Go Set a Watchman - Harper Lee

February 02, 2017

Go Set a Watchman - Harper Lee
Go Set a Watchman - Harper Lee


Go set a watchman - Membaca sejarah Amerika, terutama bagaimana perbudakan serta rasisme dalam buku ini, seakan membawa perbandingan antara dunia yang saat ini dihuni dengan dunia pada masa lampau yang telah berlalu. Topik yang masih berlaku hingga detik ini, tentang Kulit hitam vs Kulit Putih. Bagaimana rasisme juga tak hanya terjadi pada sejarah Amerika, juga di beberapa dunia bagian lainnya.


rasisme/ra·sis·me/ n rasialisme
rasialisme/ra·si·a·lis·me/ n 1. prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; 2. paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul


Konon, novel ini merupakan novel pertama yang ditulis oleh Harper Lee, namun To Kill a Mockingbird-lah yang menjadi juaranya. Menarik perhatian penerbit serta menjadi bahan bacaan wajib bagi anak-anak sekolah di luar Indonesia. Belum lagi, fakta bahwa buku pertamanya ini sempat menghilang jejaknya dan baru ditemui sekitar tahun 2014 yang lalu. Bisa dikatakan, banyak orang menyangka To Kill a Mockingbird adalah buku pertama, padahal jika dirunut dari urutan proses, maka Go set a watchman menduduki urutan pertama.

Baca Juga "Message from an unknown Chinese Mother"

Setelah menerbitkan TKAM, Harper Lee seolah-olah telah kehilangan semangatnya, dia tidak pernah menerbitkan novel lagi setelahnya. Hingga sekitar tahun 1960-an, timbul berita tentang Harper Lee terkait tidak adanya lagi karya setelah TKAM, yaitu bahwa bukan Lee yang menulis novel tersebut. Hingga kemudian Lee menghindar dan menolak untuk diwawancara. Meski demikian, akhirnya kemunculan novel Go set a watchman seakan membawa misteri terbaru pada sosok Lee. Meski pada 19 February 2016 kemarin, dia meninggal dunia pada usia 89 tahun.


Kartu Tanda Buku

Judul : Go set a watchman || Penulis : Harper Lee || Halaman : 288 || Cetakan 1, September 2015 || Penerjemah : Berliani Mantili || Penerbit : Qanita || ISBN : 9786021637883 || LBABI : 2 || Rating : 4/5


Sosok Atticus

Saya akan mengawalinya pada sosok Atticus yang banyak digemari oleh pembaca buku karya Lee ini. Yang ketika kemunculannya dalam novel ini membawa perubahan yang sangat besar, sehingga membuat banyak orang merasa terkejut dengan hal ini. Dua puluh tahun lalu, Jean Louise menyaksikan Atticus, sang Ayah, membela Negro di pengadilan Maycomb County. Kini Jean Louise menyadari bahwa Maycomb dan sang Ayah ternyata tak seperti yang dia kira selama ini, dan dia pun bukan Scout yang polos lagi.

Integritas, humor dan kesabaran adalah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan Atticus Finch. Ada pula frasa yang cocok untuknya : pilih secara acak penduduk Maycomb County dan sekitarnya, minta mereka memberikan pendapatnya tentang Atticus Finch, dan jawabannya sebagian besar adalah "Aku tidak punya teman yang lebih baik darinya."

Baca Juga "The Playlist"

Rahasia hidup Atticus Finch begitu sederhana walaupun kelihatannya sangat rumit : jika sebagian besar pria memiliki prinsip hidup dan berusaha menerapkannya dalam menjalani hidup, Atticus menikmati segala sesuatu dalam kehidupannya tanpa kehebohan, tanpa perayaan berlebihan dan tanpa pencarian jiwa. Sifat pribadinya adalah sifat yang ditampilkannya di depan umum. Prinsip hidupnya adalah etik Perjanjian Baru, yang menganugerahinya dengan rasa hormat dan pengabdian dari siapa pun yang mengenalnya. Bahkan musuhnya pun mencintainya, karena Atticus tidak pernah menganggap mereka sebagai musuh. Dia tidak pernah kaya, tapi dia pria terkaya di mata anak-anaknya. [121]

Siapa pun pasti suka dengan kepribadian Atticus, sosok yang memberikan figur begitu ke-Ayah-an, sosok yang menjadi idola bagi anak-anaknya. Kemanapun Atticus pergi, entah berangkat ke pengadilan atau di ruang kantornya, Jem dan Jean selalu ikut serta. Bahkan, dia selalu memiliki waktu untuk bermain bersama kedua anaknya. Selalu berusaha menjadi sosok tegas meski tetap ramah dan penyayang. Ini juga yang membuat Jean selalu merindukan perbincangan dengan sang Ayah.

Antara Kulit Putih dan Kulit Hitam

Novel ini mengangkat issue rasialisme, sampai Judy Cornett mengatakan bahwa ini semacam novel autobiografi dari perjalanan Lee. Rekonstruksi sosial besar-besaran tengah terjadi pada masa itu, ketika NAACP yang mewakili seluruh warga kulit hitam di wilayah Selatan, berusaha untuk menyeimbangkan langkah dengan warga kulit putih. Dan Jean Finch, anaknya Atticus, yang menjadi narator dalam novel ini. Dia tinggal di New York selama 5 tahun, sudah terbiasa dengan kehidupan kebersamaan yang bebas dengan ras lainnya, entah itu Negro, Meksiko dan lainnya.

Perubahan pada Maycomb, merupakan bentuk perubahan yang terjadi di Amerika paska perang. Beberapa veteran perang kembali ke kampung halaman mereka, membangun rumah-rumah untuk mereka tinggali, bekerja di beberapa pabrik. Hingga menciptakan dua kelas berbeda yaitu para penyedia lahan dan para petani miskin yang menyewa lahan. Kondisi yang sangat berbeda dari Maycomb yang dahulu pernah diingat oleh Jean.

