28 November 2017

Eliza And Her Monsters - Monstrous Sea Journey

Eliza And Her Monsters - Monstrous Sea Journey


Eliza And Her Monsters




Membaca Eliza and Her Monsters bukan saja menikmati romansa ala-ala remaja. Karena romansa di dalam novel ini tidak begitu banyak, memang berisi tentang bagaimana tokoh di dalamnya berusaha untuk saling melucuti topeng diri sendiri untuk bisa tampil apa adanya di depan orang yang mencintaimu. Namun, kehidupan dua tokoh yang memiliki persamaan : Memiliki Trauma.

Baik karakter Eliza dan Wallace, keduanya memiliki kehidupan yang unik. Berbeda dari apa yang akan dibayangkan. Young-Adult, demikian genre dari buku ini, merupakan sebuah genre yang berisi tokoh-tokoh yang sudah bukan lagi remaja tanggung tapi belum juga bisa dikatakan sudah dewasa. Ibaratnya meminjam judul lagu dari Britney Spears, Not a girl not yet a woman atau Not a boy not yet a man.

Monster di sini, merupakan karakter rekaan yang diciptakan oleh Eliza. Sebuah maha karya yang dibaca oleh ribuan orang di sebuah forum. Monsterous Sea merupakan webcomics yang dibuat oleh Eliza - Mother of Fandom - yang memang gemar menggambar. Berawal dari sebuah forum berjudul Children of Hypnos, dia berkenalan dengan Max dan Emmy dimana keduanya-lah yang memberikan semangat pada Eliza untuk membuat cerita dalam bentuk komik.

Eliza mengakui, jika dirinya tidak mampu menuliskan sebuah cerita dengan kumpulan kata-kata seperti novel atau cerpen. Namun, dia bisa mewakilinya melalui sebuah gambar. Itulah kenapa kemudian Monstrous Sea menjadi berita hangat kekinian, sesuatu yang dibaca oleh banyak orang melalui sebuah forum online.

***

Kartu Tanda Buku

Judul : Eliza and Her Monsters || Penulis : Fransesca Zappia (@chessiezappia) || Halaman : 385 || Versi : Hardcover || Bahasa : English || Penerbit : Greenwillow Books || Rating : 5/5 || ISBN : 978-0-06-229013-7 

***

Jadi teringat dengan fenomena beberapa waktu lalu di sebuah forum terbesar di Indonesia. Kaskus. Tentu mungkin masih ingat karena cerita tersebut sudah diangkat ke dalam sebuah film yang minggu ini tayang di beberapa bioskop. Siapa yang tak kenal dan masih belum membaca sebuah thread yang berisi cerita tentang seseorang yang kerap diganggu makhluk halus di sebuah rumah besar di kawasan Jogjakarta.

Saya menggunakan ilustrasi dari thread tersebut sebagai perwakilan bagaimana Monstrous Sea menarik perhatian publik. Sebutlah saya seorang fandom atau fans yang terus menantikan jadual tayang cerita setiap minggu. Sementara si penulis thread yang mengalami hal tersebut saya wakilkan sebagai Eliza. Kemudian dua orang kawannya Max dan Emmy bertugas sebagai admin yang membantu dalam menjawab beberapa pertanyaan sekaligus membantu Eliza mengelola forum.

Baiklah, sebagai seorang Creator, Eliza dituntut untuk terus memberikan cerita terbaru tepat pada waktunya. Karena, banyak para fansnya yang bahkan sudah menanti sebelum LadyConstellation muncul. Apalagi bagi Eliza memberikan yang terbaik untuk para fansnya merupakan hal yang wajar karena itulah dirinya tidak pernah membiarkan barang sedetik-pun lepas dari buku sketsanya. Dia senantiasa menghabiskan waktunya dengan menggambar sketsa story-line untuk diterbitkan. Juga selalu siap sedia dengan ponselnya, jika sewaktu-waktu kedua temannya itu menghubungi.

Dunia Eliza adalah dunia yang tak mampu dijangkau oleh kedua adik laki-lakinya dan kedua orangtuanya. Mereka hanya mampu berusaha memahami tanpa bisa bertanya tentang apa yang dilakukannya. Ibu dan Ayahnya Eliza menganggap dirinya hanya mengerjakan sebuah hobi. Sementara bagi Eliza, ini bukan sekadar hobi. Tapi juga sebuah pencapaian yang pernah dilakukan oleh seorang introvert sepertinya.

