Seri Tokoh Islam : Avicenna

June 13, 2016

Avicenna (Ibnu Sina). Membaca buku Seri Tokoh Islam ini membuat hari-hari saya ketika membacanya dipenuhi dengan banyak rasa penasaran terhadap karya-karya beliau. Pertama kali mengetahui nama Avicenna yaitu sewaktu saya duduk di SMP Bani Saleh, Bekasi. Saat itu, guru Agama Islam yang mengajar di kelas, menyebutkan beberapa cendikiawan Muslim yang kemudian membuat saya penasaran ingin mengetahui siapa mereka.
Seri Tokoh Islam : Avicenna

Hanya saja, saat itu saya tidak pernah tahu buku apa yang bisa membuat saya berkenalan dengan para tokoh cendikia ini. Sebanyak yang saya tahu waktu itu, buku islam yang beredar berisi tuntunan solat serta 25 para Nabi dan Rasul. Mengenai sosok para cendikia ini belum saya dapatkan waktu itu. Sehingga, ketika melihat teman saya menjual buku seri Tokoh Islam, seketika saja saya langsung membelinya. Dan Avicenna adalah buku pertama Seri Tokoh Islam yang saya baca.

Ada beberapa hal yang saya rangkum menjadi lima poin yang berisi hal-hal yang menarik bagi saya. Yaitu 5 Hal yang juga bisa dilakukan oleh pembaca, hal yang bisa di tiru dari sosok Avicenna. Apa saja hal tersebut?

5 Hal Yang Patut Ditiru Dari Avicenna



  1.        Menuntut Ilmu

Pendidikan terbaik pada waktu Avicenna lahir, yaitu belajar bahasa Arab agar bisa membaca Quran. Kemudian, dalam pendidikannya, bukan hanya Quran saja yang dibaca oleh Avicenna melainkan juga ilmu Hadits, ilmu syariah dan fiqih. Tapi, selain itu, beliau juga mempelajari tata bahasa, puisi dan sastra.

“Saya belajar kepada guru-guru Quran dan sastra. Ketika berumur sepulu tahun, saya telah menguasai Quran dan sejumlah besar karya sastra...“ ~ Sarguzhist i-ibn Sina (Buku Kehidupan Ibnu Sina)

Dengan menghapal Quran sejak usia muda memberi pembuktian hebatnya daya ingat yang nantinya akan sangat berguna ketika beliau banyak bepergian dari kota ke kota tanpa membawa naskah. Setelah itu, Avicenna kemudian juga belajar tentang Matematika dari orang India, belajar Filosofi Yunani bersama al-Natali.

Ketika belajar fiqih sunni, Avicenna sudah pernah menghadapi logika praktis dan penalaran deduktif. Logika adalah ilmu yang mempelajari prinsip dan syarat pengambilan keputusan dan pembuktian, atau struktur argumen. Tujuan ilmu logika adalah membedakan antara argumen yang baik dan yang buruk. Logika sering kali diterapkan sebagai salah satu bentuk penalaran yang terdiri dari Premis Besar, Premis Kecil dan Kesimpulan (44).

Sesudah logika, al-Natali memperkenalkan matematika melalui karya Euklides dan Ptolemeus, mengajarkan beberapa teorama pertama lalu membiarkan Avicennna membaca sisanya.

“Kebebasan seperti itu adalah tanda kebenaran.“ ~ Catatan Riwayat Avicenna

“Pengajaran hanya menyediakan sekilas masalah yang dipecahkan sendiri oleh kecerdasan sejati.”

Beliau sangat mencintai semua ilmu, sehingga kemudian, setelah mempelajari Metafisika, membacanya selama 40 kali namun masih belum memahami dengan baik apa dan maksud dari tulisan tersebut. Membuatnya beralih pada ilmu lain yaitu Kedokteran, yang nantinya akan membuat Avicenna banyak menyumbang ilmu yang terus digunakan hingga berabad-abad setelah kematiannya.

Karena semangatnya menuntut ilmu dan rasa hausnya pada ilmu pengetahuan, membawa kemudahan bagi Avicenna. Saat usianya menginjak lima belas tahun atau kurang, dia menjadi seorang dokter yang terkenal. Bahkan, banyak dokter-dokter lain mulai belajar padanya. Setelah itu, dirinya membuka praktik dokter sepanjang hidupnya dan menuliskan segala macam tentang kedokteran yang dirangkum dalam Ensiklopedia Kanun Kedokteran.

