
ISBN : 978.602.424.032.5


***

Rumah Perawan, mengisahkan tentang seorang lelaki tua bernama Eguci yang kerap datang ke sebuah rumah khusus yang menyediakan servis bagi para lelaki tua untuk tidur dengan perempuan-perempuan perawan yang tak mengenakan baju sehelai pun. Namun, dengan peraturan, bahwa para gadis itu tidak boleh diperlakukan secara tidak baik. Kerap kali sebelum tidur, Eguci tua selalu terbawa pada perenungan-perenungan tentang kehidupannya. Bahkan membawanya mengingat hal-hal masa lalunya dengan sangat jelas, padahal sebelumnya dia tak pernah mengingatnya.

Dalam hal ini, unsur erotisme merupakan yang paling menonjol dalam buku Rumah Perawan, mungkin akan membuat pembaca mengernyitkan dahi. Apa kaitannya? Begitu. Padahal jika dilihat kembali, pada beberapa fragmen terdapat potongan perenungan seorang yang sudah tak mampu lagi mengikuti alur dunia, sudah terlampau lelah dan tak lagi memiliki semangat hidup. Karena sadar, akan kekuatan yang semakin lama justru semakin menghilang, termakan usia.

Sejalan dengan novel Rahasia Hati yang hendak saya tuliskan sesaat lagi. Sebuah novel yang berisi tiga bagian. Dimana dinarasikan oleh seorang lelaki yang tak bernama. Jika saya salah, mohon katakan kepada saya, pada halaman berapakah terdapat nama dari tokoh yang ada di dalam buku ini. Mungkin saya terlewatkan karena terlalu fokus pada pemikiran-pemikiran yang bertolak belakang antara lelaki muda dan dua lelaki tua.

Novel ini mengambil pertimbangan-pertimbangan pada sudut pandang dari sosok yang memang sangat jauh berbeda. Dua lelaki tua yang sama-sama menghadapi ajal mereka, namun memiliki pemikiran yang berbeda tentang hidup, memiliki cara yang berbeda dalam menjalani hidup, hingga memiliki keputusan yang berbeda dalam mengakhiri hidup. Ditambah, sebuah pemikiran lain yang sebenarnya seperti perwakilan bagi kita pembaca, yang masih memiliki darah muda dan semangat yang membara.

Mungkin Anda akan mendapati bahwa tulisan ini hanya berisi rangkuman dari apa yang saya baca. Atau sesekali akan saya sematkan sedikit pemikiran saya. Apa sajalah itu, intinya saya ingin menyeritakan betapa buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang membutuhkan perenungan serta pertimbangan dari pelajaran tokoh-tokoh fiksi (bisa saja bukan fiksi) yang bisa didapat dari membaca.

Tentunya, mungkin tulisan ini bisa menjadi oleh-oleh berharga bagi siapa saja yang membutuhkannya. Setidaknya saya bisa mengikuti jejak A.J Fikry dalam memoar singkatnya di buku fiksi The Storied Life of A.J Fikry. Silakan disimak.


Bab Pertama : Sensei Dan Aku



Kisah dibuka dengan kenangan seorang mahasiswa ketika pertama kali bertemu dan berkenalan dengan sang Sensei. Saat saya membaca buku ini, hingga akhir, saya mengira dalam imajinasi saya, bahwa si narator tengah membangun kembali ingatan-ingatannya tentang si Sensei saat dirinya bertolak dari desa menuju Tokyo karena surat yang diterimanya.

Kemudian menuliskannya seperti seorang remaja yang baru saja mengalami hal paling hebat dalam hidupnya, kemudian menyeritakannya dalam buku harian khusus. Seperti itulah saya kemudian mengambil keputusan sepihak pada imajinasi yang saya tangkap. Sebuah ingatan saat narator bertemu dengan Sensei pertama kali di Kamakura, ketika liburan musim panas.

Lelaki muda itu hanya menjelaskan, bahwa dia memanggilnya Sensei. Bukan seperti Sensei yang sering dipikirkan banyak orang : memiliki jabatan, berpendidikan tinggi atau seorang profesor di universitas. Namun, sosok Sensei ini yang paling berpengaruh pada pemikiran-pemikiran dan sering menarik perhatian lelaki muda yang waktu itu masih berstatus mahasiswa.

Sikapnya bagi sang lelaki muda tampak sedikit kaku. Sensei biasa datang dengan tepat pada jam yang biasa dan pergi dengan tepat pula setelah berenang-renang. Sensei selalu menjauh dan tak peduli betapa juga gembiranya orang banyak di seputarnya, ia tampak sama sekali tak acuh terhadap sekelilingnya. Sosok inilah yang kerap membawa rasa penasaran pada si lelaki muda, ketika pertama kali dirinya melihat lelaki tua itu di pantai yang cukup ramai.

Seorang yang sanggup mencintai atau lebih tepat kukatakan seorang yang tak sanggup untuk tak mencintai, tetapi tak dapat dengan sepenuh hati menerima cinta orang lain terhadapnya - orang semacam itulah Sensei. ~ Hal 13



Pada bab ini, kita akan dijejali hari-hari yang dilalui lelaki muda tersebut bersama sang Sensei. Betapa seringnya mereka bertemu, mengakibatkan sang lelaki muda itu bertambah tertarik dengan kehidupannya. Bahkan, sosok Sensei mampu menggantikan sosok Ayahnya yang sama-sama sudah tua, hingga dia selalu tak tahan untuk membandingkannya.

Tidak disadari, bahkan si lelaki muda selalu berupaya untuk senantiasa berada dekat sang Sensei ketimbang dengan Ayahnya. Di sini, saya mendapati banyak rasa penasaran tentang siapa sih Sensei itu sebenarnya? Wajah dan ekspresinya yang tampak santai, pemikirannya yang seolah tidak begitu mencolok yang justru membuat lelaki muda yang penuh semangat itu tertarik padanya.

Namun, sekali lagi, meski si lelaki muda itu tertarik, ada beberapa kali pemikiran yang bersebrangan. Dan lagi, lagi, lagi, si lelaki muda tak menemukan cara untuk bisa menjauh dari lelaki tua itu. Dia kerap merasakan ada sifat istimewa yang patut mendapat perhatian darinya. Terutama, ketika suatu petang sang Sensei menganggapnya sebagai seorang yang “Tak benar-benar berpikir tentang kematian.”

Pada bab awal menjelang halaman 30, masih terlalu dini memang untuk langsung mengambil keputusan secara sepihak bahwa intinya adalah si kakek seorang yang berpengaruh buruk. Tapi, saya ingin menjelaskan sesuatu yang terlintas dalam benak saya selama membaca novel ini.

Di dalamnya, berisi pemikiran sang tokoh dimana kita bisa belajar tentang perilaku manusia, pembelajaran tentang sifat-sifat manusia dari sudut pandang seorang pesimistis dan pendendam seperti Sensei. Tapi, kita juga diajukan sosok lain, yang lebih berupaya untuk berpikiran positif selama kehidupannya, sebagai bahan pertimbangan. Dan dua pemikiran ini dijadikan satu, dibalut dan dikemas dalam kisah yang begitu ciamik.

Mungkin ada beberapa yang tidak menyadari atau justru sudah sangat menyadari sejak awal. Ketika sang lelaki muda menganggap A adalah benar dan B adalah salah. Jiwa muda dan pemikiran khas orang muda, benar-benar mampu digambarkan dengan baik oleh Natsume, sampai sisi emosionalnya dan keputusan yang dibuat oleh si narator. Betapa saya seolah membaca sebuah memoar tentang sosok orang yang dikagumi oleh orang lain meski tampaknya biasa saja. Siapa pun pasti pernah memiliki (atau masih) sosok yang kita kagumi lebih dari mengagumi sosok Ayah atau Ibu kita, kan?



Bab Dua : Orangtuaku Dan Aku



Saya akan sedikit mencampur, beberapa potongan bingkai yang dinarasikan di bab pertama, namun akan saya sematkan bersamaan dengan bab tentang narator dan orangtuanya. Hubungan keduanya selepas sang lelaki muda ini mengenal Sensei dan menaruh hormat pada lelaki itu melebihi dirinya menghormati sang Ayah.

Apa yang paling sering terjadi dalam pergolakan jiwa muda hingga memilih untuk menghormati orang lain secara berlebihan ketimbang orangtuanya? Tidak lain sebenarnya adalah idealisme yang sering berisikan pandangan-pandangan tentang jalan hidup, opini, hingga bisa saja tentang agama dan politik. Tidak ada anak yang bisa memilih untuk dilahirkan oleh orangtua yang seperti apa dan bagaimana.

Pun tidak ada orangtua yang bisa memilih ingin anaknya tumbuh besar seperti ini dan itu. Meski orangtua memiliki kemampuan untuk membimbing mereka di masa kecil hingga remaja, namun tidak dapat dipastikan apakah hal itu dapat mengubah pandangan mereka terhadap hidup atau tidak, apakah itu akan membuat mereka tetap seperti keinginan orangtua atau tidak.


“Tetapi berlainan dengan ayahku yang gemar main catur itu tak dapat menghiburku, maka Sensei, yang kucoba mengenalnya tanpa maksud mencari kesenangan, jauh lebih banyak memberikan kepuasan intelektual padaku sebagai kawan.” ~ Hal 52


Demikian pula sang lelaki muda, yang menganggap waktu yang dihabiskan olehnya di desa, di rumah orangtuanya, tak mampu membuatnya bertahan lama. Kalau bukan karena sesuatu yang penting, mungkin si lelaki muda tak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah itu. Dirinya sudah terlalu lekat dengan Tokyo dan keramaian serta hingar bingarnya.

Hingga merasa tak sesuai lagi hidup dengan budaya yang masih tumbuh subur di desa tempat asalnya. Terlebih, fakta bahwa tidak ada sosok Sensei yang mampu membuatnya bertahan. Kefanatikannya pada sosok Sensei ini bisa kita lihat pada banyak karya-karya atau kejadian yang dekat dengan sekitar kita. Tentang seseorang yang akan dengan sangat setia mengekor pada orang lain demi mendapatkan imbalan.

Dalam hal ini, si lelaki muda sebenarnya mengharapkan imbalan, entah itu berupa cerita pengalaman masa lalu si Sensei. Atau imbalan seperti pertolongan untuk mencarikan pekerjaan. Atau apalah itu yang tersimpan dalam hati si lelaki muda, tapi setidaknya menurut pendapat saya, dia tetap mengekor demi sebuah imbalan.

