22 January 2018

ILLUMINAE #1 : Kisah Perang Antar-Pesawat Antariksa Dan Serangan Virus Aneh





Awalnya saya merasa ragu untuk mulai membaca buku ILLUMINAE yang ditulis oleh Ammie Kaufman dan Jay Kristoff. Meski saya pernah membaca karya Kristoff yang berjudul Nevernight dan saya menyukai bagaimana cara dia membuat tokoh-tokohnya tampak menakjubkan juga menyebalkan di saat yang sama. Juga cara dirinya menyeritakan cerita yang mengalir dengan detil yang cukup untuk membangun imajinasi.

Kenyataan itu sempat membuat saya ragu, tapi berakhir penasaran hingga akhirnya memutuskan untuk membacanya. Pada awalnya, karena faktor keraguan, apakah saya mampu menyelesaikannya atau tidak. Terlebih saya tengah terkena sindrom Reading-Slump yang membuat saya terlalu takut untuk memulai. Dan akhirnya hari Sabtu (13 Januari 2018) kemarin, saya menyempatkan diri membaca beberapa halaman.

Itu pun tidak langsung beranjak dari beberapa lembar pertama. Kemudian hari Minggu, saya mulai mencoba membacanya. Dan, tanpa saya sadari, akhirnya saya bisa menyelesaikannya tepat jam 10 malam. Setelah seharian bertualang di antariksa bersama beberapa pesawat dengan orang-orang yang cukup gila untuk mencongkel mata siapa saja yang menatapnya. Setidaknya perjuangan saya akhirnya tidak sia-sia.


Kartu Tanda Buku

Judul : ILLUMINAE
Penulis : Jay Kristoff & Amie Kaufman
Halaman : 576
Cetakan pertama, November 2017
Penerjemah : Brigida Ruri
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Terbitan : Penerbit Spring
Rating : 4.5 / 5
ISBN : 978.602.6682.09.3






Hari Ketika Kady Dan Ezra Putus Adalah Hari Dimana Koloni Kerenza Terbunuh



Sepasang mantan kekasih ini diwawancarai secara terpisah, namun rekaman percakapannya tersusun bergantian antara Kady Grant dan Ezra Mason, seolah keduanya saling sahut-menyahut dalam menjawab pertanyaan. Dengan kisah yang sama karena keduanya berada di lokasi dalam waktu yang sama. Bahkan Kady sempat menyelamatkan Ezra hingga keduanya akhirnya terpisah, Katy Grant di pesawat antariksa Hypatia dan Ezra di pesawat utama antariksa Alexander.


Pada hari ketika Ezra dan Kady baru saja bertengkar dan memutuskan hubungan, sebuah pesawat terbang dekat di atas mereka. Tidak lama setelahnya terdengar bunyi gemuruh dan ledakan dari arah pertambangan ilegal yang memang sudah dijalani selama bertahun-tahun. Lokasi koloni Kerenza ini memang ilegal, namun kondisi ini seolah sudah diketahui oleh banyak orang, seperti bukan rahasia yang umum.


Dikutip dari Unipedia bahwasannya Pertempuran Kerenza IV adalah pembukaan serangan bertubi-tubi yang sedang berlangsung dalam Perang Korporasi Bintang yang herannya tidak terlaporkan. Pertempuran ini diprakarsai oleh Beitech Industries dan menargetkan operasi tambang hermium ilegal yang dimiliki oleh Wallace/Ulyanov Consortium. Pesawat United Terran Authority, Alexander menjawab panggilan darurat WUC, sehingga ada pertempuran tiga arah antara Beitech, WUC dan pasukan UTA [23].


Space War
Source : Google Image


Karena sudah tertangkap basah oleh UTA, armada Beitech mengambil keputusam mengejutkan untuk menyerang pesawat Alexander dengan harapan menghilangkan saksi. Sebaliknya, Alexander menyebabkan kerusakan parah terhadap Peron Portal Bergerak Magellan, menghancurkan jalan keluar BeiTech. Saat armada BeiTech bertempur melawan Alexander, beberapa pesawat shuttle mengangkut warga-warga sipil dari pemukiman mereka yang hancur. Laporan penggunaan senjata biologis yang tak dikenal masih dikonfirmasi [25].


Jadi, seolah-olah keputusan Kady untuk berpisah dengan Ezra merupakan hal yang membuat dunia berguncang. Apalagi keduanya menyaksikan ketika pesawat BeiTech meledakkan tambang hingga muncul awan hitam yang sangat pekat yang membuat mereka ketakutan. Belum lagi, banyak orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri mereka, sambil merebut mobil-mobil yang sedang dikendarai. Planet Kerenza menjadi kacau balau keadaannya. Sementara itu, Kady dan Ezra mau tidak mau saling membantu demi menyelamatkan nyawa mereka.




Meski Ezra sempat bersikukuh untuk menetap di Kerenza dan mencari ayahnya. Namun, Kady memaksanya untuk ikut menyelamatkan diri dari bahasa BeiTech. Banyak orang yang mereka sayangi menghadapi ajal saat BeiTech menyerang. Bahkan, Kady masih mengingat beberapa orang yang dikenalnya akhirnya meninggal sewaktu kekisruhan terjadi.



Artificial Intelligence
Source : Google Image






Ketika Ezra dan beberapa anggota timnya diwajibkan untuk mengejar BeiTech, namun ternyata menjadi saksi mata pesawat Copernicus tertembak dan sebagian tubuhnya meledak, mereka semua kebingungan. Bukan hanya itu, setelah ledakan yang terjadi di pesawat Copernicus, aliran komunikasi di Alexander diputus. Bahkan demi keamanan, komandan Alexander menyalakan frekuensi darurat untuk keperluan komunikasi dengan pesawat Hypatia yang sayangnya, semua kru dalam pesawat tersebut tidak memiliki banyak informasi.


Perang Antar Pesawat Antariksa Di Angkasa Luas


Setelah memastikan bahwa planet Kerenza dan koloni serta penambangan ilegalnya hancur. BeiTech memutuskan untuk mengejar pesawat Alexander dan pesawat lainnya demi menghilangkan jejak dan bukti penghancuran yang mereka lakukan. Pesawat BeiTech yang bernama Lincoln juga tidak mampu kembali melalui portal, karena baru saja dirusak oleh Alexander.

Sementara itu, baik Alexander, Hypatia dan Copernicus, berniat untuk menggunakan satu-satunya portal terdekat yaitu Portal Heimdall. Sayangnya, karena baku tembak dan kelebihan beban penumpang, pesawat mereka membutuhkan bahan bakar yang lebih. Karena itu, kecepatan mereka tidak bisa secepat biasanya, bahkan mereka harus menjaga agar tidak masuk ke dalam jarak kritis dimana Lincoln bisa dengan mudah menembak mereka.

Adegan ini mengingatkan saya dalam film Star Trek, disaat Enterprise berhadapan dengan pesawat kaptennya di jarak yang tidak aman. Hampir sama seperti itu, sehingga mudah bagi saya membayangkan seperti apa posisi mereka dalam imajinasi saya. Jarak aman ini juga sudah diperhitungkan oleh Lincoln melalui sistem pendeteksinya. Kalian akan ditunjukkan dalam layar yang tertera berapa jam lagi pesawat Lincoln akan berhasil meledakkan Alexander.



Lincoln muncul lagi di teleskop jarak jauhku hampir delapan jam lalu. Kita sedang melaju dengan mesin sekunder. Lincoln akan berada dalam jangkauan senjata lagi kurang dari 24 jam. Aku tidak bisa beralasan dengan Zhang. Dia gila. Tetapi kau tidak... Kau bisa mendengarkan logika. ~ Hal 400


Virus Keanehan Dan Kegilaan Yang Merajalela



Saya bisa melihat mereka. Berlumuran darah. Mata liar dan pucat. Tiga pria dan satu wanita, mengerumuni seorang gadis kecil, tidak lebih dari sembilan atau sepuluh tahun. Gadis kecil itu menjerit, memohon. Seorang pria gemuk duduk di atas dadanya, membuatnya sesak napas. Tiga orang lain berdiri mengelilinginya, balok besi dan pipa kunci pas di tangan, dihiasi darah sampai ke siku. ~ Hal 163


Ada hal aneh yang terjadi pada para penumpang yang berasal dari pesawat Copernicus. Mereka menjadi sosok manusia yang, entah bagaimana menjelaskannya, lekas mengamuk ketika seseorang melihat mereka.

Virus Phobos
Source : Google Image


Penularan keanehan ini sangat cepat, melalui udara. Sebelumnya, para penderita akan mendadak seperti menderita kelumpuhan, katatonia, yang setelah itu mendadak menjadi lebih agresif serta membunuh dan mencongkel mata orang-orang yang mereka incar. Kebanyakan masih memiliki memori yang tersimpan dalam ingatan mereka.



Kondisi ini memperparah misi penyelamatan mereka dari Lincoln. Karena selain mengatur jarak agar aman, memastikan supaya semua mesin berfungsi dengan baik agar tidak kehabisan bahan bakar, serta mencoba meretas sistem Lincoln. Dan mereka harus berpikir tentang virus Phobos yang mengerikan ini. Semua menjadi demikian bertumpuk, masalah yang satu demi satu terus meninggi dan menjadikan beban bagi para kru lainnya.

Saya merasakan tiga klimaks selama mengikuti cerita perjuangan para awak Alexander dan Hypatia ini. Pertama, saat Kady memutuskan untuk meretas akun lain demi bisa berkomunikasi dengan Ezra yang berbeda pesawat dengannya. Kedua, saat para penderita Phobos berhadapan dengan kru. Ketiga, ketika Kady harus menyelamatkan satu-satunya yang tersisa dari kejaran Lincoln.



BLOGTOUR ILLUMINAE



Siapa yang berminat ingin membaca novel ini?? Kalau ingin baca novel ini, jangan lupa untuk mengunjungi blog-blog di bawah ini demi mendapatkan kata kunci, yang nantinya bisa kalian gunakan pada Giveaway yang diadakan di akun instagram @penerbitspring.
Ingin ikutan? Simak syaratnya di sini :





1. Wajib mengikuti Instagram dan Twitter @PenerbitSpring dan @PenerbitHaru 

2. Memiliki alamat pengiriman  hadiah di Indonesia.

3. Wajib membagikan postingan giveaway ini di media sosial kamu dengan mencolek Penerbit Spring. Sertakan juga tagar #blogtourIlluminae.

