23 February 2018

Model-model Kepribadian Sehat Karya Duane Schultz


Growth psychology



Bacaanipeh.web.id - Jika pada umumnya kita selalu mampu menemukan buku-buku terkait psikologi yang mempelajari kondisi manusia dalam kondisi sakit - dalam hal ini buku tersebut berisi bagaimana cara menangani sympton tertentu pada pasien - maka merupakan hal yang cukup unik ketika Duane Schlutz merangkum beberapa model Kepribadian Sehat dan seperti apa cirinya berdasarkan pandangan-pandangan para psikolog ternama.

Seperti apa sebenarnya Kepribadian yang sehat itu? Tentunya di dalam buku ini dijelaskan melalui sudut pandang para tokoh yang berbeda dengan metode penelitian yang juga berbeda. Ada yang memulainya dengan teori yang dipelajarinya ada pula yang mengkajinya berdasarkan pengalaman pribadi. Ini mengingatkan saya pada buku Filsafat Ilmu, bagaimana awal mula Ilmu itu ditemukan. Salah satunya melalui penalaran manusia berdasarkan hipotesa yang mampu dibuktikan serta melalui pengalaman yang bisa dikaji lebih dalam sehingga ditemukan relevansi antar ilmu yang dikaji dengan fakta yang terjadi dari pengalaman tersebut.


"Mereka tidak percaya bahwa manusia merupakan korban yang tak dapat berubah..." ~ Hal 13



Duane sepakat dengan para pemikir yang tulisannya dimuat dalam buku ini. Bahwasannya adalah hal yang perlu dalam menggali lagi seperti apa sebenarnya kondisi "Kepribadian yang Sehat" ini? Kalau kita berbicara masalah tubuh yang sehat, tentu mampu kita deskripsikan dengan baik berdasarkan apa yang kita lihat dari fisik. Namun, jika mengacu pada kepribadian, tentunya ini juga berhubungan dengan kondisi jiwa yang terkait pada emosional dan perasaan individu tersebut, dimana ini merupakan hal yang tidak bisa langsung dilihat oleh mata.

Itulah pentingnya mempelajari seperti apa sebenarnya pemahaman dan arti serta kondisi pribadi yang sehat itu. Dengan begitu, sebagai individu yang menjalani kehidupan, kita memungkinkan untuk memahami dan belajar mengenal diri kita secara sepenuhnya. Apakah sebagai individu kita membutuhkan pertolongan orang lain, dalam hal merasa ada yang tidak beres dan membutuhkan tenaga terapis seperti Psikolog atau Psikiater. Atau justru tengah berada di ambang keraguan, apakah kita termasuk individu yang sehat atau tidak saat bertindak seperti ini dan itu.

Uniknya, ini merupakan buku kedua yang saya baca dimana ulasan atau pendapat pribadi sang penulis disematkan di dalamnya. Cukup membantu terutama sebagai bahan pertimbangan dari studi kasus yang ditulis oleh pakar Psikologi Pertumbuhan ini. Dengan adanya ulasan tersebut, kita mampu memahami dengan jelas beberapa bagian yang mungkin saat membacanya membutuhkan waktu yang lama untuk mengerti dan memahami.


***

Model pertama yaitu Allport, yang ketika masih muda dirinya pernah bertatap muka dan berbincang dengan Sigmund Freud namun menemukan sesuatu yang membuatnya berpikir secara berlawanan. Allport meyakini bahwasannya manusia bisa menjalani kehidupan yang terlepas dari masa lalu atau terlepas dari pengalaman masa kanak-kanak. Dengan memisahkan antara individu neurotis dan individu yang sehat.

Baginya, asalkan individu tersebut memiliki tujuan dalam kehidupan untuk dicapai, meskipun dalam prosesnya tujuan tersebut bisa berubah usai meraih tujuan awal, tentunya ini merupakan proses yang terus berkelindan dalam kehidupan yang menjadikan individu tersebut terus berkeinginan dan terus memiliki satu hal : TUJUAN.

Saya jadi teringat dengan buku Young on Top karya Billy Boen, dia menuliskan : Kita tidak akan kemana-mana kalau tidak tahu ingin kemana. Artinya, bahan bakar manusia itu adalah tujuan, mimpi, keinginan, yang terus menerus menjadi bara untuk semangat menjalani kehidupan. Tentunya tujuan tersebut disertai dengan usaha untuk mencapai atau mewujudkannya.

Menurut Allport : Individu sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan dan visi itu mempersatukan kepribadian dan membawa orang itu kepada tingkat tegang yang bertambah (23). Bahkan, dirinya melanjutkan bahwsannya individu yang sehat itu bukan berarti individu yang selalu berada dalam kondisi senang dan tertawa apalagi bahagia. Tapi individu yang menerima kondisi di masa saat itu, seperti dikutip "saya" "sekarang".

Pertanyaannya yang masih terus terpatri dalam otak saya, meski saya mendapatkan jawabannya walau sedikit, yaitu Apakah orang-orang yang memiliki trauma, orang-orang yang tengah berada dalam masa kegelapan atau sedang mengalami titik terendah dalam kehidupan mereka atau bisa saja memang menyandang kondisi jiwa yang spesial sejak lahir, mampu menjadi individu yang sehat?

Tentunya, menurut pandangan saya, itu kalau individu tersebut sadar bahwa dirinya sedang tidak enak kondisinya (dalam hal ini yang masih memungkinkan untuk ditangani dan levelnya ringan). Mungkin dia akan mencari pertolongan entah itu dari terapis atau dari sumber terpercaya lainnya. Hanya saja, meski Allport tidak menyangkal bahwasannya kita termasuk individu yang memungkinkan menjadi apa kita sekarang berdasarkan pengalaman masa lalu, Allport tetap tidak menjelaskan kemungkinan dan bagaimana hal tersebut menjadi mungkin bagi individu neurotis.


***

Selanjutnya yaitu Model Rogers yang diberi judul : Orang yang berfungsi sepenuhnya. Dirinya meyakini bahwasannya individu yang sehat mengharuskan mereka menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Mungkin beberapa dari Anda pernah mengikuti artikel atau gerakan untuk Hadir Secara Utuh. Dalam hal ini, yang saya lihat secara garis besar, Rogers mengajak kita sebagai individu benar-benar harus mampu bersandar menyadari apa yang terjadi pada diri kita sekarang, saat ini.

Studinya ini berdasarkan pengalamannya usai mengalami hal-hal yang cukup berat dalam kehidupannya. Meski bagi keluarganya, Rogers tampak seperti keluar dari kesalehannya. Dia percaya bahwa realitas itu tergantung pada pengalaman seseorang. Dari pengalaman inilah dirinya menemukan beberapa motivasi yang mendasari seseorang individu memiliki kepribadian yang sehat.

Rogers menyadari bahwa aktualisasi diri seorang individu itu penting karena merupakan proses menjadi diri sendiri yang mampu mengembangkan sifat-sifat serta potensi psikologinya yang unik (46). Sejauh ini saya setuju dengan pendapat Rogers mengenai aktualisasi diri, bahwasannya ini merupakan proses yang sukar dan kadang menyakitkan karena individu harus meluncur sepenuhnya ke dalam arus kehidupan.

Tentunya ini merupakan pandangan agar kita menyadari hal-hal yang sering kita lupakan yaitu rasa sakit atau rasa tidak menyenangkan dalam proses menjalani kehidupan. Sehingga sering membawa diri kita pergi menuju dunia yang tak terjamah. Padahal, untuk menjadi individu yang sehat, tentunya kita harus tetap memberi diri kita kesempatan untuk mencoba dan berusaha terbuka dengan kesempatan yang ada.

Pastinya, hal ini tidaklah mudah bagi sebagian orang. Karena itu, perlu ditambah lagi pembelajaran-pembelajaran terkait mengenal diri sendiri sebagai produk kehidupan dan eksistensi individu di dunia. Dengan begitu tentunya akan menolong individu ini terlepas dari konformitas kala mencoba terjun sepenuhnya dalam kehidupan. 

Namun, dalam model yang Rogers ajukan ini, tidak ditemukannya batasan-batasan kebebasan pada individu dalam menjalani kehidupannya. Tentunya tanpa harus meninggalkan agama, sebenarnya kita bisa menjalani kehidupan dengan berpedoman pada apa yang sudah ditetapkan. Teringat kembali pada penjelasan Junjun di bukunya Filsafat Ilmu, beliau menjelaskan meski Ilmu hanya menjangkau pada pengalaman manusia dan terbatas pada pengalaman manusia, dan agama-lah yang menjangkau hingga bagian transdental, tentunya kedua hal ini tetap saling diperlukan dalam menentukan batasan kebebasan individu.

Jika tidak, maka individu akan cenderung terlalu egois, seperti yang ditulis pada ulasan Duane terkait egoistis yang akan muncul jika kebebasan untuk menjadi diri sendiri dan berprilaku sesuai kehendak sampai menjalankan kehendak yang sesuai dengan diri sendiri tanpa mempertimbangkan orang-orang di sekitarnya, tentu ini akan menjadikan ketidak-seimbangan dalam kehidupan. 

***

Pertanyaan saya yang sempat ditujukan pada Allport akhirnya nampak jelas dijawab oleh Viktor Frankl. Dirinya pernah mengalami masa-masa menakutkan dan mengerikan dalam hidupnya, yaitu ketika dia dikirim ke sebuah tempat bersama kawan-kawannya yang seorang Yahudi. Betul, Frankl salah satu dari para Yahudi yang mengalami penyiksaan selama Perang Dunia.

Masa kelamnya ini sempat membuatnya bertanya-tanya, terutama di pengasingan tersebut banyak dari kawan-kawannya yang tak lagi kuat menahan dera siksaan. Dari sinilah dalam bukunya berjudul Man's Search for Meaning, seorang Allport menuliskan dalam kata pengantar, "Bagaimana ia dapat menemukan kehidupan tetap bernilai? Seorang psikiater yang secara pribadi telah menghadapi keadaan ekstrem serupa itu adalah seorang psikiater yang pantas didengar." (146).

Frankl menceritakan dengan detil bagaimana pengalamannya dan kawan lainnya yang menderita dan depresi, belum lagi fakta bahwa mereka mengetahui banyak dari kawan mereka yang dibunuh sebelum tengah hari. Genosida kaum Yahudi pada waktu itu pun pernah dituliskan dari sudut pandang seorang Gadis Perempuan dalam Buku Harian Anne Frank. Dengan jelas, Anne menuliskan betapa menegangkannya kondisi saat itu dan betapa tersiksanya mereka berada di kamp pengungsian.

Bagi Frankl, selama masa pengungsiannya dan penderitaanya itu, dia mengalami beragam pemikiran terkait dirinya. Dia belajar tentang dirinya melalui tragedi yang dirasakan olehnya dan kawan-kawannya. Apa yang berarti dalam eksistensi manusia, bukan semata-mata nasib yang menantikan kita, tetapi cara bagaimana kita menerima nasib itu. Dan Frankl percaya bahwa arti dapat ditemukan dalam semua situasi termasuk penderitaan dan kematian. Dia menulism hidup adalah menderita, tetapi untuk menemukan suatu arti dalam penderitaan seseorang ialah tetap hidup (149).


Kalau Frankl tidak berusaha untuk berpikir dan merenung serta mencari tahu tentang eksistensi manusia, mungkin kita tidak akan berkenalan dengan Logotherapy. Alasan ini jugalah kawan saya, Iyas, merekomendasikan buku ini agar saya baca. 

Logotherapy merupakan sistem yang berisi tentang arti dan eksistensi manusia serta kebtuhan manusia akan arti dan juga teknik terapeutis khusus untuk menemukan arti dalam kehidupan. Teori ini sejalan dengan kodrat manusia, yang memiliki tiga fondasi utama yaitu : Kebebasan kemauan, Kemauan akan arti dan Arti kehidupan.

Menurut Frankl, manusia memiliki kebutuhan untuk terus-menerus mencari sesuatu yang bukan sekadar diri kita saja, melainkan suatu arti untuk memberi suatu maksud bagi eksistensi kita. Semakin manusia mampu mengatasi diri mereka sendiri, semakin mereka menjadi manusia sepenuhnya. Dengan begitu mereka mampu mengungkapkan dengan jelas arti yang bisa diperoleh dalam kehidupannya.

Lantas, bagaimana sistem Frankl ini membantu dalam mencari arti kehidupan? Ada tiga cara yang dikemukakan dalam Logotherapy untuk memberikan arti kehidupan yaitu :

  1. Dengan memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan.
  2. Dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam pengalaman.
  3. Dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan.

***



Dari perwakilan tiga contoh model tentang Growth Psychology, ada beberapa kesamaan yang dapat saya tangkap. Meski masing-masing dari model memiliki kondisi kelebihan dan kekurangan masing-masing yang berbeda, tapi maksud yang ingin mereka sampaikan sebanarnya sama. Inilah beberapa hal yang saya temui merupakan kesamaan dari model-model yang ada dalam buku ini.

