08 November 2015

Selimut Debut Karya Agustinus Wibowo

selimut debu


Selimut Debu - Sebuah rangkaian petualangan dari Agustinus Wibowo, yang membawa pembaca mengikuti jejaknya yang tertinggal di atas hamparan pasir. Namun, abadi dalam bentuk kata. Menjejak di sudut-sudut Afganistan, ikut bermalam dan merasakan dengung lalat. Juga, merasakan lelah saat perjalanan terhambat oleh banyak hal. Sebuah tempat yang lebih sering dikenal dengan tempat perang, daratan ranjau, gunung-gunung gersang, apalagi kalau bukan Taliban, yang senantiasa diingat oleh penduduk negeri lain seperti saya kala ditanya tentang Afganistan. Sementara itu, ada banyak hal yang belum diketahui, segala tentang Afganistan. Tempat yang saat didatangi oleh Agustinus Wibowo, merupakan daerah yang miskin, hanya ada satu wilayah khusus orang asing atau kalangan ekspatriat, bertempat di Kabul. Tapi, selebihnya, banyak yang mengatakan tidak ada apa-apa.

Bangsa Pashtun, merupakan suku bangsa mayoritas di Afganistan, dan suku bangsa ini diperkirakan lahir dari Kandahar (142). Ada banyak suku di Afganistan seperti, Pashtun, Hazara, Tajik, Turkmen, Uzbek, hingga Kirghiz. Namun, di antara para suku-suku tersebut, tidak bisa dikatakan memiliki hubungan yang mesra.

Debu yang menyelimuti hampir keseluruhan daratan di Afganistan, inilah yang mewakili isi dari buku Selimut debu serta setting yang indentik menggambarkan bagaimana Agustinus Wibowo menghabiskan hari demi hari dalam hidupnya di Afganistan. Beberapa penduduk Afganistan, tak lagi bangga dengan tanah tempat mereka lahir dan tinggal. Ada yang mengagungkan kehidupan modern seperti di negeri barat. "Di sini tidak ada apa-apa, cuma debu..." (26) Meski tampak dalam bab-bab pertama perjalanannya, banyak ditemui orang-orang yang tak lagi ingin kembali ke Afganistan, Khaak mereka, tapi setelah perjalanannya mencapai Kandahar, barulah petualangan dan pertemuan demi pertemuan dengan penduduk setempat, menjadi daya magis bagi saya pribadi yang merasakan ikut dalam petualangan dan berbincang dengan mereka semua.

Beberapa wawancara dengan warga setempat, diketahui bahwa kala kepemimpinan Taliban jalan-jalan yang melewati Ellham, sangat aman. Tidak ada perampokan, pembunuhan atau kejahatan lain. Karena, setiap perampok akan mendapat hukuman dipotong tangannya. Setiap pembunuh akan dibunuh sebagai hukumannya, dengan kondisi kepala dan tubuh di pisah di pinggir jalan yang menghubungkan ke daerah tribal area. Di sinilah, banyak kejahatan yang kemudian merasakan keberadaan Taliban membuat mereka takut. Namun, di satu sisi, ada yang berpikir, Taliban adalah penguasa ekstrim yang mewajibkan peraturan seperti musik haram, televisi haram, perempuan wajib mengenakan burqa, setiap penduduk juga wajib mengenakan Shalwar Qamiz. Meski akhirnya kepemimpinan Taliban di sana telah gulung tikar, namun budaya yang  dahulu diterapkan, masih dijalankan di Afganistan.

Kandahar, tempat yang terkenal sebagai wilayah paling menakutkan karena dahulu menjadi tempat berlangsungnya perang. Daratan yang diinjak merupakan tantangan hidup dan mati bagi penduduk setempat. Karena, ranjau hidup masih banyak jumlahnya tertanam di dalam tanah. Kematian penduduk atau hewan akibat ranjau darat, bukan pemandangan yang baru. Apalagi di kerumunan publik, sering terdengar ledakan bom bunuh diri. Atau bom yang sengaja dipasang untuk mengincar pemerintah Afgan, orang-orang yang bekerja untuk negara asing, serta tentara asing. Semua penduduk setempat tidak lagi merasa aneh atau harus terkejut, asal bukan anggota keluarga mereka. Orang sudah mati rasa. Bagi mereka kabar-kabar macam ini sudah setingkat dengan kita di Indonesia yang mendengar berita maling ayam. Apa tanggapan Anda? Kaget? Menangis? Paling juga cuma "oh","uh", tak lebih dari setengah detik, dan Anda akan kembali ke kehidupan normal (125).

Itulah, kenapa penduduk Kandahar sudah pasrah dengan kehidupan mereka. Urusan hidup dan mati itu urusan Tuhan, begitu jawab mereka. Meski menjadi tempat yang mengerikan bagi orang luar Kandahar. Tetap saja, Bazaar atau pasar masih buka, penduduk masih berbelanja ke warung-warung atau toko-toko. Masih ada kegiatan jual-beli serta banyak hal yang dilakukan seakan tidak ada apa-apa. Namun, bagi Kandahari, ada satu lagi desa yang dahulu merupakan ladang pohon anggur. Tapi, kini keberadannya bahkan tak berjejak selepas perang yang berlarut-larut terjadi di masa lampau.