4. Mengikuti seluruh postingan ulasan novel Illuminae yang berlangsung di kelima blog berikut ini


Sharie, 19 Januari 2018
Link Blog: http://romanitamore.blogspot.co.id/

Wiwi Widiani20 Januari 2018
Link Blog: hhttp://deebacalah.blogspot.com/

Dion Yulianto, 21 Januari 2018
Link Blog: http://dionyulianto.blogspot.co.id/

Ipeh Alena, 22 Januari 2018
Link Blog : http://bacaanipeh.web.id

Abduraafi Andrian, 23 Januari 2018
Link Blog: http://bibliough.com/


5. Tulis di komentar postingan ini nama dan akun IG kamu untuk mempermudah pendataan.


6. Simpan baik-baik jawaban dari pertanyaan yang akan menjadi satu dari lima kata kunci blogtour final di IG Penerbit Spring.

"Apa nama pesawat tempat Kady Grant berada?"

Jangan lupa untuk mengumpulkan jawaban dari seluruh blog yang mengadakan Blogtour di atas untuk diikut-sertakan dalam Final Giveaway di akun instagram @penerbitspring pada tanggal 25 sampai 28 Januari 2018.


Kesimpulan


Semua itu terasa menegangkan dan cukup membuat saya penasaran, jika diangkat ke dalam layar lebar. Siapa yang cocok menjadi sosok Kady? Kalau menurut saya Britt Robertson cocok memerankan Kady, karena penampilannya saat di film Tomorrow Land dan Space Between Us cukup menarik, karena aktingnya yang keren.


Space between us Britt Robertson


Sayangnya, di balik kekerenan itu, saya sempat merasa kesal dengan Kristoff dan Kaufman yang membuat saya seperti orang bodoh. Untuk apa saya merasa terharu dan hendak menangis untuk hal yang sia-sia? HUWAH!! Rasanya bikin kesal, karena plot twistnya benar-benar menipu.

Jika kalian membaca beberapa pendapat pembaca lain di Goodreads tentang betapa buku ini membuat mereka tak sanggup untuk menyelesaikannya. Saya tekankan satu hal : Buku ini memang tidak dikemas seperti buku cerita atau novel pada umumnya. Buku ini dikisahkan melalui kumpulan dokumen seperti : Surat rahasia, transkrip percakapan, transkrip rekaman, transkrip percakapan, hingga kode-kode dalam bentuk laporan data inti dari Aidan.

Jangan cemas jika awal-awalnya kalian merasa aneh untuk melanjutkan petualangan. Karena sebenarnya, novel ini memang membutuhkan kejelian serta rasa ingin tahu yang harus dijaga dan dicari jawabannya dalam setiap berkas-berkas tersebut, layaknya ujian yang membolehkan siswanya open book, tapi si siswa ini tidak masih belum tahu dimana letak jawabannya. Jika itu terjadi, jangan risau, teruskan saja membacanya, nikmati bagaimana Kristoff memainkan imajinasi dalam bentuk petualangan perang antar pesawat di angkasa luar.

Jikalau saya dibolehkan untuk mengeluh, satu-satunya keluhan saya adalah percakapan antara Ezra dan Kady! Kenapa sih, di saat yang menegangkan, bahkan mereka bisa saling rayu dan membahas hal-hal yang enggak penting? Sampai-sampai bertengkar hanya karena masa lalu dan membahas topik yang membuat mereka kembali harus saling merayu satu sama lain. Rasanya, gregetan gitu. Saat saya tengah tegang karena berhadapan dengan penderita dan percakapan mereka kemudian menjadi hal yang membuat saya bete bukan main.

Dan keluhan ini setidaknya terbayar oleh plot twist yang sudah saya jelaskan tadi. Yang tidak terduga dan membuat saya merasa menyesal sudah terharu sedemikian rupa. Kemudian memutuskan untuk menjaga rasa penasaran saya demi membaca Gemina. Apalagi, konon kabarnya, buku ketiganya akan segera terbit! Sungguh, bukan main cepatnya waktu berlalu! [Ipeh Alena]

17 January 2018

Rumah Perawan - Yasunari Kawabata : Sebuah Kenangan Lelaki Tua Dalam Kehidupannya Yang Ikut Menua


Rumah Perawan


Saya membaca Rumah Perawan bersama dengan seorang kawan, seorang narablog ayowaca.com, bernama Iyas. Awalnya saya penasaran dengan isi dari novela ini. Apalagi di dalamnya menyebutkan beberapa kutipan sajak yang cukup unik, sesuai dengan suasana yang dibangun oleh Kawabata.

Sama seperti cerita pendeknya dalam buku Daun Bambu, dimana menyajikan kisah yang kalau dikenang kembali, ternyata buku tersebut pun masih menyisakan kenangan yang lekat. Sebuah karya yang tidak mudah terlupa meski pernah dibaca sekali dan berbulan-bulan yang lalu. Namun, masih segar dalam ingatan seperti apa bentuknya.

Dan Rumah Perawan sama seperti buku sebelumnya. Membawa rasa penasaran saya semakin tinggi demi menggali lagi setiap cerita dalam tulisan Kawabata. Tapi, kali ini, saya mengizinkan diri saya sendiri untuk menuliskan apa yang muncul saat membaca novela yang cukup erotis bagi mereka yang tidak terbiasa. Ini saya tuliskan, untuk memberikan informasi agar tidak merasa membeli kucing dalam karung.



Kartu Tanda Baca 

Judul : Rumah Perawan (Nemureru Bijou)
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerjemah : Asrul Sani
Halaman : 115
Cetakan Pertama, Juli 2016
Versi : Buku Cetak
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4/5
ISBN : 9786024241209



"Malam-malam yang menyajikan kumbang dan anjing-anjing hitam dan mayat-mayat orang mati lemas." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Berkisah tentang seorang lelaki tua, yang sudah hilang kelelakiannya, bernama Eguci mampir ke Rumah Perawan Beradu yang cukup dikenal oleh banyak orang-orang tua - terutama lelaki - namun tidak banyak yang mengetahui terkait keberadaan rumah tersebut. Karena, pintu Rumah Perawan Beradu hanya terbuka bagi beberapa lelaki tua yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan oleh sang Perempuan Penginapan.

Konon, beberapa orang yang seusia Eguci tua, berhasil mendapatkan kembali semangat hidupnya usai tidur dengan para gadis di Rumah Perawan. Ini berdasarkan cerita dari Kiga tua yang merekomendasikan tempat tersebut padanya. Sebenarnya, yang membuat Eguci tua akhirnya memutuskan untuk datang ke Rumah Perawan adalah rasa penasarannya untuk memverifikasi fakta yang diceritakan oleh Kiga tua.

Bagian pertama dari novela ini, langsung dibuka dengan sebuah fakta yang cukup membuat pembaca penasaran. Ini sepertinya harus dicontoh oleh para penulis pemula, untuk mengejutkan pembaca di awal, dan menjaga rasa penasaran mereka hingga akhir. Sebuah peraturan bahwa Eguci tua dilarang melakukan hal yang tidak senonoh, seperti memasukkan jari ke dalam mulut gadis yang sedang tidur, atau hal sejenisnya.

Faktanya, memang Eguci tua membayar untuk menginap di dalam ruangan bersama dengan seorang gadis yang sudah ditidurkan dan tidak akan terbangun dengan cara apapun, tanpa mengenakan sehelai pakaian. Hanya dibekali selimut dan Eguci tua diminta untuk tidak membuat gadis itu kedinginan. Itu hal yang jahat, juga seperti menegur mereka saat bertemu di jalan pun hal yang jahat.

Fakta lainnya adalah para gadis itu memang sama sekali tidak tahu menahu, dengan siapa mereka menghabiskan waktu semalam saat dirinya tertidur. Mereka juga tidak akan pernah tahu, siapa nama pelanggan yang tidur dengan mereka, apa yang terjadi selama malam itu, sampai apa saja yang dilakukan oleh sang lelaki tua pada gadis-gadis itu. Mereka tidak akan mengetahui hal itu karena mereka benar-benar dalam kondisi tidur yang terlampau nyeyak.

Hal ini sempat membuat kening saya berkenyit, sebuah bentuk prostitusi baru yang menyajikan Gadis Perawan sebagai teman tidur, namun para pelanggan tidak dibolehkan untuk melanggar peraturan. Apalagi Perempuan Penginapan itu termasuk tegas menjelaskan bagaimana jika peraturan tersebut dilanggar, meski dengan gaya penyampaian yang cukup lembut dan terkesan dingin.

Gadis-gadis perawan itu, memang benar hanya menemani para lelaki tua yang sudah kehilangan kelelakian mereka, juga kehilangan semangat dalam hidup. Bagi mereka pengalaman tidur dengan para gadis ini membawa kenangan masa muda mereka, hingga bagi Eguci tua hal ini merupakan The Perfect Moment to end his life.





"Jika peraturan ini sampai dilanggar, maka jadinya rumah itu tidak akan lebih dari sebuah rumah mesum biasa." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Meski Eguci tua berkali-kali memiliki dorongan kuat untuk melanggar peraturan. Tapi, tetap saja dia berakhir menenggak dua pil tidur yang memang disediakan oleh sang Perempuan Penginapan sebagai bagian dari servis jika pelanggan mereka kesulitan untuk tidur.

Tidur dengan seorang gadis perawan yang tidak mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuh mereka. Membuat Eguci tua sempat dilanda sebuah pemikiran-pemikiran hingga menganggap bahwa para gadis yang sudah tidur dengannya, berbicara dan bertindak sesua dengan yang diinginkan olehnya.

Bagi Eguci tua, para gadis itu meski ditidurkan sebelum mengetahui siapa pelanggan mereka, tetap hidup meski tidur. Dalam artian, pikiran dan kehidupan yang mereka jalani ini ditenggelamkan dalam kepulasan yang dalam tapi tubuh mereka seolah bangun bagai seorang wanita. Menjadi tubuh seorang gadis, tanpa pikiran, demikian Eguci berpikir setiap memerhatikan gadis yang tidur dengannya.



"Berbaring dengan gadis seperti itu adalah suatu hiburan sementara, pencarian kebahagiaan yang telah sirna, sedangkan hidup masing berlangsung. Dalam tubuh seorang gadis muda ada suatu kemurungan yang menimbulkan dalam diri seorang lelaki tua kerinduan pada mati." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)


Kita sudah dijelaskan mengenai lelaki tua yang kehilangan kelelakiannya dalam kamus Eguci tua. Bisa membayangkan malam-malam yang dihabiskan oleh Eguci tua hanya memandangi wajah dan tubuh para gadis tersebut. Meski kemudian Eguci tua menyadari, dia ingin lebih, dia ingin para gadis itu berbicara dengannya.