  • Kenikmatan dan kebahagiaan bukanlah tujuan hidup, dua hal ini merupakan imbas atau bisa dikatakan hal yang timbul secara spontan dari proses manusia mencapai tujuan dalam hidupnya. Begitupula dengan perasaan sedih dan kecewa, dua hal ini juga sama merupakan hal yang spontan timbul sebagai bagian dari proses manusia mencapai tujuan dalam hidupnya.
  • Mampu memberikan kontrol secara penuh terhadap diri kita sendiri, orang yang sehat memiliki kemampuan mengendalikan diri mereka sendiri tanpa campur tangan orang lain. 
  • Dapat mengaktualisasikan diri kita secara penuh dalam arus kehidupan. Aktualisasi diri merupakan suatu proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan. Namun hal ini merupakan sebuah cerminan akan keberanian seorang manusia dalam hidup serta mampu terbuka dan belajar dari pengalaman orang lain.
  • Fokus pada apa yang terjadi pada saat ini, pada diri saat ini dan pada waktu saat ini. Konsep ini yang dikenalkan oleh Adjie Silarus dalam tajuk Hadir Secara Utuh, sebuah gerakan agar manusia menjalani kehidupan mereka saat ini, detik ini juga.


Orang-orang yang sehat secara psikologis tidak hidup dalam masa lampau ~ Duane Schultz. 




Kartu Tanda Buku


Judul : Psikologi Pertumbuhan 
Judul Asli : Growth Psychology : Models of the Healthy Personality
Penulis : Duane Schultz
Halaman : 205
Penerbit : Kanisius Media
Rating : 5/5
ISBN : 9789794135433
Goodreads : https://www.goodreads.com/book/show/55954.Growth_Psychology

02 February 2018

Ingin Menjadi Bookstagram? Simak Dulu Cerita Pengalaman Saya


How to be bookstagram



Kali ini saya ingin menuliskan sesuatu yang benar-benar curahan hati saya selama masuk dalam komunitas Bookstagram. Jadi, masih ada menyerempet-nyerempet sedikit dengan dunia buku. Sebenarnya saya sudah ingin menuliskannya sejak tahun lalu, tapi saya simpan dulu sehingga saya yakin, apakah tulisan ini benar-benar memiliki manfaat atau tidak.

Komunitas Bookstagram yang saya maksud ini bukan seperti komunitas yang memiliki akun tersendiri sebagai basecampnya. Bukan. Tapi Bookstagram ini adalah kumpulan akun-akun Instagram personal maupun komunitas yang berisi segala hal tentang buku (di luar penjual buku). Tentunya mereka terkumpul dari mancanegara dan saling berkenalan melalui hashtag yang mereka sematkan. Sehingga bisa menemukan akun satu dengan yang lainnya dan saling berkomunikasi.

Tahun 2016, saya memutuskan membuat akun yang isinya adalah buku-buku yang sudah saya baca. Selain sebagai keinginan untuk menyimpan buku apa saja yang sudah saya baca, ini juga sebagai tempat saya ingin belajar sesuatu, yaitu Bahasa Inggris. Sejak saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan utama, sejak itu pula saya mulai jarang menggunakan Bahasa Inggris, hingga hari demi hari akhirnya kemampuan saya menurun dengan drastis.

Saya seperti seorang yang tidak pernah berkenalan apalagi bersentuhan dengan Bahasa Inggris. Sampai rasanya saya terkejut dengan kemerosotan ini. Pada akhirnya, saya mencoba untuk menuliskan keterangan di foto-foto yang saya unggah dengan bahasa Inggris, meski benar-benar buruk sekali. Selain itu, saya juga tengah memiliki keinginan untuk belajar bagaimana memotret buku agar tampak cantik seperti yang sering saya lihat di Instagram dan Pinterest.

Dari dua alasan itulah akhirnya saya membuat akun @Blogger.reads yang tidak saya publikasikan dimana-mana saat kemunculannya itu. Saya hanya ingin belajar tanpa harus mendapat tanggapan negatif dari orang yang memang sudah membenci saya. Juga sebagai upaya apakah saya mampu membangun sebuah komunikasi melalui akun ini dengan para pembaca buku lainnya.



Berlatih Bahasa Sambil Praktek Secara Langsung



Di blog personal yang saya miliki, saya sudah pernah menuliskan, bahwasannya saya bergabung dengan kursus bahasa inggris online bernama BEC. Di kursus tersebut, saya mendapat mentor bernama Cut Meutia, beliau pernah bersekolah di Dhoha dan memiliki nilai toefl yang tinggi. Dilatih dan diajarkan oleh Meutia yang memiliki cara tersendiri dalam mengajar bahasa Inggris, membuat saya sedikit demi sedikit mulai percaya diri.

Bersama dengan seseorang yang peduli, dimana beliau benar-benar memberikan dukungan penuh agar saya mampu menulis dalam bahasa inggris dengan totalitas tanpa takut salah. Pada mulanya, saya seperti orang yang benar-benar kehabisan ide, tidak tahu harus menulis apa, ini disebabkan rasa takut saya nantinya akan ditertawai dan dicaci. Tapi, ternyata, cara Meutia mengajar saya dengan sabar dan telaten, justru membuat saya berlatih untuk menuliskan apa saja yang sesuai dengan yang terlintas dalam otak saya.

Terlebih, kemampuan berbahasa Inggris saya yang kacau, karena lebih sering berbincang dengan bahasa inggris - asal tau sama tau - sewaktu di kantor dengan mengabaikan peraturan seperti grammar dan sebagainya, alhasil membuat saya merasa malu. Dan, saat beliau meminta saya untuk menuliskan perasaan saya dengan bahasa inggris di Instagram sebagai tugas, ketika itulah saya mendapat pecutan yang benar-benar positif.

Belajar bahasa inggris itu akan mudah kalau kita mempraktekkannya. Tentunya, pada mulanya saya menuliskan dulu bahasa Indonesianya, kemudian berusaha semampu saya untuk mengalihkannya ke bahasa Inggris. Terkadang saya bertanya pada Meutia, kira-kira kalau mau ngomong seperti ini apa ya bahasa inggrisnya? Dan dijawab dengan baik olehnya.

Teknik belajar yang diterapkan oleh Meutia yaitu "Everytime you want to say ..... " Jadi, saya diajarkan untuk mengingat satu kalimat utuh, alih-alih mengingat kata per kata. Karena ternyata ini lebih mudah bagi saya, jadi setiap saya ingin menulis kalimat "Buku apa yang sedang kalian baca?" saya sudah tahu dan bisa langsung mengetiknya tanpa kesulitan "What is your current read?".

Saran dari Meutia pun masih saya terapkan hingga saat ini, dengan menuliskan kalimat yang saya baca dari caption para bookstagram luar negeri. Dengan begitu saya akan terus mampu menuliskannya tanpa kesulitan, kalau pun kesulitan sedikit, saya bisa membuka kembali catatan-catatan saya.

Ketika pertama kali saya mencoba membuka diri dan berkenalan langsung dengan para Bookstagrammer luar negeri ini, saya merasa sangat kikuk. Padahal tidak bertemu secara langsung, ya! Tapi, begitulah yang terjadi, saya ingin menangis rasanya karena merasa bahwa ini semua tidak akan berjalan lancar. Namun, ketika satu demi satu para bookstagrammer tersebut menyapa dan berbincang bahkan tidak mempermasalahkan bahasa Inggris saya yang kacau, saat itulah keinginan untuk terus belajar semakin berkobar.

Dari keinginan untuk menulis caption singkat di Instagram dalam bahasa Inggris, mulailah saya menginginkan untuk menulis ulasan dalam bahasa Inggris. Meski sampai sekarang yang sering terjadi saya malas untuk menulis panjang, hehehe. Tapi, di Instagram, saya sudah mulai percaya diri dan tidak lekas patah semangat sampai-sampai saya sering membuat ulasan di Instagram dengan bahasa Inggris.

Tentunya, ketika perkembangan saya perlahan tampak terlihat kemajuannya, saya rasanya ingin menangis. Selalu saya berusaha untuk mendoakan mentor saya ini Cut Meutia, yang sangat baik dan telaten dalam mengajarkan saya. Apalagi saya baru tiga kali mengikuti pelatihan di BEC. Tapi, saya percaya, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya berusaha tanpa melihat progressnya, karena itulah saya selalu berusaha mengingat ilmunya dan juga semangat yang sudah diberikan padanya.

Tentunya saya jadi teringat sebuah kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib berbunyi :

Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu. Orang yang membencimu tak percaya itu. Orang yang menyayangimu tak butuh itu.



Akhirnya Mulai Mampu Menghasilkan Foto Yang Lumayan 



Selain sebagai sarana berlatih bahasa Inggris, saya juga tengah berlatih memotret buku agar tampak cantik. Dari belajar ATM foto-foto di Pinterest, sampai akhirnya mencoba gaya begini dan begitu dan akhirnya sedang gandrung dengan petals dan fake flowers. Itu semua berdasarkan latihan yang tidak sebentar. Bayangkan saja, saya bahkan sampai saat ini masih belum puas dengan hasilnya. Karena menurut saya masih kurang bercerita, tapi setidaknya saya sudah bahagia dengan pencapaian yang tampak perubahannya dari sebelum-sebelumnya.

Memotret itu sama seperti berbahasa, harus diasah terus dan terus, kalau tidak maka seperti hendak mengisi bensin, "Dimulai dari nol, ya!" Ini berdasarkan pengalaman saya. Itulah kenapa akhirnya saya terus menjaga agar foto-foto saya tetap bagus dan ciamik sampai belajar cara optimasi Instagram. Semua ilmu ini memang berkaitan juga dengan profesi saya sebagai blogger yang dituntut untuk bisa memonetize setiap kanal sosial dan blog yang dimiliki.

Dari ilmu-ilmu yang saya pungut satu demi satu, ada yang dari online, ada yang saya harus bayar dan meluangkan waktu seharian demi mengikuti workshop tersebut. Dan dari keseluruhannya, saya mendapatkan banyak sekali hal yang membuat saya selalu merasa lapar, saya ingin lagi dan lagi sehingga saya bisa melihat bahwa : Kini saya lebih baik dari kemarin.



Pencapaian Pertama Berupa Kepercayaan



Saat akun saya ini masih belum banyak memiliki follower, seseorang menyapa saya melalui DM Instagram. Beliau adalah penulis yang menawarkan saya untuk membaca novelnya!!! Tunggu, ada yang salah? Saat itu saya berpikir demikian. Karena rasa percaya diri saya belum sebaik sekarang - meski saat ini juga belum begitu bagi masih sering kurang pede. Ketika saya bertanya apakah dia yakin meminta saya untuk membaca dan mengulasnya? Dia mengatakan YAKIN!

Namanya Brian S. Ference, dia menulis sebuah fan fiction yang berasal dari novel si Dorian Gray. Saya suka sekali dengan gaya berceritanya. Oiya, sebenarnya saya sudah terbiasa membaca novel berbahasa inggris, allhamdulillah saya mengerti dan paham sekali. Tapi, karena saya jarang sekali mengetik apalagi berbincang dengan bahasa inggris (tidak pernah malah sejak resign) alhasil kemampuan itu menguap dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seperti saya tidak pernah bersentuhan dengan bahasa ini.

Usai bekerja sama dengan Brian, kemudian saya mendapat kepercayaan lagi dari penerbit mayor, PENERBIT INARI!! Allhamdulillah, terima kasih sebelumnya untuk Penerbit Inari. Jujur, saat mendapat kepercayaan seperti itu, apalagi saya diminta untuk menjadi host giveaway berhadiah buku di Instagram saya. Saat itu saya cuma bilang, "Yaa Allah apakah saya benar-benar patut mendapat ini?" *apus air mata*.

Betul, siapa pula yang mampu menyangka bahwa saya diberi kepercayaan yang bahkan saat itu saya masih cupu sekali. Masih jauh dari bookstagrammer lainnya di Indonesia yang sudah sering diminta untuk mereview buku. Tapi, ini langkah besar yang mengawal saya hingga di titik ini. Saat itu saya bertekad untuk kembali belajar apa saja yang harus saya lakukan agar saat diminta mereview buku, saya tidak asal-asalan. Saya tetap harus berusaha optimal.

Beberapa hal yang saya pelajari adalah : Engagement - dimana saya harus mendapatkan beberapa like, komentar dari follower saya. Ini cukup sulit, mengingat orang-orang yang saya follow dan follow saya itu adalah orang bule semua - saat itu. Akhirnya, saya mencoba untuk meminta bantuan dari beberapa teman saya untuk berkomentar di foto-foto yang saya unggah. Kemudian saya juga harus memperbaiki foto yang saya unggah, dari yang ingin tampil minimalis sampai akhirnya harus meninggalkan idealisme sesaat demi mencapai foto yang ramai, menarik dan unik.


