The Chronicle of Narnia : The Silver Chair

February 02, 2016



The Silver Chair - Pada kisah ini, kembali Aslan memanggil anak manusia untuk bertamu ke dunianya. Adalah Eustace, sepupu dari Peter, Susan, Edmun dan Lucy. Bersama temannya Jill, yang menjadi bahan cemoohan di salah satu sekolah di Inggris. Eustace menceritakan tentang dunia yang pernah dia datangi bersama sepupunya. Kemudian keduanya melakukan ritual, agar Aslan memanggil mereka berdua. Namun, saat itu, tidak lama kemudian, sebuah tanda dari 'panggilan terjawab' membawa mereka jauh ke dalam hutan kemudian berakhir di sisi tebing paling curam.

Jill, yang ketakutan namun tidak dapat menolak keinginannya karena rasa penasaran. Inilah yang menyebabkan Eustace terjatuh dari tebing yang sangat tinggi itu. Dengan sosok kemunculan Aslan berada di dekat Jill, yang kemudian membuat Jill merasa ketakutan, tapi ketakutan yang aneh karena dia tak ingin segera berlari menjauh. Di situlah, Jill mendapat tugas dari Aslan langsung. Namun, dengan persyaratan, Jill harus selalu mengingatnya dan menghapalnya setiap malam dalam berbagai kondisi.

Empat pesan yang diberikan oleh Aslan. Yang kemudian diajarkan dengan sabar olehnya, agar Jill tidak lupa. Sehingga ketika selesai mengajarkan Jill, kemudian Aslan meniup Jill, menuju satu tempat di tepi pantai, dimana banyak orang berkerumun di sana.

Kemudian, petualangan mereka demi menyelamatkan Pangeran Rilian, Putra Raja Caspian, dimulai. Perjalanan demi perjalanan yang berat mereka lewati. Dari menjejakkan kaki menuju pegunungan yang tinggi, hingga menjejak di tanah yang keras sampai kaki mereka sakit. Dan berjalan menembus badai salju untuk sampai ke tempat dimana Aslan memberikan petunjuk.

Beberapa tokoh lain yang ada dalam cerita ini yang juga menandai jejak mereka dari satu tempat ke tempat yang lain, di antaranya adalah

Burung Hantu di Narnia

Saat pertama kali bertemu dengan salah satu burung hantu yang hadir di kerumunan, kala pelepasan Raja Caspian. Eustace dan Jill, digiring untuk menemui Raja pengganti Raja Caspian. Karena masih siang menjelang sore, akibatnya sang burung hantu tak dapat berkonsentrasi dengan baik. Ukuran tubuh burung hantu di Narnia sangat besar, bisa untuk ditunggangi satu orang anak. Juga dengan bulu lebat yang halus, dan kebiasaan yang sudah bukan hal yang aneh di Narnia, yaitu burung hantu yang dapat berbicara.

Sosok burung hantu, juga dikenal sangat bijaksana. Itulah sebabnya, ketika sang Raja pengganti yang sedikit tuli itu bertanya-tanya kemudian mengundang Eustace dan Jill ke istana kerajaan mereka untuk menginap, barulah setelahnya sang burung hantu menjelaskan apa yang Jill dan Eustace sampaikan sebelumnya. Kemudian keduanya dibawa ke gua khusus pertemuan burung hantu. Eustace dan Jill, setelahnya harus melakukan perjalanan malam itu juga dengan diantar oleh dua burung hantu, mereka duduk di atas punggung sang burung hantu, menuju tempat Puddleglum.

Puddleglum

Dialah sosok yang akan menemani Jill dan Esutace mengemban misi mereka. Dengan wajah kurus panjang dihiasi pipi cekung, mulut yang tertutup rapat, hidung mancung, tidak berjanggut. Dia juga mengenakan topi berujung runcing seperti puncak menara, rambutnya bergantung di atas telinga yang lebar berwarna abu-abu kehijauan. Ekspresinya sangat serius, kulitnya kusam dan dia adalah sosok yang menganggap hidup sangat serius (94).

Baiklah, dari beberapa tokoh dalam novel ini, karakter yang sangat saya suka itu adalah sosok Puddleglum. Dia selalu menganggap bahwa orang lain akan kesulitan, menganggap kalau orang lain akan tidak terbiasa, sementara anggapannya yang berlebihan itu justru sebaliknya dirasakan oleh Jill dan Eustace. Tapi, lucunya, meski dia sebegitu seriusnya menghadapi hidup, bagi teman-temannya dia adalah sosok yang terlalu sering becanda dan tidak bisa diam. Bayangkan, bahkan Puddleglum yang selama perjalanan selalu mengungkapkan perkataan yang bukannya membuat semangat justru sebaliknya, mendapati dirinya terlalu becanda pada kehidupan. Kan, lebih tidak terbayang bagaimana teman-teman lainnya ìtu.

