17 January 2018

Rumah Perawan - Yasunari Kawabata : Sebuah Kenangan Lelaki Tua Dalam Kehidupannya Yang Ikut Menua

Rumah Perawan - Yasunari Kawabata : Sebuah Kenangan Lelaki Tua Dalam Kehidupannya Yang Ikut Menua


Rumah Perawan


Saya membaca Rumah Perawan bersama dengan seorang kawan, seorang narablog ayowaca.com, bernama Iyas. Awalnya saya penasaran dengan isi dari novela ini. Apalagi di dalamnya menyebutkan beberapa kutipan sajak yang cukup unik, sesuai dengan suasana yang dibangun oleh Kawabata.

Sama seperti cerita pendeknya dalam buku Daun Bambu, dimana menyajikan kisah yang kalau dikenang kembali, ternyata buku tersebut pun masih menyisakan kenangan yang lekat. Sebuah karya yang tidak mudah terlupa meski pernah dibaca sekali dan berbulan-bulan yang lalu. Namun, masih segar dalam ingatan seperti apa bentuknya.

Dan Rumah Perawan sama seperti buku sebelumnya. Membawa rasa penasaran saya semakin tinggi demi menggali lagi setiap cerita dalam tulisan Kawabata. Tapi, kali ini, saya mengizinkan diri saya sendiri untuk menuliskan apa yang muncul saat membaca novela yang cukup erotis bagi mereka yang tidak terbiasa. Ini saya tuliskan, untuk memberikan informasi agar tidak merasa membeli kucing dalam karung.



Kartu Tanda Baca 

Judul : Rumah Perawan (Nemureru Bijou)
Penulis : Yasunari Kawabata
Penerjemah : Asrul Sani
Halaman : 115
Cetakan Pertama, Juli 2016
Versi : Buku Cetak
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Rating : 4/5
ISBN : 9786024241209



"Malam-malam yang menyajikan kumbang dan anjing-anjing hitam dan mayat-mayat orang mati lemas." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Berkisah tentang seorang lelaki tua, yang sudah hilang kelelakiannya, bernama Eguci mampir ke Rumah Perawan Beradu yang cukup dikenal oleh banyak orang-orang tua - terutama lelaki - namun tidak banyak yang mengetahui terkait keberadaan rumah tersebut. Karena, pintu Rumah Perawan Beradu hanya terbuka bagi beberapa lelaki tua yang sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan oleh sang Perempuan Penginapan.

Konon, beberapa orang yang seusia Eguci tua, berhasil mendapatkan kembali semangat hidupnya usai tidur dengan para gadis di Rumah Perawan. Ini berdasarkan cerita dari Kiga tua yang merekomendasikan tempat tersebut padanya. Sebenarnya, yang membuat Eguci tua akhirnya memutuskan untuk datang ke Rumah Perawan adalah rasa penasarannya untuk memverifikasi fakta yang diceritakan oleh Kiga tua.

Bagian pertama dari novela ini, langsung dibuka dengan sebuah fakta yang cukup membuat pembaca penasaran. Ini sepertinya harus dicontoh oleh para penulis pemula, untuk mengejutkan pembaca di awal, dan menjaga rasa penasaran mereka hingga akhir. Sebuah peraturan bahwa Eguci tua dilarang melakukan hal yang tidak senonoh, seperti memasukkan jari ke dalam mulut gadis yang sedang tidur, atau hal sejenisnya.

Faktanya, memang Eguci tua membayar untuk menginap di dalam ruangan bersama dengan seorang gadis yang sudah ditidurkan dan tidak akan terbangun dengan cara apapun, tanpa mengenakan sehelai pakaian. Hanya dibekali selimut dan Eguci tua diminta untuk tidak membuat gadis itu kedinginan. Itu hal yang jahat, juga seperti menegur mereka saat bertemu di jalan pun hal yang jahat.

Fakta lainnya adalah para gadis itu memang sama sekali tidak tahu menahu, dengan siapa mereka menghabiskan waktu semalam saat dirinya tertidur. Mereka juga tidak akan pernah tahu, siapa nama pelanggan yang tidur dengan mereka, apa yang terjadi selama malam itu, sampai apa saja yang dilakukan oleh sang lelaki tua pada gadis-gadis itu. Mereka tidak akan mengetahui hal itu karena mereka benar-benar dalam kondisi tidur yang terlampau nyeyak.

