Kappa : Sebuah Cerminan Masyarakat Modern Di Jepang

November 02, 2017

Kappa : Sebuah Cerminan Masyarakat Modern Di Jepang



Kappa Ryunosuke Akutagawa



Kappa yang ternyata merupakan sosok youkai ini baru saya sadari pernah saya lihat beberapa kali dalam tayangan anime. Namun, saya benar-benar mengerti namanya setelah membaca novel karya Ryunosuke Akutagawa yang berjudul sama, Kappa. Sebuah novel yang konon merefleksikan kehidupan masyarakat modern di Jepang. Sebuah karya satir tentang kehidupan yang sudah semakin aneh dari sudut pandang Akutagawa.

Membaca Kappa membuat dahi saya mengernyit, novel yang tipis, hanya berisi sekitar 80-an halaman saja, sukses membuat saya harus mengulang-ngulang kalimat yang saya baca. Itulah kenapa saya harus terus menjaga ingatan terkait perkataan, pikiran dan dialog apa yang sudah terjadi di bab-bab sebelumnya. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan menemukan 'sesuatu' yang berguna.

Dibanding dengan buku terdahulunya yang berjudul "Lukisan Neraka", dimana ceritanya yang kelam dan berunsur magis menjadi daya tarik tersendiri. Tapi, bukan berarti Kappa ini tidak menarik, hanya saja cerita yang dikemasnya ini berbeda, berisi pengalaman seorang pasien di rumah sakit di sebuah desa. Narasi yang dibawakan oleh sang pasien ketika mengalami kehidupan di dunia Kappa menjadi semakin aneh karena kehidupan para Kappa ini sedikit berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat Jepang.

Seolah dunia Kappa memiliki sistem pemerintahan dan kehidupan sendiri hingga filosofi mereka yang ternyata sangat memuja kehidupan. Sosok youkai ini mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat mereka berpijak. Seolah mereka memiliki sistem tubuh yang hampir sama dengan bunglon, sehingga banyak orang yang setelah melihat sosok Kappa kemudian seperti menghilang begitu saja. Dengan kemampuan ini juga mereka mampu bersembunyi dengan baik tanpa bisa tertangkap apalagi disimpan dalam museum.

Sejujurnya, saya bingung ingin menulis apa tentang buku ini. Terlebih pemahaman saya sangat sedikit, saya hanya mampu mengaitkan sedikit saja hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar. Apalagi menulis kritikan, saran atau semacam menyematkan ilmu yang berhubungan dengan novel ini. Di luar dari jangkauan saya. Jadi, sepertinya saya hanya menceritakan isi dari buku ini, kemudian sedikit memberikan pendapat, setelah itu mungkin saya akan kembali membolak-balik lembaran novel ini sekali lagi untuk memastikan bahwa saya tidak salah langkah.


Kartu Tanda Baca

Judul : Kappa || Penulis : Ryunosuke Akutagawa || Halaman : 83 || Cetakan Pertama, Juni 2016 || Versi : Buku || Bahasa : Indonesia || Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia || Rating 5/5 || ISBN : 9786024240950



Bagaimana Kappa Memiliki Keturunan Dan Berkeluarga


Ini bagian aneh tapi nyata menurut saya, bagaimana seekora Kappa lahir ke dunia. Dalam kehidupan Kappa, anak-anak yang akan lahir ke dunia akan mereka minta persetujuan terlebih dahulu sebelum mereka lahir. Itu pun jika sudah cukup umur berada dalam kandungan Kappa betina. Sang ayah-lah yang nantinya akan bertanya, disaksikan seekor Kappa dokter, apakah dia mau menjadi anak mereka dan lahir ke dunia?

Jika menolak? Maka sang dokter akan dengan sigap menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Kappa betina, seketika itu juga calon Kappa menghilang tanpa jejak. Seolah tidak pernah ada di dalam perut Kappa betina. Seperti sulap, cara menghilangkan anak dalam kandungan. Atau seperti terkena guna-guna, ketika calon bayi di dalam rahim menghilang dengan tiba-tiba.

