02 February 2018

Ingin Menjadi Bookstagram? Simak Dulu Cerita Pengalaman Saya

Ingin Menjadi Bookstagram? Simak Dulu Cerita Pengalaman Saya


How to be bookstagram



Kali ini saya ingin menuliskan sesuatu yang benar-benar curahan hati saya selama masuk dalam komunitas Bookstagram. Jadi, masih ada menyerempet-nyerempet sedikit dengan dunia buku. Sebenarnya saya sudah ingin menuliskannya sejak tahun lalu, tapi saya simpan dulu sehingga saya yakin, apakah tulisan ini benar-benar memiliki manfaat atau tidak.

Komunitas Bookstagram yang saya maksud ini bukan seperti komunitas yang memiliki akun tersendiri sebagai basecampnya. Bukan. Tapi Bookstagram ini adalah kumpulan akun-akun Instagram personal maupun komunitas yang berisi segala hal tentang buku (di luar penjual buku). Tentunya mereka terkumpul dari mancanegara dan saling berkenalan melalui hashtag yang mereka sematkan. Sehingga bisa menemukan akun satu dengan yang lainnya dan saling berkomunikasi.

Tahun 2016, saya memutuskan membuat akun yang isinya adalah buku-buku yang sudah saya baca. Selain sebagai keinginan untuk menyimpan buku apa saja yang sudah saya baca, ini juga sebagai tempat saya ingin belajar sesuatu, yaitu Bahasa Inggris. Sejak saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan utama, sejak itu pula saya mulai jarang menggunakan Bahasa Inggris, hingga hari demi hari akhirnya kemampuan saya menurun dengan drastis.

Saya seperti seorang yang tidak pernah berkenalan apalagi bersentuhan dengan Bahasa Inggris. Sampai rasanya saya terkejut dengan kemerosotan ini. Pada akhirnya, saya mencoba untuk menuliskan keterangan di foto-foto yang saya unggah dengan bahasa Inggris, meski benar-benar buruk sekali. Selain itu, saya juga tengah memiliki keinginan untuk belajar bagaimana memotret buku agar tampak cantik seperti yang sering saya lihat di Instagram dan Pinterest.

Dari dua alasan itulah akhirnya saya membuat akun @Blogger.reads yang tidak saya publikasikan dimana-mana saat kemunculannya itu. Saya hanya ingin belajar tanpa harus mendapat tanggapan negatif dari orang yang memang sudah membenci saya. Juga sebagai upaya apakah saya mampu membangun sebuah komunikasi melalui akun ini dengan para pembaca buku lainnya.



Berlatih Bahasa Sambil Praktek Secara Langsung



Di blog personal yang saya miliki, saya sudah pernah menuliskan, bahwasannya saya bergabung dengan kursus bahasa inggris online bernama BEC. Di kursus tersebut, saya mendapat mentor bernama Cut Meutia, beliau pernah bersekolah di Dhoha dan memiliki nilai toefl yang tinggi. Dilatih dan diajarkan oleh Meutia yang memiliki cara tersendiri dalam mengajar bahasa Inggris, membuat saya sedikit demi sedikit mulai percaya diri.

Bersama dengan seseorang yang peduli, dimana beliau benar-benar memberikan dukungan penuh agar saya mampu menulis dalam bahasa inggris dengan totalitas tanpa takut salah. Pada mulanya, saya seperti orang yang benar-benar kehabisan ide, tidak tahu harus menulis apa, ini disebabkan rasa takut saya nantinya akan ditertawai dan dicaci. Tapi, ternyata, cara Meutia mengajar saya dengan sabar dan telaten, justru membuat saya berlatih untuk menuliskan apa saja yang sesuai dengan yang terlintas dalam otak saya.