Tapi, begitulah peraturannya, mereka dilindungi oleh tidur panjang mereka. Yang mengingatkan Eguci tua pada kematian. Berkali-kali dirinya mengenang masa lalunya bersama para gadis yang sering bergonta-ganti.  Baginya cukup aneh, karena dia tidak pernah mengingat mereka, namun ketika berdampingan dengan gadis tidur itu, dirinya mulai dirasuki kenangan-kenangan masa lampaunya.

Bagi saya, cerita yang disajikan dalam novel ini cukup kelam. Tentang seorang lelaki yang menginginkan kematian karena tidak lagi memiliki gairah untuk hal yang membuatnya semangat. Hanya ada satu yang selalu dinanti olehnya, berdampingan sambil tidur bersama para gadis. Itulah yang membuat Eguci tua senantiasa meminta obat tidur yang sama dengan si gadis tersebut. Demi tidur panjang yang membuat dirinya selalu bermimpi tentang masa muda.




"Dari zaman purba lelaki tua menganggap bau yang disebarkan gadis-gadis bagai air mukjizat kemudaan." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Dari kacamata saya pribadi, Kawabata bukanlah bermaksud untuk menjabarkan betapa sempurnanya tubuh para perawan melalui deskripsi detailnya. Mungkin ini sebagai pengalihan, karena biasanya orang hanya akan fokus pada sesuatu yang menarik bagi dirinya. Sebab, saya mendapati beberapa bagian yang merupakan pemikiran Eguci.

Seperti ketika dia mempertanyakan, apa yang dipikirkan oleh orangtua para gadis ini sehingga membolehkan anak-anak perempuan mereka yang masih perawan tidur bersama dengan lelaki tua yang berbeda-beda? Kekhawatiran ini juga hadir dalam kenangan tentang tiga anak perempuannya yang sudah menikah dan menjadi sosok ibu bagi cucu-cucunya.

Kemudian pemikiran tentang alasan apa yang membuat si Perempuan Penginapan mau menyajikan servis demikian bagi para lelaki tua. Bagaimana dia mendapatkan koleksi perempuan muda yang bahkan tidak dikenal identitasnya bagi Eguci tua. Dia membayangkan masa depan para gadis ini, akan seperti apa, akan berkelakuan bagaimana dan segala hal mengingatkan banyak hal tentang perempuan-perempuan lain yang pernah melayaninya.

Terutama tentang kehidupan. Bagi seorang lelaki tua yang sudah tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan. Eguci tua cukup memikirkan banyak hal dalam kehidupannya. Yang diwakili dari rentetan bayangan-bayangan pada masa lalunya bersama para geisha dan perempuan yang pernah ditemuinya di klab malam. Hingga, terakhir, sebelum dia meminta pil tidur kembali, dia memikirkan Ibunya.

Sosok Ibu yang membuat Eguci Tua terguncang. Bagai seorang anak yang memiliki berkarung-karung kerinduan pada sang Ibu dan mengingikan pertemuan dengannya hingga bisa kembali menghirup udara yang sama dengan sang Ibu. Seolah itu adalah perhentian terakhir dalam kehidupannya. Dan Eguci tua terombang-ambing bersama bayangan tentang sosok Ibunya.


***


Pendapat saya sama seperti di akun Goodreads. Bahwasannya saya tidak mendapati sesuatu yang WAH pada cerita ini. Tapi entah kenapa, karya ini, bahkan hingga saat ini saya menuliskannya, masih lekat di dalam ingatan dan hati saya. Beberapa pengulangan ketika Eguci ditemani nyanyian alam berhalusinasi kemudian berpikir tentang kehidupan.

Betapa sebenarnya menyedihkan sekali bagi seseorang yang telah kehilangan semangat mudanya. Hingga ingatan tentang The Perfect Moment To Die, mengingatkan saya kembali pada harapan hidup dan betapa sulit bagi mereka para orang tua yang sudah benar-benar sepuh, untuk melanjutkan kehidupan. Dimana Zaman yang mereka tempati ini berbeda dengan yang mereka kenali dulu. Sedangkan semangat mereka telah memudar namun kehidupan di sekeliling mereka terlampau cepat hingga rasanya tak mampu kaki-kaki lemah mereka mengejarnya.

Sama seperti Eguci tua yang terpanggil setiap kenangannya dari tidur dengan gadis perawan. Saya pun terpanggil kenangan saya, meski bukan dari tidur bersama gadis karena saya lebih menyukai pria, tapi dari tidur bersama buku-buku yang sudah pernah saya baca. Seperti saat ini, ingatan saya kemudian tertuju pada sosok tua yang menjadi ayah dari ayah saya.

Dia kupanggil Kakek, yang kini sudah menginjak usia 70 tahun. Dia tak lagi betah tinggal bersama anak-anaknya, namun kerap merindukan kehadiran dan keramaian mereka. Dia tak lagi bisa menyesuaikan diri dengan dunia yang sudah begitu cepatnya hingga membuatnya kerap merasa kelelahan dan tak mampu melanjutkan kehidupan. Dia pula yang sering mengatakan padaku, keinginannya untuk segera mati namun kenapa Tuhan tak membuatnya mati? Yang kemudian membawaku pada rasa rindu teramat. Membuat mataku basah oleh cairan yang entah ini kunamakan kerinduan atau kesedihan atau justru rasa kasihan? Yang kemudian membuatku tak ingin berhenti berdoa untuknya. 

Dan semoga pembaca tidak berpikir yang bukan-bukan, hanya karena seorang lelaki tua berkeinginan untuk mati. Karena, sesungguhnya menjalani hari tua bukan hal yang ringan. Jika saja semua orang tidak langsung berpikiran buruk tentang orang-orang yang merindukan kematian daripada kehidupan dan orang-orang di sekitarnya, mungkin akan banyak para orang tua yang menyeritakan betapa mereka terkadang lelah untuk terus menerus menyusahkan orang lain. Mereka terkadang lelah untuk terus menerus menjadi tak berdaya. Semoga saja orang-orang yang berpikiran buruk terhadap para orang tua ini berkurang, alih-alih mereka menjadi sosok yang mendoakan kebaikan untuk mereka.

Sial betul Kawabata, membuat saya terseret-seret dengan pemikiran lelaki tua ini, seolah saya tengah mendengar kembali gaungan suara Kakek yang berkali-kali meminta agar kehidupannya disudahi saja karena kelelahan yang luar biasa. Ah, Kakek, sungguh saya masih membutuhkanmu ;). And those tears won't stop dropping.

10 January 2018

The Casual Vacancy : Perebutan Kursi Kosong Dan Kisah Keseharian Warga Pagford






Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru saja menginjak 40 tahun. Kepalanya sempat terasa sakit saat dia baru saja mengirimkan artikel ke sebuah surat kabar. Kemudian mengajak istrinya untuk makan malam bersama. Pasalnya, sejak dirinya menjabat menjadi anggota dewan di Pagford, tentunya waktu bersama dengan istri dan anak-anaknya harus rela terkuras demi warga di Pagford. Barry merupakan seseorang yang berjuang demi keberlangsungan hidup orang-orang di Fields.

Sementara itu, kematiannya yang mendadak akibat penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarganya yang lain. Menjadi bahan perbincangan yang cukup lama di antara warga Pagford. Ada beberapa orang yang bersedih seperti Marry - istrinya, anak-anaknya, Gavin sang asistennya di tempat Barry bekerja, hingga Krystal Weedon seorang anak perempuan yang lahir dan tinggal di Fields.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Casual Vacancy
Penulis : J.K Rowling
Halaman : 596
Cetakan I, November 2012
Versi : Buku Hardcover
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Penerbit Qanita (Imprint Mizan Pustaka)
ISBN : 978.6029.2256.86
Rating : 5/5


***

Kisah dalam novel The Casual Vacancy ini terbentuk dari cerita kehidupan sehari-hari warga Pagford dan Fields. Benar-benar kehidupan mereka sehari-hari, dari mereka bangun tidur hingga kemudian malam menjelang. Semua mengisi bagian-bagian dalam cerita hingga tampak seperti puzzle yang kemudian menjadikannya satu cerita utuh yang berbentuk novel.


Casual Vacancy / Kekosongan Jabatan Dianggap Terjadi :
(a) ketika seorang anggota dewan tidak bisa hadir untuk menerima pelantikan jabatannya dalam kurun waktu yang sudah ditentukan; atau(b) ketika surat pengunduran dirinya disetujui; atau(c) ketika ia meninggal dunia...
Charles Arnold - BakerLocal Council Administration,Edisi Ketujuh


Barry Fairbrother, seorang lelaki yang penyayang, lucu dan mudah menempatkan dirinya di antara orang-orang yang berada di Pagford. Project yang baru saja dia selesaikan adalah membuat tim dayung di sekolah yang terletak di pinggiran Kota Yarvil, St. Thomas. Hal yang membuat tim ini berbeda yaitu keberadaan Krystal Weedon, seorang anak yang lahir dan tinggal di Fields, dengan kondisi seorang Ibu yang tengah menjalani rehabilitasi narkoba. Namun, keyakinannya akan perubahan di masa mendatang bagi Pagfords dan Fields ini membawa pertentangan tersendiri bagi beberapa warga yang tinggal di Pagford.


Pagford merupakan daerah yang bersinar dengan kebajikan moral, pemandangan yang indah disertai bukit-bukit kecil yang mengelilingi rumah-rumah mungil, terdapat sungai yang mengalir deras dan pepohonan yang berjajar dengan rapi. Menampilkan siluet megah sebuah biara yang berada di atas bukit. Pemandangan ini disesuaikan juga dengan perilaku setiap warganya yang harus tampak terhormat serta anak-anak mereka yang terdidik.

Sementara itu Fields, merupakan mimpi buruk bagi banyak orang, dimana dapat ditemui jendela-jendela yang tertutup tripleks serta penuh dengan coretan kata-kata jorok. Anak-anak yang tidak bersekolah dan nongkrong sambil merokok. Tidak hanya itu, banyak dari mereka yang adiksi terhadap narkoba hingga free sex. Lingkungan di Fields dikenal sebagai daerah kumuh yang diisi dengan anak-anak berandalan.

Asisten Barry, Gavin, yang mengurus banyak hal paska kematiannya. Dari mengurus surat-surat hukum hingga surat kematiannya sampai pemakamannya. Gavin juga dengan rela menemani Marry dan memastikan agar wanita itu mendapat cukup makan dan minum tanpa melupakan dirinya sendiri. Wajar saja, Marry adalah istri dari sahabatnya yang tengah berduka, sehingga membuat Gavin merasa harus menemaninya. Meski dirinya harus bertengkar dengan Kay - pacarnya - setiap hari hanya karena dia tak lagi sempat menemui pacarnya itu.