Pada bagian inilah, kita akan membuka kembali dan menerima sebuah kondisi dan pemikiran dari keadaan lelaki tua lainnya yaitu Ayah sang lelaki muda. Begini, beliau adalah lelaki yang tumbuh dan menua di desa. Dengan lingkup sosial yang berbeda dengan kota besar seperti Tokyo. Juga dengan pengalaman yang memang jauh berbeda dengan yang pernah dialami Sensei. Karena itulah, kehidupan dan pengalaman mampu membuat manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Meski sama-sama tua, kita dihidangkan sebuah pemikiran tentang seorang Ayah. Seorang lelaki yang memiliki anak dan menyayangi anaknya dengan segenap hati dan jiwa. Seorang lelaki yang memiliki istri dan menyayanginya. Seorang lelaki yang sudah memiliki cucu dan berusaha untuk menerima keadaan tanpa bermaksud mengeluh.

Kesepian yang dirasakan pasangan tua ini berbeda, antara Sensei dan istrinya juga orangtua si lelaki muda. Meski, dari kedua pasangan ini ada satu persamaan : Ketika sang suami yang sudah bertahun-tahun mengisi kehidupan mereka, harus pergi meninggalkan sang istri. Pilihan yang selalu mereka pinta adalah menyertai kepergian mereka dengan tenang. Agar tak ada lagi kesunyian yang membayangi.

Kita tidak bisa langsung menepuk dada bahwasannya itu bagai roman picisan. Coba sesekali, temui orang-orang tua dari berbagai penjuru tempat, dimana kondisi mereka sudah ditinggal pasangannya. Bagaimana perasaan mereka, minta mereka untuk berkata dengan jujur, apakah sebenarnya mereka merasakan kesepian dan kesunyian itu? Apalagi, jika Anda bertanya pada pasangan yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup bersama dan berbagi derita yang sama. Tentunya akan berbeda jawabannya, namun pasti memiliki persamaan.

Hidangan lainnya yang sempat menohok si lelaki muda yang juga membuat saya mengangguk dalam pemikiran saya sendiri ada pada halaman 86. Dimana saya berpikir, inilah sebuah pemikiran yang nyata tentang orangtua - dalam hal ini seorang Ayah - dan bagaimana perasaan mereka yang kerap kali lebih tertutup dari seorang Ibu. Kondisi ini pula, yang merupakan sebuah pembeda yang saya katakan sebelumnya, dapat digunakan sebagai pembanding antara kedua lelaki tua dalam buku ini. Apakah ada persamaan yang mendasar dari sosok lelaki tua?

Juga pada halaman 100, sebuah pengingat yang entah kenapa membuat saya berpikir tentang orangtua saya. Dan fakta bahwa nantinya saya pun akan menua, namun saya merenungi akan seperti apakah saya saat tua nanti? Bagaimanakah kondisi saya nantinya? Akankah saya menyusahkan keturunan atau orang lain?

“Pada zamanku dulu, orang-orangtua dibantu oleh anak-anaknya. Sekaran ini, anak-anak itu dibantu oleh orangtuanya senantiasa.” ~ Hal 103


Kutipan dialog sang Ayah menjelang ajalnya ini, membuat saya lumayan termengung cukup lama. Benar adanya, Natsume tidak sedang menjejali saya dengan pemikirannya kemudian mewajibkan saya untuk menyetujui semua hal yang dia tulis di sini. Tidak. Dia tengah memberikan saya sebagai pembaca, kilasan-kilasan pembelajaran dari para tokohnya yang sudah tua.

Jika Anda sering mendengar bahwa mengingat kematian itu lebih baik agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya mungkin setuju, jika yang harus dilakukan itu melalui cara-cara yang baik, karena membaca buku ini membuat saya bukan sekedar mengingat kematian. Tapi juga mengingat kembali perjalanan kehidupan saya yang ternyata juga berubah sesuai tahapan usia yang saya alami.

Kondisi yang saat ini juga banyak saya lihat, dimana banyak anak-anak yang ditopang secara finansial oleh orangtua mereka. Namun, ketika mereka sudah menua, bahkan untuk meminta uang saja sulit. Tidak jarang dimarahi hanya untuk membeli barang yang mereka senangi. Betapa terkadang kita sebagai orang yang masih memiliki semangat muda dan kurang pengalaman, sering menuduh sembarangan tentang orang-orang yang sudah renta.

Berbeda dengan Eguci tua dalam Rumah Perawan. Kilasan-kilasan kenangan yang dialami oleh dua lelaki tua dalam buku ini, cenderung berbeda. Mereka tidak membutuhkan tidur bersama seorang gadis perawan tanpa busana. Mereka hanya butuh seseorang untuk mendengarkan mereka, butuh seseorang yang dekat dengan mereka untuk menyertai kepergian mereka. Hanya butuh wajah-wajah yang dikenalnya untuk mengucapkan salam perpisahan, bukan oleh kesunyian yang abadi.


Rahasia Hati Kokoro Natsume Soseki


Bab Tiga : Sensei Dan Pesannya



Pada bab ini, Anda mungkin akan menerima banyak pengakuan dari sang Sensei yang mungkin akan membuat Anda setuju dengan sikap dan alasan Sensei memutuskan sesuatu. Atau justru bertambah bulat tekad Anda untuk menjadi orang yang tidak setuju dengan sikapnya. Ini semua merupakan keputusan yang dapat diambil oleh pembaca secara bebas.

Begitu lebih baik, membiarkan pembaca memilih ingin pro dan kontra terhadap tokoh dan pemikiran yang mana saja. Tanpa diinvertensi hanya karena harus sejalan dengan tujuan penulis. Karena, tidak ada satu kata pun yang menuliskan bahwa Natsume berusaha menjejali kita dengan anggapan dan pemikirannya dan kita harus menyetujuinya.

Di bab ini juga, kita akan mengetahui secara mendalam. Garis besar alasan dan penjabaran melalui surat panjang yang melebihi beberapa lembar dan berisi kenangan-kenangan tentang kehidupan. Surat yang akan mengantarkan kita pada pemikiran yang mungkin berhak untuk dipertimbangkan lagi. Dan juga sebuah surat yang merupakan jawaban mengapa judul Kokoro diterjemahkan menjadi Rahasia Hati.


Kesimpulan


Membaca karya sastra Jepang dari beragam penulis memang mengasyikkan. Ketika pertama kali membaca kisah Botchan tentang kenangan seorang anak lelaki pada pengasuhnya, bagaimana dia berusaha untuk berterimakasih dengan perjuangan sang pengasuh membuat pembaca mungkin terharu atau mungkin juga biasa saja. Tapi tetap meninggalkan kesan.

Sama halnya juga dengan buku Rumah Perawan yang bisa jadi tidak membuat Anda merasa terkesan sekali, namun entah mengapa justru ingatan tentang buku tersebut tak ingin pergi. Seolah menempel dengan jelas bagai dipatri tanpa mampu dicopot. Demikian pula halnya saat saya usai membaca novel ini.

Tidak ada keinginan yang aneh-aneh usai membacanya. Justru saya tertarik, mengapa para sastrawan Jepang selalu memiliki pemikiran tentang kehidupan yang mendalam. Mengapa mereka berhasil mengusik sisi kemanusiaan tentang bagaimana hidup, tentang siapa kita di dunia, tentang manusia dan perasaannya. Bagaimana cara mereka yang sederhana, kemudian membuat pembaca seperti saya merasa kikuk usai menutup buku karena merasa belum ada apa-apanya dalam berpikir tentang kehidupan.

Ah, bahkan saya tidak mampu menyebutkan bahwa buku ini bukan sekedar layak baca saja. Tapi juga berisi hal-hal yang unik, menarik namun dikemas dengan cara sederhana. [Ipeh Alena]


22 January 2018

ILLUMINAE #1 : Kisah Perang Antar-Pesawat Antariksa Dan Serangan Virus Aneh





Awalnya saya merasa ragu untuk mulai membaca buku ILLUMINAE yang ditulis oleh Ammie Kaufman dan Jay Kristoff. Meski saya pernah membaca karya Kristoff yang berjudul Nevernight dan saya menyukai bagaimana cara dia membuat tokoh-tokohnya tampak menakjubkan juga menyebalkan di saat yang sama. Juga cara dirinya menyeritakan cerita yang mengalir dengan detil yang cukup untuk membangun imajinasi.

Kenyataan itu sempat membuat saya ragu, tapi berakhir penasaran hingga akhirnya memutuskan untuk membacanya. Pada awalnya, karena faktor keraguan, apakah saya mampu menyelesaikannya atau tidak. Terlebih saya tengah terkena sindrom Reading-Slump yang membuat saya terlalu takut untuk memulai. Dan akhirnya hari Sabtu (13 Januari 2018) kemarin, saya menyempatkan diri membaca beberapa halaman.

Itu pun tidak langsung beranjak dari beberapa lembar pertama. Kemudian hari Minggu, saya mulai mencoba membacanya. Dan, tanpa saya sadari, akhirnya saya bisa menyelesaikannya tepat jam 10 malam. Setelah seharian bertualang di antariksa bersama beberapa pesawat dengan orang-orang yang cukup gila untuk mencongkel mata siapa saja yang menatapnya. Setidaknya perjuangan saya akhirnya tidak sia-sia.


Kartu Tanda Buku

Judul : ILLUMINAE
Penulis : Jay Kristoff & Amie Kaufman
Halaman : 576
Cetakan pertama, November 2017
Penerjemah : Brigida Ruri
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Terbitan : Penerbit Spring
Rating : 4.5 / 5
ISBN : 978.602.6682.09.3






Hari Ketika Kady Dan Ezra Putus Adalah Hari Dimana Koloni Kerenza Terbunuh



Sepasang mantan kekasih ini diwawancarai secara terpisah, namun rekaman percakapannya tersusun bergantian antara Kady Grant dan Ezra Mason, seolah keduanya saling sahut-menyahut dalam menjawab pertanyaan. Dengan kisah yang sama karena keduanya berada di lokasi dalam waktu yang sama. Bahkan Kady sempat menyelamatkan Ezra hingga keduanya akhirnya terpisah, Katy Grant di pesawat antariksa Hypatia dan Ezra di pesawat utama antariksa Alexander.


Pada hari ketika Ezra dan Kady baru saja bertengkar dan memutuskan hubungan, sebuah pesawat terbang dekat di atas mereka. Tidak lama setelahnya terdengar bunyi gemuruh dan ledakan dari arah pertambangan ilegal yang memang sudah dijalani selama bertahun-tahun. Lokasi koloni Kerenza ini memang ilegal, namun kondisi ini seolah sudah diketahui oleh banyak orang, seperti bukan rahasia yang umum.


Dikutip dari Unipedia bahwasannya Pertempuran Kerenza IV adalah pembukaan serangan bertubi-tubi yang sedang berlangsung dalam Perang Korporasi Bintang yang herannya tidak terlaporkan. Pertempuran ini diprakarsai oleh Beitech Industries dan menargetkan operasi tambang hermium ilegal yang dimiliki oleh Wallace/Ulyanov Consortium. Pesawat United Terran Authority, Alexander menjawab panggilan darurat WUC, sehingga ada pertempuran tiga arah antara Beitech, WUC dan pasukan UTA [23].


