18 December 2017

#BacaDoubleABarengInari : Sebuah Novel Tentang Menggapai Mimpi Dan Persahabatan

Novel Double A


Belakangan ini saya mulai tertarik dengan novel-novel yang diterbitkan oleh Penerbit Inari. Beberapa dari novel tersebut sudah pernah dipublikasikan di Wattpad. Nah, saya sendiri jarang membaca melalui wattpad, meski saya tidak masalah membaca novel melalui gadget. Namun, memang sering menemukan kendala yang masih saya takutkan : membaca karya yang membuat saya malas untuk melanjutkannya.

Kali ini, saya ingin menulis sedikit tentang Novel Double A yang merupakan karya dari Iolana Ivanka, kalian bisa mengunjungi IGnya di @iolanaivanka , sebuah novel yang berkisah tentang tokoh bernama Anna yang harus berpura-pura menjadi pacar sahabatnya - Tiara - hanya karena Tiara takut hubungannya dengan Adrian Bramantio ketawan oleh kedua orangtuanya.

Cerita yang mainstream itu memang banyak, bahkan novelis populer atau legendaris juga sering menjadikan tema utama cerita mereka yang terlalu umum. Nah, perbedaannya adalah apakah sang penulis akan menyematkan sesuatu yang berbeda sehingga pembaca tidak hanya sekadar mengikuti kisah yang bahkan sudah bisa ditebak melalui blurb atau ide ceritanya. Tapi, mendapat sesuatu yang lain sebagai pengalaman membacanya.


Kartu Tanda Buku

Judul : Double A || Penulis : Iolana Ivanka || Halaman : 328 || Layout Sampul : @teguhra || Cetakan pertama, November 2017 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Penerbit Spring || Rating : 3/5 || ISBN : 9786026682109



Judge A Book By Its Cover


Saya tahu, tidaklah bijak jika saya menghakimi sebuah buku apalagi menilai bagus atau tidaknya hanya berdasarkan dari covernya. Saya mengerti, seperti buku-buku terbitan Pustaka Jaya tempo dulu, yang memang tidak menarik dari penampakannya namun memiliki isi yang bobotnya sangat baik untuk vitamin otak agar tidak memiliki kecenderungan negatif.

Namun, belakangan ini, di Indonesia, sudah marak penerbit yang sadar bahwa sampul buku yang bagus akan menambah nilai dari buku tersebut. Meski memang, sudah menjadi kewajiban bagi seorang pembaca buku untuk melihat secara keseluruhan, bukan hanya sedikit. Seperti novel terbitan Penerbit Inari yang mewakili isi dari novel.

Kalian mungkin pernah mendengar istilah Keyword atau kata kunci. Dalam dunia blogging hal ini juga sangat berlaku. Namun, ternyata dalam dunia gambar atau ilustrasi, keyword juga berlaku untuk menunjukkan tentang apa isi cerita tersebut. Saya suka dengan cover buku ini yang benar-benar merepresentasikan tema secara keseluruhan cerita. Ada kertas, pensil, berita dan penampakan dua pelajar dari belakang.

Jadi kaitan dari ceritanya apa? Kertas, pensil hingga tampilan berita itu merupakan satu bagian dalam cerita, sebuah komunitas yang berdiri sendiri dan terlepas dari kegiatan ekstrakurikurer sekolah. Komunitas Jurnalis Sekolah Cakrawala. Kenapa mereka berdiri sendiri? Ini ditujukan agar sekolah tak memiliki hak untuk campur-tangan dalam segala aktivitas di komunitas tersebut.

Sementara dua pelajar yang tertangkap dalam berita, merupakan tokoh-tokoh yang akan menjalin cerita dan segala kerumitannya dalam novel ini. Masa akhir sekolah yang memang harus dinikmati dengan baik agar nantinya menjadi kenangan tak terlupakan. Seperti kutipan lagu S07 "Bersenang-senanglah, karena hari ini yang akan kita rindukan."




Komunitas Jurnalis Masa Kini


Sebuah komunitas sudah semestinya memang membantu menggerakkan massa untuk melakukan sesuatu yang positif. Dengan pengaruh yang dimiliki oleh komunitas jurnalis di SMA Cakrawala, Gretha berhasil menarik minat banyak siswa dan siswi yang bukan saja bersekolah di SMA Cakrawala tapi juga di luar sekolah tersebut. Apalagi kalau bukan minat akan berita heboh yang tidak jauh-jauh dari gosip dan segala hal yang sensasional.

Pada mulanya, berita tersebut membuat Tiara panik. Dirinya dan Adrian - pacarnya - tertangkap basah oleh salah satu anggota tim jurnalis sedang jalan berdua. Pasalnya, hubungan keduanya ini backstreet dari orangtua Tiara, terutama Ibunya yang merupakan guru di sekolah yang sama dengannya. Alhasil, demi menyelamatkan dirinya dan nama baiknya, Tiara memerintahkan Anna untuk mau berpura-pura menjadi pacarnya Adrian.




Meski enggan, akhirnya Adrian memilih pasrah dengan ide gila Tiara. Karena jauh di dalam hatinya, dia hanya ingin hubungan keduanya tidak lagi sembunyi-sembunyi, namun bisa diketahui dengan cara yang baik oleh kedua orangtua Tiara. Juga, kekesalan yang akhirnya dipendam oleh Adrian bertambah ketika menyadari Anna - sahabatnya Tiara - justru setuju saja dengan ide ini.

Selama membaca novel ini, saya justru melihat adanya kaitan dengan eksistensi berita pada masa kini. Dimana berita yang banyak digemari dan disukai adalah berita yang tidak jauh dari berita omong kosong, hoax, berita yang tanpa memiliki penelitian apalagi analisa yang kuat dan berita tentang affair seseorang.

Tidak dapat dipungkiri kalau hal-hal demikian memang menjadi santapan yang manis bagi pembaca masa kini (bukan masa gitu). Apalagi kalau dibalut dengan trik-trik seperti Judul yang click bait, pemilihan kata pembuka yang menampar, meski isi secara keseluruhan kosong tidak berbobot. Namun, memang berita demikian justru marak dinikmati.



Bagaimana Menyikapi Bullying



Anna, mungkin seperti banyak anak-anak atau remaja lain, yang memilih untuk diam ketika tindakan bullying mengincarnya. Di sini, saya tidak akan menyalahkan apalagi memaki korban bullying, tapi justru terkadang untuk stand up apalagi berani speak up terhadap masalah yang tengah dihadapi, bukan sesuatu yang mudah. Melawan tindakan bullying memang butuh perjuangan dan sangat butuh dukungan, hanya saja bagaimana jika dukungan itu tidak didapat oleh korban?

Menilik kembali banyaknya kasus bullying yang bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Bahwa kasus ini bukan hal yang mudah untuk sekadar diucapkan. Terlebih jika korban tidak memiliki dukungan yang cukup untuk berani bertindak.




Di sini Anna menghadapi bullying akibat berita yang beredar dengan luas. Pada mulanya, dia berpikir bahwa berita tersebut perlahan akan berhenti. Namun, siapa sangka kalau karena berita yang bahkan tidak mencantumkan kebenaran di dalamnya, membuat Anna harus menerima perlakuan tidak adil dari teman-temannya. Anna sempat dijegal oleh beberapa murid di kantin, belum lagi, cemooh teman-temannya yang alih-alih mencari tahu kebenaran tapi justru melebih-lebihkan berita.

Sikap Anna memang lazim ditemui di banyak kasus bullying. Namun, apa yang Adrian lakukan dengan berani berdiri untuk membela patut diberi pujian. Karena dalam artikel tersebut mengikutsertakan bukan hanya Anna tapi juga Adrian, hal yang lumrah ketika Adrian akhirnya nekat menemui Gretha dan meminta pertanggung-jawaban dari sang jurnalis ternama seantero sekolah itu.


"Yang pertama, apa komunitas jurnalis kasih tahu apa alasan kami tinggal bareng? Nggak. Kenapa? Karena mereka juga nggak tahu apa alesannya. Yang kedua, apa komunitas jurnalis berusaha buat cari tahu alasannya? Nggak. Kenapa? Karena yang mereka pikirin itu cuma keeksisan web mereka aja. Harusnya komunitas kayak gitu bisa jadi wadah positif buat orang-orang yang mau terjun di dunia hiburan. Seharusnya komunitas jurnalis itu ada buat mengungkap kebenaran, kan?

"Sama sekali enggak ada secuil pun alesan yang diselipin di artikel itu."

- Double A Hal 213

Dari tokoh Adrian, bisa ditelusuri lagi, bahwa stand up demi diri sendiri terhadap fitnah apalagi bullying dengan data dan analisa yang tepat, merupakan bentuk dari perlawanan. Siapapun berhak untuk membela diri sendiri apalagi membela orang yang sudah kita yakini benar. Namun harus disertai pula dengan analisa, data dan informasi yang konkrit dan aktual. Bukan hanya sekadar 'katanya' dan sekadar amarah serta caci maki saja.



Jatuh Cinta Bukan Alasan Untuk Tidak Mengejar Cita-cita



Mau itu persahabatan apalagi percintaan, sudah semestinya memang jangan membuat kita pribadi menjadi berhenti untuk mengejar impian. Tentunya, terkadang impian yang kita miliki bisa tak sama lagi dengan saat kita jomblo - misalnya. Tapi, jangan juga dijadikan alasan, karena mikirin si dia, malah membuat nilai merosot.

Ini terjadi pada Tiara, salah satu tokoh yang membuat saya kesal bukan main. Saking kesalnya rasanya ingin menelan biji kedondong! Eh.

Tiara dan Anna memang berbeda, nilai Tiara di sekolah biasa-biasa saja. Namun, semenjak pacaran dengan Adrian, nilainya merosot tajam hingga kurang dari nilai standar. Apa sebabnya? Selama berpacaran dengan Adrian, Tiara malah sibuk untuk mengobrol dengannya setiap waktu. Bahkan dia pernah menelpon hingga larut malam. Ketika Adrian mencoba untuk membuat jadual belajar bareng dengan Tiara, alih-alih belajar, justru berakhir jalan-jalan atau sekadar hangout berdua.

Waktu untuk Tiara belajar justru semakin sedikit. Inilah yang membuat Tiara akhirnya harus menghadapi omelan orangtuanya karena kemerosotan nilai sekolah. Berbeda dengan Anna yang rajin dan tekun belajar. Sehingga nilai-nilainya selalu membanggakan. Itu karena Anna memiliki mimpi dan dengan gigih memperjuangkannya.

Ada beberapa konflik yang disodorkan pada tokoh-tokoh di dalam novel ini, berkenaan dengan cita-cita dan masa depan mereka. Seperti dalam kehidupan, ada yang memanfaatkan kesempatan meski sedikit untuk meraih impian dan cita-cita. Ada juga yang kemudian menyesal karena kurang totalitas dalam berusaha. Demikian pula, dengan kisah Anna yang akhirnya mampu meraih apa yang diimpikan. Eits, jangan pesimis, di sini kalian akan tahu seberapa besar perjuangan Anna dalam berusaha.


"Orang yang pintar bisa kalah sama orang yang tekun. Orang yang tekun juga bisa kalah sama orang yang beruntung. Lo bisa jadi orang yang tekun atau orang yang beruntung itu. If you give up, you will regret it forever, Dri. Nggak ada salahnya buat mencoba, kan?" - Double A, Hal 265



Kisah Hubungan Orangtua Dengan Anak



Ini adalah tema yang membuat saya lemah. Entah itu film atau cerita, kalau sudah berdekatan dengan tema hubungan antara orangtua dan anak, sering membuat saya mudah emosional. Kalau pernah membaca novel karya penulis legendaris Charles Dickens, novel A Tale of Two Cities ini juga mengisahkan tentang hubungan tersebut.

Kalau dalam novel ini, ada tiga keluarga yang diperlihatkan, meski yang ditonjolkan adalah hubungan antara Anna dan Ayahnya. Karena Ibunya Anna meninggal ketika dia masih SMP, itu membuat keduanya dekat sekali. Mereka sering menghabiskan waktu dengan berlibur bersama ke pulau terpencil, atau mengunjungi makam Ibunya setiap hari ulangtahun sang Ibu. Sampai berbincang kala sarapan atau makan malam.