Sedangkan Kay, seorang petugas dinas sosial yang akhirnya harus menangani kasus keluarga Weedon karena Robie berkali-kali tidak masuk sekolah. Satu hal yang harus dia lakukan adalah mengunjungi rumah tersebut dan memastikan bahwa Terri tidak menyakiti Robie dan juga tidak sedang menggunakan heroin lagi. Meski kemudian faktanya, Terri ditemui oleh Kay dalam keadaan mabuk. Padahal dia merupakan pasien pusat rehabilitasi pengobatan bagi para pecandu narkoba.

Fakta selanjutnya adalah Terri merupakan ibu dari Krystal Weedon yang satu sekolah dengan anaknya - Galia. Dimana Krystal-lah yang mengurus adiknya selama ini, karena Terri kerap tertangkap masih menggunakan narkoba. Kasih sayang Krystal pada Robie memang sangat besar, bahkan dia sangat menjaga Robbie agar tidak terkena damprat Terri ketika ibunya itu sedang dalam kondisi 'ngefly'.

Hal yang sering membangkitkan amarah Krystal adalah Terri masih saja menerima penitipan barang dari Obbie dengan bayaran sebungkus heroin. Jika ibunya masih terus-terusan seperti ini, peluang Terri merawat Robbie akan hilang. Tidak hanya itu, kemungkinan besar, ibunya itu akan dikeluarkan dari pusat rehabilitasi yang gratis untuk warga Fields. Dimana pembiayaan dari pusat rehabilitasi ini merupakan hasil dari kontribusi warga Pagfords.

Di sekolah St. Thomas, ada banyak anak-anak lain yang memiliki permasalahan sendiri-sendiri khas anak remaja. Seperti Andrew Price yang mengalami jatuh cinta pertama kali pada Galia, namun dia berusaha menyembunyikannya. Sementara kehidupannya di rumah juga tidak nyaman dan tentram karena sang Ayah kerap kali memukulnya bahkan mengancamnya. Tidak pernah dia temukan sang Ayah berbicara dan bersikap ramah pada Andrew, juga pada istrinya Ruth Price. Kehidupannya yang seperti ini membuat Andrew menghabiskan banyak waktu di luar rumah bersama dengan sahabatnya : Fats.

Fats merupakan anak kepala sekolah St. Thomas, dimana Ibunya juga bekerja di sekolah tersebut sebagai Guru Konsul. Setiap hari dia akan berangkat bersama dengan kedua orangtuanya. Sering dirinya mendapati teman-teman lainnya menggoda dengan makian yang kerap dibalasnya tanpa ampun hingga mereka tidak dapat membalasnya lagi. Namun, perilaku Fats yang tak dapat diterima oleh Andrew adalah Fats sering mem-bully Sukhvinder, bahkan melabelinya dengan Gadis Berkumis.

Kenakalan Fats sebagai bentuk protes dari kehidupannya yang harus selalu menuruti peraturan dan perintah dari sang Ayah. Apalagi kedua orangtuanya memiliki status yang sangat disegani di sekolah dan di tempat tinggal mereka. Inilah sebabnya Fats mencoba untuk terus berbuat nakal demi merasakan kehidupan yang berbeda, hingga memutuskan menggoda Krystal Weedon.

***

Tema terbesar dari buku The Casual Vacancy ini sudah bisa ditebak, dimana kondisi warganya berebut untuk mengajukan diri sebagai pengganti Barry usai kematiannya. Namun, di luar dari perebutan ini, ada banyak karakter yang mengisi cerita melalui kehidupan mereka sehari-hari. Tidak hanya terfokus tentang mereka yang ingin mengganti posisi Barry, tapi juga setiap penduduk Pagfords dan Fields yang menjadi satu kesatuan cerita.

Meski saya merasakan kesulitan untuk masuk ke dalam cerita saat mencapai bab-bab awal hingga pertengahan. Karena perkenalan banyak tokohnya sampai hal-hal apa yang identik dengan mereka hingga watak mereka, semua berkaitan satu sama lain dan cukup menguras tenaga untuk mengingatnya agar tidak bingung saat mencapai bagian akhir. Juga karena terlalu lambat alurnya, sempat saya dilanda kebosanan mendadak selama membaca novel ini. Tapi, ceritanya yang tidak bisa ditebak sampai twist yang menarik membuat saya tetap menyukai novel ini.

Pada akhirnya, kemudian saya berusaha mencari beberapa buku karya Rowling, selain Harry Potter, untuk saya baca. Kebetulan, saya masih belum memiliki keinginan untuk membaca serial Harry Potter. Jadi, saya memutuskan membaca karyanya yang lain saja untuk berkenalan, siapa tahu setelah ini jadi berhasrat untuk membaca Harry Potter.


07 January 2018

Heartbreak Formula : Kisah Mereka Yang Memutuskan Untuk Mengakhiri Hidup


Heartbreak Formula



Masih segar dalam ingatan saya, ketika berita tentang orang yang mengakhiri hidup muncul di kanal sosial. Mendadak, banyak orang yang langsung menjadi pemuka agama dan menasihati agar tidak seperti si fulan dan fulanah. Atau saat ada seseorang yang menyeritakan kehidupan mereka yang sangat sulit dan berusaha untuk berjuang agar tetap hidup, kemudian disindir beramai-ramai tanpa ampun bahkan tidak jarang banyak dari mereka yang mem-bully, namun ketika ditegur mereka menganggap bahwa itu adalah tindakan yang benar.

Bullying sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi tindakan yang baik apalagi benar. Bullying tidak akan pernah baik meski dibalut dengan nasihat apalagi dengan memasukkan unsur agama. Bullying dalam bentuk apapun merupakan tindakan yang tercela. Meski itu ditujukan untuk membuat orang tersebut jera, karena tentunya perbuatan tercela lebih baik ditegur dengan cara yang baik, bukan dengan cara tercela seperti bullying.


Tidak banyak orang yang menyadari, seberapa sering mereka menyakiti hati orang lain, seberapa mudahnya mereka meminta maaf, seberapa entengnya mereka menganggap remeh permasalahan orang lain. Bahkan, banyak yang tidak menyadari dan bahkan bangga bahwa mereka tidak pernah membully, padahal kerap kali ditemukan bukti tindakan tersebut. Ini sebuah contoh perilaku manusia yang sering menimbulkan banyaknya orang memutuskan untuk bunuh diri.

Pertanyaannya, apakah mereka sudah yakin benar-benar bersih dari jalinan kesalahan yang membuat orang memutuskan untuk mengakhiri hidup? Jangan-jangan, Anda pernah sekali dua, mengatakan sesuatu yang mungkin menjadi pencetus seseorang mengakhiri hidupnya tanpa Anda sadari.

Novel yang saya baca di awal tahun 2018 ini, berkisah tentang remaja-remaja yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka, dengan permasalahan yang mereka miliki masing-masing. Issue ini dijelaskan oleh Mpur Chan - sang penulis - sebagai pengingat betapa banyak orang yang berjuang demi kehidupan mereka dan sebagai pengingat meski dirasa sulit hidup yang dijalani namun tetaplah berusaha berjuang untuk tetap hidup dan menjalaninya.


"Suicide Doesn't Kill People. Sadness Kills People." ~ Anonymous



Kartu Tanda Baca

Judul : Heartbreak Formula
Penulis : Mpur Chan (IG @Mpurchan )
Halaman : 292
Cetakan Pertama, Desember 2017
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Haru Media
Rating : 3.5/5
ISBN : 978.6026.3833.72

Sebuah Pengantar Dari Buku Heteronomia Dan Pentas Kota Raya



Saya akan sedikit membubuhi ulasan buku Heartbreak Formula dengan kedua buku karya Fuad Hassan. Sedikit tentangnya, Fuad Hasan adalah seorang guru besar di bidang Psikologi, beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1985-1993. Tulisan-tulisan karyanya sudah banyak dibukukan, ada tiga buku yang sudah saya baca yaitu Pentas Kota Raya, Heteronomia dan Studium Generale.

Pada essai bertema Pengaruh Teknologi Pada Kemanusiaan, sesuai dengan salah satu faktor yang muncul dalam novel Heartbreak Formula yaitu New Media akan internet. Menurut Jasper, teknologi bukan saja telah menelan manusia dalam proses berlarut yang rutin dan monoton, tetapi juga telah mengakibatkan dehumanisasi terhadap manusia sendiri meskipun manusia pulalah yang mengembangkan teknologi itu.

Dikutip dari buku Heteronomia halaman 18, Betapapun paradoksal kedengarannya, kenyataan-kenyataan dalam abad terakhir ini sudah juga membuktikan bahwa teknologi adalah suatu kekuatan - suatu kratos - yang tidak semata-mata produktif dan konstruktif cirinya, melainkan juga destruktif, baik materiil maupun spirituil. Teknologi yang dikembangkan untuk mengatasi sejumlah masalah agar akhirnya kehidupan manusia ini menemukan modus baru yang lebih serasi dan mantap, akhirnya membuktikan bahwa ia pun mampu menggoncang tata hidup itu beserta nilai-nilainya yang semula diunggulkan.

Teknologi terbukti menjadi sebuah alasan manusia mengalami keterasingan, pada masyarakat tradisional adalah hal yang lazim mengatur diri mereka atas pola hubungan antarpribadi yang lebih mempertimbangkan faktor manusia sebagai pribadi alih-alih sebagai oknum. Dari kehidupan masyarakat tradisional ini bisa dilihat perbandingannya dengan masyarakat modern yang haus akan teknologi yang menggantikan posisi hubungan mereka yang menggunakan teknologi sebagai elemen pengganti eksistensi manusia.


Tanpa sadar manusia modern berangsur-angsur menghadapi kenyataan hidup baru yaitu menyempitnya penghayatan ruang dan waktu. Ini berarti teknologi telah menciptakan suatu ruang hidup dan tempo hidup yang radikal berbeda dengan apa yang kita hayati dalam kehidupan masyarakat tradisional. Dari pengaruh ini didapati pula bahwasannya manusia urban yang telah dipacu oleh kondisi modern hampir kehilangan kesempatan untuk menikmati alam sekitarnya dan lebih terbawa oleh arus kehidupan yang mekanistis dan tidak memberikan peluang untuk kontemplasi.

Kondisi kemanusiaan dewasa ini - justru oleh kemajuan teknologi - telah demikian rupa derajatnya sehingga, tanpa kita sadari, banyak di antara kita sudah menjadi bergantung sekali kepada perpanjangan-perpanjangan artifisial, yang pada gilirannya kian memperluas jarak antara kita dan apa yang alamiah. Pemanjaan dalam berbagai bentuk yang telah dimungkinkan oleh perpanjangan-perpanjangan artifisial itu telah membuat kita makin fragile untuk menyelenggarakan interaksi dengan alam kita. Tidak dapat diingkari pula bahwa perpanjangan-perpanjangan termaksud dihasilkan oleh teknologi [Hal 24].