Hal ini sempat membuat kening saya berkenyit, sebuah bentuk prostitusi baru yang menyajikan Gadis Perawan sebagai teman tidur, namun para pelanggan tidak dibolehkan untuk melanggar peraturan. Apalagi Perempuan Penginapan itu termasuk tegas menjelaskan bagaimana jika peraturan tersebut dilanggar, meski dengan gaya penyampaian yang cukup lembut dan terkesan dingin.

Gadis-gadis perawan itu, memang benar hanya menemani para lelaki tua yang sudah kehilangan kelelakian mereka, juga kehilangan semangat dalam hidup. Bagi mereka pengalaman tidur dengan para gadis ini membawa kenangan masa muda mereka, hingga bagi Eguci tua hal ini merupakan The Perfect Moment to end his life.





"Jika peraturan ini sampai dilanggar, maka jadinya rumah itu tidak akan lebih dari sebuah rumah mesum biasa." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Meski Eguci tua berkali-kali memiliki dorongan kuat untuk melanggar peraturan. Tapi, tetap saja dia berakhir menenggak dua pil tidur yang memang disediakan oleh sang Perempuan Penginapan sebagai bagian dari servis jika pelanggan mereka kesulitan untuk tidur.

Tidur dengan seorang gadis perawan yang tidak mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuh mereka. Membuat Eguci tua sempat dilanda sebuah pemikiran-pemikiran hingga menganggap bahwa para gadis yang sudah tidur dengannya, berbicara dan bertindak sesua dengan yang diinginkan olehnya.

Bagi Eguci tua, para gadis itu meski ditidurkan sebelum mengetahui siapa pelanggan mereka, tetap hidup meski tidur. Dalam artian, pikiran dan kehidupan yang mereka jalani ini ditenggelamkan dalam kepulasan yang dalam tapi tubuh mereka seolah bangun bagai seorang wanita. Menjadi tubuh seorang gadis, tanpa pikiran, demikian Eguci berpikir setiap memerhatikan gadis yang tidur dengannya.



"Berbaring dengan gadis seperti itu adalah suatu hiburan sementara, pencarian kebahagiaan yang telah sirna, sedangkan hidup masing berlangsung. Dalam tubuh seorang gadis muda ada suatu kemurungan yang menimbulkan dalam diri seorang lelaki tua kerinduan pada mati." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)


Kita sudah dijelaskan mengenai lelaki tua yang kehilangan kelelakiannya dalam kamus Eguci tua. Bisa membayangkan malam-malam yang dihabiskan oleh Eguci tua hanya memandangi wajah dan tubuh para gadis tersebut. Meski kemudian Eguci tua menyadari, dia ingin lebih, dia ingin para gadis itu berbicara dengannya.

Tapi, begitulah peraturannya, mereka dilindungi oleh tidur panjang mereka. Yang mengingatkan Eguci tua pada kematian. Berkali-kali dirinya mengenang masa lalunya bersama para gadis yang sering bergonta-ganti.  Baginya cukup aneh, karena dia tidak pernah mengingat mereka, namun ketika berdampingan dengan gadis tidur itu, dirinya mulai dirasuki kenangan-kenangan masa lampaunya.

Bagi saya, cerita yang disajikan dalam novel ini cukup kelam. Tentang seorang lelaki yang menginginkan kematian karena tidak lagi memiliki gairah untuk hal yang membuatnya semangat. Hanya ada satu yang selalu dinanti olehnya, berdampingan sambil tidur bersama para gadis. Itulah yang membuat Eguci tua senantiasa meminta obat tidur yang sama dengan si gadis tersebut. Demi tidur panjang yang membuat dirinya selalu bermimpi tentang masa muda.




"Dari zaman purba lelaki tua menganggap bau yang disebarkan gadis-gadis bagai air mukjizat kemudaan." ~ Rumah Perawan (Yasunari Kawabata)



Dari kacamata saya pribadi, Kawabata bukanlah bermaksud untuk menjabarkan betapa sempurnanya tubuh para perawan melalui deskripsi detailnya. Mungkin ini sebagai pengalihan, karena biasanya orang hanya akan fokus pada sesuatu yang menarik bagi dirinya. Sebab, saya mendapati beberapa bagian yang merupakan pemikiran Eguci.

Seperti ketika dia mempertanyakan, apa yang dipikirkan oleh orangtua para gadis ini sehingga membolehkan anak-anak perempuan mereka yang masih perawan tidur bersama dengan lelaki tua yang berbeda-beda? Kekhawatiran ini juga hadir dalam kenangan tentang tiga anak perempuannya yang sudah menikah dan menjadi sosok ibu bagi cucu-cucunya.