Kedekatan ini menjadi siksaan ketika sang Ayah ditugaskan ke Makassar selama setahun. Perpisahan, meski sebentar, bukan hal yang menyenangkan apalagi jika kita sudah terbiasa bersama dengan orang yang kita sayangi satu-satunya di dunia ini. Sedih, setiap mendapati bagian Anna yang merindukan Ayahnya. Meski keluarga Adrian - Om Hari dan Tate Risa serta Lilian adiknya Adrian - semua menyayangi Anna seperti mereka menyayangi anak mereka sendiri. Namun, tetap saja ada perbedaan yang membuatnya lebih merindukan waktu-waktu bersama sang Ayah.

Sementara satu keluarga lainnya yaitu kedua orangtua Tiara, yang sedikit digambarkan sebagai sepasang suami istri yang tidak bangga dengan nilai anaknya. Sering membandingkan Tiara dengan Anna, sehingga membuat Tiara yang egoisnya minta ampun, akhirnya semakin bertambah iri dengan Anna, meski mereka berdua bersahabat. Baik Tiara dan Anna memang sama-sama anak tunggal, namun keduanya memiliki sifat dan karakter yang sangat jauh berbeda.


***

Saya memberikan tiga bintang untuk novel ini. Satu untuk karakter yang konsisten, seperti Tiara yang sampai ending pun tetap menyebalkan dan keras kepala. Juga untuk karakter Anna yang meski ada beberapa kali bagian yang membuat saya mengernyitkan dahi, namun saya suka ketika dirinya masih terus keras dalam berjuang meraih impian. Bintang kedua untuk bumbu cerita dengan konflik yang lumayan, tidak langsung seketika selesai, tapi tetap disuguhi konflik kecil menjelang bagian akhir tapi diselesaikan dengan baik. Dan Bintang ketiga saya berikan untuk emosi karakter dan konflik internal yang digali dengan baik.

Jadi, kalau suka dengan novel-novel ringan yang berkisah tentang persahabatan dan jatuh cinta masa-masa sekolah. Saya sudah memberikan pertimbangan di atas, melalui apa-apa saja yang menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini. Saya tidak berlebihan dalam menilai, tapi berdasarkan pengalaman membaca saya saja. Toh, selama ini saya bersyukur karena Penerbit Inari dan jajaran penulisnya, sangat terbuka meski saya menuliskan beberapa keberatan dalam ulasan.

Dan kalau ditanya kenapa saya tidak memberikan keberatan tersebut? Karena keberatan ini, berkaitan dengan selera, sehingga bagi saya tidak cukup bagus untuk ditampilkan. Selain itu, saya memilih menuliskannya bukan secara ulasan atau rangkuman utuh cerita di dalam novel ini, karena sebenarnya dari blurbnya saja kalian sudah bisa menebak. Namun, saya berikan beberapa poin di atas, sebagai sesuatu yang menjadikan novel ini memiliki rasa berbeda dari biasanya.


Selamat membaca, salam literasi.



17 December 2017

Pontius Pilatus's Wife : Claudia Procula Istri Pilatus


Pilatus Wife


Pontius Pilatus, seorang pria yang dalam catatan sejarah merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Yesus. Fakta terkait ini juga tertulis di dalam Alkitab, dimana sempat dicatat oleh beberapa review-er di Goodreads, tertulis di Mat. 27 : 24-25. Saya mengutipnya juga karena memang tidak begitu mengetahui perihal ini. Sehingga ini mendatangkan rasa keingintahuan yang besar pada diri saya.

Di dalam buku ini, Antoinette May tidak mengisahkan tentang Yeshua, melainkan menceritakan sejarah dari kacamata Claudia, istri dari Pontius Pilatus yang ternyata memiliki kelebihan untuk melihat masa depan. Pada masanya, dia dianggap sebagai seorang penyihir, bahkan ketika mimpi serta penglihatannya dikenal oleh masyarakat luas saat pertandingan Gladiator. Saat itulah dia dianggap sebagai wanita yang tidak boleh dianggap remeh.

Membaca buku Sejarah-Fiksi seperti ini, justru menyenangkan, karena mengajak saya mengenal berbagai tragedi yang pernah terjadi pada masa Romawi berjaya. Juga, mengenalkan kepada saya betapa banyaknya Dewa dan Dewi yang disembah oleh masyarakat pada masa itu. Tidak hanya ketika Claudia berada di Monokos, sebuah desa di dekat pantai Mediterania. Tapi juga ketika dia berpindah tempat ke Antiokhia hingga ke Roma dan Galiea.

Saat usianya masih teramat muda, dia mulai memiliki keinginan dan ketertarikan pada Dewi Isis. Dimana pada saat itu, bahkan Ibunya menganggap hal itu tidak menarik dan aneh! Ibunya menyembah Juno, meski dahulu pernah menyembah Isis. Karena Tata - ayahnya - sangat membenci Isis. 

Buku ini berisi 4 bagian yang dipisah kembali menjadi bab-bab pemisah yang menandakan suatu kejadian tertentu. Sehingga kita akan dengan mudah mengingat bagian-bagian dalam kepingan sejarah yang saling berkaitan satu sama lain. Selain itu dengan balutan fiksi, tentunya sejarah yang dipaparkan di sini tidak akan membuat bosan.


Kartu Tanda Buku

Judul : Pilate's Wife (Istri Pilatus) || Penulis : Antoinette May || Halaman : 540 || Alih Bahasa : Ingrid Dwijani || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama : Rating : 4/5 || Terbit : Juli 2011 || ISBN : 978.979.22.7204.8



Tentang Claudia Remaja Dan Perkenalannya Dengan Isis



Sejak kecil, Claudia memang sudah berbeda dengan Marchel - kakaknya - dalam hal apapun. Apalagi dia memiliki kelebihan yang sering menghampirinya. Pada halaman 19, digambarkan bagaimana terkadang penglihatannya itu membuatnya takut, Aku ingat sedikit, dan paham lebih sedikit lagi, tapi selalu terbangun dengan perasaan ngeri akan adanya bahaya yang mendekat. Frekuensi dan intensitas penglihatan pada malam hari ini meningkat sehingga aku takut tidur, lalu memaksakan diri berbaring  sambil terjaga sampai larut malam.

Dalam runut kehidupannya, diceritakan juga bagaimana Marchella - kakaknya - yang kemudian menjadi seorang gadis yang gemar bermain-main dengan pria. Dan suatu ketika, Claudia melihat penglihatan tentang kakaknya yang tak dapat ia gambarkan lagi. Sesuatu tentang kakaknya yang semestinya bisa dihalau, namun apa daya, semua terlambat dan Marcella harus mendapat hukuman yang setimpal. Yaitu menjadi Perawan Vesta.

Kehidupan semestinya berjalan, demikian pula dengan Claudia yang lambat laun mulai tumbuh menjadi gadis yang cukup cantik. Dan untuk pertama kalinya, dia merasakan bagaimana terpesona dengan seorang lelaki dan berambisi untuk mendapatkannya. Di sinilah, Claudia bersedia untuk membayar apa saja yang pantas untuk mendapatkan Polantius Pilatus. Seorang lelaki yang juga memiliki ambisi pada karirnya serta senantiasa berada dekat dengan wanita yang kaya raya.

Isis Goddess


Pengenalan dirinya terhadap Dewi Isis, terjadi setelah Marcella menjadi Perawan Vesta. Penggambaran yang demikian detail oleh Antoinette May, membuat setiap ruangan dari kuil Isis seolah tampak di depan mata. Pada Bab 6, dimana di sini juga Claudia bertemu dengan seorang lelaki yang mengenalkan dirinya sebagai Yeshua untuk pertama kalinya. Seorang lelaki yang tampak bisa melihat ke dalam diri Claudia. Dan saat melihat lelaki tersebut, Claudia juga melihat masa depan lelaki tersebut.

Penggambaran yang juga membuat buku ini tampak lebih indah karena narasinya yang detil, seperti saya kutip dari halaman 99 : Aku menatap instrumen itu tanpa berkata-kata. Bentuk oval yang indah. Aku terkejut melihat betapa secara alami benda itu pas di tanganku. Ketika pendeta wanita itu membalikkan tubuhku agar menghadap kerumunan orang, aku mulai mengguncangkan instrumen itu secara naluriah mengikuti irama, seakan sudah sering memainkannya. Saat itulah aku tahu, semua yang kucari menunggu di sini, di rumah Isis.

Penghambaannya pada Isis sangatlah setia, mesksi dia sempat berpaling kepada Dewa lain demi kesembuhannya. Namun, setiap kali dirinya menghadapi kesulitan, Claudia akan selalu kembali berdoa pada Isis. Meski oleh bangsa Romawi, Dewi Isis bukanlah sosok yang sepadan untuk disembah, diwakili oleh Pilatus di halaman 176, “...tapi obsesimu terhadap Isis adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Itu tidak pantas, tidak seperti orang Romawi. Siapa yang menyembah Isis, selain kelompok orang asing pikun?

Kenapa orang Romawi tidak menyukai Dewi Isis? Semua berawal dari sebuah peristiwa yang berhubungan dengan Cleopatra. Seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya yang memabuk-kan hingga banyak pria yang rela berjuang untuk mendapatkannya. Pada masa itu, seorang wanita yang membuat seorang pria tunduk padanya, merupakan sesuatu yang salah, memalukan. Apalagi ketika digambarkan saat Cleopatra duduk di tandunya dan sang lelaki berjalan, merupakan sebuah tindakan yang menjatuhkan martabat kaum pria.

Namun, bagi para pemeluknya, Dewi Isis merupakan Dewi yang lebih pemaaf, sosoknya diyakini tidak akan mengubah siapapun menjadi apapun. Ini terkait sebuah legenda bahwa Diana mengubah para pria menjadi rusa jika mereka bertindak terlalu bebas. Dan dari pernyataan Rachel - budak khusus Claudia - bahwasannya pengikut Dewi Isis adalah para pemimpi. Itulah kenapa Claudia merasa sudah demikian menyatu dengan sang Dewi.

Dalam buku ini, tidak hanya seputar Dewi Isis yang menjadi sosok tuhan bagi para penyembahnya. Tapi dikenalkan juga dengan para Dewa dan Dewi lainnya, seperti yang dituturkan Ibunya Claudia pada halaman 89 sebagai contohnya : “Diana, ia perawan dan itu sungguh tak apa-apa ketika seorang masih mudah. Kemudian Venus yang baik hati. Pada tahun-tahun belakangan ini, Juno sangat kucintai. Ia melindungi rumah kita. Juno Dewi perkawinan.


Egypt Goddess



Akulah yang pertama dan terakhir
Akulah yang dihormati dan dicaci
Akulah pelacur dan orang suci



Pada bab-bab berikutnya di bagian lainnya. Ketika Claudia mulai bergantung pada Isis, dimulai ketika dia mendatangi pendeta Isis dan meminta pertolongan agar diberi sebuah amalan untuk mengikat hati seorang pria. Pria itu memang tak lain adalah Pilatus, yang membuat Claudia sangat berambisi untuk memilikinya. Meski sang pendeta sudah mengatakan bahwa Pilatus akan tetap bergantung pada Claudia dan akan selalu kembali padanya dengan cara yang berbeda.

Namun, semakin hari semakin Claudia merasa lelah dengan segala usahanya untuk membuat Pilatus menjadi miliknya. Hingga suatu ketika Claudia berhenti memercayai Isisi dan menganggap bahwa usahanya hanya sia-sia saja. Dan pada suatu ketika, Isis kembali memanggilnya dan membuatnya kembali menjadi Claudia yang penuh percaya diri dan berbeda. Hingga membiarkan dirinya menjauh dari Pilatus dan kehidupannya.



Antara Claudia Dan Pilatus Dan Kisah Cinta Mereka



Ketika seorang gadis baru mulai mengenal apa itu terpesona pada seorang pria. Tentunya itu bisa menjadikan malam-malam mereka senantiasa memimpikan apa yang membuat mereka berbunga-bunga. Betul, Claudia memang sempat meminta pada sang pendeta untuk bisa selalu bersama dengan Pilatus. Dan semua itu terwujud dalam sebuah pernikahan yang membuat kehidupannya berubah.

Sejak awal, rasa cinta Claudia pada Pilatus memang tampak menjadi sebuah obsesi yang berlebihan. Hingga dia merasa tak mampu lagi menahan rasa kecewanya ketika Pilatus sering menghabiskan waktu dalam pemerintahan. Hingga suatu ketika, dia mendengar tentang sang suami yang memiliki banyak perempuan selain Claudia.