Setelah bekerjasama dengan Penerbit Inari, saya juga menjalin kerjasama dengan Haru Media sebagai poros penerbit haru, spring dan inari. Dengan pengadaan giveaway, sekadar mengulas sampai blogtour terus mengisi keseharian saya di tahun 2017 sampai 2018 awal. Bahkan setelahnya, saya mendapat kesempatan lagi untuk membaca karya-karya para penulis debut dari Luar Negeri yang bela-belain mengirim bukunya dari Amazon. Dia mengirimkannya bulan Desember tahun lalu, tapi baru sampai bulan Februari ini.

Dari kepercayaan mereka inilah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak malu lagi dalam berkarya. Saya berusaha menutup telinga dari mereka yang membenci atau tidak menyukai saya. Tentunya, saya masih punya keinginan yang besar untuk mendapat sertifikat menulis bahasa inggris dari beberapa lembaga kursus. Namun, sayangnya masih belum kesampaian karena biayanya yang lumayan besar.

Tapi, sejauh ini saya benar-benar merasakan energi yang besar terutama setelah saya membuat akun baru @alenaslibrary usai akun @blogger.reads sering eror dan sering tanpa sebab terproteksi sendiri. Saya kembali memulai dari nol, tapi dengan semangat yang tidak surut. Allhamdulillah, sudah mencapai angka 100.

Jika kalian mampir di tulisan saya, kemudian tengah memiliki keinginan untuk memiliki akun bookstagram, silakan follow akun saya. Kalau berisi ulasan buku, biasanya akan saya follow back.



Mengusahakan Yang Terbaik Alih-alih Sekedar Nyindir



Begini, saya sering mendapati komentar dari mereka-mereka yang iri dengan bookstagram lainnya dimana mereka mendapat kesempatan emas untuk menerima endorse ini dan itu. Belum lagi sempat tertangkap oleh saya ada yang berkomentar, "kenapa sih yang dipilih bookstagram yang foto-fotonya bagus?" 

Saat itu saya justru berpikir, kenapa orang tersebut tidak berusaha saja semampunya. Tapi tetap totalitas. Alih-alih merasa iri dengan rejeki orang lain. Oiya, saya mendapati hal ini justru saat saya belum ada apa-apanya seperti sekarang, masih cupu. Tapi, saya punya keyakinan, kalau saya memulai sesuatu sambil berpikir : Dia bisa saya juga pasti bisa dengan cara saya sendiri.

Apalagi ada juga yang mengeluh di kolom komentar penerbit kalau mereka jarang dimenangkan dalam giveaway. Setelah saya cek akunnya, isinya jarang ada ulasan buku. Saat itu saya hanya ingin tertawa. Kenapa? Begini, ketika sebuah penerbit memenangkan seorang bookstagram, tentunya dilihat dari pertimbangan bahwa mereka nantinya akan mengulas buku tersebut di akun mereka. Ini hal yang paaaaaliiiing mendasar.

Jadi, kalau ingin menang, coba perbanyak baca dan mengulas buku. Jangan manja dengan mengatakan tidak punya uang untuk beli buku! Coba kalian unduh aplikasi seperti IPusnas sampai I-Jak yang menyajikan ebook-ebook gratis. Sungguh, zaman milenial ini sudah disediakan kemudahan yang tidak saya dapat pada masa saya saat SMP dan SMA. Jadi, pergunakan dengan maksimal!

Kalau kalian sudah berusaha, terus usahakan agar lebih maksimal. Niatkan itu sebagai pembelajaran dan proses diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dari Instagram ini saya banyak belajar akan banyak hal. Terutama belajar bagaimana membuat follower mau membangun komunikasi dengan kita meski tidak kenal dekat. Dan banyak hal yang saya pelajari dari mereka semua. Intinya, bukalah mata kita untuk belajar bukan untuk menyindir apalagi iri.



Yuk, belajar untuk terus menjadi pribadi positive dan latih diri untuk terus bermanfaat!

25 January 2018

Rahasia Hati Natsume Soseki Dan Perenungan Tentang Hidup Di Usia Senja


Rahasia Hati Kokoro Natsume Soseki



Rahasia Hati karya Natsume Soseki merupakan karya terjemahan sastra Jepang yang berjudul Kokoro. Novel yang saya miliki ini merupakan seri sastra klasik dunia yang diterbitkan khusus oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Tidak perlu heran jika didapati beberapa buku memiliki bahasa terjemahan yang terlampau lawas, ini karena memang buku ini hasil terjemahan dari Dunia Pustaka Jaya.

Sampul novel Rahasia Hati memang cukup mendatangkan banyak persepsi. Kombinasi antara tiang, tali yang melingkar, hingga sosok lelaki dengan sastra Jepang seolah menjadi sebuah momok yang cukup membuat banyak orang berpikir bahwa : Ini buku tentang orang yang bunuh diri. Apakah saya terlalu menuduh? Jika ya, mungkin pemikiran saya yang sempit. Tapi, sesuatu yang terikat pada kaki lelaki yang berada dalam sampul inilah yang menjadi pemberatnya melakukan hal tersebut.

Baiklah, jika baru membaca kalimat pembuka saya yang terlampau menuduh, membuat Anda ingin segera pergi dari blog ini, sepertinya itu keputusan yang baik. Tapi, jika Anda berkenan untuk tinggal sesaat dan membaca hingga habis, saya sangat berterima kasih. Pasalnya, saya memang ingin memberitahu kepada Anda tentang buku ini. Meski sebelumnya saya juga akan berkisah dan sedikit memberikan garis besar persamaan antara buku ini dengan Rumah Perawan karya Yasunari Kawabata.

Keduanya merupakan sastrawan dari Jepang. Kedua novel mereka juga diterbitkan dalam versi seri sastra klasik KPG. Dan kedua buku tersebut menghadirkan sosok orang yang sudah tua dengan pemikiran-pemikiran mereka terkait dunia modern. Dunia yang bagi banyak orang yang sudah tua, sudah tak mampu lagi mereka ikuti karena terlalu cepat, terlalu ringkas, terlalu ingin terburu-buru. Sementara ciri khas orang yang sudah tua, mereka menginginkan sesuatu yang mampu membuat mereka duduk barang sejenak untuk merenung.


Kartu Tanda Buku

Judul : Rahasia Hati (Kokoro)
Penulis : Natsume Soseki
Halaman : 265
Cetakan Pertama, Mei 2016
Sebelumnya diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya
Penerjemah : Hartojo Andangdjaja
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 5/5
ISBN : 978.602.424.032.5


***

Rumah Perawan, mengisahkan tentang seorang lelaki tua bernama Eguci yang kerap datang ke sebuah rumah khusus yang menyediakan servis bagi para lelaki tua untuk tidur dengan perempuan-perempuan perawan yang tak mengenakan baju sehelai pun. Namun, dengan peraturan, bahwa para gadis itu tidak boleh diperlakukan secara tidak baik. Kerap kali sebelum tidur, Eguci tua selalu terbawa pada perenungan-perenungan tentang kehidupannya. Bahkan membawanya mengingat hal-hal masa lalunya dengan sangat jelas, padahal sebelumnya dia tak pernah mengingatnya.

Dalam hal ini, unsur erotisme merupakan yang paling menonjol dalam buku Rumah Perawan, mungkin akan membuat pembaca mengernyitkan dahi. Apa kaitannya? Begitu. Padahal jika dilihat kembali, pada beberapa fragmen terdapat potongan perenungan seorang yang sudah tak mampu lagi mengikuti alur dunia, sudah terlampau lelah dan tak lagi memiliki semangat hidup. Karena sadar, akan kekuatan yang semakin lama justru semakin menghilang, termakan usia.

Sejalan dengan novel Rahasia Hati yang hendak saya tuliskan sesaat lagi. Sebuah novel yang berisi tiga bagian. Dimana dinarasikan oleh seorang lelaki yang tak bernama. Jika saya salah, mohon katakan kepada saya, pada halaman berapakah terdapat nama dari tokoh yang ada di dalam buku ini. Mungkin saya terlewatkan karena terlalu fokus pada pemikiran-pemikiran yang bertolak belakang antara lelaki muda dan dua lelaki tua.

Novel ini mengambil pertimbangan-pertimbangan pada sudut pandang dari sosok yang memang sangat jauh berbeda. Dua lelaki tua yang sama-sama menghadapi ajal mereka, namun memiliki pemikiran yang berbeda tentang hidup, memiliki cara yang berbeda dalam menjalani hidup, hingga memiliki keputusan yang berbeda dalam mengakhiri hidup. Ditambah, sebuah pemikiran lain yang sebenarnya seperti perwakilan bagi kita pembaca, yang masih memiliki darah muda dan semangat yang membara.

Mungkin Anda akan mendapati bahwa tulisan ini hanya berisi rangkuman dari apa yang saya baca. Atau sesekali akan saya sematkan sedikit pemikiran saya. Apa sajalah itu, intinya saya ingin menyeritakan betapa buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang membutuhkan perenungan serta pertimbangan dari pelajaran tokoh-tokoh fiksi (bisa saja bukan fiksi) yang bisa didapat dari membaca.

Tentunya, mungkin tulisan ini bisa menjadi oleh-oleh berharga bagi siapa saja yang membutuhkannya. Setidaknya saya bisa mengikuti jejak A.J Fikry dalam memoar singkatnya di buku fiksi The Storied Life of A.J Fikry. Silakan disimak.


Bab Pertama : Sensei Dan Aku



Kisah dibuka dengan kenangan seorang mahasiswa ketika pertama kali bertemu dan berkenalan dengan sang Sensei. Saat saya membaca buku ini, hingga akhir, saya mengira dalam imajinasi saya, bahwa si narator tengah membangun kembali ingatan-ingatannya tentang si Sensei saat dirinya bertolak dari desa menuju Tokyo karena surat yang diterimanya.

Kemudian menuliskannya seperti seorang remaja yang baru saja mengalami hal paling hebat dalam hidupnya, kemudian menyeritakannya dalam buku harian khusus. Seperti itulah saya kemudian mengambil keputusan sepihak pada imajinasi yang saya tangkap. Sebuah ingatan saat narator bertemu dengan Sensei pertama kali di Kamakura, ketika liburan musim panas.

Lelaki muda itu hanya menjelaskan, bahwa dia memanggilnya Sensei. Bukan seperti Sensei yang sering dipikirkan banyak orang : memiliki jabatan, berpendidikan tinggi atau seorang profesor di universitas. Namun, sosok Sensei ini yang paling berpengaruh pada pemikiran-pemikiran dan sering menarik perhatian lelaki muda yang waktu itu masih berstatus mahasiswa.

Sikapnya bagi sang lelaki muda tampak sedikit kaku. Sensei biasa datang dengan tepat pada jam yang biasa dan pergi dengan tepat pula setelah berenang-renang. Sensei selalu menjauh dan tak peduli betapa juga gembiranya orang banyak di seputarnya, ia tampak sama sekali tak acuh terhadap sekelilingnya. Sosok inilah yang kerap membawa rasa penasaran pada si lelaki muda, ketika pertama kali dirinya melihat lelaki tua itu di pantai yang cukup ramai.

Seorang yang sanggup mencintai atau lebih tepat kukatakan seorang yang tak sanggup untuk tak mencintai, tetapi tak dapat dengan sepenuh hati menerima cinta orang lain terhadapnya - orang semacam itulah Sensei. ~ Hal 13



Pada bab ini, kita akan dijejali hari-hari yang dilalui lelaki muda tersebut bersama sang Sensei. Betapa seringnya mereka bertemu, mengakibatkan sang lelaki muda itu bertambah tertarik dengan kehidupannya. Bahkan, sosok Sensei mampu menggantikan sosok Ayahnya yang sama-sama sudah tua, hingga dia selalu tak tahan untuk membandingkannya.

Tidak disadari, bahkan si lelaki muda selalu berupaya untuk senantiasa berada dekat sang Sensei ketimbang dengan Ayahnya. Di sini, saya mendapati banyak rasa penasaran tentang siapa sih Sensei itu sebenarnya? Wajah dan ekspresinya yang tampak santai, pemikirannya yang seolah tidak begitu mencolok yang justru membuat lelaki muda yang penuh semangat itu tertarik padanya.

Namun, sekali lagi, meski si lelaki muda itu tertarik, ada beberapa kali pemikiran yang bersebrangan. Dan lagi, lagi, lagi, si lelaki muda tak menemukan cara untuk bisa menjauh dari lelaki tua itu. Dia kerap merasakan ada sifat istimewa yang patut mendapat perhatian darinya. Terutama, ketika suatu petang sang Sensei menganggapnya sebagai seorang yang “Tak benar-benar berpikir tentang kematian.”

Pada bab awal menjelang halaman 30, masih terlalu dini memang untuk langsung mengambil keputusan secara sepihak bahwa intinya adalah si kakek seorang yang berpengaruh buruk. Tapi, saya ingin menjelaskan sesuatu yang terlintas dalam benak saya selama membaca novel ini.

