Teori Kesusastraan - Kumpulan Kutipan

teori kesusastraan



Teori Kesusastraan - Pertama kita akan diajak untuk membedakan pemahaman tentang Sastra dan Studi Sastra. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Sedangkan studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Ada satu pertanyaan tentang pendekatan secara ilmiah terkait seni sastra. Yang kemudian bisa didapat melalui penerapan metode-metode yang dikembangkan oleh ilmu alam. Meliputi objektivitas alam, kepastian dan sikap tidak terlibat. Namun, fenomena sastra juga meliputi ekonomi, sosial dan politik (4).

Studi sastra memiliki metodologi dalam penerapannya, seperti induksi, deduksi, analisis, sintetis dan perbandingan (5). Di sini, terdapat banyak pendapat yang dimaksudkan dalam pertentangan studi sastra yang kemudian menjadi luas dalam bentuk pemahaman dan metodenya. Dan generalisasi ini menyangkut karya sastra dan drama periode tertentu, atau drama, kesusastraan, dan kesenian pada umumnya. Sedangkan kritik sastra dan sejarah sastra sama - sama mencirikan kekhasan sebuah karya sastra, seorang pengarang, suatu periode, atau kesusastraan nasional. Tetapi usaha menguraikan ciri-ciri khas karya sastra hanya dapat dilakukan secara universal jika didasarkan pada suatu teori sastra (9).

Salah satu batasan sastra menurut Rene adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah kebudayaan termasuk dalam wilayah sastra, tidak terbatas pada belles letters atau manuskrip cetakan atau tulisan dalam mempelajari sebuah periode dan kerja ilmuwan sastra harus dilihat dari sumbangannya pada sejarah kebudayaan. Demikian ungkapan dari Edwin Greenlaw. Tapi, menyamakan sastra dengan sejarah kebudayaan berarti menolak studi sastra sebagai bidang ilmu dengan metodenya sendiri, demikian bantahan Rene (11).

Ada cara lain yang didapat untuk memberi definisi pada sastra adalah membatasi pada Mahakarya yaitu buku-buku yang dianggap menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya. Dalam hal ini yang digunakan adalah segi estetis, atau nilai estetis yang dikombinasikan dengan nilai ilmiah. Ini adalah cara yang lazim digunakan dalam penilaian sastra. Demikian pula jika dipakai dalam menggolongkan buku sejarah, filsafat atau ilmu pengetahuan sebagai karya yang bernilai sastra. Untuk tujuan pendidikan, studi mahakarya memang sangat dianjurkan, untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan sejarah. Namun, pembatasan pada mahakarya akan mengaburkan kontinuitas tradisi, perkembangan genre sastra serta proses kesusastraan. Dalam ilmu sejarah, filsafat dan ilmu lain, pendekatan Mahakarya ini memberi penekanan berlebih dalam segi estetis. Akibatnya satu-satunya buku ilmiah di Inggris yang layak dibaca hanyalah karya Thomas Huxley saja(12).

Untuk penggunaan bahasa khas sastra kita harus membedakan bahasa sastra, bahasa sehari - hari, dan bahasa ilmiah. Karena sastra juga mengandung pikiran, sedangkan bahasa emosional tidak melulu dimiliki sastra. Bahasa sastra bukan sekadar bahasa referential, yang hanya mengacu pada satu hal tertentu. Bahasa sastra mempunyai fungsi ekspresif, menunjukkan nada (tone) dan sikap pembicara atau penulisnya. Bahasa sastra berusaha mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca. Penggunaan bahasa sastra dan bahasa ilmiah sudah jelas, bahasa sastra berkaitan lebih mendalam dengan struktur historis bahasa, serta menekankan kesadaran atas tanda. Bahasa sastra memiliki segi ekspresif dan pragmatis yang dihindari sejauh mungkin oleh bahasa ilmiah (15).

Dalam karya sastra sarana bahasa dimanfaatkan secara lebih sistematis dan dengan sengaja. Setiap karya sastra menciptakan suatu keteraturan, menyusun dan memberi kesatuan pada bahan bakunya. Kesatuan itu terkadang sangat longgar. Perbedaan pragmatis antara bahasa sastra dan bahasa sehari-hari lebih jelas. Seni menciptakan sejenis kerangka yang menempatkan setiap pernyataannya di luar dunia nyata. Sementara fungsi estetis dalam sastra dapat terlihat dalam berbagai jenis ujaran (16).