Di sinilah, kemudian Claudia mulai merasa menyerah dan lelah. Dan kehadiran Holtan di saat yang tak terduga, ketika air matanya mulai tak mampu dibendung, mengubah alur kehidupannya meski sedikit. Dan yang paling hebat adalah ketika dia mulai memanggil Isis sebagai sesembahannya. Saat dirinya terancam. Dan setelah itu, Claudia kembali tegar berdiri dengan kakinya sendiri. Melawan segala rasa sedih dan pedihnya akibat sang suami yang tak bisa dimiliki secara penuh.

Pada bagian inilah, saya mulai merasa kesal terutama pada bagian ketika sang pendeta mengatakan bahwa, “suamimu akan selalu kembali padamu.” Justru setelah dia usai bersama dengan perempuan lain. Bahkan dijelaskan pula ketika Claudia sempat kehilangan calon bayi lelakinya pada usia 5 bulan. Kemudian akhirnya melahirkan bayi perempuan, dimana bertepatan dengan lahirnya bayi lelaki Pilatus dari rahim seorang pelacur.

Di sinilah yang membuat saya merasa cukup emosional. Meski anak lelaki tersebut akhirnya meninggal dan tersisa hanyalah anak perempuan dari Claudia, tapi tetap saja saya merasa seperti menaiki roler coster yang masuk ke dalam gua yang menyesatkan, ahahaha. 

Seolah menjadi sebuah dendam yang tanpa sadar tumbuh dengan subur dalam diri Claudia. Hatinya untuk Pilatus memang sudah tak bersisa, terlebih ketika dia mengetahui seorang pelacur bernama Titania mengandung anak Pilatus. Sejak itulah dia tak lagi menginginkan berada dekat dengannya. Bahkan ketika anak pertamanya meninggal, Claudia pernah pergi dari rumah untuk mendedikasikan dirinya di kuil bersama pendeta lainnya.

Dari rasa kecewa dan sakit hati yang tertanam tanpa sadar dalam lubuk hatinya, tumbuh subur pula sebuah perasaan yang didapat dari perhatian orang lain : Holtan. Pertemuan selanjutnya yang tak terduga, membawa Claudia pada kehidupan yang selalu diimpikan olehnya. Sebuah kisah cinta yang akhirnya disadari olehnya merupakan sesuatu yang tanpa sarat. Meski hubungan keduanya akan berakhir dengan hukuman yang berat.

Perselingkuhan memang menjadi bumbu yang ditaburkan di beberapa bagian dalam buku ini. Bersama dengan peristiwa-peristiwa lain yang merupakan fakta-fakta sejarah dalam pemerintahan Romawi. Hingga kemudian saat keduanya harus berpisah setelah Lavia mengatur segalanya hingga Claudia serta Pilatus harus pindah ke sebuah tempat yang jauh.



***

Sesuai dengan judul dan tujuan buku ini diterbitkan. Yaitu mengenalkan sosok Claudia Procula, istri Pilatus, yang bisa melihat masa depan. Sehingga, jika eksplorasi sejarah terutama pada bagian ketika Yeshua dihukum, menjadi sebuah pro dan kontra. Karena itulah, jika Anda ingin membaca buku ini, dan mengetahui bagaimana keragaman para review-er di Goodreads dalam menilai dan menuliskan pertimbangan-pertimbangan. Mungkin akan membuat bertambah penasaran. Karena demikian dengan saya yang memutuskan membaca buku ini setelah melihat serunya pro dan kontra terhadap sejarah dan fiksi yang dituangkan May dalam buku ini. 



07 December 2017

Sebuah Tempat Bernama Whicwood Dan Kisah Laylee Sang Mordeshoor


Whicwood Book Review



Setelah menghabiskan beberapa hari membaca novel Whichwood karya Tahereh Mafi, akhirnya hari ini saya berhasil menyelesaikannya juga. Di tengah kegalauan karena waktu yang hampir sedikit untuk membaca serta keinginan untuk bisa membaca lebih banyak lagi buku-buku, terutama untuk membabat timbunan.

Pada mulanya, novel yang covernya sangat cantik ini, saya pikir berkisah tentang percintaan seperti genre Young-Adult pada umumnya. Tapi, ini berbeda, dari pemilihan tokohnya saja sudah memiliki pekerjaan yang unik. Usia tokoh-tokoh di dalamnya sekitar 13 / 14 tahun. Nuansa dark, sendu dan lumayan sedih menghiasi cerita dalam novel yang ingin saya miliki bentuk hardcovernya.

Saya membaca novel ini melalui Google Play Book, dengan mendapat diskon 70% saat membelinya, membuat saya tidak lagi berpikir dua kali. Dan ketika pertama kali masuk ke dalam Bab Pertama, saya seperti tersedot ke dalam dunia dimana setiap penduduknya memiliki kekuatan magis, tempat yang tengah memasuki musim dingin, bernama Whichwood. Dan orang-orang yang tinggal di sini dikenal sebagai Whichwoodian.


Kartu Tanda Buku

Judul : Whichwood || Penulis : Tahereh Mafi || Halaman : 368 || Terbit : 14 Nov, 2017 || Language : English || Versi : Google Play Book || Penerbit : Penguin || Rating : 5/5 || ISBN : 9781101994818


Sebuah Kisah Tentang Gadis Yang Kesepian Dan Terasing Di Negeri Tempat Tinggalnya



Namanya Laylee, usianya sekitar 14 tahun, dia seorang anak yatim yang tinggal di sebuah kastil yang lumayan jauh dari kota. Di tempatnya berada hanya ada dua rumah yang berdekatan. Meski Laylee memiliki seorang ayah, tapi dia tidak mampu merasakan kasih sayang dari Baba (demikian dirinya menyebut sang ayah). Sejak Maman (ibunya) meninggal dunia, Baba seolah tidak peduli dengan keberadaan anaknya.

Dia seperti seorang yang kehilangan jati dirinya. Tatapan matanya kosong, bahkan sudah berhari-hari dia tidak pulang. Kadang, meskipun sang Baba ada di rumah, tapi karena dia sudah kehilangan semangat hidupnya, membuat keduanya seperti orang asing. Hingga Laylee bisa melewatkan beberapa hari tanpa berbicara sedikitpun, karena tidak tahu siapa yang bisa diajak berbicara, dan kesunyian akhirnya membuat dirinya semakin menutup diri.

Laylee bahkan lupa, kapan terakhir kalinya dirinya pergi ke sekolah. Terkadang, dia merindukan hal tersebut. Ini semua berakhir sejak Maman meninggal. Namun, sebenarnya, Maman tidak benar-benar pergi dari rumah mereka. Rohnya tetap berada di dalam rumah, bergentayangan setiap waktu, mengomel dan mengeluh serta memarahi Laylee setiap saat. Hanya ada satu tempat yang aman dari omelan Maman : Kamar Mandi. Meski sebenarnya Maman bisa menembus ruangan tersebut dengan mudah, tapi sang hantu justru masih memberikan privacy untuk Laylee setiap dia masuk ke kamar mandi. Di situlah dia sering menyendiri untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Sayangnya, hanya Laylee yang mampu melihat hantu. Baba hanya seorang lelaki biasa, yang jatuh cinta pada Maman saat melihatnya di pasar pertama kali. Kecantikan Maman yang menurun pada Laylee memang termasuk tipe cantik yang aneh, seolah tidak biasa, tapi tetap menyedot perhatian Baba. Dan dari keduanya inilah Laylee memiliki kekuatan yang tidak biasa, dia seorang Mordershoor dan bisa melihat serta mampu berbicara dengan hantu.

Karena Baba tidak bisa melihat hantu, akhirnya Laylee harus berpura-pura untuk bersikap biasa. Karena, dia sendiri paham, jika seorang gadis bisa berbicara dengan hantu dan berkomunikasi dengan makhluk halus, niscaya setiap orang akan memandangnya aneh. Bahkan kehidupan keluarga mereka pun tidak pernah dianggap oleh Whichwoodian yang lainnya. Mereka bahkan tidak peduli apakah Laylee sudah makan atau belum, apalagi dengan kabarnya. Sama sekali tidak pernah menanyakannya. Apalagi memedulikannya. Dia terasing di sebuah tempat yang seolah tidak menginginkannya.


She lived in a world where goodness had failed her, where darkness inhaled her, where those she loved had haunted and discarded her. There was no monster, no ghoul, no corpse in a grave that could hurt her the way humans had, and Laylee was afraid that tonight she’d made a most grievous mistake. ~ Pg 27


Membaca novel ini membuat saya ikut merasakan kesedihan dan kesendirian yang dirasakan Laylee. Bagaimana tidak? Hidupnya harus mendengarkan omelan dari Mamannya yang konon dipengaruhi oleh kebimbangan akan dunia yang berbeda dengan dunia sebelumnya. Belum lagi Baba-nya yang bahkan tidak peduli dengan Laylee, karena rasa cinta yang teramat besar untuk sang Maman. Tapi harus tetap bekerja, seorang diri, melanjutkan bisnis keluarga.

Jangan salah, di awal-awal bulan setelah kematian Maman, Laylee bahkan pernah kehabisan makanan karena Babanya pergi entah kemana. Sementara itu, untuk menghalau rasa laparnya, akhirnya Laylee memutuskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Sedih deh, saat narasi Tahereh Mafi menggambarkan tubuh Laylee yang kurus, wajahnya yang pucat digambarkan berwarna silver seperti di cover pada buku ini.

Dan, satu-satunya yang perhatian sama Laylee ini adalah para makhluk halus yang hendak menyebrang ke Otherwhere ini. Coba, bagaimana perasaan kita saat yang perhatian sama kita bukan manusia seperti kita, tapi justru makhluk halus? Sedih banget, deh.



Laylee Seorang Mordeshoor Yang Membantu Banyak Arwah Pergi Ke Otherwhere



Baiklah, apa sih sebenarnya Mordeshoor itu? Dia adalah seorang yang memiliki pekerjaan memandikan jenazah dan mengemas jenazah tersebut untuk dikirim ke Otherwhere. Dan menjadi Mordeshoor ini tidak sembarangan, karena pekerjaan ini hanya bisa diwariskan dari keturunan seorang Mordeshoor asli.

Karena, ada ritual-ritual khusus yang dilakukan seorang Mordeshoor yang membantu para arwah untuk memasuki dunia Otherwhere. Bahkan cara memandikannya juga tidak sembarangan, sementara di negeri ajaib lainnya, pemandian jenazah ini dilakukan oleh sihir yang otomatis tanpa harus menggunakan tenaga manusia.

Sayangnya, bagi Whichwoodian orang-orang terkasih yang telah mati, tidak membuat mereka memberikan perhatian lebih. Setelah dikirim ke Mordeshoor, mereka mengabaikannya seolah tidak pernah menjejak di dunia.


Why do we fear the dead? We are terrified to even visit the graves of our loved ones - why? Because superstition dictates that visiting our dead will only encourage their corpses to come back into our lives. Nonsense! ~ Pg 186



Itulah kenapa, mereka tidak pernah sekalipun berpikir untuk membantu Laylee dalam mengurus setiap jenazah yang datang ke rumahnya. Sama sekali. Bahkan ketika musim dingin tiba, dan dia tetap harus memandikan para jenazah tersebut. Karena kalau tidak akan berakibat buruk nantinya. Itulah kenapa Laylee menahan rasa sakit di tangannya karena air yang dingin, bahkan hampir membekukan jemarinya. Tapi, dengan sabar, dia mengurus para jenazah tersebut.



The ghosts of the freshly dead are always teriffied to cross over - they’d much rather cling to the human life they know. But a spirit can only exist in the human world when it’s wearing human skin. ~ Pg 17


Dalam novel ini, dijelaskan seperti apa ritual khusus para Mordeshoor ketika mengurus jenazah. Bahkan ketika Laylee kedatangan tamu istimewa yang membuat dua orang tersebut terkejut karena pekerjaan yang berat seperti itu harus dikerjakan sendiri. Dan keduanya pun tidak sanggup ketika harus mencabut kuku-kuku para jenazah tersebut untuk dikumpulkan dalam tempat khusus.