Di dalamnya, berisi pemikiran sang tokoh dimana kita bisa belajar tentang perilaku manusia, pembelajaran tentang sifat-sifat manusia dari sudut pandang seorang pesimistis dan pendendam seperti Sensei. Tapi, kita juga diajukan sosok lain, yang lebih berupaya untuk berpikiran positif selama kehidupannya, sebagai bahan pertimbangan. Dan dua pemikiran ini dijadikan satu, dibalut dan dikemas dalam kisah yang begitu ciamik.

Mungkin ada beberapa yang tidak menyadari atau justru sudah sangat menyadari sejak awal. Ketika sang lelaki muda menganggap A adalah benar dan B adalah salah. Jiwa muda dan pemikiran khas orang muda, benar-benar mampu digambarkan dengan baik oleh Natsume, sampai sisi emosionalnya dan keputusan yang dibuat oleh si narator. Betapa saya seolah membaca sebuah memoar tentang sosok orang yang dikagumi oleh orang lain meski tampaknya biasa saja. Siapa pun pasti pernah memiliki (atau masih) sosok yang kita kagumi lebih dari mengagumi sosok Ayah atau Ibu kita, kan?



Bab Dua : Orangtuaku Dan Aku



Saya akan sedikit mencampur, beberapa potongan bingkai yang dinarasikan di bab pertama, namun akan saya sematkan bersamaan dengan bab tentang narator dan orangtuanya. Hubungan keduanya selepas sang lelaki muda ini mengenal Sensei dan menaruh hormat pada lelaki itu melebihi dirinya menghormati sang Ayah.

Apa yang paling sering terjadi dalam pergolakan jiwa muda hingga memilih untuk menghormati orang lain secara berlebihan ketimbang orangtuanya? Tidak lain sebenarnya adalah idealisme yang sering berisikan pandangan-pandangan tentang jalan hidup, opini, hingga bisa saja tentang agama dan politik. Tidak ada anak yang bisa memilih untuk dilahirkan oleh orangtua yang seperti apa dan bagaimana.

Pun tidak ada orangtua yang bisa memilih ingin anaknya tumbuh besar seperti ini dan itu. Meski orangtua memiliki kemampuan untuk membimbing mereka di masa kecil hingga remaja, namun tidak dapat dipastikan apakah hal itu dapat mengubah pandangan mereka terhadap hidup atau tidak, apakah itu akan membuat mereka tetap seperti keinginan orangtua atau tidak.


“Tetapi berlainan dengan ayahku yang gemar main catur itu tak dapat menghiburku, maka Sensei, yang kucoba mengenalnya tanpa maksud mencari kesenangan, jauh lebih banyak memberikan kepuasan intelektual padaku sebagai kawan.” ~ Hal 52


Demikian pula sang lelaki muda, yang menganggap waktu yang dihabiskan olehnya di desa, di rumah orangtuanya, tak mampu membuatnya bertahan lama. Kalau bukan karena sesuatu yang penting, mungkin si lelaki muda tak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah itu. Dirinya sudah terlalu lekat dengan Tokyo dan keramaian serta hingar bingarnya.

Hingga merasa tak sesuai lagi hidup dengan budaya yang masih tumbuh subur di desa tempat asalnya. Terlebih, fakta bahwa tidak ada sosok Sensei yang mampu membuatnya bertahan. Kefanatikannya pada sosok Sensei ini bisa kita lihat pada banyak karya-karya atau kejadian yang dekat dengan sekitar kita. Tentang seseorang yang akan dengan sangat setia mengekor pada orang lain demi mendapatkan imbalan.

Dalam hal ini, si lelaki muda sebenarnya mengharapkan imbalan, entah itu berupa cerita pengalaman masa lalu si Sensei. Atau imbalan seperti pertolongan untuk mencarikan pekerjaan. Atau apalah itu yang tersimpan dalam hati si lelaki muda, tapi setidaknya menurut pendapat saya, dia tetap mengekor demi sebuah imbalan.

Pada bagian inilah, kita akan membuka kembali dan menerima sebuah kondisi dan pemikiran dari keadaan lelaki tua lainnya yaitu Ayah sang lelaki muda. Begini, beliau adalah lelaki yang tumbuh dan menua di desa. Dengan lingkup sosial yang berbeda dengan kota besar seperti Tokyo. Juga dengan pengalaman yang memang jauh berbeda dengan yang pernah dialami Sensei. Karena itulah, kehidupan dan pengalaman mampu membuat manusia berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Meski sama-sama tua, kita dihidangkan sebuah pemikiran tentang seorang Ayah. Seorang lelaki yang memiliki anak dan menyayangi anaknya dengan segenap hati dan jiwa. Seorang lelaki yang memiliki istri dan menyayanginya. Seorang lelaki yang sudah memiliki cucu dan berusaha untuk menerima keadaan tanpa bermaksud mengeluh.

Kesepian yang dirasakan pasangan tua ini berbeda, antara Sensei dan istrinya juga orangtua si lelaki muda. Meski, dari kedua pasangan ini ada satu persamaan : Ketika sang suami yang sudah bertahun-tahun mengisi kehidupan mereka, harus pergi meninggalkan sang istri. Pilihan yang selalu mereka pinta adalah menyertai kepergian mereka dengan tenang. Agar tak ada lagi kesunyian yang membayangi.

Kita tidak bisa langsung menepuk dada bahwasannya itu bagai roman picisan. Coba sesekali, temui orang-orang tua dari berbagai penjuru tempat, dimana kondisi mereka sudah ditinggal pasangannya. Bagaimana perasaan mereka, minta mereka untuk berkata dengan jujur, apakah sebenarnya mereka merasakan kesepian dan kesunyian itu? Apalagi, jika Anda bertanya pada pasangan yang sudah berpuluh-puluh tahun hidup bersama dan berbagi derita yang sama. Tentunya akan berbeda jawabannya, namun pasti memiliki persamaan.

Hidangan lainnya yang sempat menohok si lelaki muda yang juga membuat saya mengangguk dalam pemikiran saya sendiri ada pada halaman 86. Dimana saya berpikir, inilah sebuah pemikiran yang nyata tentang orangtua - dalam hal ini seorang Ayah - dan bagaimana perasaan mereka yang kerap kali lebih tertutup dari seorang Ibu. Kondisi ini pula, yang merupakan sebuah pembeda yang saya katakan sebelumnya, dapat digunakan sebagai pembanding antara kedua lelaki tua dalam buku ini. Apakah ada persamaan yang mendasar dari sosok lelaki tua?

Juga pada halaman 100, sebuah pengingat yang entah kenapa membuat saya berpikir tentang orangtua saya. Dan fakta bahwa nantinya saya pun akan menua, namun saya merenungi akan seperti apakah saya saat tua nanti? Bagaimanakah kondisi saya nantinya? Akankah saya menyusahkan keturunan atau orang lain?

“Pada zamanku dulu, orang-orangtua dibantu oleh anak-anaknya. Sekaran ini, anak-anak itu dibantu oleh orangtuanya senantiasa.” ~ Hal 103


Kutipan dialog sang Ayah menjelang ajalnya ini, membuat saya lumayan termengung cukup lama. Benar adanya, Natsume tidak sedang menjejali saya dengan pemikirannya kemudian mewajibkan saya untuk menyetujui semua hal yang dia tulis di sini. Tidak. Dia tengah memberikan saya sebagai pembaca, kilasan-kilasan pembelajaran dari para tokohnya yang sudah tua.

Jika Anda sering mendengar bahwa mengingat kematian itu lebih baik agar kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya mungkin setuju, jika yang harus dilakukan itu melalui cara-cara yang baik, karena membaca buku ini membuat saya bukan sekedar mengingat kematian. Tapi juga mengingat kembali perjalanan kehidupan saya yang ternyata juga berubah sesuai tahapan usia yang saya alami.

Kondisi yang saat ini juga banyak saya lihat, dimana banyak anak-anak yang ditopang secara finansial oleh orangtua mereka. Namun, ketika mereka sudah menua, bahkan untuk meminta uang saja sulit. Tidak jarang dimarahi hanya untuk membeli barang yang mereka senangi. Betapa terkadang kita sebagai orang yang masih memiliki semangat muda dan kurang pengalaman, sering menuduh sembarangan tentang orang-orang yang sudah renta.

Berbeda dengan Eguci tua dalam Rumah Perawan. Kilasan-kilasan kenangan yang dialami oleh dua lelaki tua dalam buku ini, cenderung berbeda. Mereka tidak membutuhkan tidur bersama seorang gadis perawan tanpa busana. Mereka hanya butuh seseorang untuk mendengarkan mereka, butuh seseorang yang dekat dengan mereka untuk menyertai kepergian mereka. Hanya butuh wajah-wajah yang dikenalnya untuk mengucapkan salam perpisahan, bukan oleh kesunyian yang abadi.


Rahasia Hati Kokoro Natsume Soseki


Bab Tiga : Sensei Dan Pesannya



Pada bab ini, Anda mungkin akan menerima banyak pengakuan dari sang Sensei yang mungkin akan membuat Anda setuju dengan sikap dan alasan Sensei memutuskan sesuatu. Atau justru bertambah bulat tekad Anda untuk menjadi orang yang tidak setuju dengan sikapnya. Ini semua merupakan keputusan yang dapat diambil oleh pembaca secara bebas.

Begitu lebih baik, membiarkan pembaca memilih ingin pro dan kontra terhadap tokoh dan pemikiran yang mana saja. Tanpa diinvertensi hanya karena harus sejalan dengan tujuan penulis. Karena, tidak ada satu kata pun yang menuliskan bahwa Natsume berusaha menjejali kita dengan anggapan dan pemikirannya dan kita harus menyetujuinya.

Di bab ini juga, kita akan mengetahui secara mendalam. Garis besar alasan dan penjabaran melalui surat panjang yang melebihi beberapa lembar dan berisi kenangan-kenangan tentang kehidupan. Surat yang akan mengantarkan kita pada pemikiran yang mungkin berhak untuk dipertimbangkan lagi. Dan juga sebuah surat yang merupakan jawaban mengapa judul Kokoro diterjemahkan menjadi Rahasia Hati.


Kesimpulan


Membaca karya sastra Jepang dari beragam penulis memang mengasyikkan. Ketika pertama kali membaca kisah Botchan tentang kenangan seorang anak lelaki pada pengasuhnya, bagaimana dia berusaha untuk berterimakasih dengan perjuangan sang pengasuh membuat pembaca mungkin terharu atau mungkin juga biasa saja. Tapi tetap meninggalkan kesan.

Sama halnya juga dengan buku Rumah Perawan yang bisa jadi tidak membuat Anda merasa terkesan sekali, namun entah mengapa justru ingatan tentang buku tersebut tak ingin pergi. Seolah menempel dengan jelas bagai dipatri tanpa mampu dicopot. Demikian pula halnya saat saya usai membaca novel ini.

Tidak ada keinginan yang aneh-aneh usai membacanya. Justru saya tertarik, mengapa para sastrawan Jepang selalu memiliki pemikiran tentang kehidupan yang mendalam. Mengapa mereka berhasil mengusik sisi kemanusiaan tentang bagaimana hidup, tentang siapa kita di dunia, tentang manusia dan perasaannya. Bagaimana cara mereka yang sederhana, kemudian membuat pembaca seperti saya merasa kikuk usai menutup buku karena merasa belum ada apa-apanya dalam berpikir tentang kehidupan.

Ah, bahkan saya tidak mampu menyebutkan bahwa buku ini bukan sekedar layak baca saja. Tapi juga berisi hal-hal yang unik, menarik namun dikemas dengan cara sederhana. [Ipeh Alena]


22 January 2018

ILLUMINAE #1 : Kisah Perang Antar-Pesawat Antariksa Dan Serangan Virus Aneh





Awalnya saya merasa ragu untuk mulai membaca buku ILLUMINAE yang ditulis oleh Ammie Kaufman dan Jay Kristoff. Meski saya pernah membaca karya Kristoff yang berjudul Nevernight dan saya menyukai bagaimana cara dia membuat tokoh-tokohnya tampak menakjubkan juga menyebalkan di saat yang sama. Juga cara dirinya menyeritakan cerita yang mengalir dengan detil yang cukup untuk membangun imajinasi.

Kenyataan itu sempat membuat saya ragu, tapi berakhir penasaran hingga akhirnya memutuskan untuk membacanya. Pada awalnya, karena faktor keraguan, apakah saya mampu menyelesaikannya atau tidak. Terlebih saya tengah terkena sindrom Reading-Slump yang membuat saya terlalu takut untuk memulai. Dan akhirnya hari Sabtu (13 Januari 2018) kemarin, saya menyempatkan diri membaca beberapa halaman.