Dalam buku Pentas Kota Raya di halaman 6-7 menggambarkan kehidupan pada masyarakat urban dan menggesernya nilai-nilai kehidupan ini juga berpengaruh pada hadirnya kesenjangan yang menganga antarlapisan dan antarkalangan dalam masyarakat. Kesenjangan itu begitu rupa sehingga akan sulit memperkecilnya, jangankan mengatasinya. Berbagai kesenjangan yang melekat tidak saja diragakan secara fisik, melainkan juga secara mental. Karena begitu terbiasa dengan hal ini, maka kepekaan semakin menumpul dan nurani semakin kurang berbicara, dan bersama itu sambung rasa dalam kehidupan bersama pun semakin melonggar. Kepedulian dan kesetiakawanan sosial telah sirna tanpa menggema.

Ada kalimat penutup dari essai berjudul Adegan Dari Pentas Ibu Kota yang sangat sesuai dengan keadaan di seluruh kota di dunia. Yang membuat saya selalu kagum karena beliau menulis essai ini jauh sebelum perangkat pintar menjadi hal yang lebih berharga bagi hidup. Pada halaman 23 - 24 dituliskan bahwa Orang harus tahu kiatnya mengatasi kejenuhan dan kejemuan, juga kesanggupan untuk menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan. Kalau tidak, dia akan dilanda oleh frustasi berkepanjangan. Mengeluh pun tidak ada gunanya karena tidak gampang menemukan mitra yang sungguh-sungguh mau menampung keluhannya, apalagi memahaminya.

Ini sebagai refleksi sebuah alasan yang sebenarnya banyak dialami oleh para korban yang mengakhiri hidup mereka. Sulitnya menemukan mitra yang sungguh-sungguh mau menampung dan memahami keluhan. Beruntunglah mereka yang tidak pernah mengalami kesulitan menemukan orang yang bisa diajak berbincang di kala sedih. Namun, perlu diketahui, bahwa perasaan ingin mengakhiri hidup itu adalah NYATA. Dan sudah semestinya mereka yang beruntung ini, bukan menjadi Tuhan yang memutuskan hubungan karena mereka tak layak ditemani, tapi menjadi sesama manusia yang minimal tidak menyakiti apalagi berkata sembarangan jika tidak mampu untuk membantu.



Sebuah Formula Yang Dapat Menghapus Memori Spesifik Pada Manusia



Cerita fiksi ini memang cukup menarik, karena mengangkat tema bunuh diri sebagai pendukung cerita. Itulah kenapa saya tidak ingin menyia-nyiakannya dengan memberikan pengantar dari beberapa buku yang sudah saya baca mengenai bunuh diri. Sayangnya, buku psikopatologi bunuh diri tidak saya sertakan di sini, karena nanti akan terlalu panjang dan menjadi tidak fokus pada buku yang ingin saya ceritakan ini.

12 orang remaja dikumpulkan dalam satu ruangan di Zanson Survival Shelter, mereka semua memiliki persamaan : tersedot oleh rasa patah hati yang menggiring mereka untuk mengakhiri hidup. Tiap-tiap remaja yang mengikuti program uji coba formula baru ini, sudah bersiap untuk melupakan ingatan masa lalu mereka yang buruk, mereka berharap dapat menjalani kehidupan yang baru dimana mereka terlepas dari beban ingatan buruk masa lalu.

Jangan salah, bentuk Heartbreak di sini bukan sekadar cinta ala pacaran. Tapi lebih dari itu, seperti Summer yang harus ditinggal oleh sang Ayah tanpa alasan apalagi perpisahan secara langsung. Suatu hari usai sekolah, dia sama sekali tidak menemui Ayahnya menjemputnya, sehingga dia harus pulang berjalan kaki kemudian sang Ibu mengatakan kalau dia tak akan bertemu dengan Ayahnya lagi.

Tidak sampai di situ, Summer juga harus mengalami kondisi sang Ibu yang tenggelam dengan pekerjaannya demi menyembunyikan kesedihannya. Terkadang dia melihat Ibunya menangis sambil meminum bir. Komunikasi yang terjadi hanya sebatas pesan-pesan yang ditinggalkan sang Ibu di atas kertas yang ditempelkan di pintu kulkas. Kemudian, sahabat masa kecilnya - Harry - perlahan menjauh hingga dia tidak lagi memiliki seseorang yang bisa mendengarkan apa yang dia ingin ceritakan dan apa yang dia alami selama ini.

Atau seperti June, yang harus menyaksikan kekerasan yang dilakukan oleh sang Ayah terhadap Ibunya hingga sang Ibu meninggal. Namun, ketika fakta itu terkuak, justru tidak banyak orang yang memercayainya dan June harus tetap berdiri sendiri di tengah bisikan orang tentangnya dan tentang Ibunya, dimana dia merasa sangat sendiri dan ingin menyusul sang Ibu.

Formula Oldivelo ini terfokus pada jaringan sel yang terdapat di Hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan kenangan. Formula ini menutup jalur simpanan memori, bahkan membuat memori itu hilang. Jalur aliran biokimia yang mempertahankan memori, ditutup. Formula ini hampir sama dengan obat yang digunakan pada terapi pasien trauma kecelakaan, namun formula ini dapat menghapus memori spesifik. ~ Hal 267


Sebelum mendapatkan formula tersebut, setiap pasien yang berada di Zanson diberikan simulasi terhadap kondisi mereka. Ini untuk menentukan dosis yang tepat bagi mereka, meski hasil dari formula ini tidak sepenuhnya sama. Dalam artian, ada dua formula yang bahkan tidak diketahui oleh pihak Zanson apakah formula tersebut merupakan Oldivelo atau cairan Placebo. Hasil yang akan membuktikan disertai proses panjang yang cukup melelahkan bagi banyak pasien.

Beberapa simulasi yang diberikan oleh pasien direkam hasilnya melalui Sitbrain, sebuah alat yang akan membantu para dokter, psikolog, neuron dan orang-orang yang berada di balik penelitian ini demi merekam kinerja otak dan pikiran para pasien. Ini juga agar mengetahui apa-apa saja yang menjadi pencetus timbulnya keinginan bunuh diri serta memori apa saja yang ternyata buruk bagi mereka.



Novel Lokal Sci-Fic Dengan Rasa Berbeda



Ini kali pertamanya saya mencicipi novel yang ditulis oleh penulis Indonesia bernuansa science-fiction dengan tokoh dan latar cerita di Luar Negeri tepatnya di New York. Cukup memuaskan, terutama segi penokohan yang lumayan konsisten dari awal hingga akhir. Kemudian, jalan cerita yang tidak hanya sekadar menjadikan issue bunuh diri dan penemuan sebagai balutan saja, tapi juga menjadi bagian dari cerita hingga akhir.

Saya suka novel ini, meski saya memberikan nilai tiga, tapi bukan berarti novel ini jelek. Bukan. Karena novel ini memiliki cerita yang berbeda dari biasanya sehingga patut dibaca sendiri dan merasakan pengalaman mengikuti cerita dari awal hingga akhir. Karena pengalaman membaca itulah yang nantinya akan memberikan efek tersendiri bagi pembaca.

Selain itu, saya juga menyukai karakter-karakter dalam penokohan yang begitu kuat, dengan ciri-ciri yang lebih digambarkan melalui narasi yang detil, sehingga mampu membangun imajinasi yang baik dari tokoh tersebut, alih-alih sekadar mengatakan bahwa si A depresi, Mpurchan justru mengemasnya dengan sebuah kondisi secara langsung sehingga indera perasa pembaca distimulasi.

Kekurangan yang saya rasakan di sini adalah tokoh-tokoh penunjang yang merupakan pasien-pasien lainnya masih kurang dieksplorasi. Seperti kehidupan mereka, bagaimana perjuangan mereka hingga memiliki satu hal yaitu HARAPAN untuk bisa menjalani kehidupan yang berbeda. Seperti apa bentuk rasa sakit yang mereka alami, bagaimana kondisi mereka ketika sesuatu tercetus dan apakah mendatangkan histeria dari mereka atau tidak. Kalau itu digali lagi, kemungkinan pembaca akan menemukan motivasi yang sangat kuat sehingga formula ini menjadi jalan keluar yang masuk akal demi menyembuhkan luka mereka.

Meski mungkin Mpur Chan ingin menekankan bahwa masa lalu yang buruk itu sesuatu yang menjadikan kita saat ini. Atau segala hal tentang mengenal diri sendiri dan menerima diri kita apa adanya. Namun, saya tetap berharap proses di sini, termasuk bagaimana mereka menemukan jati diri mereka, bagaimana mereka deal with kondisi dan masa lalu mereka, dituliskan juga. Sehingga pembaca yang tengah mengalami kehidupan yang sulit, mungkin akan berpikir "Eh saya juga mengalami hal ini" kemudian setelah selesai siapa tahu mereka akan berpikir "Mungkin, saya harus mencoba untuk tetap bertahan esok hari, esoknya lagi dan lagi."

Jadi, novel ini bisa memberikan sebuah nuansa yang baru bagi pembacanya. Seperti banyak orang yang tergugah ketika membaca novel The Catcher in the Rye atau saat banyak orang bersemangat. Seperti novel The Bell Jar yang cukup detil dalam menyematkan proses penyembuhan mereka yang hendak bunuh diri. Siapa tahu Mpur Chan hendak menulis novel lain dengan tema yang sama, bisa mengambil rekomendasi dari novel-novel klasik.

***

Bagi kalian yang ingin mengetahui lagi tentang novel ini, bisa eksplorasi di Instagram dengan hashtag #HeartbreakFormula . Di sana banyak para bookstagramer Indonesia yang sudah menulis ulasannya di akun mereka. Tidak hanya itu, di akun @PenerbitHaru juga sudah diunggah sebagian halaman pada bab awal untuk dibaca, setidaknya sebagai perkenalan dengan gaya bahasa Mpur Chan. [Ipeh Alena]

Selamat membaca, salam literasi.


Wordcount : 1929

06 January 2018

The Storied Life of A.J Fikry - Kisah Hidup A.J Fikry





Memangnya siapa sih A.J Fikry itu? Sampai-sampai kisahnya dituliskan oleh Zevin ke dalam sebuah buku yang kemudian menjadi sangat terkenal dan banyak dibaca oleh pembaca di mancanegara. Meski beberapa banyak yang mengatakan kalau buku ini berkisah tentang buku, tapi kenapa judulnya justru nama orang?