Kemudian pemikiran tentang alasan apa yang membuat si Perempuan Penginapan mau menyajikan servis demikian bagi para lelaki tua. Bagaimana dia mendapatkan koleksi perempuan muda yang bahkan tidak dikenal identitasnya bagi Eguci tua. Dia membayangkan masa depan para gadis ini, akan seperti apa, akan berkelakuan bagaimana dan segala hal mengingatkan banyak hal tentang perempuan-perempuan lain yang pernah melayaninya.

Terutama tentang kehidupan. Bagi seorang lelaki tua yang sudah tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan. Eguci tua cukup memikirkan banyak hal dalam kehidupannya. Yang diwakili dari rentetan bayangan-bayangan pada masa lalunya bersama para geisha dan perempuan yang pernah ditemuinya di klab malam. Hingga, terakhir, sebelum dia meminta pil tidur kembali, dia memikirkan Ibunya.

Sosok Ibu yang membuat Eguci Tua terguncang. Bagai seorang anak yang memiliki berkarung-karung kerinduan pada sang Ibu dan mengingikan pertemuan dengannya hingga bisa kembali menghirup udara yang sama dengan sang Ibu. Seolah itu adalah perhentian terakhir dalam kehidupannya. Dan Eguci tua terombang-ambing bersama bayangan tentang sosok Ibunya.


***


Pendapat saya sama seperti di akun Goodreads. Bahwasannya saya tidak mendapati sesuatu yang WAH pada cerita ini. Tapi entah kenapa, karya ini, bahkan hingga saat ini saya menuliskannya, masih lekat di dalam ingatan dan hati saya. Beberapa pengulangan ketika Eguci ditemani nyanyian alam berhalusinasi kemudian berpikir tentang kehidupan.

Betapa sebenarnya menyedihkan sekali bagi seseorang yang telah kehilangan semangat mudanya. Hingga ingatan tentang The Perfect Moment To Die, mengingatkan saya kembali pada harapan hidup dan betapa sulit bagi mereka para orang tua yang sudah benar-benar sepuh, untuk melanjutkan kehidupan. Dimana Zaman yang mereka tempati ini berbeda dengan yang mereka kenali dulu. Sedangkan semangat mereka telah memudar namun kehidupan di sekeliling mereka terlampau cepat hingga rasanya tak mampu kaki-kaki lemah mereka mengejarnya.

Sama seperti Eguci tua yang terpanggil setiap kenangannya dari tidur dengan gadis perawan. Saya pun terpanggil kenangan saya, meski bukan dari tidur bersama gadis karena saya lebih menyukai pria, tapi dari tidur bersama buku-buku yang sudah pernah saya baca. Seperti saat ini, ingatan saya kemudian tertuju pada sosok tua yang menjadi ayah dari ayah saya.

Dia kupanggil Kakek, yang kini sudah menginjak usia 70 tahun. Dia tak lagi betah tinggal bersama anak-anaknya, namun kerap merindukan kehadiran dan keramaian mereka. Dia tak lagi bisa menyesuaikan diri dengan dunia yang sudah begitu cepatnya hingga membuatnya kerap merasa kelelahan dan tak mampu melanjutkan kehidupan. Dia pula yang sering mengatakan padaku, keinginannya untuk segera mati namun kenapa Tuhan tak membuatnya mati? Yang kemudian membawaku pada rasa rindu teramat. Membuat mataku basah oleh cairan yang entah ini kunamakan kerinduan atau kesedihan atau justru rasa kasihan? Yang kemudian membuatku tak ingin berhenti berdoa untuknya. 

Dan semoga pembaca tidak berpikir yang bukan-bukan, hanya karena seorang lelaki tua berkeinginan untuk mati. Karena, sesungguhnya menjalani hari tua bukan hal yang ringan. Jika saja semua orang tidak langsung berpikiran buruk tentang orang-orang yang merindukan kematian daripada kehidupan dan orang-orang di sekitarnya, mungkin akan banyak para orang tua yang menyeritakan betapa mereka terkadang lelah untuk terus menerus menyusahkan orang lain. Mereka terkadang lelah untuk terus menerus menjadi tak berdaya. Semoga saja orang-orang yang berpikiran buruk terhadap para orang tua ini berkurang, alih-alih mereka menjadi sosok yang mendoakan kebaikan untuk mereka.

Sial betul Kawabata, membuat saya terseret-seret dengan pemikiran lelaki tua ini, seolah saya tengah mendengar kembali gaungan suara Kakek yang berkali-kali meminta agar kehidupannya disudahi saja karena kelelahan yang luar biasa. Ah, Kakek, sungguh saya masih membutuhkanmu ;). And those tears won't stop dropping.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.