Itu pun tidak langsung beranjak dari beberapa lembar pertama. Kemudian hari Minggu, saya mulai mencoba membacanya. Dan, tanpa saya sadari, akhirnya saya bisa menyelesaikannya tepat jam 10 malam. Setelah seharian bertualang di antariksa bersama beberapa pesawat dengan orang-orang yang cukup gila untuk mencongkel mata siapa saja yang menatapnya. Setidaknya perjuangan saya akhirnya tidak sia-sia.


Kartu Tanda Buku

Judul : ILLUMINAE
Penulis : Jay Kristoff & Amie Kaufman
Halaman : 576
Cetakan pertama, November 2017
Penerjemah : Brigida Ruri
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Terbitan : Penerbit Spring
Rating : 4.5 / 5
ISBN : 978.602.6682.09.3






Hari Ketika Kady Dan Ezra Putus Adalah Hari Dimana Koloni Kerenza Terbunuh



Sepasang mantan kekasih ini diwawancarai secara terpisah, namun rekaman percakapannya tersusun bergantian antara Kady Grant dan Ezra Mason, seolah keduanya saling sahut-menyahut dalam menjawab pertanyaan. Dengan kisah yang sama karena keduanya berada di lokasi dalam waktu yang sama. Bahkan Kady sempat menyelamatkan Ezra hingga keduanya akhirnya terpisah, Katy Grant di pesawat antariksa Hypatia dan Ezra di pesawat utama antariksa Alexander.


Pada hari ketika Ezra dan Kady baru saja bertengkar dan memutuskan hubungan, sebuah pesawat terbang dekat di atas mereka. Tidak lama setelahnya terdengar bunyi gemuruh dan ledakan dari arah pertambangan ilegal yang memang sudah dijalani selama bertahun-tahun. Lokasi koloni Kerenza ini memang ilegal, namun kondisi ini seolah sudah diketahui oleh banyak orang, seperti bukan rahasia yang umum.


Dikutip dari Unipedia bahwasannya Pertempuran Kerenza IV adalah pembukaan serangan bertubi-tubi yang sedang berlangsung dalam Perang Korporasi Bintang yang herannya tidak terlaporkan. Pertempuran ini diprakarsai oleh Beitech Industries dan menargetkan operasi tambang hermium ilegal yang dimiliki oleh Wallace/Ulyanov Consortium. Pesawat United Terran Authority, Alexander menjawab panggilan darurat WUC, sehingga ada pertempuran tiga arah antara Beitech, WUC dan pasukan UTA [23].


Space War
Source : Google Image


Karena sudah tertangkap basah oleh UTA, armada Beitech mengambil keputusam mengejutkan untuk menyerang pesawat Alexander dengan harapan menghilangkan saksi. Sebaliknya, Alexander menyebabkan kerusakan parah terhadap Peron Portal Bergerak Magellan, menghancurkan jalan keluar BeiTech. Saat armada BeiTech bertempur melawan Alexander, beberapa pesawat shuttle mengangkut warga-warga sipil dari pemukiman mereka yang hancur. Laporan penggunaan senjata biologis yang tak dikenal masih dikonfirmasi [25].


Jadi, seolah-olah keputusan Kady untuk berpisah dengan Ezra merupakan hal yang membuat dunia berguncang. Apalagi keduanya menyaksikan ketika pesawat BeiTech meledakkan tambang hingga muncul awan hitam yang sangat pekat yang membuat mereka ketakutan. Belum lagi, banyak orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri mereka, sambil merebut mobil-mobil yang sedang dikendarai. Planet Kerenza menjadi kacau balau keadaannya. Sementara itu, Kady dan Ezra mau tidak mau saling membantu demi menyelamatkan nyawa mereka.




Meski Ezra sempat bersikukuh untuk menetap di Kerenza dan mencari ayahnya. Namun, Kady memaksanya untuk ikut menyelamatkan diri dari bahasa BeiTech. Banyak orang yang mereka sayangi menghadapi ajal saat BeiTech menyerang. Bahkan, Kady masih mengingat beberapa orang yang dikenalnya akhirnya meninggal sewaktu kekisruhan terjadi.



Artificial Intelligence
Source : Google Image






Ketika Ezra dan beberapa anggota timnya diwajibkan untuk mengejar BeiTech, namun ternyata menjadi saksi mata pesawat Copernicus tertembak dan sebagian tubuhnya meledak, mereka semua kebingungan. Bukan hanya itu, setelah ledakan yang terjadi di pesawat Copernicus, aliran komunikasi di Alexander diputus. Bahkan demi keamanan, komandan Alexander menyalakan frekuensi darurat untuk keperluan komunikasi dengan pesawat Hypatia yang sayangnya, semua kru dalam pesawat tersebut tidak memiliki banyak informasi.


Perang Antar Pesawat Antariksa Di Angkasa Luas


Setelah memastikan bahwa planet Kerenza dan koloni serta penambangan ilegalnya hancur. BeiTech memutuskan untuk mengejar pesawat Alexander dan pesawat lainnya demi menghilangkan jejak dan bukti penghancuran yang mereka lakukan. Pesawat BeiTech yang bernama Lincoln juga tidak mampu kembali melalui portal, karena baru saja dirusak oleh Alexander.

Sementara itu, baik Alexander, Hypatia dan Copernicus, berniat untuk menggunakan satu-satunya portal terdekat yaitu Portal Heimdall. Sayangnya, karena baku tembak dan kelebihan beban penumpang, pesawat mereka membutuhkan bahan bakar yang lebih. Karena itu, kecepatan mereka tidak bisa secepat biasanya, bahkan mereka harus menjaga agar tidak masuk ke dalam jarak kritis dimana Lincoln bisa dengan mudah menembak mereka.

Adegan ini mengingatkan saya dalam film Star Trek, disaat Enterprise berhadapan dengan pesawat kaptennya di jarak yang tidak aman. Hampir sama seperti itu, sehingga mudah bagi saya membayangkan seperti apa posisi mereka dalam imajinasi saya. Jarak aman ini juga sudah diperhitungkan oleh Lincoln melalui sistem pendeteksinya. Kalian akan ditunjukkan dalam layar yang tertera berapa jam lagi pesawat Lincoln akan berhasil meledakkan Alexander.



Lincoln muncul lagi di teleskop jarak jauhku hampir delapan jam lalu. Kita sedang melaju dengan mesin sekunder. Lincoln akan berada dalam jangkauan senjata lagi kurang dari 24 jam. Aku tidak bisa beralasan dengan Zhang. Dia gila. Tetapi kau tidak... Kau bisa mendengarkan logika. ~ Hal 400


Virus Keanehan Dan Kegilaan Yang Merajalela



Saya bisa melihat mereka. Berlumuran darah. Mata liar dan pucat. Tiga pria dan satu wanita, mengerumuni seorang gadis kecil, tidak lebih dari sembilan atau sepuluh tahun. Gadis kecil itu menjerit, memohon. Seorang pria gemuk duduk di atas dadanya, membuatnya sesak napas. Tiga orang lain berdiri mengelilinginya, balok besi dan pipa kunci pas di tangan, dihiasi darah sampai ke siku. ~ Hal 163


Ada hal aneh yang terjadi pada para penumpang yang berasal dari pesawat Copernicus. Mereka menjadi sosok manusia yang, entah bagaimana menjelaskannya, lekas mengamuk ketika seseorang melihat mereka.

Virus Phobos
Source : Google Image


Penularan keanehan ini sangat cepat, melalui udara. Sebelumnya, para penderita akan mendadak seperti menderita kelumpuhan, katatonia, yang setelah itu mendadak menjadi lebih agresif serta membunuh dan mencongkel mata orang-orang yang mereka incar. Kebanyakan masih memiliki memori yang tersimpan dalam ingatan mereka.



Kondisi ini memperparah misi penyelamatan mereka dari Lincoln. Karena selain mengatur jarak agar aman, memastikan supaya semua mesin berfungsi dengan baik agar tidak kehabisan bahan bakar, serta mencoba meretas sistem Lincoln. Dan mereka harus berpikir tentang virus Phobos yang mengerikan ini. Semua menjadi demikian bertumpuk, masalah yang satu demi satu terus meninggi dan menjadikan beban bagi para kru lainnya.

Saya merasakan tiga klimaks selama mengikuti cerita perjuangan para awak Alexander dan Hypatia ini. Pertama, saat Kady memutuskan untuk meretas akun lain demi bisa berkomunikasi dengan Ezra yang berbeda pesawat dengannya. Kedua, saat para penderita Phobos berhadapan dengan kru. Ketiga, ketika Kady harus menyelamatkan satu-satunya yang tersisa dari kejaran Lincoln.



BLOGTOUR ILLUMINAE



Siapa yang berminat ingin membaca novel ini?? Kalau ingin baca novel ini, jangan lupa untuk mengunjungi blog-blog di bawah ini demi mendapatkan kata kunci, yang nantinya bisa kalian gunakan pada Giveaway yang diadakan di akun instagram @penerbitspring.
Ingin ikutan? Simak syaratnya di sini :





1. Wajib mengikuti Instagram dan Twitter @PenerbitSpring dan @PenerbitHaru 

2. Memiliki alamat pengiriman  hadiah di Indonesia.

3. Wajib membagikan postingan giveaway ini di media sosial kamu dengan mencolek Penerbit Spring. Sertakan juga tagar #blogtourIlluminae.

4. Mengikuti seluruh postingan ulasan novel Illuminae yang berlangsung di kelima blog berikut ini


Sharie, 19 Januari 2018
Link Blog: http://romanitamore.blogspot.co.id/

Wiwi Widiani20 Januari 2018
Link Blog: hhttp://deebacalah.blogspot.com/

Dion Yulianto, 21 Januari 2018
Link Blog: http://dionyulianto.blogspot.co.id/

Ipeh Alena, 22 Januari 2018
Link Blog : http://bacaanipeh.web.id

Abduraafi Andrian, 23 Januari 2018
Link Blog: http://bibliough.com/


5. Tulis di komentar postingan ini nama dan akun IG kamu untuk mempermudah pendataan.


6. Simpan baik-baik jawaban dari pertanyaan yang akan menjadi satu dari lima kata kunci blogtour final di IG Penerbit Spring.

"Apa nama pesawat tempat Kady Grant berada?"

Jangan lupa untuk mengumpulkan jawaban dari seluruh blog yang mengadakan Blogtour di atas untuk diikut-sertakan dalam Final Giveaway di akun instagram @penerbitspring pada tanggal 25 sampai 28 Januari 2018.


Kesimpulan


Semua itu terasa menegangkan dan cukup membuat saya penasaran, jika diangkat ke dalam layar lebar. Siapa yang cocok menjadi sosok Kady? Kalau menurut saya Britt Robertson cocok memerankan Kady, karena penampilannya saat di film Tomorrow Land dan Space Between Us cukup menarik, karena aktingnya yang keren.


Space between us Britt Robertson


Sayangnya, di balik kekerenan itu, saya sempat merasa kesal dengan Kristoff dan Kaufman yang membuat saya seperti orang bodoh. Untuk apa saya merasa terharu dan hendak menangis untuk hal yang sia-sia? HUWAH!! Rasanya bikin kesal, karena plot twistnya benar-benar menipu.

Jika kalian membaca beberapa pendapat pembaca lain di Goodreads tentang betapa buku ini membuat mereka tak sanggup untuk menyelesaikannya. Saya tekankan satu hal : Buku ini memang tidak dikemas seperti buku cerita atau novel pada umumnya. Buku ini dikisahkan melalui kumpulan dokumen seperti : Surat rahasia, transkrip percakapan, transkrip rekaman, transkrip percakapan, hingga kode-kode dalam bentuk laporan data inti dari Aidan.

Jangan cemas jika awal-awalnya kalian merasa aneh untuk melanjutkan petualangan. Karena sebenarnya, novel ini memang membutuhkan kejelian serta rasa ingin tahu yang harus dijaga dan dicari jawabannya dalam setiap berkas-berkas tersebut, layaknya ujian yang membolehkan siswanya open book, tapi si siswa ini tidak masih belum tahu dimana letak jawabannya. Jika itu terjadi, jangan risau, teruskan saja membacanya, nikmati bagaimana Kristoff memainkan imajinasi dalam bentuk petualangan perang antar pesawat di angkasa luar.

Jikalau saya dibolehkan untuk mengeluh, satu-satunya keluhan saya adalah percakapan antara Ezra dan Kady! Kenapa sih, di saat yang menegangkan, bahkan mereka bisa saling rayu dan membahas hal-hal yang enggak penting? Sampai-sampai bertengkar hanya karena masa lalu dan membahas topik yang membuat mereka kembali harus saling merayu satu sama lain. Rasanya, gregetan gitu. Saat saya tengah tegang karena berhadapan dengan penderita dan percakapan mereka kemudian menjadi hal yang membuat saya bete bukan main.