Space War
Source : Google Image


Karena sudah tertangkap basah oleh UTA, armada Beitech mengambil keputusam mengejutkan untuk menyerang pesawat Alexander dengan harapan menghilangkan saksi. Sebaliknya, Alexander menyebabkan kerusakan parah terhadap Peron Portal Bergerak Magellan, menghancurkan jalan keluar BeiTech. Saat armada BeiTech bertempur melawan Alexander, beberapa pesawat shuttle mengangkut warga-warga sipil dari pemukiman mereka yang hancur. Laporan penggunaan senjata biologis yang tak dikenal masih dikonfirmasi [25].


Jadi, seolah-olah keputusan Kady untuk berpisah dengan Ezra merupakan hal yang membuat dunia berguncang. Apalagi keduanya menyaksikan ketika pesawat BeiTech meledakkan tambang hingga muncul awan hitam yang sangat pekat yang membuat mereka ketakutan. Belum lagi, banyak orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri mereka, sambil merebut mobil-mobil yang sedang dikendarai. Planet Kerenza menjadi kacau balau keadaannya. Sementara itu, Kady dan Ezra mau tidak mau saling membantu demi menyelamatkan nyawa mereka.




Meski Ezra sempat bersikukuh untuk menetap di Kerenza dan mencari ayahnya. Namun, Kady memaksanya untuk ikut menyelamatkan diri dari bahasa BeiTech. Banyak orang yang mereka sayangi menghadapi ajal saat BeiTech menyerang. Bahkan, Kady masih mengingat beberapa orang yang dikenalnya akhirnya meninggal sewaktu kekisruhan terjadi.



Artificial Intelligence
Source : Google Image






Ketika Ezra dan beberapa anggota timnya diwajibkan untuk mengejar BeiTech, namun ternyata menjadi saksi mata pesawat Copernicus tertembak dan sebagian tubuhnya meledak, mereka semua kebingungan. Bukan hanya itu, setelah ledakan yang terjadi di pesawat Copernicus, aliran komunikasi di Alexander diputus. Bahkan demi keamanan, komandan Alexander menyalakan frekuensi darurat untuk keperluan komunikasi dengan pesawat Hypatia yang sayangnya, semua kru dalam pesawat tersebut tidak memiliki banyak informasi.


Perang Antar Pesawat Antariksa Di Angkasa Luas


Setelah memastikan bahwa planet Kerenza dan koloni serta penambangan ilegalnya hancur. BeiTech memutuskan untuk mengejar pesawat Alexander dan pesawat lainnya demi menghilangkan jejak dan bukti penghancuran yang mereka lakukan. Pesawat BeiTech yang bernama Lincoln juga tidak mampu kembali melalui portal, karena baru saja dirusak oleh Alexander.

Sementara itu, baik Alexander, Hypatia dan Copernicus, berniat untuk menggunakan satu-satunya portal terdekat yaitu Portal Heimdall. Sayangnya, karena baku tembak dan kelebihan beban penumpang, pesawat mereka membutuhkan bahan bakar yang lebih. Karena itu, kecepatan mereka tidak bisa secepat biasanya, bahkan mereka harus menjaga agar tidak masuk ke dalam jarak kritis dimana Lincoln bisa dengan mudah menembak mereka.

Adegan ini mengingatkan saya dalam film Star Trek, disaat Enterprise berhadapan dengan pesawat kaptennya di jarak yang tidak aman. Hampir sama seperti itu, sehingga mudah bagi saya membayangkan seperti apa posisi mereka dalam imajinasi saya. Jarak aman ini juga sudah diperhitungkan oleh Lincoln melalui sistem pendeteksinya. Kalian akan ditunjukkan dalam layar yang tertera berapa jam lagi pesawat Lincoln akan berhasil meledakkan Alexander.



Lincoln muncul lagi di teleskop jarak jauhku hampir delapan jam lalu. Kita sedang melaju dengan mesin sekunder. Lincoln akan berada dalam jangkauan senjata lagi kurang dari 24 jam. Aku tidak bisa beralasan dengan Zhang. Dia gila. Tetapi kau tidak... Kau bisa mendengarkan logika. ~ Hal 400


Virus Keanehan Dan Kegilaan Yang Merajalela



Saya bisa melihat mereka. Berlumuran darah. Mata liar dan pucat. Tiga pria dan satu wanita, mengerumuni seorang gadis kecil, tidak lebih dari sembilan atau sepuluh tahun. Gadis kecil itu menjerit, memohon. Seorang pria gemuk duduk di atas dadanya, membuatnya sesak napas. Tiga orang lain berdiri mengelilinginya, balok besi dan pipa kunci pas di tangan, dihiasi darah sampai ke siku. ~ Hal 163


Ada hal aneh yang terjadi pada para penumpang yang berasal dari pesawat Copernicus. Mereka menjadi sosok manusia yang, entah bagaimana menjelaskannya, lekas mengamuk ketika seseorang melihat mereka.

Virus Phobos
Source : Google Image


Penularan keanehan ini sangat cepat, melalui udara. Sebelumnya, para penderita akan mendadak seperti menderita kelumpuhan, katatonia, yang setelah itu mendadak menjadi lebih agresif serta membunuh dan mencongkel mata orang-orang yang mereka incar. Kebanyakan masih memiliki memori yang tersimpan dalam ingatan mereka.



Kondisi ini memperparah misi penyelamatan mereka dari Lincoln. Karena selain mengatur jarak agar aman, memastikan supaya semua mesin berfungsi dengan baik agar tidak kehabisan bahan bakar, serta mencoba meretas sistem Lincoln. Dan mereka harus berpikir tentang virus Phobos yang mengerikan ini. Semua menjadi demikian bertumpuk, masalah yang satu demi satu terus meninggi dan menjadikan beban bagi para kru lainnya.

Saya merasakan tiga klimaks selama mengikuti cerita perjuangan para awak Alexander dan Hypatia ini. Pertama, saat Kady memutuskan untuk meretas akun lain demi bisa berkomunikasi dengan Ezra yang berbeda pesawat dengannya. Kedua, saat para penderita Phobos berhadapan dengan kru. Ketiga, ketika Kady harus menyelamatkan satu-satunya yang tersisa dari kejaran Lincoln.



BLOGTOUR ILLUMINAE



Siapa yang berminat ingin membaca novel ini?? Kalau ingin baca novel ini, jangan lupa untuk mengunjungi blog-blog di bawah ini demi mendapatkan kata kunci, yang nantinya bisa kalian gunakan pada Giveaway yang diadakan di akun instagram @penerbitspring.
Ingin ikutan? Simak syaratnya di sini :





1. Wajib mengikuti Instagram dan Twitter @PenerbitSpring dan @PenerbitHaru 

2. Memiliki alamat pengiriman  hadiah di Indonesia.

3. Wajib membagikan postingan giveaway ini di media sosial kamu dengan mencolek Penerbit Spring. Sertakan juga tagar #blogtourIlluminae.

4. Mengikuti seluruh postingan ulasan novel Illuminae yang berlangsung di kelima blog berikut ini


Sharie, 19 Januari 2018
Link Blog: http://romanitamore.blogspot.co.id/

Wiwi Widiani20 Januari 2018
Link Blog: hhttp://deebacalah.blogspot.com/

Dion Yulianto, 21 Januari 2018
Link Blog: http://dionyulianto.blogspot.co.id/

Ipeh Alena, 22 Januari 2018
Link Blog : http://bacaanipeh.web.id

Abduraafi Andrian, 23 Januari 2018
Link Blog: http://bibliough.com/


5. Tulis di komentar postingan ini nama dan akun IG kamu untuk mempermudah pendataan.


6. Simpan baik-baik jawaban dari pertanyaan yang akan menjadi satu dari lima kata kunci blogtour final di IG Penerbit Spring.

"Apa nama pesawat tempat Kady Grant berada?"

Jangan lupa untuk mengumpulkan jawaban dari seluruh blog yang mengadakan Blogtour di atas untuk diikut-sertakan dalam Final Giveaway di akun instagram @penerbitspring pada tanggal 25 sampai 28 Januari 2018.


Kesimpulan


Semua itu terasa menegangkan dan cukup membuat saya penasaran, jika diangkat ke dalam layar lebar. Siapa yang cocok menjadi sosok Kady? Kalau menurut saya Britt Robertson cocok memerankan Kady, karena penampilannya saat di film Tomorrow Land dan Space Between Us cukup menarik, karena aktingnya yang keren.


Space between us Britt Robertson


Sayangnya, di balik kekerenan itu, saya sempat merasa kesal dengan Kristoff dan Kaufman yang membuat saya seperti orang bodoh. Untuk apa saya merasa terharu dan hendak menangis untuk hal yang sia-sia? HUWAH!! Rasanya bikin kesal, karena plot twistnya benar-benar menipu.

Jika kalian membaca beberapa pendapat pembaca lain di Goodreads tentang betapa buku ini membuat mereka tak sanggup untuk menyelesaikannya. Saya tekankan satu hal : Buku ini memang tidak dikemas seperti buku cerita atau novel pada umumnya. Buku ini dikisahkan melalui kumpulan dokumen seperti : Surat rahasia, transkrip percakapan, transkrip rekaman, transkrip percakapan, hingga kode-kode dalam bentuk laporan data inti dari Aidan.

Jangan cemas jika awal-awalnya kalian merasa aneh untuk melanjutkan petualangan. Karena sebenarnya, novel ini memang membutuhkan kejelian serta rasa ingin tahu yang harus dijaga dan dicari jawabannya dalam setiap berkas-berkas tersebut, layaknya ujian yang membolehkan siswanya open book, tapi si siswa ini tidak masih belum tahu dimana letak jawabannya. Jika itu terjadi, jangan risau, teruskan saja membacanya, nikmati bagaimana Kristoff memainkan imajinasi dalam bentuk petualangan perang antar pesawat di angkasa luar.

Jikalau saya dibolehkan untuk mengeluh, satu-satunya keluhan saya adalah percakapan antara Ezra dan Kady! Kenapa sih, di saat yang menegangkan, bahkan mereka bisa saling rayu dan membahas hal-hal yang enggak penting? Sampai-sampai bertengkar hanya karena masa lalu dan membahas topik yang membuat mereka kembali harus saling merayu satu sama lain. Rasanya, gregetan gitu. Saat saya tengah tegang karena berhadapan dengan penderita dan percakapan mereka kemudian menjadi hal yang membuat saya bete bukan main.