Setelah belajar ilmu kedokteran, Avicenna kembali mempelajari ilmu filosofi dan logika, dia sering terjaga semalam suntuk untuk membaca tulisan terkait ilmu tersebut. Akan menghabiskan waktu untuk sholat dan berdoa demi mendapat jawaban dari pertanyaannya pada semua ilmu yang dia gali.


Mintalah Ilmu Pada Yang Maha Pemilik Ilmu ~


  1.        Mencintai Membaca Buku

Dengan hasratnya terhadap ilmu pengetahuan yang luar biasa, membuat Avicenna tidak lelah menghabiskan hidupnya untuk belajar, membaca buku dan mencari jawaban dari setiap pertanyaan pada setiap materi yang dibacanya. Ini membuatnya bisa menyelesaikan seluruh bacaan di perpustakaan Bukhara, pada usia delapan belas tahun.

Membaca buku menjadi penolong baginya ketika mendapati satu buku tentang penjelasan Metafisika. Seperti tertulis sebelumnya, beliau sempat berhenti mempelajari Metafisika karena tidak begitu bisa memahami maksud dan tujuannya. Sehingga, ketika dia akhirnya mendapat buku yang membuatnya bisa memahami tentang Metafisika, dia sangat bersyukur hingga keesokan harinya segera dia pergi dan bersedekah kepada fakir miskin.


  1.        Ilmu Membawa Pemahaman Tentang Eksistensi

Avicenna percaya bahwa ilmu filsafat meliputi pencarian segala pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, dia mempercayai bahwa filsafat menjadi salah satu cara untuk mempertanyakan tentang jiwa manusia di akhirat. Dan melalui Aristoteles, dirinya memahami bahwa segala benda selalu dalam perubahan. Karena alam semesta bergerak.

Namun, sebagai Muslim yang taat, beliau berusaha menyelaraskan kepercayaannya kepada Allah yang Maha Esa dengan rasionalisme dan metode logika yang dia pelajari dari orang yunani. Dari sinilah, Avicenna melakukan pembedahan terhadap dua hal yaitu Esensi dan Keberadaan.

Baginya Esensi merupakan ciri dari arti sebuah benda – hidup atau mati. Contohnya “Kemanusiaan” hal ini meliputi ciri-ciri yang membuat manusia dianggap manusia. Selain itu, Keberadaan merupakan penambahan zat (materi) kepada esensi. Menurut Avicenna, manusia tidak bisa memikirkan esensi tanpa keberadaan, karena esensi tak bisa menyebabkan keberadaan.

Melalui pembelajarannya terhadap logika dan penalaran, ia percaya bahwa melalui kedua hal tersebut manusia bisa menangkap kerangka dasar yang mengatur dunia dan sosok yang menyebabkan penciptaannya, jadi, manusia bisa mencapai pengetahuan akan Tuhan melalui ilmu.

Serta dalam kitab Hayy bin Yaqzhan yang berisi kisah tentang pandangan Avicenna mengenai pengetahuan yang bersifat intuitif dan rasional, dari proses pemikiran itulah manusia dalpat menungkap misteri-misteri alam semesta.

Avicenna sangat menghargai pencarian pengetahuan karena dia percaya bahwa hanya melalui penalaranlah manusia dapat menyempurnakan jiwa abadinya. Dia juga yakin bahwa hanya melalui usaha pembelajaran manusia dapat berhubungan dengan Tuhan, karena itulah tujuan kehidupan manusia, merasakan percik ilahi yang menyebabkan dunia kita ada.

Pengetahuan adalah satu-satunya hal yang diperkarakan terhadap manusia di akhirat ~ Avicenna

  1.        Pantang Menyerah

Bagaimana tidak pantang menyerah? Perjalanan menimba imu seorang Avicenna mengalami banyak rintangan. Beliau beberapa kali diusir dari kerajaan akibat fitnah pada dirinya, karena kebakaran perpustakaan, dirinya dituduh sebagai penyebabnya. Akhirnya Avicenna memutuskan untuk pindah dari satu kota ke kota lain, menginap di rumah temannya sampai dikejar oleh seorang Raja yang sangat menginginkannya untuk bekerja di isntananya.

Selama perjalanan itu pula, Avicenna menuliskan sebuah buku yang membuatnya dikenang sebagai penyumbang ilmu kedokteran sepanjang masa. Dengan judul Kitab Al-Qanun fi al-Thibb (Kanun Kedokteran). Selama menuliskan kitab yang berisi kata-kata yang hampir berjumlah satu juta lebih, Avicenna mengandalkan ingatannya yang kuat ketika menulis tentang ilmu lainnya. Apalagi dikarenakan ketika melarikan diri, beliau tidak membawa naskah atau buku-bukunya.