Memang cukup mencekam, itulah kenapa saya mengatakan kalau novel ini memiliki tema yang lumayan horor dan dark. Bahkan ada satu bagian tentang proses para hantu tersebut menyedot tubuh manusia di malam perayaan besar di Whicwood. Dan sayangnya, karena akibat inilah Laylee dijatuhi hukuman penjara!

Mengenaskan ya kan? Sudah yatim dan akan segera piatu, sendirian, kelaparan, tidak ada satupun orang yang menyayanginya, hanya berteman dengan para hantu, kemudian harus dipenjara karena sesuatu yang bahkan kalau dirunut kembali bukan kesalahan aslinya. Sedih, buku ini membuat sedih tapi dituturkan dengan cara mendongeng yang ringan. Tidak mendayu-dayu hingga mengorek dan memaksa pembaca untuk menangisi kesedihan dan rasa sakit Laylee.


Buku Pertama Karya Tahereh Mafi Yang Saya Baca



Sejujurnya, saya sendiri tidak begitu ingin memiliki ekspektasi apapun terhadap novel ini. Tahereh Mafi sendiri sudah dikenal oleh kalangan bookstagram melalui karya serialnya : Shatter Me dan Furthermore. Buku ini sebenarnya ada sedikit lanjutan dari kisah beberapa tokoh dari Furthermore tapi ceritanya tetap berdiri sendiri.

Saat kepo dengan sosok Tahereh Mafi melalui akun Instagram @TaherehMafi, akhirnya saya cukup terkejut. Dia adalah istri / pasangan dari penulis yang karyanya juga menjadi favorit saya : Ransom Rig. Yang merupakan penulis Peculiar Children! Ah, saya langsung berpikir, pantas saja keduanya memiliki kegemaran yang sama melalui karya Dark mereka.

Meski bobot horor di sini saya cukup tekankan, bukan berarti horor yang sama dengan Stephen King punya, tapi jika dibaca oleh anak-anak yang masih baru beranjak remaja, mungkin akan lumayan mencekam. Dan novel ini bebas dari adegan-adegan yang biasa didapat di genre YA pada umumnya.

Kalau kalian penasaran, novel ini cukup rekomen kok untuk dibaca, dengan gaya bercerita yang ringan tapi kisah di dalamnya bagus. Saya tidak akan melebih-lebihkan, karena memang novel ini masuk ke dalam daftar  buku favorit saya. [Ipeh Alena]

29 November 2017

A Sweet Mistake Novel Pemenang Gramedia Writing Project


A Sweet Mistake


Novel A Sweet Mistake karya Vevina Aisyahira ini menjadi novel ke-80 yang sudah saya baca. Menghabiskan waktu semalaman untuk menyelesaikannya bukan hal yang sulit, karena memang novel ini termasuk bacaan yang ringan. Juga merupakan novel kedua yang bertemakan pernikahan mendadak karena dianggap melakukan sesuatu yang dilarang, sementara novel pertama ditempati oleh Marry Me, Olivia.

Kalau di novel Marry Me, Olivia! keduanya merupakan sahabat yang tidak sengaja ketahuan tidur berdua, padahal enggak melakukan apa-apa. Sementara novel ini justru mempertemukan dua musuh bebuyutan yang saling membenci sejak mereka kecil sampai kuliah. Kok lucunya, mereka bisa satu kampus bareng, sampai-sampai rasanya sulit untuk tidak saling menyerang saat bertemu.

Rey dan Liona, keduanya bertetangga, rumahnya berdekatan. Kebencian yang tertanam dalam diri masing-masing sangat besar. Rey, yang sejak kecil selalu berusaha untuk membuat Liona menangis, ternyata tidak berhasil. Memang tidak memiliki alasan yang jelas mengapa tidak menyukai Liona. Demikian juga Liona, si gadis cantik berwajah datar, yang juga membenci Rey karena baginya cowok itu hanya menyia-nyiakan waktu selama kuliah.

Mahasiswa abadi, demikian label yang diberikan Liona pada Rey dan kawan-kawannya. Memang benar, keempat cowok yang memberikan label pada Liona sebagai cewek berwajah datar itu merupakan mahasiswa yang masih saja betah di kampus. Namun, saat pertemuan mereka di kantin, Rey memastikan bahwa dia akan bisa lulus bersamaan waktunya dengan Liona.


Kartu Tanda Baca

Judul : A sweet Mistake || Penulis : Vevina Aisyahra || Halaman : 248 || Versi : Paperback || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || Rating : 3/5 || ISBN : 9786020378343


A Sweet Mistake Sebuah Kesalahan Yang Manis


Benci jadi cinta. Sebuah kisah klasik yang memang masih enak untuk dinikmati sampai saat ini. Sepanjang membaca novel ini saya ditemani backsound Lagu I Hate You I Love You feat Olivia. Dengan alur utama tentang dua orang yang saling membenci tapi kemudian saling mencintai. Tapi, siapa sangka, keduanya justru saling menerima saat mereka menghabiskan malam bersama di atap yang sama.

Tapi, jangan keburu berpikir yang lain-lain dulu, karena keduanya masih menolak tidur di kamar yang sama. Jadi, masing-masing menempati kamar yang berbeda. Pernikahan keduanya juga dadakan, karena Rey ketawan terlihat masuk ke kamar Liona dan itu membuatnya harus pasrah menghadapi kenyataan.

Saya tidak bisa meneruskan menyeritakan bagaimana cerita ini berjalan, karena ada beberapa hal yang menggelitik hati saya selama membaca novel ini.


1. Pernikahan Yang Begitu Cepat


Saya sempat berpikir, wah, enak banget ya kalau dinikahinnya cepat seperti itu. Serius! Karena belajar dari pengalaman banyak orang, ketika mereka mempersiapkan pernikahan yang konon lebih cepat pun, tetap saja tidak bisa dikatakan cepat. Pun persiapannya bukan main repotnya. Itulah kenapa banyak penulis yang memilih untuk menjadikan pernikahan para tokohnya lebih cepat.

Sayangnya, saya berharap Vevina bisa eksplorasi masalah persiapan pernikahan, meski keduanya tidak ikut repot. Bisa belajar dari teman-teman sekitar atau justru tetangga di dekat tempat tinggal. Dengan begitu, pembaca bisa merasakan sebuah proses yang dengan gamblang dijelaskan. Atau belajar dari video pernikahan anaknya Pak Jokowi, mungkin. Jadi ada sesuatu yang menarik tentang kebudayaan yang diselipkan di dalamnya.


2. Kakek Yang Kaya Raya Dan Baik Hati

Maulah saya satu, model kakek yang seperti ini. Serius! Meski Rey dan Liona diberikan hadiah untuk menempati rumah terpisah, yaitu rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Kakek dan Nenek Rey, tetap saja saya merasa iri dengan Liona. Kau begitu beruntung, Liona! Karena harga rumah saat ini sangat mahal, terutama di sekitar Bekasi.

Selain itu, yang membuat saya tercengang adalah dengan baiknya sang Kakek menghadiahi cucu-mantu-nya ini mobil Brio. Aduh, saya jadi tambah mupeng, coba gitu Liona bisikin ke kakeknya, untuk kasih saya satu mobilnya. Hehehehe. Motivasi si Kakek memang jelas, dengan background beliau yang merupakan pengusaha properti yang sukses, juga senang memanjakan cucunya, jelas kalau Liona bisa kecipratan kasih sayang yang berlimpah. 


3. Kebencian Seorang Ayah Pada Anak Perempuannya

Meski buat saya sedikit masih terasa aneh, karena kebencian dari Papanya Liona ini alasannya belum begitu masuk ke dalam logika. Tapi, apa sih yang enggak terjadi di dunia ini, ya kan? Semua hal terjadi baik itu hal sepele maupun hal yang sangat tidak masuk akal sekalipun. Karena ini pula saya nanti akan menyisipkan beberapa hal untuk penulisnya.


4. Cowok Badung Terkadang Lebih Memesona

Jadi teringat perbincangan dengan kawan saya, terkait cowok yang tampangnya badung aka nakal. Membawa ingatan saya ke beberapa tahun silam saat saya masih SMA. Dimana kala itu ada beberapa anak lelaki dengan wajah seadanya, tidak tampan buat saya sih, tapi terkenal seantero angkatan karena termasuk Genk Motor. Saya pernah naksir salah satu anggotanya, entah kenapa wajahnya mirip dengan Fadly Padi. Ahahahaha.

Terus, hubungannya apa? Ya, karena di novel ini Rey dan kawan-kawannya juga punya wajah yang badung dan sering menjadi pusat perhatian, sih. Bahkan Silvi, sahabatnya Liona, juga merupakan fans mereka. Dua orang yang disukai Silvi yakni Tommy dan Rey.


5. Masa-masa Kuliah Dan Kenangan

Pasti banyak yang memiliki pengalaman selama di kampus. Entah itu kelelahan akibat tugas yang menumpuk, penelitian yang tak kunjung selesai, sampai revisi yang tak kelar-kelar. Tentunya ini merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk masa depan. Jadi, kalau nanti seketika laporan yang sudah dikerjakan kemudian diminta berbeda oleh Bos, tidak kaget lagi.

Sungguh, harus lembur demi laporan yang kemudian ditolak mentah-mentah kemudian diminta dalam bentuk dan variabel yang berbeda, itu lebih menyebalkan ketimbang revisian yang ditolak apalagi dicoret-coret. Ahahaha, dan bagi Liona yang tergolong mahasiswa teladan, tidak luput dari pengalaman revisian dicoret-coret dosen.


Kelima hal di atas merupakan beberapa topik atau perwakilan yang ada kaitannya dengan novel ini. Tentunya ini demi membuat kalian melihat lebih banyak tentang kisah cinta dua musuh bebuyutan. Seperti apa jadinya, ketika keduanya justru dipaksa menikah tanpa bisa mengelak lagi.



Catatan Untuk Penulis Dari Pembacanya


Harapan saya sih, Vevina enggak akan langsung baper ketika membaca sub-judul di atas. Karena, ketahuilah, bagi pembaca pun sulit untuk menggantungkan beberapa kendala yang tersemat di dalam hati. Jadi, izinkan saya berbagi hal tersebut dengan tujuan, siapa tahu untuk karya selanjutnya justru membuatmu menjadi penulis yang kaya, sehingga bisa berbagi banyak hal pada pembacanya.


Alur / Plot : Saya mengakui untuk bagian jalan cerita yang dipilih oleh Vevina ini sudah cukup mumpuni. Itulah mengapa GWP menjadi ajang yang layak bagi penulis pemula, karena tentunya karya mereka bisa langsung dibedah oleh para editor. Namun, berbicara masalah cerita yang sudah ketawan endingnya, dalam hal ini Benci jadi Cinta, karena temanya yang umum. Saya sebagai pembaca berharap dapat kejutan lainnya. 

Tokoh : Dalam penokohan, cukup lumayan, meski karakter Rey justru yang masih begitu kuat. Dalam artian ego-nya. Sementara Liona juga tidak begitu buruk meski masih kurang dieksplore. Begini, Liona menghadapi kehidupan yang berat, sangat berat malah kalau buat saya pribadi. Karena hubungan antara ayah dan anak, meski pihak Liona menerima. Tentu memiliki reaksi yang berbeda, bukan sekadar menjadikan Liona seorang perempuan yang tampak emotionless saja. Tapi lebih dari itu.

Lebih dari itu dalam hal, misalnya Vevina bisa eksplorasi pikiran Liona terhadap lelaki. Apakah dia menjadi trauma terhadap lelaki? Atau alasan dia menjadi mahasiswi teladan, melalui pemikirannya yang bisa digali terus sehingga pembaca bisa mengenal dengan sangat dekat dan memahami keputusan-keputsan yang diambil oleh Liona sebagai hal yang masuk akal. 

Apalagi klimaks ini sebenarnya hal yang rumit bagi saya, bahkan bagi anak yang memiliki hubungan yang baik dengan orangtuanya saja, memiliki pengalaman yang berbeda dan kebosanan atau kejenuhan yang berbeda. Jika dilihat dari segi pemikiran. Mungkin Vevina bisa eksplorasi dari novel-novel Young-Adult karya penulis luar, bagaimana mereka menyajikan penggalian emosi tokohnya sehingga tidak hanya tampak permukaan saja.

