Kisah Hidup Abu Bakar Al-Shiddiq


Kisah Hidup Abu Bakar. Ada banyak perbedaan yang menjadi keistimewaan tersendiri para Khulafaur rasyidin. Mereka semua merupakan manusia pilihan Allah ta'ala, mendapat kemuliaan dan keagungan dariNya. Mereka dipilih untuk menemani, melindungi dan menyertai Rasulullah sallahualaihi wassalam. Menyebarkan islam sehingga orang-orang sesudahnya dapat mengikuti jejak mereka. Mereka adalah sahabat yang bersama-sama Rasul menempuh kalan hidayah, jalan yang lurus (7).


Mereka membaca Al-Quran, menjauhi kejahatan, menghindari kekejian, serta memahami dan mengamalkan Agama Allah. Mereka senantiasa memelihara rasa takut kepada Allah, bangun untuk solat di malam hari, berpuasa di siang hari, menjauhkan diri dari godaan dunia, dan berlaku adil pada sesama manusia. Mereka selalu bersyukur dalam keadaan sempit maupun lapang, serta terus menerus mendisiplinkan jiwa dengan kebaikan.


Bersihnya Keturunan Abu Bakar Al Shidiq



Terlahir sebagai sosok yang terpandang di kalangan bani Quraisy, memiliki kekayaan yang berlimpah. Sejak kecil, Abu Bakar Al-Shidiq tumbuh dari keluarga yang baik, meski pernah diminta untuk menyembah berhala, namun tidak dilakukannya. Itulah mengapa Abu Bakar menjadi sosok sahabat yang paling dimuliakan, selain merupakan Kekasih dan Mertua dari Rasulullah.


Karena sosoknya yang terpandang dan banyak disegani oleh suku lain, sehingga ketika menghadapi hujatan dan himpitan dari kaum lain yang membenci Rasulullah, Abu Bakar menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Rasul. Di sebuah kisah, Abu Bakar al-Shidiq pernah mendapati luka lebam yang teramat parah karena membela Rasulullah, hingga dia jatuh tersungkur dan pingsan. Namun, apa yang pertama kali ditanyakan oleh beliau ketika sadar? "Bagaimana kondisi Rasul?" 

Begitulah cinta Abu Bakar dan pengorbanannya untuk melindungi Rasulullah, hingga kemudian dalam Hadis Riwayat Abu Hurairah oleh Al - Bukhari dalam kitab Fadha'il Al-Shahabah, Rasul berharap bahwa Abu Bakar akan menjadi manusia yang akan dipanggil melalui seluruh pintu surga. 



Menjadi Sahabat Yang Menerima Tanpa Ragu


Abu Bakar merupakan seorang yang memiliki kemampuan untuk menerka mimpi, suatu ketika dia mendapat isyarat bahwa ia akan menjadi sosok pengikut Nabi akhir zaman. Karena itulah, tanpa pernah ragu lagi, Abu Bakar al-shiddiq masuk dalam Islam dan terus menjadi orang yang akan menerima kebenaran dari Rasul tanpa berpikir atau meragukannya.


Ketika Rasul baru saja menjalani satu kejadian yang penting bagi ummat islam, yaitu Isra' Mi'raj, Abu Bakar - lah yang meyakini banyak orang bahwa Rasulullah tidak membual. Dia langsung memercayainya karena hatinya bersih tanpa prasangka. Bahkan membantu meyakinkan ummat lainnya terkait peristiwa ini.


Kemuliaan dan keutamaan sifat-sifat Abu Bakar membuat kelu setiap lisan para ahli ilmu. Keagungan dan keindahan perilakunya membuat gamang pena setiap penulis. Mereka tak dapat menetukan, darimana harus memulai membahas sifat-sifat utamanya, karena semua dalam dirinya dan segala yang tampak padanya adalah keutamaan.


Kehidupan Abu Bakar Yang Patut Dicontoh


Pada suatu ketika, Rasulullah menanyakan sahabat yang lainnya. Seberapa banyak mereka menyedekahkan harta mereka. Umar Bin Khatab menjawab, "hari ini aku memberikan separuh hartaku." Kemudian ketika ditanya, seberapa banyak yang ditinggalkan untuk keluarganya? Umar berkata separuhnya lagi.

Namun, ketika giliran Abu Bakar yang ditanya, beliau menjawab menyerahkan seluruh hartanya. Dan saat ditanya seberapa besar jumlah harta yang ditinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab, "untuk mereka ada Allah dan Rasul-Nya."


Abu bakar adalah sahabat yang selalu lebih dahulu mengerjakan kebaikan dan bersegera menuju keridoan Allah. Beliau selalu menjadi yang terbaik di antara para sahabat yang lain. Sebagai suatu contoh, ketika Rasul bertanya pada mereka perihal.

* Siapa yang berpuasa pada hari itu dan hanya Abu Bakar yang menjawab.

* Siapa yang mengantar Jenazah hari itu dan Abu Bakar segera menjawab bahwa dirinya baru mengantar Jenazah hari itu.

* Siapa yang memberi makan orang miskin dan Abu Bakar langsung menjawab.

* Siapa yang menengok orang sakit hari itu dan Abu Bakar menjawab, "Aku."


Kemudian Rasulullah bersabda, "Tidaklah semua itu terkumpul pada diri seseorang kecuali ia masuk surga." H.R Muslim.



Tetap Tegar Meski Tengah Dilanda Kesedihan Terbesar



Ketika Rasulullah salallahu alaihi wassalam wafat, kaum Muslimin banyak menghadapi ujian yang sangat dahsyat. Diantara mereka banyak yang terguncang. Ketika itu, Abu Bakar sedang di rumahnya dan ia bergegas menunggangi untanya menuju Masjid Nabawi. Setiba di sana, ia melihat banyak orang telah berkumpul. Ia melewati mereka tanpa mengatakan apa-apa kemudian bergegas masuk ke rumah Aisyah r.a.