Dan keluhan ini setidaknya terbayar oleh plot twist yang sudah saya jelaskan tadi. Yang tidak terduga dan membuat saya merasa menyesal sudah terharu sedemikian rupa. Kemudian memutuskan untuk menjaga rasa penasaran saya demi membaca Gemina. Apalagi, konon kabarnya, buku ketiganya akan segera terbit! Sungguh, bukan main cepatnya waktu berlalu! [Ipeh Alena]

17 January 2018

Rumah Perawan - Yasunari Kawabata : Sebuah Kenangan Lelaki Tua Dalam Kehidupannya Yang Ikut Menua


Rumah Perawan


Saya membaca Rumah Perawan bersama dengan seorang kawan, seorang narablog ayowaca.com, bernama Iyas. Awalnya saya penasaran dengan isi dari novela ini. Apalagi di dalamnya menyebutkan beberapa kutipan sajak yang cukup unik, sesuai dengan suasana yang dibangun oleh Kawabata.

Sama seperti cerita pendeknya dalam buku Daun Bambu, dimana menyajikan kisah yang kalau dikenang kembali, ternyata buku tersebut pun masih menyisakan kenangan yang lekat. Sebuah karya yang tidak mudah terlupa meski pernah dibaca sekali dan berbulan-bulan yang lalu. Namun, masih segar dalam ingatan seperti apa bentuknya.

Dan Rumah Perawan sama seperti buku sebelumnya. Membawa rasa penasaran saya semakin tinggi demi menggali lagi setiap cerita dalam tulisan Kawabata. Tapi, kali ini, saya mengizinkan diri saya sendiri untuk menuliskan apa yang muncul saat membaca novela yang cukup erotis bagi mereka yang tidak terbiasa. Ini saya tuliskan, untuk memberikan informasi agar tidak merasa membeli kucing dalam karung.



Kartu Tanda Baca 

Judul : Rumah Perawan (Nemureru Bijou)
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerjemah : Asrul Sani
Halaman : 115
Cetakan Pertama, Juli 2016
Versi : Buku Cetak
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4/5
ISBN : 9786024241209



"Malam-malam yang menyajikan kumbang dan anjing-anjing hitam dan mayat-mayat orang mati lemas." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Berkisah tentang seorang lelaki tua, yang sudah hilang kelelakiannya, bernama Eguci mampir ke Rumah Perawan Beradu yang cukup dikenal oleh banyak orang-orang tua - terutama lelaki - namun tidak banyak yang mengetahui terkait keberadaan rumah tersebut. Karena, pintu Rumah Perawan Beradu hanya terbuka bagi beberapa lelaki tua yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan oleh sang Perempuan Penginapan.

Konon, beberapa orang yang seusia Eguci tua, berhasil mendapatkan kembali semangat hidupnya usai tidur dengan para gadis di Rumah Perawan. Ini berdasarkan cerita dari Kiga tua yang merekomendasikan tempat tersebut padanya. Sebenarnya, yang membuat Eguci tua akhirnya memutuskan untuk datang ke Rumah Perawan adalah rasa penasarannya untuk memverifikasi fakta yang diceritakan oleh Kiga tua.

Bagian pertama dari novela ini, langsung dibuka dengan sebuah fakta yang cukup membuat pembaca penasaran. Ini sepertinya harus dicontoh oleh para penulis pemula, untuk mengejutkan pembaca di awal, dan menjaga rasa penasaran mereka hingga akhir. Sebuah peraturan bahwa Eguci tua dilarang melakukan hal yang tidak senonoh, seperti memasukkan jari ke dalam mulut gadis yang sedang tidur, atau hal sejenisnya.

Faktanya, memang Eguci tua membayar untuk menginap di dalam ruangan bersama dengan seorang gadis yang sudah ditidurkan dan tidak akan terbangun dengan cara apapun, tanpa mengenakan sehelai pakaian. Hanya dibekali selimut dan Eguci tua diminta untuk tidak membuat gadis itu kedinginan. Itu hal yang jahat, juga seperti menegur mereka saat bertemu di jalan pun hal yang jahat.

Fakta lainnya adalah para gadis itu memang sama sekali tidak tahu menahu, dengan siapa mereka menghabiskan waktu semalam saat dirinya tertidur. Mereka juga tidak akan pernah tahu, siapa nama pelanggan yang tidur dengan mereka, apa yang terjadi selama malam itu, sampai apa saja yang dilakukan oleh sang lelaki tua pada gadis-gadis itu. Mereka tidak akan mengetahui hal itu karena mereka benar-benar dalam kondisi tidur yang terlampau nyeyak.

Hal ini sempat membuat kening saya berkenyit, sebuah bentuk prostitusi baru yang menyajikan Gadis Perawan sebagai teman tidur, namun para pelanggan tidak dibolehkan untuk melanggar peraturan. Apalagi Perempuan Penginapan itu termasuk tegas menjelaskan bagaimana jika peraturan tersebut dilanggar, meski dengan gaya penyampaian yang cukup lembut dan terkesan dingin.

Gadis-gadis perawan itu, memang benar hanya menemani para lelaki tua yang sudah kehilangan kelelakian mereka, juga kehilangan semangat dalam hidup. Bagi mereka pengalaman tidur dengan para gadis ini membawa kenangan masa muda mereka, hingga bagi Eguci tua hal ini merupakan The Perfect Moment to end his life.





"Jika peraturan ini sampai dilanggar, maka jadinya rumah itu tidak akan lebih dari sebuah rumah mesum biasa." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Meski Eguci tua berkali-kali memiliki dorongan kuat untuk melanggar peraturan. Tapi, tetap saja dia berakhir menenggak dua pil tidur yang memang disediakan oleh sang Perempuan Penginapan sebagai bagian dari servis jika pelanggan mereka kesulitan untuk tidur.

Tidur dengan seorang gadis perawan yang tidak mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuh mereka. Membuat Eguci tua sempat dilanda sebuah pemikiran-pemikiran hingga menganggap bahwa para gadis yang sudah tidur dengannya, berbicara dan bertindak sesua dengan yang diinginkan olehnya.

Bagi Eguci tua, para gadis itu meski ditidurkan sebelum mengetahui siapa pelanggan mereka, tetap hidup meski tidur. Dalam artian, pikiran dan kehidupan yang mereka jalani ini ditenggelamkan dalam kepulasan yang dalam tapi tubuh mereka seolah bangun bagai seorang wanita. Menjadi tubuh seorang gadis, tanpa pikiran, demikian Eguci berpikir setiap memerhatikan gadis yang tidur dengannya.



"Berbaring dengan gadis seperti itu adalah suatu hiburan sementara, pencarian kebahagiaan yang telah sirna, sedangkan hidup masing berlangsung. Dalam tubuh seorang gadis muda ada suatu kemurungan yang menimbulkan dalam diri seorang lelaki tua kerinduan pada mati." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)


Kita sudah dijelaskan mengenai lelaki tua yang kehilangan kelelakiannya dalam kamus Eguci tua. Bisa membayangkan malam-malam yang dihabiskan oleh Eguci tua hanya memandangi wajah dan tubuh para gadis tersebut. Meski kemudian Eguci tua menyadari, dia ingin lebih, dia ingin para gadis itu berbicara dengannya.

Tapi, begitulah peraturannya, mereka dilindungi oleh tidur panjang mereka. Yang mengingatkan Eguci tua pada kematian. Berkali-kali dirinya mengenang masa lalunya bersama para gadis yang sering bergonta-ganti.  Baginya cukup aneh, karena dia tidak pernah mengingat mereka, namun ketika berdampingan dengan gadis tidur itu, dirinya mulai dirasuki kenangan-kenangan masa lampaunya.

Bagi saya, cerita yang disajikan dalam novel ini cukup kelam. Tentang seorang lelaki yang menginginkan kematian karena tidak lagi memiliki gairah untuk hal yang membuatnya semangat. Hanya ada satu yang selalu dinanti olehnya, berdampingan sambil tidur bersama para gadis. Itulah yang membuat Eguci tua senantiasa meminta obat tidur yang sama dengan si gadis tersebut. Demi tidur panjang yang membuat dirinya selalu bermimpi tentang masa muda.




"Dari zaman purba lelaki tua menganggap bau yang disebarkan gadis-gadis bagai air mukjizat kemudaan." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Dari kacamata saya pribadi, Kawabata bukanlah bermaksud untuk menjabarkan betapa sempurnanya tubuh para perawan melalui deskripsi detailnya. Mungkin ini sebagai pengalihan, karena biasanya orang hanya akan fokus pada sesuatu yang menarik bagi dirinya. Sebab, saya mendapati beberapa bagian yang merupakan pemikiran Eguci.

Seperti ketika dia mempertanyakan, apa yang dipikirkan oleh orangtua para gadis ini sehingga membolehkan anak-anak perempuan mereka yang masih perawan tidur bersama dengan lelaki tua yang berbeda-beda? Kekhawatiran ini juga hadir dalam kenangan tentang tiga anak perempuannya yang sudah menikah dan menjadi sosok ibu bagi cucu-cucunya.

Kemudian pemikiran tentang alasan apa yang membuat si Perempuan Penginapan mau menyajikan servis demikian bagi para lelaki tua. Bagaimana dia mendapatkan koleksi perempuan muda yang bahkan tidak dikenal identitasnya bagi Eguci tua. Dia membayangkan masa depan para gadis ini, akan seperti apa, akan berkelakuan bagaimana dan segala hal mengingatkan banyak hal tentang perempuan-perempuan lain yang pernah melayaninya.

Terutama tentang kehidupan. Bagi seorang lelaki tua yang sudah tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan. Eguci tua cukup memikirkan banyak hal dalam kehidupannya. Yang diwakili dari rentetan bayangan-bayangan pada masa lalunya bersama para geisha dan perempuan yang pernah ditemuinya di klab malam. Hingga, terakhir, sebelum dia meminta pil tidur kembali, dia memikirkan Ibunya.

Sosok Ibu yang membuat Eguci Tua terguncang. Bagai seorang anak yang memiliki berkarung-karung kerinduan pada sang Ibu dan mengingikan pertemuan dengannya hingga bisa kembali menghirup udara yang sama dengan sang Ibu. Seolah itu adalah perhentian terakhir dalam kehidupannya. Dan Eguci tua terombang-ambing bersama bayangan tentang sosok Ibunya.


***


Pendapat saya sama seperti di akun Goodreads. Bahwasannya saya tidak mendapati sesuatu yang WAH pada cerita ini. Tapi entah kenapa, karya ini, bahkan hingga saat ini saya menuliskannya, masih lekat di dalam ingatan dan hati saya. Beberapa pengulangan ketika Eguci ditemani nyanyian alam berhalusinasi kemudian berpikir tentang kehidupan.

Betapa sebenarnya menyedihkan sekali bagi seseorang yang telah kehilangan semangat mudanya. Hingga ingatan tentang The Perfect Moment To Die, mengingatkan saya kembali pada harapan hidup dan betapa sulit bagi mereka para orang tua yang sudah benar-benar sepuh, untuk melanjutkan kehidupan. Dimana Zaman yang mereka tempati ini berbeda dengan yang mereka kenali dulu. Sedangkan semangat mereka telah memudar namun kehidupan di sekeliling mereka terlampau cepat hingga rasanya tak mampu kaki-kaki lemah mereka mengejarnya.