***

Berbicara masalah introvert, mungkin banyak yang sudah mengerti bagaimana kehidupan para introvert ini. Kalau saya pribadi mungkin ambivert, berada di tengah-tengah. Ketika sendirian menjadi hal yang tidak masalah bagi saya, namun juga tidak masalah jika berada di keramaian. Tapi, bagi remaja seperti Eliza, menjalani kehidupan sekolah saja sudah memusingkan, belum lagi harus berhadapan dengan kondisi sosial yang membuatnya justru muak.

Baginya, orang-orang yang ada di sekitarnya merupakan wujud dari Monster itu sendiri. Dimana ketika Eliza berusaha untuk tidak mengganggu, justru dialah yang diganggu. Ketika dia berusaha untuk sendiri, justru banyak orang menganggapnya aneh. Itulah kesulitan yang memang sering dialami oleh para pelajar baik di Junior School maupun High School. Karena itu juga yang sering disematkan dalam banyak novel, terkait putaran kehidupan yang tak lagi dimengerti bahkan oleh si manusia itu sendiri.

Saking pendiamnya, Eliza memang tidak banyak berbicara di sekolah. Dia hanya senang menyendiri, duduk sambil membuat sketsa. Sudah, itu saja sudah membuatnya bahagia, namun, benarkan itu sebuah kebahagiaan sejati?

***

Sudah hal yang pasti dalam kehidupan remaja dan cerita di dalamnya. Dimana posisi percintaan dan romansa lekat dengan kehidupan mereka. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dimana novel ini tak hanya bercerita tentang romansa, tapi lebih dari itu. Karena memang, bagi saya romansa dalam novel ini hanya sekitar 40% saja. Sisanya? Kehidupan remaja saat ini.

Seperti ketika orang jatuh cinta pada umumnya, dimana kehidupan dan fokusnya bisa teralih dari apa yang biasanya dilakukan. Seperti Eliza yang kehidupannya hanya dua : di Monstrous Sea forum aka online dan kehidupan offlinenya berada di hadapan buku sketsa. Dan ketika pertemuannya dengan Wallace, justru membuat hidupnya menjadi lebih berwarna.

Wallace berhasil menarik Eliza keluar dari tempurung kehidupannya. Mengenalkannya pada dunia yang tak lagi berisi para fans dan Max serta Emmy saja. Tapi berisi banyak orang yang kemudian membuka matanya pada apa yang disebut sebagai Fans atau Fandom. Berusaha mendengar secara langsung apa pendapat mereka dan bagaimana antusias mereka terhadap cerita yang dibuat oleh Eliza dalam bentuk anonim.

Siapa juga yang sanggup untuk mengelak perubahan yang datang secara tiba-tiba? Saat waktu yang Eliza punya untuk membagi dunianya dengan dunia nyata justru membuatnya jungkir-balik. Hingga dia berada dipersimpangan antara nyata dengan tidak nyata. Dia melupakan tanggal hanya demi mengerahkan seluruh energinya pada MS. Sampai dia lupa bahwa hari telah berlalu dan tanpa disadarinya dia menjalani kehidupan auto-pilot.

Dirinya tak berada di tempatnya berada. Dia menjalani kehidupan yang tanpa sadar dia jalani, seolah rutinitas belaka namun tetap tanpa kehadiran secara utuh. Untuk itulah, keluarganya sangat mengkhawatirkan dirinya. Meski bagi Eliza ini semua demi bisa menyelesaikan cerita MS tepat pada waktunya. Dia tak ingin mengecewakan para fansnya terutama karena dia pernah kecewa sebagai seorang fans dari cerita The Children of Hypnos yang tak kunjung selesai.

Mindfulnes demikian istilah untuk kehidupan dimana orang tersebut menjalaninya tanpa kesadaran secara utuh. Istilah ini belakangan semakin ramai, karena sepertinya banyak yang mengalami hal tersebut. Akibat pengalaman ini, serta beberapa hal besar yang dialaminya, kemudian Eliza mengalami apa yang disebut sebagai Panic Attack. Dimana dia ditemukan pingsan dengan darah yang mengalir deras di kepalanya.


We ascribe value to the things we care most about, but sometimes we don't stop long enough to take a look at the bigger picture . ~ 



***

Hal lain yang membuat novel ini unik, yakni kondisi kedua remaja yang tengah jatuh cinta ini, mereka tetap fokus dengan apa yang menjadi impian keduanya. Saling mendukung satu sama lain, hingga memberikan apresiasi yang membuat mereka kembali bersemangat. Jadi, bukan semacam pasangan yang rela menggadaikan impian mereka demi cinta.