Terlebih, kemampuan berbahasa Inggris saya yang kacau, karena lebih sering berbincang dengan bahasa inggris - asal tau sama tau - sewaktu di kantor dengan mengabaikan peraturan seperti grammar dan sebagainya, alhasil membuat saya merasa malu. Dan, saat beliau meminta saya untuk menuliskan perasaan saya dengan bahasa inggris di Instagram sebagai tugas, ketika itulah saya mendapat pecutan yang benar-benar positif.

Belajar bahasa inggris itu akan mudah kalau kita mempraktekkannya. Tentunya, pada mulanya saya menuliskan dulu bahasa Indonesianya, kemudian berusaha semampu saya untuk mengalihkannya ke bahasa Inggris. Terkadang saya bertanya pada Meutia, kira-kira kalau mau ngomong seperti ini apa ya bahasa inggrisnya? Dan dijawab dengan baik olehnya.

Teknik belajar yang diterapkan oleh Meutia yaitu "Everytime you want to say ..... " Jadi, saya diajarkan untuk mengingat satu kalimat utuh, alih-alih mengingat kata per kata. Karena ternyata ini lebih mudah bagi saya, jadi setiap saya ingin menulis kalimat "Buku apa yang sedang kalian baca?" saya sudah tahu dan bisa langsung mengetiknya tanpa kesulitan "What is your current read?".

Saran dari Meutia pun masih saya terapkan hingga saat ini, dengan menuliskan kalimat yang saya baca dari caption para bookstagram luar negeri. Dengan begitu saya akan terus mampu menuliskannya tanpa kesulitan, kalau pun kesulitan sedikit, saya bisa membuka kembali catatan-catatan saya.

Ketika pertama kali saya mencoba membuka diri dan berkenalan langsung dengan para Bookstagrammer luar negeri ini, saya merasa sangat kikuk. Padahal tidak bertemu secara langsung, ya! Tapi, begitulah yang terjadi, saya ingin menangis rasanya karena merasa bahwa ini semua tidak akan berjalan lancar. Namun, ketika satu demi satu para bookstagrammer tersebut menyapa dan berbincang bahkan tidak mempermasalahkan bahasa Inggris saya yang kacau, saat itulah keinginan untuk terus belajar semakin berkobar.

Dari keinginan untuk menulis caption singkat di Instagram dalam bahasa Inggris, mulailah saya menginginkan untuk menulis ulasan dalam bahasa Inggris. Meski sampai sekarang yang sering terjadi saya malas untuk menulis panjang, hehehe. Tapi, di Instagram, saya sudah mulai percaya diri dan tidak lekas patah semangat sampai-sampai saya sering membuat ulasan di Instagram dengan bahasa Inggris.

Tentunya, ketika perkembangan saya perlahan tampak terlihat kemajuannya, saya rasanya ingin menangis. Selalu saya berusaha untuk mendoakan mentor saya ini Cut Meutia, yang sangat baik dan telaten dalam mengajarkan saya. Apalagi saya baru tiga kali mengikuti pelatihan di BEC. Tapi, saya percaya, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Tuhan tidak akan membiarkan hambaNya berusaha tanpa melihat progressnya, karena itulah saya selalu berusaha mengingat ilmunya dan juga semangat yang sudah diberikan padanya.

Tentunya saya jadi teringat sebuah kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib berbunyi :

Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu. Orang yang membencimu tak percaya itu. Orang yang menyayangimu tak butuh itu.



Akhirnya Mulai Mampu Menghasilkan Foto Yang Lumayan 



Selain sebagai sarana berlatih bahasa Inggris, saya juga tengah berlatih memotret buku agar tampak cantik. Dari belajar ATM foto-foto di Pinterest, sampai akhirnya mencoba gaya begini dan begitu dan akhirnya sedang gandrung dengan petals dan fake flowers. Itu semua berdasarkan latihan yang tidak sebentar. Bayangkan saja, saya bahkan sampai saat ini masih belum puas dengan hasilnya. Karena menurut saya masih kurang bercerita, tapi setidaknya saya sudah bahagia dengan pencapaian yang tampak perubahannya dari sebelum-sebelumnya.