Menurut mereka, ini sebagai langkah yang adil bagi kehidupan Kappa. Seketika saya teringat dengan pemikiran banyak orang yang sering menanyakan, "Mengapa saya terlahir ke dunia?". Saya justru melihat secara luas, banyak orang - katakan saja sebagian manusia yang ada di dunia ini - pernah mempertanyakan hal ini dalam kehidupannya.

Karena, bahkan lagu favorit saya yang dinyanyikan oleh Dewa 19 berjudul Kirana, di situ jelas tertulis lirik "Ayah Bunda tercinta satu yang tersisa, mengapa kau tiupkan napasku ke dunia?". Dari kisah kelahiran Kappa ini juga, beberapa sumber menyatakan karya ini juga sebuah refleksi kondisi kesehatan mental Akutagawa.



"Beberapa di antara anak laki-laki dari keluargamu, jatuh cinta dengan babu-babu mereka, sejumlah anak perempuan kawin dengan supir mereka." ~ Hal 18


Jelas, ini memang sebuah sindiran perubahan level sosial akibat dari pernikahan antar keluarga dari tingkat sosial berbeda. Dimana biasanya dalam kehidupan masyarakat Jepang yang saya tahu dari karya-karya sastra mereka, anak-anak perempuan akan tetap menikah dengan yang sederajat dengan mereka. Seperti kehidupan Oda Nobunaga yang mempersunting istri dari keluarga samurai demi menjalin perdamaian antar klan.

Meski, tidak bisa dipungkiri, perempuan simpanan mereka dipilih dari banyak lapisan sosial. Hanya istri sah mereka yang utama saja yang diwajibkan memiliki garis keturunan yang sederajat. Ini berlaku bagi lelaki. Berbeda dengan perempuan yang justru tidak memiliki pilihan karena jodoh mereka ditentukan oleh sang Ayah. Mereka hanya boleh mengikuti peraturan yang ada, tanpa bisa menolak apalagi meminta menikah dengan lelaki yang mereka sukai (terutama kalau tidak sederajat).



Di dunia Kappa, bahkan keputusan hubungan pernikahan atau kencan diputuskan dari seekor Kappa Betina. Merekalah yang memang ditakdirkan untuk mengejar para Kappa jantan. Dalam hal ini, benar-benar dikejar, meski terkadang Kappa betina juga menggoda Kappa jantan agar mengejar mereka namun dengan rangsangan-rangsangan yang membuat Kappa jantan tak mampu menolak.

"Adalah wajar bahwa kau tidak tahu bagaimana perasaan kami karena kau bukan Kappa. Tetapi sekali-sekali aku ingin Kappa-kappa betina yang konyol itu mengejar-ngejarku." ~ Hal 26

Dalam pernyataan sang filsuf bernama Mag, saya seketika mengaitkan satu hal dari novel 3 Cinta 1 Pria yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Kisah seorang seniman yang digemari banyak perempuan. Mungkin saya berlebihan menganggap kondisi ini sama seperti kehidupan Kappa, dimana para perempuan ini mati-matian mengejar sosok lelaki.

Walaupun sebenarnya saya pun sudah mendapati beberapa kasus yang sama seperti para Kappa ini, dimana perempuan-perempuan banyak yang dengan bersungguh-sungguh mengejar lelaki. Pun saya akan mengatakan wajar ketika Akutagawa menyindir kondisi demikian melalui kehidupan Kappa, atau justru setuju dengan kehidupan para Kappa ini? Karena pada mulanya budaya yang masih berakar yaitu lelaki-lah yang harus mengejar perempuan. Sehingga perumpamaan dalam kehidupan Kappa ini dipandang sebagai cerminan kehidupan modern.


Source : Google Image



Kappa Juga Memiliki Pabrik Buku Dan Agama


Di halaman 32, diceritakan dengan jelas bagaimana produksi buku-buku di negeri Kappa yang sangat banyak dan pembuatannya pun tidak perlu menunggu waktu yang lama dan panjang. Karena cukup membubuhkan bubuk ajaib yang bisa memproduksi sendiri kata-kata yang ada di dalamnya. Kali ini otak keledai-lah yang menjadi perumpamaan akan kualitas buku-buku yang diproduksi secara massal itu.

