Skip to main content

The Playlist - Tentang Musik Latar

The Playlist - Tentang Musik Latar
The Playlist



The Playlist - Buku karya Erlin berjudul The Playlist adalah karyanya yang saya baca pertama kali. Berkisah tentang seorang perempuan yang tinggal di Bandung, bernama Winona. Sebelum bekerja di YummyFood, Ino - begitu dirinya biasa akrab dipanggil - bekerja sebagai review-er musik. Kelebihan dari seorang pengulas musik, dia bisa datang ke beberapa acara konser dengan free pass, serta terkadang diminta bantuan oleh para band indie untuk mengulasnya.

Namun, sudah beberapa bulan ini Ino bekerja sebagai penulis lepas di YummyFood, dimana tugasnya hampir sama dengan pekerjaan sebelumnya, yaitu menulis ulasan. Tapi, di YummyFood, yang diulas adalah tempat makan di Bandung. Sudah banyak tempat makan yang dia sambangi dan dia tulis ulasannya. Banyak juga pembaca yang merasa senang dengan ulasan yang ditulisnya.

Pertanyaannya, apa kaitannya antara Playlist yang identik dengan musik, serta gambar garpu dan mie pasta pada halaman sampul novel ini? Pasti ada hubungannya kan ya? Sebelum itu, saya ingin memberi informasi terkait informasi mengenai buku ini.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Playlist || Penulis : Erlin Natawiria  || Halaman : 244 || Terbit : 13 September 2016 || Penerbit : Grasindo || ISBN : 9786023756728 || Bahasa : Indonesia ||  LBABI : 1 || Rating : 3



The Playlist


Musik latar bukan sekadar aksesori bagi Winona.

Saya jarang menyadari atau bahkan memperhatikan, apakah lagu yang diputar di tempat makan yang saya kunjungi sesuai atau tidak. Namun, ini justru membawa ingatan saya pada beberapa tempat makan di daerah-daerah, misalnya ketika saya melewati jalur pantura kemudian mampir ke rumah makan di daerah Magelang. Saya ingat, saat masuk ke dalam tempat tersebut, suara musik serta sinden yang menyanyi dengan lagu berbahasa jawa terdengar. Meski saya tidak begitu mengerti artinya, tapi ini memang membuat perubahan suasana yang besar.

Atau ketika melewati suatu daerah, dimana lagu di radio-radionya juga ikut berubah bahasanya. Pastinya perjalanan juga memiliki kesan yang berbeda. Inilah yang dilakukan oleh Winona, baginya musik latar yang diputar di suatu tempat makan sangat penting. Agar pengunjung juga dapat menikmati sensasi makan yang berbeda. Malah, dia akan memulai penilaian dari musik latar tersebut, barulah dia melakukan interview dengan pemilik tempat makan. Setelahnya, Ino akan menilai makanan yang disajikan dengan mencicipinya.

Food writer, demikian yang tertulis dalam buku ini. Pekerjaan yang sedang digeluti oleh Winona yang membuat saya tertarik. Terlebih, saat ini yang namanya Food Blogger sudah mulai banyak, dimana para blogger bebas menilai setiap tempat makan yang mereka kunjungi, tanpa terikat prosedur ini dan itu. Berbeda dengan menulis ulasan untuk majalah dimana sudah tentu kita harus mengikuti aturan yang berlaku di tempat tersebut.

**

Membaca buku ini, seperti mengikuti rutinitas sang penulis ulasan setiap harinya. Ini mengingatkan saya juga pada beberapa teman saya yang memang seorang food blogger. Dimana blogger ini mengkhususkan dirinya untuk menulis ulasan tentang makanan. Kalau saya pribadi lebih dikenal sebagai Book Blogger, yang sering menulis tentang buku di blog saya.

Demikian klasifikasi yang ingin saya kenalkan pada pembaca. Nantinya akan ada beberapa tipe blogger lainnya, seperti Lifestyle Blogger yang membahas tentang gaya hidup, Parenting Blogger yang pastinya membahas tentang tema keluarga dan anak, Techno Blogger yang membahas segala macam teknologi dan masih banyak tipe blogger yang diklasifikasi menurut niche yang diangkat pada blog tersebut.

Kalau di blog personal, saya bisa dikategorikan sebagai Reviewer Blogger, alias blog yang isinya ulasan banyak hal. Saya lebih mencondongkan diri untuk mengulas Aplikasi yang pernah saya gunakan di handphone, mengulas film yang pernah saya tonton juga mengulas beberapa komunitas yang pernah saya tahu atau ikuti. Demikian saya memberi niche pada blog personal.