Jean merupakan seorang pengamat, dia mengamati dan melaporkan hasil pengamatannya melalui narasi yang diceritakan pada kita. Tentang kondisi kampung halamannya yang banyak berbeda. Bagaimana kondisi masyarakatnya yang seolah gagal untuk beradaptasi dengan perkembangan terbaru. Sementara Jean berperan sebagai pengingat, sosok yang mengingatkan tentang segala hal yang terlewati atau terlupakan.

Baca Juga "Macbeth"

Seandainya dia mampu berpikir, Jean Louise, mungkin akan bisa mencegah rangkaian peristiwa yang menjadi akibat dari kejadian hari itu, sebuah pengulangan sejarah yang telah setua waktu : bab yang menyangkut dirinya dimulai dua ratus tahun silam, dan di masyarakat penuh keangkuhan, perang paling berdarah dan perdamaian paling keras yang tidak bisa dibinasakan oleh sejarah modern, kini kembali dimainkan lagi di ranah pribadi di senjakala peradaban yang tidak bisa diselamatkan oleh perang maupun perdamaian.

Seandainya dia bisa merenung, seandainya dia bisa membelah penghalang menuju dunianya yang picik dan sangat selektif, Jean Louise mungkin akan mengerti bahwa seumur hidupnya, dia mengidap cacat visual yang tidak disadari dan dipedulikan olehnya dan orang-orang terdekatnya : DIA TERLAHIR BUTA WARNA. [129]

Apa maksud dari terlahir buta warna? Ini adalah makna kiasan, dimana sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu arti dari Go set a watchman? Go set a watchman berasal dari kalimat Kitab, "For thus hath the Lord said unto me, Go, set a watchman, let him declare what he seeth." - Isaiah 21:6. Apa maksudnya, hingga kalimat ini menjadi judul novel? Go set a watchman berarti seseorang yang menjadi sosok penunjuk moral di sebuah kota. Bagaimana Jean berpikir bahwa sang Ayah seolah-olah menjadi sosok yang sangat bermoral, namun kemudian Jean sendiri yang menyangsikan kebenaran tersebut. Dan inilah, sebuah kejadian yang membuat Jean akhirnya mempertanyakan kembali, apa makna di balik moralitas yang ada pada sosok Ayahnya.

Baca Juga "Ghost Bride"

Dan maksud dari Terlahir Buta Warna, bahwasannya Jean yang sedari kecil sudah terbiasa hidup dengan Cal, asisten yang selalu hadir untuk mengasuhnya, yang merupakan sosok Kulit Hitam. Serta kehidupannya selama di New York yang tak pernah mempermasalahkan bagaimana hubungan dengan orang Kulit Hitam, membuatnya menjadi sosok yang tidak memilah dan memilih. Itulah kenapa dia berusaha menemui Cal dan berusaha meyakinkannya bahwa Atticus akan membantu cucunya.

**

Membaca novel ini membuat saya teringat dengan novel The Help karya Kathryn Stockett, yang juga mengangkat situasi ketika Lurther Martin dibunuh. Kisah yang mengangkat pengalaman hidup para pembantu berkulit hitam, ketika bekerja di rumah orang-orang kulit putih. Bagaimana mereka disisihkan, diasingkan dan dianggap kotor oleh para kulit putih. Begitu juga dalam novel Go set a Watchman, ketika Jean dan Atticus beradu pendapat. Dan Hank beradu pendapat dengan Jean.

Bahwa masyarakat di Maycomb, dewan masyarakatnya, menganggap bahwa orang kulit hitam masih belum mampu untuk menyejajarkan posisi baik itu dalam akademis, dalam pemerintahan bahkan dalam hal kecerdasa. Bagi mereka, orang kulit hitam masih terbelakang dan belum mampu untuk mengambil andil dalam pemerintahan daerah, pengacara dan dalam bidang lainnya. Dari cara pandang inilah, melalui kedua buku yang saya baca, teramat jelas bahwa perubahan tersebut masih belum begitu besar.

Rasisme masih menjadi momok yang senantiasa menjadi benturan pada setiap negara. Antara Orang Kulit Putih vs Orang Kulit Hitam, atau antara Orang Pribumi vs Orang Pendatang dan begitu seterusnya. Dan ini masih tetap terjadi di banyak tempat, dan itulah mengapa saya setuju dengan Jean, bahwa hal ini tidak akan berhenti oleh perang ataupun perdamaian. Sebut saya se-skeptis itu, tapi ini yang bahkan terjadi sejak saya kecil, mendengar perang saudara di beberapa tempat, hingga saya menginjak usia 29 tahun ini, masih saja perang saudara, perang antara ras ini dengan ras itu dan segala hal berbau rasisme menjadi tren yang dibicarakan.

Namun, membaca novel ini tidak akan membuat kamu menjadi se-skeptis saya. Tenang saja, tapi akan membuka hal baru dalam diri kalian, pemahaman terbaru tentang masa-masa setelah perang dan masa di tahun 1960 yang mungkin akan membuat kalian menjadi lebih paham dengan segala pertentangan-pertentangan yang terjadi. Selain itu, saya tahu, bahwa klimaks dalam buku ini baru akan terjadi di beberapa bab menjelang akhir, sementara bab-bab awal banyak berisi kilas balik Jean ke masa kanak-kanaknya. Karena, memang kalimat pembuka dalam novel ini menceritakan betapa kerinduan Jean pada Maycomb yang membuatnya mengunjungi kampung halamannya.

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.