Ia melihat Rasulullah telah ditutupi sehelai kain. Abu Bakar menyingkap penutup wajahnya, mendekap dan mencium wajah Rasulullah. Ia menangis dan berkata, "Allah akan menghimpunkan dua kematian bagimu. Kematian yang telah ditetapkan Allah atas dirimu telah engkau alami."


Kemudian beliau keluar dan masuk ke dalam Masjid, Abu Bakar kemudian menyeru syahadat dengan suara lantang sehingga orang-orang berpaling padanya. Beliau berkata, "...amma ba'ad. Barang siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati. Barang siapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup tidak akan mati."


"Dan Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit juga, dan Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." ~ Qs. 3 : 144


Seluruh orang yang mendengar suara Abu Bakar luruh, mereka mendengar ayat tersebut seakan-akan baru pertama kali mendengarnya. Ketegarannya ini mengukuhkan umat Muslim yang tengah berduka. Meski beliau juga sedang berduka.




Ilmu dan Pengetahuannya Luas


Ia dikenal sebagai sahabat yang paling memahami Al-Quran. Rasulullah salallahu alaihi wassalam pernah memercayainya untuk menjadi imam ketika solat bersama sahabat yang lainnya. Saat itu, kondisi Rasul tengah sakit, kemudian beliau bersabda, "Orang yang mengimami kaum adalah yang paling memahami Al-Quran." ~ Tarikh al-Khulafa' hal. 36


Abu Bakar juga paling mengetahui sunnah Rasulullah. Ia sering menjadi rujukan para sahabat lain mengenai Sunnah Nabi. Ia hapal banyak hadis dan dapat menyebutkannya ketika dibutuhkan. Dialah yang paling cakap dalam hal ini di antara para sahabat lain. Bagaimana tidak, sekian lama beliau menemani dan mendampingi Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam dalam berbagai kesempatan, dari awal Nabi diutus sebagai Rasul hingga wafat.




Zuhud Terhadap Dunia


Sebuah riwayat menuturkan betapa Abu Bakar selalu zuhud dari dunia, ia tetap bertahan mendengar Khutbah Rasul saat solat Jumat dan sama sekali tidak memperhatikan rombongan para pedagang yang datang. Sementara sahabat yang lain berlarian menyambut para pedagang itu. Yang termasuk bertahan dalam shaf khutbah yaitu Abu Bakar dan Umar Bin Khatab.


Beliau senantiasa memelihara rasa takut pada Allah sehingga ketika solat, Ia berdiri bagaikan tiang yang tegap tak tergoyahkan karena khusyuk. Juga karena rasa takutnya kepada Allah, ia sering menangis mengharapkan ampunanNya.

Rasa takut inilah yang membuat beliau selalu mengevaluasi diri, mengawasi jiwanya, mengendalikan nafsunya dan berjuang melawan syahwat.


Tidak hanya itu, lisannya selalu ia jaga dengan kalimat zikir kepada Allah dan munajat kepada Nya. Beliau memelihara siang dan malamnya dengan pengabdian kepada Allah, ia tunduk merendah dalam kekhusyukan saat malam tiba.


oo00oo


Ada masih banyak lagi keutamaan-keutamaan Abu Bakar Al-Shiddiq, bagaimana masa ketika beliau menjadi khalifah yang kemudian pada masa itu beliau membangun Baitul Mal, kemudian mengumpulkan Al-Quran dan masih banyak pengaruh kepemimpinannya dalam menegakkan Islam.


Melalui buku ini, saya seakan diajak berkenalan secara langsung dengan beliau. Merasa malu dengan kerendahan hati dan sifat pemaafnya. Banyak belajar dan seakan menjadi cerminan bagi diri saya pribadi sebagai pembaca untuk terus ikut bersemangat mengevaluasi diri saya pribadi.


Memang, kisah tentang kehidupan Abu Bakar Al-Shiddiq dalam buku ini sedikit terhenti pada halaman 163. Kemudian dilanjut pada beberapa peristiwa penting yang terjadi di masanya. Proses penyebaran dan perluasan wilayah Islam dan bagaimana kisah yang ada di baliknya. Kemudian kembali lagi membahas tentang Abu Bakar halaman 291 yaitu ketika beliau wafat.


Membaca buku ini membuat mata saya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Membayangkan betapa dalamnya cinta Abu Bakar pada Allah dan RasulNya. Tanpa meragukan apa-apa sedikitpun dari Allah dan RasulNya. Dan, penggalan rangkuman yang saya tuliskan di atas, tidak memuat banyak kisah yang  ada dalam buku ini, ada baiknya pembaca membaca sendiri dan merasakan bagaimana menapaki jejak sang sahabat, kekasih Rasul ini.




Detil Buku


Judul : Kisah Abu Bakar Al-Shiddiq || Penulis : Dr. Musthafa Murad || Halaman : 312 || Penerjemah : Dedi Slamet Riyadi, MA || Cetakan : VII , 2014 || Penerbit : Zaman



Beberapa Kekurangan dalam Buku Ini yang saya rasakan yaitu typo atau salah penulisan. Ada beberapa halaman misalnya ketika Abu Bakar berkata kepada Umar, justru ditulis Abu Bakar tengah berbincang dengan Abu Bakar. Jadi, saat membaca dan memahami tulisan dalam buku ini dibutuhkan juga ketelitian jika tampak ditemui sedikit kurang sesuai dengan konteks. Tapi, selebihnya buku ini tetap memiliki wawasan yang sangat luas agar kita bisa mengenal Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq ini.


Terima kasih



Postingan Terkait