Tidak hanya itu, Avicenna juga terus menerus berusaha belajar dengan semua guru yang dia temui, mempelajari banyak hal tapi juga tidak lupa untuk menebar manfaat. Dibuktikan dengan dirinya mengajar para muridnya ketika malam hari.

Kenapa malam hari? Sepanjang harinya dia bekerja dan mengurus kehidupan sosialnya, Avicenna menghabiskan waktu sejak setelah solat Subuh hingga hampir siang untuk menuliskan kitab Kanun Kedokteran tersebut, sampai kemudian baru malam hari-lah dirinya memiliki waktu untuk mengajari murid-muridnya.


  1.        Keterbatasan Bukan Halangan Untuk Tidak Mengoptimalkan

Kanun Kedokteran


Kalau semisalnya Avicena sudah berhenti melahap semua ilmu karena fitnah yang menerpanya, kemungkinan saat ini kita tidak akan mengenal namanya. Ini semua karena Avicenna selain pantang menyerah juga senantiasa mengoptimalkan apa yang menjadi sesuatu yang disukai dan dicintainya. Ilmu Pengetahuan serta ilmu Kedokteran yang membuat Avicenna siang dan malam sampai berdoa, hanya untuk mencarai jawaban.

Kedokteran adalah ilmu yang mempelajari keadaan tubuh manusia dalam hal sehat dan tak sehat, demi memelihara kesehatan ketika ada dan memulihkannya ketika tak ada. ~ Kanun Kedokteran

Selian mengoptimalkan ilmu yang diingatnya selama hayatnya, beliau juga mengoptimalkannya dengan membuat sebuah buku tentang Kitab Pengobatan. Yang juga berisi tentang bagaimana meraci obat dan segala macam tentang obat-obatan. Padahal, saat itu dirinya sedang mengasingkan diri di sebuah kota yang jauh dari kata ‘mewah‘, ‘cukup‘ atau ‘berada‘. Tidak hanya itu, dirinya juga sering memberikan jasa dokter gratis bagi pasiennya.

Jikalau dia tak mengoptimalkan kemampuannya, kemudian menyerah hanya karena keadaannya yang tak kondusif, mungkin Avicenna tak akan menulis tentang Kanker dan cara menanganinya. Beliau juga mengetahui bahwa penyakit kanker merupakan sakit yang sulit. Meski menurutnya kanker memiliki kemungkinan untuk sembuh jika diketahui ditahap-tahap awal.


oo00oo

Kanun Kedokteran merupakan kitab yang memiliki beberapa bab yang berisi semua ilmu yang pernah dipelajarinya. Hasil karyanya inilah yang membuktikan bahwa Avicena mengoptimalisasikan kemampuannya dengan menuliskannya menjadi sebuah buku.

Membaca tentang perjuangan Avicenna membuat saya kemudian kembali teringat buku tentang Pramoedya atau Kartini, keduanya sama-sama memiliki keterbatasan, yaitu kondisi yang tidak kondusif. Pram yang berada di penjara sementara R.A Kartini yang dipingit. Namun, ketiga orang inilah yang mengajarkan saya, bahwa KETERBATASAN dalam segala hal, tidaklah penting jikalau kita bisa mengoptimalkan apa yang menjadi kemampuan pada diri kita.

Tidak ada alasan lagi hanya karena kehabisan ide kemudian berhenti menulis. Tak lagi alasan ketika jaringan internet lambat, kemudian berhenti menulis. Tidak ada alasan, tidak ada buku tersedia kemudian berhenti membaca dan mencari tahu. Semua ini membawa saya pada pemahaman, bahwa orang-orang terdahulu menjadikan keterbatasan bukan alasan, alih-alih mereka justru mencari peluang untuk tetap bisa berkarya.
Bagi yang ingin juga membaca buku ini, saya sertakan juga detil buku di bawah ini.

Detil Buku


Judul : Avicenna (Dokter dan Filsuf Muslim abad ke – 11) || Penulis : Aisha Khan || Halaman : 128 || Penerjemah : D.Anshar || Cetakan : Pertama, Februari 2013 || Penerbit : Muara (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia) || ISBN : 978.979.91.0541.7 || Toko Buku rekomendasi : @demabuku

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.