06 January 2018

The Storied Life of A.J Fikry - Kisah Hidup A.J Fikry

The Storied Life of A.J Fikry - Kisah Hidup A.J Fikry





Memangnya siapa sih A.J Fikry itu? Sampai-sampai kisahnya dituliskan oleh Zevin ke dalam sebuah buku yang kemudian menjadi sangat terkenal dan banyak dibaca oleh pembaca di mancanegara. Meski beberapa banyak yang mengatakan kalau buku ini berkisah tentang buku, tapi kenapa judulnya justru nama orang?

Saya sempat bertanya-tanya mengenai hal tersebut hingga bertanya pada “Google” tentang siapa sebenarnya A.J Fikry. Saya pikir dia adalah sosok atau tokoh masa lampau yang kisah hidupnya dibalut dengan fiksi. Tapi, nyatanya, A.J Fikry adalah seorang A.J Fikry. Sosok pria yang jauh dari kata romantisme ala Romeo dan Juliet. Mudah tersinggung dan perilakunya sangat jauh dari kata PERFECT untuk ukuran tokoh utama.

Namun, kesempurnaannya itu adalah ketidaksempurnaannya. A.J seorang penjual buku yang mencintai buku. Dia merasa sudah terlalu tua untuk memulai segalanya kembali terutama dalam hal cinta. Seorang penjual buku yang sering menyodorkan buku-buku rekomendasinya untuk para pengunjung, seorang penjual buku yang bahkan bisa membantu para pengunjungnya mencari buku tertentu hanya berdasarkan plot cerita. Seorang penjual buku yang bahkan menghapal judul buku dan penulisnya sampai alur kisahnya sambil dikaitkan dengan kehidupan nyatanya.

Sebagai seseorang yang juga membaca buku - saya tidak berani mendeklarasikan diri saya sebagai pembaca buku sejati karena saya tidak ada apa-apanya dibandingkan A.J  - kehadiran seseorang yang mampu menanggapi lawan bicaranya dalam diskusi buku, itu adalah kenikmatan yang tiada tara. Meski terkadang selera dalam membaca bisa menjadikan jurang pemisah, tapi saya percaya bahwa memiliki kesamaan saat berbincang dengan lawan bicara, merupakan hal yang menyenangkan.


Kartu Tanda Buku

Judul : The Storied Life Of A.J Fikry
Penulis : Gabrielle Zevin
Halaman : 277
Versi : Buku
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rating : 5/5
ISBN : 9786020375816

***

Menurut pengalaman Amelia, kebanyakan masalah orang akan terselesaikan seandainya mereka mau memberi kesempatan bagi lebih banyak hal. ~ Hal 17


Sebagai seorang marketer sebuah penerbit, Amelia memang dituntut untuk mengetahui isi buku-buku yang akan ditawarkan ke beberapa penjual buku. Tentunya, ini menjadikan Amelia selalu menyukai buku-buku debut, baginya ini sebagai usaha untuk memberikan kesempatan bagi buku tersebut untuk dikenal oleh banyak pembaca.

Seperti The Late Bloomer, yang nantinya akan menjadi sebuah penghubung dirinya dengan sosok lain, yang merupakan memoar kehidupan lelaki berusia lanjut tentang cinta yang dialami olehnya. Meski bagi A.J, kisah tentang duda ini tidak membuatnya tertarik.

Bagaimana bisa tertarik, sementara A.J baru saja kehilangan istrinya - Nic - dan berusaha untuk mengurus toko bukunya serta berusaha untuk tetap hidup. Moodnya A.J memang selalu buruk, dia selalu sinis bahkan cenderung tidak ramah, jika dipandang oleh banyak orang. Kalau kata Daneil Parish, Pak Tua Yang Malang, demikian dia memberikan label kepada A.J.

Jika Amelia senang memberikan kesempatan bagi karya-karya baru untuk bisa mendapat posisi diketahui oleh para pembacanya. Berbanding terbalik dengan A.J, yang sangat teramat menyukai sastra. Baginya, sastra itu harus sepenuhnya sastra. A.J tidak menyukai buku anak - terutama jika tokohnya yatim piatu, juga tidak begitu menyukai novel yang kurang dari 150 halaman dan juga lebih tebal dari 400 halaman, dirinya juga muak dengan novel-novel tentang selebritis, tokoh politik sampai atlet yang menurutnya banyak ditulis oleh Ghost Writer.