Tapi, justru karena terlalu sering fokus pada apa yang ada di hadapannya inilah, yang membuat Jill dan Eustace selalu memiliki teman yang mau mengingatkan mereka berdua. Mengingatkan dalam hal apa saja, salah satunya agar berhenti bertengkar dan beradu mulut. Dan, pertolongan paling besar dari Puddleglum adalah ketika mereka terjebak bersama Penyihir Bawah Tanah.

Dua Tipe Raksasa Yang Berbeda

Saat mencapai reruntuhan di sebelah Utara, mereka mendapati tempat yang dipenuhi dengan para raksasa. Puddleglum sudah memberi peringatan agar tidak menghiraukan mereka dan jangan sampai menatap mata mereka secara langsung. Di sinilah tinggal para raksasa yang bodoh. Digambarkan bodoh karena mereka berbicara dengan bahasa yang terbata-bata seperti bahasa bayi, kemudian bicara mereka sangat lambat. Seperti misalnya kata Kalah, akan mereka ucapkan dengan cara : Ka.....l...a...h.....h...

Mereka juga gemar bertengkar dengan sesamanya. Pekerjaan mereka sehari-hari hanya melempari batu ke arah bebatuan lainnya. Dan raksasa inilah yang banyak dikenal di daratan Narnia, sebagai raksasa yang bodoh.

Tapi, dalam perjalanan, mereka bertiga mendapati satu lagi kerajaan Raksasa yang justru lebih modern dan lebih maju peradabannya ketimbang raksasa yang satunya. Kerajaan mereka sangat dijaga ketat. Para tamu tidak boleh terlambat jika ingin menginap di tempat tersebut. Raja dan Ratu di Rumah Harfang tampak sangat baik. Apalagi petugas istana yang bertugas melayani mereka dengan sangat lembut. Jill bahkan diberikan mainan oleh mereka. Namun, berkali-kali ketiga petualang mendengar keluh kesah para pegawai istana yang mengatakan bahwa mereka adalah Makhluk Yang Malang.

Earthman sang Manusia Bawah Tanah

Ketika masuk ke dalam sebuah lubang, ketiga petualang ini bertemu dengan manusia yang beragam bentuknya. Ada yang tingginya seperti mereka, namun ada juga yang tingginya melebihi mereka. Kesamaan dari para earthman yang ditemui oleh ketiga petualang itu adalah wajah mereka yang pucat serta perkataan mereka, "dari Dunia Tas ke Kerajaan Bawah. Banyak yang turun dan sedikit yang kembali ke tanah yang diterangi matahari."

Mereka bertelanjang kaki. Dan suasana di Kerajaan Bawah tidak ada angin, tidak ada suara burung apalagi suara gemericik air. Dan tidak ada suara napas dari para earthman. Di sekeliling mereka hanya bebatuan dan kegelapan saja. Para Earthman adalah pekerja keras, mereka tidak mempermasalahkan kedatangan orang asing di sekitar mereka ketika Ketiga Petualang lewat dekat mereka. Yang mereka lakukan hanya berjalan berdesakan dengan ekspresi wajah yang datar.

Coretan Pribadi

Ada satu kalimat lanjutan dari para Earthman ketika Jill menanyakan apa yang dilakukan oleh manusia raksasa yang tertidur di dalam Kerajaan Bawah. Begini jawaban mereka yang lebih lengkap : "Mereka semua binatang dan makhluk yang mencari jalan turun melalui rekahan tanah, gua-gua dari Dunia Atas ke Kerajaan Bawah. Banyak yang turun dan sedikit yang kembali ke tanah yang diterangi matahari. Katanya mereka semua akan bangun di akhir dunia."

Pada kalimat di atas, jelaslah bahwasannya yang mereka maksud adalah makhluk-makhluk yang telat mati. Beberapa ada yang bisa  keluar hidup-hidup karena mungkin belum waktunya bagi mereka. Tapi, dari kalimat 'mereka semua akan bangun di akhir dunia' jelaslah bahwasannya ini sebuah pengenalan konsep hari Kiamat dan hari Akhir yang diperkenalkan C.S Lewis bagi para pembacanya.

Dan sekali lagi, petualangan Jill serta Eustace membawa saya pada film yang diangkat dari novel ini. Seketika saya merasa rindu dengan keluarga Pevensie. Pada Lucy, pada Edmund, pada Susan, dan juga Peter.

Detil Buku

Judul : The Silver Chair
Penulis : C.S Lewis
Cetakan : Januari 2006
Halaman : 320
Penerbit : Gramedia
ISBN : 979.22.1719.3

@ipehalena

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.