Dan keluhan ini setidaknya terbayar oleh plot twist yang sudah saya jelaskan tadi. Yang tidak terduga dan membuat saya merasa menyesal sudah terharu sedemikian rupa. Kemudian memutuskan untuk menjaga rasa penasaran saya demi membaca Gemina. Apalagi, konon kabarnya, buku ketiganya akan segera terbit! Sungguh, bukan main cepatnya waktu berlalu! [Ipeh Alena]

17 January 2018

Rumah Perawan - Yasunari Kawabata : Sebuah Kenangan Lelaki Tua Dalam Kehidupannya Yang Ikut Menua


Rumah Perawan


Saya membaca Rumah Perawan bersama dengan seorang kawan, seorang narablog ayowaca.com, bernama Iyas. Awalnya saya penasaran dengan isi dari novela ini. Apalagi di dalamnya menyebutkan beberapa kutipan sajak yang cukup unik, sesuai dengan suasana yang dibangun oleh Kawabata.

Sama seperti cerita pendeknya dalam buku Daun Bambu, dimana menyajikan kisah yang kalau dikenang kembali, ternyata buku tersebut pun masih menyisakan kenangan yang lekat. Sebuah karya yang tidak mudah terlupa meski pernah dibaca sekali dan berbulan-bulan yang lalu. Namun, masih segar dalam ingatan seperti apa bentuknya.

Dan Rumah Perawan sama seperti buku sebelumnya. Membawa rasa penasaran saya semakin tinggi demi menggali lagi setiap cerita dalam tulisan Kawabata. Tapi, kali ini, saya mengizinkan diri saya sendiri untuk menuliskan apa yang muncul saat membaca novela yang cukup erotis bagi mereka yang tidak terbiasa. Ini saya tuliskan, untuk memberikan informasi agar tidak merasa membeli kucing dalam karung.



Kartu Tanda Baca 

Judul : Rumah Perawan (Nemureru Bijou)
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerjemah : Asrul Sani
Halaman : 115
Cetakan Pertama, Juli 2016
Versi : Buku Cetak
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4/5
ISBN : 9786024241209



"Malam-malam yang menyajikan kumbang dan anjing-anjing hitam dan mayat-mayat orang mati lemas." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Berkisah tentang seorang lelaki tua, yang sudah hilang kelelakiannya, bernama Eguci mampir ke Rumah Perawan Beradu yang cukup dikenal oleh banyak orang-orang tua - terutama lelaki - namun tidak banyak yang mengetahui terkait keberadaan rumah tersebut. Karena, pintu Rumah Perawan Beradu hanya terbuka bagi beberapa lelaki tua yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan oleh sang Perempuan Penginapan.

Konon, beberapa orang yang seusia Eguci tua, berhasil mendapatkan kembali semangat hidupnya usai tidur dengan para gadis di Rumah Perawan. Ini berdasarkan cerita dari Kiga tua yang merekomendasikan tempat tersebut padanya. Sebenarnya, yang membuat Eguci tua akhirnya memutuskan untuk datang ke Rumah Perawan adalah rasa penasarannya untuk memverifikasi fakta yang diceritakan oleh Kiga tua.

Bagian pertama dari novela ini, langsung dibuka dengan sebuah fakta yang cukup membuat pembaca penasaran. Ini sepertinya harus dicontoh oleh para penulis pemula, untuk mengejutkan pembaca di awal, dan menjaga rasa penasaran mereka hingga akhir. Sebuah peraturan bahwa Eguci tua dilarang melakukan hal yang tidak senonoh, seperti memasukkan jari ke dalam mulut gadis yang sedang tidur, atau hal sejenisnya.

Faktanya, memang Eguci tua membayar untuk menginap di dalam ruangan bersama dengan seorang gadis yang sudah ditidurkan dan tidak akan terbangun dengan cara apapun, tanpa mengenakan sehelai pakaian. Hanya dibekali selimut dan Eguci tua diminta untuk tidak membuat gadis itu kedinginan. Itu hal yang jahat, juga seperti menegur mereka saat bertemu di jalan pun hal yang jahat.

Fakta lainnya adalah para gadis itu memang sama sekali tidak tahu menahu, dengan siapa mereka menghabiskan waktu semalam saat dirinya tertidur. Mereka juga tidak akan pernah tahu, siapa nama pelanggan yang tidur dengan mereka, apa yang terjadi selama malam itu, sampai apa saja yang dilakukan oleh sang lelaki tua pada gadis-gadis itu. Mereka tidak akan mengetahui hal itu karena mereka benar-benar dalam kondisi tidur yang terlampau nyeyak.

Hal ini sempat membuat kening saya berkenyit, sebuah bentuk prostitusi baru yang menyajikan Gadis Perawan sebagai teman tidur, namun para pelanggan tidak dibolehkan untuk melanggar peraturan. Apalagi Perempuan Penginapan itu termasuk tegas menjelaskan bagaimana jika peraturan tersebut dilanggar, meski dengan gaya penyampaian yang cukup lembut dan terkesan dingin.

Gadis-gadis perawan itu, memang benar hanya menemani para lelaki tua yang sudah kehilangan kelelakian mereka, juga kehilangan semangat dalam hidup. Bagi mereka pengalaman tidur dengan para gadis ini membawa kenangan masa muda mereka, hingga bagi Eguci tua hal ini merupakan The Perfect Moment to end his life.





"Jika peraturan ini sampai dilanggar, maka jadinya rumah itu tidak akan lebih dari sebuah rumah mesum biasa." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Meski Eguci tua berkali-kali memiliki dorongan kuat untuk melanggar peraturan. Tapi, tetap saja dia berakhir menenggak dua pil tidur yang memang disediakan oleh sang Perempuan Penginapan sebagai bagian dari servis jika pelanggan mereka kesulitan untuk tidur.

Tidur dengan seorang gadis perawan yang tidak mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuh mereka. Membuat Eguci tua sempat dilanda sebuah pemikiran-pemikiran hingga menganggap bahwa para gadis yang sudah tidur dengannya, berbicara dan bertindak sesua dengan yang diinginkan olehnya.

Bagi Eguci tua, para gadis itu meski ditidurkan sebelum mengetahui siapa pelanggan mereka, tetap hidup meski tidur. Dalam artian, pikiran dan kehidupan yang mereka jalani ini ditenggelamkan dalam kepulasan yang dalam tapi tubuh mereka seolah bangun bagai seorang wanita. Menjadi tubuh seorang gadis, tanpa pikiran, demikian Eguci berpikir setiap memerhatikan gadis yang tidur dengannya.



"Berbaring dengan gadis seperti itu adalah suatu hiburan sementara, pencarian kebahagiaan yang telah sirna, sedangkan hidup masing berlangsung. Dalam tubuh seorang gadis muda ada suatu kemurungan yang menimbulkan dalam diri seorang lelaki tua kerinduan pada mati." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)


Kita sudah dijelaskan mengenai lelaki tua yang kehilangan kelelakiannya dalam kamus Eguci tua. Bisa membayangkan malam-malam yang dihabiskan oleh Eguci tua hanya memandangi wajah dan tubuh para gadis tersebut. Meski kemudian Eguci tua menyadari, dia ingin lebih, dia ingin para gadis itu berbicara dengannya.

Tapi, begitulah peraturannya, mereka dilindungi oleh tidur panjang mereka. Yang mengingatkan Eguci tua pada kematian. Berkali-kali dirinya mengenang masa lalunya bersama para gadis yang sering bergonta-ganti.  Baginya cukup aneh, karena dia tidak pernah mengingat mereka, namun ketika berdampingan dengan gadis tidur itu, dirinya mulai dirasuki kenangan-kenangan masa lampaunya.

Bagi saya, cerita yang disajikan dalam novel ini cukup kelam. Tentang seorang lelaki yang menginginkan kematian karena tidak lagi memiliki gairah untuk hal yang membuatnya semangat. Hanya ada satu yang selalu dinanti olehnya, berdampingan sambil tidur bersama para gadis. Itulah yang membuat Eguci tua senantiasa meminta obat tidur yang sama dengan si gadis tersebut. Demi tidur panjang yang membuat dirinya selalu bermimpi tentang masa muda.




"Dari zaman purba lelaki tua menganggap bau yang disebarkan gadis-gadis bagai air mukjizat kemudaan." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Dari kacamata saya pribadi, Kawabata bukanlah bermaksud untuk menjabarkan betapa sempurnanya tubuh para perawan melalui deskripsi detailnya. Mungkin ini sebagai pengalihan, karena biasanya orang hanya akan fokus pada sesuatu yang menarik bagi dirinya. Sebab, saya mendapati beberapa bagian yang merupakan pemikiran Eguci.

Seperti ketika dia mempertanyakan, apa yang dipikirkan oleh orangtua para gadis ini sehingga membolehkan anak-anak perempuan mereka yang masih perawan tidur bersama dengan lelaki tua yang berbeda-beda? Kekhawatiran ini juga hadir dalam kenangan tentang tiga anak perempuannya yang sudah menikah dan menjadi sosok ibu bagi cucu-cucunya.

Kemudian pemikiran tentang alasan apa yang membuat si Perempuan Penginapan mau menyajikan servis demikian bagi para lelaki tua. Bagaimana dia mendapatkan koleksi perempuan muda yang bahkan tidak dikenal identitasnya bagi Eguci tua. Dia membayangkan masa depan para gadis ini, akan seperti apa, akan berkelakuan bagaimana dan segala hal mengingatkan banyak hal tentang perempuan-perempuan lain yang pernah melayaninya.

Terutama tentang kehidupan. Bagi seorang lelaki tua yang sudah tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan. Eguci tua cukup memikirkan banyak hal dalam kehidupannya. Yang diwakili dari rentetan bayangan-bayangan pada masa lalunya bersama para geisha dan perempuan yang pernah ditemuinya di klab malam. Hingga, terakhir, sebelum dia meminta pil tidur kembali, dia memikirkan Ibunya.

Sosok Ibu yang membuat Eguci Tua terguncang. Bagai seorang anak yang memiliki berkarung-karung kerinduan pada sang Ibu dan mengingikan pertemuan dengannya hingga bisa kembali menghirup udara yang sama dengan sang Ibu. Seolah itu adalah perhentian terakhir dalam kehidupannya. Dan Eguci tua terombang-ambing bersama bayangan tentang sosok Ibunya.


***


Pendapat saya sama seperti di akun Goodreads. Bahwasannya saya tidak mendapati sesuatu yang WAH pada cerita ini. Tapi entah kenapa, karya ini, bahkan hingga saat ini saya menuliskannya, masih lekat di dalam ingatan dan hati saya. Beberapa pengulangan ketika Eguci ditemani nyanyian alam berhalusinasi kemudian berpikir tentang kehidupan.

Betapa sebenarnya menyedihkan sekali bagi seseorang yang telah kehilangan semangat mudanya. Hingga ingatan tentang The Perfect Moment To Die, mengingatkan saya kembali pada harapan hidup dan betapa sulit bagi mereka para orang tua yang sudah benar-benar sepuh, untuk melanjutkan kehidupan. Dimana Zaman yang mereka tempati ini berbeda dengan yang mereka kenali dulu. Sedangkan semangat mereka telah memudar namun kehidupan di sekeliling mereka terlampau cepat hingga rasanya tak mampu kaki-kaki lemah mereka mengejarnya.

Sama seperti Eguci tua yang terpanggil setiap kenangannya dari tidur dengan gadis perawan. Saya pun terpanggil kenangan saya, meski bukan dari tidur bersama gadis karena saya lebih menyukai pria, tapi dari tidur bersama buku-buku yang sudah pernah saya baca. Seperti saat ini, ingatan saya kemudian tertuju pada sosok tua yang menjadi ayah dari ayah saya.

Dia kupanggil Kakek, yang kini sudah menginjak usia 70 tahun. Dia tak lagi betah tinggal bersama anak-anaknya, namun kerap merindukan kehadiran dan keramaian mereka. Dia tak lagi bisa menyesuaikan diri dengan dunia yang sudah begitu cepatnya hingga membuatnya kerap merasa kelelahan dan tak mampu melanjutkan kehidupan. Dia pula yang sering mengatakan padaku, keinginannya untuk segera mati namun kenapa Tuhan tak membuatnya mati? Yang kemudian membawaku pada rasa rindu teramat. Membuat mataku basah oleh cairan yang entah ini kunamakan kerinduan atau kesedihan atau justru rasa kasihan? Yang kemudian membuatku tak ingin berhenti berdoa untuknya. 

Dan semoga pembaca tidak berpikir yang bukan-bukan, hanya karena seorang lelaki tua berkeinginan untuk mati. Karena, sesungguhnya menjalani hari tua bukan hal yang ringan. Jika saja semua orang tidak langsung berpikiran buruk tentang orang-orang yang merindukan kematian daripada kehidupan dan orang-orang di sekitarnya, mungkin akan banyak para orang tua yang menyeritakan betapa mereka terkadang lelah untuk terus menerus menyusahkan orang lain. Mereka terkadang lelah untuk terus menerus menjadi tak berdaya. Semoga saja orang-orang yang berpikiran buruk terhadap para orang tua ini berkurang, alih-alih mereka menjadi sosok yang mendoakan kebaikan untuk mereka.