Ada satu hal yang merupakan sebuah kesamaan bagi saya dengna A.J, kami sama-sama tidak menyukai sampul poster film. Namun, lebih dari itu, A.J bahkan tidak menyukai buku debut, chicklit, puisi atau terjemahan. Bahkan cenderung tidak menyukai buku-buku berseri. Tapi, ada satu yang sangat disukai oleh A.J yaitu Kumpulan Cerpen.


***


Kerapiannya terasa aneh, namun bukan tidak pernah terjadi sebelumnya. Saat mabuk pun ia rapi. ~ Hal 33


Saat Amelia tidak sengaja menyandung tumpukan buku yang kemudian menjadikannya berantakan, lalu Amy berusaha untuk menyusunnya kembali, justru A.J menolak dengan mengatakan bahwa buku-buku tersebut disusun berdasarkan peraturan tertentu. Peraturan yang memang dibuat khusus oleh A.J demi kerapian buku-buku di tokonya. Terdengar sangat menyenangkan, meski sayang Zevin tidak menjelaskan metode seperti apa yang digunakan oleh A.J dalam menyusun buku-bukunya.

Pengetahuannya akan sebuah buku membawa A.J untuk mendapatkan satu buku yang bernilai sangat mahal, yaitu Tamerlane. Buku yang saya pun baru mengetahuinya, merupakan buku karya E.A Poe yang ditulis saat masih muda dan diterbitkan dengan sangat terbatas. Buku tersebut sangat teramat bernilai, sampai-sampai A.J menyimpannya di sebuah lemari kaca.

Namun, suatu malam sebuah misteri terjadi, Tamerlane menghilang tanpa jejak dan bukti yang bisa membantu kepolisian mencari jejaknya. Kehilangan Tamerlane membuat A.J akhirnya terpaksa untuk terus bekerja dan bekerja, menyibukkan diri demi mengisi tabungannya. Dia selalu mengasihani dirinya sebagai Pria tua yang miskin. Hingga suatu malam, sebuah kejadian yang mendadak dialami olehnya.

Seorang anak kecil berusia dua tahun, ditinggalkan di dalam toko buku miliknya dengan sepucuk surat bahwa Sang Ibu menginginkan anaknya tinggal di antara buku-buku. Kejadiannya begitu mendadak, tidak ada sesuatu yang mampu membuat pembaca menduga akan kehadiran sosok gadis kecil yang lucu dan berkulit hitam ini.

Kehilangan Tamerlane namun kedatangan sosok kecil bernama Maya, membuat A.J berurusan dengan Kepala Kepolisian yang bernama Lambiase. Hubungannya di kemudian hari berubah menjadi semakin dekat dan semakin dekat. Ada banyak hal yang berubah dalam diri Lambiase dengan kehidupannya di Pulau kecil Alish.


***

Dari seribu kelas bahasa Inggris SMA ketika ia gagal menuntaskan bacaan wajib minimum… ~ Hal 37



Saya lumayan tertarik dengan bacaan wajib minimum yang membuat saya bertanya-tanya apakah ini merupakan hal yang benar atau hanya sekadar karangan Zevin. Meski hal ini kemudian membawa saya pada satu hal, dimana teman di Instagram saya adalah seorang guru bahasa Inggris. Dia sering membagikan sebuah kertas kerja yang berisi bantuan bagi murid-murid di sekolah dasar dalam memahami bacaan.

Sedikit informasi yang saya dapat, karena saya jarang bertanya pada mereka secara langsung. Para guru-guru ini juga membuat murid-murid mereka membaca novel-novel klasik kemudian menuliskan ulasannya dengan bantuan form yang dibagikan oleh guru mereka. Bahkan pada grade 4 atau 5, anak-anak tersebut sudah diberi tugas untuk membagikan pendapatnya serta ulasannya di depan kelas. Dan tentunya bacaan mereka merupakan buku-buku klasik.