Seperti contoh salah satu buku yang diterbitkan berjudul Kata-kata si Tolol yang ditulis oleh Filsuf Mag. Saya hanya mampu mengutip kalimat-kalimat dari isi buku tersebut, tanpa mampu berkata apalagi berpendapat apa-apa. Terdapat pada bab XI di halaman 48 - 50.

"Menurut yang tolol semua adalah tolol, kecuali dia sendiri."

"Apa yang paling ingin kita banggakan ialah yang tidak ada pada kita."

"Biasanya apa yang khas tentang diri kita terdapat di luar kesadaran kita."

"Membela diri sendiri lebih sulit daripada membela orang lain. Bagi yang ragu-ragu tentang hal ini, biar ia melihat bagaimana mudahnya pengacara membela perkara pihak lain."

"Mengurangi kebutuhan kebendaan tidak selalu membawa ketentraman pikiran. Agar dapat hidup dengan tenteram, keinginan-keinginan kebatinan perlu dikurangi."


Pada kutipan terakhir, ingatan saya membawa saya kembali pada beberapa tahun silam, sebuah berita tentang seorang lelaki yang sanggup hidup hanya dengan beberapa helai pakaian, rumahnya kosong melompong tidak banyak dipenuhi perabotan. Hanya beberapa barang dan perkakas yang memang sangat dibutuhkan seperti tatami, satu meja, satu kursi, bahkan piring dan gelasnya pun terbatas.

Menurut pengakuan sang lelaki berambut gondrong tersebut, dirinya tengah mempraktekkan gaya hidup ajaran Zen. Dimana ini merupakan ajaran yang pernah dibawa oleh Buddha, tentang kesederhanaan dalam hidup yang akan membawa manusia pada kebahagiaan. Sejalan dengan kutipan yang tulis oleh si filsuf Mag.

Saya juga menemukan beberapa bagian dari ajaran Zen dari kehidupan para Kappa ini. Dimana dalam Zen, pertanyaan akan jawaban dalam kehidupan itu bukan sesuatu yang penting, bukan pula bagaimana hubungan dengan Tuhan apalagi tentang kematian. Tapi, sesuatu yang dijalani hari ini, saat ini, itulah bagian terpenting dari ajaran Zen.

"Sudilah diingat bahwa agama kami memuja hidup. Hayatilah hidup dengan sepenuhnya. Itulah ajaran yang diberikan dewa kami. Pohon kehidupan." ~ Hal 65 


Tapi pada halaman 66, kita akan dihadapi kenyataan bahwa seorang pendeta penganut ajaran Memuja Kehidupan pun tidak memiliki ke-optimis-an terhadap apa yang dia ketahui. Dirinya justru tak mempercayai dewa dan eksistensinya. Kembali lagi saya menarik ingatan pada isi pidato Yasunari Kawabata yang disematkan dalam buku berjudul Daun-daun Bambu.

Sahabatnya, pendeta Ikkyu telah dua kali melakukan kontemplasi bunuh diri. Meski beliau merupakan orang yang paling menyenangkan bagi anak-anak kecil. Kenyataan bahwa Ikkyu adalah Pendeta Zen yang paling keras dan penuh renungan, serta merupakan putra Sang Kaisar yang memasuki kuil pada usia enam tahun. Namun, saat itu pula ia bermasalah dengan keraguan terdalam tentang agama dan kehidupan (11). ~ Daun-daun Bambu - Yasunari Kawabata


Saya menggaris bawahi kondisi yang sama dengan pendeta kappa dengan pendeta Ikkyu yang memiliki keraguan akan agama dan kehidupan. Dimana kasus bunuh diri terjadi juga pada seniman kappa bernama Tock. Dia merupakan teman dekat narator, sebelum kematiannya dia menuliskan sebuah sajak, terkait perenungan dalam kehidupannya.