Kalau kita harus memvisualisasikan setiap metafora dalam puisi, barangkali kita akan menjadi bingung dan kewalahan. Teknik ini merupakan pengaturan proses mental yang juga terjadi di luar bidang sastra. Metafora hadir secara tersembunyi pada bahasa. Karya sastra bukan objek sederhana melainkan objek yang kompleks dan rumit. Terminologi yang biasa dipakai sedikit menyesatkan karena hanya menekankan satu aspek saja. Yaitu kesatuan dalam keragaman. Tapi, istilah Identitas Isi dan Bentuk menekankan kaitan erat unsur-unsur karya sastra, namun terlampau sederhana. Demikian analasis modern harus mulai mempelajari hal-hal yang lebih rumit yaitu modus keberadaan karya sastra dan sistem stratanya (21).

Kalau kita bicara mengenai sastra secara koheren, fungsi dan sifatnya tidak dapat dipisahkan. Fungsi puisi sesuai dengan sifat-sifatnya : setiap benda atau jenis benda berfungsi paling tepat dan efisien sebagai dirinya sendiri. Sebuah artefak mempunyai struktur menurut fungsinya, baru kemudian mendapat taqmbahan hiasan sesuai waktu dan bahan yang ada. Pada setiap karya sastra, pasti ada juga beberapa hal yang tidak fungsional, meskipun tambahan itu dapat diterima berdasarkan alasan lain (22).


Bagaimanapun, kalau kita mempelajari sejarah estetika, kita akan melihat bahwa konsep tentang sifat dan fungsi sastra pada dasarnya tidak banyak berubah, sejauh konsep itu dituangkan dalam istilah konseptual yang umum (23).


Semua karya seni manis dan sekaligus bermanfaat bagi setiap penikmatnya : bahwa perenungan yang diberikan oleh seni lebih dahsyat dari perenungan yang dapat dilakukan sendiri oleh masing-masing penikmat seni. Kemampuan seni mengartikulasikan perenungan itu memberikan rasa senang dan pengalaman mengikuti artikulasi itu memberikan rasa lepas (24).

Kesenangan yang diperoleh dari sastra bukan seperti kesenangan fisik lainnya, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Sedangkan manfaatnya keseriusan, bersifat didaktis, adalah keseriusan yang menyenangkan, keseriusan estetis, dan keseriusan persepsi. Meskipun demikian, bisa saja seorang yang berpikir serba relatif mengatakan bahwa minatnya pada puisi tidak berdasarkan penilaian estetis, tapi selera pribadi. Sebaliknya, seorang pendidik bisa saja salah mencari keseriusan sastra yaitu mencarinya pada keterangan sejarah atau ajaran moralnya (25).

Pengalaman bahwa sastra memiliki nilai yang unik tampaknya memang sangat mendasar pada setiap teori yang membahas nilai sastra. Bermacam-macam teori muncul dan semuanya berusaha menggarisbawahi pengalaman ini secara lebih sempurna (25).

Teori Sastra dan pembelaan terhadap sastra menekankan sifat tipikal sastra atau kekhususannya. Sastra dapat dianggap lebih umum dari sejarah dan biografi, tapi lebih khusus dari psikologi dan sosiologi. Tetapi tingkat keumuman dan kekhususan berbeda kadarnya pada setiap karya sastra dan setiap periode (26).

Kebenaran dalam karya sastra sama dengan kebenaran di luar karya sastra, yaitu suatu pengetahuan sistematis yang dapat dibuktikan. Novelis tidak punya jalan pintas. Dunia yang diciptakannya akan dikontraskan dengan kebenaran di bidang ilmu sosial. Tapi, pengarang atau penyair seringnya mengira bahwa tugas mereka adalah menemukan dan menyampaikan pengetahuan. Padahal fungsi utamanya adalah membuat pembaca melihat apa yang sehari-hari sudah ada di depan penulis dan membayangkan apa yang secara konseptual dan nyata sebenarnya sudah diketahui (28).

Fungsi sastra menurut sejumlah teoritikus adalah untuk membebaskan pembaca dan penulisnya dari tekanan emosi (katarsis). Mengekspresikan emosi berarti melepaskan diri dari emosi itu. Emosi mereka sudah diberi fokus dalam karya sastra dan lepas pada akhir pengalaman estetis mereka sehingga mereka mendapatkan ketenangan pikiran (32).

Pada akhirnya, fungsi utama Sastra adalah kesetiaan pada sifat-sifatnya sendiri (33).


Kartu Tanda Buku


Judul : Teori Kesusastraan
Penulis : Rene Wellek dan Austin Warren
Halaman : 418
Cetakan : kelima, Januari 2014
Diterjemahkan : Melani Budianta
Penerbit : Gramedia pustaka utama
ISBN : 978.602.03.0126.6


@ipehalena

Post a Comment

0 Comments