Saya sempat bertanya-tanya mengenai hal tersebut hingga bertanya pada “Google” tentang siapa sebenarnya A.J Fikry. Saya pikir dia adalah sosok atau tokoh masa lampau yang kisah hidupnya dibalut dengan fiksi. Tapi, nyatanya, A.J Fikry adalah seorang A.J Fikry. Sosok pria yang jauh dari kata romantisme ala Romeo dan Juliet. Mudah tersinggung dan perilakunya sangat jauh dari kata PERFECT untuk ukuran tokoh utama.

Namun, kesempurnaannya itu adalah ketidaksempurnaannya. A.J seorang penjual buku yang mencintai buku. Dia merasa sudah terlalu tua untuk memulai segalanya kembali terutama dalam hal cinta. Seorang penjual buku yang sering menyodorkan buku-buku rekomendasinya untuk para pengunjung, seorang penjual buku yang bahkan bisa membantu para pengunjungnya mencari buku tertentu hanya berdasarkan plot cerita. Seorang penjual buku yang bahkan menghapal judul buku dan penulisnya sampai alur kisahnya sambil dikaitkan dengan kehidupan nyatanya.

Sebagai seseorang yang juga membaca buku - saya tidak berani mendeklarasikan diri saya sebagai pembaca buku sejati karena saya tidak ada apa-apanya dibandingkan A.J  - kehadiran seseorang yang mampu menanggapi lawan bicaranya dalam diskusi buku, itu adalah kenikmatan yang tiada tara. Meski terkadang selera dalam membaca bisa menjadikan jurang pemisah, tapi saya percaya bahwa memiliki kesamaan saat berbincang dengan lawan bicara, merupakan hal yang menyenangkan.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Storied Life Of A.J Fikry
Penulis : Gabrielle Zevin
Halaman : 277
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rating : 5/5
ISBN : 9786020375816

***

Menurut pengalaman Amelia, kebanyakan masalah orang akan terselesaikan seandainya mereka mau memberi kesempatan bagi lebih banyak hal. ~ Hal 17


Sebagai seorang marketer sebuah penerbit, Amelia memang dituntut untuk mengetahui isi buku-buku yang akan ditawarkan ke beberapa penjual buku. Tentunya, ini menjadikan Amelia selalu menyukai buku-buku debut, baginya ini sebagai usaha untuk memberikan kesempatan bagi buku tersebut untuk dikenal oleh banyak pembaca.

Seperti The Late Bloomer, yang nantinya akan menjadi sebuah penghubung dirinya dengan sosok lain, yang merupakan memoar kehidupan lelaki berusia lanjut tentang cinta yang dialami olehnya. Meski bagi A.J, kisah tentang duda ini tidak membuatnya tertarik.

Bagaimana bisa tertarik, sementara A.J baru saja kehilangan istrinya - Nic - dan berusaha untuk mengurus toko bukunya serta berusaha untuk tetap hidup. Moodnya A.J memang selalu buruk, dia selalu sinis bahkan cenderung tidak ramah, jika dipandang oleh banyak orang. Kalau kata Daneil Parish, Pak Tua Yang Malang, demikian dia memberikan label kepada A.J.

Jika Amelia senang memberikan kesempatan bagi karya-karya baru untuk bisa mendapat posisi diketahui oleh para pembacanya. Berbanding terbalik dengan A.J, yang sangat teramat menyukai sastra. Baginya, sastra itu harus sepenuhnya sastra. A.J tidak menyukai buku anak - terutama jika tokohnya yatim piatu, juga tidak begitu menyukai novel yang kurang dari 150 halaman dan juga lebih tebal dari 400 halaman, dirinya juga muak dengan novel-novel tentang selebritis, tokoh politik sampai atlet yang menurutnya banyak ditulis oleh Ghost Writer.

Ada satu hal yang merupakan sebuah kesamaan bagi saya dengna A.J, kami sama-sama tidak menyukai sampul poster film. Namun, lebih dari itu, A.J bahkan tidak menyukai buku debut, chicklit, puisi atau terjemahan. Bahkan cenderung tidak menyukai buku-buku berseri. Tapi, ada satu yang sangat disukai oleh A.J yaitu Kumpulan Cerpen.


***


Kerapiannya terasa aneh, namun bukan tidak pernah terjadi sebelumnya. Saat mabuk pun ia rapi. ~ Hal 33


Saat Amelia tidak sengaja menyandung tumpukan buku yang kemudian menjadikannya berantakan, lalu Amy berusaha untuk menyusunnya kembali, justru A.J menolak dengan mengatakan bahwa buku-buku tersebut disusun berdasarkan peraturan tertentu. Peraturan yang memang dibuat khusus oleh A.J demi kerapian buku-buku di tokonya. Terdengar sangat menyenangkan, meski sayang Zevin tidak menjelaskan metode seperti apa yang digunakan oleh A.J dalam menyusun buku-bukunya.

Pengetahuannya akan sebuah buku membawa A.J untuk mendapatkan satu buku yang bernilai sangat mahal, yaitu Tamerlane. Buku yang saya pun baru mengetahuinya, merupakan buku karya E.A Poe yang ditulis saat masih muda dan diterbitkan dengan sangat terbatas. Buku tersebut sangat teramat bernilai, sampai-sampai A.J menyimpannya di sebuah lemari kaca.

Namun, suatu malam sebuah misteri terjadi, Tamerlane menghilang tanpa jejak dan bukti yang bisa membantu kepolisian mencari jejaknya. Kehilangan Tamerlane membuat A.J akhirnya terpaksa untuk terus bekerja dan bekerja, menyibukkan diri demi mengisi tabungannya. Dia selalu mengasihani dirinya sebagai Pria tua yang miskin. Hingga suatu malam, sebuah kejadian yang mendadak dialami olehnya.

Seorang anak kecil berusia dua tahun, ditinggalkan di dalam toko buku miliknya dengan sepucuk surat bahwa Sang Ibu menginginkan anaknya tinggal di antara buku-buku. Kejadiannya begitu mendadak, tidak ada sesuatu yang mampu membuat pembaca menduga akan kehadiran sosok gadis kecil yang lucu dan berkulit hitam ini.

Kehilangan Tamerlane namun kedatangan sosok kecil bernama Maya, membuat A.J berurusan dengan Kepala Kepolisian yang bernama Lambiase. Hubungannya di kemudian hari berubah menjadi semakin dekat dan semakin dekat. Ada banyak hal yang berubah dalam diri Lambiase dengan kehidupannya di Pulau kecil Alish.


***

Dari seribu kelas bahasa Inggris SMA ketika ia gagal menuntaskan bacaan wajib minimum… ~ Hal 37



Saya lumayan tertarik dengan bacaan wajib minimum yang membuat saya bertanya-tanya apakah ini merupakan hal yang benar atau hanya sekadar karangan Zevin. Meski hal ini kemudian membawa saya pada satu hal, dimana teman di Instagram saya adalah seorang guru bahasa Inggris. Dia sering membagikan sebuah kertas kerja yang berisi bantuan bagi murid-murid di sekolah dasar dalam memahami bacaan.

Sedikit informasi yang saya dapat, karena saya jarang bertanya pada mereka secara langsung. Para guru-guru ini juga membuat murid-murid mereka membaca novel-novel klasik kemudian menuliskan ulasannya dengan bantuan form yang dibagikan oleh guru mereka. Bahkan pada grade 4 atau 5, anak-anak tersebut sudah diberi tugas untuk membagikan pendapatnya serta ulasannya di depan kelas. Dan tentunya bacaan mereka merupakan buku-buku klasik.

Gerakan seperti ini, tentunya berarti bagi perkembangan tingkat literasi di setiap negara. Mengingatkan saya pada masyarakat Indonesia yang sudah mulai digalakan pengenalan dan kegiatan literasi di sekolah-sekolah. Bahkan di beberapa fasilitas umum yang saya temui di Bekasi, memberikan satu tempat sebagai pojok bacaan. Semoga dengan gerakan seperti ini, tingkat literasi masyarakat Indonesia berkembang dengan baik.


***

Ia pembaca, dan yang ia percayai adalah konstruksi naratif. Jika sepucuk pistol muncul di babak pertama, sebaiknya pistol tersebut ditembakkan di babak ketiga. ~ Hal 63


Demikianlah sosok A.J, yang memang seorang pembaca sejati. Kenapa saya menuliskan demikian? Karena beberapa kali saya mendapati, A.J sering mengaitkan kejadian dalam kehidupan nyatanya dengan beberapa karya yang sudah dibaca olehnya. Ingatannya tentang buku dan cerita sangat baik, meski tidak lebih baik dari Amy.

Namun, cukup untuk membuat saya merasa tak pantas untuk menyebut diri saya seorang pembaca buku sejati. Karena saya bahkan sering lupa dengan nama-nama tokoh, judul buku, alur cerita sampai kutipan-kutipannya. Semua itu bercampur-aduk dalam otak saya. Pun demikian di sahkan oleh karakter Marvel - Doctor Strange - dalam filmnya dimana dia bahkan mampu mengingat isi buku yang dibacanya.

Karena sering membaca dan merekomendasikan buku bagi para pengunjung tokonya, Lambiase yang bahkan tidak senang membaca akhirnya kembali menyukai kegiatan ini. Sesuatu yang baik, bukan? Mengajak orang lain untuk ikut membaca buku meski selera Lambiase dan A.J bertolak belakang. Tapi, hal yang unik adalah bahkan Lambiase membuat sebuah Klub Buku yang berisi para petugas kepolisian.

Apalagi yang dibaca oleh mereka, kalau bukan novel-novel yang bertema pembunuhan dan misteri serta detektif. Selain perkumpulan para petugas polisi yang menghabiskan waktu beberapa kali untuk berkumpul dan membahas novel yang sudah dibaca mereka bersama. Lucunya, pernah terjadi sebuah pertengkaran yang menyebabkan salah satu anggota Klub Buku tersebut mengacungkan pistol karena bentrok dengan pendapat temannya.

Bagi saya itu lucu, membayangkan mereka bersitegang hanya karena membahas sebuah buku. Meski saya juga pernah menyaksikan betapa sering perbedaan pendapat ini menjadi sebuah awal pemicu pertengkaran. Tidak aneh, bukan?

Selain membuat Lambiase menyukai kegiatan membaca, pada kenyataannya A.J menggunakan pengaruhnya pada gadis kecil yang lucu bernama Maya. A.J sering diminta untuk membacakan buku untuknya, hingga membangkitkan keinginan A.J untuk menambah koleksi buku anak-anak demi Maya. Dari kebiasaannya mendongeng, menjadikan Maya pandai dalam memilih buku, apalagi dia menghabiskan waktunya di toko buku tersebut.