Gaya Penulisan : Sebenarnya ini tidak masalah bagi saya, tapi entah kenapa pada bagian dialog antara Rey dan Liona sering tidak konsisten. Bagi Rey yang memang tampak badung dan egois, cukup membingungkan ketika dia berdialog dengan bahasa yang kaku. Saya pernah membaca dari banyak buku terkait How to Write a Story. Mereka sepakat, bahwa dalam dialog sebaiknya disamakan seperti kita berbicara. Dalam hal ini bukan bahasa teks, tapi benar-benar bahasa yang digunakan orang untuk berkomunikasi.

Mungkin Vevina pernah membaca novel The Adventure of Tom Sawyer? Coba diintip deh, di situ ada adegan Tom berbincang dengan seorang budak negro. Dalam perbincangan tersebut, bahkan penulisnya menuliskan bahasa inggris yang khas ala negro. Yang senang menyingkat kata atau bahkan pengucapan yang kurang bisa dimengerti secara langsung. Dari sinilah, percakapan antar-tokoh akan terbangun dengan perbedaan yang cukup besar. Apalagi baik Rey dan Liona memiliki karakter yang berbeda, justru bisa dipisah dengan cara penyampaian dan bahasa yang digunakan.


***


Overall, saya tidak keberatan mengatakan kalau karya ini cukup lumayan. Jangan sakit hati dengan penilaian saya berdasarkan bintang, ya. Karena memang berdasarkan penjelasan, 1 untuk tidak bagus dan 2 untuk lumayan dan 3 untuk Menyukai. Jadi, karya ini cukup ringan, dan bagi kalian yang ingin flash back ke masa-masa SMA saat bad boy masih digandrungi, novel ini bisa kalian baca sendiri.

Siapa tahu nanti bisa ngingat-ngingat lagi pernah nge-fans sama cowok badung yang seperti apa. Hehehehe.


Salam,

28 November 2017

Eliza And Her Monsters - Monstrous Sea Journey


Eliza And Her Monsters




Membaca Eliza and Her Monsters bukan saja menikmati romansa ala-ala remaja. Karena romansa di dalam novel ini tidak begitu banyak, memang berisi tentang bagaimana tokoh di dalamnya berusaha untuk saling melucuti topeng diri sendiri untuk bisa tampil apa adanya di depan orang yang mencintaimu. Namun, kehidupan dua tokoh yang memiliki persamaan : Memiliki Trauma.

Baik karakter Eliza dan Wallace, keduanya memiliki kehidupan yang unik. Berbeda dari apa yang akan dibayangkan. Young-Adult, demikian genre dari buku ini, merupakan sebuah genre yang berisi tokoh-tokoh yang sudah bukan lagi remaja tanggung tapi belum juga bisa dikatakan sudah dewasa. Ibaratnya meminjam judul lagu dari Britney Spears, Not a girl not yet a woman atau Not a boy not yet a man.

Monster di sini, merupakan karakter rekaan yang diciptakan oleh Eliza. Sebuah maha karya yang dibaca oleh ribuan orang di sebuah forum. Monsterous Sea merupakan webcomics yang dibuat oleh Eliza - Mother of Fandom - yang memang gemar menggambar. Berawal dari sebuah forum berjudul Children of Hypnos, dia berkenalan dengan Max dan Emmy dimana keduanya-lah yang memberikan semangat pada Eliza untuk membuat cerita dalam bentuk komik.

Eliza mengakui, jika dirinya tidak mampu menuliskan sebuah cerita dengan kumpulan kata-kata seperti novel atau cerpen. Namun, dia bisa mewakilinya melalui sebuah gambar. Itulah kenapa kemudian Monstrous Sea menjadi berita hangat kekinian, sesuatu yang dibaca oleh banyak orang melalui sebuah forum online.

***

Kartu Tanda Buku

Judul : Eliza and Her Monsters || Penulis : Fransesca Zappia (@chessiezappia) || Halaman : 385 || Versi : Hardcover || Bahasa : English || Penerbit : Greenwillow Books || Rating : 5/5 || ISBN : 978-0-06-229013-7 

***

Jadi teringat dengan fenomena beberapa waktu lalu di sebuah forum terbesar di Indonesia. Kaskus. Tentu mungkin masih ingat karena cerita tersebut sudah diangkat ke dalam sebuah film yang minggu ini tayang di beberapa bioskop. Siapa yang tak kenal dan masih belum membaca sebuah thread yang berisi cerita tentang seseorang yang kerap diganggu makhluk halus di sebuah rumah besar di kawasan Jogjakarta.

Saya menggunakan ilustrasi dari thread tersebut sebagai perwakilan bagaimana Monstrous Sea menarik perhatian publik. Sebutlah saya seorang fandom atau fans yang terus menantikan jadual tayang cerita setiap minggu. Sementara si penulis thread yang mengalami hal tersebut saya wakilkan sebagai Eliza. Kemudian dua orang kawannya Max dan Emmy bertugas sebagai admin yang membantu dalam menjawab beberapa pertanyaan sekaligus membantu Eliza mengelola forum.

Baiklah, sebagai seorang Creator, Eliza dituntut untuk terus memberikan cerita terbaru tepat pada waktunya. Karena, banyak para fansnya yang bahkan sudah menanti sebelum LadyConstellation muncul. Apalagi bagi Eliza memberikan yang terbaik untuk para fansnya merupakan hal yang wajar karena itulah dirinya tidak pernah membiarkan barang sedetik-pun lepas dari buku sketsanya. Dia senantiasa menghabiskan waktunya dengan menggambar sketsa story-line untuk diterbitkan. Juga selalu siap sedia dengan ponselnya, jika sewaktu-waktu kedua temannya itu menghubungi.

Dunia Eliza adalah dunia yang tak mampu dijangkau oleh kedua adik laki-lakinya dan kedua orangtuanya. Mereka hanya mampu berusaha memahami tanpa bisa bertanya tentang apa yang dilakukannya. Ibu dan Ayahnya Eliza menganggap dirinya hanya mengerjakan sebuah hobi. Sementara bagi Eliza, ini bukan sekadar hobi. Tapi juga sebuah pencapaian yang pernah dilakukan oleh seorang introvert sepertinya.

***

Berbicara masalah introvert, mungkin banyak yang sudah mengerti bagaimana kehidupan para introvert ini. Kalau saya pribadi mungkin ambivert, berada di tengah-tengah. Ketika sendirian menjadi hal yang tidak masalah bagi saya, namun juga tidak masalah jika berada di keramaian. Tapi, bagi remaja seperti Eliza, menjalani kehidupan sekolah saja sudah memusingkan, belum lagi harus berhadapan dengan kondisi sosial yang membuatnya justru muak.

Baginya, orang-orang yang ada di sekitarnya merupakan wujud dari Monster itu sendiri. Dimana ketika Eliza berusaha untuk tidak mengganggu, justru dialah yang diganggu. Ketika dia berusaha untuk sendiri, justru banyak orang menganggapnya aneh. Itulah kesulitan yang memang sering dialami oleh para pelajar baik di Junior School maupun High School. Karena itu juga yang sering disematkan dalam banyak novel, terkait putaran kehidupan yang tak lagi dimengerti bahkan oleh si manusia itu sendiri.

Saking pendiamnya, Eliza memang tidak banyak berbicara di sekolah. Dia hanya senang menyendiri, duduk sambil membuat sketsa. Sudah, itu saja sudah membuatnya bahagia, namun, benarkan itu sebuah kebahagiaan sejati?

***

Sudah hal yang pasti dalam kehidupan remaja dan cerita di dalamnya. Dimana posisi percintaan dan romansa lekat dengan kehidupan mereka. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dimana novel ini tak hanya bercerita tentang romansa, tapi lebih dari itu. Karena memang, bagi saya romansa dalam novel ini hanya sekitar 40% saja. Sisanya? Kehidupan remaja saat ini.

Seperti ketika orang jatuh cinta pada umumnya, dimana kehidupan dan fokusnya bisa teralih dari apa yang biasanya dilakukan. Seperti Eliza yang kehidupannya hanya dua : di Monstrous Sea forum aka online dan kehidupan offlinenya berada di hadapan buku sketsa. Dan ketika pertemuannya dengan Wallace, justru membuat hidupnya menjadi lebih berwarna.

Wallace berhasil menarik Eliza keluar dari tempurung kehidupannya. Mengenalkannya pada dunia yang tak lagi berisi para fans dan Max serta Emmy saja. Tapi berisi banyak orang yang kemudian membuka matanya pada apa yang disebut sebagai Fans atau Fandom. Berusaha mendengar secara langsung apa pendapat mereka dan bagaimana antusias mereka terhadap cerita yang dibuat oleh Eliza dalam bentuk anonim.

Siapa juga yang sanggup untuk mengelak perubahan yang datang secara tiba-tiba? Saat waktu yang Eliza punya untuk membagi dunianya dengan dunia nyata justru membuatnya jungkir-balik. Hingga dia berada dipersimpangan antara nyata dengan tidak nyata. Dia melupakan tanggal hanya demi mengerahkan seluruh energinya pada MS. Sampai dia lupa bahwa hari telah berlalu dan tanpa disadarinya dia menjalani kehidupan auto-pilot.

Dirinya tak berada di tempatnya berada. Dia menjalani kehidupan yang tanpa sadar dia jalani, seolah rutinitas belaka namun tetap tanpa kehadiran secara utuh. Untuk itulah, keluarganya sangat mengkhawatirkan dirinya. Meski bagi Eliza ini semua demi bisa menyelesaikan cerita MS tepat pada waktunya. Dia tak ingin mengecewakan para fansnya terutama karena dia pernah kecewa sebagai seorang fans dari cerita The Children of Hypnos yang tak kunjung selesai.

Mindfulnes demikian istilah untuk kehidupan dimana orang tersebut menjalaninya tanpa kesadaran secara utuh. Istilah ini belakangan semakin ramai, karena sepertinya banyak yang mengalami hal tersebut. Akibat pengalaman ini, serta beberapa hal besar yang dialaminya, kemudian Eliza mengalami apa yang disebut sebagai Panic Attack. Dimana dia ditemukan pingsan dengan darah yang mengalir deras di kepalanya.


We ascribe value to the things we care most about, but sometimes we don't stop long enough to take a look at the bigger picture . ~ 



***

Hal lain yang membuat novel ini unik, yakni kondisi kedua remaja yang tengah jatuh cinta ini, mereka tetap fokus dengan apa yang menjadi impian keduanya. Saling mendukung satu sama lain, hingga memberikan apresiasi yang membuat mereka kembali bersemangat. Jadi, bukan semacam pasangan yang rela menggadaikan impian mereka demi cinta.

Tidak hanya itu, di sini, hubungan keluarga juga ditonjolkan dalam bentuk yang lebih sederhana. Betapa keluarga merupakan pendukung nomor satu bagi beban kehidupan yang berat. Eliza terutama, yang merasa bahwa dia tak membutuhkan keluarganya dan ini dituliskan tidak secara gamblang. Kita hanya bisa melihatnya berdasarkan karya yang dibuat olehnya. Dimana para tokoh tak memiliki orangtua yang berada di dekat mereka. Beberapa fansnya sempat mempertanyakan hal ini, namun sedikit demi sedikit Eliza kemudian menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Sementara di sisi lain, Wallace mulai membuka dirinya, bercerita pada Eliza tentang masa lalunya dengan sebuah email. Dia tak berani dan tak ingin membahasnya, bahkan ketika mengetik surat tersebut, Wallace merasakan tubuhnya menggigil dan hampir pingsan. Di sini inilah, terbukti bahwa peristiwa tersebut membuat Trauma yang mendalam pada Wallace.

Apa yang dilakukan keduanya dengan trauma yang mereka alami? Tentunya, baik Eliza dan Wallace mengambil keputusan yang tepat. Mereka akhirnya datang ke psikiater dan mendapatkan beberapa terapi yang membuat keduanya akhirnya merasa lebih baik dan tampak berbeda. Mereka kembali melihat dunia dengan warna-warni yang berbeda.

***

Berbicara masalah ketenaran, Eliza dan Wallace keduanya juga termasuk tenar. Tapi Eliza memang lebih tenar lagi, karyanya dibaca banyak orang. Bahkan merchandise yang baru saja diunggah ke website sudah mampu menyedot pembeli yang kemudian menjadi penghasilan terbesar bagi Eliza. Bahkan dia sudah sanggup untuk membayar biaya kuliahnya sendiri.

