Mini Review Agustus 2016

August 03, 2016

Mini Review Agustus 2016



Mini Review Agustus 2016. Akhirnya setelah beberapa hari belakangan setelah Lebaran, saya merasa lumayan berat untuk memulai mengisi blog ini kembali. Hari ini, saya putuskan untuk mengerahkan semangat saya agar bisa menyapa pembaca semua. Adalah sebuah manfaat yang saya rasakan besarnya, ketika mengikuti beberapa blogger buku yang lumayan aktif dalam menulis ulasan, membagikan informasi menarik terkait buku dan mengikut challenge.

Dari blogwalking ke blog milik mereka, saya mendapat sedikit demi sedikit tumpukan semangat yang akhirnya saya bulatkan tekad saya hingga bisa menulis hari ini. Kebetulan saya sudah menyelesaikan dua buku, yaitu Manxmouse dan Babu Backpacker. Betul, dibanding tahun 2015 lalu, tahun ini saya benar-benar sedang terlalu banyak pekerjaan sehingga tidak bisa membagi waktu dan meluangkan untuk membaca. Biasanya bisa menyelesaikan satu buku satu hari, ini perlu beberapa minggu untuk selesaikan satu buku. Penuh perjuangan memang.

Baiklah, sebelum pembaca bosan, saya akan langsung menulis sedikit ulasan dari novel yang saya baca berjudul Manxmouse.


Manxmouse






Manxmouse - Sebuah dongeng tentang tikus yang dibuat oleh sang penciptanya ketika ia sedang terlalu sangat bergembira. Sehingga saat tersadar, tikus yang dibuatnya berbeda dari apa yang diharapkan olehnya. Tikus tersebut tak berekor, berbadan biru serta memiliki telinga seperti kelinci. Dan Tikus Manx adalah jenis tikus ini.


Tikus yang ditakdirkan dimiliki oleh Kucing Manx seorang. 

Melalui dongeng atau cerita. Anak belajar mengidentifikasi diri dan berempati pada peristiwa dan adegan dalam cerita. Peluang bagi terjadinya identifikasi diri dan empati itulah yg menbangkitkan minat anak hingga 'terhanyutkan' oleh cerita.


Jadi dunia yg digambarkan adalah dunia anak yg memiliki toleransi tinggi untuk menggabungkan fakta dengan fantasi untuk merangsang anak mengembangkan imajinasinya.


Belajar Tentang Takut


Sama seperti Manxmouse yang bingung ketika bertemu dengan clutterbam. Dia tidak merasakan apa-apa, karena dirinya tengah antusias dengan 'kehidupan' yang dimilikinya. Demikian pula rasa takut pada manusia yang sering muncul ketika tahu bahwa itu adalah hal yang seharusnya memunculkan rasa takut.






Melalui cerita pada bagian pertama petualangan Manxmouse, Paulo ingin mengenalkan tentang rasa takut yang sebenarnya lebih sering muncul ketika manusia memikirkan hal-hal yang ada dalam pikiran mereka. Bagaimana ketika bersikap seperti Manxmouse yang bahkan biasa saja, sehingga dia tidak ketakutan.


Belajar Terbang


Meski Manxmouse seekor tikus, tapi apa salahnya jika ia belajar terbang? Tunggu, walaupun tak memiliki sayap, Manx bertemu dengan seekor burung Elang dia menyebut dirinya sendiri sebagai Kapten Hawk.

Dari Kapten Hawk-lah Manx mempelajari bagaimana rasanya terbang. Mengenal aliran termal serta awan cumulus yang dijelaskan dengan begitu sederhana oleh Kapten Hawk. Juga bagaimana Burung Elang mampu terbang lebih tinggi lagi, namun tidak khawatir kekurangan oksigen.

Dari Kapten Hawk juga, Manx belajar bahwa penglihatan Elang memang sangat tajam. Terbukti, dari kejauhan Kapten Hawk dapat melihat makhluk-makhluk kecil di bawahnya. Padahal Manx tak dapat melihatnya sama sekali.


Belajar Menjadi Seorang Teman


Meski kebersamaannya dengan Wendy termasuk singkat. Tapi mereka berdua telah menjadi teman yang sangat baik. Baik Wendy maupun Manx belajar untuk saling melepaskan agar salah satu dari mereka selamat.