Sial betul Kawabata, membuat saya terseret-seret dengan pemikiran lelaki tua ini, seolah saya tengah mendengar kembali gaungan suara Kakek yang berkali-kali meminta agar kehidupannya disudahi saja karena kelelahan yang luar biasa. Ah, Kakek, sungguh saya masih membutuhkanmu ;). And those tears won't stop dropping.

10 January 2018

The Casual Vacancy : Perebutan Kursi Kosong Dan Kisah Keseharian Warga Pagford






Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru saja menginjak 40 tahun. Kepalanya sempat terasa sakit saat dia baru saja mengirimkan artikel ke sebuah surat kabar. Kemudian mengajak istrinya untuk makan malam bersama. Pasalnya, sejak dirinya menjabat menjadi anggota dewan di Pagford, tentunya waktu bersama dengan istri dan anak-anaknya harus rela terkuras demi warga di Pagford. Barry merupakan seseorang yang berjuang demi keberlangsungan hidup orang-orang di Fields.

Sementara itu, kematiannya yang mendadak akibat penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarganya yang lain. Menjadi bahan perbincangan yang cukup lama di antara warga Pagford. Ada beberapa orang yang bersedih seperti Marry - istrinya, anak-anaknya, Gavin sang asistennya di tempat Barry bekerja, hingga Krystal Weedon seorang anak perempuan yang lahir dan tinggal di Fields.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Casual Vacancy
Penulis : J.K Rowling
Halaman : 596
Cetakan I, November 2012
Versi : Buku Hardcover
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Penerbit Qanita (Imprint Mizan Pustaka)
ISBN : 978.6029.2256.86
Rating : 5/5


***

Kisah dalam novel The Casual Vacancy ini terbentuk dari cerita kehidupan sehari-hari warga Pagford dan Fields. Benar-benar kehidupan mereka sehari-hari, dari mereka bangun tidur hingga kemudian malam menjelang. Semua mengisi bagian-bagian dalam cerita hingga tampak seperti puzzle yang kemudian menjadikannya satu cerita utuh yang berbentuk novel.


Casual Vacancy / Kekosongan Jabatan Dianggap Terjadi :
(a) ketika seorang anggota dewan tidak bisa hadir untuk menerima pelantikan jabatannya dalam kurun waktu yang sudah ditentukan; atau(b) ketika surat pengunduran dirinya disetujui; atau(c) ketika ia meninggal dunia...
Charles Arnold - BakerLocal Council Administration,Edisi Ketujuh


Barry Fairbrother, seorang lelaki yang penyayang, lucu dan mudah menempatkan dirinya di antara orang-orang yang berada di Pagford. Project yang baru saja dia selesaikan adalah membuat tim dayung di sekolah yang terletak di pinggiran Kota Yarvil, St. Thomas. Hal yang membuat tim ini berbeda yaitu keberadaan Krystal Weedon, seorang anak yang lahir dan tinggal di Fields, dengan kondisi seorang Ibu yang tengah menjalani rehabilitasi narkoba. Namun, keyakinannya akan perubahan di masa mendatang bagi Pagfords dan Fields ini membawa pertentangan tersendiri bagi beberapa warga yang tinggal di Pagford.


Pagford merupakan daerah yang bersinar dengan kebajikan moral, pemandangan yang indah disertai bukit-bukit kecil yang mengelilingi rumah-rumah mungil, terdapat sungai yang mengalir deras dan pepohonan yang berjajar dengan rapi. Menampilkan siluet megah sebuah biara yang berada di atas bukit. Pemandangan ini disesuaikan juga dengan perilaku setiap warganya yang harus tampak terhormat serta anak-anak mereka yang terdidik.

Sementara itu Fields, merupakan mimpi buruk bagi banyak orang, dimana dapat ditemui jendela-jendela yang tertutup tripleks serta penuh dengan coretan kata-kata jorok. Anak-anak yang tidak bersekolah dan nongkrong sambil merokok. Tidak hanya itu, banyak dari mereka yang adiksi terhadap narkoba hingga free sex. Lingkungan di Fields dikenal sebagai daerah kumuh yang diisi dengan anak-anak berandalan.

Asisten Barry, Gavin, yang mengurus banyak hal paska kematiannya. Dari mengurus surat-surat hukum hingga surat kematiannya sampai pemakamannya. Gavin juga dengan rela menemani Marry dan memastikan agar wanita itu mendapat cukup makan dan minum tanpa melupakan dirinya sendiri. Wajar saja, Marry adalah istri dari sahabatnya yang tengah berduka, sehingga membuat Gavin merasa harus menemaninya. Meski dirinya harus bertengkar dengan Kay - pacarnya - setiap hari hanya karena dia tak lagi sempat menemui pacarnya itu.

Sedangkan Kay, seorang petugas dinas sosial yang akhirnya harus menangani kasus keluarga Weedon karena Robie berkali-kali tidak masuk sekolah. Satu hal yang harus dia lakukan adalah mengunjungi rumah tersebut dan memastikan bahwa Terri tidak menyakiti Robie dan juga tidak sedang menggunakan heroin lagi. Meski kemudian faktanya, Terri ditemui oleh Kay dalam keadaan mabuk. Padahal dia merupakan pasien pusat rehabilitasi pengobatan bagi para pecandu narkoba.

Fakta selanjutnya adalah Terri merupakan ibu dari Krystal Weedon yang satu sekolah dengan anaknya - Galia. Dimana Krystal-lah yang mengurus adiknya selama ini, karena Terri kerap tertangkap masih menggunakan narkoba. Kasih sayang Krystal pada Robie memang sangat besar, bahkan dia sangat menjaga Robbie agar tidak terkena damprat Terri ketika ibunya itu sedang dalam kondisi 'ngefly'.

Hal yang sering membangkitkan amarah Krystal adalah Terri masih saja menerima penitipan barang dari Obbie dengan bayaran sebungkus heroin. Jika ibunya masih terus-terusan seperti ini, peluang Terri merawat Robbie akan hilang. Tidak hanya itu, kemungkinan besar, ibunya itu akan dikeluarkan dari pusat rehabilitasi yang gratis untuk warga Fields. Dimana pembiayaan dari pusat rehabilitasi ini merupakan hasil dari kontribusi warga Pagfords.

Di sekolah St. Thomas, ada banyak anak-anak lain yang memiliki permasalahan sendiri-sendiri khas anak remaja. Seperti Andrew Price yang mengalami jatuh cinta pertama kali pada Galia, namun dia berusaha menyembunyikannya. Sementara kehidupannya di rumah juga tidak nyaman dan tentram karena sang Ayah kerap kali memukulnya bahkan mengancamnya. Tidak pernah dia temukan sang Ayah berbicara dan bersikap ramah pada Andrew, juga pada istrinya Ruth Price. Kehidupannya yang seperti ini membuat Andrew menghabiskan banyak waktu di luar rumah bersama dengan sahabatnya : Fats.

Fats merupakan anak kepala sekolah St. Thomas, dimana Ibunya juga bekerja di sekolah tersebut sebagai Guru Konsul. Setiap hari dia akan berangkat bersama dengan kedua orangtuanya. Sering dirinya mendapati teman-teman lainnya menggoda dengan makian yang kerap dibalasnya tanpa ampun hingga mereka tidak dapat membalasnya lagi. Namun, perilaku Fats yang tak dapat diterima oleh Andrew adalah Fats sering mem-bully Sukhvinder, bahkan melabelinya dengan Gadis Berkumis.

Kenakalan Fats sebagai bentuk protes dari kehidupannya yang harus selalu menuruti peraturan dan perintah dari sang Ayah. Apalagi kedua orangtuanya memiliki status yang sangat disegani di sekolah dan di tempat tinggal mereka. Inilah sebabnya Fats mencoba untuk terus berbuat nakal demi merasakan kehidupan yang berbeda, hingga memutuskan menggoda Krystal Weedon.

***

Tema terbesar dari buku The Casual Vacancy ini sudah bisa ditebak, dimana kondisi warganya berebut untuk mengajukan diri sebagai pengganti Barry usai kematiannya. Namun, di luar dari perebutan ini, ada banyak karakter yang mengisi cerita melalui kehidupan mereka sehari-hari. Tidak hanya terfokus tentang mereka yang ingin mengganti posisi Barry, tapi juga setiap penduduk Pagfords dan Fields yang menjadi satu kesatuan cerita.

Meski saya merasakan kesulitan untuk masuk ke dalam cerita saat mencapai bab-bab awal hingga pertengahan. Karena perkenalan banyak tokohnya sampai hal-hal apa yang identik dengan mereka hingga watak mereka, semua berkaitan satu sama lain dan cukup menguras tenaga untuk mengingatnya agar tidak bingung saat mencapai bagian akhir. Juga karena terlalu lambat alurnya, sempat saya dilanda kebosanan mendadak selama membaca novel ini. Tapi, ceritanya yang tidak bisa ditebak sampai twist yang menarik membuat saya tetap menyukai novel ini.

Pada akhirnya, kemudian saya berusaha mencari beberapa buku karya Rowling, selain Harry Potter, untuk saya baca. Kebetulan, saya masih belum memiliki keinginan untuk membaca serial Harry Potter. Jadi, saya memutuskan membaca karyanya yang lain saja untuk berkenalan, siapa tahu setelah ini jadi berhasrat untuk membaca Harry Potter.


07 January 2018

Heartbreak Formula : Kisah Mereka Yang Memutuskan Untuk Mengakhiri Hidup


Heartbreak Formula



Masih segar dalam ingatan saya, ketika berita tentang orang yang mengakhiri hidup muncul di kanal sosial. Mendadak, banyak orang yang langsung menjadi pemuka agama dan menasihati agar tidak seperti si fulan dan fulanah. Atau saat ada seseorang yang menyeritakan kehidupan mereka yang sangat sulit dan berusaha untuk berjuang agar tetap hidup, kemudian disindir beramai-ramai tanpa ampun bahkan tidak jarang banyak dari mereka yang mem-bully, namun ketika ditegur mereka menganggap bahwa itu adalah tindakan yang benar.

Bullying sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi tindakan yang baik apalagi benar. Bullying tidak akan pernah baik meski dibalut dengan nasihat apalagi dengan memasukkan unsur agama. Bullying dalam bentuk apapun merupakan tindakan yang tercela. Meski itu ditujukan untuk membuat orang tersebut jera, karena tentunya perbuatan tercela lebih baik ditegur dengan cara yang baik, bukan dengan cara tercela seperti bullying.


Tidak banyak orang yang menyadari, seberapa sering mereka menyakiti hati orang lain, seberapa mudahnya mereka meminta maaf, seberapa entengnya mereka menganggap remeh permasalahan orang lain. Bahkan, banyak yang tidak menyadari dan bahkan bangga bahwa mereka tidak pernah membully, padahal kerap kali ditemukan bukti tindakan tersebut. Ini sebuah contoh perilaku manusia yang sering menimbulkan banyaknya orang memutuskan untuk bunuh diri.

Pertanyaannya, apakah mereka sudah yakin benar-benar bersih dari jalinan kesalahan yang membuat orang memutuskan untuk mengakhiri hidup? Jangan-jangan, Anda pernah sekali dua, mengatakan sesuatu yang mungkin menjadi pencetus seseorang mengakhiri hidupnya tanpa Anda sadari.

Novel yang saya baca di awal tahun 2018 ini, berkisah tentang remaja-remaja yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka, dengan permasalahan yang mereka miliki masing-masing. Issue ini dijelaskan oleh Mpur Chan - sang penulis - sebagai pengingat betapa banyak orang yang berjuang demi kehidupan mereka dan sebagai pengingat meski dirasa sulit hidup yang dijalani namun tetaplah berusaha berjuang untuk tetap hidup dan menjalaninya.


"Suicide Doesn't Kill People. Sadness Kills People." ~ Anonymous



Kartu Tanda Baca

Judul : Heartbreak Formula
Penulis : Mpur Chan (IG @Mpurchan )
Halaman : 292
Cetakan Pertama, Desember 2017
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Haru Media
Rating : 3.5/5
ISBN : 978.6026.3833.72

Sebuah Pengantar Dari Buku Heteronomia Dan Pentas Kota Raya



Saya akan sedikit membubuhi ulasan buku Heartbreak Formula dengan kedua buku karya Fuad Hassan. Sedikit tentangnya, Fuad Hasan adalah seorang guru besar di bidang Psikologi, beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1985-1993. Tulisan-tulisan karyanya sudah banyak dibukukan, ada tiga buku yang sudah saya baca yaitu Pentas Kota Raya, Heteronomia dan Studium Generale.