Nah, di sini, Ino sempat mengalami writer's block setelah mampir ke tempat makan bernama No.46. Sebuah tempat makan yang letaknya justru bukan di pinggir jalan, namun ketika Ino sudah sampai di tempat tersebut, ternyata ramai oleh pengunjung. Tapi, ada satu hal yang membuat Ino kemudian kehilangan banyak hal dalam kepalanya yang membuat dirinya akhirnya buntu tak dapat menulis ulasan tentang tempat tersebut.

Saya akan simpan alasan mengapa dia mengalami writer's block secara tiba-tiba setelah mampir ke No.46. Saya ingin menggaris bawahi satu kalimat, dimana Ino akan menulis ulasan tersebut paling lambat 2 hari setelah dirinya mampir ke tempat makan yang ingin diulas. Pernah saya mengikuti pelatihan menjadi blogger yang baik, di tempat tersebut juga dibahas satu hal tentang batas waktu yang ideal dalam menulis ulasan.

Begini, semisalnya saja, Anda adalah seorang bloger yang diundang ke suatu acara entah itu launching atau acara workshop. Ada baiknya sebagai blogger, menulis ulasan tentang kegiatan tersebut di blognya. Nah, lama endapan materi acara maksimal 3 hari, demikian yang saya tahu dari blogger profesional Mba Ani Berta. Kenapa maksimal 3 hari, agar tetap up to date dan tidak kadaluwarsa. Demikian juga alasan Ino untuk menuliskan ulasan paling lambat 2 hari. Dengan alasan yang sama, agar materi tersebut tidak kadaluwarsa.

**

Dari banyak hal yang saya sukai, terutama bidang kerja Ino, saya memiliki sedikit hal yang mengganggu setelah membaca buku ini. Bisa dikatakan penilaian saya ini sangat-teramat subjektif. Karena berdasarkan sudut pandang saya pribadi tanpa mengikut-sertakan pendapat atau opini orang lain.

1. Bahasa Dialog

Saya pernah membaca dan mengikuti seminar tentang Pelatihah Menulis Untuk Pemula. Dimana di salah satu materinya menjelaskan penggunaan dialog dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang sering dipakai. Bertujuan agar dialog antar-tokoh terkesan natural atau alami. Nah, dalam buku ini, saya mendapati semua tulisannya menggunakan bahasa yang cenderung baku.

Bahkan dalam penulisan dialog. Yang membuat saya sedikit kurang bisa menyelami dan membangun penggambaran visual dalam reka adegan tokoh. Jujur saja, seandainya Erlin menuliskannya dengan bahasa dialog sehari-hari mungkin akan lebih terasa mengalir. Ini pendapat saya.

2. Membuat Bingung

Di halaman 10, saya menemukan satu kata yang entah mengapa rasanya benar-benar membuat saya bingung. Karena sudah dijelaskan bahwa Ino bekerja di YummyFood dimana Ghina - sahabatnya - yang memintanya untuk menjadi penulis lepas di sana. Namun, yang tertulis di paragraf ini, justru bahwa Ino bekerja di La Belle Luna.

Coba, saya menemukan hal ini di halaman-halaman awal, belum mencapai bagian tengah maupun akhir, yang membuat saya penasaran, memangnya Ino bagian apa di La Belle Luna? Dan seterusnya, sampai tamat saya tidak menemukan satu pun lagi pernyataan bahwa Ino bekerja di La Belle Luna. Berarti ini murni kesalahan penulisan?

Sayangnya kalau kesalahan penulisan hanya satu huruf dalam satu kata, mungkin tidak akan mengubah banyak hal, mungkin. Tapi, ini justru cukup fatal bagi saya, karena kesalahannya justru satu kata yang membuat saya sempat kebingungan hingga saya menamatkan novel ini sambil membawa pertanyaan "Ino kerja di YummyFood atau di La Belle Luna?"

**

Sejauh ini, untuk alur pada novel ini cukup bagus. Terlebih muatan profesi si tokoh utamanya justru membuat saya semakin bisa mendalami cerita karena memang memiliki pengalaman yang hampir sama. Selain itu, ketika membuka laman blog milik Erlin, saya menemukan fakta, banyak hal-hal yang berasal dari kehidupan nyatanya yang dibawa ke kisah fiksi ini.

Seperti pekerjaan Erlin, kemudian Copeland yang memang nyatanya disukai oleh Erlin. Karena terpampang jelas di postingan awal ketika saya membuka blognya. Setelah itu, beliau sendiri yang memang mengakui, beberapa tempat makan di Bandung tidak semuanya benar-benar ada. Namun, mungkin Erlin menuliskan nama tempatnya sebagai pengganti nama tempat makan yang asli, agar menyembunyikan sedikit identitas restoran tersebut, mungkin.

**

Menulis ulasan ini juga membutuhkan perjuangan bagi saya, karena belakangan memang sedang tidak begitu sehat. Belum lagi fakta harus kembali aktif sana-sini, tapi pekerjaan lain masih menumpuk. Seolah menjadi alasan yang harus saya gaungkan sebagai penyelamat. Meski akhirnya saya sadar, bahwa saya harus menyelesaikan tulisan saya sebelum semuanya terlambat.