Gadis cilik itu pun mampu membuat ulasan sejak dirinya masih belum mampu menulis apalagi membaca. Tapi, kebiasaan mendongeng yang dilakukan A.J justru membantunya mengenal huruf demi huruf hingga suatu ketika, Maya berhasil menunjukkan pada A.J susunan huruf merah : me-ra-h dari buku yang sedang dibaca.

***

Tapi sampul adalah anak tiri berambut merah pada penerbitan buku. Kami menyalahkannya untuk segala hal. ~ Hal 100




Dialog Amy dan A.J yang membahas tentang kaitan penjualan buku dengan sampul buku. Bagi saya pribadi yang memang sering merasa terjebak melihat sampul buku yang cantik namun isinya tak menarik atau sebaliknya, isi buku sangat teramat bagus namun sampul bukunya cukup aneh sehingga membuat saya merasa ini cukup tidak adil.

Bagaimana pun, saat ini dunia penerbitan tengah mengupayakan agar buku-buku yang terbit mendapat posisi yang bagus dengan isi yang seimbang melalui sampul buku yang didesain dengan baik. Simak saja perbincangan Amy dan A.J yang membahas sebuah buku dengan narasi yang baik, sebuah memoar sastra yang spektakular bagi Amy dengan caranya yang sederhana sambil membahas sampul bukunya yang sungguh tidak cantik apalagi menarik.


***

Kompetisi semacam ini tidak pernah adil. Orang menyukai apa yang mereka sukai dan itu bagus sekaligus buruk. Ini berkaitan dengan selera pribadi dan beberapa orang tertentu pada hari tertentu. ~ Hal 208


Saya menyukai penjabaran A.J dalam melihat bagaimana kompetisi itu bahkan sering memenangkan sebuah karya yang sesuai dengan selera. Siapa yang mampu menghakimi selera orang lain? Sejak beberapa tahun yang lalu, saya mulai menyadari bahwa sebelumnya saya sering memberikan penilaian pada orang-orang yang hanya membaca genre tertentu.

Dari pengalaman tersebut, akhirnya saya mengubah cara saya akan hal ini. Agar tidak menjadi orang yang mudah menilai apalagi menganggap remeh orang yang menyukai buku-buku tertentu atau genre tertentu. Toh, menghakimi selera orang tidak akan pernah adil.

Sejak bertemu dengan Maya, A.J memang mengalami perubahan, demikian pula dengan seleranya yang sebelumnya hanya mau membaca karya sastra kemudian membuka matanya dengan karya-karya lain. Itu pun sejak dia ingin merekomendasikan banyak buku untuk Maya yang berarti dia harus membacanya.

Pada pembuka saya mengatakan tentang ulasan yang berisi opini A.J terhadap buku yang dibacanya. Dan ulasan-ulasan ini tersemat pada tiap-tiap akhir bab, sehingga pembaca mungkin mendapat rekomendasi buku-buku yang judulnya belum pernah dibaca.

***

Maya, novel memang memiliki pesona tersendiri, namun ciptaan paling elegan dalam jagat prosa adalah cerpen. Kuasai cerpen dan kau akan menguasai dunia. ~ Hal 258


Ada banyak hal yang diceritakan dalam buku berisi 277 halaman, baik itu tentang penjualan buku, penerbitan, penulis sampai menulis. Rangkaian kegiatan tentang membaca dan menulis ada dalam buku ini. Konsep-konsep pengaruh digital pada penjualan buku juga diwakilkan melalui sudut pandang A.J. Namun juga pendapat-pendapat tokoh lain cukup menarik perhatian.

Nasib A.J dan kisah di balik sosok Maya, hingga tokoh-tokoh lainnya seperti Lambiase, Ismay, Daniel Parish sampai Amelia, semua saling berkaitan dan membentuk cerita yang membekas. Menarik dan sederhana, meski di beberapa bagian saya mendapati keanehan terutama perubahan dari flashback ke masa kini, rasanya terlalu kasar. Sehingga saya sempat merasa bingung.

Masih banyak hal menarik lainnya dalam buku ini yang bisa ditemukan saat membaca. Tentunya sudah banyak yang memberikan pernyataan terkait buku ini, bisa dilihat di Goodreads. Saya menyukai banyak hal dalam novel ini, walaupun pada awal-awal membacanya, saya sedikit kesulitan untuk masuk ke dalam cerita. Tapi, menjelang pertengahan ceritanya cukup mudah dinikmati.

Dari kisah A.J ini saya jadi semangat untuk menulis beragam opini atau rangkuman tentang buku yang telah saya baca. Agar nantinya bisa menjadi oleh-oleh bagi anak dan cucu saya di masa mendatang. Semacam sebuah pendapat bagi anak-cucu saya dalam memilih bacaan. Ah, tapi ini hanya semacam keinginan yang mungkin sementara usai membaca buku ini. Begitulah. [Ipeh Alena]

02 January 2018


Sepertinya saya tidak kapok-kapok menuliskan tentang Tantangan Baca Ulas ini. Meski tahun ini, saya tidak ingin berjanji apa-apa, karena sepertinya kurang berpengaruh, toh saya tetap saja menumpuk buku lagi dan lagi. Jadi saya ubah saja janji saya tahun ini untuk :

RAJIN MENULIS ULASAN BUKU USAI DIBACA

SERTAIN FOTO BUKU DI SETIAP ULASAN

BIKIN  WRAP UP POST ATAU MINI REVIEW KALAU TAK SEMPAT NULIS ULASAN


Menulis ulasannya juga tidak hanya di blog, tapi juga saya usahakan menulisnya di Goodreads. Biar akun saya itu bermanfaat dan digunakan secara optimal. Apalagi ada beberapa buku dari tahun 2017 yang masih belum saya tulis ulasannya. Entahlah, apakah saya akan menulisnya segera atau menunggu nanti saja ketika saya tengah leluasa.

Untuk tahun 2018 ini, saya masih disapa dengan tumpukan lama yang sudah ngangkrak sejak tahun-tahun sebelumnya. Mungkin akan datang lagi nanti buku baru dari Harbolnas dan dari hadiah Bookstagram Competition yang saya ikuti. Untuk buku-buku di bawah ini, merupakan daftar buku yang ingin saya baca dan selesaikan, termasuk juga buku yang masuk dalam kategori DNF tapi masih saya usahakan untuk saya selesaikan.


Daftar Timbunan Buku Yang Belum Dibaca Tahun 2018


Buku Fisik

1. Lolita - Vladimir Nabokov
2. The Storied Life Of A.J Fikry - Gabrielle Zevin
3. Anak Rantau - A. Fuadi
4. The Silence Of The Lambs - Thomas Harris
5. The Gunslinger - Stephen King

6. An Ember In The Ashes - Sabaa Thahir
7. A Man Called Ove - Fredrik Backman
8. Anak-anak Toto Chan - Tetsuko Kuroyanagi
9. Perfume - Patrick Suskind
10. Saga No Gabai Bachan - Yoshichi Shimada




11. Khadijah - Sibel Eraslan
12. Psikoanalisis Sigmund Freud - K. Bertens
13. Under The Dome 1 - Stephen King
14. Under The Dome 2 - Stephen King
15. Misteri Soliter - Jostein Gaarden

16. Multatuli
17. The Casual Vacancy - J.K Rowling
18. Senopati Pamungkas Buku 1
19. Senopati Pamungkas Buku 2
20. Senopati Pamungkas Buku 3

21. Senopati Pamungkas Buku 4
22. Senopati Pamungkas Buku 5
23. The Drawing of The Three - Stephen King
24. Musim Panas Di St. Clare - Enid Blyton
25. Claudine di St. Clare - Enid Blyton

26. Petualagan di Puri Rajawali - Enid Blyton
27. Petualangan di Gunung Bencana - Enid Blyton
28. Petualangan di Sungai Ajaib - Enid Blyton
29. Petualangan di Laut Sunyi - Enid Blyton
30. Kelas Dua Di St. Clare - Enid Blyton

31. Kembali ke St. Clare - Enid Blyton
32. Si Kembar Di Sekolah Yang Baru - Enid Blyton
33. Kelas Lima Di St. Clare - Enid Blyton
34. Mindset - Carol S. Dweck
35. Vegetarian - Han Kang

36. Peter Pan
37. Rumah Perawan


Ebook

38. Senyum Karyamin - Ahmad Tohari
39. Dewi Kawi - Arswendo Atmowiloto
40. Geekerela - Ashley Poston

41. What to Say Next - Julie B.
42. The Strange Library - Haruki Murakami


Semoga tetap semangat membaca !

29 December 2017



Baru kali ini saya membaca sebuah karya tulis dari Eka Kurniawan berjudul Corat-Coret Di Toilet. Sebelumnya saya sudah mendengar kalau buku ini berisi kumpulan cerita yang mengorek-ngorek imajinasi disertai alur cerita yang cukup aneh lagi memabukkan. Beberapa menyukai judul-judul tertentu, beberapa ada juga yang berusaha menganalisa jalan ceritanya dan mengaitkan dengan dunia nyata.

Namun bagi saya, lebih nyaman membacanya tanpa berekspektasi apa-apa, sampai memaksa untuk mencari-cari sesuatu sesuai logika. Karena cerita di dalamnya berisi kisah-kisah yang sebenarnya bisa dikunyah dengan santai tanpa perlu ngotot berlomba agar bisa memberi komentar yang kritis. Mengkritisi sebuah karya tulis bukan bagian saya, itulah kenapa saya tidak begitu ingin mengikuti jalur mereka.

Berisi 12 cerita pendek yang beberapa sudah pernah dipublikasikan di beberapa media. Saya suka dengan cover ebook di scoop ini. Pun saya mendapatkannya dengan harga sangat murah saat ada diskon besar-besaran di Scoop. Dan buku ini, merupakan buku ke 100 yang sudah saya baca tahun 2017.


Kartu Tanda Buku

Judul : Corat-coret di Toilet
Penulis : Eka Kurniawan
Halaman : 140
Versi : Ebook Scoop
Bahasa : Indonesia
Rating : 3.5/5
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978.602.03.0386.4



Kisah-kisah Mahasiswa Dan Kebiasaannya



Memang, tidak bisa dipukul rata jika saya mengatakan kalau kisah dalam buku kumcer ini mengangkat kebiasaan beberapa mahasiswa yang sering saya lihat atau bahkan saya dengar pengakuannya langsung dari mereka. Juga tidak bisa diyakini kalau semua mahasiswa seperti itu. Tidak. Tapi saya menuliskan sub bab demikian, untuk memberikan sedikit gambaran cerita-cerita yang dituliskan di sini.