Sama seperti Eguci tua yang terpanggil setiap kenangannya dari tidur dengan gadis perawan. Saya pun terpanggil kenangan saya, meski bukan dari tidur bersama gadis karena saya lebih menyukai pria, tapi dari tidur bersama buku-buku yang sudah pernah saya baca. Seperti saat ini, ingatan saya kemudian tertuju pada sosok tua yang menjadi ayah dari ayah saya.

Dia kupanggil Kakek, yang kini sudah menginjak usia 70 tahun. Dia tak lagi betah tinggal bersama anak-anaknya, namun kerap merindukan kehadiran dan keramaian mereka. Dia tak lagi bisa menyesuaikan diri dengan dunia yang sudah begitu cepatnya hingga membuatnya kerap merasa kelelahan dan tak mampu melanjutkan kehidupan. Dia pula yang sering mengatakan padaku, keinginannya untuk segera mati namun kenapa Tuhan tak membuatnya mati? Yang kemudian membawaku pada rasa rindu teramat. Membuat mataku basah oleh cairan yang entah ini kunamakan kerinduan atau kesedihan atau justru rasa kasihan? Yang kemudian membuatku tak ingin berhenti berdoa untuknya. 

Dan semoga pembaca tidak berpikir yang bukan-bukan, hanya karena seorang lelaki tua berkeinginan untuk mati. Karena, sesungguhnya menjalani hari tua bukan hal yang ringan. Jika saja semua orang tidak langsung berpikiran buruk tentang orang-orang yang merindukan kematian daripada kehidupan dan orang-orang di sekitarnya, mungkin akan banyak para orang tua yang menyeritakan betapa mereka terkadang lelah untuk terus menerus menyusahkan orang lain. Mereka terkadang lelah untuk terus menerus menjadi tak berdaya. Semoga saja orang-orang yang berpikiran buruk terhadap para orang tua ini berkurang, alih-alih mereka menjadi sosok yang mendoakan kebaikan untuk mereka.

Sial betul Kawabata, membuat saya terseret-seret dengan pemikiran lelaki tua ini, seolah saya tengah mendengar kembali gaungan suara Kakek yang berkali-kali meminta agar kehidupannya disudahi saja karena kelelahan yang luar biasa. Ah, Kakek, sungguh saya masih membutuhkanmu ;). And those tears won't stop dropping.

10 January 2018

The Casual Vacancy : Perebutan Kursi Kosong Dan Kisah Keseharian Warga Pagford






Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru saja menginjak 40 tahun. Kepalanya sempat terasa sakit saat dia baru saja mengirimkan artikel ke sebuah surat kabar. Kemudian mengajak istrinya untuk makan malam bersama. Pasalnya, sejak dirinya menjabat menjadi anggota dewan di Pagford, tentunya waktu bersama dengan istri dan anak-anaknya harus rela terkuras demi warga di Pagford. Barry merupakan seseorang yang berjuang demi keberlangsungan hidup orang-orang di Fields.

Sementara itu, kematiannya yang mendadak akibat penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarganya yang lain. Menjadi bahan perbincangan yang cukup lama di antara warga Pagford. Ada beberapa orang yang bersedih seperti Marry - istrinya, anak-anaknya, Gavin sang asistennya di tempat Barry bekerja, hingga Krystal Weedon seorang anak perempuan yang lahir dan tinggal di Fields.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Casual Vacancy
Penulis : J.K Rowling
Halaman : 596
Cetakan I, November 2012
Versi : Buku Hardcover
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Penerbit Qanita (Imprint Mizan Pustaka)
ISBN : 978.6029.2256.86
Rating : 5/5


***

Kisah dalam novel The Casual Vacancy ini terbentuk dari cerita kehidupan sehari-hari warga Pagford dan Fields. Benar-benar kehidupan mereka sehari-hari, dari mereka bangun tidur hingga kemudian malam menjelang. Semua mengisi bagian-bagian dalam cerita hingga tampak seperti puzzle yang kemudian menjadikannya satu cerita utuh yang berbentuk novel.


Casual Vacancy / Kekosongan Jabatan Dianggap Terjadi :
(a) ketika seorang anggota dewan tidak bisa hadir untuk menerima pelantikan jabatannya dalam kurun waktu yang sudah ditentukan; atau(b) ketika surat pengunduran dirinya disetujui; atau(c) ketika ia meninggal dunia...
Charles Arnold - BakerLocal Council Administration,Edisi Ketujuh


Barry Fairbrother, seorang lelaki yang penyayang, lucu dan mudah menempatkan dirinya di antara orang-orang yang berada di Pagford. Project yang baru saja dia selesaikan adalah membuat tim dayung di sekolah yang terletak di pinggiran Kota Yarvil, St. Thomas. Hal yang membuat tim ini berbeda yaitu keberadaan Krystal Weedon, seorang anak yang lahir dan tinggal di Fields, dengan kondisi seorang Ibu yang tengah menjalani rehabilitasi narkoba. Namun, keyakinannya akan perubahan di masa mendatang bagi Pagfords dan Fields ini membawa pertentangan tersendiri bagi beberapa warga yang tinggal di Pagford.


Pagford merupakan daerah yang bersinar dengan kebajikan moral, pemandangan yang indah disertai bukit-bukit kecil yang mengelilingi rumah-rumah mungil, terdapat sungai yang mengalir deras dan pepohonan yang berjajar dengan rapi. Menampilkan siluet megah sebuah biara yang berada di atas bukit. Pemandangan ini disesuaikan juga dengan perilaku setiap warganya yang harus tampak terhormat serta anak-anak mereka yang terdidik.

Sementara itu Fields, merupakan mimpi buruk bagi banyak orang, dimana dapat ditemui jendela-jendela yang tertutup tripleks serta penuh dengan coretan kata-kata jorok. Anak-anak yang tidak bersekolah dan nongkrong sambil merokok. Tidak hanya itu, banyak dari mereka yang adiksi terhadap narkoba hingga free sex. Lingkungan di Fields dikenal sebagai daerah kumuh yang diisi dengan anak-anak berandalan.

Asisten Barry, Gavin, yang mengurus banyak hal paska kematiannya. Dari mengurus surat-surat hukum hingga surat kematiannya sampai pemakamannya. Gavin juga dengan rela menemani Marry dan memastikan agar wanita itu mendapat cukup makan dan minum tanpa melupakan dirinya sendiri. Wajar saja, Marry adalah istri dari sahabatnya yang tengah berduka, sehingga membuat Gavin merasa harus menemaninya. Meski dirinya harus bertengkar dengan Kay - pacarnya - setiap hari hanya karena dia tak lagi sempat menemui pacarnya itu.

Sedangkan Kay, seorang petugas dinas sosial yang akhirnya harus menangani kasus keluarga Weedon karena Robie berkali-kali tidak masuk sekolah. Satu hal yang harus dia lakukan adalah mengunjungi rumah tersebut dan memastikan bahwa Terri tidak menyakiti Robie dan juga tidak sedang menggunakan heroin lagi. Meski kemudian faktanya, Terri ditemui oleh Kay dalam keadaan mabuk. Padahal dia merupakan pasien pusat rehabilitasi pengobatan bagi para pecandu narkoba.

Fakta selanjutnya adalah Terri merupakan ibu dari Krystal Weedon yang satu sekolah dengan anaknya - Galia. Dimana Krystal-lah yang mengurus adiknya selama ini, karena Terri kerap tertangkap masih menggunakan narkoba. Kasih sayang Krystal pada Robie memang sangat besar, bahkan dia sangat menjaga Robbie agar tidak terkena damprat Terri ketika ibunya itu sedang dalam kondisi 'ngefly'.

Hal yang sering membangkitkan amarah Krystal adalah Terri masih saja menerima penitipan barang dari Obbie dengan bayaran sebungkus heroin. Jika ibunya masih terus-terusan seperti ini, peluang Terri merawat Robbie akan hilang. Tidak hanya itu, kemungkinan besar, ibunya itu akan dikeluarkan dari pusat rehabilitasi yang gratis untuk warga Fields. Dimana pembiayaan dari pusat rehabilitasi ini merupakan hasil dari kontribusi warga Pagfords.

Di sekolah St. Thomas, ada banyak anak-anak lain yang memiliki permasalahan sendiri-sendiri khas anak remaja. Seperti Andrew Price yang mengalami jatuh cinta pertama kali pada Galia, namun dia berusaha menyembunyikannya. Sementara kehidupannya di rumah juga tidak nyaman dan tentram karena sang Ayah kerap kali memukulnya bahkan mengancamnya. Tidak pernah dia temukan sang Ayah berbicara dan bersikap ramah pada Andrew, juga pada istrinya Ruth Price. Kehidupannya yang seperti ini membuat Andrew menghabiskan banyak waktu di luar rumah bersama dengan sahabatnya : Fats.

Fats merupakan anak kepala sekolah St. Thomas, dimana Ibunya juga bekerja di sekolah tersebut sebagai Guru Konsul. Setiap hari dia akan berangkat bersama dengan kedua orangtuanya. Sering dirinya mendapati teman-teman lainnya menggoda dengan makian yang kerap dibalasnya tanpa ampun hingga mereka tidak dapat membalasnya lagi. Namun, perilaku Fats yang tak dapat diterima oleh Andrew adalah Fats sering mem-bully Sukhvinder, bahkan melabelinya dengan Gadis Berkumis.

Kenakalan Fats sebagai bentuk protes dari kehidupannya yang harus selalu menuruti peraturan dan perintah dari sang Ayah. Apalagi kedua orangtuanya memiliki status yang sangat disegani di sekolah dan di tempat tinggal mereka. Inilah sebabnya Fats mencoba untuk terus berbuat nakal demi merasakan kehidupan yang berbeda, hingga memutuskan menggoda Krystal Weedon.

***

Tema terbesar dari buku The Casual Vacancy ini sudah bisa ditebak, dimana kondisi warganya berebut untuk mengajukan diri sebagai pengganti Barry usai kematiannya. Namun, di luar dari perebutan ini, ada banyak karakter yang mengisi cerita melalui kehidupan mereka sehari-hari. Tidak hanya terfokus tentang mereka yang ingin mengganti posisi Barry, tapi juga setiap penduduk Pagfords dan Fields yang menjadi satu kesatuan cerita.

Meski saya merasakan kesulitan untuk masuk ke dalam cerita saat mencapai bab-bab awal hingga pertengahan. Karena perkenalan banyak tokohnya sampai hal-hal apa yang identik dengan mereka hingga watak mereka, semua berkaitan satu sama lain dan cukup menguras tenaga untuk mengingatnya agar tidak bingung saat mencapai bagian akhir. Juga karena terlalu lambat alurnya, sempat saya dilanda kebosanan mendadak selama membaca novel ini. Tapi, ceritanya yang tidak bisa ditebak sampai twist yang menarik membuat saya tetap menyukai novel ini.