Di Kandahar ini, Agustinus dan Lam Li, diajarkan sesuatu yang sangat penting, bagi para petualang, musafir, backpacker yang menginjakkan kaki di tanah asing. Untuk setidaknya tetap menghargai dan menghormati segala kondisi dan situasi. Dari Kandahari, mereka sadar bahwa buka karena takut alasan yang menjadikan Kandahari melarang, tapi membawa mereka ke desa tempat Kandahari dilahirkan akan membahayakan saudara-saudaranya di sana. Kenyataan bahwa dia bekerja untuk organisasi asing saja sudah sangat membahayakan, sudah cukup baginya mereka dijadikan target incaran (129). Padahal pekerjaan mereka sebagai penjinak ranjau darat yang notabennya, menyelamatkan warga lain dari kematian akibat meledaknya ranjau yang tertanam di dalam tanah.

Di Afganistan yang mayoritas adalah bangsa Pashtun sangat menjunjung tinggi Kehormatan mereka, menyinggung kehormatan orang lain, balasannya nyawa. Ada hal lain yang juga dijunjung tinggi oleh mereka yaitu Memastia, keramahtamahan terhadap tamu. Tamu harus dihormati, tak peduli suku atau agamanya. Orang Pashtun pantang menyerahkan tamunya kepada musuh. Tamu harus dilindungi, bahkan kalau perlu mengorbankan nyawa sendiri (143). Dari sini, saya mengingat kembali sebuah film berjudul Lone Survivor, seorang tentara amerika yang menjadi satu-satunya survivor ditolong oleh penduduk setempat, bahkan menolak dan mengancam jika musuh hendak menyakiti tamu mereka, mereka akan menyerang.

Kehormatan yang kedua adalah badal atau keadilan. Bagi mereka balas dendam untuk menegakkan keadilan itu merupakan kehormatan. Kemudian ada Nang atau kehormatan bagi seorang pria untuk menjaga kehormatan suku dan agamanya. Bagi lelaki Pashtun, ada tiga hal yang tidak dapat diganggu gugat hak miliknya,yaitu : Zan(wanita), Zir(harta), dan Zamin(tanah) (143).

Walaupun demikian, maaf juga dijunjung tinggi sebagai kehormatan bangsa Pashtun. Nanawatai atau penyelesaian tercapai ketika pihak yang bersalah datang meminta maaf. Jika maaf sudah diberi maka dendam masa lalu harus dihapuskan. Hanya orang yang tak terhormat yang mengungkit masalah yang sudah dimaafkan (144).

Kebiasaan minum teh di Afganistan ini juga terbilang unik. Teh-teh yang ada di tempat ini merupakan hasil import, salah satunya juga dari Indonesia. Di samovar atau kedai teh, Agustinus melihat sendiri kebiasaan orang-orang setempat ketika minum teh. Alih-alih mencampur gula langsung pada tehnya. Mereka justru mengulum permen, sambil menyeruput teh dari cangkirnya. Jadi, rasa manisnya masih terasa. Di Samovar juga, Agustinus sering menjadikan tempat tersebut sebagai tempat untuk bermalam. Di sana, samovar memang menyediakan tempat bagi para musafir ketika mereka tak memiliki tempat bermalam.

Di samovar, para lelaki juga sering berkumpul kala sore menjelang. Bersama-sama mereka menonton televisi yang memutar vcd seorang perempuan yang menari meliuk-liuk, atau menonton sinetron india. Namun, bagi semua lelaki di Afganistan, mereka selalu siap dengan syal mereka. Siap ketika azan berkumandang, mereka akan langsung berbondong-bondong menuju mesjid terdekat atau menghamparkan syal di atas pasir untuk melaksanakan solat. Meninggalkan aktivitas yang sedang mereka lakukan tanpa menunda waktu solat. Kesiapan ini membuat saya tertampar, bahwasannya di tempat saya berada. Meski azan berkumandang, tidak banyak yang menyegerakan solat. Ini seperti bentuk muhasabah untuk diri saya sendiri.

Ada satu tempat yang pernah menjadi tajuk pada berita televisi internasional. Tentang Taliban yang meruntuhkan patung Buddha tertinggi di Bamiyan. Itulah nama tempat yang pernah dikunjungi oleh Agustinus bersama Adam saat perjalanan pertama mereka memasuki dunia impian. Bamiyan dilukiskan oleh Hsuan Tsang sebagai tempat yang memiliki penduduk yang religius, "Di Timur laut kota kerajaan, di sudut sebuah gunung, berdiri patung Buddha dari batu. Tingginya seratus empat puluh atau lima puluh kaki, dengan warna emas yang memesona, dan dihiasi batu-batu mulia....." (81).

Di Bamiyan yang hanya 150 km dari Kabul, namun terisolasi oleh gunung-gunung raksasa. Bahkan, meski menggunakan mobil, Bamiyan masih sulit untuk dijangkau. Hal yang unik, pada cara penulisan Agustinus Wibowo, ianya sering menyematkan kisah atau legenda yang pernah terjadi pada masa lampau di tempat ia menjejakkan kakinya. Membuka

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.