Sekitar tahun 1999 atau 2000, itu tertulis pada bagian akhir setiap cerita pendek. Menandakan tahun berapa Eka menuliskannya. Dan ketika saya menelusuri lagi, pantas saja kisah tentang para mahasiswa ini lumayan lekat dari kisah yang disampaikan oleh orang di sekitar saya yang mengalaminya.

Sebuah cerita tentang para Mahasiswa yang pada masa itu identik dengan kegiatan revolusi, reformasi dan segala re..re...lainnya. Lekat, karena pada tahun-tahun tersebut, sempat tercetus sebuah gelombang yang membuat saya dan keluarga wajib mengibarkan bendera merah putih setengah tiang.

Meski di beberapa cerpennya, seperti cerpen yang sesuai dengan judul bukunya, Corat Coret di Toilet yang kemudian mengingatkan saya dengan kondisi sosial media saat ini. Dari satu ruang yang digunakan untuk membeberkan pikiran melalui tulisan. Hingga seolah sebagai tempat mengajukan ide dan pendapat. Pada dinding toilet yang pernah dicat ulang.

Kemudian, kebiasaan mahasiswa duduk nongkrong di kampus hingga tengah malam. Atau mereka yang menjadikan ruang-ruang kosong di kampus sebagai tempat untuk tidur. Ini juga pernah saya dengar kisah nyatanya dari banyak orang. Yang membuat saya melihat bahwa cerita ini, bisa tampak seperti nyata karena mendekati kenyataan.


Dan kisah Peter Pan ini, memang banyak yang berpendapat kalau sosoknya adalah seorang sastrawan yang menghilang tanpa jejak. Bahkan tanpa ada kabar berita hingga saat ini. Masa-masa kempemimpinan seorang lelaki yang disebut-sebut sebagai diktator dalam buku ini.



Kisah Perempuan Dan Cinta Dalam Bentuk Yang Aneh



Seperti kisah seorang perempuan yang dijodohkan dengan sepupunya, saat keduanya telah menikah. Si perempuan ini kemudian memberikan syarat yang aneh sebelum mereka bercinta.

Atau tentang seorang perempuan yang terlalu cantik namun kehidupannya dikekang oleh orang tuanya. Suatu ketika dia nekat keluar rumah demi memberontak pada masa pingitannya. Kemudian berakhir dengan isu-isu yang tak tahu mana kebenarannya.

Hingga kisah perempuan yang bisa membuat seorang lelaki waras, kemudian menjadi lelaki gila hanya karena patah hati akan cinta. Yang membuat saya berpikir, cinta dalam buku ini berbentuk aneh tapi unik.


***

Buat kalian yang ingin membaca buku karya Eka Kurniawan. Sepertinya buku ini bisa menjadi buku untuk pemula. Karena isinya merupakan kumpulan cerpen untuk kita berkenalan dengan gaya berceritanya. Dan selama saya membaca buku ini, saya suka denga  writing style-nya. Berciri khas Eka dan tidak membuat bosan. [Ipeh Alena]

27 December 2017

Novel Uttuki Sayap Para Dewa


uttuki sayap para dewa



Baru pertama kali saya membaca novel fantasi karya Indonesia. Meski masih agak sedikit aneh, saat di bab-bab awal, tapi saat menjelang pertengahan membaca Novel Uttuki Sayap Para Dewa yang ditulis oleh Clara Ng, ceritanya lumayan bikin penasaran. Kisah percintaan anak manusia dan anak dewa yang menghadapi banyak cobaan akibat campur tangan para Dewa. Alasannya cukup masuk akal, karena salah satunya merupakan anak dari Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Cerita ini memiliki dua tempat berbeda dengan tokoh berbeda yang saling berkaitan satu sama lain. Namun antara Naeva dan Adam, pada bab-bab permulaan hingga pertengahan masih belum terlihat benang merahnya. Hanya sedikit, sekadar mitologi yang dipelajari oleh Adam. Namun, kisah pembukanya justru cerita dari bagian Adam dan Naeva.

Seperti buku Clara yang lain berjudul Dru dan Kisah Lima Kerajaan, yang merupakan buku favorit saya. Novel ini meski bukan favorit saya, tapi cukup unik. Karena menyematkan beberapa pengetahuan tentang dewa dari Mesopotamia. Nama-nama dewa yang masih baru saya dengar seperti Dewa Anu, Dewi Antu sampai tujuh monster Uttuki.


Kartu Tanda Buku

Judul : Uttuki Sayap Para Dewa
Penulis : Clara Ng
Halaman : 408
Cetakan Ketiga, Juni 20111
Versi : Ebook Scoop
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978.979.22.6983.3
Rating : 3.5/5



Cerita Fiksi Dengan Mitologi Dewa



Pembaca akan dikenalkan dengan beberapa nama Dewa dari Mesopotamia. Beberapa Dewa dan Dewi ikut dalam campur tangan kehidupan manusia secara langsung. Seperti Dewi Ishtar yang merupakan Dewi Cinta dan Perang. Yang sangat ambisius dan terlalu impulsif. Atau Dewi Antu sang Dewi Bumi, yang saat melahirkan anak-anaknya, para monster Uttuki, langit bumi dalam keadaan gelap dan badai datang.

Dalam Mitologi yang tercatat secara legal, sebenarnya monster Uttuki hanya berjumlah tujuh. Namun, dalam cerita yang ditulis oleh Clara Ng, dibuatlah delapan anak Uttuki, dimana anak terakhirnya memiliki perbedaan yang sangat jauh dari Uttuki yang lain. Karena malu akan tampang para anak-anaknya, menyebabkan Dewa Anu mengisolasi anaknya. Karena mereka bukan hanya sekadar monster tapi dianggap sebagai iblis.


Ada lagi Dewa EA yang dikenal dengan Kebijaksanaannya. Ikut serta dalam membantu menuliskan kembali kisah perjalanan para manusia dan Dewa yang ada dalam kisah ini. Dalam hal ini, Clara menegaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki kekuatan yang lebih, yaitu mampu menahan beban dan rasa sakit yang tampak sangat besar dan berat.

Di sini, manusia diwakilkan oleh sosok Thomas. Selain mengisahkan tentang Mitologi Dewa dan Dewi Mesopotamia. Juga menyeritakan tentang reinkarnasi yang merupakan misi untuk sepasang makhluk yang mengaku jatuh cinta.


“Mitos Marduk adalah salah satu mitos terbesar dalam segala versi mitos Babylonia. Ilmuwan mencurigai Dewa Marduk mempunyai peranan penting, simbol istimewa, dan penceritaan yang erat hubungannya dengan sistem tara surya kita.” ~ Hal 248-249



Sebuah Kisah Cinta Dari Beribu Tahun Yang Lalu



Namanya Enka, yang lahir disaat yang sama dengan kelahiran para monster Uttuki. Dia adalah anak manusia, anak dari seorang pendeta. Keinginannya ketika dia masih kecil adalah ingin bertemu langsung dengan Uttuki. Dan keinginan itu terkabul. Suatu ketika, Nania, monster Uttuki ke delapam, menemuinya.

Pertemuan itu akhirnya cukup intens dan sering. Membuat keduanya memutuskan untuk terus bertemu satu sama lain. Bahkan Nania juga menolong Enka dari kematiannya, meski ayahnya akhirnya tak tertolong. Dan hubungan mereka akhirnya membuat Dewa Anu murka.

Kisah cinta yang disajikan dalam novel ini dibuat rumit. Antara dua makhluk yang tengah diserang virus cinta, ada sosok lain yang menyintai lelaki yang sama. Sosok yang bahkan rela menukar status ke-Dewi-annya demi lelaki itu. Namun, ada sesuatu yang terasa kurang bagi saya selama membaca novel ini.

Entah apakah ini merupakan cinta pada pandangan pertama. Atau hanya karena melanjutkan cinta yang telah terukir sejak ribuan tahun lalu. Tapi bagi saya, masih terasa kurang meski mereka berdua reinkarnasi dari pasangan dari ribuan tahun lalu. Saya coba membandingkannya dengan film yang dibintangi Jackie Chan berjudul The Myth.

Di sini, Jackie selalu bermimpi seorang perempuan yang saya, terkadang dengan suasana yang aneh seolah mereka berada di masa lampau. Setelah hadir dalam bentuk mimpi, sosok perempuan dan alur kisah yang dia lihat mulai membuka jalur hingga mendatangkan banyak pertanyaan. Semua itu berasal dari ingatan beratus tahun yang lalu.

Nah, sementara antara Thomas dan Celia, dua makhluk yang merupakan pasangan sejak ribuan tahun lalu, keduanya tampak tidak memiliki ikatan dan alasan yang kuat melalui pertemuan yang hanya sebentar. Bahkan, saya merasa motivasi untuk menjadikan keduanya memiliki cinta yang begitu besar masih kurang. Meski sejarah kehidupan mereka sudah digariskan. Tetap saja, cinta keduanya saat bertemu seusai reinkarnasi harusnya tetap dibangun melalui cara-cara yang bisa menjadi bukti bahwa motivasi keduanya sangat kuat.

Berlanjut lagi ke kisah mereka. Setelah seorang Dewi menukar keistimewaannya dengan menjadi manusia. Dia menikah dan semua yang sudah digariskan sejak ribuan tahun lalu, harus terus terulang. Ada yang tetap harus mati dan ada seorang anak yang tetap ditinggal mati. Semua berulang meski telah ribuan tahun berlalu. Hingga kemudian, ada satu variabel yang diusahakan oleh beberapa tokoh demi mengubah masa depan. Demi menciptakan kisah baru dari yang telah dituliskan atas nama cinta.

“Cinta bukanlah jalan yang penuh bunga setaman dan wangi semerbak.” ~ Hal 395



***


Saya memang cukup mengetahui pada akhirnya, Clara Ng menyukai beragam genre yang dibuktikan dari beberapa buku yang sudah saya baca. Seperti buku khusus anak-anak berjudul Bagak Bumi Berhenti Berputar. Kemudian kisah petualangan Dru dan Kisah Lima Kerajaan yang dikemas sangat cantik berisi ilustrasi yang membuat bukunya tambah menarik. Kemudian Malaikat Jatuh yang kisahnya lumayan kelam sampai Pintu Harmonika yang merupakan proyek duet dengan Icha Rahmanti, kisah tentang remaja.

Selain perihal motivasi antar tokoh untuk mengambil keputusan yang kurang kuat. Bagi saya novel ini tetap enak dinikmati. Informasi-informasi sejarah yang disematkan di dalamnya cukup bagus untuk menambah pengetahuan tentang Mitologi Kuno dari Mesopotamia sampai bangsa Babylonia. Itulah sebabnya saya merasa beruntung tidak berkeskpektasi terlalu tinggi. Karena saya lumayan terselamatkan.


Selamat membaca, salam literasi. [Ipeh Alena]