Pada akhirnya, kemudian saya berusaha mencari beberapa buku karya Rowling, selain Harry Potter, untuk saya baca. Kebetulan, saya masih belum memiliki keinginan untuk membaca serial Harry Potter. Jadi, saya memutuskan membaca karyanya yang lain saja untuk berkenalan, siapa tahu setelah ini jadi berhasrat untuk membaca Harry Potter.


07 January 2018

Heartbreak Formula : Kisah Mereka Yang Memutuskan Untuk Mengakhiri Hidup


Heartbreak Formula



Masih segar dalam ingatan saya, ketika berita tentang orang yang mengakhiri hidup muncul di kanal sosial. Mendadak, banyak orang yang langsung menjadi pemuka agama dan menasihati agar tidak seperti si fulan dan fulanah. Atau saat ada seseorang yang menyeritakan kehidupan mereka yang sangat sulit dan berusaha untuk berjuang agar tetap hidup, kemudian disindir beramai-ramai tanpa ampun bahkan tidak jarang banyak dari mereka yang mem-bully, namun ketika ditegur mereka menganggap bahwa itu adalah tindakan yang benar.

Bullying sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi tindakan yang baik apalagi benar. Bullying tidak akan pernah baik meski dibalut dengan nasihat apalagi dengan memasukkan unsur agama. Bullying dalam bentuk apapun merupakan tindakan yang tercela. Meski itu ditujukan untuk membuat orang tersebut jera, karena tentunya perbuatan tercela lebih baik ditegur dengan cara yang baik, bukan dengan cara tercela seperti bullying.


Tidak banyak orang yang menyadari, seberapa sering mereka menyakiti hati orang lain, seberapa mudahnya mereka meminta maaf, seberapa entengnya mereka menganggap remeh permasalahan orang lain. Bahkan, banyak yang tidak menyadari dan bahkan bangga bahwa mereka tidak pernah membully, padahal kerap kali ditemukan bukti tindakan tersebut. Ini sebuah contoh perilaku manusia yang sering menimbulkan banyaknya orang memutuskan untuk bunuh diri.

Pertanyaannya, apakah mereka sudah yakin benar-benar bersih dari jalinan kesalahan yang membuat orang memutuskan untuk mengakhiri hidup? Jangan-jangan, Anda pernah sekali dua, mengatakan sesuatu yang mungkin menjadi pencetus seseorang mengakhiri hidupnya tanpa Anda sadari.

Novel yang saya baca di awal tahun 2018 ini, berkisah tentang remaja-remaja yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka, dengan permasalahan yang mereka miliki masing-masing. Issue ini dijelaskan oleh Mpur Chan - sang penulis - sebagai pengingat betapa banyak orang yang berjuang demi kehidupan mereka dan sebagai pengingat meski dirasa sulit hidup yang dijalani namun tetaplah berusaha berjuang untuk tetap hidup dan menjalaninya.


"Suicide Doesn't Kill People. Sadness Kills People." ~ Anonymous



Kartu Tanda Baca

Judul : Heartbreak Formula
Penulis : Mpur Chan (IG @Mpurchan )
Halaman : 292
Cetakan Pertama, Desember 2017
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Haru Media
Rating : 3.5/5
ISBN : 978.6026.3833.72

Sebuah Pengantar Dari Buku Heteronomia Dan Pentas Kota Raya



Saya akan sedikit membubuhi ulasan buku Heartbreak Formula dengan kedua buku karya Fuad Hassan. Sedikit tentangnya, Fuad Hasan adalah seorang guru besar di bidang Psikologi, beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1985-1993. Tulisan-tulisan karyanya sudah banyak dibukukan, ada tiga buku yang sudah saya baca yaitu Pentas Kota Raya, Heteronomia dan Studium Generale.

Pada essai bertema Pengaruh Teknologi Pada Kemanusiaan, sesuai dengan salah satu faktor yang muncul dalam novel Heartbreak Formula yaitu New Media akan internet. Menurut Jasper, teknologi bukan saja telah menelan manusia dalam proses berlarut yang rutin dan monoton, tetapi juga telah mengakibatkan dehumanisasi terhadap manusia sendiri meskipun manusia pulalah yang mengembangkan teknologi itu.

Dikutip dari buku Heteronomia halaman 18, Betapapun paradoksal kedengarannya, kenyataan-kenyataan dalam abad terakhir ini sudah juga membuktikan bahwa teknologi adalah suatu kekuatan - suatu kratos - yang tidak semata-mata produktif dan konstruktif cirinya, melainkan juga destruktif, baik materiil maupun spirituil. Teknologi yang dikembangkan untuk mengatasi sejumlah masalah agar akhirnya kehidupan manusia ini menemukan modus baru yang lebih serasi dan mantap, akhirnya membuktikan bahwa ia pun mampu menggoncang tata hidup itu beserta nilai-nilainya yang semula diunggulkan.

Teknologi terbukti menjadi sebuah alasan manusia mengalami keterasingan, pada masyarakat tradisional adalah hal yang lazim mengatur diri mereka atas pola hubungan antarpribadi yang lebih mempertimbangkan faktor manusia sebagai pribadi alih-alih sebagai oknum. Dari kehidupan masyarakat tradisional ini bisa dilihat perbandingannya dengan masyarakat modern yang haus akan teknologi yang menggantikan posisi hubungan mereka yang menggunakan teknologi sebagai elemen pengganti eksistensi manusia.


Tanpa sadar manusia modern berangsur-angsur menghadapi kenyataan hidup baru yaitu menyempitnya penghayatan ruang dan waktu. Ini berarti teknologi telah menciptakan suatu ruang hidup dan tempo hidup yang radikal berbeda dengan apa yang kita hayati dalam kehidupan masyarakat tradisional. Dari pengaruh ini didapati pula bahwasannya manusia urban yang telah dipacu oleh kondisi modern hampir kehilangan kesempatan untuk menikmati alam sekitarnya dan lebih terbawa oleh arus kehidupan yang mekanistis dan tidak memberikan peluang untuk kontemplasi.

Kondisi kemanusiaan dewasa ini - justru oleh kemajuan teknologi - telah demikian rupa derajatnya sehingga, tanpa kita sadari, banyak di antara kita sudah menjadi bergantung sekali kepada perpanjangan-perpanjangan artifisial, yang pada gilirannya kian memperluas jarak antara kita dan apa yang alamiah. Pemanjaan dalam berbagai bentuk yang telah dimungkinkan oleh perpanjangan-perpanjangan artifisial itu telah membuat kita makin fragile untuk menyelenggarakan interaksi dengan alam kita. Tidak dapat diingkari pula bahwa perpanjangan-perpanjangan termaksud dihasilkan oleh teknologi [Hal 24].

Dalam buku Pentas Kota Raya di halaman 6-7 menggambarkan kehidupan pada masyarakat urban dan menggesernya nilai-nilai kehidupan ini juga berpengaruh pada hadirnya kesenjangan yang menganga antarlapisan dan antarkalangan dalam masyarakat. Kesenjangan itu begitu rupa sehingga akan sulit memperkecilnya, jangankan mengatasinya. Berbagai kesenjangan yang melekat tidak saja diragakan secara fisik, melainkan juga secara mental. Karena begitu terbiasa dengan hal ini, maka kepekaan semakin menumpul dan nurani semakin kurang berbicara, dan bersama itu sambung rasa dalam kehidupan bersama pun semakin melonggar. Kepedulian dan kesetiakawanan sosial telah sirna tanpa menggema.

Ada kalimat penutup dari essai berjudul Adegan Dari Pentas Ibu Kota yang sangat sesuai dengan keadaan di seluruh kota di dunia. Yang membuat saya selalu kagum karena beliau menulis essai ini jauh sebelum perangkat pintar menjadi hal yang lebih berharga bagi hidup. Pada halaman 23 - 24 dituliskan bahwa Orang harus tahu kiatnya mengatasi kejenuhan dan kejemuan, juga kesanggupan untuk menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan. Kalau tidak, dia akan dilanda oleh frustasi berkepanjangan. Mengeluh pun tidak ada gunanya karena tidak gampang menemukan mitra yang sungguh-sungguh mau menampung keluhannya, apalagi memahaminya.

Ini sebagai refleksi sebuah alasan yang sebenarnya banyak dialami oleh para korban yang mengakhiri hidup mereka. Sulitnya menemukan mitra yang sungguh-sungguh mau menampung dan memahami keluhan. Beruntunglah mereka yang tidak pernah mengalami kesulitan menemukan orang yang bisa diajak berbincang di kala sedih. Namun, perlu diketahui, bahwa perasaan ingin mengakhiri hidup itu adalah NYATA. Dan sudah semestinya mereka yang beruntung ini, bukan menjadi Tuhan yang memutuskan hubungan karena mereka tak layak ditemani, tapi menjadi sesama manusia yang minimal tidak menyakiti apalagi berkata sembarangan jika tidak mampu untuk membantu.



Sebuah Formula Yang Dapat Menghapus Memori Spesifik Pada Manusia



Cerita fiksi ini memang cukup menarik, karena mengangkat tema bunuh diri sebagai pendukung cerita. Itulah kenapa saya tidak ingin menyia-nyiakannya dengan memberikan pengantar dari beberapa buku yang sudah saya baca mengenai bunuh diri. Sayangnya, buku psikopatologi bunuh diri tidak saya sertakan di sini, karena nanti akan terlalu panjang dan menjadi tidak fokus pada buku yang ingin saya ceritakan ini.

12 orang remaja dikumpulkan dalam satu ruangan di Zanson Survival Shelter, mereka semua memiliki persamaan : tersedot oleh rasa patah hati yang menggiring mereka untuk mengakhiri hidup. Tiap-tiap remaja yang mengikuti program uji coba formula baru ini, sudah bersiap untuk melupakan ingatan masa lalu mereka yang buruk, mereka berharap dapat menjalani kehidupan yang baru dimana mereka terlepas dari beban ingatan buruk masa lalu.

Jangan salah, bentuk Heartbreak di sini bukan sekadar cinta ala pacaran. Tapi lebih dari itu, seperti Summer yang harus ditinggal oleh sang Ayah tanpa alasan apalagi perpisahan secara langsung. Suatu hari usai sekolah, dia sama sekali tidak menemui Ayahnya menjemputnya, sehingga dia harus pulang berjalan kaki kemudian sang Ibu mengatakan kalau dia tak akan bertemu dengan Ayahnya lagi.

Tidak sampai di situ, Summer juga harus mengalami kondisi sang Ibu yang tenggelam dengan pekerjaannya demi menyembunyikan kesedihannya. Terkadang dia melihat Ibunya menangis sambil meminum bir. Komunikasi yang terjadi hanya sebatas pesan-pesan yang ditinggalkan sang Ibu di atas kertas yang ditempelkan di pintu kulkas. Kemudian, sahabat masa kecilnya - Harry - perlahan menjauh hingga dia tidak lagi memiliki seseorang yang bisa mendengarkan apa yang dia ingin ceritakan dan apa yang dia alami selama ini.