Manx sendiri belajar menyimpan rahasia, serta mendengar dan memahami bagaimana kehidupan Wendy yang sunyi. Tak memiliki teman lain selain teman khayalannya. Sering mengundang asumsi dari para guru dan staf di sekolahnya, bahkan melabelinya sebagai 'anak aneh'. 

Namun, hanya Manx yang tak menganggapnya aneh. Manx juga yang mempercayai setiap cerita Wendy meski dalam otaknya dia senantiasa bertanya-tanya. Tapi, Manx sudah mempraktekkan cara menjadi pendengar yang baik.




Itulah mengapa mereka bisa langsung berteman dengan baik.


Informasi Buku


Judul : Manxmouse || Penulis :  Paul Gallico || Halaman : 227 || Penerbit : Media Klasik Fantasi || Penerjemah : Maria Lubis || ISBN : 978.6029.706.734






Babu Backpacker





Babu Backpacker - Membaca catatan perjalanan membawa saya pada pengalaman yang berbeda. Ada beberapa buku yang bisa membuat saya justru sulit untuk melepaskan diri dari setiap kisah perjalanan. Begitu pula membaca kisah nyata yang merupakan pengalaman para pekerja di Malaysia, yang memiliki impian untuk menjadi traveller. Berjalan-jalan keliling tempat, negeri, dunia dan seluruh wilayah untuk menjejak di bumi Allah yang luas.

Menurut Aisy, buku ini memang dipersembahkan bagi pembaca yang masih berpikir bahwa travelling merupakan impian orang kelas 'atas', dirinya ingin mematahkan pemahaman tersebut dan memupuk impian bagi beberapa tenaga kerja wanita di luar negeri, agar tetap bermimpi dan berjuang mewujudkan impiannya.

Dalam buku ini berisi beberapa cerita yang ditulis oleh penulis berbeda, dengan pengalaman perjalanan yang berbeda juga. 


Kampung Soeharto


Pada mulanya, kampung ini bernama Felda Sungai Dusun, lokasinya terletak di perbatasan antara negeri Selangor dan negeri Perak. Konon untuk mencapai tempat ini harus menempuh jarak 200 KM dari Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur sampai di Tanjung Malim sekitar 70 KM dan masih harus menempuh perjalanan lagi dari Tanjung Malim melewati alam bebas sejauh sekitar 30 KM.

Sudah bukan hal yang aneh kalau kita menelusuri lagi jejak sejarah antara negeri Jiran dengan negeri kita Indonesia. Seringnya konflik yang terjadi antara dua negara ini yang justru masih diingat. Sehingga presiden Soeharto menjalin kerja sama dengan Tuan Abdul Razak PM Malaysia saat itu, untuk merealisasikan perjanjian perdamaian. Oleh karena itu, kunjungan Presiden Soeharto ke sebuah kampung Felda Sungai Dusun, kemudian menjadi saksi sejarah sebagai ikatan perdamaian antara kedua negara ini.

Dan, untuk menghargai serta mengingatkan kembali perjanjian perdamaian yang telah dibuat ini, diubahlah nama kampung ini menjadi Kampung Soeharto. Sangat menarik, karena saya baru mengetahui sejarah ini saat membaca salah satu catatan perjalanan dalam buku ini.


Cerita-Cerita Lainnya


Mereka semua yang menulis dalam buku ini merupakan sosok-sosok pekerja TKI atau TKW di negeri jiran Malaysia. Aisy ingin membuktikan bahwa mereka semua memiliki kemampuan dalam berkarya, juga memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain. Di dalamnya berisi cerita-cerita pengalaman mereka semua menjelajah ke pelosok-pelosok negeri Jiran atau bermain ke negara tetangga Singapore. 

Ada juga perjalanan ke negara Vietnam dan masih banyak cerita lainnya yang bisa membuat pembaca menulis dan mencatat tempat-tempat yang bisa dikunjungi kala ingin bertandang ke negeri Malaysia.

Buku ini merupakan pemberian dari Kak Nia, terima kasih, Kak. Jadi saya bisa membaca dan menikmati perjalanan para pengejar mimpi dalam buku ini.


Informasi Buku


Judul : Babu Backpaker || Penulis : Aisy Laztatie, dkk || Halaman : 242 || Penerbit : Pipiet Senja Publishing 



Terima kasih

Selamat Membaca

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Selama Juli, saya malah nggak meresensi sama sekali ... entah kenapa. Tapi ide mbak Ipeh bikin ulasan mini gini kayaknya bisa saya coba kalau pas malas sedang melanda, trims inspirasinya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.