Sejenak pernyataan Mag kemudian bergelayut ketika dia mengatakan di halaman 59, "Betapapun, kalau kami kappa ingin hidup bahagia, kami harus... Menurut hematku, kami harus percaya akan sesuatu yang lebih besar dari kappa." Menurut ajaran Zen, kepercayaan itu seperti lukisan yang kita pajang di dinding. Kemudian berusaha meyakini bahwa itu adalah lukisan yang indah. Dan ketika menyadari bahwa keyakinan itu sepenuhnya hadir, kesan itu sepenuhnya terasa nikmat. Jadi, tidak ada paksaan akan apa yang harus dipercaya, menjalani kehidupan tanpa bertanya itu merupakan kebahagiaan yang sejati.

Namun, Mag sendiri, berusaha untuk mencari tahu seperti apa rasanya bergantung pada - sesuatu yang lebih besar dari kappa, itu sendiri. Sesuatu yang bahkan memunculkan keraguan, sesuatu yang mereka percaya sebagai dewa dari Pohon Kehidupan, namun sejatinya masih banyak yang masih belum memahami apakah ini diperlukan atau tidak dalam menjalani kehidupan para Kappa.

Yang kemudian menjadi pertanyaan mengganjal dalam diri saya adalah apakah ini yang menjadi salah satu alasan, dari banyaknya alasan, sebagian orang di Jepang memilih untuk bunuh diri? Menurut Emile Durkheim, Bunuh diri adalah fakta sosial, yaitu produk dari tujuan, harapan dan pengaturan sosial yang berkembang dari hasil interaksi seseorang dengan yang lainnya.

Artinya lingkungan juga berpengaruh terhadap alasan-alasan yang membuat seseorang komitmen untuk bunuh diri. Namun, alasan-alasan yang hanya sedikit ini tanpa analisa lebih lanjut tidak bisa dijadikan patokan apalagi tolak ukur sebagai penyebab terjadinya bunuh diri massal yang dilakukan oleh sebagian orang Jepang. Saya pribadi akhirnya hanya bisa terdiam dan menyimpan alasan-alasan ini, meski tidak bisa memastikan dengan yakin apa penyebab dari fenomena itu semua.

***

Tentunya ini juga sebagai cerminan kehidupan Akutagawa yang saat menulis novel ini sudah mengalami masa-masa alienasi yang penuh dengan ketakutan. Semua pertanyaan dalam kehidupannya diwakili melalui dialog-dialog para tokohnya dalam buku ini. Pertanyaan akan kehidupan merupakan hal yang menonjol dalam cerita ini. Apalagi, karya Kappa termasuk dalam karya-karya terakhir sebelum dirinya kemudian bunuh diri.

Anda mungkin bisa mencari tahu terkait kehidupan Akutagawa ini, namun memang banyak sumber sudah menuliskan. Bahwasannya Ibunya mewarisi mental disorder pada Akutagawa, sehingga kehidupannya penuh dengan perjuangan melawan halusinasi dan ketakutan hingga kemudian memutuskan untuk bunuh diri. Namun, perjuangannya inilah serta karya-karyanya yang luar biasa, yang menjadi alasan nama Akutagawa menjadi nama salah satu penghargaan dalam bidang literasi.


***

Beberapa teman saya berpendapat, bahwa karya ini sulit dicerna olehnya. Bagi kalian yang berminat untuk membaca dan mencari tahu kehidupan dunia Kappa dari buku ini, saya sarankan untuk membacanya kata demi kata. Jangan memaksakan otak kalian untuk langsung mengerti dan memahami. Teruslah membacanya meski dahi kalian berkerut, atau otak kalian menjerit karena tidak dapat mencernanya.

Bahkan ketika harus kembali mengulang lembar demi lembar yang sudah dilewati demi bisa mengambil garis lurus tentang apa sebenarnya novel ini, berbanggalah. Karena dengan begitu kalian mengalami perputaran waktu yang akan membawamu terus menggali lagi dan lagi kehidupan para Kappa ini. Jangan khawatir, karena sebenarnya kita hanya perlu membacanya tanpa berkespektasi apa-apa. Cukup membacanya saja, kisah kehidupan para Kappa.



Selamat Membaca,


Salam Literasi

  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. Wah bagus mbak.. Makasih sudah berbagi ya, jd pengin bacq

    ReplyDelete

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.