Atau seperti June, yang harus menyaksikan kekerasan yang dilakukan oleh sang Ayah terhadap Ibunya hingga sang Ibu meninggal. Namun, ketika fakta itu terkuak, justru tidak banyak orang yang memercayainya dan June harus tetap berdiri sendiri di tengah bisikan orang tentangnya dan tentang Ibunya, dimana dia merasa sangat sendiri dan ingin menyusul sang Ibu.

Formula Oldivelo ini terfokus pada jaringan sel yang terdapat di Hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan kenangan. Formula ini menutup jalur simpanan memori, bahkan membuat memori itu hilang. Jalur aliran biokimia yang mempertahankan memori, ditutup. Formula ini hampir sama dengan obat yang digunakan pada terapi pasien trauma kecelakaan, namun formula ini dapat menghapus memori spesifik. ~ Hal 267


Sebelum mendapatkan formula tersebut, setiap pasien yang berada di Zanson diberikan simulasi terhadap kondisi mereka. Ini untuk menentukan dosis yang tepat bagi mereka, meski hasil dari formula ini tidak sepenuhnya sama. Dalam artian, ada dua formula yang bahkan tidak diketahui oleh pihak Zanson apakah formula tersebut merupakan Oldivelo atau cairan Placebo. Hasil yang akan membuktikan disertai proses panjang yang cukup melelahkan bagi banyak pasien.

Beberapa simulasi yang diberikan oleh pasien direkam hasilnya melalui Sitbrain, sebuah alat yang akan membantu para dokter, psikolog, neuron dan orang-orang yang berada di balik penelitian ini demi merekam kinerja otak dan pikiran para pasien. Ini juga agar mengetahui apa-apa saja yang menjadi pencetus timbulnya keinginan bunuh diri serta memori apa saja yang ternyata buruk bagi mereka.



Novel Lokal Sci-Fic Dengan Rasa Berbeda



Ini kali pertamanya saya mencicipi novel yang ditulis oleh penulis Indonesia bernuansa science-fiction dengan tokoh dan latar cerita di Luar Negeri tepatnya di New York. Cukup memuaskan, terutama segi penokohan yang lumayan konsisten dari awal hingga akhir. Kemudian, jalan cerita yang tidak hanya sekadar menjadikan issue bunuh diri dan penemuan sebagai balutan saja, tapi juga menjadi bagian dari cerita hingga akhir.

Saya suka novel ini, meski saya memberikan nilai tiga, tapi bukan berarti novel ini jelek. Bukan. Karena novel ini memiliki cerita yang berbeda dari biasanya sehingga patut dibaca sendiri dan merasakan pengalaman mengikuti cerita dari awal hingga akhir. Karena pengalaman membaca itulah yang nantinya akan memberikan efek tersendiri bagi pembaca.

Selain itu, saya juga menyukai karakter-karakter dalam penokohan yang begitu kuat, dengan ciri-ciri yang lebih digambarkan melalui narasi yang detil, sehingga mampu membangun imajinasi yang baik dari tokoh tersebut, alih-alih sekadar mengatakan bahwa si A depresi, Mpurchan justru mengemasnya dengan sebuah kondisi secara langsung sehingga indera perasa pembaca distimulasi.

Kekurangan yang saya rasakan di sini adalah tokoh-tokoh penunjang yang merupakan pasien-pasien lainnya masih kurang dieksplorasi. Seperti kehidupan mereka, bagaimana perjuangan mereka hingga memiliki satu hal yaitu HARAPAN untuk bisa menjalani kehidupan yang berbeda. Seperti apa bentuk rasa sakit yang mereka alami, bagaimana kondisi mereka ketika sesuatu tercetus dan apakah mendatangkan histeria dari mereka atau tidak. Kalau itu digali lagi, kemungkinan pembaca akan menemukan motivasi yang sangat kuat sehingga formula ini menjadi jalan keluar yang masuk akal demi menyembuhkan luka mereka.

Meski mungkin Mpur Chan ingin menekankan bahwa masa lalu yang buruk itu sesuatu yang menjadikan kita saat ini. Atau segala hal tentang mengenal diri sendiri dan menerima diri kita apa adanya. Namun, saya tetap berharap proses di sini, termasuk bagaimana mereka menemukan jati diri mereka, bagaimana mereka deal with kondisi dan masa lalu mereka, dituliskan juga. Sehingga pembaca yang tengah mengalami kehidupan yang sulit, mungkin akan berpikir "Eh saya juga mengalami hal ini" kemudian setelah selesai siapa tahu mereka akan berpikir "Mungkin, saya harus mencoba untuk tetap bertahan esok hari, esoknya lagi dan lagi."

Jadi, novel ini bisa memberikan sebuah nuansa yang baru bagi pembacanya. Seperti banyak orang yang tergugah ketika membaca novel The Catcher in the Rye atau saat banyak orang bersemangat. Seperti novel The Bell Jar yang cukup detil dalam menyematkan proses penyembuhan mereka yang hendak bunuh diri. Siapa tahu Mpur Chan hendak menulis novel lain dengan tema yang sama, bisa mengambil rekomendasi dari novel-novel klasik.

***

Bagi kalian yang ingin mengetahui lagi tentang novel ini, bisa eksplorasi di Instagram dengan hashtag #HeartbreakFormula . Di sana banyak para bookstagramer Indonesia yang sudah menulis ulasannya di akun mereka. Tidak hanya itu, di akun @PenerbitHaru juga sudah diunggah sebagian halaman pada bab awal untuk dibaca, setidaknya sebagai perkenalan dengan gaya bahasa Mpur Chan. [Ipeh Alena]

Selamat membaca, salam literasi.


Wordcount : 1929

06 January 2018

The Storied Life of A.J Fikry - Kisah Hidup A.J Fikry





Memangnya siapa sih A.J Fikry itu? Sampai-sampai kisahnya dituliskan oleh Zevin ke dalam sebuah buku yang kemudian menjadi sangat terkenal dan banyak dibaca oleh pembaca di mancanegara. Meski beberapa banyak yang mengatakan kalau buku ini berkisah tentang buku, tapi kenapa judulnya justru nama orang?

Saya sempat bertanya-tanya mengenai hal tersebut hingga bertanya pada “Google” tentang siapa sebenarnya A.J Fikry. Saya pikir dia adalah sosok atau tokoh masa lampau yang kisah hidupnya dibalut dengan fiksi. Tapi, nyatanya, A.J Fikry adalah seorang A.J Fikry. Sosok pria yang jauh dari kata romantisme ala Romeo dan Juliet. Mudah tersinggung dan perilakunya sangat jauh dari kata PERFECT untuk ukuran tokoh utama.

Namun, kesempurnaannya itu adalah ketidaksempurnaannya. A.J seorang penjual buku yang mencintai buku. Dia merasa sudah terlalu tua untuk memulai segalanya kembali terutama dalam hal cinta. Seorang penjual buku yang sering menyodorkan buku-buku rekomendasinya untuk para pengunjung, seorang penjual buku yang bahkan bisa membantu para pengunjungnya mencari buku tertentu hanya berdasarkan plot cerita. Seorang penjual buku yang bahkan menghapal judul buku dan penulisnya sampai alur kisahnya sambil dikaitkan dengan kehidupan nyatanya.

Sebagai seseorang yang juga membaca buku - saya tidak berani mendeklarasikan diri saya sebagai pembaca buku sejati karena saya tidak ada apa-apanya dibandingkan A.J  - kehadiran seseorang yang mampu menanggapi lawan bicaranya dalam diskusi buku, itu adalah kenikmatan yang tiada tara. Meski terkadang selera dalam membaca bisa menjadikan jurang pemisah, tapi saya percaya bahwa memiliki kesamaan saat berbincang dengan lawan bicara, merupakan hal yang menyenangkan.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Storied Life Of A.J Fikry
Penulis : Gabrielle Zevin
Halaman : 277
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rating : 5/5
ISBN : 9786020375816

***

Menurut pengalaman Amelia, kebanyakan masalah orang akan terselesaikan seandainya mereka mau memberi kesempatan bagi lebih banyak hal. ~ Hal 17


Sebagai seorang marketer sebuah penerbit, Amelia memang dituntut untuk mengetahui isi buku-buku yang akan ditawarkan ke beberapa penjual buku. Tentunya, ini menjadikan Amelia selalu menyukai buku-buku debut, baginya ini sebagai usaha untuk memberikan kesempatan bagi buku tersebut untuk dikenal oleh banyak pembaca.

Seperti The Late Bloomer, yang nantinya akan menjadi sebuah penghubung dirinya dengan sosok lain, yang merupakan memoar kehidupan lelaki berusia lanjut tentang cinta yang dialami olehnya. Meski bagi A.J, kisah tentang duda ini tidak membuatnya tertarik.

Bagaimana bisa tertarik, sementara A.J baru saja kehilangan istrinya - Nic - dan berusaha untuk mengurus toko bukunya serta berusaha untuk tetap hidup. Moodnya A.J memang selalu buruk, dia selalu sinis bahkan cenderung tidak ramah, jika dipandang oleh banyak orang. Kalau kata Daneil Parish, Pak Tua Yang Malang, demikian dia memberikan label kepada A.J.

Jika Amelia senang memberikan kesempatan bagi karya-karya baru untuk bisa mendapat posisi diketahui oleh para pembacanya. Berbanding terbalik dengan A.J, yang sangat teramat menyukai sastra. Baginya, sastra itu harus sepenuhnya sastra. A.J tidak menyukai buku anak - terutama jika tokohnya yatim piatu, juga tidak begitu menyukai novel yang kurang dari 150 halaman dan juga lebih tebal dari 400 halaman, dirinya juga muak dengan novel-novel tentang selebritis, tokoh politik sampai atlet yang menurutnya banyak ditulis oleh Ghost Writer.

Ada satu hal yang merupakan sebuah kesamaan bagi saya dengna A.J, kami sama-sama tidak menyukai sampul poster film. Namun, lebih dari itu, A.J bahkan tidak menyukai buku debut, chicklit, puisi atau terjemahan. Bahkan cenderung tidak menyukai buku-buku berseri. Tapi, ada satu yang sangat disukai oleh A.J yaitu Kumpulan Cerpen.


***


Kerapiannya terasa aneh, namun bukan tidak pernah terjadi sebelumnya. Saat mabuk pun ia rapi. ~ Hal 33


Saat Amelia tidak sengaja menyandung tumpukan buku yang kemudian menjadikannya berantakan, lalu Amy berusaha untuk menyusunnya kembali, justru A.J menolak dengan mengatakan bahwa buku-buku tersebut disusun berdasarkan peraturan tertentu. Peraturan yang memang dibuat khusus oleh A.J demi kerapian buku-buku di tokonya. Terdengar sangat menyenangkan, meski sayang Zevin tidak menjelaskan metode seperti apa yang digunakan oleh A.J dalam menyusun buku-bukunya.