Pada essai bertema Pengaruh Teknologi Pada Kemanusiaan, sesuai dengan salah satu faktor yang muncul dalam novel Heartbreak Formula yaitu New Media akan internet. Menurut Jasper, teknologi bukan saja telah menelan manusia dalam proses berlarut yang rutin dan monoton, tetapi juga telah mengakibatkan dehumanisasi terhadap manusia sendiri meskipun manusia pulalah yang mengembangkan teknologi itu.

Dikutip dari buku Heteronomia halaman 18, Betapapun paradoksal kedengarannya, kenyataan-kenyataan dalam abad terakhir ini sudah juga membuktikan bahwa teknologi adalah suatu kekuatan - suatu kratos - yang tidak semata-mata produktif dan konstruktif cirinya, melainkan juga destruktif, baik materiil maupun spirituil. Teknologi yang dikembangkan untuk mengatasi sejumlah masalah agar akhirnya kehidupan manusia ini menemukan modus baru yang lebih serasi dan mantap, akhirnya membuktikan bahwa ia pun mampu menggoncang tata hidup itu beserta nilai-nilainya yang semula diunggulkan.

Teknologi terbukti menjadi sebuah alasan manusia mengalami keterasingan, pada masyarakat tradisional adalah hal yang lazim mengatur diri mereka atas pola hubungan antarpribadi yang lebih mempertimbangkan faktor manusia sebagai pribadi alih-alih sebagai oknum. Dari kehidupan masyarakat tradisional ini bisa dilihat perbandingannya dengan masyarakat modern yang haus akan teknologi yang menggantikan posisi hubungan mereka yang menggunakan teknologi sebagai elemen pengganti eksistensi manusia.


Tanpa sadar manusia modern berangsur-angsur menghadapi kenyataan hidup baru yaitu menyempitnya penghayatan ruang dan waktu. Ini berarti teknologi telah menciptakan suatu ruang hidup dan tempo hidup yang radikal berbeda dengan apa yang kita hayati dalam kehidupan masyarakat tradisional. Dari pengaruh ini didapati pula bahwasannya manusia urban yang telah dipacu oleh kondisi modern hampir kehilangan kesempatan untuk menikmati alam sekitarnya dan lebih terbawa oleh arus kehidupan yang mekanistis dan tidak memberikan peluang untuk kontemplasi.

Kondisi kemanusiaan dewasa ini - justru oleh kemajuan teknologi - telah demikian rupa derajatnya sehingga, tanpa kita sadari, banyak di antara kita sudah menjadi bergantung sekali kepada perpanjangan-perpanjangan artifisial, yang pada gilirannya kian memperluas jarak antara kita dan apa yang alamiah. Pemanjaan dalam berbagai bentuk yang telah dimungkinkan oleh perpanjangan-perpanjangan artifisial itu telah membuat kita makin fragile untuk menyelenggarakan interaksi dengan alam kita. Tidak dapat diingkari pula bahwa perpanjangan-perpanjangan termaksud dihasilkan oleh teknologi [Hal 24].

Dalam buku Pentas Kota Raya di halaman 6-7 menggambarkan kehidupan pada masyarakat urban dan menggesernya nilai-nilai kehidupan ini juga berpengaruh pada hadirnya kesenjangan yang menganga antarlapisan dan antarkalangan dalam masyarakat. Kesenjangan itu begitu rupa sehingga akan sulit memperkecilnya, jangankan mengatasinya. Berbagai kesenjangan yang melekat tidak saja diragakan secara fisik, melainkan juga secara mental. Karena begitu terbiasa dengan hal ini, maka kepekaan semakin menumpul dan nurani semakin kurang berbicara, dan bersama itu sambung rasa dalam kehidupan bersama pun semakin melonggar. Kepedulian dan kesetiakawanan sosial telah sirna tanpa menggema.

Ada kalimat penutup dari essai berjudul Adegan Dari Pentas Ibu Kota yang sangat sesuai dengan keadaan di seluruh kota di dunia. Yang membuat saya selalu kagum karena beliau menulis essai ini jauh sebelum perangkat pintar menjadi hal yang lebih berharga bagi hidup. Pada halaman 23 - 24 dituliskan bahwa Orang harus tahu kiatnya mengatasi kejenuhan dan kejemuan, juga kesanggupan untuk menyembunyikan kegelisahan dan kecemasan. Kalau tidak, dia akan dilanda oleh frustasi berkepanjangan. Mengeluh pun tidak ada gunanya karena tidak gampang menemukan mitra yang sungguh-sungguh mau menampung keluhannya, apalagi memahaminya.

Ini sebagai refleksi sebuah alasan yang sebenarnya banyak dialami oleh para korban yang mengakhiri hidup mereka. Sulitnya menemukan mitra yang sungguh-sungguh mau menampung dan memahami keluhan. Beruntunglah mereka yang tidak pernah mengalami kesulitan menemukan orang yang bisa diajak berbincang di kala sedih. Namun, perlu diketahui, bahwa perasaan ingin mengakhiri hidup itu adalah NYATA. Dan sudah semestinya mereka yang beruntung ini, bukan menjadi Tuhan yang memutuskan hubungan karena mereka tak layak ditemani, tapi menjadi sesama manusia yang minimal tidak menyakiti apalagi berkata sembarangan jika tidak mampu untuk membantu.



Sebuah Formula Yang Dapat Menghapus Memori Spesifik Pada Manusia



Cerita fiksi ini memang cukup menarik, karena mengangkat tema bunuh diri sebagai pendukung cerita. Itulah kenapa saya tidak ingin menyia-nyiakannya dengan memberikan pengantar dari beberapa buku yang sudah saya baca mengenai bunuh diri. Sayangnya, buku psikopatologi bunuh diri tidak saya sertakan di sini, karena nanti akan terlalu panjang dan menjadi tidak fokus pada buku yang ingin saya ceritakan ini.

12 orang remaja dikumpulkan dalam satu ruangan di Zanson Survival Shelter, mereka semua memiliki persamaan : tersedot oleh rasa patah hati yang menggiring mereka untuk mengakhiri hidup. Tiap-tiap remaja yang mengikuti program uji coba formula baru ini, sudah bersiap untuk melupakan ingatan masa lalu mereka yang buruk, mereka berharap dapat menjalani kehidupan yang baru dimana mereka terlepas dari beban ingatan buruk masa lalu.

Jangan salah, bentuk Heartbreak di sini bukan sekadar cinta ala pacaran. Tapi lebih dari itu, seperti Summer yang harus ditinggal oleh sang Ayah tanpa alasan apalagi perpisahan secara langsung. Suatu hari usai sekolah, dia sama sekali tidak menemui Ayahnya menjemputnya, sehingga dia harus pulang berjalan kaki kemudian sang Ibu mengatakan kalau dia tak akan bertemu dengan Ayahnya lagi.

Tidak sampai di situ, Summer juga harus mengalami kondisi sang Ibu yang tenggelam dengan pekerjaannya demi menyembunyikan kesedihannya. Terkadang dia melihat Ibunya menangis sambil meminum bir. Komunikasi yang terjadi hanya sebatas pesan-pesan yang ditinggalkan sang Ibu di atas kertas yang ditempelkan di pintu kulkas. Kemudian, sahabat masa kecilnya - Harry - perlahan menjauh hingga dia tidak lagi memiliki seseorang yang bisa mendengarkan apa yang dia ingin ceritakan dan apa yang dia alami selama ini.

Atau seperti June, yang harus menyaksikan kekerasan yang dilakukan oleh sang Ayah terhadap Ibunya hingga sang Ibu meninggal. Namun, ketika fakta itu terkuak, justru tidak banyak orang yang memercayainya dan June harus tetap berdiri sendiri di tengah bisikan orang tentangnya dan tentang Ibunya, dimana dia merasa sangat sendiri dan ingin menyusul sang Ibu.

Formula Oldivelo ini terfokus pada jaringan sel yang terdapat di Hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan kenangan. Formula ini menutup jalur simpanan memori, bahkan membuat memori itu hilang. Jalur aliran biokimia yang mempertahankan memori, ditutup. Formula ini hampir sama dengan obat yang digunakan pada terapi pasien trauma kecelakaan, namun formula ini dapat menghapus memori spesifik. ~ Hal 267


Sebelum mendapatkan formula tersebut, setiap pasien yang berada di Zanson diberikan simulasi terhadap kondisi mereka. Ini untuk menentukan dosis yang tepat bagi mereka, meski hasil dari formula ini tidak sepenuhnya sama. Dalam artian, ada dua formula yang bahkan tidak diketahui oleh pihak Zanson apakah formula tersebut merupakan Oldivelo atau cairan Placebo. Hasil yang akan membuktikan disertai proses panjang yang cukup melelahkan bagi banyak pasien.

Beberapa simulasi yang diberikan oleh pasien direkam hasilnya melalui Sitbrain, sebuah alat yang akan membantu para dokter, psikolog, neuron dan orang-orang yang berada di balik penelitian ini demi merekam kinerja otak dan pikiran para pasien. Ini juga agar mengetahui apa-apa saja yang menjadi pencetus timbulnya keinginan bunuh diri serta memori apa saja yang ternyata buruk bagi mereka.



Novel Lokal Sci-Fic Dengan Rasa Berbeda



Ini kali pertamanya saya mencicipi novel yang ditulis oleh penulis Indonesia bernuansa science-fiction dengan tokoh dan latar cerita di Luar Negeri tepatnya di New York. Cukup memuaskan, terutama segi penokohan yang lumayan konsisten dari awal hingga akhir. Kemudian, jalan cerita yang tidak hanya sekadar menjadikan issue bunuh diri dan penemuan sebagai balutan saja, tapi juga menjadi bagian dari cerita hingga akhir.

Saya suka novel ini, meski saya memberikan nilai tiga, tapi bukan berarti novel ini jelek. Bukan. Karena novel ini memiliki cerita yang berbeda dari biasanya sehingga patut dibaca sendiri dan merasakan pengalaman mengikuti cerita dari awal hingga akhir. Karena pengalaman membaca itulah yang nantinya akan memberikan efek tersendiri bagi pembaca.

Selain itu, saya juga menyukai karakter-karakter dalam penokohan yang begitu kuat, dengan ciri-ciri yang lebih digambarkan melalui narasi yang detil, sehingga mampu membangun imajinasi yang baik dari tokoh tersebut, alih-alih sekadar mengatakan bahwa si A depresi, Mpurchan justru mengemasnya dengan sebuah kondisi secara langsung sehingga indera perasa pembaca distimulasi.

Kekurangan yang saya rasakan di sini adalah tokoh-tokoh penunjang yang merupakan pasien-pasien lainnya masih kurang dieksplorasi. Seperti kehidupan mereka, bagaimana perjuangan mereka hingga memiliki satu hal yaitu HARAPAN untuk bisa menjalani kehidupan yang berbeda. Seperti apa bentuk rasa sakit yang mereka alami, bagaimana kondisi mereka ketika sesuatu tercetus dan apakah mendatangkan histeria dari mereka atau tidak. Kalau itu digali lagi, kemungkinan pembaca akan menemukan motivasi yang sangat kuat sehingga formula ini menjadi jalan keluar yang masuk akal demi menyembuhkan luka mereka.

Meski mungkin Mpur Chan ingin menekankan bahwa masa lalu yang buruk itu sesuatu yang menjadikan kita saat ini. Atau segala hal tentang mengenal diri sendiri dan menerima diri kita apa adanya. Namun, saya tetap berharap proses di sini, termasuk bagaimana mereka menemukan jati diri mereka, bagaimana mereka deal with kondisi dan masa lalu mereka, dituliskan juga. Sehingga pembaca yang tengah mengalami kehidupan yang sulit, mungkin akan berpikir "Eh saya juga mengalami hal ini" kemudian setelah selesai siapa tahu mereka akan berpikir "Mungkin, saya harus mencoba untuk tetap bertahan esok hari, esoknya lagi dan lagi."

Jadi, novel ini bisa memberikan sebuah nuansa yang baru bagi pembacanya. Seperti banyak orang yang tergugah ketika membaca novel The Catcher in the Rye atau saat banyak orang bersemangat. Seperti novel The Bell Jar yang cukup detil dalam menyematkan proses penyembuhan mereka yang hendak bunuh diri. Siapa tahu Mpur Chan hendak menulis novel lain dengan tema yang sama, bisa mengambil rekomendasi dari novel-novel klasik.

***

Bagi kalian yang ingin mengetahui lagi tentang novel ini, bisa eksplorasi di Instagram dengan hashtag #HeartbreakFormula . Di sana banyak para bookstagramer Indonesia yang sudah menulis ulasannya di akun mereka. Tidak hanya itu, di akun @PenerbitHaru juga sudah diunggah sebagian halaman pada bab awal untuk dibaca, setidaknya sebagai perkenalan dengan gaya bahasa Mpur Chan. [Ipeh Alena]

Selamat membaca, salam literasi.


Wordcount : 1929