Tidak hanya itu, di sini, hubungan keluarga juga ditonjolkan dalam bentuk yang lebih sederhana. Betapa keluarga merupakan pendukung nomor satu bagi beban kehidupan yang berat. Eliza terutama, yang merasa bahwa dia tak membutuhkan keluarganya dan ini dituliskan tidak secara gamblang. Kita hanya bisa melihatnya berdasarkan karya yang dibuat olehnya. Dimana para tokoh tak memiliki orangtua yang berada di dekat mereka. Beberapa fansnya sempat mempertanyakan hal ini, namun sedikit demi sedikit Eliza kemudian menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya.

Sementara di sisi lain, Wallace mulai membuka dirinya, bercerita pada Eliza tentang masa lalunya dengan sebuah email. Dia tak berani dan tak ingin membahasnya, bahkan ketika mengetik surat tersebut, Wallace merasakan tubuhnya menggigil dan hampir pingsan. Di sini inilah, terbukti bahwa peristiwa tersebut membuat Trauma yang mendalam pada Wallace.

Apa yang dilakukan keduanya dengan trauma yang mereka alami? Tentunya, baik Eliza dan Wallace mengambil keputusan yang tepat. Mereka akhirnya datang ke psikiater dan mendapatkan beberapa terapi yang membuat keduanya akhirnya merasa lebih baik dan tampak berbeda. Mereka kembali melihat dunia dengan warna-warni yang berbeda.

***

Berbicara masalah ketenaran, Eliza dan Wallace keduanya juga termasuk tenar. Tapi Eliza memang lebih tenar lagi, karyanya dibaca banyak orang. Bahkan merchandise yang baru saja diunggah ke website sudah mampu menyedot pembeli yang kemudian menjadi penghasilan terbesar bagi Eliza. Bahkan dia sudah sanggup untuk membayar biaya kuliahnya sendiri.

Namun, di balik dunia online dan ketenaran. Tentu akan menghadapi banyak hal terutama haters. Meskipun jumlah fans yang mendukung lebih banyak dari haters, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa keberadaan mereka bisa menjatuhkan semangat yang pernah ada sampai-sampai tak menemukan motivasi untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai.

Dalam surat yang ditulis oleh penulis The Children of Hypnos, beliau mengatakan, "If you want the motivation back, you must feed it. Feed it everything. Books, television, movies, paintings, stage plays, real-life experience. Sometimes feeding simply means working, working through nonmotivation, working even when you hate it."

Kalimat inilah yang kemudian menjadikan Eliza mau maju untuk menyelesaikan Monstrous Sea meski saat itu dia sudah terlalu lelah. Bahkan untuk menggenggam pensil. Dunia online yang gemerlap karena ketenaran memang tampak menjanjikan, tapi kelelahan akibat tidak dapat memenuhi ekspektasi orang lain, merupakan hal yang mampu menyedot diri kita dari kehidupan.

Creating art is a lonely task, which is why we introverts revel in it, but when we have fans looming over us, it becomes loneliness of a different sort. We become caged animals watches by zoo-goers, expected to perfom lest the crowd grow bored or angry. It's not always bad. Sometimes we do well, and the cage feels more like a pedestal. ~ Pg 358


***

Membaca Eliza and Her Monsters tidak hanya menyelami kata demi kata dari Fransesca Zappia. Tapi juga mengenal dunia 'kekinian' dimana ternyata kondisi sosial yang ada, hampir sama dengan yang terjadi di sini. Selain itu, juga mengenal, bagaimana proses kreatif sebuah karya yang menjadi sorotan publik.

Tentunya, dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, membuat saya tidak sabar untuk terus melanjutkan bab demi bab hingga akhirnya menyelesaikan novel ini. Kesan saya? Saya ingin membaca karya Zappia yang lain seperti The Children of Hypnos dan Made You Up.

Faktanya nove ini dipublikasi setelah tayang di Wattpad, sebuah media perantara bagi para penulis yang ingin mengetahui apakah karyanya layak dicetak atau tidak. Dan saat ini, buku-buku yang cukup populer di wattpad banyak diterbitkan dalam bentuk cetak. Bagi saya yang tidak pernah tertarik membaca di Wattpad memang cukup tertarik, karena setidaknya karya tersebut sudah dibahas tuntas sebelum naik cetak.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar. Mohon gunakan kalimat yang sopan. Link hidup akan otomatis terhapus.