Memotret itu sama seperti berbahasa, harus diasah terus dan terus, kalau tidak maka seperti hendak mengisi bensin, "Dimulai dari nol, ya!" Ini berdasarkan pengalaman saya. Itulah kenapa akhirnya saya terus menjaga agar foto-foto saya tetap bagus dan ciamik sampai belajar cara optimasi Instagram. Semua ilmu ini memang berkaitan juga dengan profesi saya sebagai blogger yang dituntut untuk bisa memonetize setiap kanal sosial dan blog yang dimiliki.

Dari ilmu-ilmu yang saya pungut satu demi satu, ada yang dari online, ada yang saya harus bayar dan meluangkan waktu seharian demi mengikuti workshop tersebut. Dan dari keseluruhannya, saya mendapatkan banyak sekali hal yang membuat saya selalu merasa lapar, saya ingin lagi dan lagi sehingga saya bisa melihat bahwa : Kini saya lebih baik dari kemarin.



Pencapaian Pertama Berupa Kepercayaan



Saat akun saya ini masih belum banyak memiliki follower, seseorang menyapa saya melalui DM Instagram. Beliau adalah penulis yang menawarkan saya untuk membaca novelnya!!! Tunggu, ada yang salah? Saat itu saya berpikir demikian. Karena rasa percaya diri saya belum sebaik sekarang - meski saat ini juga belum begitu bagi masih sering kurang pede. Ketika saya bertanya apakah dia yakin meminta saya untuk membaca dan mengulasnya? Dia mengatakan YAKIN!

Namanya Brian S. Ference, dia menulis sebuah fan fiction yang berasal dari novel si Dorian Gray. Saya suka sekali dengan gaya berceritanya. Oiya, sebenarnya saya sudah terbiasa membaca novel berbahasa inggris, allhamdulillah saya mengerti dan paham sekali. Tapi, karena saya jarang sekali mengetik apalagi berbincang dengan bahasa inggris (tidak pernah malah sejak resign) alhasil kemampuan itu menguap dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seperti saya tidak pernah bersentuhan dengan bahasa ini.

Usai bekerja sama dengan Brian, kemudian saya mendapat kepercayaan lagi dari penerbit mayor, PENERBIT INARI!! Allhamdulillah, terima kasih sebelumnya untuk Penerbit Inari. Jujur, saat mendapat kepercayaan seperti itu, apalagi saya diminta untuk menjadi host giveaway berhadiah buku di Instagram saya. Saat itu saya cuma bilang, "Yaa Allah apakah saya benar-benar patut mendapat ini?" *apus air mata*.

Betul, siapa pula yang mampu menyangka bahwa saya diberi kepercayaan yang bahkan saat itu saya masih cupu sekali. Masih jauh dari bookstagrammer lainnya di Indonesia yang sudah sering diminta untuk mereview buku. Tapi, ini langkah besar yang mengawal saya hingga di titik ini. Saat itu saya bertekad untuk kembali belajar apa saja yang harus saya lakukan agar saat diminta mereview buku, saya tidak asal-asalan. Saya tetap harus berusaha optimal.

Beberapa hal yang saya pelajari adalah : Engagement - dimana saya harus mendapatkan beberapa like, komentar dari follower saya. Ini cukup sulit, mengingat orang-orang yang saya follow dan follow saya itu adalah orang bule semua - saat itu. Akhirnya, saya mencoba untuk meminta bantuan dari beberapa teman saya untuk berkomentar di foto-foto yang saya unggah. Kemudian saya juga harus memperbaiki foto yang saya unggah, dari yang ingin tampil minimalis sampai akhirnya harus meninggalkan idealisme sesaat demi mencapai foto yang ramai, menarik dan unik.