Namun, di balik dunia online dan ketenaran. Tentu akan menghadapi banyak hal terutama haters. Meskipun jumlah fans yang mendukung lebih banyak dari haters, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa keberadaan mereka bisa menjatuhkan semangat yang pernah ada sampai-sampai tak menemukan motivasi untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai.

Dalam surat yang ditulis oleh penulis The Children of Hypnos, beliau mengatakan, "If you want the motivation back, you must feed it. Feed it everything. Books, television, movies, paintings, stage plays, real-life experience. Sometimes feeding simply means working, working through nonmotivation, working even when you hate it."

Kalimat inilah yang kemudian menjadikan Eliza mau maju untuk menyelesaikan Monstrous Sea meski saat itu dia sudah terlalu lelah. Bahkan untuk menggenggam pensil. Dunia online yang gemerlap karena ketenaran memang tampak menjanjikan, tapi kelelahan akibat tidak dapat memenuhi ekspektasi orang lain, merupakan hal yang mampu menyedot diri kita dari kehidupan.

Creating art is a lonely task, which is why we introverts revel in it, but when we have fans looming over us, it becomes loneliness of a different sort. We become caged animals watches by zoo-goers, expected to perfom lest the crowd grow bored or angry. It's not always bad. Sometimes we do well, and the cage feels more like a pedestal. ~ Pg 358


***

Membaca Eliza and Her Monsters tidak hanya menyelami kata demi kata dari Fransesca Zappia. Tapi juga mengenal dunia 'kekinian' dimana ternyata kondisi sosial yang ada, hampir sama dengan yang terjadi di sini. Selain itu, juga mengenal, bagaimana proses kreatif sebuah karya yang menjadi sorotan publik.

Tentunya, dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, membuat saya tidak sabar untuk terus melanjutkan bab demi bab hingga akhirnya menyelesaikan novel ini. Kesan saya? Saya ingin membaca karya Zappia yang lain seperti The Children of Hypnos dan Made You Up.

Faktanya nove ini dipublikasi setelah tayang di Wattpad, sebuah media perantara bagi para penulis yang ingin mengetahui apakah karyanya layak dicetak atau tidak. Dan saat ini, buku-buku yang cukup populer di wattpad banyak diterbitkan dalam bentuk cetak. Bagi saya yang tidak pernah tertarik membaca di Wattpad memang cukup tertarik, karena setidaknya karya tersebut sudah dibahas tuntas sebelum naik cetak.

22 November 2017

Toto-Chan Sebuah Kisah Keberhasilan Seorang Pendidik Yang Mengubah Kehidupan Para Muridnya



Toto-Chan The Little Girl At The Window



Toto-Chan bukanlah sebuah buku berisi kisah fiksi, namun merupakan buku yang berisi kenangan dan pengalaman masa kecil dari penulisnya : Tetsuko Kuroyanagi. Setiap kisah dalam buku ini, berasal dari ingatannya semasa kecil serta dari penuturan kisah yang diceritakan juga oleh Ibunya dan juga beberapa teman-temannya yang menyumbangkan ingatan demi selesainya buku ini.

Semasa kecil, Toto-Chan memang termasuk anak yang cerewet. Dia senang menyeritakan banyak hal, dari mulai cerita pengalamannya ketika di sekolah hingga cerita apa saja. Inilah momen yang menjadi jalan pembuka dari pengalaman pendidikan di sekolah Tomoe Gakuen. Yang dimiliki oleh seorang Kepala Sekolah bernama Sosaku Kobayashi, dimana buku ini merupakan persembahan Toto-Chan untuk memenuhi janjinya pada sang Kepala Sekolah.

Pernahkah kita menyadari, bahwa keberhasilan seorang pendidik dalam membimbing anak muridnya bisa menjadi titik terang bagi keberhasilan anak didiknya kelak? Mungkin video ini bisa mewakili penjelasan tentang keberhasilan para pendidik dalam membimbing anak didik mereka menggali potensi serta menjalani kehidupan sehingga mencapai kesuksesan.


 


Video di atas memang sangat mengharukan, terlebih kita bisa melihat bagaimana ekspresi yang muncul dari sosok pengajar di video ini. Walaupun saya paham, kesuksesan itu tak hanya berbentuk uang dan jabatan, tapi dalam bentuk apa saja. Dan para mantan murid ini merupakan segelintir dari mereka yang terbantu dengan motivasi yang diberikan oleh si pendidik.

Sekarang, apa kaitannya dengan buku Toto-Chan yang justru isinya mungkin akan disangka sebagai karya fiksi tentang gadis kecil di Jepang yang gemar melihat ke luar jendela? Di luar dugaan, buku ini juga berisi memoar pendidikan yang diterapkan di sekolah Tomoe Gakuen, yang telah menelurkan siswa dan siswi yang berprestasi sampai salah satunya, yaitu Toto-Chan menjadi aktris perempuan yang juga tertarik dengan dunia pendidikan.


Kutipan Buku Toto-Chan Paling Favorit



Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah. (Hal 106)


"Kalian boleh berbicara tentang apa saja. Kalian boleh berbicara tentang apa yang ingin kalian lakukan. Apa saja. Tapi yang penting, mari kita coba dulu." (Hal 122)


"Kau benar-benar anak baik, kau tahu itu, kan?" (Hal 187)




Kartu Tanda Buku


Judul : Toto-Chan : Gadis Cilik Di Jendela || Penulis : Tetsuko Kuroyanagi || Halaman : 272 || Cetakan kedua puluh empat : Agustus 2017 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Gramedia Pustaka Utama || ISBN : 978979236552 || Rating : 5/5



Bagaimana Seorang Pendidik Mampu Mengubah Kehidupan Anak Didiknya


Percaya atau tidak, bahwasannya seorang pendidik bisa mampu mengubah kehidupan anak didiknya menjadi lebih baik atau justru lebih buruk. Tidak sedikit murid yang mengambil keputusan terbesar dalam karirnya karena pengaruh dari sang pendidik. Pun juga tidak sedikit yang akhirnya hancur hidupnya karena pola didik yang salah.

Itulah kenapa, ketika saya membaca kembali buku terkait pendidikan karya Mas Bukik berjudul Anak Bukan Kertas Kosong banyak hal yang kemudian saya dapati terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya, bagaimana seorang pendidik bisa merusak masa depan mereka dengan perilaku kasar, semena-mena, bullying bahkan pelecehan seksual.

Dalam beberapa statusnya, sebagai penggiat dunia pendidikan, Mas Bukik juga pernah bercerita tentang buku yang sudah dibacanya, ditulis oleh Ki Hajar Dewantara seorang bapak pendidikan di Indonesia. Beliau merangkum sedikit tentang sikap seorang pengajar melalui kutipan yang disematkan dalam tulisannya. 



"Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup tumbuh menurut kodratnya sendiri." ~ Ki Hajar Dewantara (Pendidikan, Halaman 21) - Sumber Anak Bukan Kertas Kosong.



Dari sinilah, saya melihat visi dan misi yang sama antara Ki Hajar Dewantara dengan Sosaku Kobayashi dalam dunia pendidikan. Melalui testimoni Toto-Chan yang pada mulanya, di sekolah sebelumnya, dia dikeluarkan karena memanggil pemusik jalanan saat jam belajar. Bahkan, konon salah satu guru yang mengajar di kelas sebelahnya mengakui, bahwa Toto-Chan selalu dihukum di luar kelas dan sering bertanya : apa kesalahannya?

Baik, saya juga ingin sedikit menyeritakan contoh kasus seorang kawan terkait razia yang diadakan di sekolah anaknya. Dimana kerap kali diadakan razia rambut, si anak ini selalu menjadi sasaran empuk meski saat dicek kembali, ternyata tidak ada kesalahan dari anak ini. Rambutnya masih sesuai dengan peraturan yang tertulis. Hingga kemudian, si anak bercerita pada orang tuanya, justru diomeli karena dianggap mengadu. Hingga anak ini kehilangan semangat untuk berangkat sekolah. Lantas dimana letak kesalahannya?

Saya perjelas kembali, alasan Toto-Chan dikeluarkan dari sekolah, bukan saja karena dia memanggil pemusik jalanan untuk bermain di luar jendela sekolah. Tapi, saat itu sang guru mengatakan bahwasannya saat di kelas Toto-Chan berkali-kali menutup dan membuka lemari meja dengan alasan yang sebenarnya tidak bisa disalahkan. Namun, tidak dijelaskan juga dimana letak kesalahannya.

Kalau tidak diketahui dimana letak kesalahannya, kemudian darimana para anak didik ini mengetahui alasan mereka dihukum? Di sinilah sosok Sosaku Kobayashi yang menerapkan pendidikan ala Eropa, menjadi titik balik bagi para anak muridnya dalam menjalani kehidupan. Mengedepankan prinsip Kebebasan Dalam Belajar, justru yang membuat anak-anak ini belajar berkomitmen serta disiplin dengan peraturan yang ada. Apalagi prinsip ini berlaku untuk semua pelaku pendidik di sekolah Tomoe Gakuen.



Anak Yang Kritis Sering Dianggap Nakal



Seperti Toto-Chan yang sering melemparkan pertanyaan yang sesungguhnya memang tidak dimengerti olehnya. Namun, saking seringnya dia bertanya, beberapa guru di sekolah lamanya menganggap dia anak yang nakal. Belum lagi kegemaran Toto-Chan bercerita tentang banyak hal, itu juga dianggap mengganggu oleh para pendidik di sekolah yang lama.

Namun, sebuah perbedaan besar yang dilakukan oleh Kobayashi berhasil membuat Toto-Chan mencintai sekolah. Ketika pertama kali masuk ke sekolah Tomoe Gakuen, Kobayashi duduk di hadapan Toto-Chan kemudian mendengarkan semua cerita yang dikisahkan olehnya. Bahkan sampai Toto-Chan kehabisan ide untuk bercerita!

Setiap anak tentu memiliki kondisi dan kapasitas serta selera yang berbeda. Ada anak-anak yang jarang bertanya pada gurunya, karena di rumah mereka sudah banyak bertanya pada orangtuanya. Ada juga beberapa orangtua yang merasa angkat tangan dengan pertanyaan dari anak mereka, kemudian meminta mereka untuk bertanya langsung pada guru mereka di sekolah. Jika beruntung, sang anak akan mendapatkan penjelasan yang sesuai dan baik. Namun, jika tidak, si anak ini akan diberikan label anak nakal atau justru dinasihati untuk tidak bertanya.

Padahal, keingin-tahuan seorang anak itu sebuah bukti bahwa mereka memiliki ketertarikan pada hal-hal tertentu. Dari rasa ingintahu inilah banyak muncul ilmuwan-ilmuwan yang menciptakan penemuan yang tetap bisa dirasakan manfaatnya hingga saat ini. Melalui rasa ingin tahu pula-lah, setiap cendikiawan memperoleh jawabannya dari setiap penelitian. Lantas, apa yang harus dilakukan setiap anak jika mereka dibungkam dari rasa ingin tahunya? Bagaimana Kobayashi menghadapi Toto-Chan yang gemar bercerita setelah berjam-jam mendengar anak itu bercerita banyak hal?

Setelah Toto-Chan berhenti bercerita, barulah Kobayashi mengatakan dengan senyum yang khas, bahwa Toto-Chan diterima di sekolah tersebut. Dan tanpa disadari, keesokan harinya Toto-Chan sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Bahkan tanpa harus disuruh untuk bersiap lagi. Di sekolah juga seperti itu, ada banyak anak-anak yang memiliki kekurangan berkumpul menjadi satu dalam satu ruang kelas. Menurut Kobayashi, ini agar anak-anak terbiasa bergaul dengan anak lainnya yang memiliki kekurangan dalam bentuk fisik.

Beberapa teman Toto-Chan ada yang tubuhnya kecil dan tidak bisa tumbuh lagi, ada juga yang terkena polio sehingga struktur kakinya berbeda dan tangan serta kakinya juga lemah. Mereka berada di kelas yang sama. Di sinilah, kebaikan khas anak-anak dalam diri Toto-Chan semakin terasah. Dia merupakan anak yang selalu berusaha membela teman-temannya ketika mereka kesulitan.



Kalimat Sugesti Bagi Setiap Anak Didik



Mungkin kita sering mendengar, betapa bahayanya ketika melabeli seorang anak dengan kata 'NAKAL'. Saking bahayanya, beberapa penggiat parenting berusaha menghindari kata tersebut agar tidak menjadi sugesti dalam alam bawah sadar si anak yang akan berpengaruh hingga mereka besar nanti.