Gerakan seperti ini, tentunya berarti bagi perkembangan tingkat literasi di setiap negara. Mengingatkan saya pada masyarakat Indonesia yang sudah mulai digalakan pengenalan dan kegiatan literasi di sekolah-sekolah. Bahkan di beberapa fasilitas umum yang saya temui di Bekasi, memberikan satu tempat sebagai pojok bacaan. Semoga dengan gerakan seperti ini, tingkat literasi masyarakat Indonesia berkembang dengan baik.


***

Ia pembaca, dan yang ia percayai adalah konstruksi naratif. Jika sepucuk pistol muncul di babak pertama, sebaiknya pistol tersebut ditembakkan di babak ketiga. ~ Hal 63


Demikianlah sosok A.J, yang memang seorang pembaca sejati. Kenapa saya menuliskan demikian? Karena beberapa kali saya mendapati, A.J sering mengaitkan kejadian dalam kehidupan nyatanya dengan beberapa karya yang sudah dibaca olehnya. Ingatannya tentang buku dan cerita sangat baik, meski tidak lebih baik dari Amy.

Namun, cukup untuk membuat saya merasa tak pantas untuk menyebut diri saya seorang pembaca buku sejati. Karena saya bahkan sering lupa dengan nama-nama tokoh, judul buku, alur cerita sampai kutipan-kutipannya. Semua itu bercampur-aduk dalam otak saya. Pun demikian di sahkan oleh karakter Marvel - Doctor Strange - dalam filmnya dimana dia bahkan mampu mengingat isi buku yang dibacanya.

Karena sering membaca dan merekomendasikan buku bagi para pengunjung tokonya, Lambiase yang bahkan tidak senang membaca akhirnya kembali menyukai kegiatan ini. Sesuatu yang baik, bukan? Mengajak orang lain untuk ikut membaca buku meski selera Lambiase dan A.J bertolak belakang. Tapi, hal yang unik adalah bahkan Lambiase membuat sebuah Klub Buku yang berisi para petugas kepolisian.

Apalagi yang dibaca oleh mereka, kalau bukan novel-novel yang bertema pembunuhan dan misteri serta detektif. Selain perkumpulan para petugas polisi yang menghabiskan waktu beberapa kali untuk berkumpul dan membahas novel yang sudah dibaca mereka bersama. Lucunya, pernah terjadi sebuah pertengkaran yang menyebabkan salah satu anggota Klub Buku tersebut mengacungkan pistol karena bentrok dengan pendapat temannya.

Bagi saya itu lucu, membayangkan mereka bersitegang hanya karena membahas sebuah buku. Meski saya juga pernah menyaksikan betapa sering perbedaan pendapat ini menjadi sebuah awal pemicu pertengkaran. Tidak aneh, bukan?

Selain membuat Lambiase menyukai kegiatan membaca, pada kenyataannya A.J menggunakan pengaruhnya pada gadis kecil yang lucu bernama Maya. A.J sering diminta untuk membacakan buku untuknya, hingga membangkitkan keinginan A.J untuk menambah koleksi buku anak-anak demi Maya. Dari kebiasaannya mendongeng, menjadikan Maya pandai dalam memilih buku, apalagi dia menghabiskan waktunya di toko buku tersebut.

Gadis cilik itu pun mampu membuat ulasan sejak dirinya masih belum mampu menulis apalagi membaca. Tapi, kebiasaan mendongeng yang dilakukan A.J justru membantunya mengenal huruf demi huruf hingga suatu ketika, Maya berhasil menunjukkan pada A.J susunan huruf merah : me-ra-h dari buku yang sedang dibaca.

***

Tapi sampul adalah anak tiri berambut merah pada penerbitan buku. Kami menyalahkannya untuk segala hal. ~ Hal 100




Dialog Amy dan A.J yang membahas tentang kaitan penjualan buku dengan sampul buku. Bagi saya pribadi yang memang sering merasa terjebak melihat sampul buku yang cantik namun isinya tak menarik atau sebaliknya, isi buku sangat teramat bagus namun sampul bukunya cukup aneh sehingga membuat saya merasa ini cukup tidak adil.