Pengetahuannya akan sebuah buku membawa A.J untuk mendapatkan satu buku yang bernilai sangat mahal, yaitu Tamerlane. Buku yang saya pun baru mengetahuinya, merupakan buku karya E.A Poe yang ditulis saat masih muda dan diterbitkan dengan sangat terbatas. Buku tersebut sangat teramat bernilai, sampai-sampai A.J menyimpannya di sebuah lemari kaca.

Namun, suatu malam sebuah misteri terjadi, Tamerlane menghilang tanpa jejak dan bukti yang bisa membantu kepolisian mencari jejaknya. Kehilangan Tamerlane membuat A.J akhirnya terpaksa untuk terus bekerja dan bekerja, menyibukkan diri demi mengisi tabungannya. Dia selalu mengasihani dirinya sebagai Pria tua yang miskin. Hingga suatu malam, sebuah kejadian yang mendadak dialami olehnya.

Seorang anak kecil berusia dua tahun, ditinggalkan di dalam toko buku miliknya dengan sepucuk surat bahwa Sang Ibu menginginkan anaknya tinggal di antara buku-buku. Kejadiannya begitu mendadak, tidak ada sesuatu yang mampu membuat pembaca menduga akan kehadiran sosok gadis kecil yang lucu dan berkulit hitam ini.

Kehilangan Tamerlane namun kedatangan sosok kecil bernama Maya, membuat A.J berurusan dengan Kepala Kepolisian yang bernama Lambiase. Hubungannya di kemudian hari berubah menjadi semakin dekat dan semakin dekat. Ada banyak hal yang berubah dalam diri Lambiase dengan kehidupannya di Pulau kecil Alish.


***

Dari seribu kelas bahasa Inggris SMA ketika ia gagal menuntaskan bacaan wajib minimum… ~ Hal 37



Saya lumayan tertarik dengan bacaan wajib minimum yang membuat saya bertanya-tanya apakah ini merupakan hal yang benar atau hanya sekadar karangan Zevin. Meski hal ini kemudian membawa saya pada satu hal, dimana teman di Instagram saya adalah seorang guru bahasa Inggris. Dia sering membagikan sebuah kertas kerja yang berisi bantuan bagi murid-murid di sekolah dasar dalam memahami bacaan.

Sedikit informasi yang saya dapat, karena saya jarang bertanya pada mereka secara langsung. Para guru-guru ini juga membuat murid-murid mereka membaca novel-novel klasik kemudian menuliskan ulasannya dengan bantuan form yang dibagikan oleh guru mereka. Bahkan pada grade 4 atau 5, anak-anak tersebut sudah diberi tugas untuk membagikan pendapatnya serta ulasannya di depan kelas. Dan tentunya bacaan mereka merupakan buku-buku klasik.

Gerakan seperti ini, tentunya berarti bagi perkembangan tingkat literasi di setiap negara. Mengingatkan saya pada masyarakat Indonesia yang sudah mulai digalakan pengenalan dan kegiatan literasi di sekolah-sekolah. Bahkan di beberapa fasilitas umum yang saya temui di Bekasi, memberikan satu tempat sebagai pojok bacaan. Semoga dengan gerakan seperti ini, tingkat literasi masyarakat Indonesia berkembang dengan baik.


***

Ia pembaca, dan yang ia percayai adalah konstruksi naratif. Jika sepucuk pistol muncul di babak pertama, sebaiknya pistol tersebut ditembakkan di babak ketiga. ~ Hal 63


Demikianlah sosok A.J, yang memang seorang pembaca sejati. Kenapa saya menuliskan demikian? Karena beberapa kali saya mendapati, A.J sering mengaitkan kejadian dalam kehidupan nyatanya dengan beberapa karya yang sudah dibaca olehnya. Ingatannya tentang buku dan cerita sangat baik, meski tidak lebih baik dari Amy.

Namun, cukup untuk membuat saya merasa tak pantas untuk menyebut diri saya seorang pembaca buku sejati. Karena saya bahkan sering lupa dengan nama-nama tokoh, judul buku, alur cerita sampai kutipan-kutipannya. Semua itu bercampur-aduk dalam otak saya. Pun demikian di sahkan oleh karakter Marvel - Doctor Strange - dalam filmnya dimana dia bahkan mampu mengingat isi buku yang dibacanya.

Karena sering membaca dan merekomendasikan buku bagi para pengunjung tokonya, Lambiase yang bahkan tidak senang membaca akhirnya kembali menyukai kegiatan ini. Sesuatu yang baik, bukan? Mengajak orang lain untuk ikut membaca buku meski selera Lambiase dan A.J bertolak belakang. Tapi, hal yang unik adalah bahkan Lambiase membuat sebuah Klub Buku yang berisi para petugas kepolisian.

Apalagi yang dibaca oleh mereka, kalau bukan novel-novel yang bertema pembunuhan dan misteri serta detektif. Selain perkumpulan para petugas polisi yang menghabiskan waktu beberapa kali untuk berkumpul dan membahas novel yang sudah dibaca mereka bersama. Lucunya, pernah terjadi sebuah pertengkaran yang menyebabkan salah satu anggota Klub Buku tersebut mengacungkan pistol karena bentrok dengan pendapat temannya.

Bagi saya itu lucu, membayangkan mereka bersitegang hanya karena membahas sebuah buku. Meski saya juga pernah menyaksikan betapa sering perbedaan pendapat ini menjadi sebuah awal pemicu pertengkaran. Tidak aneh, bukan?

Selain membuat Lambiase menyukai kegiatan membaca, pada kenyataannya A.J menggunakan pengaruhnya pada gadis kecil yang lucu bernama Maya. A.J sering diminta untuk membacakan buku untuknya, hingga membangkitkan keinginan A.J untuk menambah koleksi buku anak-anak demi Maya. Dari kebiasaannya mendongeng, menjadikan Maya pandai dalam memilih buku, apalagi dia menghabiskan waktunya di toko buku tersebut.

Gadis cilik itu pun mampu membuat ulasan sejak dirinya masih belum mampu menulis apalagi membaca. Tapi, kebiasaan mendongeng yang dilakukan A.J justru membantunya mengenal huruf demi huruf hingga suatu ketika, Maya berhasil menunjukkan pada A.J susunan huruf merah : me-ra-h dari buku yang sedang dibaca.

***

Tapi sampul adalah anak tiri berambut merah pada penerbitan buku. Kami menyalahkannya untuk segala hal. ~ Hal 100




Dialog Amy dan A.J yang membahas tentang kaitan penjualan buku dengan sampul buku. Bagi saya pribadi yang memang sering merasa terjebak melihat sampul buku yang cantik namun isinya tak menarik atau sebaliknya, isi buku sangat teramat bagus namun sampul bukunya cukup aneh sehingga membuat saya merasa ini cukup tidak adil.

Bagaimana pun, saat ini dunia penerbitan tengah mengupayakan agar buku-buku yang terbit mendapat posisi yang bagus dengan isi yang seimbang melalui sampul buku yang didesain dengan baik. Simak saja perbincangan Amy dan A.J yang membahas sebuah buku dengan narasi yang baik, sebuah memoar sastra yang spektakular bagi Amy dengan caranya yang sederhana sambil membahas sampul bukunya yang sungguh tidak cantik apalagi menarik.


***

Kompetisi semacam ini tidak pernah adil. Orang menyukai apa yang mereka sukai dan itu bagus sekaligus buruk. Ini berkaitan dengan selera pribadi dan beberapa orang tertentu pada hari tertentu. ~ Hal 208


Saya menyukai penjabaran A.J dalam melihat bagaimana kompetisi itu bahkan sering memenangkan sebuah karya yang sesuai dengan selera. Siapa yang mampu menghakimi selera orang lain? Sejak beberapa tahun yang lalu, saya mulai menyadari bahwa sebelumnya saya sering memberikan penilaian pada orang-orang yang hanya membaca genre tertentu.

Dari pengalaman tersebut, akhirnya saya mengubah cara saya akan hal ini. Agar tidak menjadi orang yang mudah menilai apalagi menganggap remeh orang yang menyukai buku-buku tertentu atau genre tertentu. Toh, menghakimi selera orang tidak akan pernah adil.

Sejak bertemu dengan Maya, A.J memang mengalami perubahan, demikian pula dengan seleranya yang sebelumnya hanya mau membaca karya sastra kemudian membuka matanya dengan karya-karya lain. Itu pun sejak dia ingin merekomendasikan banyak buku untuk Maya yang berarti dia harus membacanya.

Pada pembuka saya mengatakan tentang ulasan yang berisi opini A.J terhadap buku yang dibacanya. Dan ulasan-ulasan ini tersemat pada tiap-tiap akhir bab, sehingga pembaca mungkin mendapat rekomendasi buku-buku yang judulnya belum pernah dibaca.

***

Maya, novel memang memiliki pesona tersendiri, namun ciptaan paling elegan dalam jagat prosa adalah cerpen. Kuasai cerpen dan kau akan menguasai dunia. ~ Hal 258


Ada banyak hal yang diceritakan dalam buku berisi 277 halaman, baik itu tentang penjualan buku, penerbitan, penulis sampai menulis. Rangkaian kegiatan tentang membaca dan menulis ada dalam buku ini. Konsep-konsep pengaruh digital pada penjualan buku juga diwakilkan melalui sudut pandang A.J. Namun juga pendapat-pendapat tokoh lain cukup menarik perhatian.

Nasib A.J dan kisah di balik sosok Maya, hingga tokoh-tokoh lainnya seperti Lambiase, Ismay, Daniel Parish sampai Amelia, semua saling berkaitan dan membentuk cerita yang membekas. Menarik dan sederhana, meski di beberapa bagian saya mendapati keanehan terutama perubahan dari flashback ke masa kini, rasanya terlalu kasar. Sehingga saya sempat merasa bingung.

Masih banyak hal menarik lainnya dalam buku ini yang bisa ditemukan saat membaca. Tentunya sudah banyak yang memberikan pernyataan terkait buku ini, bisa dilihat di Goodreads. Saya menyukai banyak hal dalam novel ini, walaupun pada awal-awal membacanya, saya sedikit kesulitan untuk masuk ke dalam cerita. Tapi, menjelang pertengahan ceritanya cukup mudah dinikmati.

Dari kisah A.J ini saya jadi semangat untuk menulis beragam opini atau rangkuman tentang buku yang telah saya baca. Agar nantinya bisa menjadi oleh-oleh bagi anak dan cucu saya di masa mendatang. Semacam sebuah pendapat bagi anak-cucu saya dalam memilih bacaan. Ah, tapi ini hanya semacam keinginan yang mungkin sementara usai membaca buku ini. Begitulah. [Ipeh Alena]