Demikian juga dengan Kobayashi, yang sering melontarkan perkataan "Toto-Chan kamu itu anak yang baik, kamu tahu kan?" Di setiap waktu saat Toto-Chan bermain atau bersinggungan dengan teman-temannya, sang kepala sekolah pasti mengingatkan Toto-Chan dengan kalimat tersebut. Yang kemudian tanpa sadar justru menjadi kalimat sugesti yang berimbas positif baginya.

Bahkan ketika Toto-Chan sudah dewasa pun, ketika dia mengingat perkataan tersebut, dirinya merasa sangat berterima kasih pada sang kepala sekolah. Karenanya itulah dia benar-benar menjadi anak yang dikenal baik dan kreatif serta berani. Kesadaran bahwa dirinya merupakan anak yang baik sudah dipupuk sejak awal.

Juga, kalimat sugesti positif yang ditanamkan pada Akira Takahashi yang menderita penyakit kompleks, dimana tubuhnya tak lagi bisa bertumbuh. Saat itu pak Kobayashi berkali-kali meyakinkannya bahwa dia pasti bisa mengikuti lomba olahraga tersebut. Dan dari kalimat itulah yang membuat Akira bertambah kepercayaan-dirinya, sehingga dia berhasil memenangkan perlombaan olahraga itu meski memiliki keterbatasan.

Tidak hanya itu, ketika dewasa, saat Tetsuko menemuinya, kini Akira sudah menjadi seorang pegawai yang bekerja menjadi Manajer Personalia di perusahaan elektronik yang cukup besar! Akira sendiri mengatakan, kalau bukan karena kepercayaan yang ditanamkan padanya oleh Kobayashi, mungkin dia tidak akan pernah berani melamar pekerjaan apalagi menikah.



Sistem Belajar Di Tomoe Gakuen



Pada bab penutup, Tetsuko menyematkan fakta bahwa ada beberapa orang yang ternyata tertarik ingin membuat penelitian terkait sistem belajar di sekolah tersebut. Sekolah yang hancur saat perang dunia meletus. Yang anak-anak muridnya tumbuh menjadi orang-orang sukses, saya akan menceritakan nanti satu anak yang menjadi ilmuwan hebat.

Fakta bahwa sistem belajar di Tomoe Gakuen ini unik, memang menjadi banyak perbincangan setelah buku ini terbit. Apalagi dulu, saat penerapan belajar yang masih umum, sistem belajar di Tomoe Gakuen ini terbilang berbeda dan bahkan harus disembunyikan keberadaannya oleh Kobayashi agar tidak menarik perdebatan.

Melalui cerita Toto-Chan, diketahui bahwa ruang kelas sekolah mereka ini menggunakan gerbong kereta yang didesain agar mirip seperti aslinya dengan modifikasi penambahan kursi dan bangku pada setiap kelasnya. Ada banyak gerbong di sekolah ini, yang memang digunakan untuk ruang kelas juga perpustakaan.

Setiap hari, anak-anak akan diberikan informasi pelajaran apa saja yang akan diajarkan pada hari itu. Kemudian setiap anak dibebaskan memilih ingin belajar apa dulu, dimana setiap anak memiliki pilihan yang berbeda. Namun, mereka melaksanakan kewajiban belajar mereka tanpa terbebani, justru semangat dalam prosesnya.

Guru di dalam kelas sebagai media yang dibutuhkan, jika beberapa anak ada yang kurang jelas dengan satu pelajaran, mereka harus berani maju untuk bertanya, kemudian akan langsung dijelaskan. Demikian proses belajar, hingga tengah hari tiba. Setelah makan siang, barulah mata pelajaran yang mereka dapat ini berbeda, yaitu belajar tentang alam dan pengetahuan apa saja yang mereka lihat di sekitar.

Seperti terkadang mereka akan mengunjungi sebuah kuil untuk belajar tentang sejarah. Kemudian berkunjung ke sebuah ladang untuk belajar menanam. Atau jalan-jalan ke dekat danau untuk belajar apa saja mengenai lingkungan dan ekosistem. Di sinilah, anak-anak menjadi semakin bertambah pengetahuannya melalui gaya belajar yang berbeda.

Jika waktu itu sistem belajar di Tomoe Gakuen dipandang unik dan berbeda, sekarang pola belajar ala Finlandia juga menjadi sorot perhatian. Yang menjadi keunikan itu sebenarnya adalah penerapan sistem belajar yang tidak memberatkan murid tapi justru bisa mendatangkan kesenangan tersendiri pada proses belajar-mengajarnya. Dan inilah yang menjadi sorotan bagi saya juga, bagaimana membangun proses belajar-mengajar yang bermanfaat namun tidak memberatkan.




Apa Saja Yang Diterapkan Oleh Sosaku Kobayashi Di Sekolah Tomoe Gakuen




1. Beliau sangat menghargai setiap perbedaan, untuk itulah dirinya menggabungkan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dengan anak yang biasa dalam satu kelas. Dengan demikian mereka belajar juga menerima perbedaan yang ada di sekolah mereka. Sehingga mereka tidak lagi merasa asing dengan keberadaan orang-orang yang tampak berebeda dengan mereka.


2. Sesuatu Dari Laut Dan Sesuatu Dari Gunung, adalah kalimat ajakan agar anak-anak mau makan apa saja yang dimasak dari rumah sambil belajar mengetahui sumber makanan yang bisa didapat dari kedua tempat tersebut. Makanan tersebut juga ajakan agar anak-anak mau memakan makanan yang sehat terutama sayur. Apalagi, dari hal ini jugalah, Kobayashi mengajarkan anak-anak agar bersyukur melalui lagu yang dinyanyikan sebelum makan.


3. Setiap anak yang mengadu pada Kobayashi akibat ulah anak lainnya akan diajak menyelesaikan masalah bersama. Seperti ketika rambut Toto-Chan dijadikan bualan anak lelaki sampai dia menangis, kemudian pak Kobayashi menasihati anak tersebut dengan menyampaikan bahwa "Anak laki-laki harus bersikap sopan kepada anak-anak perempuan dan menjaga mereka." (Hal 159).

4. Saat makan siang, Kobayashi akan meminta satu anak untuk bercerita di depan aula. Setiap anak akan mendapatkan gilirannya. Tidak terkecuali dengan anak yang sangat pemalu. Saat itu dia hanya diam saja di kelas, namun dengan bantuan pak Kobayashi si anak tersebut akhirnya mampu berbicara di depan umum, dimana ini adalah hal yang membuatnya bangga.

5. Kobayashi juga menerapkan kebebasan berpendapat, dirinya mampu mendengarkan anak-anak seperti Toto-Chan yang selalu berusaha mempertahankan pendapat mereka. Beliau akan mendegarkan kemudian berusaha mencari jalan keluar yang terbaik. Bahkan dengan kalimat yang disampaikannya dengan sangat santun. Seperti pada halaman 197, dimana dengan cara yang sangat baik Kobayashi mampu membuat Toto-Chan mengambil keputusan.

6. Sebagai Kepala Sekolah, dirinya juga tidak berhenti mengamati bagaimana para pendidik mengajar di kelas. Ada satu peristiwa pada Bab Ekor yang mengisahkan betapa marahnya Pak Kobayashi pada salah satu guru karena dianggap membuat salah seorang muridnya yang memiliki kekurangan secara fisik, menjadi tidak nyaman. Ini menunjukkan sebagai Kepala Sekolah dia juga peduli dengan perkembangan dan kenyamanan anak-anak selama di sekolah. Bukan hanya sekadar menjadi pemimpin tanpa mengetahui dengan pasti apa yang terjadi selama proses belajar-mengajar.



***

Membaca buku ini, membuat mata saya beberapa kali berkaca-kaca. Bukan saja ketika Toto-Chan harus menghadiri pemakaman salah seorang temannya. Tapi, juga saat membayangkan betapa bahagianya Toto-Chan dan teman-temannya memiliki pendidik yang mampu membuat mereka selalu terkenang dengan banyak hal yang baik saat itu.

Salah satu murid yang saya menjadi seorang ahli fisika dari Jepang yang tinggal di Amerika adalah Taiji Yamanouchi. Saat saya mencari profilenya di google, saya terkesiap karena memang beliau adalah sosok yang ahli fisika yang sangat berbakat. Dirinya berhasil meraih gelar master dan berangkat ke Amerika dengan beasiswa dari Fulbright dan meraih gelar doktornya di University of Rochester. Dia juga bekerja di laboratorium yang mempekerjakan 145 ahli fisika dan 1400 staf.

Keberhasilan dan kesuksesan anak-anak ini juga memiliki pengaruh dari sosok Kobayashi. Anda akan mengetahui dengan membaca buku ini, bagaimana cara beliau bersikap untuk memastikan bahwa anak-anak itu memiliki bakat yang tidak akan terlihat jika mereka tidak berusaha. Namun, dengan cara yang bisa diterima oleh mereka tanpa paksaan. [Ipeh Alena]


02 November 2017

Kappa : Sebuah Cerminan Masyarakat Modern Di Jepang



Kappa Ryunosuke Akutagawa



Kappa yang ternyata merupakan sosok youkai ini baru saya sadari pernah saya lihat beberapa kali dalam tayangan anime. Namun, saya benar-benar mengerti namanya setelah membaca novel karya Ryunosuke Akutagawa yang berjudul sama, Kappa. Sebuah novel yang konon merefleksikan kehidupan masyarakat modern di Jepang. Sebuah karya satir tentang kehidupan yang sudah semakin aneh dari sudut pandang Akutagawa.

Membaca Kappa membuat dahi saya mengernyit, novel yang tipis, hanya berisi sekitar 80-an halaman saja, sukses membuat saya harus mengulang-ngulang kalimat yang saya baca. Itulah kenapa saya harus terus menjaga ingatan terkait perkataan, pikiran dan dialog apa yang sudah terjadi di bab-bab sebelumnya. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan menemukan 'sesuatu' yang berguna.

Dibanding dengan buku terdahulunya yang berjudul "Lukisan Neraka", dimana ceritanya yang kelam dan berunsur magis menjadi daya tarik tersendiri. Tapi, bukan berarti Kappa ini tidak menarik, hanya saja cerita yang dikemasnya ini berbeda, berisi pengalaman seorang pasien di rumah sakit di sebuah desa. Narasi yang dibawakan oleh sang pasien ketika mengalami kehidupan di dunia Kappa menjadi semakin aneh karena kehidupan para Kappa ini sedikit berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat Jepang.

Seolah dunia Kappa memiliki sistem pemerintahan dan kehidupan sendiri hingga filosofi mereka yang ternyata sangat memuja kehidupan. Sosok youkai ini mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat mereka berpijak. Seolah mereka memiliki sistem tubuh yang hampir sama dengan bunglon, sehingga banyak orang yang setelah melihat sosok Kappa kemudian seperti menghilang begitu saja. Dengan kemampuan ini juga mereka mampu bersembunyi dengan baik tanpa bisa tertangkap apalagi disimpan dalam museum.

Sejujurnya, saya bingung ingin menulis apa tentang buku ini. Terlebih pemahaman saya sangat sedikit, saya hanya mampu mengaitkan sedikit saja hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar. Apalagi menulis kritikan, saran atau semacam menyematkan ilmu yang berhubungan dengan novel ini. Di luar dari jangkauan saya. Jadi, sepertinya saya hanya menceritakan isi dari buku ini, kemudian sedikit memberikan pendapat, setelah itu mungkin saya akan kembali membolak-balik lembaran novel ini sekali lagi untuk memastikan bahwa saya tidak salah langkah.


Kartu Tanda Baca

Judul : Kappa || Penulis : Ryunosuke Akutagawa || Halaman : 83 || Cetakan Pertama, Juni 2016 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia || Rating 5/5 || ISBN : 9786024240950



Bagaimana Kappa Memiliki Keturunan Dan Berkeluarga


Ini bagian aneh tapi nyata menurut saya, bagaimana seekora Kappa lahir ke dunia. Dalam kehidupan Kappa, anak-anak yang akan lahir ke dunia akan mereka minta persetujuan terlebih dahulu sebelum mereka lahir. Itu pun jika sudah cukup umur berada dalam kandungan Kappa betina. Sang ayah-lah yang nantinya akan bertanya, disaksikan seekor Kappa dokter, apakah dia mau menjadi anak mereka dan lahir ke dunia?