Setelah bekerjasama dengan Penerbit Inari, saya juga menjalin kerjasama dengan Haru Media sebagai poros penerbit haru, spring dan inari. Dengan pengadaan giveaway, sekadar mengulas sampai blogtour terus mengisi keseharian saya di tahun 2017 sampai 2018 awal. Bahkan setelahnya, saya mendapat kesempatan lagi untuk membaca karya-karya para penulis debut dari Luar Negeri yang bela-belain mengirim bukunya dari Amazon. Dia mengirimkannya bulan Desember tahun lalu, tapi baru sampai bulan Februari ini.

Dari kepercayaan mereka inilah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak malu lagi dalam berkarya. Saya berusaha menutup telinga dari mereka yang membenci atau tidak menyukai saya. Tentunya, saya masih punya keinginan yang besar untuk mendapat sertifikat menulis bahasa inggris dari beberapa lembaga kursus. Namun, sayangnya masih belum kesampaian karena biayanya yang lumayan besar.

Tapi, sejauh ini saya benar-benar merasakan energi yang besar terutama setelah saya membuat akun baru @alenaslibrary usai akun @blogger.reads sering eror dan sering tanpa sebab terproteksi sendiri. Saya kembali memulai dari nol, tapi dengan semangat yang tidak surut. Allhamdulillah, sudah mencapai angka 100.

Jika kalian mampir di tulisan saya, kemudian tengah memiliki keinginan untuk memiliki akun bookstagram, silakan follow akun saya. Kalau berisi ulasan buku, biasanya akan saya follow back.



Mengusahakan Yang Terbaik Alih-alih Sekedar Nyindir



Begini, saya sering mendapati komentar dari mereka-mereka yang iri dengan bookstagram lainnya dimana mereka mendapat kesempatan emas untuk menerima endorse ini dan itu. Belum lagi sempat tertangkap oleh saya ada yang berkomentar, "kenapa sih yang dipilih bookstagram yang foto-fotonya bagus?" 

Saat itu saya justru berpikir, kenapa orang tersebut tidak berusaha saja semampunya. Tapi tetap totalitas. Alih-alih merasa iri dengan rejeki orang lain. Oiya, saya mendapati hal ini justru saat saya belum ada apa-apanya seperti sekarang, masih cupu. Tapi, saya punya keyakinan, kalau saya memulai sesuatu sambil berpikir : Dia bisa saya juga pasti bisa dengan cara saya sendiri.

Apalagi ada juga yang mengeluh di kolom komentar penerbit kalau mereka jarang dimenangkan dalam giveaway. Setelah saya cek akunnya, isinya jarang ada ulasan buku. Saat itu saya hanya ingin tertawa. Kenapa? Begini, ketika sebuah penerbit memenangkan seorang bookstagram, tentunya dilihat dari pertimbangan bahwa mereka nantinya akan mengulas buku tersebut di akun mereka. Ini hal yang paaaaaliiiing mendasar.

Jadi, kalau ingin menang, coba perbanyak baca dan mengulas buku. Jangan manja dengan mengatakan tidak punya uang untuk beli buku! Coba kalian unduh aplikasi seperti IPusnas sampai I-Jak yang menyajikan ebook-ebook gratis. Sungguh, zaman milenial ini sudah disediakan kemudahan yang tidak saya dapat pada masa saya saat SMP dan SMA. Jadi, pergunakan dengan maksimal!

Kalau kalian sudah berusaha, terus usahakan agar lebih maksimal. Niatkan itu sebagai pembelajaran dan proses diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dari Instagram ini saya banyak belajar akan banyak hal. Terutama belajar bagaimana membuat follower mau membangun komunikasi dengan kita meski tidak kenal dekat. Dan banyak hal yang saya pelajari dari mereka semua. Intinya, bukalah mata kita untuk belajar bukan untuk menyindir apalagi iri.



Yuk, belajar untuk terus menjadi pribadi positive dan latih diri untuk terus bermanfaat!

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.