Bagaimana pun, saat ini dunia penerbitan tengah mengupayakan agar buku-buku yang terbit mendapat posisi yang bagus dengan isi yang seimbang melalui sampul buku yang didesain dengan baik. Simak saja perbincangan Amy dan A.J yang membahas sebuah buku dengan narasi yang baik, sebuah memoar sastra yang spektakular bagi Amy dengan caranya yang sederhana sambil membahas sampul bukunya yang sungguh tidak cantik apalagi menarik.


***

Kompetisi semacam ini tidak pernah adil. Orang menyukai apa yang mereka sukai dan itu bagus sekaligus buruk. Ini berkaitan dengan selera pribadi dan beberapa orang tertentu pada hari tertentu. ~ Hal 208


Saya menyukai penjabaran A.J dalam melihat bagaimana kompetisi itu bahkan sering memenangkan sebuah karya yang sesuai dengan selera. Siapa yang mampu menghakimi selera orang lain? Sejak beberapa tahun yang lalu, saya mulai menyadari bahwa sebelumnya saya sering memberikan penilaian pada orang-orang yang hanya membaca genre tertentu.

Dari pengalaman tersebut, akhirnya saya mengubah cara saya akan hal ini. Agar tidak menjadi orang yang mudah menilai apalagi menganggap remeh orang yang menyukai buku-buku tertentu atau genre tertentu. Toh, menghakimi selera orang tidak akan pernah adil.

Sejak bertemu dengan Maya, A.J memang mengalami perubahan, demikian pula dengan seleranya yang sebelumnya hanya mau membaca karya sastra kemudian membuka matanya dengan karya-karya lain. Itu pun sejak dia ingin merekomendasikan banyak buku untuk Maya yang berarti dia harus membacanya.

Pada pembuka saya mengatakan tentang ulasan yang berisi opini A.J terhadap buku yang dibacanya. Dan ulasan-ulasan ini tersemat pada tiap-tiap akhir bab, sehingga pembaca mungkin mendapat rekomendasi buku-buku yang judulnya belum pernah dibaca.

***

Maya, novel memang memiliki pesona tersendiri, namun ciptaan paling elegan dalam jagat prosa adalah cerpen. Kuasai cerpen dan kau akan menguasai dunia. ~ Hal 258


Ada banyak hal yang diceritakan dalam buku berisi 277 halaman, baik itu tentang penjualan buku, penerbitan, penulis sampai menulis. Rangkaian kegiatan tentang membaca dan menulis ada dalam buku ini. Konsep-konsep pengaruh digital pada penjualan buku juga diwakilkan melalui sudut pandang A.J. Namun juga pendapat-pendapat tokoh lain cukup menarik perhatian.

Nasib A.J dan kisah di balik sosok Maya, hingga tokoh-tokoh lainnya seperti Lambiase, Ismay, Daniel Parish sampai Amelia, semua saling berkaitan dan membentuk cerita yang membekas. Menarik dan sederhana, meski di beberapa bagian saya mendapati keanehan terutama perubahan dari flashback ke masa kini, rasanya terlalu kasar. Sehingga saya sempat merasa bingung.

Masih banyak hal menarik lainnya dalam buku ini yang bisa ditemukan saat membaca. Tentunya sudah banyak yang memberikan pernyataan terkait buku ini, bisa dilihat di Goodreads. Saya menyukai banyak hal dalam novel ini, walaupun pada awal-awal membacanya, saya sedikit kesulitan untuk masuk ke dalam cerita. Tapi, menjelang pertengahan ceritanya cukup mudah dinikmati.

Dari kisah A.J ini saya jadi semangat untuk menulis beragam opini atau rangkuman tentang buku yang telah saya baca. Agar nantinya bisa menjadi oleh-oleh bagi anak dan cucu saya di masa mendatang. Semacam sebuah pendapat bagi anak-cucu saya dalam memilih bacaan. Ah, tapi ini hanya semacam keinginan yang mungkin sementara usai membaca buku ini. Begitulah. [Ipeh Alena]

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.