Jika menolak? Maka sang dokter akan dengan sigap menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Kappa betina, seketika itu juga calon Kappa menghilang tanpa jejak. Seolah tidak pernah ada di dalam perut Kappa betina. Seperti sulap, cara menghilangkan anak dalam kandungan. Atau seperti terkena guna-guna, ketika calon bayi di dalam rahim menghilang dengan tiba-tiba.

Menurut mereka, ini sebagai langkah yang adil bagi kehidupan Kappa. Seketika saya teringat dengan pemikiran banyak orang yang sering menanyakan, "Mengapa saya terlahir ke dunia?". Saya justru melihat secara luas, banyak orang - katakan saja sebagian manusia yang ada di dunia ini - pernah mempertanyakan hal ini dalam kehidupannya.

Karena, bahkan lagu favorit saya yang dinyanyikan oleh Dewa 19 berjudul Kirana, di situ jelas tertulis lirik "Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa, mengapa kau tiupkan napasku ke dunia?". Dari kisah kelahiran Kappa ini juga, beberapa sumber menyatakan karya ini juga sebuah refleksi kondisi kesehatan mental Akutagawa.



"Beberapa di antara anak laki-laki dari keluargamu, jatuh cinta dengan babu-babu mereka, sejumlah anak perempuan kawin dengan supir mereka." ~ Hal 18


Jelas, ini memang sebuah sindiran perubahan level sosial akibat dari pernikahan antar keluarga dari tingkat sosial berbeda. Dimana biasanya dalam kehidupan masyarakat Jepang yang saya tahu dari karya-karya sastra mereka, anak-anak perempuan akan tetap menikah dengan yang sederajat dengan mereka. Seperti kehidupan Oda Nobunaga yang mempersunting istri dari keluarga samurai demi menjalin perdamaian antar klan.

Meski, tidak bisa dipungkiri, perempuan simpanan mereka dipilih dari banyak lapisan sosial. Hanya istri sah mereka yang utama saja yang diwajibkan memiliki garis keturunan yang sederajat. Ini berlaku bagi lelaki. Berbeda dengan perempuan yang justru tidak memiliki pilihan karena jodoh mereka ditentukan oleh sang Ayah. Mereka hanya boleh mengikuti peraturan yang ada, tanpa bisa menolak apalagi meminta menikah dengan lelaki yang mereka sukai (terutama kalau tidak sederajat).



Di dunia Kappa, bahkan keputusan hubungan pernikahan atau kencan diputuskan dari seekor Kappa Betina. Merekalah yang memang ditakdirkan untuk mengejar para Kappa jantan. Dalam hal ini, benar-benar dikejar, meski terkadang Kappa betina juga menggoda Kappa jantan agar mengejar mereka namun dengan rangsangan-rangsangan yang membuat Kappa jantan tak mampu menolak.

"Adalah wajar bahwa kau tidak tahu bagaimana perasaan kami karena kau bukan Kappa. Tetapi sekali-sekali aku ingin Kappa-kappa betina yang konyol itu mengejar-ngejarku." ~ Hal 26

Dalam pernyataan sang filsuf bernama Mag, saya seketika mengaitkan satu hal dari novel 3 Cinta 1 Pria yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Kisah seorang seniman yang digemari banyak perempuan. Mungkin saya berlebihan menganggap kondisi ini sama seperti kehidupan Kappa, dimana para perempuan ini mati-matian mengejar sosok lelaki.

Walaupun sebenarnya saya pun sudah mendapati beberapa kasus yang sama seperti para Kappa ini, dimana perempuan-perempuan banyak yang dengan bersungguh-sungguh mengejar lelaki. Pun saya akan mengatakan wajar ketika Akutagawa menyindir kondisi demikian melalui kehidupan Kappa, atau justru setuju dengan kehidupan para Kappa ini? Karena pada mulanya budaya yang masih berakar yaitu lelaki-lah yang harus mengejar perempuan. Sehingga perumpamaan dalam kehidupan Kappa ini dipandang sebagai cerminan kehidupan modern.


Source : Google Image



Kappa Juga Memiliki Pabrik Buku Dan Agama


Di halaman 32, diceritakan dengan jelas bagaimana produksi buku-buku di negeri Kappa yang sangat banyak dan pembuatannya pun tidak perlu menunggu waktu yang lama dan panjang. Karena cukup membubuhkan bubuk ajaib yang bisa memproduksi sendiri kata-kata yang ada di dalamnya. Kali ini otak keledai-lah yang menjadi perumpamaan akan kualitas buku-buku yang diproduksi secara massal itu.

Seperti contoh salah satu buku yang diterbitkan berjudul Kata-kata si Tolol yang ditulis oleh Filsuf Mag. Saya hanya mampu mengutip kalimat-kalimat dari isi buku tersebut, tanpa mampu berkata apalagi berpendapat apa-apa. Terdapat pada bab XI di halaman 48 - 50.

"Menurut yang tolol semua adalah tolol, kecuali dia sendiri."

"Apa yang paling ingin kita banggakan ialah yang tidak ada pada kita."

"Biasanya apa yang khas tentang diri kita terdapat di luar kesadaran kita."

"Membela diri sendiri lebih sulit daripada membela orang lain. Bagi yang ragu-ragu tentang hal ini, biar ia melihat bagaimana mudahnya pengacara membela perkara pihak lain."

"Mengurangi kebutuhan kebendaan tidak selalu membawa ketentraman pikiran. Agar dapat hidup dengan tenteram, keinginan-keinginan kebatinan perlu dikurangi."


Pada kutipan terakhir, ingatan saya membawa saya kembali pada beberapa tahun silam, sebuah berita tentang seorang lelaki yang sanggup hidup hanya dengan beberapa helai pakaian, rumahnya kosong melompong tidak banyak dipenuhi perabotan. Hanya beberapa barang dan perkakas yang memang sangat dibutuhkan seperti tatami, satu meja, satu kursi, bahkan piring dan gelasnya pun terbatas.

Menurut pengakuan sang lelaki berambut gondrong tersebut, dirinya tengah mempraktekkan gaya hidup ajaran Zen. Dimana ini merupakan ajaran yang pernah dibawa oleh Buddha, tentang kesederhanaan dalam hidup yang akan membawa manusia pada kebahagiaan. Sejalan dengan kutipan yang tulis oleh si filsuf Mag.

Saya juga menemukan beberapa bagian dari ajaran Zen dari kehidupan para Kappa ini. Dimana dalam Zen, pertanyaan akan jawaban dalam kehidupan itu bukan sesuatu yang penting, bukan pula bagaimana hubungan dengan Tuhan apalagi tentang kematian. Tapi, sesuatu yang dijalani hari ini, saat ini, itulah bagian terpenting dari ajaran Zen.

"Sudilah diingat bahwa agama kami memuja hidup. Hayatilah hidup dengan sepenuhnya. Itulah ajaran yang diberikan dewa kami. Pohon kehidupan." ~ Hal 65 


Tapi pada halaman 66, kita akan dihadapi kenyataan bahwa seorang pendeta penganut ajaran Memuja Kehidupan pun tidak memiliki ke-optimis-an terhadap apa yang dia ketahui. Dirinya justru tak mempercayai dewa dan eksistensinya. Kembali lagi saya menarik ingatan pada isi pidato Yasunari Kawabata yang disematkan dalam buku berjudul Daun-daun Bambu.

Sahabatnya, pendeta Ikkyu telah dua kali melakukan kontemplasi bunuh diri. Meski beliau merupakan orang yang paling menyenangkan bagi anak-anak kecil. Kenyataan bahwa Ikkyu adalah Pendeta Zen yang paling keras dan penuh renungan, serta merupakan putra Sang Kaisar yang memasuki kuil pada usia enam tahun. Namun, saat itu pula ia bermasalah dengan keraguan terdalam tentang agama dan kehidupan (11). ~ Daun-daun Bambu - Yasunari Kawabata


Saya menggaris bawahi kondisi yang sama dengan pendeta kappa dengan pendeta Ikkyu yang memiliki keraguan akan agama dan kehidupan. Dimana kasus bunuh diri terjadi juga pada seniman kappa bernama Tock. Dia merupakan teman dekat narator, sebelum kematiannya dia menuliskan sebuah sajak, terkait perenungan dalam kehidupannya.

Sejenak pernyataan Mag kemudian bergelayut ketika dia mengatakan di halaman 59, "Betapapun, kalau kami kappa ingin hidup bahagia, kami harus... Menurut hematku, kami harus percaya akan sesuatu yang lebih besar dari kappa." Menurut ajaran Zen, kepercayaan itu seperti lukisan yang kita pajang di dinding. Kemudian berusaha meyakini bahwa itu adalah lukisan yang indah. Dan ketika menyadari bahwa keyakinan itu sepenuhnya hadir, kesan itu sepenuhnya terasa nikmat. Jadi, tidak ada paksaan akan apa yang harus dipercaya, menjalani kehidupan tanpa bertanya itu merupakan kebahagiaan yang sejati.

Namun, Mag sendiri, berusaha untuk mencari tahu seperti apa rasanya bergantung pada - sesuatu yang lebih besar dari kappa, itu sendiri. Sesuatu yang bahkan memunculkan keraguan, sesuatu yang mereka percaya sebagai dewa dari Pohon Kehidupan, namun sejatinya masih banyak yang masih belum memahami apakah ini diperlukan atau tidak dalam menjalani kehidupan para Kappa.

Yang kemudian menjadi pertanyaan mengganjal dalam diri saya adalah apakah ini yang menjadi salah satu alasan, dari banyaknya alasan, sebagian orang di Jepang memilih untuk bunuh diri? Menurut Emile Durkheim, Bunuh diri adalah fakta sosial, yaitu produk dari tujuan, harapan dan pengaturan sosial yang berkembang dari hasil interaksi seseorang dengan yang lainnya.

Artinya lingkungan juga berpengaruh terhadap alasan-alasan yang membuat seseorang komitmen untuk bunuh diri. Namun, alasan-alasan yang hanya sedikit ini tanpa analisa lebih lanjut tidak bisa dijadikan patokan apalagi tolak ukur sebagai penyebab terjadinya bunuh diri massal yang dilakukan oleh sebagian orang Jepang. Saya pribadi akhirnya hanya bisa terdiam dan menyimpan alasan-alasan ini, meski tidak bisa memastikan dengan yakin apa penyebab dari fenomena itu semua.

***

Tentunya ini juga sebagai cerminan kehidupan Akutagawa yang saat menulis novel ini sudah mengalami masa-masa alienasi yang penuh dengan ketakutan. Semua pertanyaan dalam kehidupannya diwakili melalui dialog-dialog para tokohnya dalam buku ini. Pertanyaan akan kehidupan merupakan hal yang menonjol dalam cerita ini. Apalagi, karya Kappa termasuk dalam karya-karya terakhir sebelum dirinya kemudian bunuh diri.

Anda mungkin bisa mencari tahu terkait kehidupan Akutagawa ini, namun memang banyak sumber sudah menuliskan. Bahwasannya Ibunya mewarisi mental disorder pada Akutagawa, sehingga kehidupannya penuh dengan perjuangan melawan halusinasi dan ketakutan hingga kemudian memutuskan untuk bunuh diri. Namun, perjuangannya inilah serta karya-karyanya yang luar biasa, yang menjadi alasan nama Akutagawa menjadi nama salah satu penghargaan dalam bidang literasi.


***

Beberapa teman saya berpendapat, bahwa karya ini sulit dicerna olehnya. Bagi kalian yang berminat untuk membaca dan mencari tahu kehidupan dunia Kappa dari buku ini, saya sarankan untuk membacanya kata demi kata. Jangan memaksakan otak kalian untuk langsung mengerti dan memahami. Teruslah membacanya meski dahi kalian berkerut, atau otak kalian menjerit karena tidak dapat mencernanya.

Bahkan ketika harus kembali mengulang lembar demi lembar yang sudah dilewati demi bisa mengambil garis lurus tentang apa sebenarnya novel ini, berbanggalah. Karena dengan begitu kalian mengalami perputaran waktu yang akan membawamu terus menggali lagi dan lagi kehidupan para Kappa ini. Jangan khawatir, karena sebenarnya kita hanya perlu membacanya tanpa berkespektasi apa-apa. Cukup membacanya saja, kisah kehidupan para Kappa.



Selamat Membaca,


Salam Literasi