Baiklah, untuk penilaian, bisa dilihat sendiri. Saya lumayan suka dengan pekerjaan atau profesi sang tokoh utama, sehingga saya memberinya rating 3. So, bagi kalian yang juga memiliki keluhan karena tempat makan yang dikunjungi menghadirkan musik latar yang menurut kalian kurang berkesan, sepertinya kalian tidak sendiri. Itulah yang menjadi ciri khas Ino, jadi siapa tahu kalian bisa memberikan penilaian juga pada musik latar dan beberapa tata letak serta aksesoris yang digunakan di tempat makan tersebut.

Selamat membaca dan terima kasih sudah berkunjung.

Comments

Popular posts from this blog

Zone by Jack Lance | Book Review

Sewaktu Jack Lance datang ke Indonesia atas undangan Bhuana Tim. Promosi yang disebarkan secara besar-besaran itu menyebutkan sesuatu. Kalau Jack Lance ini, ibaratnya sosok Stephen King dari Belanda. Terbukti dari banyaknya buku beliau yang sudah dialih-bahasakan. Selain itu, buku-bukunya juga sudah banyak diadaptasi ke dalam film.

Kehadirannya juga dirayakan sebagai bagian kerjasama Bhuana dengan beliau. Karena, novelnya berjudul Zone ini diluncurkan dalam Bahasa Indonesia. Mengundang beberapa anggota dari banyak komunitas. Membuat acaranya tentu meriah. Apalagi, konon ada iming-iming mendapat novel dari penerbit. Siapa yang menolak?

Nah, berhubung momen tersebut sudah berlalu cukup lama. Saya akhirnya bias mencicipi karyanya. Sambal mencari tahu, apakah benar beliau setara dengan Stephen King. Kali ini, bukunya berjudul Zone yang saya baca. Jadi, apakah ada perbedaan atau persamaan, akan saya bahas sebentar lagi.

Saya ingin menyeritakan sedikit apa yang tertulis di bagian belakang …

Novel Infinity Karya Mayang Aeni : Konflik Rumit Keluarga Hingga Luka Yang Terpendam

Novel Infinity Karya Mayang Aeni : Konflik Rumit Keluarga Hingga Luka Yang Terpendam


"Petra punya nyokapnya buat ngobatin luka." ~ (Pg 133 - Infinity)

Cerita dalam novel Infinity yang baru saja saya selesaikan ini, sebenarnya memiliki alur pertemuan dua remaja yang sudah terlalu sangat umum. Dari model bad boy kemudian berubah menjadi good boy karena cewek. Dimana pada awalnya si cewek ini sosok utama bullying si cowok dan gengnya.

Seperti pernah teringat cerita serupa dari film-film yang beredar? Sama! Sebab itu saya sempat mencibir kalau novel ini sepertinya tidak ada yang bisa saya bahas dan ada kemungkinan tidak mungkin saya tulis dalam satu tulisan utuh. Eh, tapi ternyata, ketika saya baca kembali dengan seksama dengan mengesampingkan hubungan si cowok dan cewek, ada sesuatu loh yang lumayan membekas.

Sesuai dengan kutipan di atas, merupakan dialog Bani seorang lelaki yang menjadi anggota geng The Fabs. Cowok inilah yang menjadikan Dinda sebagai objek bullying, itu karen…

The Ghost Bride (Pengantin Arwah)

The Ghost Bride - "Pada suatu malam, ayahku bertanya apakah aku mau menjadi pengantin arwah..."

Li Lan, putri tunggal sebuah keluarga yang bangkrut, mendapat lamaran dari keluarga Lim yang kaya raya dan berkuasa. Namun, calon suaminya adalah lelaki yang telah meninggal secara misterius, dan pernikahan ini dilakukan untuk menenangkan arwah penasarannya. Mengerikan memang, tapi tidak ada jalan lain untuk menjamin masa depan Li Lan.

Setelah kunjungannya ke mansion keluarga Lim, Li Lan mulai dihantui oleh calon suaminya dan dia tidak bisa lagi tidur tenang. Sedikit demi sedikit, Li Lan tertarik ke dunia arwah yang tidak hanya dihuni oleh para hantu lapar dan arwah pendendam, tapi juga para iblis penjaga berwujud banteng. Li Lan harus mengungkap rahasia kelam tentang keluarga Lim dan keluarganya sendiri, jika dia tidak mau terjebak di dunia arwah selamanya.



Detil Buku
Judul : The Ghost Bride (Pengantin Arwah) || Penulis : Yangsze Choo || Bahasa : Indonesia || Terbitan : Oktober 2014