Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Yasunari Kawabata

#BookReview Thousand Cranes Karya Yasunari Kawabata

Thousand Cranes. Membaca buku karya Yasunari Kawabata, bisa mengecoh pemikiran. Keahliannya dalam bermain kata, terutama dalam menyiratkan sesuatu tanpa tampak di permukaan. Membuat saya semakin penasaran dengan karya-karyanya.

Pada mulanya, bolehlah kiranya kita mengira dalam cerita pendek yang terkumpul di buku Daun Bambu. Kemudian berpikir kalau seorang lelaki pecinta burung itu. Yaa hanya suka dengan suara burung.

Namun, ada pesan yang baru bisa ditangkap usai membacanya dengan seksama. Membaca kata demi kata secara perlahan, meresapinya dan barulah makna itu mencair melalui kesabaran akan penantian.

Mungkin pula pembaca akan mundur seketika saat hendak membaca buku Rumah Perawan. Ah, siapa yang mau membaca buku tentang lelaki tua yang memandangi payudara remaja wanita?

Awalnya, saya pun hampir mundur. Cih, tak sudi rasanya menyelami pikiran kotor lelaki tua bangka yang sudah mau mati itu. Kemudian, ikut membandingkan payudaraku dengan milik tokoh di dalam buku ini. Keterlaluan!!

Beauty & Sadness - Sebuah Kontemplasi Akan Sisi Kelam Manusia Karya Yasunari Kawabata

Beauty & Sadness - Sebuah Kontemplasi Akan Sisi Kelam Manusia Karya Yasunari Kawabata


Bacaanipeh - Apa yang kalian pikirkan setiap menatap pemandangan dari balik JENDELA? Bagi Yasunari Kawabata, pemandangan dari balik Jendela kereta senantiasa mendatangkan inspirasi dan kontemplasi bagi para tokohnya. Bisa dilihat dari novel Snow Country dan juga novel Beauty and Sadness ini. Tokoh lelaki yang ada di kedua novel tersebut, sama-sama memiliki kenangan yang muncul saat melihat pemandangan dari balik jendela kereta api. Kedua tokoh lelaki ini pun, sama-sama memiliki kecintaan tersembunyi pada perempuan lain, meski sudah memiliki istri.



Kartu Tanda Buku

Judul : Beauty and Sadness || Penulis : Yasunari Kawabata || Halaman : 248 || Cetakan pertama, 2017 || Versi : Buku Fisik || Bahasa : Indonesia (terjemahan) || Diterjemahkan oleh Zulkarnaen Ishak || Diterbitkan oleh Immortal Publisher || ISBN : 9766021142899



Bagi saya, gambaran mengenai lelaki beristri yang gemar menghabiskan waktu denga…

Rumah Perawan - Yasunari Kawabata : Sebuah Kenangan Lelaki Tua Dalam Kehidupannya Yang Ikut Menua

Rumah Perawan - Yasunari Kawabata : Sebuah Kenangan Lelaki Tua Dalam Kehidupannya Yang Ikut Menua


Saya membaca Rumah Perawan bersama dengan seorang kawan, seorang narablog ayowaca.com, bernama Iyas. Awalnya saya penasaran dengan isi dari novela ini. Apalagi di dalamnya menyebutkan beberapa kutipan sajak yang cukup unik, sesuai dengan suasana yang dibangun oleh Kawabata.

Sama seperti cerita pendeknya dalam buku Daun Bambu, dimana menyajikan kisah yang kalau dikenang kembali, ternyata buku tersebut pun masih menyisakan kenangan yang lekat. Sebuah karya yang tidak mudah terlupa meski pernah dibaca sekali dan berbulan-bulan yang lalu. Namun, masih segar dalam ingatan seperti apa bentuknya.
Dan Rumah Perawan sama seperti buku sebelumnya. Membawa rasa penasaran saya semakin tinggi demi menggali lagi setiap cerita dalam tulisan Kawabata. Tapi, kali ini, saya mengizinkan diri saya sendiri untuk menuliskan apa yang muncul saat membaca novela yang cukup erotis bagi mereka yang tidak terbiasa. I…

Daun daun Bambu

Daun daun Bambu - Yasunari Kawabata bagi khalayak pembaca sastra di Indonesia sekarang bukanlah sosok yang asing. Dalam ulasan Jacob Sumardjo yang dirilis tahun 1985, Kawabata menempati tempat yang spesial : dia tercatat dengan porsi terjemahan paling banyak. Menurut kutipan dari kata pengantar Cep Subhan, Kawabata merupakan seorang penulis yang unik dan keunikannya tidak akan segera diketahui kecuali kita sudah selesai membaca tulisannya. Orang cenderung mengatakan bahwa Kawabata adalah penulis yang bergerak dari naturalis ke impresionis.


Tapi suatu cerita yang apa adanya bukanlah berarti bahwa ia adalah cerita tanpa makna ~ Cep Subhan.


Pidato Penerimaan Hadiah Nobel


Dalam Esai "Pandangan Mata Saat Sekarat", Kawabata mengatakan : "Betapapun seorang teralienasi dari dunia, namun bunuh diri tetaplah bukan sebuah bentuk pencerahan. Betapapun mengagumkan, namun orang yang memutuskan bunuh diri tetaplah jauh dari dunia orang suci." (10).


Sahabatnya, pendeta Ikkyu telah dua…